Rabu, 17 Disember 2025

KETIKA CINTA MULAI BERSEMI: AGUSTINA RAHMAN

 Ketika Cinta Mulai Bersemi

Oleh, Agustina Rahman


Ruang ujian itu terasa seperti lautan yang ditahan dalam kotak kecil, riuh, gelisah, dan penuh gelombang yang tak terlihat. Di antara puluhan wajah yang dipenuhi kecemasan, aku masuk dengan dada yang mengandung doa lebih banyak daripada udara. Hari itu adalah hari penentuan; bukan hanya tentang masa depan pekerjaan, tetapi mungkin juga tentang masa depan hatikumeski aku sama sekali belum menyadarinya.

Bau kertas ujian, derit kursi, bunyi helaan napas panjang para peserta, semuanya menyatu membentuk simfoni kegugupan. Namun dari semua itu, mataku tertumbuk pada seseorang.

Seorang lelaki duduk di baris ketiga, di samping jendela. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai dan jatuh tepat ke wajahnya, membuatnya tampak seperti seseorang yang sedang difoto diam-diam oleh matahari. Ia berkemeja putih sederhana, tetapi ketenangannya membuatnya terlihat berbeda. Seolah dunia yang berputar cepat di ruangan itu tidak mampu menggoyahkan garis tenang di wajahnya.

Aku tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa, saat aku melangkah melewati kursinya, jantungku memukul dadaku dua kali lebih keras. Namanya, kelak baru kutahu, dia adalah Hendra.

Seleksi CPNS bukan hanya satu tahap. Setelah ujian tulis, ada tes wawancara yang menungguruang di mana kata-kata menjadi jembatan atau jurang.

Aku datang lebih awal pada hari wawancara, mencoba menata degup jantungku yang seperti burung kecil terjebak di dalam sangkar. Dan di sana, di kursi panjang ruang tunggu, ia duduk dengan membawa map coklat yang sama denganku, dengan tatapan yang tampak lebih tegas daripada hari sebelumnya.

Sepertinya kita sering bertemu tanpa janjian, katanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu membuat hatiku bergetar halus, seperti permukaan air yang tersentuh angin.

Aku duduk di sampingnya. Mungkin memang begitu jalannya. Ia tertawa kecil dan begitu ringan, namun punya daya menenangkan yang aneh. Saya Hendra.

Aku juga menyebutkan namaku. Dan sejak itu, percakapan mengalir. Tidak deras, tetapi cukup hangat untuk membuat ruang tunggu yang dingin itu terasa hangat seperti senja di halaman rumah.

Kami bercerita tentang perjalanan, alasan memilih menjadi guru, harapan yang ingin digapai. Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang ingin ia menjadi seorang pendidik. Sementara aku bercerita tentang mimpiku memiliki kelas sendiri, tempat anak-anak belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan.

Saat namaku dipanggil, ia menatapku dan berkata. Bismillah, semoga kita lolos. Biar deg-degannya tidak sendirian. Aku tersenyum. Amin.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan dibuka. Aku memandangi layar ponsel sambil menahan napas seolah hidupku digantungkan pada satu kata: LULUS

Dan ketika namaku muncul, tubuhku gemetar. Air mataku turun dengan cara yang tak bisa kutahanbukan hanya karena bahagia, tetapi juga lega karena perjuanganku tidak sia-sia.

Teleponku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Tapi suara di baliknya sangat kukenal.

Selamat ya, ujar Hendra. Kamu lulus.

Aku senang dan menangis. Kamu juga?

Ya. Dan sepertinya kita ditempatkan di madrasah yang sama.” Dunia seakan menahan napas sejenak. Bukan hanya kebetulan. Bukan hanya pertemuan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Seperti tangan tak terlihat yang mengatur langkah kami satu per satu.

Hari pertama mengajar, angin pagi menggoyangkan daun-daun mangga di halaman madrasah. Di gerbang, aku melihat Hendra berdiri sambil membawa map tebal. Senyumnya merekah saat melihatku.

Kita mulai bab baru hari ini, katanya. Aku mengangguk. Bab yang tidak kita tahu akan membawa ke mana. Dan ternyata benarbab itu membawa kami ke banyak jalan: ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak, ruang guru dengan aroma spidol dan kertas, halaman sekolah yang menjadi saksi percakapan pendek namun bermakna.

Kami sering bertemu, sering berbicara, sering tertawa karena hal-hal kecil yang tidak penting, tetapi terasa lengkap. Cinta tidak datang dengan gegap gempita. Ia datang dalam bentuk kebiasaandalam sapa pagi, dalam titipan teh hangat, dalam tatapan singkat di balik pintu kelas.

Rasa itu mulai tumbuh seperti benih kecil yang tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tanah, tetapi ia tumbuh karena memang itulah takdirnya.

Setahun bekerja bersama, Hendra mendatangi rumahku. Waktu itu, cahaya senja meluruhkan bayang di dinding. Ia berdiri di depan pintu rumah, membawa sekotak cokelat dan wajah gugup.

Aku ingin bicara, katanya setelah duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi sejak seleksi itu, sejak ruang tunggu itu kamu tidak pernah benar-benar keluar dari pikiranku.

Udara tiba-tiba terasa lebih hening dari biasanya. Aku ingin melangkah lebih jauh, ucapnya pelan. Dan aku ingin langkah itu bersamamu. Tidak ada musik, tidak ada hiasan, tidak ada kata-kata berlebihan. Ia hanya berbicara dengan kejujuran yang membuat jantungku terasa sesak.

Aku menelan napas yang sejak tadi terhenti di tenggorokan. Ada getar kecil yang tak mau diam di dadaku, seperti dua suara yang saling tarik-menariksatu memintaku untuk maju, satu lagi menahanku di ambang keputusan. Jari-jariku saling menggenggam erat, dingin oleh keraguan yang tak bisa kusembunyikan. Untuk sekejap, dunia terasa hening, seakan menunggu apakah aku akan memilih keberanian atau mundur selangkah.

Ya, jawabku. 

Jawaban sederhana yang akan mengubah seluruh kisah hidupku.

Kami menikah beberapa bulan kemudian. Hari itu hujan turun pelan, seperti berkah yang dilayangkan langit. Aku menggenggam tangannya sambil merenungi perjalanan kamidari ruang ujian yang canggung hingga pelaminan yang anggun.

Tahun-tahun awal pernikahan kami dilalui dengan belajar satu sama lain. Kami menata rumah kecil itu perlahan: memilih rak buku bekas untuk ruang tamu, menanam bunga kertas di halaman, dan membagi jadwal mengajar agar selalu ada yang pulang lebih dulu menyiapkan makan malam. 

Hidup tak selalu berjalan lembutada lelah, ada salah paham, ada hari-hari ketika diam lebih panjang daripada bicara. Namun setiap persoalan selalu berujung pada percakapan yang menguatkan. Kami belajar bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga kerja sama.

Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami. Tangis kecilnya memecah kesunyian malam dan mengisi ruang hati kami dengan rasa yang belum pernah ada sebelumnyapercampuran antara takut, bahagia, dan syukur yang menggetarkan. Dari situlah fase baru dimulai: malam-malam tanpa tidur, botol susu yang tercecer, popok yang bergantian kami siapkan sambil tertawa lelah.

Waktu terus berlari tanpa menunggu kami siap.

Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti halaman buku yang dibalik satu per satu. Anak kedua hadir membawa keriuhan baru, disusul anak ketiga yang lahir di tengah kesibukan kami mengajar dan membagi waktu. Hingga akhirnya, rumah kecil itu dipenuhi tawa empat anakmasing-masing dengan suara, sifat, dan cerita yang berbeda.

Kini, kadang aku berdiri di tengah rumah sambil mendengarkan riuh mereka bercampur dengan bunyi sendok di dapur dan langkah kecil yang berlarian. Setiap sudut rumah seolah menyimpan potongan waktu: tangisan bayi, langkah belajar berjalan, tawa saat belajar mengucap kata pertama, hingga doa-doa sederhana menjelang tidur.

Dalam hati, aku bertanya-tanya: bagaimana mungkin hidup yang dulu sunyi kini begitu penuh? 

