Isnin, 6 April 2026

TAKBIR BELANGGUR NYAMPLUNGAN: Karya Yusufachmad Bilintention

 

Takbir Belanggur Nyamplungan

 

Menara Masjid Ampel menjulang,

membelah langit Surabaya indah menawan.

Di pelataran, jamaah berjejal tanpa aturan,

sajadahku menutup rumput dingin,

takbir berkumandang iringi Lebaran.

 

Namun sebelum itu, riuh Nyamplungan bergetar.

Telinga kampung menanti denting bambu,

belanggur yang meletus tujuh kali,

membatalkan lapar,

menggetarkan dada yang sabar.

 

Suara itu bukan sekadar tanda,

ia adalah gong bambu yang memukul jiwa,

menyulut tawa anak-anak berlari,

menyulam riuh remaja menanti,

menyentuh senyum orang tua yang pasrah.

 

Belanggur Nyamplungan adalah irama:

merdu, sederhana,

ramai tanpa pesta,

tulus tanpa gemerlap,

jujur membahana.

 

Belanggur yang jujur membahana,

kini mulai jarang terdengar,

diganti jam digital,

diganti pengeras suara azan.

Namun di serambi ingatan,

belanggur masih hidup.

 

Ia menjadi gema yang tak tergantikan,

menjadi cahaya yang menancap di jiwa.

Mengawal Ramadan di Nyamplungan sederhana:

tanpa sorak pesta, tanpa lampu kristal,

 

hanya denting bambu,

hanya kebersamaan.

Meski bambu kini diam,

dentumnya tetap memadamkan dahaga,

menyinari doa, menjadi wangi kesetiaan

yang tak pernah hilang dari kampungku.

  

Belanggur mungkin diam,

tapi takbir di Nyamplungan

tetap hidup di dada kami.

 

  

 

Biodata Singkat

Nama Pena: Yusufachmad Bilintention

Asal: Nyamplungan, Surabaya, Indonesia

Aktivitas: Penyair dan penulis cerpen, aktif di komunitas sastra digital dan lokal.

PUASA DAN PERBAHAN ARYA: Karya Warsono Abi Azzam

 

PUASA DAN PERBAHAN ARYA

Warsono Abi Azzam

 

Namanya Arya Pratama. Usianya mendekati empat puluh, bekerja sebagai konsultan logistik di sebuah perusahaan distribusi nasional di Semarang. Hidupnya teratur, nyaris terlalu teratur: bangun pagi tanpa doa, kopi hitam tanpa gula, sarapan cepat, lalu tenggelam dalam angka-angka, rute distribusi, dan efisiensi biaya. Ia menyukai hal-hal yang bisa dihitung dan diukur. Baginya, dunia adalah tabel besar yang harus dirapikan.

Ada satu hal yang tak pernah masuk dalam logika tabelnya: puasa.

“Puasa itu cuma ngirit versi Timur Tengah,” katanya suatu siang di kantor, saat bulan Ramadhan mulai mendekat. Ia duduk berselonjor di kursi, menatap rekan-rekannya yang sedang berdiskusi tentang jadwal buka bersama. “Diet ala Arab. Bungkusnya religius, tapi intinya ya sama: nahan makan.”

Beberapa rekan tertawa kecil, sebagian lain hanya saling pandang. Mereka sudah terbiasa dengan komentar Arya. Ia tidak pernah secara frontal menyerang, tapi selalu menyelipkan sinisme dalam kalimat yang terdengar santai.

“Ya nggak sesederhana itu, Ya,” ujar Dimas, salah satu staf yang cukup dekat dengannya. “Puasa bukan cuma soal makan.”

Arya mengangkat bahu. “Semua orang bilang begitu. Tapi ujung-ujungnya? Lapar, haus, nunggu adzan. Setelah itu makan, balas dendam. Secara biologis aja nggak efisien.”

“Bukan efisiensi yang dicari,” Dimas mencoba menjelaskan, tapi Arya sudah berdiri, mengambil jaketnya.

“Yang jelas, gue nggak tertarik. Kalau Tuhan butuh kita lapar dulu baru dianggap baik, menurut gue itu konsep yang aneh.”

Ia meninggalkan ruangan dengan langkah ringan, seolah baru saja menyimpulkan sebuah argumen yang tak terbantahkan.

***

Ramadhan datang seperti biasa: suara azan lebih ramai, warung-warung siang hari tertutup tirai, dan kantor sedikit lebih lengang menjelang sore. Arya tetap menjalani rutinitasnya. Ia tidak puasa, dan tidak merasa perlu menyembunyikannya.

Ia makan siang di ruangannya, dengan pintu setengah tertutup. Bukan karena malu, tapi lebih karena tidak ingin repot menjelaskan.

“Gue nggak hipokrit,” katanya suatu kali saat Dimas masuk tanpa mengetuk. “Kalau nggak puasa ya makan. Ngapain pura-pura?”

Dimas hanya mengangguk, meski dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal.

Di luar urusan puasa, hidup Arya berjalan mulus. Ia dikenal cerdas, cepat mengambil keputusan, dan berani. Tapi ada satu sisi yang jarang terlihat: ia mudah lelah, sulit tidur, dan sering mengalami nyeri perut yang datang tiba-tiba.

Awalnya ia mengabaikan. “Asam lambung,” katanya ringan. Ia membeli obat di apotek, minum sesekali, lalu kembali bekerja.

Namun suatu malam, rasa nyeri itu datang lebih kuat dari biasanya. Ia sedang sendirian di apartemennya, lantai tiga, di kawasan Banyumanik. Hujan turun deras, menampar kaca jendela dengan ritme yang tidak beraturan.

Arya terbangun dari tidurnya, menggenggam perutnya. Rasa perih menjalar dari ulu hati ke dada, seperti ada sesuatu yang mengikis dari dalam.

Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Nafasnya pendek-pendek.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa takut.

Dengan susah payah, ia meraih ponselnya dan menghubungi Dimas.

“Mas... bisa... ke sini?” suaranya parau.

Tak sampai tiga puluh menit, Dimas sudah tiba, bersama seorang tetangga Arya. Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

Diagnosis datang keesokan harinya: tukak lambung yang cukup parah, dengan indikasi harus dilakukan tindakan operasi kecil untuk mencegah komplikasi.

“Pak Arya harus menjalani puasa sebelum operasi,” kata dokter dengan nada profesional. “Minimal delapan jam tanpa makan dan minum.”

Arya mengernyit. “Puasa?”

“Dalam konteks medis, iya. Ini prosedur standar.”

Ia tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan. “Ironis ya, dok. Saya yang paling nggak suka puasa, malah disuruh puasa.”

Dokter hanya tersenyum tipis. “Anggap saja ini bagian dari terapi.”

Malam sebelum operasi, Arya duduk di ranjang rumah sakit, menatap infus yang menetes perlahan. Ia tidak makan sejak sore. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan operasi dijadwalkan pukul enam pagi.

Perutnya terasa kosong, tapi bukan sekadar lapar. Ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton televisi, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal: ia sedang berpuasa.

Untuk pertama kalinya.

Tanpa niat religius, tanpa keyakinan, hanya karena kebutuhan medis.

“Delapan jam doang,” gumamnya. “Nggak ada apa-apanya.”

Namun waktu berjalan lambat. Setiap menit terasa panjang. Ia mulai menyadari betapa seringnya ia mengunyah sesuatu, sekadar untuk mengisi waktu. Sekarang, tidak ada itu.

Ia hanya duduk, menunggu.

Dan dalam penantian itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi: ia mulai memperhatikan dirinya sendiri.

Detak jantungnya. Nafasnya. Rasa lapar yang naik turun seperti gelombang. Pikiran-pikiran yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, kini beralih ke hal-hal yang lebih sederhana.

Ia teringat ibunya.

Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Ibunya di desa, hidup sederhana, rajin beribadah. Dulu, setiap Ramadhan, ibunya selalu membangunkannya untuk sahur.

“Ya, Arya, bangun. Makan dulu,” suara itu seperti bergema dari masa lalu.

Arya kecil sering mengeluh, malas bangun, malas makan. Tapi ibunya selalu sabar.

“Puasa itu bukan cuma nahan lapar,” kata ibunya suatu kali. “Tapi belajar sabar.”

Arya dewasa tersenyum miris. “Sabar buat apa?” ia pernah menjawab waktu itu.

Kini, di ranjang rumah sakit, ia mulai merasakan jawaban yang tak pernah ia cari.

***

Operasi berjalan lancar. Arya harus menjalani masa pemulihan beberapa hari di rumah sakit. Selama itu, dokter menyarankan pola makan teratur, porsi kecil, dan—yang membuat Arya terdiam—“puasa ringan” secara bertahap.

“Bukan puasa penuh seperti yang Anda bayangkan,” jelas dokter. “Tapi memberi jeda waktu bagi lambung untuk istirahat.”

Arya mengangguk, tapi dalam pikirannya, kata “puasa” mulai kehilangan nada sinisnya.

Hari pertama setelah operasi, ia hanya boleh minum cairan tertentu. Hari kedua, makanan lunak dalam jumlah kecil. Ia belajar menahan keinginan untuk makan lebih banyak.

Dan anehnya, ia tidak merasa tersiksa seperti yang ia bayangkan.

Sebaliknya, ada rasa ringan yang perlahan muncul. Tubuhnya terasa lebih stabil. Tidurnya lebih nyenyak.

“Gimana rasanya?” tanya Dimas saat menjenguk.

Arya berpikir sejenak. “Aneh,” katanya jujur. “Tapi… nggak buruk.”

“Masih mikir puasa itu diet ala Arab?” Dimas tersenyum.

Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat langit sore yang mulai berubah warna.

“Mungkin gue terlalu menyederhanakan sesuatu yang nggak sederhana,” katanya pelan.

***

Setelah keluar dari rumah sakit, Arya mulai menerapkan pola makan baru. Ia mengurangi frekuensi makan, memberi jeda lebih panjang di antara waktu makan. Tanpa ia sadari, itu menyerupai pola puasa.

Ia mulai membaca, sesuatu yang jarang ia lakukan di luar pekerjaan. Artikel kesehatan, jurnal ringan, bahkan tulisan tentang manfaat puasa dari berbagai sudut pandang: medis, psikologis, hingga spiritual.

Ia tidak langsung berubah menjadi religius. Tapi ia mulai membuka ruang untuk kemungkinan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka.

Beberapa bulan berlalu. Tubuhnya terasa lebih sehat. Berat badannya turun sedikit, tapi lebih dari itu, pikirannya terasa lebih jernih.

Ia masih bekerja seperti biasa, tapi tidak lagi sekeras dulu. Ia mulai pulang lebih awal, sesekali mengunjungi ibunya di desa.

Suatu sore, ibunya berkata, “Kamu kelihatan beda, Ya.”

“Lebih tua?” Arya bercanda.

Ibunya tertawa kecil. “Lebih tenang.”

Arya tidak menyangkal.

***

Ketika Ramadhan berikutnya datang, Arya menghadapi sebuah keputusan.

Ia duduk di ruangannya, menatap kalender. Tanggal pertama Ramadhan ditandai dengan tinta merah.

Ia teringat semua yang pernah ia katakan: olokan, sinisme, argumen yang ia bangun dengan percaya diri.

Kini, semuanya terasa jauh.

Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul empat. Ia tidak langsung berdiri. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit. “Coba aja,” gumamnya.

Ia bangkit, pergi ke dapur, dan menyiapkan makanan sederhana. Tidak banyak, hanya cukup.

Ia makan perlahan, tanpa tergesa. Tidak ada ibunya yang membangunkan, tidak ada suasana ramai. Hanya dirinya sendiri, dan keputusan yang ia ambil.

Hari pertama puasa terasa panjang. Kantor tetap berjalan seperti biasa, tapi Arya merasakan setiap detik dengan cara yang berbeda. Ia lapar, tentu saja. Haus juga. Tapi kali ini, ia tidak melihatnya sebagai gangguan.

Ia mengamati.

Rasa lapar datang, lalu mereda. Rasa haus muncul, lalu bisa ditahan. Ia mulai memahami bahwa tubuhnya tidak serapuh yang ia kira.

Sore hari, menjelang berbuka, ia duduk diam di kursinya. Tidak ada pekerjaan mendesak. Ia hanya menunggu. Dan dalam penantian itu, ia merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan: semacam ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan euforia, bukan kebahagiaan yang meledak-ledak. Tapi stabil. Dalam. Seperti air yang tenang.

Saat azan maghrib terdengar, ia meneguk air pertama.

Air itu terasa… berbeda! Lebih segar, lebih berarti.

Arya tersenyum kecil. “Mungkin ini yang mereka maksud,” pikirnya.

***

Hari demi hari berlalu. Arya terus berpuasa.

Tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika ia hampir menyerah. Ada saat-saat ketika ia merasa lelah, kesal, bahkan mempertanyakan keputusannya.

Tapi setiap kali ia bertahan, ada sesuatu yang ia dapatkan kembali: kendali atas dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar. Tapi menunda. Mengelola. Menyadari.

Ia menjadi lebih sabar dalam bekerja. Lebih mendengar saat orang lain berbicara. Lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dimas memperhatikan perubahan itu.

Gue nggak nyangka lo bisa sebulan penuh,” katanya suatu sore di minggu terakhir Ramadhan.

Arya tersenyum. “Gue juga.”

“Masih mikir ini cuma diet?”

Arya menggeleng pelan. “Kalau diet, gue pasti udah berhenti dari dulu. Ini… beda.”

“Bedanya apa?”

Arya berpikir sejenak, mencari kata yang tepat.

“Diet itu soal tubuh,” katanya akhirnya. “Ini… kayaknya juga soal yang lain. Pikiran, mungkin. Atau… sesuatu yang lebih dalam.”

Dimas mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

***

Hari terakhir Ramadhan tiba.

Arya duduk di balkon apartemennya, menatap langit malam. Angin berhembus pelan, membawa aroma yang sulit ia kenali.

Ia teringat dirinya setahun lalu: penuh sinisme, yakin dengan argumennya, menertawakan sesuatu yang tidak ia pahami.

Kini, ia tidak merasa lebih pintar. Justru sebaliknya. Ia merasa… lebih rendah hati.

Gue salah,” katanya pelan, bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.

Bukan salah karena tidak berpuasa, tapi karena merasa sudah mengerti sesuatu tanpa pernah mencobanya.

Ia menutup matanya sejenak. Dalam gelap itu, ia menemukan sesuatu yang sederhana: keinginan untuk terus menjalani apa yang baru ia pelajari.

Bukan karena kewajiban semata, tapi karena ia merasakan manfaatnya.

Ketika bulan berganti, dan hari kembali seperti biasa, Arya tidak berhenti.

Ia tidak selalu berpuasa penuh, tapi ia tetap memberi ruang jeda dalam hidupnya. Ia menjaga ritme yang ia temukan selama Ramadhan.

Dan setiap kali ia merasakan lapar yang datang perlahan, ia tidak lagi mengeluh.

Ia tersenyum. Karena kini ia tahu: di balik rasa itu, ada sesuatu yang dulu tak pernah ia lihat: sebuah jalan kecil menuju dirinya sendiri.

