Ahad, 19 Julai 2026

ROTI GOSONG : Sahbuddin Dg. Palabbi

 

ROTI GOSONG

Sahbuddin Dg. Palabbi

 


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Waktunya sarapan sebelum berangkat kerja. Aku menuju ke dapur. Kubuka tutup saji, belum ada satupun hidangan di sana. Kulihat Bibi tengah menyapu lantai ruang tamu.

“Aargh… mana pagi ini ada meeting lagi di kantor, aku harus bergegas nih,” ketusku dalam hati.

“Bibi tolong buatkan aku roti bakar dong, yang cepat ya.”

“Baik Neng…”

Setelah menyiapkan panggangan dan rotinya, Bibi kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah. Aku kembali ke kamar menyiapkan perlengkapan ke kantor.

Sepuluh menit berlalu. Bibi belum kunjung tiba mengantarkan sarapan untukku. Aku kembali keluar kamar menuju dapur hendak memastikan.

Saat keluar kamar, tercium aroma gosong menguar memenuhi seluruh ruangan. Naluriku langsung menuju panggangan roti.

“Bibi….”

“Kenapa Neng?”

“Nih lihat…”

“Ya ampun maaf ya Neng.”

Dengan perasaan dongkol, kuambil roti yang hangus itu. Mendengar ribut-ribut di dapur, ibuku datang menghampiri.

“Ada apa ribut-ribut?”

Aku tak menyahut. Wajahku merengut sambil mengunyah roti yang terasa pahit di lidahku. Aku heran. Bukannya memarahi Bibi, ibu malah tersenyum sambil mengancungkan jempol ke arah Bibi.

Bibi yang tadinya ketakutan, ikut tersenyum sambil menutup mulutnya.

Sebelum berbalik meninggalkanku, ibu menepuk pelan bahuku.

"Lain kali bangun lebih pagi, ya."

Ibu dan Bibi lalu melengos pergi, meninggalkanku sendiri bersama roti yang gosong.

*****

 

SAWAH TERAKHIR: Karya Sahbuddin Dg. Palabbi

 

SAWAH TERAKHIR

Sahbuddin Dg. Palabbi

Sawah itu adalah urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari tangan-tangan yang menghitam menanam harapan di tanah basah. Aku mewarisinya seperti mewarisi napas. Tak pernah kupikir untuk menjualnya. Namun, keadaanlah yang memaksaku memutus urat nadi itu dengan tanganku sendiri. Bukan untuk makan. Bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk membeli sebuah pintu yang katanya akan mengubah hidup anakku: pintu hijau.

***

Beberapa bulan lalu, Fadli, anakku, pulang dari kota dengan mata sembab. Tes masuk tentara yang ia impikan sejak kecil tak membawanya ke barak, melainkan ke sebuah warung kopi, tempat ia duduk diam berjam-jam menelan kekecewaan.

“Nilai fisikku bagus, Bapak. Tapi… mereka bilang ada yang kurang,” ucapnya pelan.

Aku tahu maksudnya. Bukan kurang latihan, bukan kurang disiplin, melainkan kurang uang pelicin.

Fadli sudah lama bercita-cita menjadi prajurit. “Bapak,” katanya, “kalau aku jadi tentara, aku bisa jaga negeri dan jaga Bapak.”

Aah anakku… negeri ini lebih pandai menelan penjaganya ketimbang dijaga olehnya. Namun aku diam. Kadang seorang ayah harus memelihara mimpi anaknya, walau tahu mimpi itu akan dijadikan barang dagangan di pasar gelap.

Orang bilang, sekali pintu itu terbuka, nama keluargamu akan diucap dengan hormat, anakmu akan disapa dengan tegap, dan hidupmu akan diisi oleh kebanggaan. Namun di balik pintu itu, ada harga yang tak tercantum di formulir pendaftaran. Harga yang tak bisa dibayar dengan nilai ujian atau keringat latihan, hanya dengan lembaran uang yang beraroma tanah basah dari sawah yang akan kugadaikan.

***

Siang itu, aku sedang duduk di warung kopi dekat pasar. Sebuah kedai sederhana. Meja-meja tua dengan cat mengelupas, dinding papan pudar, dan rak botol sirup yang lebih banyak berdebu daripada terpakai.

Angin membawa bau bawang merah kering, bercampur aroma kopi tubruk yang baru dituang. Udin, si pemilik kedai yang juga teman SMP, duduk di bangku kayu dekat pintu, mengipasi bara tungku kecil yang mulai meredup. Di sudut lain, istrinya menjemur kerupuk di atas tampah bambu, sambil sesekali menepuk bahunya yang pegal.

“Eh, Run, sudah lama?” sapanya. Suaranya hangat seperti dulu.

“Baru saja. Kebetulan lewat sini, Din,” jawabku, lalu memesan segelas kopi.

“Aku dengar Fadli sudah ikut tes masuk tentara?” tanyanya, menatapku serius.

Aku mengangguk pelan. “Iya… tapi belum lulus. Katanya, ada yang kurang.”

Udin mengerutkan dahi. “Yang kurang? Jangan bilang… jalan pintas?”

Aku menelan ludah, menatap kopi yang mengepul. “Kurang… uang pelicin.”

Udin menghela napas panjang, wajahnya tetap bersih dari amarah. “Percaya saja sama kemampuan anakmu, Run. Kalau rezekinya jadi tentara, ya jadi. Kalau tidak, mungkin Tuhan punya jalan lain yang lebih baik.”

Ia menuang air panas ke gelas pesanan pelanggan lain, lalu menoleh padaku sambil tersenyum tipis. “Kakak sepupuku juga tentara, pangkatnya lumayan. Masuk lewat jalur resmi, murni tes. Waktu itu keluarganya susah. Jangankan sogok, makan saja kadang utang. Tapi dia lulus juga. Sekarang hidupnya sudah makmur, rumah besar, mobil ada, anaknya kuliah di Akmil.”

Aku hanya tersenyum. Aku tahu Udin bicara dari hati yang bersih. Wajahnya juga bersih dari kerut ambisi. Terlalu bersih untuk mengerti lumpur yang menempel di pintu hijau itu.

“Anakmu gimana, Din? Masih di pesantren?” tanyaku sambil meniup kopi panas.

“Masih,” jawabnya sambil mengangguk, “alhamdulillah, dapat beasiswa penuh. Padahal, kemarin ada yang nawarin jalur cepat, sekolah kedinasan, tinggal bayar orang. Pamannya mau bantu, tapi anakku nggak mau. Katanya, kalau rezeki halal pasti ada jalannya.”

Ia tertawa kecil. Entah bangga, entah pasrah. Udin bilang, dagang begini cukup untuk hidup, tetapi tak pernah cukup untuk membeli mimpi yang terlalu mahal.

Aku menghirup kopi pelan-pelan, sambil membatin, mimpi yang terlalu mahal kadang hanya menunggu satu keputusan gila untuk dibeli.

***

Dua hari kemudian. Di beranda rumahku, datang seorang lelaki berwajah teduh bernama Marlan. Ia membawa kabar, katanya ada seseorang di kota yang bisa “membantu” Fadli menjadi tentara.

Matanya menyelidik, suaranya lembut tetapi berat. “Orang ini… jalannya cepat, tapi tidak gratis.”

Aku menatap sawahku. Padi-padi itu mulai menguning. Aku tahu, jika aku menjualnya sekarang, harganya akan jatuh. Tetapi, waktu tak bisa menunggu lama.

“Aku dengar,” kata Marlan lagi, “orang ini pernah menolong banyak anak di desa lain. Kalau mau, aku bisa mengantar besok.”

***

Keesokan harinya, Marlan menjemputku dengan motornya. Angin siang mengibaskan ujung sarung yang kulilitkan di pinggang, sementara jalanan kota semakin ramai menjelang pasar sore.

Rumah itu terletak di ujung jalan kota, agak jauh dari deretan rumah dinas tentara yang sederhana. Begitu sampai, aku langsung sadar, bangunannya terlalu bagus untuk ukuran seorang sersan dua. Dindingnya dicat krem muda, bersih tanpa retakan. Terasnya berubin marmer, mengilap seperti baru dipoles. Pagar besi hitam berkilau, halaman lebar dengan rumput yang dipangkas rapi. Dua pohon palem berdiri di kanan-kiri jalan masuk, seperti penjaga kehormatan.

Seorang lelaki berambut separuh memutih bersandar di kursi rotan, menikmati sore di teras rumah itu. Namanya Pak Surya, begitu kata Marlan, mengenakan kaos putih polos dan celana kain longgar. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Tatapan matanya seperti cermin yang menembus sampai tulangku.

“Kau tahu sendiri, pintu hijau itu berat. Tapi ada caranya agar engselnya lebih mudah dibuka,” ucapnya setelah kusampaikan maksud kedatanganku.

“Kalau mau cepat, harus ada pelicin,” lanjutnya. Jumlahnya… setara seluruh sawahku.

Aku mengangguk pelan, pura-pura tenang meski dadaku seperti diremas. “Beri aku waktu. Uang itu akan kuantarkan sebelum hari tes,” kataku.

Surya menatapku tajam. “Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Sekali saja bocor, urusanmu akan jadi panjang,” ujarnya dingin.

Aku mengangguk lagi, menelan ludah.

Marlan, yang sedari tadi bersandar di kursi, ikut menimpali, “Tenang Pak Sur. Orang ini bisa menjaga rahasia.”

Dalam perjalanan pulang, pikiranku kusut. Malamnya, aku membicarakan hal itu dengan istriku. Kami sepakat. Entah ini keputusan benar atau salah, Fadli harus ikut jalur itu.

Keesokan harinya, aku mulai mencari pembeli.

Berhari-hari aku keliling, menawarkan sawahku ke sana kemari. Sampai akhirnya seorang pedagang beras dari kecamatan sebelah, mau membelinya. Harganya pas. Tidak lebih, tidak kurang, sesuai dengan jumlah yang disebut Surya. Aku menandatangani surat jual beli dengan tangan gemetar, rasanya seperti mengiris bagian dari tubuhku sendiri.

Sesuai kesepakatan, aku kembali menemui Pak Surya.

Tanganku bergetar saat menyerahkan amplop itu, begitu tebal hingga lipatannya nyaris tak tertutup rapat. Ia menerima tanpa banyak bicara, hanya matanya melirik pada secangkir kopi di sebelahnya. Seolah minuman itu menyimpan arti yang hanya ia pahami.

Beberapa minggu kemudian, gelombang penerimaan tentara dibuka lagi. Fadli ikut tes. Dan benar saja, ia lulus keseluruhan rangkaian tes calon bintara tersebut. Padahal sebelumnya, ia gagal ketika mengikuti tes calon tamtama, yang levelnya lebih rendah. Setelah dinyatakan lulus, Fadli ditempatkan di kesatuan kavaleri, markasnya berada di ibu kota provinsi.

Di hari keberangkatannya, warga desa mengucapkan selamat. Udin pun datang, menyalami Fadli dengan senyum tulus, lalu beralih padaku. Genggamannya singkat, namun tetap hangat. Matanya hanya menatapku sekilas, kemudian berpindah ke kerumunan, seakan tak ingin membicarakan apa yang semua orang sudah tahu. Aku tersenyum di tengah keramaian, meski hatiku kosong seperti sawah yang sudah rata tanahnya.

***

Beberapa hari setelah itu, aku lewat di depan rumah Udin.
Ada yang berbeda. Cat temboknya baru, jendela kayunya berganti kaca bening, dan di terasnya berdiri kedai kopi yang ukurannya lebih besar dan lebih modern dari sebelumnya. Aroma kopi sangrai menyebar sampai ke ujung jalan.

“Wah, rezeki besar ini, Din?” tanyaku, setengah bercanda.

Udin tersenyum lebar. “Ah, ini sedikit bantuan dari kakak sepupuku yang tentara itu. Katanya, dia baru dapat rezeki dari urusan kerjaan.”

Ia lalu menunjuk toples-toples kopi di rak. “Kakak sepupuku memang suka kopi, jadi ia menyokong aku membuka kedai yang lebih besar seperti café-café di kota,” lanjutnya sambil tertawa renyah.

Aku terdiam. Dalam kepalaku, secangkir kopi hitam di meja rotan itu muncul lagi. Lalu wajah Pak Surya… senyum miringnya… tangannya yang dulu menerima amplop dari tanganku.

“Din,” kataku perlahan, mencoba terdengar santai, “siapa nama kakak sepupumu di kota itu?”

Udin mengangkat alis, lalu tersenyum. “Surya. Kenapa, Run?”

Aku tersentak. Di dadaku, terasa ada sesuatu yang pecah. Aku memandang kedai kopi itu lama-lama. Kursi kayunya, meja-mejanya, mesin kopi, dan bau kopinya. Semuanya beraroma lumpur sawahku yang sudah tak lagi ada. (*)

 

 

LANGIT TAK PUNYA SISI: Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 

Langit Tak Punya Sisi

Sahbuddin Dg. Palabbi

Di Gaza, langit selalu menghitam sebelum malam.
Bukan karena senja,
tetapi karena asap yang menjulur dari rumah yang roboh.
Yusuf, anak laki-laki dua belas tahun,
duduk di reruntuhan sekolahnya yang kini jadi puing sejarah.
Ia memegang selembar surat,
dari Eli, anak Yahudi yang tinggal di Yerusalem.
Mereka tak pernah bertemu,
tapi mereka bersahabat.

Semua bermula dari jembatan kata,
yang dibangun diam-diam oleh mereka yang percaya:
bahwa anak-anak pun berhak bersuara sebelum peluru bicara.
Eli menulis tentang langit. Tentang burung. Tentang hujan yang turun pelan.
Yusuf membalas dengan cerita tentang bola,
tentang ibunya yang membuat roti bundar setiap pagi,
tentang ayahnya yang menghilang setelah perang terakhir.

“Aku ingin melihat langit yang sama denganmu,” tulis Eli.
“Karena aku percaya, langit tak berpihak.”
Yusuf tersenyum membaca itu,
belum pernah ia mendengar seorang Yahudi
menulis kalimat seindah itu.
Ia membacanya berkali-kali,
seolah di tiap kata tersimpan semacam penghiburan
yang tak bisa diberi oleh dunia yang sedang hancur.

Namun hari itu datang.
Sirine meraung,
dan langit jatuh berkeping-keping.
Rumah Yusuf hancur.
Ibunya ditemukan di bawah puing,
tersenyum dengan mata tertutup.
Adiknya tak ditemukan sama sekali.
Yusuf masih hidup,
tapi sebagian dari dirinya terkubur bersama ibu dan adiknya.
Ia menulis satu kalimat
pada potongan kardus dari toko yang terbakar:
Eli, masihkah kamu melihat langit yang sama denganku?

Suara ledakan kini menggantikan suara doa.
Di Gaza, bahkan sunyi pun retak.

Di Yerusalem, Eli tak lagi menulis.
Ayahnya melarang:
“Kita sedang perang,” katanya.
“Tidak ada sahabat di pihak musuh.”
Namun Eli masih menyimpan surat Yusuf,
masih membacanya di malam hari,
ketika ibunya tertidur dan dunia diam.
Ia menangis dalam senyap.
Di luar jendela, bintang tetap bersinar.
Tapi ia merasa, salah satu dari mereka telah padam.
Kadang, ia bermimpi menjawab surat itu.
Tapi pagi datang, dan kenyataan membungkamnya lagi.

Tahun-tahun berganti.
Gaza tetap terkepung.
Yerusalem tetap dijaga senjata.
Namun surat-surat itu,
masih disimpan oleh Yusuf di dalam kaleng susu tua,
dan oleh Eli di bawah tempat tidurnya.

“Jika aku besar nanti,” tulis Yusuf dalam surat terakhir,
“aku ingin menjadi jurnalis.
Agar dunia tahu bahwa aku pernah punya sahabat
yang lahir di sisi yang salah,
tapi punya hati yang paling benar.”
Kalimat itu tak sampai,
tapi maknanya terus mengendap di antara peluru dan pagar besi.

Eli tak pernah membalas surat itu.
Namun saat dewasa, ia datang ke perbatasan,
membawa satu kertas bertuliskan:
“Langit tak punya sisi.”
Ia tidak tahu apakah Yusuf masih hidup,
tapi ia percaya:
satu sahabat yang pernah berkata jujur
cukup untuk mengalahkan seribu kebencian.

Ia berdiri lama di sana,
memandang langit yang sama
yang dulu mereka percayai sebagai tempat pertemuan.

Beberapa tahun kemudian,
Yusuf tumbuh menjadi wartawan.
Ia mewawancarai reruntuhan,
mencatat nama-nama yang tak masuk berita.
Sementara Eli,
menjadi guru sastra di kota yang aman,
mengajarkan puisi yang tak pernah selesai ditulis Yusuf.

Setiap tahun,
Eli mengulang kisah yang sama kepada murid-muridnya:
tentang dua anak yang tak pernah bertemu,
tapi saling percaya pada satu hal—
bahwa cinta tak mengenal batas.
Bahwa yang ditulis dengan hati,
tak pernah benar-benar hilang dari dunia.

Suatu hari, di festival sastra kecil di Eropa,
dua puisi dipamerkan berdampingan.
Satu ditulis Yusuf,
satu lagi oleh Eli.
Berjudul sama:
"Langit Tak Punya Sisi."

Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya,
tapi para pengunjung menangis.
Sebab kadang, satu bait yang jujur
lebih kuat dari seribu peluru.
Dan langit pun, untuk sesaat,
terasa benar-benar tanpa sisi.

Jakarta, Medio Juli 2026

Ahad, 21 Jun 2026

LARA DI BUKIT PALIPPIS : Karya Arniyati

 LARA DI BUKIT PALIPPIS

Arniyati Shaleh

Suara hantaman ombak pada pantai jauh di bawah sana menghentak jantung Lara yang diam memaku di ladang tarreang (ladang jawawut sejenis tumbuhan ilalang) milik Kanneq Puaqnya. Lamat-lamat suara ombak itu menggelora tanpa lelah diiringi angin kencang menderu, langit mulai berhiaskan awan berwarna kelabu, bergumpal dan nampak tertatih menahan beban. Kanneq Puaqnya, ayah mama Lara menoleh ke arah Lara dan memberi isyarat untuk bersegera meninggalkan ladang. Lara patuh meski mulutnya mengatup kukuh. Sendu mengalir sejuk ke dalam hatinya melihat Kanneq Puaqnya meski sudah tua tapi tetap tegap penuh semangat mempertahankan ladang tarreang ini dari roda-roda industri.  

Kanneq Puaq Lara yang populer dipanggil Puaq Kumia oleh Anaq Banua  bernama asli Kacoq Kaiyyang, entah harapan apa yang diimpikan kakek buyut Lara sehingga menamakannya Kacoq Kaiyyang yang dalam bahasa Indonesia berati Anak Lelaki yang Besar, padahal tubuh Kanneq Puaqnya ini seperti lelaki Mandar pada umumnya tidak terlalu besar, tingginya jauh dari semampai, agak gempal dengan rambut ikalnya, wajahnya berahang kuat dan agak lebar. Lara yang tinggi semampai sering merasa senang semasa tumbuh kembangnya berdiri di samping Kanneq Puaqnya sambil berteriak kegirangan karena sudah melampaui tingginya. Lara tersenyum mengingatnya sambil berlari kecil mengejar langkah Kanneq Puaqnya yang lincah menuruni  perbukitan bebatuan karang itu. Mama Lara putri semata wayang Puaq Kumia, Seorang anak perempuan yang besar di ladang tarreang namun berpikir berjuta kilometer dari kampungnya. Terlahir cerdas dan kritis membuatnya berbeda dengan anak perempuan  di bebukitan Palippis sana. Dia bernama Kumia.  

Kumia pemimpi tanpa batas. Lewat bacaan di perpustakaan sekolahnya, Kumia merajut mimpi yang dengan tekad berapi ingin diraihnya, dijadikan pakaian yang kelak meluaskan langkahnya sebagai Anak Bangsa bukan sekedar Anaq Banua. Sekolah Dasar dilampauinya dengan gemilang meski harus menempuh jarak berkilometer, lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah DDI di Campalagian yang secara geografis semakin jauh dari rumahnya. Kumia melanjutkan sekolah ke SMK jurusan komputer, meski terasa aneh baginya mengingat Puaqnya adalah petani tarreang seharusnya dia memilih jurusan pertanian dan semacamnya tapi itulah Kumia, gadis Ladang Tarreang yang tak pernah patah ditebas musim.

Kumia mengepakkan sayapnya, meski di tengah musim angin dan ombak besar, di tengah kesulitan Puaqnya dalam mencoba tetap bertahan menabur benih pada bebukitan batu karang di bukit Palippis sana. Bukan tak pernah mereka diterpa badai yang dahsyat tapi langkah Kumia bergeming, tertatih namun tak lelah.

Puaq Kumia mengenang semua jejak langkah putrinya sambil memandang penuh kasih pada Lara, cucunya yang tiap liburan sekolah setia mengunjunginya meskipun harus menyeberangi samudra, ya Kumia yang menikah dengan Lelaki Mandar berdarah campuran Turki itu, kini menetap di Istanbul, Turki dengan bendera usaha bernama Guzel Turkey Accessories. Anaknya yang lahir dan besar di sisi bukit akhirnya terbang jauh ke negara asing, ada parutan kebanggaan yang terukir pada senyumnya.

Teringat Puaq Kumia ketika badai dahsyat menerpa keluarganya dan keluarga perkampungan di sekitar mereka. Angin kencang menyebabkan panen gagal, sapuannya meliukkan rumpun tarreang yang mulai menampakkan bunga_bunga indah, ladang tarreang tak mampu menahan angin untuk melindungi tetumbuhan di atasnya, jagung, padi-padi di pesawahan pada perbukitan di bawahnya yang memanjang di pinggiran jalan rebah tak berdaya, sementara ombak di lautan mengganas tak mengijinkan kapal pembawa sembako merapat di dermaganya, jangan kata kondisi jalanan yang saban hari disapa hujan deras bermeter kubik itu mengalah mengikuti kemauan alam luruh menimbulkan genangan di sana sini. Saat itu Kumia sudah kelas Tiga SMK, masa anak sekolahan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Perhiasan Kindoq Kumia sudah mulai berlari ke toko perhiasan di Tinambung yang tersisa adalah cincin pemberian Kanneq Kumia. Kumia hanya bisa merenung diam tak tahu harus bagaimana karena dia sangat sayang pada cincin itu, cincin yang diberikan Kindoqnya sehari sebelum menutup mata.

Puaq Kumia, “Tomalolo, ikhlaskanmi ciccinna Kanneqmu, anaq U, apa maumi diapa, bukan cuma kita yang susah tapi hampir seluruh kampung di Banua Mandar ini, kita lebih beruntung karena punya simpanan tarreang dengan bataq, masih bisa makan. Bagaimana yang selama ini mengandalakan sawah? Bagaimana Tuan Gurumu dan keluarganya di Labuang?”

Tanpa disangkanya, Kumia berdiri dan memeluknya,”Oh Puaq, apapun yang terjadi cincin ini tidak akan kujual, selalu ada jalan. Besok aku mau ke Majene, tadi sore sudahka bicara sama Tante Biah, mauka coba jualkangi lipaq sabbe-na. Katanya di Majene ada distributor lipaq sabbe, doakanka Puaq.” Sebenarnya tawaran itu awalnya tidak digubrisnya, Kumia belum berani sendirian ke Majene apalagi di sana dia tidak punya kenalan, ada keluarga tapi jarang ketemu. Keluhan Puaqnyalah yang memompa semangatnya untuk berani ke Majene. Toh Sekolahnya sudah lumayan dekat dari sana, dia bisa menginap di rumah Tuan Gurunya yang selama ini menyayangi dan menganggapnya anak sendiri.

Puaq Kamia tersenyum, ada binar bintang berkelip di kedalaman mata Kumia, Putrinya. “Kindoqna, seandainya Kau masih ada bersama kita mungkin segalanya akan terasa ringan dan kau akan bahagia melihat kuatnya tekad tomalolota.” Puaq Kumia membatin.

Fajar mencoba menembus lipatan awan yang setia memayungi Palippis dan sekitarnya.  Kumia sejak subuh mempersiapkan segalanya sambil berharap cuaca kali ini tersenyum manis padanya. Lipaq sabbe 2 lusin telah terbungkus plastik dan aman dalam tas jinjing, tarreang dan bataq untuk Tuan Guru Supu secukupnya sebagai ole-ole, persediaan mereka cukup banyak meskipun penduduk sekitar ke rumah mereka membeli untuk dijual kembali ataupun dimakan sendiri. Sepagi mungkin Kumia sudah menunggu pete-pete yang akan membawanya ke Labuang.

“Tuhan, lancarkan urusanku demi masa gemilang kelak ...” Batinnya, sambil menunggu angkutan kota lewat. Puaq Kumia yang menemani anaknya tersenyum haru melihat usaha Kumia. Bukan Puaq Kumia tidak punya keahlian lain selain menanam tarreang, memainkan raqapang  atau ani ani, sejenis alat pemotong jika panen telah tiba.dijemari kokohnya tapi Puaq Kumia tak ingin ladang tarreang lenyap dibebukitan Palippis, tarreang adalah icon Palippis, sudah berapa keturunan mereka menanam tarreang ini, Puaq Kumia sendiri tidak pernah tahu. Sudah banyak kawannya meninggalkan ladang beralih professi menjadi pappete-pete, guru bantu di madrasah Campalagian bahkan ada yang merantau ke daerah luar nun jauh di sana.

“Eh, Puaq, adami pete-pete” seru Kumia menyadarkan Puaqnya dari lamunan. Kumia melambaikan tangan sambil menunjuk ke arah jalan menuju Majene. Puaq Kumia mengangguk dan membantu Kumia menaikkan bawaan Kumia. 

Pete-pete yang merupakan sebutan buat mini bus berpintu samping, kursinya lebih tepat disebut bangku didesain memanjang dengan posisi kiri dan kanan mini busnya, Kumia memilih duduk di dekat pintu karena bawaannya disimpan dekat pintu, takutnya jika goncangan kuat karena jalanan rusak parah bawaannya terjatuh. Tas berisi lipaq sabbe dipangkunya. Mata Kumia menyapa beberapa penumpang tanpa membuka perbincangan sesuai pesan Puaqnya juga pesan Tante Biah adik Kindoqnya demi keamanan Kumia sendiri.

Karena kondisi jalan rusak, perjalanan terasa lama bagi Kumia, lelah dan penuh tanya, “Bagaimana kalau sarung ini tidak laku? Dari keuntungannya Kumia bisa membayar uang praktek, membeli disket dan tentunya bisa disimpan sedikit untuk menambah biaya masuk Perguruan Tinggi beberapa bulan lagi. Tante Biah yang melihat semangatnya mengikhlaskan sarung-sarungnya dijual Kumia dengan keuntungan sepenuhnya buat Kumia, hanya modal pembeli benang sutra, pewarna yang harus diberikan Kumia padanya. 

“Tuhan, Kau begitu Maha Baik, padaku. Memberi Puaq dan Tante yang tulus ...Alhamdulillah, Ijinkan aku tak mengecewakan mereka”. Tak henti Kumia mengucap syukur dengan caranya.


Diantar Tuan Guru Supu, Kumia ke Majene. Akhirnya mereka sampai dan Kumia kembali membaca secarik kertas bertuliskan nama juga alamat tujuannya, Hj. Mahdiah Hasyim, Tanjung Batu No.205 belakang mesjid Tanjung Batu. Alamat yang mudah ditemukan. 

“Assalamu’alaikum”, takut-takut Kumia mengetuk pintu. Rumah ini terasa begitu mewah baginya. Bangunan besar ini nampak modern dengan dua pilar terukir di sisi kiri kanan pintu masuknya. Dari sinetron yang kadang ditontonnya jika bermalam di rumah tantenya, Kumia tahu bahwa pemilik rumah mewah adalah orang yang judes, angkuh dan materialistis. Dengan pakaian terbaiknya sekalipun tetap akan menunjukkan status sosial Kumia. Tapi, dugaan buruk itu tidak berlaku. Sesosok tubuh mungil namun dari wajah dan penampilannya nampak betapa matang usianya menyembul dari balik pintu dan menjawab salam penuh keramahan.

“Waalaikumussalam, mari masuk, ayoo jangan malu-malu”. Tiba-tiba mulutnya membentuk lingkaran O ketika matanya menangkap wajah Tuan Guru Supu sambil tertawa renyah. “Hammaaa ... Supu ... Kamu palakaq? Saya kira orang mau jual sarung sutra”.

“Ini, siswiku, Kumia, mau jual sarung sutranya jadi saya antarrii”. Tuan Guru Supu menjawab sambil menghenyakkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu mewah itu. Ternyata mereka teman sepermainan dan satu sekolah sejak SD sampai SMP. Mahdiah putri tentara berpangkat Kapten dengan mulus menyelesaikan sekolah dan kuliahnya sampai S2 dijurusan Bisnis Management. S2 yang diselesaikannya di Universitas Nasional Malaysia mempertemukannya dengan seorang bisnisman asli Turki bernama Enver Yilmas yang merupakan dosen tamu di sana.  Mahdiah menetap di Turki hanya sesekali pulang ke Majene jika stock lipaq sabbe dan kuliner awet khas Mandar habis di beberapa tokonya yang menyebar di mall-mall Istanbul seperti Istinyee Mall, Cehavir Mall, Optimum Mall yang lumayan ramai dikunjungi pelanggannya. Seperti kali ini,  dia pulang kampung hendak memborong lipaq sabbe, bajabu, pipang, dan paissang yang ternyata di gemari di Istanbul. 

Mahdiah langsung jatuh hati pada Kumia, mata anak itu nampak berbinar bagai bintang, memancarkan optimisme dan percaya diri.Dan Mahdiah jatuh cinta pada Kumia, insting keibuannya membuncah, salut dan terharu pada sepak terjang Kumia seperti yang diceritakann Supu, 

Musim penghujan semakin jauh meninggalkan kampung Palippis, awan mulai berarak cerah menyinari Bebukitannya, Kumia akhirnya lulus dengan predikat luar biasa, NEM-nya mendapat nilai tertinggi se Sulawesi Selatan dan Barat. Karenanya Kumia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di ITB bagian Programming Komputer, serasa terbang ke awang-awang Kumia mengabari Puaq dan Tantenya yang disambut gembira bahkan oleh seluruh penduduk Palippis. Kumia dianggap pahlawan Kampung. Tak lupa Tuan Guru Supu mengabarkan berita bahagia ini pada Mahdiah..

Bandung, kota besar pertama yang merangkul Kumia, hari-hari penuh tantangan dilaluinya sampai menyelesaikan kuliahnya dan Kumia memutuskan kembali ke pangkuan Ladang Tarreang, rindunya begitu menggebu pada Puaqnya. Di Kampung, Kumia mengabdi di Kantor Kecamatan Balanipa sebagai tenaga administrasi. Sehingga suatu hari, Mahdiah ke Palippis mengajak Kumia menjadi asistennya di salah satu gerai souvenir miliknya di Istanbul. Dengan berat hati, Puaq Kumia melepas putrinya, yang semakin jauh mengepakkan sayapnya, 

“Puaq, kalau aku sudah mampu, akan kujemput Puaq, Insya Allah”. Janji Kumia. Puaqnya hanya bisa mengangguk dan memeluknya. Pelukan erat yang sangat berat.

Akhirnya, Kumia tinggal di Istanbul dan menekuni desain asesoris via online disela jam kerjanya di Gerai Mandar Art and Accessories, Cevahir Mall. Suasana romantic kota Istanbul memupuk cinta antara Kumia dan Ilgas Enver Yilmas, putra Mahdiah. Mahdiah sekeluarga dan Kumia kembali ke Mandar, mereka menikah dengan meriah dan penuh nuansa adat. Tak lama setelah menikah, Ilgas yang tahu hobby Kumia mengutak atik perhiasan, mendirikan Gerai di Grand Bazaar, pusat shoping souvenir Turki di Istanbul.

“Kanneq Puaq, kita sudah nyampe ...!” teriak Lara sambil bergegas cuci kaki di keran teras rumah. Puaq Kumia terkejut, sadar dari lamunan kenangan. Lara yang sebentar lagi memasuki Universitas itu bergegas masuk sambil membuka-buka Handphone-nya. Tadi karena signal di atas Bukit Palipps tidak ada, Lara cuma memanfaatkan Blackberry-nya untuk merekam suasana lewat video dan beberapa foto. Signal sudah ada.Ada SMS yang masuk, dari Mama Lara. Di situ tertulis Anne.

Anne :”Nasilsin?”

Lara :”Tesekkur ederim, Anne”

Anne:”Dedenis nasil?”

Lara:”Sagol, Anne, beni ne zaman gotureceksin?”

Anne:”Ne  geleceksin?”

Lara:”Bu ayin sonunda, Anne”

Anne:”Oke, Anne dan Baba-mu akan ke Mandar”

Lara:”Bekliyoruz annecim, seni swviyorum annecim, babacim”

Anne:”Anne juga sayang kamu :*, Allene cok selam soyle Mandar”

Sambil membersihkan diri, Lara tersenyum, serasa aneh rasanya bahasa di Palippis ini tapi kata Kanneq Puaqnya, bahasa Turkey yang aneh. Ah sebentar lagi, dia Lara Reyyan  Yilmas, gadis campuran Mandar-Turkey akan meninggalkan Palippis, kampung halaman Mamanya. Kampung yang bertolak belakang dengan Istanbul, tempat kelahirannya. Anne dan Baba akan menjemputnya sekaligus membujuk Kanneq Puaq ikut dengan mereka, hanya lima kali Kanneq Puaq ke Istanbul itupun selalu mengingat Ladang Tarreangnya, akankah Kanneq Puaqnya ikut mereka kali ini? Entahlah.

 


Foot note;

Beberapa chat Lara berbahasa Turkey

Anne ; mama

Baba; papa

Nasilsin; apa kabarmu

Dedenis nasil; apa kabar kakekmu

Tesekkur ederim; kabar baik

Sagol;baik

Ne zaman geleceksin; kapan kamu pulang

Beni ne zamangotureceksin; kapan jemput aku

Bu ayin sonunda; akhir bulan ini

Bekliyorus annecim; aku tunggu yaa maaa

Seni seviyorum annecim; aku sayang mama

Allene cok selam soyle Mandar; salam mama buat keluarga di Mandar

Puaq; bapak

Kanneq; nenek ; kanneq puaq; nenek lelaki

Anaq banua; warga kampong

Adami; sudah ada

Tuan Guru; Pak Guru, guru adalah professi yang sangat dihargai di Mandar .



Bionarasi


Arniyaty Amin ibu rumah tangga yg suka membaca dan menulis, lahir dan berdomisili di Makassar sudah melahirkan beberapa buku antologi puisi dan cerpen juga non fiksi sebagian besar dari hasil lomba. Akun FB Arniyaty Amin, IG @Arniyatiamin therads @Arniyaty Amin


   


Isnin, 1 Jun 2026

SEPASANG SAYAP: Karya Wewaler @Priyopati

SEPASANG SAYAP

Gagah burung elang tinggi terbang
Seberangi hutan dan lautan
‘tuk menggapai damai tujuan

Sayap kiri dan sayap kanan
Beriringan bergantian, 
dalam harmoni

Waktu dan usia
Seharusnya juga berjalan beriringan
Wataknya sang waktu terus melesat 
Tak ada istilah jalan mundur 
atau mengulang

Sesiapa yang hidup terlena 
sia-siakan waktu dan usia
bernilai emas permata
sayangnya terlewat 
hanya terbuang percuma

Retak patah
Hancur berkeping
Gagal mencapai tujuan


31 Mei 2026. wewaler@Priyopati

Khamis, 16 April 2026

TASBIH KAYU DI UJUNG JEMARI " Karya Eduar Daud

TASBIH KAYU DI UJUNG JEMARI

Penulis: Eduar Daud

    Di kota yang tak pernah tidur ini, suara azan Maghrib seringkali hanyalah frekuensi yang lewat, kalah bersaing dengan raung mesin knalpot di kemacetan jalan protokol dan denting notifikasi ponsel yang menuntut perhatian tanpa henti. Bagi Aris, seorang arsitek muda yang namanya mulai naik daun di firma-firma besar, langit Jakarta di bulan Ramadhan tak lebih dari sekadar perubahan warna dari biru pucat menjadi abu-abu polusi.

    Baginya, Ramadhan tahun ini terasa seperti beban administratif belaka. Ibadah tak lagi menjadi oase, melainkan daftar centang yang melelahkan. Lapar yang tertunda adalah gangguan pada fokus desainnya, haus yang tertahan adalah penghambat presentasi klien, dan kantuk yang menggantung di pelupuk mata saat rapat pagi adalah musuh yang harus ia perangi dengan kafein, yang ironisnya hanya boleh ia teguk saat fajar atau setelah senja.

    Di balik dinding kaca kantornya yang dingin, Aris menatap kemacetan di bawah sana. Ia merasa jiwanya kering kerontang, retak-retak seperti tanah yang lupa rasa hujan, meski angka di rekening banknya terus membengkak. Aris merasa sedang berlari kencang di atas treadmill kehidupan; kakinya bergerak gila-gilaan, napasnya tersengal, namun secara spiritual, ia tetap terpaku di titik nol. Tak ada kemajuan, tak ada kedamaian. Ia membangun gedung-gedung pencakar langit yang megah untuk orang lain, namun gagal membangun satu pun ruang tenang di dalam dadanya sendiri.

    Puncaknya terjadi pada suatu sore yang menyesakkan, ketika sebuah cetak biru rancangannya robek karena tangannya gemetar menahan lelah dan hampa. Tiba-tiba, aroma kayu jati dan wangi tanah basah di desa terlintas begitu saja di ingatannya. Tanpa rencana panjang, seminggu sebelum Lebaran, ia mengepak koper kecilnya. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari hutan beton menuju pelukan desa yang tenang, menemui satu-satunya "arsitek jiwa" yang ia kenal: kakeknya, Kyai Usman.

****

    "Kau terlihat lelah, Aris. Bukan lelah fisik yang bisa sembuh dengan tidur semalam, tapi lelah batin yang sudah menumpuk berbulan-bulan," ucap Kyai Usman tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. Beliau duduk bersila di teras rumah kayu yang berderit halus setiap kali ada angin lewat, membawa serta harum melati yang mekar di sudut halaman.

    Di tangan rentanya yang penuh urat menonjol, sebilah bambu hijau sedang diserut hingga menjadi helaian tipis yang halus. Kyai Usman bukan sekadar pembuat keranjang; beliau adalah maestro anyaman yang dikenal mampu mengubah sebatang bambu kaku menjadi karya seni yang bernapas. Di mata anak-anak kampung yang mengaji padanya, beliau adalah penyambung lidah antara syariat dan hakikat.

    "Dunia ini berjalan terlalu cepat, Kek. Persaingan di kota itu seperti arus deras; kalau aku berhenti mendayung sejenak saja untuk menarik napas, aku merasa tertinggal jauh di belakang," jawab Aris lirih. Ia menyandarkan kepalanya di tiang jati teras yang kokoh, membiarkan matanya terpejam menikmati belaian semilir angin desa yang tidak pernah ia temukan di balik jendela kaca kantornya.

    Kyai Usman berhenti menyerut sejenak. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ketenangan samudera. Matanya yang mulai kabur oleh usia, namun tetap memancarkan cahaya teduh, menatap bilah-bilah bambu yang berserakan di depannya.

    "Ramadhan itu sejatinya adalah seni menganyam, Aris," ucap beliau dengan suara yang berat namun menenangkan. 

    "Hidupmu di kota mungkin seperti mesin yang menderu, tapi di sini, hidup adalah jemari yang bergerak di antara sela-sela bambu. Jika kau terburu-buru menarik bilahnya hanya karena ingin cepat melihat hasilnya, jemarimu akan luka teriris sembilu yang tajam. Polanya pun akan berantakan, goyah, dan tak punya jiwa."

    Kyai Usman mengambil satu helai bambu tipis, lalu menyelipkannya di antara sela-sela yang sudah terbentuk. 

    "Menganyam kisah kerohanian itu butuh ritme yang pas. Ada saatnya kau harus menarik, ada saatnya kau harus menahan. Butuh jeda antara satu helai dengan helai lainnya. Dan ketahuilah, Nak, jeda itu adalah zikirmu. Tanpa zikir, anyaman hidupmu hanya akan menjadi tumpukan benda mati tanpa berkah."

    Malam pun jatuh memeluk desa. Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang pelan ditiup angin malam, Aris duduk terdiam memperhatikan kakeknya bekerja. Pemandangan itu seolah berubah menjadi sebuah ritual suci. Setiap helai bambu yang diselipkan, Kyai Usman membisikkan zikir yang nyaris tak terdengar namun terasa getarannya.

    Subhanallah... saat bilah itu masuk. Alhamdulillah... saat anyaman itu mengunci. Allahu Akbar... saat pola itu mulai terlihat nyata.

    Ritme gerakan tangan kakeknya selaras sempurna dengan gerak bibir dan detak jantungnya. Aris menyadari sesuatu yang menohok telak ke dalam relung jiwanya: kakeknya tidak sedang sekadar membuat keranjang untuk wadah nasi atau buah. Beliau sedang menyulam hikmah di setiap rongga bambu tersebut. Beliau sedang mengikat makna ibadah, kesabaran, dan kepasrahan ke dalam wujud fisik, menjadikannya sebuah pengingat bahwa sekecil apa pun pekerjaan manusia, jika dibalut dengan asma Allah, ia akan menjadi jembatan menuju langit.

****

    Memasuki malam ke-23, suasana desa seolah tenggelam dalam keheningan yang purba. Tak ada lagi suara jangkrik, seakan alam semesta pun sedang menahan napas menanti turunnya para malaikat. Aris terbangun bukan karena alarm ponsel yang memekakkan telinga, melainkan karena suara gemercik air wudu yang jatuh satu-satu di samping rumah, sebuah simfoni kecil yang membelah sunyi.

    Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat siluet kakeknya. Kyai Usman sudah berdiri tegak di atas sajadah usang yang bulunya mulai menipis dimakan waktu. Di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar kekuningan, sosok kakeknya tampak begitu kokoh, lebih kokoh dari beton-beton pencakar langit yang pernah Aris rancang.

    Aris, yang selama di kota hanya menyentuh sajadah di sela-sela waktu sempit atau sekadar menggugurkan kewajiban, tiba-tiba merasakan tarikan magnetis di dadanya. Ada rasa rindu yang asing, namun terasa sangat akrab. Dengan langkah ragu, ia berwudu, membiarkan air dingin desa membasuh debu-debu kepalsuan dari wajahnya, lalu melangkah pelan untuk bergabung di belakang kakeknya.

    Dalam sujud yang luar biasa panjang dan sunyi itu, Aris merasa dunianya runtuh. Di atas lantai kayu yang dingin, egonya luruh satu per satu seperti butiran pasir. Selama ini ia menyangka bahwa kesuksesan adalah tentang seberapa tinggi gedung yang ia bangun, seberapa rumit struktur baja yang ia hitung, atau seberapa megah fasad yang ia pamerkan di portofolio. Namun di sini, di hadapan Sang Arsitek Semesta, ia tersadar dengan perih: ia telah lupa membangun fondasi dan struktur di dalam hatinya sendiri. Ia membangun istana untuk orang lain, namun membiarkan batinnya menjadi gubuk yang reyot dan gelap

    Setelah salam terakhir bergema, Kyai Usman tidak langsung berzikir dengan suara keras. Beliau perlahan menoleh, menatap cucunya dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara kasih sayang yang dalam dan ketegasan seorang guru.

    "Aris, tahukah kau mengapa bulan ini disebut bulan penuh berkah?" suara Kyai Usman rendah, namun bergetar memenuhi ruangan. 

    "Bukan sekadar karena pahala yang dilipatgandakan. Tapi karena di bulan ini, Allah memberi kita kesempatan untuk 'membongkar' kembali anyaman hidup kita yang salah. Anyaman yang rapuh karena benangnya terbuat dari ambisi duniawi yang melapuk. Allah ingin kita menyusunnya kembali dengan benang-benang ketaatan yang lebih kuat, yang warnanya tidak akan pudar oleh waktu."

    Aris merenung, air mata kini benar-benar mengambang di sudut matanya, lalu jatuh membasahi sajadahnya. Ia teringat kehidupannya di kota, sebuah anyaman yang semrawut dan kusut. Ia seringkali mencampuradukkan ambisi dengan ketamakan, serta menjalankan kewajiban dengan rasa keterpaksaan yang menyesakkan.

    "Bagaimana cara mulainya lagi, Kek? Anyamanku sudah terlalu berantakan. Benang-benangnya sudah saling melilit dan sulit diurai," bisik Aris di antara isak yang tertahan.

    Kyai Usman menggeser duduknya, lalu memegang pundak Aris dengan tangan yang hangat.

    “Mulailah dengan menyulam syukur, Aris. Ramadhan bukan soal apa yang hilang dari perutmu, soal lapar dan haus yang fana. Tapi soal apa yang masuk dan menetap di dalam jiwamu. Setiap detik kau menahan diri dari amarah, itu adalah satu sulaman hikmah. Setiap butir sedekah yang kau beri tanpa ingin dilihat, itu adalah penguat anyamanmu agar tidak rapuh saat kelak badai ujian menghantam. Kau adalah seorang perancang, bukan? Maka sekarang, kau harus menjadi arsitek bagi jiwamu sendiri. Rancanglah struktur yang puncaknya menyentuh langit, namun akarnya tertanam kuat di bumi syukur.”

****

    Esok harinya, ujian itu datang. Seorang klien lama dari kota menelepon Aris dengan nada tinggi, memaki-maki karena perubahan kecil pada desain bangunan yang dianggapnya memperlambat proyek. Biasanya, Aris akan membalas dengan argumen yang tak kalah tajam dan sinis. Namun, di tengah terik matahari Ramadhan desa dan aroma tanah basah, Aris teringat tangan kakeknya yang tenang, zikir yang tak putus saat menghadapi bambu yang keras.

    Ia menarik napas dalam, menahan gejolak amarah di dadanya. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Mari kita cari solusinya sekarang, tanpa harus emosi. Saya akan revisi bagian itu segera."

    Keajaiban kecil terjadi. Di seberang telepon, klien tersebut terdiam lama, lalu nada bicaranya melunak secara drastis. Aris menyadari bahwa ketika ia mampu mengendalikan "anyaman" emosinya sendiri, lingkungan di sekitarnya pun ikut melunak. Inilah kerohanian yang nyata, bukan sekadar khusyuk di atas sajadah, tapi memancar dalam interaksi manusiawi.

****

    Hari-hari terakhir Ramadhan dihabiskan Aris dengan membantu kakeknya di bengkel kerja. Ia belajar banyak hal praktis yang ternyata filosofis. Ia belajar bahwa untuk membuat keranjang yang indah dan kuat, bambu harus diserut tipis-tipis, seperti ego manusia yang harus dikikis habis. Bambu harus ditekuk perlahan tanpa patah, seperti kesabaran yang harus lentur menghadapi cobaan.

    Pada malam takbiran, saat gema takbir bersahut-sahutan dari masjid ke masjid, Kyai Usman memberikan sebuah bungkusan kain beludru hijau tua kepada Aris.

    "Gunakan ini, Aris. Ini adalah anyaman terindah yang pernah Kakek buat. Bukan untuk sekadar dihitung angkanya saat berzikir, tapi untuk mengikat hatimu pada Yang Maha Kekal. Ingatlah, Ramadhan akan pergi besok pagi, tapi hikmah yang kau sulam di desa ini jangan sampai lepas kembali saat kau kembali ke kota."

    Aris menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah tasbih kayu yang sangat indah. Setiap butirnya halus, dibuat dari kayu gaharu yang wangi, dan dianyam dengan tali sutra kecil berwarna emas di bagian pangkalnya. Tasbih itu terasa hangat di genggamannya. Aris menyadari bahwa ia pulang ke kota nanti bukan sebagai Aris yang lama. Ia membawa "keranjang spiritual" yang baru. Sebuah anyaman jiwa yang dikerjakan dengan penuh kesadaran, disulam dengan kesabaran, dan diwarnai dengan keikhlasan.

    Aris memeluk kakeknya erat. "Terima kasih, Kek. Terima kasih telah mengajarkanku menganyam kembali hidupku."

****

    Pagi Idul Fitri tiba dengan gema takbir yang puncaknya membawa kedamaian. Aris bangun dengan semangat baru. Ia bersiap mengenakan baju koko putih terbaiknya. Ia ingin memberikan kejutan pada kakeknya dengan mengenakan tasbih baru itu di lehernya saat berangkat salat Id.

    Aris mengetuk pintu kamar Kyai Usman. Tidak ada jawaban. Perasaannya mulai tidak enak. Pintu kamar tidak dikunci. Aris mendorongnya pelan.

    Kyai Usman sedang duduk di atas sajadahnya, menghadap kiblat. Pakaian salatnya sudah rapi, serban putih melingkar di bahunya. Posisinya seperti sedang bertafakur setelah salat Subuh.

    "Kek, ayo kita berangkat. Nanti telat," sapa Aris lembut sambil mendekat.

    Kyai Usman diam tak bergeming. Aris menyentuh bahu kakeknya. Dingin. Kyai Usman telah berpulang. Ia wafat dalam keadaan tenang, bersujud di atas sajadah di pagi kemenangan. Wajahnya tersenyum lurus menatap kiblat, memancarkan kedamaian yang sempurna. 

    Di sela jari-jari Kyai Usman yang sudah kaku, Aris melihat sesuatu yang membuatnya tersentak hebat, hingga jantungnya serasa berhenti berdetak. 

    Kakeknya tidak memegang tasbih kayu gaharu wangi seperti yang diberikan padanya semalam.

    Di tangan Kyai Usman, tergenggam erat tasbih buatan Aris sendiri, tasbih yang dibuat Aris dari sisa-sisa bilah bambu yang gagal ia anyam pada hari pertama belajar, tasbih yang bentuknya mencong-mencong, talinya kasar, dan penuh cacat. Tasbih yang menurut Aris adalah produk sampah dan memalukan.

    Aris jatuh terduduk di samping jasad kakeknya, tangisnya pecah tanpa suara. Ia baru menyadari hikmah terakhir yang disulam kakeknya: Allah tidak melihat kesempurnaan bentuk lahiriah dari amal kita di dunia (seperti tasbih wangi yang mahal), melainkan Allah melihat kesungguhan hati dan proses perjuangan kita dalam menganyam ketaatan, meskipun hasilnya masih penuh cacat dan ketidaksempurnaan.

    Tasbih bambu kasar itu dibawa Aris kembali ke Jakarta, bertransformasi menjadi "kompas moral" yang ajaib. Setiap kali ambisi atau amarah mulai meracuni pikirannya di kantor, tasbih itu mengeluarkan aroma tanah basah dan hutan gambut yang kuat, sebuah alarm spiritual yang seketika mengubah suasana ruang kerjanya yang dingin menjadi seteduh teras rumah kakeknya.

    Kini, di tengah kebisingan kota, Aris tak lagi sekadar membangun menara. Baginya, setiap garis desain adalah zikir, dan setiap ruang yang ia rancang adalah tempat bagi jiwa-jiwa lelah untuk pulang ke rumah syukur.


TAMAT



BIONARASI:

Penulis dilahirkan 18 Agustus 1963. Ayah dan Ibu memberi nama Eduar Daud namun sejak kecil dipanggil Anang Way. Mulai aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA), Komunitas Galeri Sastra (KGS) dan anggota SIP Publishing. Saat ini masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Beberapa karya sudah diterbitkan antara lain: beberepa buku Antologi Puisi, Antologi Cerpen dan Novel.


Selasa, 14 April 2026

CATATAN HARIAN DI BULAN RAMADAN: Karya Agustina Rahman

Catatan Harian di Bulan Ramadan

Agustina Rahman


Namaku Rafi. Dua belas tahun. Kelas enam SD di sebuah desa yang tersembunyi di balik lipatan bukit dan kebun-kebun hijau. Desa kami kecil, namanya Lempangan, seperti titik koma dalam kalimat panjang bernama Indonesia—tidak terlalu mencolok, tetapi memberi jeda yang berarti. 

Ramadan selalu datang seperti embun yang jatuh tanpa suara, tetapi meninggalkan jejak basah di hati. Hari-hariku di bulan suci ini terasa lebih panjang, sekaligus lebih cepat. Setiap subuh, ayam-ayam berkokok sebelum azan berkumandang. Udara dingin menggigit kulit, tetapi Ibu selalu berkata, “Dingin begini penuh berkah.” Aku memercayainya seperti memercayai matahari yang pasti terbit.

Sepulang sekolah, aku dan sahabat-sahabatku tak pernah langsung beristirahat. Tas kami letakkan begitu saja di rumah, lalu bergegas ke kebun mencari kayu bakar. Ranting-ranting kering kami kumpulkan satu per satu, seolah sedang memungut sisa-sisa hari yang jatuh di tanah. Tanganku sering tergores duri kecil. Kadang perih, tapi anehnya aku justru merasa bangga. Kayu-kayu itu bukan sekadar bahan bakar; ia seperti tanda bahwa aku bisa membantu Ibu menyalakan api untuk sahur dan berbuka.

Namun hari itu, langkahku sempat tertahan di depan pintu.

Langit menggantung kelabu. Awan-awan gelap bergerombol seperti membawa kabar yang tak baik. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya, membuat dedaunan di halaman berdesir gelisah.

“Rafi, jangan ke kebun dulu,” suara Ibu memanggil dari dapur. “Lihat langitnya. Nanti hujan.”

Aku menoleh. Ibu berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Tapi, Bu… kayu di dapur hampir habis,” jawabku pelan.

Ibu menggeleng. “Tidak apa-apa. Kita bisa pakai yang ada dulu. Kamu istirahat saja.”

Aku terdiam. Ada dua suara dalam diriku—yang satu ingin menurut, yang lain merasa bertanggung jawab. Aku tahu Ibu lelah. Aku ingin membantu, meski hanya dengan seikat kayu.

Di luar, suara langkah kaki Damar dan Seno terdengar memanggil.

“Raf! Cepat! Kita ke kebun!” teriak mereka.

Aku kembali menatap Ibu. Sejenak, kami saling diam.

“Jangan lama-lama,” kata Ibu akhirnya, suaranya melunak, meski masih menyimpan cemas.

Aku mengangguk cepat, lalu berlari keluar, mengejar sahabat-sahabatku. Namun, di sepanjang jalan menuju kebun, langkahku terasa berbeda. Bukan hanya karena terburu-buru, tetapi karena ada rasa bersalah yang ikut berjalan bersamaku.

Sesampainya di kebun, kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Namun angin semakin kencang, dan langit semakin gelap. Tanganku tetap bekerja, tetapi pikiranku sesekali kembali pada wajah Ibu di ambang pintu—penuh kekhawatiran yang tadi kuabaikan.

“Raf, jangan ambil yang belum kering!” teriak Damar dari balik semak.

Aku mengangguk. Kami tertawa di antara pohon-pohon yang berdiri seperti penjaga setia desa. Di kebun itu, suara kami memantul dan menyatu dengan desir angin.

Di tengah lelah dan peluh yang menetes, waktu sering kali membawa kami pada jeda yang menenangkan. Ketika azan terdengar sayup dari kejauhan, kami saling berpandangan, lalu berhenti dari kesibukan. Di antara pohon-pohon yang berdiri teduh, kami membentangkan apa saja yang bisa dijadikan alas—kadang jaket, kadang daun pisang yang lebar. Di situlah kami melaksanakan salat, sederhana, tanpa banyak bicara, namun terasa begitu dekat dan khusyuk.

Angin kebun berhembus pelan, seakan ikut menjadi saksi sujud-sujud kecil kami. Tanah yang kami pijak terasa lebih hangat, dan langit di atas kepala tampak lebih luas dari biasanya. Dalam sunyi yang hanya diisi oleh bisikan doa, aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan—seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kami untuk kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.

Hari-hari berikutnya, kami bergantian membantu keluarga masing-masing mengangkat air dari sumur tua. Sumur itu seperti mulut bumi yang sabar. Airnya jernih dan dingin, seolah menyimpan kesejukan dari dasar yang paling dalam.

Aku menarik timba perlahan. Tali kasar menggesek telapak tanganku. Ember berisi air terangkat setapak demi setapak, seperti doa yang perlahan naik ke langit. Kadang aku terengah, tetapi ketika melihat Ibu tersenyum menerima air itu, lelahku luruh berganti dengan rasa bahagia.

Beberapa kali dalam sepekan, kami mencuci pakaian di sungai. Airnya mengalir bening, memantulkan langit biru yang luas. Kami memukul-mukul pakaian di atas batu besar, mengeluarkan suara plak-plak yang mengiringi Ramadan. Setelahnya, kami menyusuri tepi sungai mencari sayur pakis. Daun-daunnya menggulung seolah menyimpan rahasia kecil yang belum dibuka. Kami memetiknya hati-hati, seakan takut melukai alam yang telah memberi nikmat.

Namun yang paling kusukai adalah sore hari setelah salat Asar. Masjid kecil di desa kami menjadi tempat yang paling hidup saat itu. Cat temboknya mulai pudar, lantainya dingin, dan jendelanya terbuka lebar agar angin bebas keluar masuk. Setiap selesai salat Asar, kami tak langsung pulang. Kami duduk bersila, membuka mushaf Al-Qur’an yang sampulnya sudah mulai lusuh dimakan usia.

Suara kami membaca ayat-ayat suci terdengar belum sempurna. Ada yang terbata, ada yang salah panjang pendeknya. Tetapi di antara ketidaksempurnaan itu, ada kesungguhan yang tulus. Pak Imam membetulkan bacaan kami satu per satu. “Pelan-pelan, jangan terburu-buru. Al-Qur’an itu bukan untuk dikejar, tapi untuk dipeluk,” katanya lembut.

Aku selalu merinding saat membaca ayat demi ayat. Huruf-huruf hijaiyah itu seperti cahaya kecil yang masuk ke dadaku. Di sela lantunan suara kami, aku merasa Ramadan benar-benar hidup—bukan hanya di perut yang menahan lapar, tetapi di hati yang sedang belajar terang.

Menjelang magrib, aku dan teman-teman membantu mengantar takjil ke masjid. Di desa kami, kurma adalah barang langka. Jadi, takjil kami sederhana: kue cucur yang manis, onde-onde berbalut wijen, pisang goreng hangat, dan kolak singkong yang dimasak di rumah-rumah warga.

Aroma gula merah dan santan memenuhi teras masjid. Kami menyusunnya rapi di atas meja panjang. Sambil menunggu azan, aku memandangi langit yang berubah warna menjadi jingga. Senja di desaku seperti lukisan Tuhan yang dibuat perlahan.

Ketika azan magrib berkumandang, suaranya menggema melintasi kebun dan sawah. Kami berbuka dengan kue tradisional itu. Manisnya sederhana, tetapi terasa sampai ke relung jiwa. Air putih yang kami minum ibarat sungai kecil yang menghidupkan kembali tubuh yang seharian kering.

Setelah makan bersama, aku dan teman-teman tak langsung pulang. Kami mencuci piring dan gelas di belakang masjid. Tangan kami basah oleh air sabun, tapi hati kami terasa hangat. 

“Kalau kita rajin begini, Ramadan kita tambah indah ya?” bisik Seno.

Aku tersenyum. “Ramadan jadi milik kita.”

Malam hari, kami kembali ke masjid untuk tarawih. Saf-saf terisi penuh oleh warga desa. Anak-anak kecil, orang tua, semuanya berdiri dalam barisan yang rapi. Suara imam melantunkan ayat-ayat panjang dengan irama khas pedesaan. Kadang kakiku pegal, tetapi aku menahan. Aku ingin Ramadan mencatat namaku sebagai anak yang bertahan.

Sepulang tarawih, aku membuka buku harianku. Lalu kutulis dengan sepenuh hati.

Hari ini aku mengaji setelah Asar. Masjid kecil itu terasa lebih teduh dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kayu membentuk garis-garis keemasan di lantai, seolah sedang menghamparkan sajadah cahaya untuk kami. Aku duduk bersila, mushaf terbuka di pangkuanku. Huruf-huruf hijaiyah itu tampak sederhana, tetapi setiap lekuknya seperti menyimpan samudra makna.

Ketika sampai pada Surah Ar-Rahman, suaraku mendadak pelan. Ayat demi ayat mengalir seperti sungai yang jernih, namun menghantam dadaku seperti ombak. “Fabiayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban…” Kalimat itu berulang-ulang, seperti pertanyaan lembut yang tak henti mengetuk pintu hatiku. Nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau dustakan?

Aku terdiam sesaat. Angin sore menyusup dari celah jendela, menyentuh wajahku yang mulai basah oleh air mata. Aku tak tahu mengapa ingin menangis. Rasanya seperti ada yang berbicara langsung ke dalam diriku—bukan melalui suara keras, tetapi melalui getaran yang pelan dan dalam. Seolah Tuhan sedang mengingatkanku tentang udara yang kuhirup gratis setiap hari, tentang ibu yang selalu menungguku pulang, tentang sahabat-sahabat yang tertawa bersamaku di kebun.

Aku membaca lagi ayat itu, kali ini dengan suara yang lebih bergetar. Dadaku terasa sempit sekaligus lapang. Sempit karena malu pada diriku yang sering mengeluh, lapang karena merasa begitu diperhatikan. Di antara lantunan ayat dan bisikan angin sore, aku merasa kecil—kecil seperti butir pasir di tepi Sungai tetapi justru di situlah aku merasa dekat.

Dan malam ini, sebelum tidur, aku tahu satu hal: jika Surah Ar-Rahman kembali bertanya tentang nikmat Tuhan yang mana lagi yang kudustakan, mungkin aku akan menjawab dalam diam—tidak ada. Karena bahkan lelah yang kurasakan hari ini pun terasa seperti nikmat yang tak ternilai.

Hari-hari Ramadan terus bergulir. Setiap pagi, setiap sore, setiap malam seperti butiran tasbih yang dirangkai satu per satu. Aku takut butiran itu segera habis. Pada malam kedua puluh lima, setelah tarawih, aku duduk sendiri di serambi masjid. Angin malam menyentuh wajahku. Aku memandangi bintang-bintang yang bertaburan.

Aku sadar, mungkin suatu hari aku akan meninggalkan desa ini. Mungkin aku akan merantau, melihat kota yang lampunya lebih terang. Tapi aku tahu, tak ada cahaya yang bisa menggantikan kenangan Ramadan di sini.

Ramadan di desaku adalah tentang kayu bakar di pundak kecilku, tentang air sumur tua yang kutarik dengan sabar, tentang mushaf lusuh yang kubaca setiap Asar, tentang kue cucur manis yang kami santap bersama. Ia bukan hanya bulan suci. Ia adalah guru yang mengajariku arti kebersamaan dan pengabdian. 

Dan di setiap halaman buku harianku, Ramadan telah menuliskan satu pelajaran penting: Bahwa menjadi dewasa bukan tentang seberapa jauh aku melangkah, tetapi tentang seberapa dalam aku menanamkan syukur di tanah tempat aku tumbuh.



BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi tahun 2023, 2024, dan 2025 dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar. 

Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Puisi Suara untuk Palestina “Secangkir Kopi Tuan Rodney” (2025), Kumpulan Cerita Anak Nusantara  “Lentera dari Timur ke Barat” (2025), Kumpulan Cerita Pendek “Sahabat Sepanjang Cerita 16” (2025), Kumpulan Pantun “Pantun Serumpun Hati Berpaut 10” (2026), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

Ahad, 12 April 2026

IFTAR YANG SEMPURNA: Karya Asmaniza Din

 

TAJUK CERPEN     : IFTAR YANG SEMPURNA

OLEH                         : ASMANIZA DIN

 

Nafas Hani Karmila bagai tersekat di kerongkong saat kasut kulit berkilat milik Naufal Idlan berhenti tepat di hadapan meja utama.

​Lelaki itu tunduk sedikit. Sepasang matanya yang tajam di sebalik bingkai cermin mata mengecil, tekun meneliti gubahan bunga lili di tengah meja.

"Hani." Suara garau Naufal memecah kesunyian dewan makan Rumah Anak Yatim Darul Izzah.

Hani pantas membetulkan awning tudung bawalnya yang mula terkelepet. Dia melangkah laju mendekati lelaki itu dengan senyuman profesional yang sudah dilatih ratusan kali di hadapan cermin. Dalam hati, tidak putus-putus dia beristighfar.

​"Sabar, Hani. Bulan puasa ni," gumamnya perlahan.

​"Ya, Encik Naufal? Ada apa-apa yang tak kena dengan gubahan bunga lili tu?" soal Hani. Dia cuba mengekalkan nada ceria walaupun tekaknya terasa perit setelah seharian berpuasa meredah bahang Kuala Lumpur.

​"Bunga ni cantik, tapi letaknya menghalang pandangan." Naufal selamba mengalihkan pasu kaca itu dua inci ke kanan.

​"Ini majlis iftar bersama anak-anak yatim. Saya nak bila Pengarah Urusan berucap nanti, dia boleh nampak muka setiap budak dekat meja ni. Bukan meninjau dari celah bunga."

Hani mengangguk perlahan, mencatat sesuatu pada skrin tablet di tangannya. Walaupun Naufal memang terkenal dengan sikap cerewet tahap dewa di pejabat, Hani harus akui tegurannya sentiasa berasas dan masuk akal. Lelaki itu bukan sekadar bos yang sengaja mahu mencari salah.

​"Baik, saya akan suruh budak-budak saya alihkan gubahan di semua meja VIP sekarang," balas Hani pantas.

​"Bagus. Macam mana dengan katering? Dah nak pukul lima. Bayang lori katering pun saya tak nampak lagi." Naufal menyingsing lengan kemejanya hingga ke siku, menampakkan seutas jam tangan mewah yang kemas melingkar di pergelangan tangan.

Hani menelan liur. Matanya meliar ke arah pintu utama dewan. Benar, dewan itu masih sunyi tanpa sebarang aroma juadah berbuka.

Baru sahaja tangannya menyeluk poket seluar untuk menghubungi pihak katering, telefon pintarnya bergetar panjang. Nama 'Abang Man Katering' tertera pada skrin.

​"Sekejap ya, Encik Naufal. Panjang umur bos katering." Hani meminta diri. Dia menapak menjauh sedikit daripada Naufal sebelum menjawab panggilan tersebut.

​"Helo, Abang Man. Dah sampai mana? Dewan dah siap pasang sistem PA ni."

​"Hani! Abang minta maaf banyak-banyak." Suara cemas Abang Man tenggelam timbul dalam hingar-bingar bunyi hon kenderaan di hujung talian.

​"Lori abang kena langgar dari belakang dekat Federal Highway! Enjin berasap terus, silap haribulan kena overhaul ni. Lauk-pauk kat belakang pula dah separuh berterabur. Jalan jammed teruk, langsung tak bergerak!"

Wajah Hani serta-merta berubah pucat lesi. Darah seakan-akan kering dari mukanya. Lututnya terasa goyah. Majlis akan bermula tidak lama lagi. Hampir lima puluh orang tetamu yang terdiri daripada anak-anak yatim, para penjaga dan rombongan VIP korporat akan berbuka puasa di dewan ini!

​"Biar betul, Abang Man? Habis tu macam mana ni? Tak boleh hantar lauk back-up dari kedai ke?" Suara Hani mula menggeletar. Dia menekan dada, cuba meredakan debaran jantung yang berdegup bagai nak rak.

​"Sumpah tak sempat, Hani. Dapur abang dekat Shah Alam. Nak siapkan lauk baru satu hal, nak redah trafik KL waktu puncak macam ni lagi. Abang betul-betul minta maaf. Malam ni abang transfer balik duit deposit."

Panggilan dimatikan. Hani meraup wajahnya seketika. Dugaan apakah di petang-petang Ramadan ini?

Perlahan-lahan, dia menoleh memandang Naufal. Lelaki itu sedang merenungnya dengan dahi berkerut tajam, seakan-akan sudah dapat menghidu malapetaka yang melanda hanya melalui riak wajah Hani yang pucat lesi.

​Hani menarik nafas panjang. Dia menapak kembali ke arah Naufal, bersiap sedia di dalam hati untuk menadah telinga menerima apa sahaja hamunan daripada bos perfectionist itu.

​"Encik Naufal..." Hani memulakan bicara. Suaranya dikawal sehabis baik agar tidak kedengaran terketar-ketar.

​"Kita ada masalah besar. Lori katering accident tadi. Lauk berbuka... takkan sampai."

Naufal terdiam. Matanya membulat seketika sebelum tangan kasarnya meraup rambut ke belakang. Kesunyian antara mereka berdua tiba-tiba terasa membingitkan. Hani memejamkan mata rapat, menanti letusan amarah lelaki itu memecah suasana dewan.

​Tiga saat berlalu. Naufal masih tak bersuara. Urat di pelipisnya kelihatan menegang, jelas menahan sesuatu yang Hani pasti adalah lahar kemarahan.

​"Pukul berapa masuk waktu hari ni?" Suara Naufal kedengaran mendatar. Terlalu tenang sehinggakan meremangkan bulu tengkuk Hani.

​Hani cepat-cepat mengerling jam di pergelangan tangan, kemudian membelek skrin telefon bimbitnya sekejap.

​"Tujuh dua puluh sembilan minit. Kita ada masa lebih kurang dua jam setengah, Encik Naufal."

​​"Tunjukkan saya jalan ke dapur asrama ni, sekarang."

​Hani terkebil-kebil. Dia sudah bersedia untuk ditengking, bukannya diarahkan ke dapur.

​"Dapur? Tapi... kita nak buat apa kat sana?"

​"Masak." Sepatah jawapan Naufal, pendek dan tegas. Dia memusingkan tubuh, menanti Hani memimpin jalan.

​"Melainkan kalau awak ada magik nak turunkan makanan dari langit dalam masa dua jam ni. Kita kena gerak sekarang, Hani. Budak-budak tu dah lapar, dah puasa seharian."

Tanpa banyak soal, Hani melangkah laju memimpin jalan ke blok belakang dewan. Setibanya mereka di ruang dapur yang agak usang namun bersih itu, kelihatan Mak Som, penyelia dapur asrama sedang menyental periuk besar di singki.

​"Mak Som, lori katering kami tak dapat sampai. Accident," Hani pantas menerangkan situasi dengan nafas termengah-mengah.

​"Ada bahan mentah apa-apa tak yang kami boleh guna untuk masak sekarang? Nak pakai untuk lima puluh orang makan."

​Mak Som lekas-lekas mengelap tangannya yang basah pada apron. Wajah tua itu berkerut risau.

​"Ya Allah, kesiannya budak-budak ni. Mak Som baru je lepas tanak nasi putih. Kebetulan ada lebihan beras orang derma tadi. Tapi lauk basah memang dah licin, nak. Yang tinggal cuma telur sepapan dua, bawang, dengan sardin tin besar. Banyak lagi kat stor tu, ada la dalam dua tiga kotak sumbangan NGO minggu lepas."

Lutut Hani terasa lembik, hampir sahaja dia terduduk di situ. Nasi putih, telur dadar, dan sardin untuk tetamu VIP korporat? Lingkuplah kerjayanya sebagai perancang majlis. Reputasi syarikat pasti musnah!

​Tiba-tiba, Naufal melangkah ke hadapan. Lengan kemejanya yang sedia terlipat ditarik lagi ke atas hingga melepasi siku.

​"Kuantiti tu dah cukup. Mak Som, tolong panaskan kuali besar sekarang. Hani, awak pergi basuh tangan dan mula kupas bawang. Kita buat sardin tumis dengan telur dadar potong."

​"Encik Naufal..." Hani tergamam. Bulat matanya merenung lelaki korporat yang tadinya sibuk mengukur jarak gubahan bunga, kini selamba menyusun tin-tin sardin itu untuk dibuka.

"Biar betul? VIP nak makan lauk sardin ni ke?"

Naufal berhenti seketika. Renungannya memanah tepat ke dalam anak mata Hani. Tiada lagi riak bos cerewet, yang ada hanyalah seorang lelaki yang nekad.

​"Tetamu VIP yang paling penting malam ni anak-anak yatim tu. Mereka tak peduli lauk kayangan ke tidak. Mereka cuma nak rasa nikmat berbuka. VIP yang lain tu, pandai-pandailah hidup. Ini bulan puasa, bukan majlis anugerah."

​Kata-kata itu bagai menampar lembut keegoan profesional Hani. Benar. Hikmah Ramadan mengajar erti kesederhanaan, bukan berlumba menunjuk kemewahan. Kerana terlalu asyik mengejar kesempurnaan majlis, Hani hampir terlupa niat asal acara ini diadakan.

​Tanpa membuang masa lagi, Hani menyinsing lengan bajunya. Tudung bawal disemat lebih kemas ke bahu agar tidak mengganggu pergerakan. Dia mencapai pisau dan mula mengupas bawang merah dengan pantas. Di sebelahnya, bunyi penutup tin sardin ditarik Naufal kedengaran bersahut-sahutan.

Suhu di ruang dapur itu mula meningkat. Peluh merenik membasahi dahi Naufal, menjejaskan sedikit gaya rambutnya yang selama ini disikat rapi. Sesekali, lelaki itu mengesat matanya yang pedih akibat wap meruap daripada tumisan bawang merah menggunakan belakang lengan.

​Hani curi-curi pandang. Sisi lelaki ini sungguh berbeza. Dia sangkakan Naufal hanya tahu mengarah dan mengkritik. Rupanya, di sebalik imej korporat dan kemeja mahal itu, tersembunyi rasa empati yang sangat menebal.

​"Awak tenung saya buat apa? Tumis bawang tu cepat, dah nak hangit," sergah Naufal mengejut, namun tangannya kekal lincah memukul bancuhan puluhan biji telur di dalam mangkuk keluli bersaiz raksasa.

​Hani tersentak. Pipinya serta-merta merona merah menahan malu, lalu tangannya dilajukan mengacau bawang di dalam kuali yang galak berdesir. Aroma wangi tumisan mula memenuhi segenap ruang dapur, perlahan-lahan meredakan sisa panik di dadanya.

​Hani mengerling jam dinding. Ada empat puluh lima minit lagi. Mereka sedang bergelut dengan masa.

Lima belas minit sebelum azan Maghrib berkumandang, kuali terakhir diangkat dari atas tungku. Hani melepaskan keluhan lega yang panjang. Bajunya sudah lencun dengan peluh. Malah, haruman minyak wanginya telah berganti sepenuhnya dengan aroma bawang goreng dan kuah sardin.

​Di ruang dewan utama, suasananya berbeza sama sekali. Tetamu VIP korporat yang hadir mula berbisik sesama sendiri apabila melihat lauk yang dihidangkan. Tiada kambing golek, tiada ayam percik, tiada kuih talam bersusun. Yang ada hanyalah nasi putih berasap nipis, potongan telur dadar tebal dan kuah sardin merah menyala.

​Hani berdiri kaku di sudut dewan berhampiran meja utama. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dalam kepalanya, dia sudah menyusun pelbagai alasan untuk menjawab emel aduan rasmi esok pagi.

"Sedapnya bau!" Suara nyaring seorang kanak-kanak lelaki tiba-tiba memecah ketegangan di dewan itu. Budak yang mungkin dalam lingkungan lapan tahun tersebut tersenyum lebar memandang hidangan di depannya.

​"Macam lauk arwah mak selalu masak bulan puasa," luahnya lagi dengan sepasang mata yang bersinar-sinar.

​Kenyataan polos itu ibarat satu magis yang meruntun tangkai hati sesiapa sahaja yang mendengarnya. Bisik-bisik sinis beberapa orang VIP tadi terhenti serta-merta. Masing-masing terdiam, seakan-akan ditampar dengan rasa segan.

Naufal baru melangkah keluar dari arah dapur. Dengan lengan kemeja yang masih bersinsing dan wajah yang lembap dengan kesan wuduk, dia tersenyum nipis memandang kanak-kanak itu.

​"Makan banyak-banyak, Ammar. Hari ni abang masak special untuk awak semua," balas Naufal. Nada suaranya kedengaran begitu lembut, jauh berbeza daripada nada tegas seorang bos korporat.

Tepat jam 7:29 malam, laungan azan Maghrib bergema dari surau berdekatan. Semua tetamu menadah tangan mengaminkan doa berbuka.

​Hani mencapai sebiji kurma di atas meja dan meneguk air kosong. Matanya tidak lepas memerhati Naufal yang kini sedang duduk bersila di atas permaidani bersama kanak-kanak asrama, langsung tidak menghiraukan kerusi empuk di meja VIP.

​Lelaki itu dengan cermat mencubit sedikit telur dadar dan menyuapkannya ke mulut Ammar. Tiada lagi riak wajah bos korporat yang beku dan menakutkan. Yang ada di hadapannya kini hanyalah seorang pemuda yang ikhlas menyantuni anak-anak yatim.

​"Ya Allah, ampunkan aku," bisik Hani perlahan.

​Rasa sebak tiba-tiba menyesak di dadanya. Sepanjang hari dia merungut di dalam hati, melabel Naufal sebagai manusia cerewet tanpa sedikit pun ruang untuk bersikap husnuzon. Rupanya di sebalik arahan tegas lelaki itu, tersimpan sekeping hati yang sangat mengasihi golongan asnaf ini.

​Hikmah Ramadan benar-benar menampar ego Hani pada hari ini. Kesempurnaan majlis rupanya bukanlah pada dekorasi mewah atau makanan lazat yang berharga ribuan ringgit, tetapi pada keikhlasan niat dan senyuman tulus mereka yang diraikan.

​Menjelang jam sepuluh malam, keadaan dewan mula lengang seusai solat Tarawih berjemaah. Beberapa orang pekerja asrama sedang membersihkan sisa makanan. Hani menyemak senarai tugasan di skrin tablet buat kali terakhir sebelum mematikan peranti tersebut.

​"Awak buat kerja yang bagus hari ni, Hani."

​Hani tersentak. Naufal sedang berdiri kira-kira satu meter daripadanya sambil menyarung semula kot hitamnya. Wajah lelaki itu kembali tenang. Kemejanya kelihatan renyuk dan ada sedikit kesan percikan minyak di bahagian lengan, tetapi aura karismanya langsung tidak pudar.

​"Saya yang sepatutnya minta maaf, Encik Naufal." Hani menunduk sedikit, rasa bersalah kembali menebal.

​"Gara-gara lori katering tak sampai, majlis encik jadi kelam-kabut. Terpaksa VIP macam encik turun padang masak sardin."

​Naufal ketawa kecil. Tawa yang kedengaran cukup ikhlas itu membuatkan Hani terpaku seketika.

​"Ini majlis iftar paling bermakna untuk syarikat kami, Hani. Budak-budak tu makan bertambah. Rakan kongsi VIP saya pun makan sampai licin pinggan. Realitinya, kadang-kadang perancangan Allah tu datang dalam bentuk kecemasan supaya kita beringat untuk merendah diri." Naufal menyeluk saku kotnya.

"Dan saya juga nak minta maaf sebab terlalu mendesak awak dari pagi tadi. Saya terlalu risaukan kelancaran majlis ni sampai lupa menjaga adab menegur." Naufal menghulurkan sesuatu, sekuntum bunga lili putih yang diambil daripada gubahan pasu di meja VIP.

​"Ambil ni. Anggaplah sebagai tanda penghargaan syarikat saya atas kecekapan awak menyelamatkan perut lima puluh orang pada malam ni." Naufal meletakkan bunga itu perlahan-lahan di atas meja berhampiran tablet Hani. Dia kekal menjaga batas tanpa sebarang sentuhan fizikal.

​Hani memandang bunga itu, kemudian beralih pada wajah Naufal yang sedang tersenyum. Perasaan hangat mula menjalar di relung hatinya. Segala penat lelah, sakit kaki, dan rasa marah siang tadi hilang lenyap ditiup hembusan angin malam.

​"Terima kasih, Encik Naufal," ucap Hani perlahan, bibirnya mengukir senyuman paling ikhlas pada hari itu.

​Bunga lili putih itu dicapai dengan cermat. Nampaknya bulan Ramadan tahun ini bukan sahaja mengajar Hani erti sabar dan bersangka baik, tetapi juga menumbuhkan satu permulaan kisah yang cukup manis.

Tamat.

 

ROTI GOSONG : Sahbuddin Dg. Palabbi

  ROTI GOSONG Sahbuddin Dg. Palabbi   Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Waktunya sarapan sebelum berangkat kerja. Aku menuju ke ...

Carian popular