Dan jawabannya selalu sama. Cinta itu tumbuhpelan tapi pasti. Ia tumbuh kuat, tumbuh megah, menaungi kelelahan dan kebahagiaan kami. Dari benih kecil di ruang ujian, ia menjadi pohon rindang yang mengiringi perjalanan hidup kami sekeluarga.

 Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku dan Hendra duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Bintang-bintang begitu jernih, seolah sedang turun mendekati bumi.

Kamu ingat ruang ujian itu? tanyaku. Hendra tersenyum. Tentu. Aku bahkan ingat kamu berjalan melewati tempat dudukku dan tidak menoleh sedikit pun. Aku malu, kataku sambil tertawa pelan.

Angin malam menyapu wajah kami, membawa aroma tanah basah dan kenangan-kenangan yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Aku bersandar di bahunya. Kita sudah berjalan sangat jauh, ya? Jauh sekali, jawabnya. Dan semua itu berawal dari satu pertemuan kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Di bawah bintang-bintang, aku menyadari satu hal. Cinta tidak selalu datang sebagai dentuman besar yang menggetarkan dunia. Kadang, ia datang pelansekecil pertemuan di ruang ujian, sesederhana tatapan pertama, setenang percakapan singkat di ruang tunggu.

Namun pelan itu justru membuatnya bertahan lama. Dan dari sanalah, hidup kami tumbuh. Bersemi, berbuah, mengakar,  menjadi rumah, dan akhirnya menjadi rumah tangga.

Makassar, 10 Desember 2025

BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar (2023 dan 2024), Guru Teraktif dalam Pengembangan Diri (2025). Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Cerpen Sahabat Sepanjang Cerita (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


PELABUHAN TERAKHIR: NURUL HUDA

 PELABUHAN TERKHIR

Oleh Nurul Huda Bakhtiar 


    "Aku hanya takut terlalu tinggi memupuk angan.

Sebab, jatuh sendirian adalah sakit yang disengaja. Sementara kau berpesta di atas deritaku tanpa iba."

Hari ini adalah sidang terakhir, sejak keputusan berat itu menjadi pemutus ikatan yang dulu begitu diagungkan. Hakim sudah mengetok palu keputusan, sepasang manusia yang dulunya saling cinta, kini hanya tinggal cerita masa lalu. Cerita yang tak seorangpun ingin menjadi tokoh utama di dalamnya.


Elsa menarik napas panjang, keputusannya untuk berpisah dari Pandu, adalah yang terbaik. Setelah berpikir dan menimbang baik buruknya. Ia akan menyandang status janda, status yang dianggap sebagian orang sebagai momok menakutkan. Anak semata wayangnya, Akbar, yang tak paham urusan rumit orang tuanya, menjadi korban keegoisan sang ayah. Anak yang baru belajar berjalan itu, telah kehilangan kasih sayang.


Lepas dari neraka pernikahan yang melilit kewasan yang menyesakkan dada. Sejak malam itu, dimana ia mendapati suaminya berselingkuh bersama wanita masa lalu, yang ternyata belumlah seutuhnya sudah. Cinta mereka kembali membara, membakar malam-malam jahanam dengan berbagi peluk paling nista. Jurang menganga lebar dalam biduk rumah tanggannya.


Bukan Pandu saja yang durjana, tapi sepaket dengan kelakuan ibu mertuanya, yang selalu ikut campur, menjadi garam di atas luka yang digoreskan putranya. Lengkap sudah alasan Elsa mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung itu.


Elsa adalah perempuan setia, yang dididik dengan tuntunan agama dari kedua orang tuanya yang seorang kyai besar dari Gunung Sago. Elsa juga pengajar di salah satu padepokan di kota, tempat ia melanjurkan pendidikan sarjananya. Jago bela diri juga. Tetapi, dasar Pandu yang tidak pandai bersyukur, hingga godaan sang mantan, membuat mereka meluncur deras ke jurang perceraian. 


Lupa bahwa di rumah, ada seorang wanita yang selalu menunggunya dengan setia, dengan doa-doanya yang melangit, agar sang kepala keluarga baik-baik saja di luaran sana. Namun, kesetiaan yang dulu terucap lantang, kini ternoda, karena hadirnya orang ketiga, yang katanya lebih seksi  dan lebih mempesona di mata lelaki yang masih berstatus suami. Alasan ia bosan melihat Elsa dengan pakaian yang serba tertutupnya.


Lalu bila hal seperti itu sudah berulangkali terjadi, sekali dua kali dimaafkan, lalu berjanji tak akan mengulangi, namun kesekian kali dipergoki, dengan perempuan yang sama. Wanita mana yang tahan, wanita mana yang sudi diperlakukan demikian, lebih baik memilih mundur dan menarik diri dari kehidupan bersama, yang akan selalu menorehkan luka, memilih mengakhiri ikatan yang tak lagi ada kebersamaan di dalamnya, hampa. 


Sesekali ia ingin menghajar sang suami dengan jurus-jurus ringan, akan tetapi ia tak mau mengotori tangannya, hanya demi seorang penghianat seperti suaminya itu. Membuangnya ke tempat semestinya mungkin lebih baik.


Kini ia bebas dari jerat nestapa, ikatan itu sudah lepas dan tidak lagi membelenggunya. Sesaat rasa sepi sempat mengganggu hari-hari yang dilaluinya, namun mempunyai sahabat yang selalu menyemangati, wajah yang tadinya layu bagai bunga tak disiram hujan, kini kembali berseri. Tak terasa sudah berbilang tahun, ia menjalani kesendirian, rasa sunyi dan hampa kini hilang sudah.


Hingga di suatu hari, sahabatnya Bella, mengenalkannya pada seorang pria, teman kakaknya Tio.


    "Elsa, kenalkan ini mas Tegar, dan mas Tegar ini Elsa." Bella mengenalkan mereka satu sama lainnya.


    "Elsa."

    "Tegar."


Mereka saling menyebutkan nama dan berjabat tangan. Setelah bicara menanyakan ini itu, maka terkuaklah kisah masa lalu, yang mana mereka adalah tetangga dekat waktu masih tinggal di Ciputat dulu. Elsa sering di culik ibunya Tegar ke rumah mereka, karena tidak ada anak perempuan. Ibu Tegar begitu menyayangi Elsa kecil. Mamanya Elsa dan ibunya Tegar adalah dua sahabat yang sama-sama hebohnya. Yang satu tidak punya anak perempuan, yang satunya lagi, tidak ada anak laki-laki. Seru dan lucu saja kisah mereka dulunya.


Bila Tegar sedang di rumah Elsa, maka ayahnya Elsa akan mengajari Tegar ilmu-ilmu beladiri, lengkap dengan jurus-jurusnya. Hingga Tegar terbentuk menjadi pribadi santun, yang digilai banyak wanita. Hidup di Turki tak membuatnya hanyut dalam pergaulan bebas. Hingga ia pulang ke tanah air.


Dulu, saling menculik anak sudah hal yang tidak mengherankan lagi bagi suami kedua perempuan itu. Tegar di rumah Elsa, Elsa di rumah Tegar. Hingga Tegar pindah ke Turki diboyong ayahnya, sejak saat itu mereka tidak lagi terhubung satu dengan yang lain. 

Tegar membawa rasa cintanya, dengan kesetiaan menjaga harkat dan martabatnya, sebagai lelaki sejati.


Tegar yang sejak dari kedatangannya ke pesta sabahatnya Tio itu, sudah terpesona dengan Elsa, wanita itu begitu cantik dengan kebaya pink baby nya. Serasi sekali dengan wajahnya yang di rias natural. Sesekali ia mencuri pandang di sela pembicaraanya dengan sahabat yang lain. Dan ia pun mendengar cerita dari Bella, tentang kisah masa lalu wanita yang diam-diam sejak dulu dicintainya dalam kesunyian. Yang ternyata Wanita itu adalah gadis berlesung pipi, yang sering bertukar tempat dengannya dulu. Gadis berkepang dua, yang pipinya selalu memerah bila kena cahaya matahari.


Singkat cerita, dua tahun sejak perceraian Elsa dan Pandu, Tegar datang melamarnya. Ia tak ingin berlama-lama dalam hal ini karena umurnya yang tidak lagi dalam masa bermain main. Pria matang itu membawa Elsa Damayanti ke pelaminan. Dengan tekad dan restu orang tua, Elsa menerima pinangan Tegar. Lelaki campuran Turki Medan itu, akhirnya telah sah menjadi suaminya.


    "Aku adalah bunga yang dibuang di jalanan, kemudian kau datang memungutnya, membawanya ke jambangan terindah di hatimu, menjadikanku ratu. Bagaimana tidak bersyukurnya aku, memilikimu, duhai suamiku, Bang Tegar Armagan." Elsa berkata dalam hati.


Terkadang apa yang pergi, tidak melulu menyakitkan, Melepaskan tidak selalu dibarengi pedih akibat luka yang digoreskan. Bukankah sebutir intan yang berkilau, terlahir dari begitu hebatnya tekanan, hingga menjadikannya kuat.


    "Terimakasih sudah menerimaku, tuntunlah aku menjadi istri yang sholehah." Elsa memandang wajah suaminya lembut.


    "Tentu, mantan adik tersayangku." Tegar mencubit lembut pipi istri cantiknya itu.


    "Kita sama-sama belajar, ingatkan aku bila ada hal yang tidak berkenan di hatimu." Tegar kembali bicara.


Begitulah kisah Elsa yang disia-siakan suaminya, lalu kembali dipertemukan Sang Pencipta dengan lelaki yang mungkin saja cinta pertamanya. Hidup bahagia itu adalah pilihan, memampukan bangkit dari keterpurukan dan tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Pun begitu dengan Tegar. Sejauh apa perjalan yang sudah ia jalani, pada akhirnya berlabuh juga di dermaga yang sudah di siapkan Tuhan untuknya. Sungguh Tuhan Maha Baik pada umatNya.


Di tahun kedua pernikahan mereka, Elsa melahirkan sepasang anak kembar yang sehat dan menggemaskan. Rumah mereka semakin semarak oleh tangis dan tingkah lucunya. Akbar, anak Elsa dengan Pandu juga sangat menyayangi kedua adiknya.


    "Ibu, apakah ibu dan ayah akan tetap menyayangiku, meski sudah ada adik-adik ini?" Akbar bertanya suatu pagi kepada ibu dan ayah sambungnya.


    "Tentu, Nak. Kasih sayang kami tak akan pernah berubah kepadamu. Meski nanti lahir lagi adik-adikmu yang lain." Tegar menjawab sambil membawa Akbar ke dalam pelukannya.


    "Terima kasih, Ayah." Akbar memeluk erat Tegar.


Oya, Nak, mari kita lanjutkan latihanmu, biar kelak kau menjadi jagoan paling keren bagi adik-adik kesayanganmu itu. Ayoo.."

Tegar berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang tadi.


Dada Elsa seketika menghangat melihat bagaimana Tegar memperlakukan sang anak. Akbar yang haus akan kasih sayang seorang ayah, menjadi begitu bahagia. Ia menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tuanya. Menghormati Tegar, sebagaimana ibunya ajarkan. Kadang Akbar membantu ibunya mengganti popok sang adik. Atau memijat lembut kepala Tegar kala mereka sedang bersantai di ruang keluarga.


Setahun kemudian, Elsa dan Tegar sepakat membangun Rumah Terapi yang diperuntukkan bagi anak-anak pecandu obat-obat terlarang. Mereka dalam pengawasan orang-orang pilihan, yang didatangkan dari padepokan sang ayah. Mereka juga diajarkan dasar-dasar kehidupan, ilmu beladiri dan ilmu berdagang untuk bekal mereka kelak jika sembuh dari ketergantungan. Sudah banyak yang berhasil hidup layak. Bahkan ada beberapa dari mereka menjadi pengusaha yang cukup disegani di luaran sana. Karena ketekunan dan kerja keras, serta tekad yang kuat untuk tak lagi tergoda barang haram. 


Di suatu senja yang damai, tiba-tiba berita menggemparkan itu di sampaikan seseorang yang saat itu datang melihat anaknya yang sedang menjalani masa pemulihan. Elsa sedang melatih anak-anaknya di halaman belakang rumah mereka. Bahwa sang mantan suaminya, ayahnya Akbar, di temukan sekarat di sebuah kamar hotel di tengah kota. Kabar yang tidak saja memalukan, tetapi juga memilukan. Bagaimana tidak, sang mantan diketaui habis pesta narkoba dan over dosis bersama sang kekasih. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit.


Bagaimana Elsa memberi tahu Akbar?. Mengingat selama ini ia selalu bercerita bahwa sang ayah sedang bertugas jauh. Tak sedikitpun ia menjelekkan Pandu. Meski memang Pandu tak pernah bertanya tentang anaknya, apalagi memberi nafkah. Pandu hanyut dalam pesta neraka dunia yang ia ciptakan dengan kesadaran.


Hingga suatu hari, kedua orang tua Pandu mendatangi Elsa di Rumah Pemulihan. Meminta tolong agar mau merawat Pandu yang kecanduan.

Aduhaii.. 

Bagaimana Elsa bersikap seharusnya. Mengingat begitu jahatnya sang mantan mertua di masa lalu.

Tetapi, jiwa Elsa begitu lapang. Ia memaafkan masa lalunya.


    "Baiklah, Tante, saya akan bicarakan dulu dengan suami saya." Elsa menjawab datar. Dan mantan mertuanya ini, tak sedikitpun bertanya kabar sang cucu. Tetapi ya sudahlah, ia tak terlalu berharap.


Pandu selamat, meski dirawat cukup lama di rumah sakit.  Setelah dibolehkan pulang, ia harus menjalani rehabilatasi. Namun, malang bagi sang kekasihnya, nyawanya tak bisa diselamatkan.  Ia wafat tak lama setelah tiba di rumah sakit. 


"Mas, tadi pagi, neneknya Akbar datang ke sini. Beliau minta tolong padaku. Bagaimana menurut mas?" Elsa meminta pendapat sang suami.


    "Sayang, kenapa ragu. Kita kan sudah sepakat akan membantu siapa saja. Mas percaya padamu. Jadi tidak usah ragu. Kita hadapi bersama ya." Tegar mengusap lembut kepala perempuan berwajah teduh itu.


Hingga Pandu dinyatakan sehat, dan Akbar pun mau mendekatkan diri kepada sang ayah.

    "Maafkan ayah, Nak." Pandu tak dapat menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.

    "Maafkan ayah." Lelaki yang dulu mengabaikan sang anak, kini terbenam dalam penyesalan yang dalam.


Tegar menepuk lembut pundaknya. "Sudah, Bro. Kita sebagai manusia tak luput dari salah dan khilaf.


    "Terimakasih, telah mau membantu lelaki jahat ini, bro. Semoga keluargamu senantiasa selalu bahagia dan dalam lindungan Allah.

Aku pamit ya. Sekali lagi titip Akbar. Kau memang pantas menjadi ayahnya.


Assalamualaikum 


Tanah Putih, 12 Desember 2025



BIONARASI

Namaku, Nurul Huda Bakhtiar, seorang penulis dan pecinta sastra yang masih terus belajar, mengembangkan diri dan berdedikasi. Dengan hobi menulis, telah menghasilkan berbagai karya tulis yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi pembaca. Saya akan terus mengembangkan bakat dan berbagi pengalaman melalui tulisan-tulisan, yang semoga saja bermamfaat bagi orang banyak.


Senang berada di sini, terima kasih.

Salam doa dari Bumi Sriwijaya


SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR: ZAMRI

 SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR

Nukilan: Zamri H. Jamaluddin (Brunei)


Udara malam di pinggiran kota itu dingin dan bening, membawa aroma lembut bunga kenanga yang ditanam di sepanjang jalan Taman Riadah. Di sebuah bangku kayu bercat putih yang menghadap ke tasik yang tenang, Yusof duduk seorang diri. Tempat itu telah lama menjadi persinggahan wajibnya, sebuah ruang jeda selepas bekerja sebelum pulang ke rumah yang kian terasa asing.


Cahaya bulan memantul di permukaan air tasik, seolah menyimpan rahsia sunyi yang sama dengan hatinya. Pakaian kerjanya masih rapi, menandakan dia baru sahaja menamatkan satu lagi syif tambahan. Sejak sekian lama, hubungan Yusof dengan isterinya, Maya, membeku tanpa kata. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat kembali bertukar menjadi ruang tanpa kehangatan.


Yusof memilih untuk memanjangkan waktu kerja. Pulang awal hanya menyajikan kebisuan yang memenatkan jiwa. Maya lebih banyak mengurung diri bersama anak-anak, dan komunikasi antara mereka sekadar mesej ringkas tanpa emosi, tentang jadual kerja, keperluan rumah, atau urusan anak-anak. Tiada lagi perbualan hati ke hati, tiada tawa, apatah lagi keintiman emosi sebagai pasangan hidup.


Namun Yusof tetap bertahan. Bukan kerana cinta yang masih menyala, tetapi kerana tanggungjawab. Maya tidak bekerja, dan Yusof adalah satu-satunya sandaran ekonomi keluarga. Demi anak-anak, dia menelan perit yang tidak terlihat oleh sesiapa.

Malam itu, Yusof tidak sendirian.


Beberapa meter darinya, seorang wanita berdiri memandang tasik, membelakangi dunia. Seolah-olah dia juga sedang mencari jawapan dalam riak air yang tenang.

Wanita itu Aisyah, ibu kepada tiga orang anak. Beban yang dipikulnya tidak kurang berat, malah mungkin lebih menghimpit. Seorang penjawat awam, Aisyah menambah pendapatan dengan menjual kuih dan menerima tempahan jahitan demi menampung keperluan keluarga. Suaminya, Malik, berpendapatan tidak menentu dan sering meletakkan segala kesalahan di bahu Aisyah.

Di sebalik wajahnya yang tampak cekal, tersimpan luka yang tidak mudah disembuhkan. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat berlindung sering berubah menjadi ruang yang menyesakkan jiwa. Namun seperti Yusof, Aisyah bertahan, demi anak-anaknya, demi amanah yang digalasnya sebagai seorang ibu.


Aisyah menoleh perlahan apabila menyedari kehadiran Yusof. Pandangan mereka bertaut. Dalam sekelip mata, mereka saling mengenali satu perasaan yang sama, keletihan, dan kerinduan akan sesuatu yang telah lama hilang.


    “Indah malam ini, ya?” sapa Yusof, suaranya tenang.

Aisyah tersenyum kecil. “Ya. Damai. Seolah-olah dunia berhenti seketika.”

Yusof mempersilakannya duduk. “Kadang-kadang, rumah yang sepatutnya menjadi tempat pulang… menjadi tempat yang paling sunyi.”


Kata-kata itu menyentuh tepat ke dasar hati Aisyah. “Sunyi yang paling menyakitkan,” balasnya perlahan, “ialah sunyi bersama keluarga sendiri.”


Perbualan mereka mengalir tanpa dipaksa. Yusof berkongsi tentang dinginnya perkahwinannya, tentang rasa tidak dihargai meskipun telah memberi segalanya. Aisyah pula menceritakan perjuangannya sebagai isteri dan ibu yang sering terpaksa menahan lelah sendirian.


Semakin lama mereka berbicara, semakin jelas persamaan takdir yang mengikat mereka. Dua jiwa yang terperangkap dalam perkahwinan yang retak, mencari ruang untuk bernafas.


Cahaya bulan menjadi saksi, dan angin malam membawa rasa tenang yang tidak mengghairahkan, tetapi menenangkan. Mereka menemukan sesuatu yang lama hilang, didengar dan difahami.


    “Susah bila kita dah beri yang terbaik, tapi tetap tidak dipedulikan,” ujar Yusof.

Aisyah mengangguk. “Rasa seperti hidup untuk semua orang, kecuali diri sendiri.”


Perasaan itu hadir perlahan, halus, tanpa dirancang. Bukan sekadar simpati, tetapi satu getaran yang lahir daripada rasa saling melengkapi. Yusof melihat ketabahan dalam diri Aisyah, sementara Aisyah merasakan kelembutan dan tanggungjawab dalam diri Yusof, sesuatu yang asing, namun mendamaikan.

Namun kesedaran itu datang bersama dilema. Mereka masing-masing terikat dengan janji suci.


    “Kita tidak boleh menafikan kenyataan,” kata Yusof akhirnya. “Kita ada keluarga, ada amanah.”

Aisyah menarik nafas panjang. “Saya tahu. Perasaan ini… ujian.”


Mereka sedar, cinta yang bersemi itu bukan untuk dimiliki, tetapi untuk difahami. Mungkin pertemuan itu bukan untuk menyatukan, tetapi untuk menguatkan.

