Ketika Cinta Mulai Bersemi
Oleh, Agustina Rahman
Ruang ujian itu terasa seperti lautan yang ditahan dalam kotak kecil, riuh, gelisah, dan penuh gelombang yang tak terlihat. Di antara puluhan wajah yang dipenuhi kecemasan, aku masuk dengan dada yang mengandung doa lebih banyak daripada udara. Hari itu adalah hari penentuan; bukan hanya tentang masa depan pekerjaan, tetapi mungkin juga tentang masa depan hatikumeski aku sama sekali belum menyadarinya.
Bau kertas ujian, derit kursi, bunyi helaan napas panjang para peserta, semuanya menyatu membentuk simfoni kegugupan. Namun dari semua itu, mataku tertumbuk pada seseorang.
Seorang lelaki duduk di baris ketiga, di samping jendela. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai dan jatuh tepat ke wajahnya, membuatnya tampak seperti seseorang yang sedang difoto diam-diam oleh matahari. Ia berkemeja putih sederhana, tetapi ketenangannya membuatnya terlihat berbeda. Seolah dunia yang berputar cepat di ruangan itu tidak mampu menggoyahkan garis tenang di wajahnya.
Aku tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa, saat aku melangkah melewati kursinya, jantungku memukul dadaku dua kali lebih keras. Namanya, kelak baru kutahu, dia adalah Hendra.
Seleksi CPNS bukan hanya satu tahap. Setelah ujian tulis, ada tes wawancara yang menungguruang di mana kata-kata menjadi jembatan atau jurang.
Aku datang lebih awal pada hari wawancara, mencoba menata degup jantungku yang seperti burung kecil terjebak di dalam sangkar. Dan di sana, di kursi panjang ruang tunggu, ia duduk dengan membawa map coklat yang sama denganku, dengan tatapan yang tampak lebih tegas daripada hari sebelumnya.
Sepertinya kita sering bertemu tanpa janjian, katanya sambil tersenyum tipis.
Senyum itu membuat hatiku bergetar halus, seperti permukaan air yang tersentuh angin.
Aku duduk di sampingnya. Mungkin memang begitu jalannya. Ia tertawa kecil dan begitu ringan, namun punya daya menenangkan yang aneh. Saya Hendra.
Aku juga menyebutkan namaku. Dan sejak itu, percakapan mengalir. Tidak deras, tetapi cukup hangat untuk membuat ruang tunggu yang dingin itu terasa hangat seperti senja di halaman rumah.
Kami bercerita tentang perjalanan, alasan memilih menjadi guru, harapan yang ingin digapai. Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang ingin ia menjadi seorang pendidik. Sementara aku bercerita tentang mimpiku memiliki kelas sendiri, tempat anak-anak belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan.
Saat namaku dipanggil, ia menatapku dan berkata. Bismillah, semoga kita lolos. Biar deg-degannya tidak sendirian. Aku tersenyum. Amin.
Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan dibuka. Aku memandangi layar ponsel sambil menahan napas seolah hidupku digantungkan pada satu kata: LULUS
Dan ketika namaku muncul, tubuhku gemetar. Air mataku turun dengan cara yang tak bisa kutahanbukan hanya karena bahagia, tetapi juga lega karena perjuanganku tidak sia-sia.
Teleponku berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Tapi suara di baliknya sangat kukenal.
Selamat ya, ujar Hendra. Kamu lulus.
Aku senang dan menangis. Kamu juga?
Ya. Dan sepertinya kita ditempatkan di madrasah yang sama.” Dunia seakan menahan napas sejenak. Bukan hanya kebetulan. Bukan hanya pertemuan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Seperti tangan tak terlihat yang mengatur langkah kami satu per satu.
Hari pertama mengajar, angin pagi menggoyangkan daun-daun mangga di halaman madrasah. Di gerbang, aku melihat Hendra berdiri sambil membawa map tebal. Senyumnya merekah saat melihatku.
Kita mulai bab baru hari ini, katanya. Aku mengangguk. Bab yang tidak kita tahu akan membawa ke mana. Dan ternyata benarbab itu membawa kami ke banyak jalan: ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak, ruang guru dengan aroma spidol dan kertas, halaman sekolah yang menjadi saksi percakapan pendek namun bermakna.
Kami sering bertemu, sering berbicara, sering tertawa karena hal-hal kecil yang tidak penting, tetapi terasa lengkap. Cinta tidak datang dengan gegap gempita. Ia datang dalam bentuk kebiasaandalam sapa pagi, dalam titipan teh hangat, dalam tatapan singkat di balik pintu kelas.
Rasa itu mulai tumbuh seperti benih kecil yang tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tanah, tetapi ia tumbuh karena memang itulah takdirnya.
Setahun bekerja bersama, Hendra mendatangi rumahku. Waktu itu, cahaya senja meluruhkan bayang di dinding. Ia berdiri di depan pintu rumah, membawa sekotak cokelat dan wajah gugup.
Aku ingin bicara, katanya setelah duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi sejak seleksi itu, sejak ruang tunggu itu kamu tidak pernah benar-benar keluar dari pikiranku.
Udara tiba-tiba terasa lebih hening dari biasanya. Aku ingin melangkah lebih jauh, ucapnya pelan. Dan aku ingin langkah itu bersamamu. Tidak ada musik, tidak ada hiasan, tidak ada kata-kata berlebihan. Ia hanya berbicara dengan kejujuran yang membuat jantungku terasa sesak.
Aku menelan napas yang sejak tadi terhenti di tenggorokan. Ada getar kecil yang tak mau diam di dadaku, seperti dua suara yang saling tarik-menariksatu memintaku untuk maju, satu lagi menahanku di ambang keputusan. Jari-jariku saling menggenggam erat, dingin oleh keraguan yang tak bisa kusembunyikan. Untuk sekejap, dunia terasa hening, seakan menunggu apakah aku akan memilih keberanian atau mundur selangkah.
Ya, jawabku.
Jawaban sederhana yang akan mengubah seluruh kisah hidupku.
Kami menikah beberapa bulan kemudian. Hari itu hujan turun pelan, seperti berkah yang dilayangkan langit. Aku menggenggam tangannya sambil merenungi perjalanan kamidari ruang ujian yang canggung hingga pelaminan yang anggun.
Tahun-tahun awal pernikahan kami dilalui dengan belajar satu sama lain. Kami menata rumah kecil itu perlahan: memilih rak buku bekas untuk ruang tamu, menanam bunga kertas di halaman, dan membagi jadwal mengajar agar selalu ada yang pulang lebih dulu menyiapkan makan malam.
Hidup tak selalu berjalan lembutada lelah, ada salah paham, ada hari-hari ketika diam lebih panjang daripada bicara. Namun setiap persoalan selalu berujung pada percakapan yang menguatkan. Kami belajar bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga kerja sama.
Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami. Tangis kecilnya memecah kesunyian malam dan mengisi ruang hati kami dengan rasa yang belum pernah ada sebelumnyapercampuran antara takut, bahagia, dan syukur yang menggetarkan. Dari situlah fase baru dimulai: malam-malam tanpa tidur, botol susu yang tercecer, popok yang bergantian kami siapkan sambil tertawa lelah.
Waktu terus berlari tanpa menunggu kami siap.
Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti halaman buku yang dibalik satu per satu. Anak kedua hadir membawa keriuhan baru, disusul anak ketiga yang lahir di tengah kesibukan kami mengajar dan membagi waktu. Hingga akhirnya, rumah kecil itu dipenuhi tawa empat anakmasing-masing dengan suara, sifat, dan cerita yang berbeda.
Kini, kadang aku berdiri di tengah rumah sambil mendengarkan riuh mereka bercampur dengan bunyi sendok di dapur dan langkah kecil yang berlarian. Setiap sudut rumah seolah menyimpan potongan waktu: tangisan bayi, langkah belajar berjalan, tawa saat belajar mengucap kata pertama, hingga doa-doa sederhana menjelang tidur.
Dalam hati, aku bertanya-tanya: bagaimana mungkin hidup yang dulu sunyi kini begitu penuh?
Dan jawabannya selalu sama. Cinta itu tumbuhpelan tapi pasti. Ia tumbuh kuat, tumbuh megah, menaungi kelelahan dan kebahagiaan kami. Dari benih kecil di ruang ujian, ia menjadi pohon rindang yang mengiringi perjalanan hidup kami sekeluarga.
Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku dan Hendra duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Bintang-bintang begitu jernih, seolah sedang turun mendekati bumi.
Kamu ingat ruang ujian itu? tanyaku. Hendra tersenyum. Tentu. Aku bahkan ingat kamu berjalan melewati tempat dudukku dan tidak menoleh sedikit pun. Aku malu, kataku sambil tertawa pelan.
Angin malam menyapu wajah kami, membawa aroma tanah basah dan kenangan-kenangan yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Aku bersandar di bahunya. Kita sudah berjalan sangat jauh, ya? Jauh sekali, jawabnya. Dan semua itu berawal dari satu pertemuan kecil yang tidak pernah kita rencanakan.
Di bawah bintang-bintang, aku menyadari satu hal. Cinta tidak selalu datang sebagai dentuman besar yang menggetarkan dunia. Kadang, ia datang pelansekecil pertemuan di ruang ujian, sesederhana tatapan pertama, setenang percakapan singkat di ruang tunggu.
Namun pelan itu justru membuatnya bertahan lama. Dan dari sanalah, hidup kami tumbuh. Bersemi, berbuah, mengakar, menjadi rumah, dan akhirnya menjadi rumah tangga.
Makassar, 10 Desember 2025
BIONARASI
Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd. Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar (2023 dan 2024), Guru Teraktif dalam Pengembangan Diri (2025). Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Cerpen Sahabat Sepanjang Cerita (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.