 

Cilacap, 30 Ramadhan 1477 H / 20 Maret 2026

Ahad, 5 April 2026

MALAM MENGETUK DARI DALAM DADA: Karya Warsono Abi Azzam

 

Warsono Abi Azzam

MALAM MENGETUK DARI DALAM DADA

/1/

Puasa datang bukan sebagai undangan sunyi
yang menyelip di sela napas
mengajari perut membaca sabar

Lapar bukan lubang nganga, hanya celah kecil
tempat cahaya lindap menyelinap
tanpa perlu izin persetujuan dari logika

Haus bukan derita
ia guru yang tak banyak bicara
menghapus riuh yang menumpuk di lidah
menyisakan dzikir yang tak terdengar, tapi terasa

Kita menanggalkan siang
seperti melepas sepatu berdebu
lalu berjalan tanpa alas kaki
di halaman jiwa sendiri

Di sana, Tuhan tidak berteriak
Ia hanya menunggu
kita berhenti ribut dengan diri sendiri

/2/

Malam tumbuh perlahan
seperti doa yang tidak tergesa
dan langit membuka lipatan-lipatannya
dengan sabar yang tak pernah habis

Ada rindu yang tak bisa dijelaskan
rindu yang tidak mencari alamat
ia tahu ke mana harus pulang
meski kita sering tersesat di dunia sendiri

Malam seribu bulan itu
bukan tentang sekadar angka yang berlipat-lipat
tapi tentang hati yang akhirnya mau dilipat
dirapikan dan diserahkan tanpa syarat

Di antara bintang-bintang
yang tampak seperti tasbih berserakan
kita belajar membilang
bukan pahala
melainkan rahmat yang tak sempat kita sadari

Dan sunyi lantas menjadi sahabat
bukan karena ia hampa
justeru ia penuh
oleh kehadiran malaikat tak terlihat

/3/

Puasa mengajarkan
bahwa kehilangan sementara
adalah cara paling jujur
untuk menemukan yang abadi

Kita kehilangan air di siang hari
agar tahu betapa setetes pun adalah karunia
Kita kehilangan kenyang
agar mengerti: cukup itu bukan soal jumlah

Kita kehilangan kata-kata
agar sadar
betapa seringnya kita berisik
namun tanpa makna

Lalu malam datang
membawa kita pada sebuah rahasia
bahwa Tuhan tidak jauh-jauh
kitalah yang terlalu gaduh untuk mendengar-Nya

terlalu sok sibuk untuk membaca kalam suci-Nya

Dalam sujud yang tak perlu disaksikan siapa-siapa
dalam doa yang bahkan kita kerap lupa urutannya
ada pertemuan yang tak bisa dijelaskan
seperti laut yang akhirnya memeluk muara

/4/

Maka jika rindu itu datang
jangan buru-buru diusir
Biarkan ia duduk di sampingmu
menjadi tamu yang mengingatkan
bahwa kau pernah jauh

Dan jika malam seribu bulan itu
tak sempat kau jumpai

atau bahkan tak juga kau kenali
jangan bersedih
sebab ia sering menyamar
di setiap malam yang kau jaga dengan ikhlas

 

Puasa bukan tentang kuat menahan
tapi tentang lembut menerima
bahwa kita ini kecil
dan justru di situlah luasnya kasih Tuhan

Jangan risau apalagi galau
sebab yang kau cari
bukan di luar sana
melainkan di ruang hening
yang selama ini kau hindari

Di situlah
lapar menjadi cahaya
haus menjadi doa
dan rindu
menjadi jalan pulang yang paling setia

Cilacap, 29 Ramadhan 1447 H / 19 Maret 2026

Khamis, 2 April 2026

AZAN YANG MENYENTUH TULANG-TULANG DAHAGA: Karya Jaya Ramba

 

Azan yang Menyentuh Tulang-Tulang Dahaga

 Lapar itu tidak lagi berumah di perutku. Ia telah berpindah menjadi penghuni tetap di dalam tulang-tulang yang menyokong tubuhku yang semakin letih. Ia tidak hanya berdenyut, tetapi bernafas, bergerak perlahan seperti sesuatu yang hidup dan sedar akan kewujudannya. Dari rongga perut yang kosong, ia menjalar ke dada, memukul dinding rusuk dengan rentak yang tidak pernah reda. Dari dada, ia naik ke bahu, lalu ke leher, mengikat setiap urat dengan simpulan yang tidak kelihatan. Setiap sendi terasa berderit. Aku tahu, bukan kerana usia, tetapi kerana beban yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia.

            Matahari tergantung di langit seperti paku yang memaku waktu, tidak bergerak walau detik terus berlalu. Panasnya menekan kulit, menyusup masuk ke dalam daging. Ia memang ingin menguji batas ketahanan manusia. Di tengah kota yang tidak pernah berhenti bernafas, aku berdiri sebagai bayang yang hampir hilang. Bunyi hon dan enjin mengaum seperti ribuan suara yang tidak pernah saling mendengar. Namun di tengah kekacauan ini, satu suara mengatasi segalanya. Ia suara lapar yang kini berakar dalam tulangku. Nafasku pendek, langkahku berat, dan dunia di hadapanku seperti diliputi kabus yang tidak pernah mahu hilang.

            Rumah setinggan kami berdiri di celah kota seperti rahsia lama yang sengaja disembunyikan daripada mata dunia. Atap zinknya berkerut seperti wajah yang terlalu lama menanggung panas dan hujan tanpa perlindungan. Setiap kali angin menyentuhnya, bunyi yang lahir seperti keluhan yang dipendam sejak sekian lama. Dinding papan yang mengelupas memperlihatkan lapisan warna yang pernah hidup, kini mati dalam diam. Lantai kayu yang tidak rata membuat setiap langkah terasa seperti berjalan di atas masa yang telah retak dan hampir runtuh. Di sudut ruang yang sempit, Mak duduk bersandar pada tiang yang condong. Tangannya bergerak perlahan menyusun nasi putih ke dalam pinggan yang telah kehilangan kilauannya. Bau nasi itu sederhana, tetapi mengisi ruang dengan kehangatan yang tidak mampu ditiru oleh kemewahan. Aku duduk di hadapannya, memandang wajahnya yang tenang seperti air sungai yang mengalir tanpa bertanya ke mana arahnya. Kedut di wajahnya bukan tanda kelemahan. Namun ia jejak perjalanan yang panjang dan sabar. Matanya tidak pernah mendesak, tetapi sentiasa melihat dengan ketenangan yang sukar aku hadapi. Dalam diam itu, aku merasa yang aku sedang berdiri di hadapan cermin yang memantulkan segala yang aku cuba sembunyikan.

            Aku mencapai nasi itu dengan tangan yang terasa asing, seperti tangan yang dipinjam daripada seseorang yang lebih kuat daripadaku. Setiap butir nasi yang masuk ke dalam mulutku terasa berat. Ia bukan keras. Namun kerana ia membawa bersama rasa bersalah yang tidak pernah selesai. Aku mengunyah perlahan dengan membiarkan masa memanjang dalam setiap gerakan rahangku. Air kosong yang aku minum tidak terasa dingin. Namun ia tetap mengalir seperti satu-satunya jalan yang masih terbuka. Mak memandangku tanpa bertanya. Aku tahu mak melihat lebih daripada apa yang aku tunjukkan. Dalam pandangan itu, aku merasa kecil, seperti bayang yang tidak memiliki bentuk yang tetap. Aku menundukkan wajah, cuba melarikan diri daripada ketenangan yang terlalu jujur itu. Ketenangan itu tidak menghukum. Ketenangan itu memaparkan segala yang aku cuba lupakan. Nafasku terasa berat, seperti membawa sesuatu yang tidak dapat dilepaskan. Aku ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata itu mati sebelum sempat lahir. Dalam diam itu, aku tahu aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri.

            “Aiman, makanlah sahur walaupun sedikit. Kekuatan itu kadang-kadang bersembunyi dalam perkara yang kita pandang remeh,” ujar mak.

            Suara Mak jatuh perlahan seperti hujan yang menyentuh tanah kering tanpa bunyi yang kuat. Kata-katanya meresap ke dalam diriku, mencari ruang yang selama ini aku tutup rapat. Aku mengangguk perlahan, walaupun aku tahu anggukan itu tidak membawa makna yang cukup. Dalam diriku, sesuatu bergerak dan sesuatu yang telah lama terkurung. Aku merasakan dadaku sempit, seperti ruang yang terlalu lama tidak dibuka. Setiap nafas yang aku tarik terasa pendek, seakan udara tidak mahu masuk sepenuhnya. Aku memandang tangan sendiri. Aku melihat garis-garis halus yang menyimpan cerita yang tidak pernah diceritakan. Dalam garis-garis itu, aku melihat kesilapan, pilihan, dan jalan yang pernah aku ambil. Aku menutup mata seketika, cuba mengosongkan fikiran, tetapi bayang-bayang masa lalu tetap muncul. Ia tidak datang dengan suara, ia dengan rasa yang sukar dihapuskan. Dalam diam itu, aku tahu aku tidak boleh terus melarikan diri.

            “Aiman, puasa ini menahan apa yang tidak terlihat oleh mata.” Mak merenung aku.

            Kata-kata itu tinggal di dalam diriku seperti dengung yang tidak mahu hilang. Aku membiarkannya berulang, mengisi ruang yang selama ini kosong dengan makna yang perlahan-lahan terbentuk. Dalam diam itu, aku merasa seperti berdiri di hadapan pintu yang telah lama terkunci. Aku tahu di sebalik pintu itu ada sesuatu yang aku takut untuk hadapi. Namun semakin aku cuba jauhkan diri, semakin kuat tarikan itu terasa. Aku menarik nafas panjang. Nafas itu tidak mampu mengosongkan dadaku. Ada sesuatu yang lebih berat daripada udara yang aku hirup. Sesuatu itu bukan lapar, tetapi sesuatu yang lebih dalam. Aku membuka mata, memandang Mak, dan dalam pandangan itu aku melihat sesuatu yang tidak pernah berubah. Ketenangan. Ketenangan itu membuat aku semakin gelisah.

            Lorong setinggan menyambutku dengan bau yang tidak pernah berubah, campuran sisa kehidupan yang dibuang tanpa upacara. Air hitam mengalir perlahan seperti masa yang tidak pernah tergesa. Dinding konkrit di kiri dan kanan dipenuhi kesan tangan. Ia seperti setiap orang meninggalkan sebahagian daripada diri mereka di situ. Di hujung lorong, Rafiq berdiri dengan wajah serius. Dia tersenyum melihatku, senyuman yang mengandungi kebebasan dan kehampaan dalam satu masa. Aku menghampirinya dengan langkah yang tidak pasti. Matahari masih tinggi, tetapi bayang kami telah mula memanjang, bagaikan cuba meninggalkan tubuh masing-masing. Dalam diam itu, aku tahu pertemuan ini bukan hanya kebetulan. Ia adalah ujian yang datang dalam bentuk yang aku kenal. Aku tahu aku tidak boleh terus berpura-pura tidak melihatnya.

            “Aiman, kau tabah sekali,” katanya.

            Aku memandang jalan besar di hadapan, melihat manusia berjalan dengan makanan di tangan dan ketawa yang ringan. Nafasku terasa sempit, dan tekakku kering seperti tanah yang lama tidak disentuh hujan. Aku menelan air liur yang hampir tiada, merasakan geseran di dalam kerongkongku seperti pasir yang bergerak perlahan. Rafiq menyemtuh kotak rokok. Kata-katanya dalam kepalaku, tidak keras tetapi cukup untuk menggoyahkan sesuatu yang rapuh. Aku tahu dia tidak salah sepenuhnya. Namun aku juga tahu dia tidak sepenuhnya benar. Dalam ruang antara benar dan salah itu, aku berdiri tanpa arah. Aku memejamkan mata seketika, merasakan berat dunia di bahuku. Apabila aku membuka mata semula, dunia masih sama, tetapi aku merasa sedikit berubah. Sedikit, tetapi cukup untuk membuat aku berfikir.

            “Ini bulan puasa, Fi. Aku tak mahu lari lagi.” Aku juga bersumpah kepada Makku.

            Rafiq ketawa kecil, tetapi ketawanya tidak bertahan lama. Ia seperti sesuatu yang tidak cukup kuat untuk hidup. Dia memandangku dengan mata yang sukar aku tafsirkan, antara simpati dan sinis yang bercampur tanpa sempadan. Aku berdiri kaku, merasakan tubuhku seperti diikat oleh keputusan yang belum selesai. Dalam diam itu, aku merasakan sesuatu dalam diriku menguat walaupun perlahan. Ia seperti akar kecil yang mula mencengkam tanah yang keras. Aku tidak tahu ke mana ia akan membawa aku. Namun aku tahu aku tidak mahu kembali ke tempat yang sama. Kota di sekelilingku masih bergerak tanpa peduli, dalam diriku, sesuatu sedang berhenti. Berhenti untuk melihat. Berhenti untuk mendengar. Mungkin, berhenti untuk berubah.

            Di tempat kerja, matahari menjadi lebih kejam, seperti hakim yang tidak pernah memberi ruang untuk rayuan. Besi yang aku angkat terasa berat seperti memikul kesalahan yang tidak pernah diampunkan. Setiap sentuhan pada permukaan logam itu memindahkan panas ke dalam kulit, lalu ke dalam daging, dan akhirnya ke dalam tulang yang sudah sedia terbakar oleh lapar. Peluh mengalir tanpa henti, menuruni wajahku seperti air yang mencari jalan keluar daripada tubuh yang keletihan. Namun peluh itu tidak membawa kelegaan, kerana ia hanya membersihkan permukaan tanpa menyentuh kedalaman. Perutku semakin kosong, tetapi kekosongan itu terasa semakin padat, bagaikan diisi oleh sesuatu yang tidak dapat dilihat. Aku melihat pekerja lain duduk di tepi, membuka bekal mereka dengan gerakan yang tenang dan tidak tergesa. Bau makanan itu meresap ke dalam udara, masuk ke dalam hidungku, lalu mengusik setiap saraf yang telah lama menahan. Dalam detik itu, aku merasa tubuhku terbahagi dua, satu yang berdiri, dan satu lagi yang hampir rebah. Nafasku menjadi pendek, dan dadaku terasa seperti dipenuhi sesuatu yang berat. Dunia di sekelilingku menjadi kabur, seperti dilihat melalui air yang bergoyang.

            Tanganku bergerak perlahan ke arah botol air yang diletakkan di atas kotak kayu, seperti ditarik oleh benang halus yang tidak kelihatan. Jari-jariku menggigil, kerana lemah, kerana ragu yang mengikat setiap sendi. Dalam ruang kecil antara niat dan perbuatan, aku berdiri seperti seseorang yang tidak tahu arah mana yang harus dipilih. Waktu terasa melambat, seperti tidak mahu bergerak ke hadapan sebelum aku membuat keputusan. Dalam diam itu, aku mendengar suara dari dalam diriku, suara yang lembut tetapi tajam seperti bilah yang disembunyikan. Suara itu tidak memaksa, ia tahu ke mana harus pergi. Ia menyebut tentang kelegaan, tentang air yang dingin, tentang dahaga yang akan hilang dalam sekelip mata. Namun di sebalik bisikan itu, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak disebut, juga dapat dirasakan. Sesuatu yang lebih besar daripada dahaga itu sendiri. Sesuatu yang menunggu untuk aku pilih. Dalam detik itu, aku tahu aku tidak boleh lagi berpura-pura tidak mendengarnya.

            “Ambil saja… tak ada siapa tahu…” Suara itu datang.

            Suara itu tidak datang dari luar, dari dalam, dari tempat yang aku sendiri takut untuk sentuh. Ia berlegar di dalam kepalaku, berulang-ulang seperti gema yang tidak mahu hilang. Tanganku hampir menyentuh botol itu. Jari-jariku berada di ambang sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali. Pada waktu itu, dunia di sekelilingku hilang. Aku hanya tinggal bersama keputusan yang belum dibuat. Nafasku menjadi berat, dan dadaku terasa sempit seperti ruang yang terlalu lama tertutup. Dalam kekosongan itu, satu bayang muncul perlahan. Ia bukan bayang yang menakutkan, tetapi bayang yang dikenali. Wajah Mak hadir dalam ingatan, tenang seperti biasa, tetapi kali ini lebih dekat. Dalam ketenangan itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah berubah. Kepercayaan. Itulah kepercayaan yang membuat aku berhenti. Aku menarik tanganku perlahan, menjauh daripada botol itu, seperti menarik diri daripada jurang yang hampir menelan. Nafasku jatuh satu demi satu, berat tetapi hidup.

            Petang bergerak perlahan menuju senja. Aku berjalan pulang dengan langkah yang terasa lebih berat daripada biasa. Lorong setinggan itu menyambutku seperti selalu, dengan bau yang tidak pernah berubah dan suara yang tidak pernah benar-benar sunyi. Air longkang mengalir perlahan, membawa bersama sisa kehidupan yang tidak lagi diperlukan. Dinding konkrit masih berdiri dengan kesan tangan yang sama, seakan tidak pernah berubah sejak aku mula mengenal dunia. Namun dalam diriku, sesuatu telah berubah, walaupun kecil dan hampir tidak kelihatan. Aku melangkah dengan perasaan yang sukar dijelaskan, antara letih dan tenang yang bercampur tanpa sempadan. Nafasku masih berat, tetapi tidak lagi sesak seperti tadi. Lapar itu masih ada, ia tidak lagi menjerit. Ia diam, seperti sedang menunggu sesuatu. Dalam diam itu, aku merasakan satu ruang yang baru terbuka dalam diriku. Ruang yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia.

            Di tangga kayu yang hampir patah, budak kecil itu masih duduk seperti petang-petang sebelumnya. Bajunya lusuh, warnanya telah lama pudar oleh panas dan hujan. Matanya tetap terang seperti langit malam yang tidak disentuh awan. Dia memandangku dengan senyuman yang tidak meminta apa-apa, tetapi memberi sesuatu yang tidak dapat aku jelaskan. Aku duduk di sebelahnya, merasakan kehadirannya seperti angin yang tidak kelihatan tetapi menyentuh. Dalam diam itu, aku melihat tangannya memegang perutnya dengan cara yang jujur. Tidak ada keluhan, tidak ada rungutan, hanya penerimaan yang tenang. Aku memandangnya lama. Dalam pandangan itu, aku melihat sesuatu yang aku telah lama hilang. Sesuatu yang tidak dapat dibeli, tidak dapat dipinjam, dan tidak dapat dipaksa untuk kembali. Sesuatu itu adalah keikhlasan yang tidak mengenal syarat.

            “Abang puasa?” soalnya.

            Aku mengangguk perlahan. Senyumannya melebar seperti cahaya kecil yang menolak gelap. Dalam senyuman itu, aku merasa sesuatu dalam diriku menjadi ringan, walaupun tubuhku masih berat. Aku memandang ke hadapan, tetapi fikiranku masih tertinggal di situ, bersama budak kecil yang tidak pernah meminta lebih daripada apa yang dia miliki. Dalam kesederhanaannya, ada kekuatan yang tidak dapat aku fahami sepenuhnya. Aku menarik nafas perlahan, merasakan udara masuk ke dalam dada dengan cara yang berbeza. Tidak lagi seperti sebelumnya yang sempit dan terhimpit. Kali ini, ada ruang. Ruang yang membenarkan aku bernafas dengan lebih dalam. Aku menutup mata seketika, dan dalam gelap itu, aku merasakan sesuatu yang hampir hilang kini kembali. Perlahan-lahan, tetapi pasti.

            “Kalau lapar, kita simpan… biar Tuhan tengok,” katanya.

            Kata-kata itu jatuh ke dalam diriku seperti batu yang memecahkan permukaan air yang selama ini tenang tetapi cetek. Riaknya meluas, menyentuh setiap sudut yang selama ini aku biarkan kosong. Dalam kesederhanaan itu, ada kebenaran yang tidak dapat aku tolak. Aku memandang budak itu sekali lagi. Kali ini aku melihatnya bukan sebagai seorang kanak-kanak, tetapi sebagai cermin yang memaparkan sesuatu yang telah lama aku tinggalkan. Aku menghela nafas panjang, merasakan beban dalam dadaku mula berubah bentuk. Ia tidak hilang, ia tidak lagi menekan seperti sebelumnya. Dalam diam itu, aku sedar bahawa kekuatan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang ia hadir dalam kata yang paling ringkas. Kata yang tidak cuba meyakinkan, tetapi tetap mengubah.

            Senja turun perlahan seperti kain lembut yang menutup wajah langit, membawa bersama warna-warna yang tidak pernah sama setiap hari. Cahaya matahari mula melemah, dan bayang-bayang memanjang seperti ingin melarikan diri daripada tubuh masing-masing. Angin bergerak perlahan, membawa bau makanan dari rumah-rumah yang bersiap untuk berbuka. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Mak yang masih duduk di tempat yang sama, seperti tiang yang tidak pernah berpindah. Pinggan di hadapanku sama seperti pagi tadi, sederhana dan jujur. Aku duduk perlahan, merasakan tubuhku seperti baru sahaja pulang dari perjalanan yang panjang. Perutku masih kosong, tetapi kosong itu tidak lagi menyakitkan seperti sebelumnya. Ia diam, seperti sesuatu yang telah menerima takdirnya. Dalam diam itu, aku merasakan satu ketenangan yang tidak pernah aku kenal sebelum ini.

            Aku memandang Mak, dan dalam pandangan itu, aku melihat sesuatu yang selama ini aku tidak pernah benar-benar perhatikan. Ada cahaya yang tidak datang dari luar, ia dari dalam dirinya sendiri. Cahaya itu tidak terang, cukup untuk menerangi ruang yang sempit ini. Aku merasakan dadaku menjadi hangat, tetapi kerana sesuatu yang bergerak perlahan di dalamnya. Nafasku menjadi lebih dalam. Setiap hela nafas terasa lebih bermakna. Aku menundukkan wajah kerana aku tidak mampu menahan apa yang sedang aku rasa. Dalam diam itu, aku sedar bahawa aku sedang berubah, walaupun perlahan. Perubahan itu tidak datang dari luar, tetapi dari dalam. Dari tempat yang selama ini aku abaikan.

            “Allahu Akbar…”

            Azan itu berkumandang dari surau kecil di hujung lorong. Suaranya tidak kuat, tetapi ia menembusi segala yang ada di sekelilingku. Ia tidak datang sebagai bunyi semata-mata dan sesuatu yang hidup. Ia masuk ke dalam telingaku, turun ke dada, lalu meresap ke dalam tulang-tulang yang telah lama dahaga. Aku merasakan setiap ruas dalam tubuhku bergetar, seperti menyambut sesuatu yang telah lama ditunggu. Suara itu tidak berhenti di permukaan, terus masuk ke dalam, ke tempat yang paling dalam. Air mataku jatuh tanpa aku sedari, mengalir perlahan seperti sesuatu yang akhirnya menemui jalannya. Lapar yang tadi menyakitkan kini berubah menjadi sesuatu yang suci. Sesuatu yang tidak lagi menekan, ia membimbing. Dalam detik itu, aku tidak lagi merasa kosong. Aku merasa penuh, dengan cara yang tidak dapat aku jelaskan.

            “Aiman, berbukalah,” ujar Mak.

            Aku mencapai air dengan tangan yang perlahan, merasakan getaran yang masih tinggal di dalam tubuhku. Seteguk air itu mengalir ke dalam diriku seperti rahmat yang lama menunggu untuk diterima. Ia tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi membuka sesuatu yang lebih dalam. Nasi yang aku makan terasa berbeza, walaupun ia sama seperti sebelumnya. Dalam setiap suapan, ada makna yang tidak pernah aku rasakan sebelum ini. Aku memandang Mak. Kali ini aku benar-benar melihatnya. Bukan hanya sebagai ibu, tetapi sebagai cahaya yang tidak pernah padam. Dalam pandangan itu, aku merasa pulang. Pulang ke sesuatu yang selama ini aku tinggalkan tanpa sedar.

            Selepas berbuka, aku duduk seketika, membiarkan tubuhku menerima apa yang baru sahaja berlaku. Kota di luar masih bising, masih penuh dengan suara yang tidak pernah berhenti. Namun dalam diriku, ada sunyi yang baru. Sunyi yang tidak kosong, juga penuh dengan sesuatu yang hidup. Aku menarik nafas perlahan, merasakan udara masuk dan keluar dengan ritma yang tenang. Dalam sunyi itu, aku mendengar sesuatu yang tidak pernah aku dengar sebelum ini. Bukan suara luar, tetapi suara dalam. Suara yang selama ini tenggelam oleh kebisingan dunia.

            Aku bangun perlahan dan melangkah keluar menuju surau di hujung lorong. Langkahku terasa ringan, walaupun tubuhku masih letih. Jalan yang sama kini terasa berbeza, seperti aku melihatnya dengan mata yang baru. Lampu-lampu kecil mula menyala, menerangi jalan dengan cahaya yang sederhana. Angin malam menyentuh wajahku, membawa kesejukan yang menenangkan. Dalam perjalanan itu, aku merasakan setiap langkah membawa aku lebih dekat kepada sesuatu yang aku tidak pernah benar-benar fahami sebelum ini. Sesuatu yang tidak dapat dilihat, aku dapat dirasakan.

            Aku melangkah masuk ke dalam surau kecil itu, melihat wajah-wajah yang berkumpul dalam diam. Mereka berdiri dalam saf yang rapat, seperti barisan yang tidak memerlukan kata-kata. Aku berdiri bersama mereka, merasakan kehadiran yang sama mengalir di antara kami. Dalam diam itu, aku mengangkat tangan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Aku merasa aku benar-benar hadir. Tidak lagi terpisah. Tidak lagi hilang.

            Setiap gerakan dalam solat terasa berbeza, bukan kerana ia baru, tetapi kerana aku yang berubah. Setiap bacaan terasa hidup, seperti kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya. Dalam sujud, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah aku rasa sebelum ini. Bukan hanya tunduk. Aku benar-benar menyerah. Dalam penyerahan itu, aku merasa bebas. Bebas daripada sesuatu yang selama ini mengikat tanpa aku sedari.

            Apabila aku bangun dari sujud, aku merasakan tubuhku ringan seperti sesuatu yang telah dilepaskan. Nafasku dalam, dan dadaku tidak lagi sempit seperti sebelumnya. Aku memandang ke hadapan, melihat ruang yang sama, tetapi dengan rasa yang berbeza. Dalam ruang itu, aku melihat diriku yang baru. Bukan sempurna, tetapi sedang belajar untuk menjadi.

            Azan itu tidak lagi datang dari menara. Ia kini hidup di dalam diriku, bergetar dalam tulang-tulang yang pernah dahaga. Ia mengalir dalam darahku, bernafas bersama setiap hela nafasku. Dahaga itu masih ada, tetapi ia tidak lagi menyakitkan. Ia telah menjadi jalan. Jalan pulang yang selama ini aku cari tanpa aku sedari. Dalam perjalanan itu, aku akhirnya menemui diriku sendiri.

  


 Biodata

Jaya Ramba dari etnik Dayak berasal dari Miri Sarawak Malaysia. Penulis ini merupakan novelis dan cerpenis Malaysia dan telah menghasilkan lebih 40 buah novel dan lebih 8 kumpulan cerpen persendirian. Beliau banyak memenangi sayembara di peringkat negeri, kebangsaan dan antarabangsa. Hingga kini, beliau terus prolifik demi masyarakatnya.

 

Isnin, 30 Mac 2026

SENJA MELODI FANA: Karya Siti Hasnah Zainal Abidin

 SENJA MELODI FANA


Bayu Ramadan menyapa lembut, menyusup masuk melalui celah-celah jendela kayu yang separuh terbuka di bilik usang itu. Sayup-sayup dari kejauhan, beralun merdu ayat-ayat suci Al-Quran dari masjid kampung, petanda tadarus sedang rancak berjalan. Bagi penduduk kampung, Ramadan kali ini tetap disambut meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia masih bulan pesta ibadah; di mana pasar Ramadan meriah dengan pelbagai juadah, rumah-rumah berbau harum dengan masakan bersahur, dan masjid terang-benderang menghidupkan malam. Namun, di atas katil lebar yang dipenuhi bantal kecil di kiri dan kanannya, terbaring susuk tubuh yang hanya diselimuti sehelai kain batik lepas. Buat raga ini, dunia luarnya kelihatan sungguh berbeza.


Mak Bedah terbaring lesu. Matanya terpejam, bukan kerana lena, tetapi kerana kelopak mata itu terasa terlalu berat untuk diangkat. Usianya sudah menjengah ke penghujung senja. Tubuh yang suatu ketika dahulu gagah membanting tulang membesarkan anak-anak, kini hanya tinggal balutan kulit nipis yang membalut tulang-temulang rapuh.


Di sebalik pejam matanya, layar ingatan memutarkan kembali memori sedekad setengah yang lalu. Sudah 15 tahun berturut-turut Mak Bedah menghabiskan bulan puasa di rumah anak bongsunya, jauh merantau di negeri orang berbeza dari halaman asalnya. Dia amat merindui suasana di sana. Di kediaman bertingkat itu, kerusi rodanya tidak pernah menjadi penghalang. Dia bebas ke surau yang selesa dan terletak di dalam bangunan yang sama, membolehkannya tidak pernah culas mengerjakan tarawih berjemaah. Hati tuanya sentiasa terusik dan damai mendengar alunan suara merdu imam jemputan setiap kali solat Isyak dan tarawih didirikan. Bukan itu sahaja, rezekinya di sana sentiasa melimpah-ruah umpama air yang mengalir. Saban hari, pasti ada sahaja jiran tetangga yang bermurah hati menyedekahkan pelbagai juadah berbuka dan hidangan moreh yang lazat-lazat.


Namun tahun ini, takdir melakar garisan yang berbeza. Ramadan yang saban tahun diulit rindu dan didakap teruja, kini menjengah membawa suatu rasa asing, sebuah ketidakdayaan yang kejam merobek sanubari, memaksanya akur terpasung sepi di kamar usang ini. Mak Bedah tidak lagi berpuasa. Hakikat yang satu itu sudah cukup untuk memecahkan takungan jernih di kelopak matanya setiap kali sayup tarhim menyapa hening sahur, dan setiap saat azan Maghrib bergema menandakan rimbanya waktu berbuka. Jasad tuanya tidak lagi ampuh menahan lapar dan dahaga. Tubuh yang kian mengering itu menagih tegukan air dan suapan rezeki yang bersisa, sekadar untuk terus bernafas. Makan dan minumnya kini sekadar singgah di hujung tekak, dalam kuantiti yang amat sedikit tetapi kerap. Kerongkongnya seakan mengecil menyekat laluan, hingga acap kali dia tersedak perit saat memerah kudrat untuk menelan. Segala-galanya kini bersandar pada ihsan. Dia hanya mampu terbaring menanti anaknya melangkah masuk membawa dulang rezeki. Di sebalik duka, mekar kudup kesyukuran di hatinya, bersyukur dikurniakan zuriat yang amat mengerti selera ibunya, yang sabar merincik lauk menjadi cebisan halus, dan menyuapkannya dengan penuh kelembutan. Sungguhpun begitu, jauh di dasar sanubari, keinginan untuk mengecap kembali nikmat berlapar kerana Allah itu tidak pernah terpadam, malah membuak-buak. Benarlah... puasa ditinggal, raga tak daya, gugur kudrat di hujung senja.


Apabila malam melabuhkan tirainya, penderitaan Mak Bedah sering kali bertukar menjadi igauan. Malam yang sepatutnya menjadi waktu untuk tubuh berehat, bertukar menjadi medan pertempuran menahan kesakitan. Seluruh badannya, dari pangkal leher hingga ke hujung jari kaki, terasa sengal dan berbisa. Urat-urat tuanya seakan-akan ditarik-tarik. Sering kali dia mengerang perlahan, takut-takut suaranya mengejutkan anak menantu yang sedang tidur. Matanya terbeliak memandang siling dalam kegelapan, merintih mencari secebis lena. Embum menitik di luar tingkap, lena dicuri oleh denyutan sakit yang tidak berkesudahan. Hanya kadangkala, dia berjaya tertidur sekejap, namun buaian lena itu selalunya rapuh, dipecahkan kembali oleh batuk atau rasa ngilu di dada.


Derita keuzurannya tidak bernoktah di situ. Waktu makan yang suatu ketika dahulu meriah dengan derai tawa keluarga, kini berubah menjadi medan ujian yang meremas dada. Selera makannya telah lama mati, membiarkan setiap suapan rezeki terasa umpama sembilu yang menghiris kerongkong. Untuk menjamah makanan, Mak Bedah lebih gemar didudukkan di atas kerusi rodanya. Sekurang-kurangnya, posisi itu memberikannya sedikit keselesaan dan ruang untuk raga lelahnya bergerak, berbanding hanya terpasung kaku di pembaringan.  Namun, dia tidak pernah berdaya bertahan lama. Dia hanya mampu mengunyah secebis makanan, ia terpaksa dilakukan dengan sangat perlahan, seolah-olah perbuatan ringkas itu memerah kering segala sisa kudrat yang ada. Malah acap kali, dia tewas di tangan air liurnya sendiri; tersedak teruk hingga dadanya berombak kencang mencungap mencari nafas. Kerap benar terjadi, belum pun sempat sisa kunyahan di dalam mulut ditelan, kepalanya sudah melentok diulit lena di kerusi roda itu, memaksa si anak mengejutkannya kembali dengan usapan lembut. Akhirnya, tidak sampai sepuluh minit bertarung dengan makanan, bibir pucatnya pasti akan merintih lesu, merayu mengalah agar jasadnya dibaringkan semula ke hamparan tilam.


Lebih merobek jiwa, solat yang sedari dulu menjadi tiang seri kehidupannya kini umpama bayang-bayang yang semakin sukar digapai. Mak Bedah tidak lagi mampu berdiri membumi, apatah lagi membongkok rukuk membesarkan Ilahi. Raga tuanya hanya mampu berteleku kaku di atas kerusi roda. Namun, ujian paling perit bukanlah pada kudrat fizikalnya. Bait-bait al-Fatihah yang dahulunya lancar meniti di bibir, kini tersekat-sekat dan berterabur. Di pertengahan munajat, buaian lena sering kali merampas kesedarannya tanpa diundang. Dia tewas, bingung dan terlupa rakaat yang didirikan. Malah, dia sama sekali tidak menyedari juraian air liurnya yang menitik membasahi dada telekung kuning tatkala jasadnya terleka di rakaat yang tergantung. Hatinya sentiasa meronta mahu melengkapkan kewajipan lima waktu secukupnya, namun apakan daya, ia sekadar tinggal hasrat yang tersangkut di pinggir bibir. Dia buntu. Ilmu untuk bersolat secara berbaring mahupun dengan isyarat kelopak mata benar-benar tidak difahaminya. Walau dipandu dan dibisikkan ke telinga oleh anaknya berulang kali, kotak fikirannya sering kali berubah menjadi ruang yang kosong dan gelap. Segala bacaan luput tenggelam, ditarik pergi oleh kejamnya usia dan penyakit yang menghakis ingatan. Dan pada saat-saat kepasrahan inilah, air matanya akan mengalir lesu di hujung pelipis, meratapi rindu yang tidak terluah pada tikar sejadahnya.


"Ya Allah, ampunkan aku. Aku tidak ingat bacaan menghadap-Mu..." bisik hatinya, pecah dalam sebak yang tidak bersuara. Sujudnya kini hanya di dalam hati. Rebahnya di tikar malam menjadi rebah seorang hamba yang pasrah, menyerahkan seluruh jiwa raganya yang hancur kepada Tuhan Rabbul Alamin.


Dalam keadaan lumpuh keupayaan mengurus diri, hidup Mak Bedah bergantung seratus peratus kepada zuriat yang dilahirkannya. Ibarat akar nan tua yang menagih teduh, pada dahan zuriatlah tempatnya berlabuh. Ramai anaknya, masing-masing sudah berkeluarga dan punya kehidupan sendiri. Mak Bedah sedar, menguruskan orang tua yang terlantar sakit, yang tidak menentu jadual tidur dan buang airnya, bukanlah tugas yang mudah.


Ada ketikanya, telinga tuanya yang masih peka itu menangkap keluhan berat. Dia perasan riak wajah yang kepenatan, dengusan nafas yang tertahan-tahan, dan kadang-kadang kata-kata yang dilepaskan tanpa sengaja namun tajam menghiris hati. Ada budi yang mula dikira. Ada keringat yang mula diungkit secara halus. Setiap kali situasi itu berlaku, Mak Bedah hanya memejamkan mata. Dia tidak marah, jauh sekali mahu mendoakan keburukan. Dia tahu, dia kini menjadi 'beban' kepada darah dagingnya sendiri.


Dalam keheningan itu, hatinya sering meronta merindui dua orang anaknya yang paling serasi di jiwanya. Mak Bedah suka sangat duduk dengan mereka, kerana belaian dan cara mereka bercakap dengannya cukup melembutkan hati tuanya. Namun apakan daya, kedua-dua anak kesayangannya itu terpaksa merantau jauh. Anak-anak yang merantau buana itu hanya mampu menelefon, bertanya khabar, dan pulang sesekali apabila cuti mengizinkan. Mereka sibuk mencari rezeki di negeri orang. Mak Bedah faham, dan dia tidak pernah memaksa. Tinggallah dia di sini, menghitung hari, dengan hanya doa yang mengikat sukma dari kejauhan.


Namun, di sebalik segala kepahitan dan keluhan, Allah itu sifatnya Maha Adil lagi Maha Penyayang. Mak Bedah sangat bersyukur kerana di sebalik anak-anak yang mungkin sibuk dan berkira, masih ada di antara mereka yang ikhlas menjaga dan memeliharanya tanpa banyak soal. Tangan-tangan inilah yang tanpa jemu mencuci najisnya, yang sabar menyuapkan makanan biarpun mengambil masa hampir sejam, dan yang menghulur botol air kepadanya di tengah malam. Kasih sayang mereka yang tulus inilah yang menjadi penguat semangat Mak Bedah untuk terus bernafas. Dia bersyukur, teramat bersyukur. Allah masih menghantar malaikat penjaga dalam bentuk darah dagingnya sendiri untuk memeliharanya di saat dia sudah tidak berguna di mata dunia.


Hari raya semakin hampir mengetuk pintu Ramadan. Suasana di rumah mula meriah dengan kepulangan anak cucu. Seperti kelaziman setiap tahun, inilah masanya anak-anak akan berbaris bersalaman, memohon ampun, dan menghulurkan sampul duit raya.


Beratus-ratus ringgit duit dihulurkan kepada Mak Bedah. Sampul-sampul pelbagai warna diletakkan di bawah bantalnya atau diselitkan di tangannya yang terketar-ketar. Zaman dahulu, jika mendapat wang sebanyak ini, Mak Bedah pasti gembira. Boleh dibelinya kain baju baharu, bahan-bahan untuk membuat juadah raya, atau disedekahkan kepada cucu-cucu yang berlari riang di halaman.


Tetapi kini, duit raya bernilai ratusan ringgit itu hambar. Tawar. Tidak membawa apa-apa makna kepadanya. Huluran duniawi itu terasa sarat dan berat di ribanya, namun kosong di jiwa. Jasad yang sudah menghitung hari ini tidak perlukan wang kertas untuk bertahan. Dia tidak boleh pergi ke kedai, dia tidak boleh makan makanan yang lazat, dan dia tidak berminat lagi dengan perhiasan dunia. Apalah erti wang jika raga ini hanya menunggu masa untuk dijemput pulang?


Suatu petang yang hening, ketika anak perempuan yang paling banyak berkorban menjaganya sedang duduk menemaninya di tepi katil, Mak Bedah menggagahkan diri untuk bersuara. Tangannya yang berkedut dan sejuk mencapai tangan anaknya. Dengan perlahan, dia menolak himpunan sampul duit raya yang berada di tepi bantalnya ke arah anak itu.


"Mak... kenapa ni?" tanya anaknya, lembut.


Bibir Mak Bedah yang kering bergetar-getar, merangka kata-kata yang keluar satu-persatu, diiringi hembusan nafas yang lelah. "Ambillah duit ni, nak... Mak dah tak guna. Duit ni... tak boleh bawa mak masuk syurga. Tolong mak... sedekahkanlah hartaku ini... Masukkan ke tabung masjid... Bagi pada fakir miskin... Buat atas nama mak... untuk Ramadan ni..."


Anak perempuannya terkedu. Air mata jernih mula bertakung di kelopak mata sebelum menitis laju menimpa kekura tangan ibunya. Dia mengangguk perlahan, memeluk tangan ibunya dengan erat. "Baik, mak. Siti janji, Siti tolong sedekahkan semua ni untuk mak. Jadi pahala mak, jariah mak."


Mendengar jawapan itu, satu kelegaan yang amat luar biasa mengalir di segenap pembuluh darah Mak Bedah. Beban dunia yang dirasakannya sebentar tadi seakan-akan terangkat. Biar beratus sampul kencana, tawar nilainya di raga fana. Namun kini, terubat duka di dalam sanubari melihat anak menyemai harta itu menjadi bekal ukhrawi. Dia sedar, harta yang dipegang akan lenyap, tetapi harta yang dilepaskan ke jalan Allah itulah yang akan menunggunya di alam barzakh kelak.


Semenjak hari itu, sisa-sisa Ramadan Mak Bedah dipenuhi dengan ketenangan yang berbeza. Walaupun badannya masih menanggung sakit, walaupun malamnya masih dihantui kesukaran untuk tidur, hatinya tidak lagi memberontak. Dia membiarkan dirinya pasrah seumpama dedaun kering di hujung ranting. Biar luruh dedaun kering, tiba masanya ia pasti akan jatuh memeluk bumi. Begitu juga usianya.


Di tengah-tengah ketidakmampuannya membaca surah atau bersolat dengan sempurna, Mak Bedah mencari hikmah kerohanian yang paling asas, zikir. Pada setiap detik, sama ada kelopak matanya tertutup atau terbuka sedikit, bibirnya tidak lekang daripada bergetar.


Subhanallah... Alhamdulillah... Allahuakbar... Lailahaillallah...


Hanya kalimah-kalimah mudah ini yang terdaya diucapkannya. Zikir di bibir perlahan diiring, menyatu dengan rentak nafasnya yang kadang kala tersekat-sekat. Itulah ibadahnya sekarang. Itulah satu-satunya ikatan yang menghubungkan jiwanya yang rapuh dengan Penciptanya. Bunyinya mungkin perlahan, tidak didengari oleh anak cucu yang sedang riuh bersembang di ruang tamu, tetapi alunan itu bergema kuat di langit.


Ia menjadi melodi jiwa yang meratib hiba. Melodi seorang hamba yang lemah, tiada daya selain mengharapkan rahmat Tuhannya di alam fana. Dia tidak lagi mempedulikan andai umurnya tidak memanjang ke Syawal, mahupun jika ada yang terlupa menyuapnya makan. Pangkat ibu yang perlu dihormati pun telah dia letakkan ke tepi.


Di hujung setiap zikirnya dalam gelap malam Ramadan yang suci, air mata Mak Bedah mengalir lesu di pelipis. Bukan tangisan meminta ajal, tetapi esakan hamba yang sedang mengutip sisa kekuatan untuk bersabar menelan kepahitan ini.


"Tuhanku... berikanlah aku sebesar-besar kesabaran. Tubuh ini bukan sahaja menyeksaku, malah menguji lelah zuriatku. Berdosa sungguh rasanya apabila erangan sakitku memecah lena mereka. Terpaksa mereka bingkas meninggalkan selimut hangat demi melayan dahagaku, membetulkan baringku, dan menyucikan lampinku yang melimpah. Janganlah keuzuranku ini mencalar keikhlasan mereka. Kuatkanlah semangatku, Ya Allah," getus jiwanya sayu membelah keheningan.


Segala kesakitan duniawi ini pasrah diterimanya sebagai proses pencucian dosa. Syurga-Mu yang daku damba. Hanya keredaan-Nya menjadi destinasi terakhir Mak Bedah, diiringi melodi jiwa yang terus berzikir mendakap ujian dengan reda tidak bertepi.



Biodata penulis:

Siti Hasnah Zainal Abidin merupakan seorang guru bahasa Melayu di Universiti Sains Malaysia (USM) dan gemar terlibat dalam pelbagai inovasi pengajaran dan inovasi pedagogi. Di samping dedikasi teguhnya dalam bidang pendidikan, jiwa seni beliau turut terserlah menerusi penulisan kreatif seperti cerpen 'Pokok Lada Tua'. Bakat seninya yang serba boleh juga terbukti apabila beliau berjaya merangkul gelaran juara dalam pertandingan deklamasi puisi serta penghasilan video pendek kreatif bersempena dengan program SEJIWA USM.

TAKBIR BELANGGUR NYAMPLUNGAN: Karya Yusufachmad Bilintention

  Takbir Belanggur Nyamplungan   Menara Masjid Ampel menjulang, membelah langit Surabaya indah menawan. Di pelataran, jamaah berjeja...

Carian popular