    “Allah tidak menemukan kita tanpa sebab,” ujar Yusof perlahan. “Mungkin untuk mengingatkan bahawa kebahagiaan itu wujud, dan kita masih mampu memperbaiki hidup masing-masing.”


Aisyah tersenyum, matanya berkaca. “Mungkin inilah cara Tuhan memberi cahaya, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk kembali dengan lebih kuat.”


Malam itu menjadi pertemuan terakhir mereka di bangku kayu Taman Riadah.

Angin berhembus lebih dingin dari biasa, seolah membawa firasat yang tidak terucap. Yusof dan Aisyah duduk bersebelahan, namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada sebelumnya. Bukan kerana hati yang menjauh, tetapi kerana kesedaran yang semakin mendekat.

    “Entah kenapa malam ini terasa lain,” ujar Aisyah perlahan, memandang tasik yang memantulkan cahaya bulan yang tidak sempurna.


Yusof mengangguk. “Mungkin kerana kita sudah terlalu lama berdiri di persimpangan. Dan setiap persimpangan… menuntut pilihan.”


Aisyah tersenyum hambar. Di dadanya, cinta itu masih hidup, tenang, dalam, dan jujur. Namun dia tahu, tidak semua cinta ditakdirkan untuk diperjuangkan dengan memiliki.


    “Ada perasaan yang indah,” kata Aisyah, suaranya hampir berbisik, “kerana ia hadir tepat pada masanya. Tapi ada juga perasaan yang menjadi salah… jika kita membawanya lebih jauh.”


Yusof menunduk. Kata-kata itu menampar lembut jiwanya. Dia menyedari, kehadiran Aisyah telah menyelamatkannya daripada keputusasaan, tetapi juga mengujinya pada batas yang paling rapuh.


    “Kita bukan bertemu untuk saling melukakan keluarga masing-masing,” ujar Yusof akhirnya. “Kita bertemu untuk diingatkan bahawa hati kita masih hidup.”

Air mata Aisyah gugur tanpa diseka. “Dan bahawa kita masih mampu memilih yang benar, walaupun menyakitkan.”


Mereka diam lama. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya keheningan yang sarat makna, keheningan dua insan yang memilih untuk berpisah dengan cara yang terhormat.


    “Aisyah,” kata Yusof dengan suara yang stabil walau hatinya bergetar, “jika suatu hari nanti awak teringat saya, ingatlah bukan sebagai lelaki yang mencuri kebahagiaan awak… tetapi sebagai seseorang yang pernah mendoakan awak dari jauh.”

Aisyah mengangguk, tersenyum di sebalik air mata. “Dan awak, Yusof… akan saya ingat sebagai seseorang yang mengajar saya bahawa saya layak dihargai, walaupun bukan oleh awak.”


Mereka bangkit serentak. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada pertukaran nombor. Mereka memilih untuk memutuskan benang sebelum ia menjadi jerat.


Di persimpangan jalan itu, mereka berpisah arah.

Yusof melangkah pulang dengan langkah yang lebih berat, namun hatinya lebih jujur. Dia tahu, jalan memperbaiki rumah tangganya mungkin panjang dan sukar, atau mungkin berakhir dengan keputusan yang adil dan bermaruah. Tetapi dia pulang sebagai lelaki yang kembali sedar akan amanahnya.


Aisyah pula berjalan menuju hidupnya dengan dada yang luka, namun penuh cahaya. Dia tahu, pertemuan itu telah menguatkannya untuk berdiri, sama ada mempertahankan perkahwinannya dengan batas yang jelas, atau memilih jalan yang lebih selamat untuk dirinya dan anak-anak, dengan restu dan pertimbangan Ilahi.


Bangku kayu itu kembali kosong.

Namun di situlah cinta pernah bersemi, bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajar makna keikhlasan, pengorbanan, dan keberanian memilih kebenaran. Kerana ada cinta yang paling tinggi nilainya bukan ketika ia digenggam, tetapi ketika ia dilepaskan demi redha Tuhan. Dan pada perpisahan itulah, takdir mereka menjadi lebih jujur.


TAMAT

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular