Rabu, 26 November 2025

CINTA BERSEMI DI ATAS MAHARMU

 Penulis: Sri Hidayati, S.Pd.I

 

CINTA BERSEMI DI ATAS MAHARMU

Dulu, mungkin kau hanya angin lalu bagiku,

Aku tak pernah benar-benar menganggapmu ada.

Meski kita menapaki gedung yang sama untuk mencerdaskan bangsa,

Aku sibuk menatamasa depan murid-muridku

Dan tak pernah melihatmu sebagai takdirku

 

Entahlah…

Entah aku yang pernah begitu rapuh,

Atau aku yang enggan sekadar mengenalmu.

Bagiku, hadirmu seperti “adamuhu ka‘adamihi”

Ada, namun seolah tiada.

 

Tanpa kusadar, cinta diam-diam tertaut di hatimu,

Tanpa restu dariku, tanpa janji yang terucap.

Namun walimu telah lebih dulu menautkan cincin itu di jariku,

Ikrar itu membelenggu langkahku

Entah bagaimana caramu merayu.

 

Ah… sungguh, ini terasa gila.

Sangat gila.

 

Kau hadir di tengah keluargaku,

Padahal kita hampir tak pernah saling bicara.

Ikatan itu terjalin tanpa satu pertemuan pun dengan keluargaku.

Ya Rabb… betapa anehnya semua ini.

 

Aku merayu Tuhanku agar ijab kabul denganmu tak pernah ada

Namun… takdir mengantarkanku dihadapan penghulu bersamamu.

Aku tak bisa dan tak kuasa melukai suasana dan hati keluargaku.

Aku hanya terbungkam dalam keheningan sakral acara.

Seakan tak ada ruang untuk menjelaskan apa yang kurasakan.

Dalam wajah datar, aku hanya menjalani.

Dan tahukah kau? Doa dan keyakinanmu

Ternyata lebih kuat daripada tangis dalam doaku.

 

Hari-hari berlalu sangat panjang dan lambat

Dingin, canggung, penuh kegelisahan.

Aku bagai terpenjara tanpa sipir,

Berperang dengan pikiran dan perasaan.

Namun sakinah dan mawaddah mulai datang perlahan,

Mengetuk pintu setelah akad pernikahan…

Dan cinta pun mulai bersemi

Di atas maharmu.

 

Bionarasi :

Saya, Sri Hidayati, lahir dan besar di tanah yang kaya akan adat dan sastra Sumatera Barat. Saat ini, saya mengabdikan diri di dunia pendidikan disebuah bimbel yang saya bikin sendiri sekaligus menempuh studi pada jenjang akhir di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

Kecintaan saya pada menulis tumbuh seiring perjalanan hidup, menjadikan kata sebagai ruang refleksi dan medium pengabdian. Dari hobbi sederhana, menulis telah mempertemukan saya dengan komunitas KGS, tempat saya belajar, bertumbuh, dan mengasah keterampilan literasi.

Dengan penuh harap, saya terus meniti jalan ini agar kemampuan menulis saya semakin terasah, memperluas wawasan sastra, dan menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular