Selasa, 6 Januari 2026

DI TEPI PANTAI BERBUIH LARA : Nur Asrianti

 DI TEPI PANTAI BERBUIH LARA

 Oleh : Nur Asrianti


Di sini di antara batas langit dan laut

Pada senja yang sama seperti dulu

Kupunguti cerita hati yang tercecer pilu

Di antara semerbak wangi rindu


Di tepi pantai yang berbuih lara

Aku tak sanggup lagi menatap langit

Tempat di sana kau gantungkan cinta sejuta bunga

Dengan mahkota bertahta permata


Dan di ambang cakrawala yang mengambang tenang di atas kepala itu

Kembali aku menikmati manisnya luka lama yang ternyata sama

Lagu lama pun berdenting kembali di dalam hati

Mengisyaratkan bahwa mencintaimu adalah kisah yang fana


Bandung, 06 Januari 2026



  

Karma : Ritus Gelap Yang Berbisik Karya: Dassy J

Karma : Ritus Gelap Yang Berbisik

Karya: Dassy J


Karma

Tanpa disedari

kita adalah saksi mata dan saksi hidup

terhadap apa juga bentuk karma diterima.

Entah itu baik, entah itu buruk.

Entah itu terjadi kepada kita, entah itu terjadi kepada orang lain.

Kita tetap saksi kepada banyak hal.


Masih terlalu banyak hal mungkin tak kita sedari.

Entah kerana perbuatan kita, entah kerana perbuatan orang lain.

Entah kerana kita berbuat baik, entah kerana kita berbuat jahat.

Tapi setidaknya kita tahu bahawa itu semua benar adanya

benar wujudnya.

Lantas mengapa masih menerka-nerka,

“Apakah imbalan yang akan kuterima?”


Karma

sebuah sistem tabur tuai yang sahih wujudnya

namun hadir sebagai bentukyang rumit tafsirannya.

mau akui atau tidak, kita adalah bentuk karma yang akan berlaku—

entah kepada orang sekeliling, entah kepada orang jauh.

Entah itu bentuk kebaikannya, entah itu sebaliknya.


Karma

sebuah perjalanan yang terus bergerak

tak pernah berhenti hanya kerana satu tindakan

tak pernah selesai hanya kerana satu penyesalan.

Ia hidup dalam setiap pilihan yang kita buat

dalam setiap kata terlepaskan

dalam setiap diam membawa makna.


Kita

tanpa sedar menjadi penjaga cerita itu

ruang gema tempat kebaikan dan keburukan berputar

cermin pemantul segala perbuatan lampau.


Karma

bukan sekadar menunggu balasan

tetapi kesedaran bahawa setiap perbuatan

ada jejaknya, ada nadinya, ada pulangnya.

Kadang ia kembali dalam bentuk yang tak dikenali,

kadang hadir dalam wajah tak pernah disangka,

kadang menyentuh hidup dengan cara paling halus

atau paling perit.


Namun begitu

kita terus berjalan, tetap menjadi saksi

bahawa apa yang kita tanam akan tumbuh

cepat atau lambat, kecil atau besar

dalam hidup kita atau hidup orang lain.

Di situlah hikmahnya:

karma bukan untuk ditakuti

tetapi untuk difahami.

Setiap tindakan adalah lingkaran

dan kita berada di tengah-tengahnya.


Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu, Sabah

25 Tahun : Belajar Jadi Anak, dan Tetap Jadi Aku Karya: Dassy J

 25 Tahun : Belajar Jadi Anak, dan Tetap Jadi Aku

Karya: Dassy J


Hai

Sudah dua puluh lima tahun di dunia

Berusaha terus mencoba untuk tetap jadi manusia.


Sadar atau tidak, masa berputar

waktu berlari begitu cepat

memaksa belajar banyak hal 

tentang kehilangan

tentang bertahan

tentang melepaskan

tentang mengikhlaskan

tentang keluarga.


Kadang aku terjebak dalam pertanyaan:

bagaimana kalau aku tidak lahir dalam keluarga ini?

Keluarga adalah segalanya

Iya, aku setuju itu.

Tapi kenapa sepertinya aku tak punya tempat bersandar?


Bukan karena tak bersyukur

hanya lelah

tak didengar

tak dimengerti

tak bisa bercerita.


Aku bahagia berada bersama mereka yang kusebut keluarga.

Senang sekali, malah.

Mereka perhatian

mereka ada

Tapi kadang, justru menjadi kasih yang melukai.


Tak boleh ini, tak boleh itu.

Aku tahu, niat mereka melindungi.

Tapi haruskah membuatku kehilangan

hak untuk berekspresi

hak untuk berpendapat

hak untuk berkekurangan

hak untuk bercerita

hak untuk menjadi diri sendiri?


Apakah menjadi keluarga harus selalu sempurna?

Aku saja masih belajar mengenali diri 

tapi terus dituntut menjadi seperti yang mereka mau

menjadi kuat

menjadi sigap

menjadi anak yang tak pernah lelah.


Kadang aku ingin berkata tidak

tidak merasa lemah

tidak kecewa

tidak diam.


Namun semua itu,

akhirnya aku sadar 

kehidupan tidak harus selalu bahagia.

Kadang ia butuh luka mengajarkan erti tekad.


Kali ini

tekadku sederhana:

membawa versi keluarga ideal menurutku

keluarga kecilku nanti di masa depan.



Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu, Sabah 

HAMPARAN : Ramli Yakub

 Hamparan

Karya: Ramli Yakub


Kita bicara tentang hamparan—  

bentang sabana di bawah langit kelam,  

rumput-rumput yang bergoyang dalam diam,  

membawa kabar dari ufuk yang jauh.


Kita bicara tentang hamparan—  

tanah retak oleh terik, menanti hujan,  

jejak-jejak kuda yang hilang di batas waktu,  

dan akar yang tetap menggenggam bumi.


Namun hamparan bukan cuma tanah lapang—  

ia juga langit yang membentang biru,  

lautan yang tak pernah selesai berpantun,  

dan mimpi yang berserakan di atas batu.


Di hamparan, kita belajar membungkuk—  

mengumpulkan pecahan cahaya senja,  

menyemai kata-kata yang tumbuh dalam hening,  

menjadi puisi yang tak pernah selesai diucapkan.


Maka biarkan kita terbaring di sini,  

menjadi bagian dari hamparan yang luas—  

tubuh kita menjadi debu dan angin,  

kisah kita menjadi rumput yang abadi.

TANGIS MALAM : EZATUL HANIM

 Tangis Malam


Dalam tangisan malam 

pergiku membawa hati yang lara

hanya aku yang menyintaimu

sedangku dimatamu sebagai sandaran

walau perit, aku akhiri hubungan ini

ku akur kerna cinta tidak semestinya memiliki.


Ezatul Hanim Yahya

06012026

Johor Bahru, Johor Malaysia.












Ezatul Hanim binti Yahya merupakan anak jati Johor Darul Ta’zim. Lahir di Pasir   Gudang dan kini menetap di Skudai Johor. Pemegang Dip. Teknologi Mekanikal Lukisan Rekabentuk dari UTM kini menumpukan bidang pengurusan perniagaan sebagai kerjaya utama. Meminati bidang kesusateraan sejak di sekolah rendah namun lebih akrab dengan puisi moden.

SEBALIK TIRAI BERNAMA CINTA : ENAL SOFYAN

SEBALIK TIRAI BERNAMA CINTA

Karya: ENAL SOFYAN


Malam menutup luka dengan sunyi yang sopan

dan aku belajar menyebut namamu tanpa suara

di balik tirai kamar yg tak pernah kubuka

ada rindu bagai saksi paling setia


Aku mencinta tanpa hak memiliki

seperti doa yang gugur sebelum diangkat

degup kusembunyikan di lipatan sabar

bimbang cinta berubah menjadi bebanan


Sesekali,

kucuba mengintai dari sudut kamar

kuakui : ini lah keberanian terakhirku

-melihat tanpa meminta

-menunggu tanpa janji


Kopi hitam kuhirup perlahan

pahitnya jujur, tak pernah berpura

seperti hatiku yang memilih diam

daripada merobek bahagiamu


Kau bagai bintang di langit tak terjangkau 

aku bumi yang terus belajar merendah

katanya cinta umpama buih yang menjadi permaidani

indah seketika sebelum pecah digigit pantai


Jika redha punya rupa

ia adalah wajahmu yg seperti bidadari 

tak mampu aku miliki

5/1/2026



BIODATA PENULIS











Pemilik nama sebenar Zainal Bin Mohd. Supian.  Berasal dari Kluang, Johor.  Mula bergiat aktif selepas menganggotai Persatuan Penulis Johor (PPJ) bermula tahun 1986.  Pelbagai kursus, bengkel dan ceramah penulisan anjuran PPJ, akhbar dan MEDIA pernah disertai.  Sejak itu mula aktif menulis puisi, cerpen, drama radio dan sesekali drama tv.  Karya-karyanya banyak tersiar di akhbar tabloid, majalah, antologi cerpen dan puisi sekitar tahun 1986 -1993. Kemudian terhenti akibat kekangan masa dan kerja. Akhir tahun 2023 adalah detik ”Semangat Membara” setelah berjumpa kembali rakan-rakan PPJ.  Setelah hampir 35 tahun berhenti menulis alhamdulillah idea untuk menulis masih mekar.



CINTA YANG TAK PERNAH SALAH ALAMAT : Amnina el Humaira

 CINTA YANG TAK PERNAH SALAH ALAMAT 

Oleh Amnina el Humaira 


Hujan gerimis di penghujung Desember menjadi saksi

Betapa aku ingin menghangatkan hatimu yang tak sedingin tanganmu

Namun hati emas itu laksana bintang di langit Jenggawah yang tak mampu ku gapai 

Kenyataan hidup yang pelik ini memaksa ragaku untuk menyerah kalah

Namun suara hatiku dan bisik semesta berkonspirasi menantang egoku untuk bangkit perjuangkan cinta kita


Ku akui, aku hanyalah insan biasa

Yang tak mampu memintal riak buih di lautan menjadi permadani nan indah di singgasana megah kedua orang tuamu

Namun cinta suci yang telah bertahta di hati kita tidak pernah salah alamat

Rasa indah itu adalah karunia teristimewa dari Sang Maha Kuasa 

Tuhanlah yang meniupkannya ke dalam lubuk sanubari setiap insan di bumi 


Selama Tuhan menghendaki, maka tiada yang mustahil di bawah kolong langit-Nya

Karena jatuh hati dan mencintai tak pernah punya syarat

Ia tak pernah memandang rupa dan warna kulit, tak terhalang adat dan budaya, tak terpisahkan oleh ruang dan waktu, bahkan tak mengenal status sosial atau batas teritorial

Semua perbedaan itu seketika runtuh dan retak dalam cermin kebijaksanaan bernama cinta


Bagaimana tidak, getar indah itu adalah fitrah penciptaan atas seluruh umat manusia 

Naluri suci pertanda kuasa Ilahi yang hanya sejenak bisa dipendam, namun takkan pernah benar-benar mampu dibungkam

Hadirnya laksana hembusan semilir angin surga

Yang takkan pernah bisa dihalau oleh siapa pun

Dengannya berwarnalah dunia dan terlahirlah generasi penerus


Maka biarkan aku memintal asa dalam untaian doa dan munajat cinta yang disukai Ilahi

Karena sebelum ku ketuk pintu rumahmu, terlebih dahulu telah ku ketuk pintu langit di seperti malamku

Dan sebelum ku hadapkan wajahku di hadapan walimu, telah terlebih dahulu ku hadapkan hati dan wajahku kepada Sang Pemilik Langit 

Maka izinkan aku memilin rindu yang telah lama bersemayam di palung hati kita, menjadi tali ikatan yang halal dalam mahligai suci pernikahan 

Karena takkan pernah benar-benar ku akui kekalahan sebelum ku tuntaskan perjuangan 

 

Majene, 04 Januari 2026

Amnina el Humaira

DI BALIK CELAH KERINDUAN : Zamri H. Jamaluddin

DI BALIK CELAH KERINDUAN

Zamri H. Jamaluddin


Di ambang sunyi, 

aku terpaku kelu, 

menyusuri bayangmu 

di balik kelambu semu. 


Engkau laksana bidadari 

dalam tenang yang fana, 

menenggelamkan jiwaku 

ke palung terang yang baka.


Apalah daya diri 

dengan tangan berlumur noda, 

merindu menyentuh intan 

yang tak tersentuh karsa. 

Engkau adalah langit 

yang memandikan semesta, 

sedang aku hanyalah debu 

di tepian pusara.


Tak mungkin 

buih kuanyam jadi permadani, 

tak sanggup jemariku 

memetik bintang di singgasana tertinggi. 

Syaratmu terlampau megah 

bagi aku yang bersahaja, 

yang hanya berbekal cinta, 

tanpa kemilau harta dunia.


Salahkah aku 

yang terlanjur luruh hati, 

pada anggunmu 

yang mustahil kuraih dalam jemari? 


Kini

kuperbaiki cermin diri yang retak, 

menyadari jarak 

yang membentang tanpa jejak.


Biarlah rasa ini 

tersimpan rapi, 

di balik tirai kamar, 

tempat sunyi ku peluk sendiri. 


Mengagumimu 

dalam diam yang paling abadi, 

meski takkan pernah namaku, 

kau semayamkan 

di dalam hati.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular