Cinta yang Tak Pernah Punya Rumah
Oleh Nurul Afifah Binti Rahim
Aku menemui cinta itu bukan pada waktu yang tepat,
bukan pada jiwa yang tersedia untuk aku singgahi.
Dia datang sebagai cahaya,
tapi cahaya itu sudah pun menerangi hati orang lain.
Namun aku tetap jatuh
tanpa sempat mendirikan dinding
untuk melindungi hatiku sendiri.
Kita berbicara tentang mimpi,
tentang perjalanan jauh yang ingin kita tempuh berdua,
tentang hari-hari yang kita bayangkan
penuh tawa dan lena di bahu yang kita rindu.
Semua itu terasa begitu benar,
seolah-olah takdir sedang memanggil kita
dengan suara yang cuma kita berdua dapat dengar.
Tapi setiap kali aku memandang matanya,
aku terlihat bayang seseorang yang bukan aku.
Dan di situlah seksanya
mencintai seseorang yang hatinya telah pun dijahit
dengan nama selain namaku.
Aku cuba melangkah pergi,
namun setiap langkah seperti mengoyakkan seluruh tubuhku.
Kerana bagaimana harus aku pergi
daripada cinta yang membuatku hidup kembali?
Cinta yang membenarkan aku bermimpi,
walaupun mimpi itu tidak pernah punya rumah
untuk aku diami.
Malam-malamku penuh doa yang tidak pernah aku sebutkan namanya,
doa yang hanya Tuhan tahu betapa sakitnya menahan harap
pada sesuatu yang aku rela lepaskan
demi bahagianya di sisi orang lain.
Dan hari ini,
aku belajar mencintai dalam diam
mencintai tanpa meminta,
merindu tanpa memanggil,
mengimpikan tanpa memilik.
Kerana ada cinta,
yang hadir untuk menghidupkan kita,
bukan untuk bersama kita.
Ada bahagia,
yang perlu kita lepaskan
agar ia tetap bahagia
meski bukan bersama kita.