SAAT CINTA BERSEMI
Karya Eduar
Angin subuh merayap pelan dari ufuk timur, membawa bau asin laut yang seolah menyimpan bisikan dari masa silam. Di Desa Teluk Rhu, desa kecil yang berpeluk pada garis pantai Rupat Utara, riuh ombak selalu menjadi alarm alami yang membangunkan seluruh kehidupan. Ketika cahaya pagi menumpahi pasir yang memanjang seperti lembaran doa yang tak pernah usai, seorang pemuda bernama Arfan menatap laut dengan dada yang penuh gejolak.
Hari itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia berdiri di tepi pantai tempat para leluhur dulu mengadakan Zapin Api, seni tarian di atas bara yang hidup dari mantera, keberanian, dan keikhlasan jiwa. Namun sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Semakin ia memandang laut, semakin hatinya terasa digiring pada sebuah panggilan. Seolah-olah ombak adalah pesan, dan angin adalah suaranya.
Itu adalah hari ketika cinta mulai bersemi, bukan kepada seseorang, melainkan kepada budaya yang nyalanya hampir padam.
****
Arfan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang nelayan yang selalu membawa cerita tentang masa muda ketika ia ikut mempersiapkan pertunjukan Zapin Api bersama para tetua. Namun seiring waktu, banyak pemuda merantau, pertunjukan mulai jarang digelar, dan anak-anak lebih mengenal cahaya layar ponsel daripada bara api ritual.
Di usia 19 tahun, Arfan justru merasa ada kekosongan yang menganga. Dunia baginya bagai perahu tanpa jangkar, mudah hanyut, mudah hilang arah. Sampai suatu malam ia bermimpi:
Ia melihat dirinya menari di tengah lingkaran api yang menderu seperti ombak yang memukul karang. Dari jauh, ada sosok-sosok leluhur berdiri, wajah mereka berpendar seperti kunang-kunang.
Dan salah satu dari mereka berkata dengan suara yang seolah terbuat dari angin laut:
“Api itu menunggu penjaganya.”
Arfan terbangun dengan jantung berdegup cepat. Keringat dingin mengalir di punggung. Namun bukan ketakutan yang ia rasakan, melainkan panggilan.
Sejak saat itu, ia mulai mendatangi rumah Tok Tengku Karim, satu-satunya tetua yang masih aktif memegang ilmu dan ritual Zapin Api. Rumah Tok Tengku berada di ujung desa, tempat kelapa menjulang seperti pagar para penjaga langit.
“Tok, ajari saya Zapin Api,” kata Arfan dengan suara yang tegas namun gemetar.
Tok Tengku memandangnya lama. Tatapannya dalam seperti laut dalam yang gelap namun penuh rahasia.
“Zapin Api bukan tarian hiburan,” ucapnya perlahan. “Ini tarian jiwa. Yang menari bukan hanya tubuh. Kau harus siap, nak.”
“Saya siap,” jawab Arfan.
Tok Tengku mengangguk. Dari sinilah perjalanan panjang itu dimulai, perjalanan cinta yang menguji hati dan keberaniannya.
****
Latihan pertama bukanlah gerak tubuh, melainkan kesabaran. Selama beberapa pekan, Tok Tengku hanya menyuruh Arfan membersihkan halaman, mencari kayu, menyapu panggung kecil yang sudah lama tak digunakan. Arfan sempat marah, kecewa, bahkan merasa dipermainkan. Tetapi ia bertahan.
Hingga suatu senja, Tok Tengku memanggilnya.
“Esok kita mulai,” ucapnya singkat.
Harapan mekar seperti bunga bakung laut. Namun yang datang justru sesuatu yang jauh lebih berat.
“Duduk,” perintah Tok Tengku. “Dengarkan.”
Malam itu, angin membawa aroma garam. Bara api menyala rendah di lingkaran pasir. Tok Tengku mulai melantunkan mantera, lembut, dalam, dan penuh getaran. Suara itu membuat bulu kuduk Arfan meremang. Bara di depannya seakan hidup, menari, dan membentuk bayangan.
“Ini bukan soal menaklukkan api,” kata Tok Tengku.
“Ini soal menaklukkan dirimu sendiri.”
Malam itu, Arfan mencoba menyelaraskan napasnya dengan tempo mantra. Ia mencoba menari. Namun baru beberapa langkah, ia merasa takut, gemetar, dan tubuhnya hilang keseimbangan.
“Kau menari seperti daun kering yang ditiup angin,” ujar Tok Tengku.
“Belajarlah dari ombak, kadang lembut, kadang ganas. Tapi ia selalu percaya pada irama langit.”
Arfan tersinggung. Tetapi ia tetap kembali malam berikutnya. Dan malam berikutnya lagi.
Selama berbulan-bulan, ia jatuh, bangkit, salah langkah, terkilir, dan hampir menyerah. Namun ada sesuatu yang menahannya: perasaan bahwa Zapin Api adalah rumah dari bagian jiwanya yang hilang.
****
Desa mulai ramai membicarakannya. Ada yang mendukung, tapi banyak juga yang mencibir.
“Apa gunanya belajar tarian api? Sudah tak zaman.”
“Lebih baik cari kerja, merantau.”
“Zapin Api hanya masa lalu. Tidak ada masa depannya.”
Bahkan ayahnya sendiri mulai resah.
“Fan, ayah tidak melarang. Tapi ingat, hidup butuh makan. Api itu tidak menghasilkan beras.”
Arfan mendengar semuanya seperti mendengar suara angin melewati lubang bambu, bising, menusuk, namun tak mampu menghentikannya. Ia tahu apa yang ia rasakan: cinta pada budaya leluhur yang tak boleh padam.
Namun rintangan terbesar justru datang dari seorang pemuda lain di desa, Rasyid, yang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus Zapin Api. Ia angkuh, cepat panas, dan merasa Zapin Api miliknya secara turun-temurun.
“Zapin Api bukan untuk orang sepertimu, Fan,” katanya suatu malam.
“Kau tak punya darah itu. Kau cuma memaksakan diri.”
Kata-kata itu menusuk. Tetapi justru di situlah keyakinan Arfan mengeras.
****
Setiap tahun, desa mengadakan upacara kecil menjelang musim teduh. Tahun itu, meski sederhana, masyarakat mendorong agar Zapin Api dipertontonkan kembali, sebagai upaya merawat budaya.
Tok Tengku berkata kepada Arfan, “Ini waktu pengujianmu.”
Arfan menelan ludah. Ia tahu ada risiko. Bila mentalnya tak kuat, ia bisa tersulut bara. Bila mantera dan irama jiwanya tak selaras, api akan "menolak" penarinya.
Malam itu, pantai dipenuhi masyarakat. Angin laut berbau garam dan doa. Bara disusun membentuk lingkaran besar, merah membara seperti jantung bumi yang terbuka.
Rasyid juga tampil malam itu. Ia menari duluan. Geraknya bagus, gagah, penuh percaya diri. Api seolah tunduk kepadanya.
“Sekarang kau,” kata Tok Tengku pada Arfan.
Arfan melangkah masuk ke lingkaran bara. Jantungnya berdentum. Langit gelap tanpa bulan, hanya bintang yang menjadi saksi.
Mantera dilantunkan. Angin sejenak berhenti. Api menderu.
Arfan mulai bergerak. Langkahnya pelan, ritmis, mengikuti irama yang menetes dari jiwanya. Ia membayangkan ombak yang menghempas karang, angin yang menunda hujan, dan cahaya subuh yang menyibak kabut. Semua gerakan ia jalani dari dasar hati, bukan dari hafalan.
Namun tiba-tiba…
Angin kencang datang dari arah laut. Bara berhamburan. Api naik setinggi lutut. Orang-orang panik. Arfan hilang ritme, hampir terpeleset.
Dalam hitungan detik, ia bisa saja tersambar lidah api.
“Kalah sudah dia,” bisik seseorang dari kerumunan.
“Tidak cocok dia,” ujar yang lain.
Arfan merasakan dunia melebar dan mengecil bersamaan. Namun di tengah gemuruh itu, ia mendengar suara samar, suara yang pernah ia dengar dalam mimpi.
“Api itu menunggu penjaganya.”
Mata Arfan menajam. Ia mengatur napas. Ia memejamkan mata. Ia membiarkan tubuhnya mengikuti bisikan angin. Dalam sekejap, gerakannya kembali teratur, lebih kuat, lebih mengalir, lebih hidup. Api di sekelilingnya seperti menari mengikuti alurnya.
Arfan tak menaklukkan api. Ia menyatu dengannya.
Ketika ia melompat melewati bara terakhir, orang-orang terdiam. Lalu sorak sorai meledak seperti gelombang yang memukul tebing.
Tok Tengku tersenyum, air mata menggenang.
“Engkau telah diterima, nak.”
Namun bagi Arfan, kemenangan itu bukan kemenangan atas orang lain, melainkan atas dirinya sendiri.
****
Setelah malam itu, Arfan menjadi pembicaraan desa. Banyak yang bangga, beberapa yang dulu mencibir kini malu. Namun kejutan yang sesungguhnya terjadi tiga hari kemudian.
Seorang pegawai dari kantor kebudayaan kabupaten datang ke desa. Mereka mendengar kabar bahwa Zapin Api kembali dibangkitkan, dan ada penari muda yang berhasil menampilkan versi paling autentik dalam dua dekade terakhir.
“Kami ingin mengundang pemuda itu tampil dalam festival budaya provinsi,” katanya.
Seluruh desa bersorak. Bahkan Rasyid yang awalnya iri, akhirnya datang menjabat tangan Arfan.
“Aku salah menilaimu,” katanya dengan jujur. “Maafkan aku.”
Arfan tersenyum.
“Tidak apa. Kita sama-sama ingin menjaga budaya ini.”
Kejutan lain datang dari Tok Tengku.
“Fan,” katanya suatu sore ketika mereka berdua duduk di tepi pantai. “Aku sudah tua. Kakiku mulai gemetar. Napasku tak sepanjang dulu. Aku ingin kau yang melanjutkan Zapin Api. Kau bukan hanya penari. Kau penjaganya.”
Arfan tercekat.
“Tok… saya belum pantas.”
“Yang pantas bukan yang paling kuat. Tapi yang paling tulus.”
Ombak datang memecah di batu. Cahaya senja menetes pelan seperti tinta emas di permukaan laut. Dalam momen itu, Arfan merasa hidupnya menemukan jalan, jalan yang selama ini ia cari di antara kebingungan dan hening.
****
Waktu merambat. Zapin Api kembali hidup di Desa Teluk Rhu. Anak-anak mulai belajar langkah dasar, para remaja ikut membantu mempersiapkan panggung, dan desa kembali dikenal sebagai salah satu penjaga seni sakral di pesisir Selat Melaka.
Festival provinsi berjalan sukses, dan nama Teluk Rhu kembali terdengar sebagai salah satu penjaga seni pesisir yang paling autentik.
Arfan tampil memukau penonton. Beberapa media menulis tentang kebangkitan budaya ini.
Namun bagi Arfan, kebahagiaan itu bukan tepuk tangan, bukan undangan tampil, bukan popularitas.
Kebahagiaan itu adalah ketika ia melihat bara yang dulu hampir padam kini menyala kembali, ketika ia melihat anak-anak desa menatapnya dengan mata berbinar, ketika Tok Tengku tersenyum bangga, dan ketika angin laut menepuk bahunya setiap kali ia selesai menari.
Kebahagiaan itu adalah
Melihat anak-anak desa tersenyum ketika mempelajari gerakan.
Melihat para tetua bangga karena warisan leluhur tak hilang.
Dan setiap kali Arfan menari, ia teringat kata-kata Tok Tengku:
“Yang menari bukan kakimu, Fan. Yang menari adalah jiwamu.”
Malam itu, setelah latihan, ia duduk sendirian di pantai. Ombak datang dan pergi seperti napas bumi. Angin laut memutar rambutnya. Di depan, laut yang gelap berkilauan oleh pantulan bintang. Suara ombak menjadi musik alam.
Di dadanya, cinta itu bersemi, cinta yang tidak berwujud manusia, tetapi cahaya tua yang menghidupkan jiwa.
Cinta pada warisan.
Cinta pada budaya.
Cinta pada nyala api yang tak boleh padam.
Ia tersenyum, menatap cakrawala.
Di hatinya, ia tahu:
“Cinta itu telah bersemi, tumbuh, dan kini menjadi pohon besar yang akarnya menancap pada sejarah dan pucuknya menatap masa depan”.
Desa Teluk Rhu tak lagi hanya menjadi tempat tinggal.
Ia menjadi rumah bagi cinta yang menyala, cinta pada budaya, pada warisan, pada api yang menuntunnya menjadi diri sendiri.
Dan ketika ombak memecah di kakinya, ia mendengar suara itu sekali lagi:
“Api itu telah menemukan penjaganya.”
Dan selama bara itu terus menyala, Arfan akan menari.
Sampai waktunya ia menyerahkan tarian itu kepada generasi berikutnya.
TAMAT
BIONARASI:
