Sabtu, 30 Ogos 2025


PERJUANGAN UNTUK KEMERDEKAAN  

Karya: AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI



Angin subuh membisikkan rindu,  

Langit kelabu menangis pilu,  

Tanah air bergetar sendu,  

Darah pejuang tumpah membasahi waktu.  


Matahari terkurung di balik awan,  

Harapan digenggam dalam tangan rawan,  

Peluru berbicara tanpa suara,  

Namun semangat tidak pernah lara.  


Bumi merintih di bawah tapak penjajah,  

Hati bangsa luka parah,  

Bayang-bayang ketakutan menari,  

Namun obor keberanian tetap menyala berapi.  


Rimba bergema jeritan azam,  

Laungan merdeka menusuk malam,  

Bersatu jiwa, berderap langkah,  

Menulis sejarah dengan darah dan megah.  


Kemerdekaan, engkau mawar berduri,  

Mekarmu dinanti, peritmu disirami,  

Kini langit bersih tanpa sengsara,  

Kerana perjuangan tidak pernah sia-sia


AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI

SMK Penangah 

29/8/2025

 TANAH AIR TERCINTA

Karya: CHRISTY ROFALINCE

Jalur Gemilang yang berkibar, 

lambang berani,

Malaysia tercinta, di hati ini


Pahlawan berjuang, jiwa raga diberi,

Demi kemerdekaan, rela berbakti,

Semangat membara, tak pernah terhenti,

Negara makmur, impian terjadi,


Rakyat bersatu, bangsa berdikari,

Budaya dijaga, warisan lestari,

Cinta pada negara, abadi di sanubari,

Malaysia gemilang, terus berseri,


Generasi muda, harapan negara,

Teruskan perjuangan, dengan semangat membara,

Jadikan Malaysia, lebih berjaya,

Di persada dunia, nama terpelihara,


Setiap tahun, kita sambut meriah,

Detik bersejarah, penuh berakah,

Kemerdekaan ini, jangan di lupakan,

Malaysia merdeka, selamanya,


Dengan bangga, kita nyanyikan lagu,

Negaraku tercinta, tanah air ku, 

Semoga sentiasa, aman dan maju,

Negara Malaysia, di hatiku.


CHRISTY ROFALINCE

SMK Penangah 

28/8/2025

TANAH INI TELAH MERDEKA

Karya: TCYELICIA JOHNNLLY

Tanah ini pernah menangis,  

Disapa bayang penjajah yang rakus,  

Ribuan langkah diikat rantai,  

Harapan ditimbus di tanah musuh.


Tanah ini pernah merintih,  

Dalam sunyi, dalam jerih,  

Namun semangat tak pernah lelah,  

Biar tubuh rebah, jiwa gagah.


Merdeka bukan hadiah bulan,  

Tapi nyawa yang gugur di medan,  

Darah jadi tinta perjuangan,  

Menulis sejarah penuh pengorbanan.


Hari ini langit kita cerah,  

Tiada dentum bom, tiada jerat serah,  

Hanya suara anak merdeka,  

Mengalun lagu cinta pada negara.


Kita bukan pewaris kosong,  

Kita pewaris darah yang mengalir,  

Tanggungjawab bukan hanya di lisan,  

Tapi pada setiap tindakan dan fikir.


Wahai anak Malaysia, dengarlah,  

Merdeka bukan sekadar kata,  

Merdeka ialah amanah dari zaman luka,  

Untuk dijaga, dibaja, dibina semula.


Tanah ini telah merdeka,  

Jangan biar jiwamu dijajah semula!



TCYELICIA JOHNNLLY

SMK Penangah 

29/8/2025

MERDEKA SELAMANYA

Karya: SHANTHRIENNEY JEKSON


Dahulu tanah ini dirantai luka,

di bawah bayang penjajah yang angkuh,

sawah kering, rimba berduka,

jiwa bangsa dipaksa tunduk dan patuh.


Namun semangat tidak pernah layu,

seperti matahari terus menyala,

perwira bangkit tanpa jemu,

menentang gelita demi cahaya.


Jerit "Merdeka!" tujuh kali bergema,

menggetar bumi, menggoncang langit,

kata itu jadi doa bangsa,

menghalau resah, menyingkap semangat.


Tanah air pun bernafas lega,

Jalur Gemilang berkibar megah,

setiap jalur tanda setia,

setiap warna tanda maruah.


Wahai anak watan, bukalah mata,

merdeka ini bukan hadiah percuma,

ia darah, keringat dan nyawa,

warisan suci yang tiada ternilai harganya.


Kita umpama bintang di langit,

berkilau bersama dalam satu cahaya,

perpaduan jadi senjata paling hebat,

menangkis segala ancaman sengketa.


Jagalah tanah ini dengan jiwa,

jangan biar sejarah berulang,

Malaysia merdeka, Malaysia tercinta,

selamanya harum dalam gemilang


SHANTHRIENNEY JEKSON

SMK Penangah,

27/8/2025

 TANGISAN MERDEKA YANG TERSISA

Karya: MOHD EZANI BIN AZNI


Di bumi ini pernah tumpah darah,

jerit perit menjadi saksi sejarah,

langkah para pejuang hilang di balik kabus senja,

namun roh mereka tetap bernafas dalam jiwa bangsa.


Malam merdeka dulu disambut dengan air mata,

bukan hanya sorak gembira semata,

kerana setiap senyum itu teriring luka,

luka yang diwariskan oleh penjajah durjana.


Kini, kota berdiri megah,

namun gema perjuangan makin resah,

anak bangsa leka di buaian dunia,

melupakan darah yang pernah menyuburi tanah pusaka.


Di pusara pahlawan, angin berbisik sayu,

daun-daun gugur seperti mengirim rindu,

adakah pengorbanan mereka sudah dibalas?

atau hanya tinggal nama yang kian terhakis?


Merdeka ini tidak sekadar bendera berkibar,

ia adalah janji pada mereka yang gugur tanpa pulang,

janji untuk menjaga amanah dan maruah negara,

bukan meruntuhkannya dengan tangan sendiri.


Wahai bangsaku, sedarlah dari lena,

merdeka bukan sekadar hari untuk berpesta,

ia adalah tangisan yang harus dijaga,

agar pilu itu menjadi pengingat selamanya.


Di hujung senja, aku berdiri kaku,

menatap jalur gemilang yang kian layu,

berdoa semoga semangat pahlawan dulu

tidak mati dibawa waktu.


MOHD EZANI BIN AZNI

SMK Penangah,

29/8/2024

 Teguh di Medan Perang

Karya: Rojilah Jibley 


Kecekalan menjadi benteng 

kelicikan menjadi helah

ketangkasan menyusur di medan perang 

kerjasama mengikat tekad.


Dalam jiwa mencari ketenangan

bara api digenggam erat 

biar menjadi arang dan bukti

bahawa kesetiaan tidak akan mati.


Sumpah serapah musuh berhamburan 

namun keselamatan bangsa jadi taruhan

merentap jiwa, bertumpah darah

pahlawan gagah menjinjing pedang.


Berdiri teguh di bumi bertuah

berkorban demi nusa tercinta 

berani menentang gelombang derita

hingga sorakkan kemenangan membelah dunia.


Dol Said, termaktub di dada sejarah 

maruah dijulang setinggi gunung 

laungan kemerdekaan bergema megah

kebebasan hadiah yang paling agung.


Laksana obor menyinari malam

semangatmu tak pernah padam

dari tanah tumpahnya darah pejuang

bangsa merdeka teguh berpaut

janji darah dan maruah perwira

kekal teguh di medan perang.


SMK PENANGAH 

27.08.2025

 NEGARAKU MERDEKA

Karya: WAHDANIAH BINTI ABDULLAH


Merdeka ini bukan sekadar kata,

Merdeka, darah yang menitis di bumi pusaka.

Merdeka, keringat yang meresap ke akar sejarah,

Merdeka, doa yang terangkat ke langit maruah.


Lihatlah Jalur Gemilang berkibar megah,

bagai ombak laut yang tidak pernah rebah.

Merdeka ini suara yang lantang,

mengalun di dada rakyat gemilang.


Wahai tanah tumpahnya darahku,

engkaulah nadi, engkaulah jiwaku.

Gunungmu berdiri gagah,

sungaimu beralun membawa amanah.


Merdeka ini bukan hadiah percuma,

tetapi nyawa yang rebah di hujung senjata.

Titis air mata ibu di ambang subuh,

menjadi saksi perjuangan yang tidak pupus.


Merdeka adalah janji yang kita genggam,

supaya bangsa ini terus terangkum.

Supaya anak cucu tidak lagi terbelenggu,

dalam rantai penjajahan yang dulu.


Wahai negaraku, Malaysia tercinta,

engkau bunga mekar di taman dunia.

Engkau mercu cahaya di ufuk benua,

engkau nyanyian aman dalam dada manusia.


Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Pekikkan kata ini sekuat jiwa.

Selagi nafas ini masih bersisa,

akan kupelihara engkau—Malaysia merdeka!


WAHDANIAH BINTI ABDULLAH

SMK Penangah

27/8/2025

  SIAPA AKU SAAT INI?

karya : Riyan Rana


Dalam bingkai kenangan, aku adalah anak kecil yang bermain di bawah rimbun tawa canda. Aku berlari di halaman rumah, mengumpulkan daun-daun gugur dan menyusunnya menjadi kapal. Aku tidak tahu, di tanah tempat kakiku menjejak, dulu ada jejak lain: jejak yang diburu, diikat, dipaksa tunduk pada bayang-bayang asing.

Aku hanya tahu dari cerita nenek, tentang malam-malam ketika lampu harus dipadamkan, tentang suara langkah sepatu berat yang mengetuk pintu, dan tentang doa yang dibisikkan dengan gemetar di balik selimut. Masa kecilku sederhana, tapi masa kecil bangsa ini pernah dipenuhi jeritan yang tak sempat direkam.

Di bingkai kenyataan. Aku orang dewasa yang bangun tiap pagi, berjuang dalam diam melawan pedih. Bukan lagi pedih cambuk penjajah, tetapi pedih menjaga janji kemerdekaan agar tidak hilang.

Aku menghidupi keluargaku, namun jauh di lubuk hati aku tahu: tiap butir nasi, tiap helai kain yang kukenakan, adalah titipan dari darah yang pernah jatuh di tanah ini.

Aku belajar bahwa merdeka tidak selesai saat penjajah pergi, merdeka adalah tugas yang terus diperjuangkan, agar anak-anak dapat tertawa tanpa rasa takut, agar langit tidak lagi menyimpan bau mesiu.

Di bingkai harapan, aku melihat diriku yang lain.

Aku adalah pejalan dari dunia yang belum kutahu namanya, tempat yang belum jadi, tapi menungguku untuk mengisin. Aku melihat sebuah jalan panjang, jalan yang masih kosong, jalan yang menunggu langkah-langkah baru. Aku tahu, bangsa ini masih menulis babnya sendiri, masih mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan luka dan cinta, masih mencoba berdiri tegak di antara badai dunia.

Aku pun melangkah, dengan hati yang penuh tanya, penuh cahaya. Jiwaku tidak terikat pada satu waktu atau satu tempat.

Aku bukan hanya anak kecil yang berlari di masa lalu, bukan hanya orang dewasa yang bekerja di masa kini, bukan hanya pejalan yang menatap masa depan.

Aku adalah tenunan dari semuanya.

Aku sedang menenun kenangan perjuangan yang beraroma mesiu, kenyataan kemerdekaan yang berpeluh keringat, dan harapan persatuan yang bersinar dalam doa.

 

Dari tenunan ini, lahirlah selembar perjalanan: perjalanan bangsa yang pernah dijajah, perjalanan manusia yang belajar merdeka, perjalanan yang belum selesai, tetapi akan selalu diteruskan.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular