Rabu, 18 Februari 2026

DI ANTARA DUA GARIS TAKDIR: Karya Eduar Daud

 Eduar Daud

DI ANTARA DUA GARIS TAKDIR



Bab I

Simfoni di Bawah Kubah Emas


Bandar Seri Begawan di bulan Oktober bukan sekadar sebuah koordinat di peta; ia adalah sebuah lukisan yang merayu sukma dengan cara yang angkuh sekaligus anggun. Matahari senja jatuh di atas kubah emas Masjid Omar Ali Saifuddien seperti madu yang tumpah dari langit, menyepuh cakrawala dengan warna keagungan yang menyilaukan mata. Di tepi Sungai Brunei, angin berbisik di sela-sela rumbia dan tiang-tiang kayu Kampong Ayer, membawa aroma air payau yang berkelindan dengan wangi melati yang sedang mekar di halaman istana.


Aku berdiri di sana, di sudut dermaga kayu yang mulai menua dan ditumbuhi lumut tipis. Di bahuku, bersandar sebuah biola tua dengan pelitur yang telah luruh dimakan waktu, satu-satunya pusaka dari mendiang ayahku, seorang pemusik keroncong asal pinggiran Yogyakarta yang membawa mimpinya hingga terdampar di tanah Brunei. Di pundakku, bersandar beban yang lebih berat dari sekadar instrumen musik; sebuah nama keluarga yang dianggap debu di tengah kemilau kota yang kaku akan kasta.


Tanganku yang kasar karena kerja serabutan mulai menarik busur biola. Melodi yang lahir bukanlah lagu pesta yang riang, melainkan sebuah elegi tentang kerinduan yang tak kunjung menemui muara. Di rumah petak yang sesak di pinggiran Gadong, Ibu sedang bertarung melawan sesak di dadanya. Setiap gesekan biolaku adalah untaian doa yang kualirkan ke langit, berharap koin-koin Ringgit yang jatuh di dalam kotak kayu di depanku cukup untuk membasuh perih yang diderita Ibu malam ini.


Kota ini terbagi secara kejam oleh garis-garis tak kasat mata. Di seberang sana, distrik-distrik elite berdiri dengan angkuh, tempat para bangsawan dan pemilik tanah tinggal di balik gerbang besi yang menjulang. Sedangkan di belakangku adalah pemukiman kumuh, tempat debu dan kemiskinan menjadi kawan sehari-hari. Aku adalah bagian dari debu itu.

Tiba-tiba, suara mesin perahu tambang yang halus membelah kesunyian melodiku. Sebuah perahu pribadi yang mewah, dengan ukiran kayu jati dengan aksen kuningan mengkilap, menepi dengan tenang tepat di depanku. Kehadirannya begitu kontras; perahu itu tampak terlalu bersih untuk udara dermaga yang penuh jelaga. Dari sana, sesosok gadis muncul bagaikan cahaya yang menembus kabut pagi. Ia mengenakan Baju Kurung dari sutra murni berwarna biru safir, dengan tudung yang melingkar halus seperti awan putih membingkai wajahnya yang pucat namun berseri.


Ia adalah Nurul Isabella. Di kota ini, namanya adalah mawar yang dijaga ketat di dalam benteng martabat. Ia tidak melewatiku begitu saja seperti yang dilakukan para bangsawan lainnya. Ia berhenti. Matanya yang cokelat madu menatapku dengan intensitas yang aneh, bukan tatapan kasihan yang merendahkan, melainkan sebuah keingintahuan yang jujur, seolah ia mampu melihat melodi yang bersembunyi di balik kemejaku yang bertambal.


"Kenapa melodi itu terdengar seperti hujan yang jatuh di atas tanah kering? Begitu haus, namun begitu tabah," tanyanya lembut. Suaranya bening, seperti gemericik air pegunungan yang menyejukkan.


Aku menunduk, tak berani menatap langsung ke matanya yang bercahaya. "Karena melodi ini adalah sebuah pencarian, Tuan Putri. Ia mencari sesuatu yang tak mungkin ia genggam, sebuah rumah yang tak pernah mengizinkannya masuk," jawabku dengan suara serak.


Isabella terdiam sejenak, membiarkan angin menerbangkan aroma melati di antara kami. "Musik tidak mengenal pangkat, Adrian," bisiknya, menyebut namaku yang tertera di kotak biola. "Ia hanya mengenal rasa. Dan apa yang kau mainkan tadi... itu adalah rasa rindu yang paling dalam yang pernah kudengar."


Bab 2

Benturan Dua Dunia


Kebahagiaan yang kami rajut secara sembunyi-sembunyi selama beberapa bulan berikutnya terasa seperti siang yang cerah di musim panas, begitu menyilaukan hingga kami menutup mata terhadap bayang-bayang yang mulai memanjang. Namun, hukum alam selalu berlaku: siang yang paling benderang sekalipun akan hilang ditelan kegelapan malam. Bagi kami, kegelapan itu bernama kasta dan gelar.


Di Brunei, namaku dan nama Isabella tidak seharusnya berada dalam satu kalimat yang sama. Aku adalah putra dari tanah yang retak, seorang perantau dari Jawa yang mencari suaka di balik nada-nada biola. Sedangkan Isabella adalah putri tunggal Pengiran Sulaiman, seorang tokoh yang memegang teguh filosofi Melayu Islam Beraja. Beliau adalah seorang penguasa tanah yang menganggap martabat keluarga jauh lebih suci daripada nyawa manusia itu sendiri. 


Malam itu, takdir akhirnya menarik paksa tirai persembunyian kami. Mentari telah menyepi di balik cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang perlahan memudar menjadi biru kelam di atas Sungai Brunei. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu, bersinar dingin di atas taman belakang kediaman Isabella yang luasnya menyerupai hutan kecil. Aku telah memanjat pagar batu yang tinggi, didorong oleh kerinduan yang membakar, hanya untuk memberikan sebuah pembatas buku Batik Tulis motif Sido Mukti yang kubawa dari Jawa.


"Adrian, Kita (kamu) tidak seharusnya di sini," bisik Isabella, tangannya gemetar saat menerima kain kecil itu. "Ayahku sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Pertemuan adat tadi siang membuatnya sangat murka."


"Aku hanya ingin melihat matamu, Isabella. Itu cukup untuk membuatku bertahan hidup di antara hiruk-pikuk pasar besok," jawabku lirih.


Namun, api cinta yang tadinya menghangatkan jiwa kami tiba-tiba membakar segalanya. Sebuah lampu minyak yang terang benderang tiba-tiba menyorot ke arah kami. Langkah-langkah sepatu bot yang berat menghantam jalan setapak marmer.


"Isabella!"


Suara itu tidak datang seperti guntur yang merobek keheningan malam. Pengiran Sulaiman berdiri di sana, dikelilingi oleh tiga orang pengawal bertubuh besar. Beliau mengenakan Cara Melayu lengkap dengan sinjang dari kain tenun emas yang kaku. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak merah padam karena amarah yang meluap.


Aku melangkah maju, mencoba melindungi Isabella di belakang punggungku, namun seorang pengawal dengan kasar menyentak lenganku dan menjatuhkanku ke tanah. Biola tua yang kusampirkan di bahu terlempar, mendarat dengan bunyi kayu retak yang menyakitkan di telingaku, seperti suara jantung yang pecah.


"Kau pikir siapa dirimu, pemusik jalanan?" suara Pengiran Sulaiman menggelegar, bergetar karena rasa marah yang mendalam. Beliau berjalan mendekat, menatapku seolah-olah aku adalah serangga yang baru saja ia injak. "Isabella adalah permata yang dipahat oleh tradisi ratusan tahun, dan kau... kau hanyalah debu yang tertiup angin dari jalanan paling kumuh di seberang lautan!"


"Ayah, kumohon! Dia tidak melakukan kesalahan apa pun! Cinta tidak mengenal pangkat!" Isabella menjerit, mencoba berlari ke arahku, namun ayahnya mencengkeram lengannya dengan kuat.


"Kesalahannya adalah dia berani bernapas di udara yang sama denganmu!" teriak Pengiran Sulaiman. "Adat kita tidak mengizinkan persilangan semacam ini! Kau telah mengotori nama baik keluarga kita hanya dengan berbicara padanya!"


Isabella menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi baju kurung sutranya. Ia bersimpuh di kaki ayahnya, memohon agar logika cinta didengar di atas kekakuan tradisi. Namun, di sini, tradisi lebih kuat daripada logika apa pun.


"Bawa dia keluar!" perintah Pengiran Sulaiman kepada pengawalnya tanpa sedikit pun rasa iba. "Dan untukmu, pengamen... jika kau menampakkan wajahmu lagi di tanah ini, aku akan memastikan bukan hanya biolamu yang patah, tapi juga seluruh masa depanmu."



Bab 3

Perpisahan di Dermaga


Waktu tak lagi berjalan dengan detak jam, melainkan dengan denyut luka yang kian menganga. Hari-hari setelah pengusiran itu berlalu dengan rasa pahit yang tak kunjung hilang dari pangkal lidahku. Bandar Seri Begawan, yang dulunya terasa magis, kini berubah menjadi penjara terbuka yang sunyi.


Aku dipaksa menjauh. Perintah Pengiran Sulaiman bukan sekadar gertakan; setiap kali aku melangkah mendekati kawasan tempat tinggal kaum bangsawan, sepasang mata pengawal selalu mengawasi dari balik bayang-bayang. Aku dilarang mendekat, dilarang berkirim pesan, bahkan dilarang untuk sekadar menyebut nama Isabella di depan publik.


Satu-satunya caraku untuk bertahan hidup adalah dengan berdiri di tepi dermaga Kampong Ayer saat fajar menyingsing. Dari sana, aku bisa melihat jendela tinggi di kediaman Isabella. Kadang, jika keberuntungan sedang berpihak, jendela itu akan terbuka. Isabella akan berdiri di sana, sosok biru yang tampak rapuh dari kejauhan. Ia akan mengangkat tangannya, melambaikan tangan dengan lemah, sebuah gerakan kecil yang sarat dengan keputusasaan. Itu adalah salam perpisahan yang tak terucapkan.


Lalu, musim pun berganti. Hujan tropis yang dingin mulai turun terus-menerus, membawa aroma tanah basah dan pembusukan. Cintaku seolah mulai gugur bersama harapan yang mengering. Kabar buruk menyebar lebih cepat daripada wabah di pasar kota. Isabella tidak hanya dikurung; ia sedang dipersiapkan sebagai kurban bagi "kemurnian" adat. Pengiran Sulaiman telah mengatur pertunangan kilat dengan seorang putra pejabat tinggi yang memiliki silsilah murni.


Aku terduduk di dalam gubuk tuaku yang bocor. Di depanku, biola yang retak itu tergeletak bisu di atas meja kayu yang rapuh. Aku mencoba mengangkatnya, ingin memainkan satu lagu terakhir untuknya, namun instrumen itu kini terasa sangat berat. Seolah-olah setiap kesedihan yang kualami telah mengendap di dalam kayu biola itu.


"Apakah aku harus menyerah pada garis yang mereka buat?" bisikku pada dinding-dinding kayu yang bisu.


Pikiran itu terus berputar seperti pusaran air yang gelap di Sungai Brunei. Ibuku terbatuk di kamar sebelah, suaranya makin lemah seiring dengan menipisnya cadangan obat kami. Di luar, air hujan kembali mengguyur, menumpuk di depan pintu seperti nisan bagi masa laluku.


Melihat biola yang patah dan mendengar penderitaan ibuku, sebuah amarah dingin mulai tumbuh di sela-sela rasa sakitku. Jika dunia ini menolak memberiku tempat karena aku tidak memiliki apa-apa, maka aku harus menjadi "sesuatu" yang tidak bisa mereka abaikan. Jika adat adalah dindingnya, maka aku harus menjadi air yang perlahan-lahan meretakkannya.


Aku memutuskan untuk meninggalkan Brunei. Aku akan pergi ke Jakarta, pusat industri musik yang kejam namun menjanjikan. 



Bab 4

Haluan Hidup yang Berubah


Tiga tahun di Jakarta menempa aku dengan cara yang tidak pernah kubayangkan. Kota itu adalah rimba beton yang tidak memiliki ruang bagi air mata. Awalnya, aku hanyalah bayangan yang tersisih di sudut-sudut remang kafe Jakarta Selatan. Di antara kepulan asap rokok dan hiruk-pikuk orang-orang kota yang haus hiburan, aku menggesek biola dengan jemari yang terkadang masih gemetar karena rindu. Namun, di dalam setiap nada yang kulepaskan, ada aroma hujan Brunei yang tersimpan.


Hingga suatu malam, bakat mentahku menarik perhatian seorang produser besar. Beliau melihat sesuatu dalam gesekan biolaku, sebuah luka yang dalam yang telah berubah menjadi harmoni yang jujur. Aku diterima masuk ke dalam orkestra nasional, namun itu hanyalah awal.


Aku bekerja siang dan malam. Saat musisi lain beristirahat, aku tetap berada di ruang latihan yang dingin, mengasah teknikku hingga jari-jariku kapalan dan berdarah. Aku mulai menulis. Aku mengubah setiap rasa sakit, setiap kerinduan pada lambaian tangan Isabella di jendela, dan setiap penghinaan yang pernah kuterima menjadi komposisi musik yang megah.


Aku memadukan sayatan Keroncong, jiwa dari tanah leluhurku, dengan kemegahan klasik orkestra dunia. Dalam proses itu, aku belajar sebuah pelajaran hidup yang paling berharga: Martabat tidak pernah datang dari darah atau gelar yang tertulis di kertas usang. Martabat lahir dari karya, kejujuran, dan integritas seseorang.


Tiga tahun berlalu, dan anak laki-laki yang terusir itu telah menjelma menjadi pria yang tegar. Namaku, Adrian Valerius, mulai dikenal luas. Simfoni yang kubuat, yang kuberi judul "Garis Takdir", menjadi buah bibir internasional karena emosinya yang begitu menyayat hati. Namun, di tengah kemewahan dan tepuk tangan meriah di Jakarta, hatiku tetap tertinggal di dermaga kayu di Bandar Seri Begawan.


Aku memutuskan untuk kembali ke Brunei. Aku kembali bukan dengan kemarahan, melainkan dengan harapan besar agar pintu hati Pengiran Sulaiman, dan masyarakatnya yang kaku, bisa terbuka. Aku ingin membuktikan bahwa cinta dua dunia tidak harus berakhir dengan kehancuran. Aku ingin menunjukkan bahwa seseorang dari kasta "debu" pun bisa mengharumkan nama kota mereka di mata dunia.



Bab 5

Pintu Hati dan Jalan yang Terbentang


Brunei menyambutku dengan aroma yang masih sama: campuran harum tanah basah dan sisa-sisa melati. Namun, hatiku bergetar saat mendengar kabar tentang Isabella. Tiga tahun kepergianku bukanlah waktu yang singkat bagi seorang wanita yang dikurung dalam adat. Ternyata, Isabella telah menjadi legenda kesetiaan yang tragis di kota itu. Ia tidak pernah menikah. Ia menolak setiap pinangan, menepis setiap emas dan permata, dan memilih untuk mengasingkan diri dalam kesunyian kamar tingginya.


Sebagai langkah pertamaku, aku tidak mengetuk pintu gerbang Pengiran Sulaiman. Aku memilih kembali ke tempat semuanya bermula. Aku mengadakan sebuah konser besar di pusat seni nasional, mengundang seluruh penduduk, dari para buruh pelabuhan hingga keluarga bangsawan.


Malam itu, aula dipenuhi oleh orang-orang penting yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Pengiran Sulaiman hadir, duduk di barisan depan dengan wajah kaku seperti patung granit. Di sampingnya, duduk Isabella. Saat matanya bertemu denganku, aku bisa melihat semesta yang penuh rindu meledak di balik tatapannya.


Aku naik ke panggung. Aku mengangkat biolaku, sebuah mahakarya baru yang suaranya melengking jernih. Saat busurku menyentuh dawai, aku memainkan simfoni "Garis Takdir". Melodi itu menceritakan tentang perahu tambang yang terombang-ambing, tentang kain batik yang menjadi saksi bisu, dan tentang seorang pria yang harus menyeberangi lautan untuk menemukan harga dirinya.


Suasana aula menjadi hening yang mencekam. Hanya ada suaraku yang bercerita melalui nada. Musik itu memaksa mereka yang hadir untuk merasakan bahwa manusia tidak dinilai dari asal-usulnya, melainkan dari kedalaman hatinya.


Saat nada terakhir memudar, aku meletakkan biola dan berjalan perlahan menuju tempat Pengiran Sulaiman duduk. Para pengawal yang dulu menyeretku kini hanya terdiam, tunduk pada karisma yang kupancarkan.


"Tuan," kataku dengan suara tenang namun tegas. "Saya datang kembali bukan untuk menantang adat Anda. Saya datang untuk menunjukkan bahwa cinta sejati tidak pernah melahirkan kehinaan. Ia melahirkan kemuliaan. Saya telah membuktikan bahwa saya layak bersanding dengan putri Anda, bukan karena harta yang kini saya miliki, tapi karena kesetiaan yang saya jaga dan martabat yang saya bangun dari nol."


Pengiran Sulaiman tidak langsung menjawab. Beliau melihat Isabella yang matanya sudah dibanjiri air mata, lalu menoleh ke arah masyarakatnya yang terharu oleh musikku. Beliau menyadari bahwa memisahkan dua jiwa yang ditakdirkan bersama hanya akan menyisakan lara yang abadi.


"Kesetiaan," gumam beliau pelan. "Adat dibuat untuk menjaga kemuliaan manusia. Jika cinta bisa membawa seseorang dari debu menjadi emas seperti ini, maka adatlah yang harus belajar darinya."


Beliau perlahan melepaskan genggaman tangannya pada lengan Isabella. Itu adalah isyarat simbolis bahwa beliau telah membuka pintu hatinya. Isabella berlari kecil ke arahku, dan di bawah siraman cahaya bulan Bandar Seri Begawan, jalan yang dulu tertutup kini terbentang luas di depan kami. Garis takdir yang dulu terpisah kini menyatu dalam satu melodi yang abadi.


TAMAT




BIONARASI:



Dilahirkan 18 Agustus 1963, dengan nama Eduar Daud. Aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS).

Selasa, 17 Februari 2026

DUA DUNIA TERPISAH OLEH TAKDIR: Karya Lia Rick

 DUA DUNIA TERPISAH OLEH TAKDIR

 Lia Rick

Senja itu datang tanpa janji seperti pertemuan kami yang tidak pernah dirancang,

   Arisya berdiri di tengah bazar malam di Kuala Lumpur. Lampu-lampu jalan berkelip seperti bintang-bintang, aroma kuih dan rempah memenuhi ruang udara. Dia dikelilingi oleh keramaian pengunjung dan tertawa disertai dengan bunyi riuh kanak-kanak menangis. Tiba-tiba ibu Arisya menepuk bahunya dengan lembut sambil menegurnya “Arisya jangan terlalu asyik melihat sekeliling, nanti kita terlepas makan malam!” Arisya hanya mengangguk lalu tersenyum.

   Aroma lauk tradisional Sabah seperti ikan masin bakar, hinava dan ayam pansuh memenuhi ruang makan. Setiap suapan membawa nostalgia kampung halaman yang terpahat dalam memori. Namun, di sebalik rasa hangat itu ada rasa tersembunyi yang tidak mampu diungkapkan.

   Malam itu, suasana makan malam Arisya dan keluarganya penuh dengan tawa dan cerita masa silam mereka semua tetapi entah mengapa hati Arisya diusik dengan bisikan rindu. Bisikan rindu kepada seorang insan yang pernah dia kenali.

  Di London, Edward sedang duduk di sudut sebuah kafe lama yang dipenuhi dengan aroma kopi dan ditemani dengan bunyi gitar akustik. Dia menatap hujan yang menitis perlahan di tingkap kafe sambil mengingat senyuman seorang wanita yang amat dirinduinya seolah-olah setiap titisan membawa nama wanita itu ke dalam hatinya. Namun apakan daya, jarak dan adat membuatnya hanya mampu menahan rindu itu dalam diam.

   Hujan itu seakan berbicara, setiap titisan menuturkan nama wanita itu, membasahi hati yang menunggu tanpa kata. Tanpa disedari, Edward mengusap bibirnya sendiri dan perlahan-lahan menyebut, “Arisya...”. Suaranya nyaris tenggelam dalam desiran hujan. Bayangan Arisya yang samar tergambar di kaca jendela, seperti lukisan yang nyata bergetar bersama rintik hujan membasahi hati yang masih setia menanti. Lampu-lampu kota berkelip seperti bintang, sementara aroma kopi dan senyuman bayangan Arisya saling bertaut di fikiranya.

   Di Malaysia, Arisya berdiri di balkoni biliknya sambil ditemani angin malam yang menyapa kulit wajahnya. Kilauan lampu kedai dan bazar menyala lembut seperti lilin-lilin kecil di malam tropika, memantul di genangan hujan dan menyentuh bayangan Arisya sendiri.

    Dia tersenyum sendirian mengingat kembali saat itu pada tahun 2020. Ketika itu dia dan Edward bertemu secara bersemuka di sebuah kafe di Kuala Lumpur dalam festival kebudayaan. Edward dengan senyuman yang canggung dan matanya yang penuh rasa ingin tahu, hampir tersandung di tangga kafe. Arisya menahan tawa sambil menghulurkan tanganya dan sekejap itu tangan mereka hampir bersentuhan. Mereka bertentang mata dan dunia seakan berhenti seketika seolah masa sendiri menahan nafas.

   Lampu-lampu festival berkelip bagaikan bintang kecil yang menari di udara malam dan senyuman Arisya terukir di mata Edward. Detik itu terasa abadi walaupun singkat, akan terpahat menjadi kenangan indah di hati masing-masing.

    Namun seperti semua detik yang terlalu indah, masa akhirnya kembali bergerak. Bunyi muzik dan hiruk-pikuk festival menyelinap ke ruang di antara mereka. Arisya menarik tangannya perlahan, masih dengan senyuman yang tertinggal di bibir manakala Edward hanya mampu mengangguk kecil, seolah kata-kata tidak diperlukan pada saat itu.

   Mereka duduk bertentangan di kafe tersebut sambil berbual tentang perkara-perkara ringan tentang seni,perjalanan yang masih jauh dan impian yang belum bernama.Ketawa hadir tanpa dipaksa dan diam tidak pernah terasa janggal.Hari itu,berlalu dengan cepat  meninggalkan rasa yang sukar ditafsir,antara suka dan takut untuk berharap.

     Tetapi takdir jarang memberi amaran.Setelah festival itu berakhir dan hari itu mulai berlalu,jarak mula mencipta batas.Pesanan menjadi semakin jarang dan terhenti tanpa penutup.Bukan kerana tiada rasa, tetapi kerana hidup membawa mereka ke arah yang berbeza.

    Kini apabila Arisya mengingati detik itu hatinya masih terasa hangat dan sepi dalam waktu yang sama.Dia sedar,pertemuan itu bukan sekadar kebetulan tetapi hadiah yang diminta untuk disimpan selamanya.

  Dan di suatu tempat yang jauh,Edward masih mengingati memori yang sama tanpa pernah tahu bahawa kenangan itu masih hidup,diam-diam di antara dua dunia yang terpisah oleh takdir.Kenangan itu tidak menuntut untuk disatukan,hanya berdoa agar terus wujud sebagai saksi bisu bahawa jiwa pernah berpaut walaupun takdir memilih untuk memisahkan mereka.

   Hari-hari selepas itu,Arisya kembali pada rutinnya.Namun ada bahagian dalam dirinya yang terasa berbeza,seperti ada sesuatu yang telah tertinggal di  sebuah sudut kota yang penuh cahaya dan bunyi.Setiap kali dia berdiri di balkoni,angin yang menyapa membawa dirinya kepada malam festival itu,kepada Edward dan senyuman canggung yang pernah membuat dunianya terhenti seketika.

   Edward pula membawa kenangan itu pulang ke dunianya sendiri.Di London segalanya bergerak pantas dan teratur,namun hatinya sering tertinggal pada sesuatu yang tidak mampu dijelaskan.Dia cuba meyakinkan dirinya bahawa pertemuan itu hanyalah kebetulan yang indah.Namun hakikatnya,rindu tidak pernah menurut logik. 

   Mereka masih berhubung pada awalnya.Pesanan ringkas bertukar cerita,cerita bertukar sunyi.Perbezaan mula terasa bukan pada bahasa,tetapi pada cara hidup yang membesarkan mereka.Arisya hidup dalam dunia yang terikat pada adat dan keluarga,manakala Edward dibesarkan dengan kebebasan memilih tanpa banyak batas.

   Di situlah rindu mula menjadi berat.Setiap perasaan yang hadir turut membawa persoalan tentang masa depan,tentang penerimaan dan tentang dunia mana yang perlu dilepaskan jika mereka memilih untuk saling memiliki.

   Arisya sedar,mencintai Edward bukan sekadar soal hati dan perasaan.Ia menuntut keberanian untuk berhadapan dengan nilai yang telah lama membentuk dirinya.Edward pula mula memahami bahawa cinta sahaja tidak selalu mencukupkan untuk merapatkan dua dunia yang dibesarkan dan dididik oleh adat yang berbeza.

   Dan diantara rindu yang semakin dalam dan realiti yang semakin jelas,mereka mula mengerti bahawa takdir tidak memisahkan mereka secara tiba-tiba.Tetapi perlahan-lahan,melalui diam dan jarak yang tidak mampu ditentang.

    Selepas itu,Arisya mula mengerti bahawa rindu bukan lagi sesuatu yang indah untuk dipeluk,tetapi beban yang perlu diurus dengan tenang.Setiap keputusan dalam hidupnya terasa seperti sering diperhatikan oleh adat yang telah dia pelajari sejak kecil.Adat yang mengajar erti kesabaran,tentang batas dan tentang pengorbanan yang jarang disebut sebagai pilihan.Edward pula semakin sedar bahawa cintanya hadir di ruangan yang tidak pernah disediakan untuk dirinya.Dunia Arisya mempunyai aturan yang tidak tertulis dan meskipun hatinya ingin melangkah lebih dekat dia tahu ada jarak yang bukan dicipta oleh manusia tetapi oleh nilai yang diwariskan turun-temurun.

    Arisya tidak pernah membenci dunia yang membesarkannya,tetapi buat pertama kali dia merasakan dunia itu terlalu sempit untuk menyimpan perasaannya.Setiap kali nama Edward singgah di benaknya dia segera menenangkan diri seolah-olah rindu itu adalah satu kesalahan yang perlu diperbetulkan.Edward belajar menjarakkan diri bukan kerana kurang peduli,tetapi kerana dia akhirnya mengerti bahawa kehadirannya hanya akan menambah beban pada hati Arisya.Mereka mencintai dengan cara yang sama.Dalam diam,dalam pengorbanan dan dalam kesediaan untuk melepaskan sesuatu yang sebenarnya ingin dipertahankan.

   Dalam kesunyiaan itu,Arisya sering bertanya kepada dirinya sendiri sama ada dia telah membuat pilihan yang betul atau sekadar memilih jalan yang paling selamat.Hatinya tidak pernah meragui perasaannya terhadap Edward.Tetapi hatinya juga tidak pernah lupa siapa dirinya dan dari mana dia datang.Dia sedar mencintai bukan hanya tentang memiliki,tetapi juga tentang keikhlasan untuk melepaskan.Rindu itu lebih berhati-hati seolah-olah takut jika terlalu dipeluk ia akan menuntut sesuatu yang tidak mampu diberi.

  Dalam diam,Arisya belajar untuk menerima bahawa ada perasaan yang dicipta bukan untuk disempurnakan melainkan,untuk mengajar erti reda.

   Di dunia Edward,kebebasan sentiasa dianggap sebagai anugerah yang tidak perlu dipersoalkan.Dia dibesarkan untuk percaya bahawa cinta seharusnya memiliki jalannya sendiri, tanpa perlu tunduk pada tradisi atau batas yang tidak kelihatan.Namun pertemuannya dengan Arisya mengubah cara pemikirannya.Buat pertama kali,Edward menyedari ada dua dunia yang memikul cinta dengan tanggungjawab dan ada perasaan yang tidak hanya melibatkan dua hati tetapi seluruh kehidupan yang membentuknya.Jarak antara London dan Malaysia tidak lagi terasa sejauh perbezaan nilai yang memisahkan mereka.Edward belajar bahawa melepaskan bukan tanda kekalahan,tetapi penghormatan paling jujur yang mampu diberinya.Dan dalam kesunyiaan kota yang asing,kesan itu kekal bersamanya dna mengajarnya bahawa tidak semua cinta perlu dimiliki untuk menjadi bermakna.

     Pada malam yang sama di dua benua yang berbeza,Arisya dan Edward berhenti pada detik yang serupa.Arisya duduk di sisi tingkap billiknya,sambil memandang langit yang gelap tanpa bintang.Telefon di tangannya terdiam lama sebelum dia akhirnya menulis sesuatu yang telah lama tertangguh.

  “Edward” ketiknya, “aku rasa kita sudah sampai ke titik yang kita sendiri takut untuk sebutkan.”

   Di London,Edward membaca mesej itu berulang kali.Bunyi kota di luar tingkapnya terasa jauh.Dia membalas selepas beberapa saat yang panjang.

  “Aku tahu” ketiknya. “Aku cuma tak mahu jadi sebab kau terpaksa melawan dunia kau sendiri.

   Arisya menarik nafas perlahan-lahan,kata-kata itu menenangkan dan melukakan dalam masa yang sama.

    “Ini bukan tentang melawan” Arisya membalas. “Ini tentang memahami siapa diri aku”.

  Perbualan itu tidak panjang.Mereka juga tidak membahaskan masa depan,tidak juga mencari jalan tengah yang rapuh.Setiap ayat lahir dengan kejujuran yang tidak lagi cuba menyelamatkan apa-apa.

   “Aku akan sentiasa rindu” Edward akhirnya mengetik dan menghantar mesej itu. “Aku juga” jawab Arisya. “Tapi biarlah rindu ini tinggal sebagai kenangan”.

   Di situlah pertumbungan dua dunia itu berakhir tanpa suara tinggi,tanpa air mata yang ditunjukkan.Hanya dua hati yang memilih untuk berhenti berharap kerana terlalu menghormati perasaan itu sendiri.

   Tahun-tahun berlalu,Arisya meneruskan hidupnya dengan tenang membawa kenangan itu sebagai sebahagian daripada dirinya,bukan sebagai luka.Edward pula menemukan caranya sendiri untuk berdamai dengan masa lalu.Di sebuah apartmen kecil di London,dia kembali kepada satu perkara yang sentiasa memberinya ruang untuk jujur iaitu menulis.

   Pada mulanya hanya serpihan ingatan.Festival budaya,cahaya malam Kuala Lumpur dan senyuman seorang gadis yang mengajarnya bahawa cinta tidak selalu menuntut penyatuan.Perlahan-lahan serpihan itu menjadi sebuah kisah.

   Apabila novel itu selesai,Edward menulis tajuknya tanpa ragu: Arisya:Terpisah kerana dua dunia yang berbeza.

   Ia bukan kisah tentang kehilangan,tetapi tentang pertemuan yang mengubah cara seseorang memahami cinta dan batas.Edward tidak pernah tahu sama ada Arisya akan membaca novel itu, dan dia tidak pernah berharap.

   Kerana baginya,cukuplah jika kisah itu menjadi saksi bahawa dua jiwa pernah bersilang walaupun akhirnya terpisah oleh dunia yang berbeza.

   Edward menutup manuskrip itu dengan perlahan.Di luar, hujan renyai-renyai membasahi jalan kota,seakan-akan memahami kisah yang baru sahaja selesai ditulisnya.Dia tersenyum kecil,bukan kerana bahagia sepenuhnya tetapi kerana dia sudah mengerti tidak semua cinta diciptakan dimiliki.Ada yang hadir hanya untuk mengajar tentang jarak,pengorbanan dan keikhlasan melepaskan.

  Nama Arisya yang terukir di halaman terakhir bukan sebagai penyesalan,tetapi sebagai penghormatan kepada perasaan yang pernah tulus.Dan di situlah kisah mereka berakhir,terpisah oleh dunia yang berbeza namun disatukan oleh kenangan yang tidak pernah mati. 

      

Isnin, 16 Februari 2026

REMINISENSI KIDUNG CINTA: Karya Nani Prihatini

Reminisensi Kidung Cinta

Nani Prihatini


Sintaksis rindu

Gemulai menari dalam romansa sendu

Luka batin tersayat 

Tak ada lagi jeritan menyayat


Bilur menggerogoti memakan perih

Gaun tak lagi seindah sutera

Rintihan laksana nyanyian lirih

Ruh terhempas bersama angkara


Pasi merias tiap rona

Malang nian malaikat dunia

Semenjak Arjuna menutup pesona

Meratap Banowati bersama sia


Gusti tak berpihak

Tak ada lagi pijak

Hanya tersisa diam

Akhir hidup sejoli terpenjara resam

Sabtu, 14 Februari 2026

KISAH KLASIK CINTA MELAYU: Karya Nani Prihatini

Kisah Klasik Cinta Melayu

Nani Prihatini


Daun-daun kering berguguran

Jatuh menemani tanah

Kerontang tiada harapan

Begitu dekat namun terpisah


Daun-daun kering berguguran

Saksi bisu cinta terhalang

Harapan kandas dua insan

Kematian menjadi pilihan terlarang


Daun-daun kering berguguran

Isa patah dalam penantian

Adat begitu kejam merajam

Gelora surya tak mampu meredam


Daun-daun kering berguguran

Bella menyerah pada himpitan

Melupakan pujaan dalam diam

Cinta sejoli laksana senja tenggelam


Daun-daun kering berguguran

Memisah romansa kehidupan

Begitu angkuhnya adat

Membuyar belahan jiwa yang bersyahadat

Jumaat, 13 Februari 2026

ADAT MENGHEMPAS RENJANA: Karya Nani Prihatini

 Adat Menghempas Renjana

Nani Prihatini


Seperti Romeo Juliet

Begitulah romansa Isa Bella

Dua cerita mengharu membelah kala


Dalam pikir dunia terhenyak

Kasih suci terkalahkan adat kekuasaan

Tiada habis dalam benak

Tertanam abadi legenda kehidupan


Fana memberikan cerita

Renjana tiada daya

Maha kasih abadi berjaya


Akhir hidup menjadi pilihan

Perlambang cinta lara

Pilu membelenggu dua insan

Sejati dalam kisah asmara

Jumaat, 6 Februari 2026

SYARIFAH: HIKAYAT AIR DAN DARAH: EDUAR

 Eduar Daud

SYARIFAH: HIKAYAT AIR DAN DARAH

 

Di rahim Selat Melaka yang mengerang sepi,

namamu kujapa dalam ritual buih yang pecah.

Syarifah, kau semenanjung dipagari silsilah,

sedang aku arus liar, pengelana kehilangan arah.

Mengapa takdir menjahit temu di batas cakrawala,

bila jemari mesti terlepas demi memuliakan marwah darah?

 

Siang yang benderang perlahan karam di muara,

ditelan rahang malam yang mengunyah bara.

Semesta kita terbelah tembok adat purba;

hikayat luhur gugur di tangan hamba.

 

Masih terpatri lambaianmu di dermaga renta,

seperti abu kemenyan luruh di perapian doa.

Pernah dunia menjelma taman bunga bersua,

warna kasih merekah, lalu membiru di jiwa.

Kita terbuai muson yang jinak, terlena di ayunan gelombang;

hingga mentari menyepi dan musim menanggalkan lekang.

Namun di balik kabut, api itu terjaga,

menjadi suar bagi luka yang enggan reda.

 

Syarifah… Engkau duka yang mengkristal,

permata yang menyimpan lara.

Kita terhempas bukan oleh badai atau nakhoda,

melainkan sekat darah dan titah yang membaja.

Cintaku karam ke palung paling dalam,

bersama kelopak kamboja dilarung malam.

 

Kini haluan kemudi patah di tengah samudera,

menjauh dari pelabuhanmu yang basah air mata.

Rindu kulabuhkan ke pusaran tanpa nama,

agar namamu tetap suci dari noda.

 

Semoga semesta mengetuk pintu batinmu yang sunyi,

membentang titian cahaya di atas selat yang disucikan.

Sebab bila setiamu seteguh karang di muara,

bahkan maut pun gentar memisahkan kita.

Oh, Syarifah.

 

 

 

 

 BIONARASI:



 

Dilahirkan 18 Agustus 1963, dengan nama Eduar Daud. Aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS).

Selasa, 20 Januari 2026

BUIH DI AMBANG SENJA: Zamri Hj. Jamaluddin

 BUIH DI AMBANG SENJA

Oleh: Zamri H. Jamaluddin (Brunei DS)


    Di sebuah kota yang langitnya seakan tidak pernah benar-benar cerah, tempat gerimis menjadi bahasa harian dan senja selalu tiba dengan wajah yang muram, tinggallah seorang pemuda bernama Amar. Dia bukan sesiapa di mata dunia, sekadar penulis sajak yang hidupnya berlegar antara kafe kecil, buku catatan usang, dan mimpi-mimpi yang tidak pernah berani dilafazkan.

    Amar percaya, tidak semua manusia diciptakan untuk bersuara. Ada yang ditakdirkan untuk menjadi gema, hadir, namun hanya bergema dalam ruang batin sendiri. Maka Amar memilih kata-kata pena sebagai lidahnya, kerana baginya, dunia terlalu riuh untuk kejujuran yang rapuh. Baginya, mencintai dalam diam adalah sebuah seni yang paling tinggi darjatnya, seumpama menanam budi di gunung tinggi, tak terlihat namun kesannya mencengkam saujana.

    Hampir dua tahun, Amar memelihara satu ritual yang setia seperti bayang-bayang pada senja. Setiap petang, selepas azan Asar bergema lirih dari kejauhan, dia akan duduk di sudut kafe berlantai kayu yang sudah tua dimamah usia. Di balik tirai putih gading yang sedikit lusuh, Amar memandang keluar—bukan untuk melihat dunia, tetapi untuk menunggu jiwanya sendiri.

    Di seberang jalan, di sebuah taman kecil yang dipagari pokok flamboyan dan bangku besi berkarat, seorang wanita sering duduk dengan kanvas dan berus di tangan. Namanya Sofea.

    Setiap kali Amar memandang Sofea, hatinya sering berbisik memuji keagungan Tuhan. Sofea bukan sekadar wanita; dia adalah keanggunan yang bersahaja. Amar sering terpegun melihat cara Sofea menyisipkan rambut ke belakang telinga ketika angin bertiup kencang, atau bagaimana dahi wanita itu berkerut halus saat cuba mengadun warna di atas kanvasnya. Bagi Amar, setiap palitan warna di kanvas Sofea adalah denyut nadi yang menghidupkan dunianya yang kelabu.

    “Tuhan tidak menciptakannya untuk dipuja dengan mata, tetapi untuk direnungi dengan jiwa,” tulis Amar dalam catatannya.

    Amar begitu kagum dengan ketabahan Sofea yang tetap melukis meskipun hujan renyai-renyai mula membasahi bumi. Sofea seperti bunga teratai yang tetap suci meskipun tumbuh di kolam yang berlumpur. Ketekunannya, kelembutannya, dan matanya yang menyimpan sejuta rahsia membuatkan Amar merasa kerdil. Amar sedar, dia hanyalah pungguk yang merindukan bulan, namun dia bahagia sekadar menjadi saksi kepada keberadaan seorang bidadari di bumi yang fana ini.

    Sebelum dia mengenali Sofea secara dekat, Amar telah menggubah sebuah puisi buat "Wanita Kanvas" itu:


BAYANG DI BALIK KACA

Engkau adalah warna yang tak terjangkau oleh jemariku,

Sebuah lukisan yang dilukis oleh tangan takdir,

Aku hanya pemerhati dari balik kaca yang berdebu,

Menghitung setiap nafasmu dalam rima yang getir.


Andai aku adalah angin, kuseka peluh di dahimu,

Andai aku adalah hujan, kusiram gersang hatimu,

Namun aku hanyalah buih, yang pecah sebelum menyentuh pasirmu,

Menyimpan kagum dalam peti rahsia yang terkunci bisu.

    Hinggalah suatu petang, langit terharu dalam bentuk hujan. Petang itu, hujan turun selebat air mata langit yang sudah terlalu lama ditahan. Sofea, yang kebiasaannya berlindung di taman, berlari masuk ke kafe dengan nafas tercungap. Kafe penuh, hanya satu kerusi kosong—di hadapan Amar.

    “Boleh saya duduk di sini?” tanya Sofea, sopan dan lembut.

    Amar mengangguk. Lidahnya kelu, jantungnya berdegup seperti mahu pecah. Takdir yang lama bersembunyi akhirnya tersenyum sinis. Apabila Sofea meletakkan begnya, buku catatan Amar terjatuh. Kertas sajak berselerak di atas lantai kayu. Sofea dengan pantas membantunya mengutip kertas-kertas itu.

    Mata Sofea terpaku pada satu baris ayat: "Dia adalah pelangi yang hadir dalam malamku yang paling gelap."

    Suasana menjadi sepi, hanya bunyi rintik hujan yang menghentam bumbung zink kafe menjadi latar belakang.

    “Ini… tentang aku, bukan?” tanya Sofea halus.

    Amar menelan air liur yang terasa pahit. Rahsia yang disimpan rapi kini terbongkar bagai Seperti Telur Dihujung Tanduk. “Maafkan saya. Saya tidak punya apa-apa selain kata-kata. Saya sekadar pengagum dari kejauhan.”

    Di sinilah benih cinta mula bercambah. Sofea yang selama ini merasa sunyi dalam dunianya yang dipenuhi warna-warna bisu, tiba-tiba merasa hangat oleh kata-kata Amar. Keikhlasan yang terpancar dari mata Amar membuatkan dinding ego Sofea mula runtuh. Mereka mula berbicara, bukan sekadar tentang seni, tetapi tentang jiwa yang luka.

    Hari-hari selepas itu menyaksikan Amar sedaya upaya cuba mengambil hati Sofea. Dia membawakan bunga melur kegemaran Sofea, menuliskan sajak-sajak pendek di setiap helaian tisu kafe, dan sentiasa ada untuk mendengar keluh-kesah wanita itu. Amar melakukan segalanya dengan prinsip genggam bara api biar sampai jadi arang.

    Namun, semakin Amar mendekat, semakin Sofea menjauh. Bukan kerana dia tidak cinta, tetapi kerana dia terlalu menghargai hubungan suci yang baru terbina.

    “Amar, kenapa kau lakukan semua ini?” tanya Sofea suatu hari di bawah pohon flamboyan yang mula gugur bunganya.

    “Kerana hatiku telah tertambat padamu, Sofea. Aku ingin menjadi dahan tempatmu berteduh,” jawab Amar jujur.

    Sofea menggeleng perlahan. Air matanya bergenang. “Amar, aku takut. Persahabatan ini terlalu indah untuk dirosakkan dengan ikatan yang mungkin membawa luka. Aku terlalu sayangkan hubungan kita sekarang. Jika kita menjadi kekasih, dan kita gagal, aku akan kehilangan kedua-duanya, kekasih dan sahabat.”

    Amar memegang lembut tangan Sofea. “Cinta bukan untuk ditakuti, Sofea. Ia untuk dirai. Aku sanggup menanggung risiko itu.”

    Sofea tetap enggan. Baginya, biarlah putih tulang, jangan putih mata. Dia lebih rela memendam rasa daripada melihat Amar menderita di kemudian hari kerana rahsia besar yang dia simpan. Sofea tahu, tubuhnya sedang dimakan oleh penyakit autoimun yang tidak punya penawar. Dia tidak mahu Amar mencintai "sehelai daun kering yang menanti luruh".


DI ANTARA RINDU DAN RAGU

Tanganmu dingin, namun bicaramu menghangatkan sukma,

Kita berdiri di jambatan yang rapuh, meniti arus cinta,

Engkau berkata jangan, namun matamu berkata ya,

Aku terperangkap dalam dilema antara rasa dan nyata.


Janganlah kau enggan kerana takutkan hari esok,

Kerana hari ini adalah milik kita yang paling syahdu,

Biar cinta ini berputik walaupun hanya untuk seketika,

Sebelum maut menjemput, biarlah aku memilikimu.


    Keadaan Sofea merosot tajam. Dia ditarik ke dalam kegelapan hospital. Amar jatuh sakit akibat tekanan perasaan yang melampau. Dalam satu fasa koma yang singkat, Amar mendapati dirinya berada di sebuah alam yang aneh namun indah. Alam tanpa sedar.

    Di situ, langit berwarna perak dan wangian kasturi memenuhi udara. Amar melihat Sofea berdiri di sebuah jambatan cahaya. Sofea kelihatan sihat, wajahnya berseri tanpa pucat yang menghantui.

    “Sofea!” Amar berlari mendapatkannya. “Jangan tinggalkan aku!”

Sofea tersenyum, namun ada nada sayu dalam suaranya. “Amar, kenapa kau masih di sini? Alam ini bukan milikmu lagi.”

    Amar menangis teresak-esak di kaki Sofea. “Aku merinduimu sehinggakan nafasku terasa sesak! Di alam nyata atau di sini, hanya kau yang aku mahu. Sofea, dengarlah janji aku… tiada cinta lain selepasmu. Hatiku sudah kukunci, dan kuncinya telah kulemparkan ke dasar laut yang paling dalam.”

    Sofea mengusap rambut Amar. “Amar, hidup perlu diteruskan. Jangan biarkan dirimu mati sebelum ajal.”

    “Aku akan menunggumu, Sofea. Biarpun seribu tahun, biarpun aku harus melalui jutaan senja yang muram, aku akan tetap menunggumu di hujung waktu,” balas Amar dengan penuh tekad.

    Sofea terharu melihat kesungguhan Amar. “Jika begitu tekadmu, maka simpanlah rindu itu sebagai azimat. Aku juga tidak akan mencari ganti, kerana di syurga nanti, aku mahu kaulah yang menyambutku.”

    Apabila Amar terjaga dari komanya, berita pertama yang diterimanya ialah Sofea telah pulang ke rahmatullah. Dunianya gelap gelita. Sudah jatuh ditimpa tangga, keperitannya tidak tertanggung. Namun, janji di alam tanpa sedar itu menjadi pasak yang mengukuhkan jiwanya.

    Tahun-tahun berlalu. Amar kini menjadi penulis yang berjaya. Ramai wanita cuba merapati Amar. Ada seorang wanita bernama Maya, seorang pelukis juga, yang cuba mengambil tempat Sofea. Maya cantik, bijak, dan sangat memuja karya Amar.

    “Amar, berilah peluang kepada dirimu untuk bahagia semula,” kata Maya suatu hari ketika mereka di kafe yang sama.

    Amar memandang ke luar jendela, ke arah bangku kosong di taman itu. Dia tersenyum tawar. “Maafkan aku, Maya. Hatiku bukan lagi milikku untuk diberikan. Ia telah dibawa pergi oleh seorang wanita yang mengajarku erti buih dan pantai.”

    Amar menolak setiap lamaran dan pendekatan dengan sopan. Baginya, mencintai orang lain adalah satu pengkhianatan kepada janji sucinya. Dia lebih rela hidup dalam bayang-bayang kenangan daripada memulakan cinta yang palsu. Amar memegang peribahasa: biar mati raga, jangan mati janji.


SURAT UNTUK SENJA

Kini aku berdiri di ambang senja yang sama,

Namun bangku di seberang sana sudah lama kosong,

Tiada lagi bau cat, tiada lagi tawa yang manja,

Hanya gema suaramu yang melantun di ruang kosong.


Orang berkata aku gila kerana mencintai nisan,

Kerana memeluk angin dan mencium bayangan,

Namun mereka tidak tahu, bahawa kau adalah nafas,

Yang mengalir dalam darah, yang takkan pernah bebas.


Aku menunggumu di sini, di kafe tua ini,

Sehingga maut menjemputku untuk kembali bersamamu,

Cintaku padamu adalah abadi, melangkaui bumi,

Sofea, kaulah syurga yang paling kuinginkan dalam doaku.


    Setahun kemudian, Amar melancarkan bukunya yang paling agung, bertajuk "BUIH JADI PERMADANI". Buku itu bukan sekadar koleksi puisi, tetapi catatan sejarah sebuah kesetiaan yang tidak berbelah bahagi.

Di halaman terakhir, tertulis sebuah bidalan yang diciptanya sendiri:

    "Cinta yang sejati bukan dia yang datang saat kamu punya segalanya, tetapi dia yang tetap tinggal dalam doa saat dia sudah tiada di dunia."

    Amar kembali ke sudut kafenya. Tirai putih gading itu masih di situ, menjadi saksi bisu kepada seorang pemuda yang tidak pernah berubah hatinya. Dia tahu, suatu hari nanti, buih akan pecah di pantai, dan saat itu, dia akan kembali bersatu dengan Sofea dalam abadi.

    Gerimis turun menyirami bumi, dan Amar tersenyum. Dia tidak lagi merasa sunyi, kerana Sofea ada dalam setiap denyut nadinya.


TAMAT.

DI ANTARA DUA GARIS TAKDIR: Karya Eduar Daud

 Eduar Daud DI ANTARA DUA GARIS TAKDIR Bab I Simfoni di Bawah Kubah Emas Bandar Seri Begawan di bulan Oktober bukan sekadar sebuah koordinat...

Carian popular