Eduar Daud
SYARIFAH: HIKAYAT AIR DAN DARAH
Di rahim Selat Melaka yang mengerang sepi,
namamu kujapa dalam ritual buih yang pecah.
Syarifah, kau semenanjung dipagari silsilah,
sedang aku arus liar, pengelana kehilangan arah.
Mengapa takdir menjahit temu di batas cakrawala,
bila jemari mesti terlepas demi memuliakan marwah darah?
Siang yang benderang perlahan karam di muara,
ditelan rahang malam yang mengunyah bara.
Semesta kita terbelah tembok adat purba;
hikayat luhur gugur di tangan hamba.
Masih terpatri lambaianmu di dermaga renta,
seperti abu kemenyan luruh di perapian doa.
Pernah dunia menjelma taman bunga bersua,
warna kasih merekah, lalu membiru di jiwa.
Kita terbuai muson yang jinak, terlena di ayunan gelombang;
hingga mentari menyepi dan musim menanggalkan lekang.
Namun di balik kabut, api itu terjaga,
menjadi suar bagi luka yang enggan reda.
Syarifah… Engkau duka yang mengkristal,
permata yang menyimpan lara.
Kita terhempas bukan oleh badai atau nakhoda,
melainkan sekat darah dan titah yang membaja.
Cintaku karam ke palung paling dalam,
bersama kelopak kamboja dilarung malam.
Kini haluan kemudi patah di tengah samudera,
menjauh dari pelabuhanmu yang basah air mata.
Rindu kulabuhkan ke pusaran tanpa nama,
agar namamu tetap suci dari noda.
Semoga semesta mengetuk pintu batinmu yang sunyi,
membentang titian cahaya di atas selat yang disucikan.
Sebab bila setiamu seteguh karang di muara,
bahkan maut pun gentar memisahkan kita.
Oh, Syarifah.
BIONARASI:
Dilahirkan 18 Agustus 1963, dengan nama Eduar Daud. Aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS).
