Ahad, 31 Ogos 2025

Kebangkitan Pahlawan
Karya: Alexsius Ahi


Pahlawan gagah berjiwa berani
Berdiri teguh menentang musuh
Peluh dan darah jadi saksi
Semangat waja tidak pernah rapuh
Namamu harum sepanjang zaman.


Kau bukan hanya mengangkat senjata
Tetapi juga mempertahan maruah
Dengan tekad tidak pernah goyah
Menghadapi cabaran tanpa menyerah
Pahlawan jasamu tidak ternilai.


Bumi merdeka hasil perjuanganmu
Tanah subur bebas dari belenggu
Air mata rakyat jadi penawar
Bila kau gugur demi negara
Kami hidup dalam cahaya merdeka.


Hari ini kami berdiri megah,
Menghirup udara aman nan indah
Kerana darahmu jadi taruhan
Kerana jiwamu jadi pertahanan
Oh pahlawan kami tidak lupa.


Generasi baharu akan meneruskan
Warisan perjuangan penuh keberanian
Namamu kekal dalam lipatan sejarah
Jasa dan pengorbanan jadi pedoman
Pahlawan kau abadi di hati bangsa.

Kampung Alitang
28/8/2025

 Seorang Pahlawan Membawa Merdeka

Yuzreel Toneh


Di tanah yang lama dijajah 

berlari seorang pahlawan gagah

berselimut semangat membara 

bersumpah setia demi negara.


Langit kelam diselubung duka

namun tekadnya tetap membara

bertarung nasib dengan percaya

setiap langkah penuh makna

demi tanah air tercinta.  


Tiada senjata tiada bala

hanya kata jadi senjatanya

menulis nasib di lembar sejarah

menentang penjajah penuh maruah

dengan harapan menjulang megah.  


Namanya hidup dalam bicara

di desa kota hingga seluruh negara

membangkit semangat yang lama lena

membina bangsa tanpa sengketa

menuju kemerdekaan yang sempurna.  


Kini kita berdiri megah

di bumi bebas merdeka indah

namun jasa jangan dilupa 

pahlawan dahulu wira sebenar

yang berkorban jiwa dan sabar.


SMK Penangah, Telupid 

(28 Ogos 2025)

 TAMAN MERDEKA 


Kebun yang indah itu bernama kemerdekaan

Dimana bunga asa tumbuh bermekaran

Wangi semerbak menyebar dalam bunga setaman


Di tepian terdapat kolam berisi ikan

Berhiaskan patung angsa bak melayang 

Nuansa menawan penuh keindahan 

Sesekali melintas burung terbang


Sawah keemasan menambah kekaguman

Takjub menampak dewa begitu gagah

Tawa lirih dewi terdengar renyah


Inilah taman kemerdekaan

Bebas dari belenggu penjajahan

Wadah anak negeri memangkur masa depan


Barito Selatan, 31 Agustus 2025

~ nani ~

 KEMERDEKAAN 


Merdeka

Laksana burung yang terbang

Bak sayap yang membentang

Membumbung bebas melayang


Merdeka

Laksana ombak yang bergelora

Bak gelombang dengan gemuruh bagai paduan suara


Merdeka

Laksana pelangi setelah hujan

Bak bidadari turun dari kayangan


Merdeka

Laksana mentari yang bersinar

Bak bintang dengan redup memancar


Merdeka

Laksana cahaya dengan benderang keindahan

Bak malaikat dengan kesucian


Barito Selatan, 31 Agustus 2025

~ nani ~

 DIRGAHAYU NEGERI-KU


Merdeka

Seharusnya tidak berduka

Seharusnya dirayakan penuh suka cita

Seharusnya tumbuh subur merata

Bukan hanya pemilik tahta


Berjuang dengan darah dan air mata

Jangan  khianati dengan janji semata

Kemerdekaan adalah kebebasan tanpa syarat dan nota


Dirgahayu Ibu Pertiwi

Gemah ripah loh jinawi

Negeri ini adalah taman syurgawi


Barito Selatan, 

31 Agustus 2025

~ nani ~

 TERUNTUK DEWAN KONOHA 


Satu tunas bangsa sudah menjadi korban

Untuk anggota Dewan yang hanya peduli jabatan

Nyawa hanya permainan

Uang menjadi kerajaan


Rakyat diberi janji-janji tak pasti

Tak satupun mengena di hati

Bahkan pajak dijadikan upeti

Mungkin nyawa kalian tak mati


Lupa pada dunia yang fana

Fana yang membuat kalian terlena

Terlena dengan kekayaan yang sesat

Sesat berujung laknat


30 Agustus 2025

~ nani ~

Pemenang Puisi Mingguan

Tema: Kemerdekaan, Patriot/Pahlawan

TAHNIAH SEMUA!!


















PAHLAWAN TAK BERSAYAP 

Karya:  Pethbenny



Di pangkuan bumi yang tak pernah luka

Ada namamu terpatri selamanya

Bukan sekadar wajah yang memikat mata

Namun jiwa perkasa cahaya bangsa.


Kau melangkah tanpa mahkota

Namun kejayaanmu melebihi para raja

Di setiap hela nafasmu ada doa

Di setiap detak jantungmu ada cinta


Cantikmu bukan pada rupa semata 

Melainkan keberanian yang tiada tara 

Kau menantang badai dengan senyuman yang tegar

Mengusung harapan setinggi gemintang sabar.


Peluhmu adalah tinta kemerdekaan

Darahmu adalah bait perjuangan 

Kau menulis sejarah di atas luka

Menjahit mimpi dengan jiwa yang rela.


Engkau tak bersayap namun melangit

Engkau tak bersuara namun abadi terdengar 

Wahai pahlawan penopang jiwa negeri

Cahaya namamu takkan pernah padam lagi.


Selama langit menaungi bumi

Engkau tetap hidup disetiap hati kami.


KELAS 6 ALAMANDA 2 

27/8/2025

 Suhaimi Jasnah

Pahlawan Kemerdekaan


Dalam gelita penjajahan yang membatu

muncul bayangmu, laksana bayu berduri

langkahmu deras menentang badai

di dada terpahat sumpah abadi

tanah ini bukan untuk diinjak hamba


Darahmu bukan sekadar tumpah

tapi tinta pada manuskrip kemerdekaan

tulangmu retak bukan lemah

tetapi tiang kepada langit kebebasan

kau teguh, meski langit runtuh.


Apakah takut itu wujud dalam jiwamu?  

atau kau tukarkannya menjadi bara perjuangan

rantai besi kau patahkan dengan doa

peluru menjadi irama dalam zikirmu

dan tangisan bangsa jadi alasan kau mara.


Bendera belum berkibar waktu itu

tapi dalam matamu  langit sudah cerah

kau bukan wira bersayap mitos

tetapi insan, yang mengangkat dunia  

dengan sekeping hati yang tidak gentar.


Kini, kami melangkah atas tapakmu

tetapi benarkah kami sedar erti bebas?  

kau relakan segalanya demi bangsa

apakah kami mampu menjaganya?  

pahlawan, rohmu jadi cermin untuk kami.



SMK Penangah, Telupid 

(27 Ogos 2025)

 JEJAK PERSAHABATAN SERUMPUN

Karya Eduar Daud-Riau-Indonesia


Di Padang, di bawah langit biru Ranah Minang, sebuah festival literasi menyatukan jiwa-jiwa yang datang dari jauh. Namanya International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Di sanalah, takdir mempertemukanku dengan Zamri dan Pangeran Hanafi dari Brunei Darussalam, serta Syahrizad dari Terengganu.

Pertemuan itu sederhana—sebuah sapaan, seulas senyum, lalu percakapan tentang kata-kata dan makna. Namun dari simpul sederhana itu, terajut benang persahabatan yang semakin menguat, seperti tenunan songket yang tidak mudah terurai.

Waktu berjalan, jarak bukan lagi penghalang. Kami saling berkabar, berbagi karya, hingga akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di Bandar Seri Begawan, pada saat digelarnya National Theatre Festival Brunei. Di sana, persaudaraan itu menemukan nadinya: suara yang serupa, hati yang sehati.

Dari Brunei kami melangkah ke pentas yang lebih luas: Suara Serumpun, Festival Puisi 3 Negara. Bait-bait kami bertemu, menyatu, menjadi jembatan yang melampaui batas bendera dan garis peta. Lalu, janji pun terucap: 12 Oktober 2025, Kuala Lumpur, sebuah peluncuran buku akan menjadi saksi bahwa persahabatan ini tak hanya tercatat di hati, tapi juga di lembar sejarah.

Dan janji lain pun menyusul: 24 Mei 2026, kami akan berkumpul di Riau, menyusuri jejak sejarah di Istana Siak Sri Indrapura, sebelum beranjak ke Bukittinggi, menghadiri IMLF ke-5. Seperti sungai yang mengalir ke muara, perjalanan ini seolah sudah digariskan.

Kami percaya, persahabatan yang lahir dari sastra adalah persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu. Di antara kata-kata, kami menemukan rumah; di antara pertemuan, kami menemukan makna.


Pekanbaru, 30 Agustus 2025

 Aku, Pejuang Pendidik Merdeka

Karya Nurul Afifah Binti Rahim

 


Aku bukan berpedang di medan perang,

tidak menentang musuh dengan peluru dan senapang,

tetapi aku berjuang di ruang kelas,

dengan pena, papan putih, dan suara yang tak pernah lelah.

 

Aku mendidik anak Felda, tumbuh di bumi sederhana,

ayahku guru, mulutnya sarat nasihat dan tawa,

“Jagalah solat, jagalah bangsa,

merdeka itu bukan sekadar kata,

tapi amanah yang perlu dijaga.”

 

Kini ayah tiada,

namun pesannya mekar dalam dada,

setiap langkahku ke sekolah,

seakan aku menyambung perjuangan yang ditinggalkannya.

 

Aku berdiri di hadapan murid-muridku,

ada yang pemalu, ada yang lantang,

ada yang berjuang membaca sebaris ayat,

ada pula yang ingin melangit tinggi dengan robot dan kamera.

Aku mendidik mereka semua,

kerana pada mereka, masa depan bangsa bergantung nyawa.

 

Merdeka bagiku adalah bebasnya jiwa dari gelap,

bebasnya anak-anak desa dari buta huruf,

bebasnya minda daripada takut untuk bermimpi,

bebasnya suara daripada terkurung sunyi.

 

Aku diriku seorang pejuang pendidik,

meski tidak berhujah di parlimen,

tidak menulis dasar-dasar negara,

tetapi aku menulis di hati anak-anak kecil,

bahawa mereka mampu, mereka berharga,

mereka pewaris merdeka.

 

Di layar TVPSS SEPARATU,

kami rakam wajah bangsa,

kisah kejayaan kecil jadi cahaya,

temubual bersama menteri, suara murid Felda,

semuanya adalah bukti,

bahawa guru tidak sekadar mengajar,

tetapi membina sejarah.

 

Aku bukan tokoh terkenal,

namaku tak tercatat dalam buku teks sekolah,

tetapi setiap peluh, setiap doa,

adalah jihad kecil seorang wanita biasa,

yang percaya ilmu itu senjata,

dan pendidikan itu benteng merdeka.

 

Selagi nafasku masih bersisa,

selagi murid-murid masih menanti di pintu kelas,

aku akan terus berdiri,

sebagai guru, sebagai anak bangsa, sebagai pendidik merdeka.

 

Kerana merdeka ini tidak diwarisi percuma,

ia harus dijaga, ia harus dihidupkan,

dan aku sebagai pendidik di bumi Felda

akan terus menyulam perjuangan,

dengan cinta, ilmu, dan doa.

 

  

 

Biodata Penulis

 Nurul Afifah Binti Rahim


 

Nurul Afifah Binti Rahim dilahirkan di Negeri Kelantan. Berminat dalam bidang penulisan sejak bangku sekolah lagi. Berkidmat sebagai seorang guru di Sekolah Kebangsaan (FELDA) Lepar Utara 1 Jerantut, Pahang Malaysia.

+6012-9828069

 

 Pengorbananmu Kemerdekaan Kami

Karya: Dyerenilly


Di medan luka engkau berdiri gagah

Peluru dan pedang bukan penghalang maruah

Darahmu gugur jadi tinta sejarah

Semangatmu berkobar tiada menyerah

Pahlawan, namamu harum sepanjang arah.


Air mata ibu jadi doa restu

Menunggu kepulangan anak yang satu

Namun jasadmu terbaring kaku

Demi bangsa engkau merelakan nyawa

Pengorbananmu suci tiada ternilai harta.


Gelap penjajahan membelenggu bumi

Engkau bangkit membawa nur cahaya

Dengan tekad dan jiwa berani

Menghapus belenggu perhambaan bangsa

Membuka pintu merdeka yang mulia.


Kami kini berdiri di bumi merdeka

Menghirup udara tanpa sengsara

Berjalan megah di jalan terbuka

Semua kerana jasa pahlawan tercinta

Pengorbananmu jadi jambatan bahagia.


Wahai pahlawan, tenanglah di sana

Namamu terpahat di dada bangsa

Pengorbananmu jadi pusaka

Kemerdekaan ini milik kita semua

Kami janji menjaganya selamanya.


SMK Penangah

27 ogos 2025

 SUARA MELAYU SERUMPUN: MERDEKA

Karya : Eduar Daud (edo)


Suara 1 – Indonesia

Merah putih berkibar di angkasa,

disulam darah pejuang bangsa.

Merdeka bukan hadiah semata,

tetapi nyawa yang jadi taruhannya.

Suara 2 – Malaysia

Di bumi bertuah, kami bersumpah,

semerdeka langit, seindah sejarah.

Di bawah Jalur Gemilang berkibar,

semangat juang tak pernah pudar.

Suara 3 – Singapura

Di pulau indah, api menyala,

membakar takut, mengusir duka.

Merdeka kami, janji bersama,

teguh berdiri, menjaga bangsa.

Suara 4 – Brunei Darussalam

Tanah bertuah, damai berdaulat,

di bawah panji kuning bersahabat.

Merdeka kami cahaya abadi,

mengikat hati dalam harmoni.

Bersama (4 suara):

Melayu Serumpun suara kita,

di lautan, di daratan, di udara,

Kemerdekaan bukan hanya milik negara,

tapi warisan jiwa, untuk selamanya.


Suara 1 (Indonesia):

Merdeka adalah darah pahlawan.

Suara 2 (Malaysia):

Merdeka adalah cahaya zaman.

Suara 3 (Singapura):

Merdeka adalah janji masa depan.

Suara 4 (Brunei):

Merdeka adalah rahmat Tuhan.

Bersama:

Kami Melayu serumpun,

Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

Empat suara, satu semangat,

Merdeka… Merdeka… Merdeka!

Pekanbaru-Riau, 28 Agustus 2025

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular