Di Bawah Langit yang Tak Sama
Karya: Angela Merici Wintari Ayu Kusuma Wardani
Malam selalu punya caranya sendiri untuk mengulang kenangan.
Bagi Nara, malam bukan tentang bintang. Bukan tentang doa yang diam-diam dilangitkan dengan tangan terkatup di tepi ranjang. Malam adalah gema. Lagu lama yang tak pernah benar-benar selesai. Sebuah irama sendu yang berputar di kepalanya, memenuhi ruang-ruang sunyi yang tak mampu ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia sering duduk di dekat jendela kamar, menatap langit yang seolah sama setiap hari, padahal ia tahu langit pun berubah. Warna, awan, cahaya, semuanya bergerak tanpa menunggu siapa pun. Hanya manusia yang kerap terjebak di masa lalu.
Namanya Nara.
Orang-orang mengenalnya sebagai gadis yang ramah. Mudah tertawa. Terlihat kuat. Ia adalah tempat pulang bagi sahabat-sahabatnya yang patah hati, pendengar setia bagi cerita-cerita yang bahkan tak penting. Di rumah, ia menjadi anak yang dewasa sebelum waktunya. Penengah saat suara ayah dan ibunya meninggi. Penjaga agar rumah tetap berdiri meski retaknya tak kasat mata.
Padahal sebenarnya, hatinya sudah lama mengunci diri.
Ia masih mengingat malam ketika ia terbangun oleh suara piring pecah. Ibunya menangis di dapur. Ayahnya pergi tanpa menoleh. Kata “perbedaan” menjadi alasan yang terlalu sering diulang. Perbedaan prinsip. Perbedaan cara pandang. Perbedaan yang awalnya kecil, lalu tumbuh menjadi jurang.
Sejak saat itu, Nara bersumpah dalam diam: jika suatu hari ia mencintai, ia akan mencintai dengan sepenuh jiwa. Ia akan mempertahankan, apa pun yang terjadi. Ia tak ingin cintanya berakhir seperti yang ia saksikan di rumahnya sendiri.
Baginya, cinta bukan puisi. Cinta adalah komitmen yang harus diperjuangkan mati-matian. Cinta adalah bertahan, bahkan ketika hati mulai lelah.
Dan ketika Raka datang, Nara merasa semestanya menemukan porosnya.
Mereka bertemu di sebuah forum diskusi internasional. Perdebatan kecil tentang budaya berubah menjadi percakapan panjang tentang mimpi, keluarga, dan masa depan. Raka berbeda. Tegas. Berwibawa. Cara bicaranya seperti seseorang yang tahu arah hidupnya.
Berbeda negara. Berbeda budaya. Berbeda agama.
Perbedaan itu terasa indah. Seperti dua warna kontras yang justru membuat lukisan semakin hidup.
“Cinta tidak pernah salah,” kata Raka suatu malam ketika mereka berbicara tentang restu orang tua.
Dan Nara mempercayainya.
Tiga tahun.
Tiga tahun hubungan jarak jauh yang penuh janji. Video call hingga tertidur dengan layar masih menyala. Tiket pesawat yang dipesan jauh-jauh hari. Pertemuan singkat yang selalu terasa kurang. Perdebatan panjang tentang masa depan dan penyatuan dua keluarga besar yang sama-sama memegang adat kuat.
Nara berjuang. Bahkan lebih dari itu, ia berkorban.
Ia membela Raka ketika orang tuanya mengingatkan bahwa cinta saja tidak cukup. Ia menenangkan dirinya sendiri ketika pesan Raka mulai jarang dibalas. Ia memaklumi alasan sibuk, rapat keluarga, proyek bisnis.
Ia menutup mata ketika instingnya berteriak bahwa ada yang berubah.
Karena baginya, cinta adalah bertahan.
Sampai hari itu datang.
Hari yang seharusnya menjadi perayaan tiga tahun kebersamaan.
Nara mengenakan dress biru sederhana, warna kesukaan Raka. Di tangannya, sebuah kotak kecil berisi jam tangan dengan ukiran di belakangnya: Untuk waktu yang kita perjuangkan bersama.
Ia membayangkan makan malam sederhana. Tawa kecil. Mungkin rencana masa depan yang lebih pasti.
Namun yang ia temukan adalah aula rumah adat yang dipenuhi keluarga besar.
Dan Raka berdiri di sana. Berdampingan dengan Jessy.
Jessy…sahabatnya sendiri.
Senyum mereka terlalu resmi untuk disebut kebetulan. Tatapan mereka tak lagi menyimpan rasa bersalah, hanya keputusan.
Dunia terasa berhenti.
“Raka… sekian lama kita berjalan, tapi kamu memilih sahabatku?” suara Nara bergetar, namun tidak pecah.
Raka menunduk. “Aku ingin jujur, tapi aku takut kamu kecewa.”
“Takut aku kecewa? Atau takut aku tahu kamu sudah memulai semuanya bahkan sebelum hubungan kita selesai?”
Jessy melangkah maju. “Nara, kami saling mencintai. Orang tua kami setuju. Ini yang terbaik.”
Yang terbaik untuk siapa?
Saat itu, sesuatu dalam diri Nara runtuh. Bukan hanya cintanya. Tetapi keyakinannya.
Ia menyadari, selama ini ia mencintai bayangan.
Ia berbalik sebelum air matanya jatuh di hadapan mereka.
“Nara.”
Suara itu familiar.
Anto.
Teman masa kecilnya. Anak laki-laki yang dulu selalu berdiri di depannya ketika ia diejek. Yang pernah berkata, “Kalau kamu jatuh, aku yang angkat.”
“Sejak kapan kamu di sini?” tanya Nara lirih.
“Sejak kamu mulai berteriak.”
Anto memeluknya.
Pelukan itu berbeda. Tidak menuntut. Tidak mengikat. Tidak penuh janji kosong.
Hanya hangat.
Dan untuk pertama kalinya, Nara menangis tanpa merasa sendirian.
Hari-hari setelahnya terasa berat. Tetapi Anto selalu ada.
Ia tidak menjelekkan Raka. Tidak menyalahkan Jessy. Ia hanya memastikan Nara makan. Memastikan Nara tidur. Memastikan Nara tidak menyalahkan dirinya sendiri.
“Nara,” katanya suatu sore di kafe kecil yang biasa mereka kunjungi, “kamu tidak gagal mencintai. Kamu hanya mencintai orang yang salah.”
Kalimat itu seperti membuka simpul di dada Nara.
Ia mulai menyadari betapa ia telah kehilangan dirinya. Ia berhenti melukis karena Raka tak menyukai hobinya. Ia meninggalkan pelayanan komunitas karena Raka merasa waktunya terlalu banyak tersita. Ia hampir menerima pekerjaan di luar negeri demi mengikuti rencana Raka.
Ia hampir menghapus dirinya sendiri.
Anto tidak pernah berkata cinta. Tetapi ia menunjukkan.
Dalam kesabaran. Dalam konsistensi. Dalam caranya mendengarkan tanpa menyela.
Dan perlahan, Nara merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan euforia. Bukan degup jantung yang berisik.
Teetapi rasa pulang.
Enam bulan berlalu.
Suatu malam di pantai, Anto berkata ia harus kembali ke Australia.
“Ada yang harus aku selesaikan.”
Kali ini Nara tidak memohon. Tidak menahan.
Anto memberinya kalung kecil berbentuk cahaya.
“Kalau suatu hari kamu siap mencintai tanpa rasa takut, aku akan tetap di sini.”
Ia pergi seminggu kemudian.
Dan Nara belajar: cinta tidak harus ditahan agar tetap ada.
Beberapa hari setelah keberangkatan Anto, sebuah pesan masuk.
“Terima kasih sudah melepaskan.”
Foto yang menyertai pesan itu membuat napas Nara tercekat.
Anto berdiri bersama seorang pengacara di Sydney. Di belakang mereka, dokumen dengan nama: Raka Pratama – Permohonan Pembatalan Pertunangan.
Barulah Nara tahu, keluarganya Raka sempat mengikat namanya dalam kontrak kerja sama bisnis yang rumit. Jika Raka menikah tanpa pembatalan resmi, Nara bisa terseret hutang adat dan masalah hukum.
Anto tahu.
Ia kembali bukan sekadar untuk memeluknya.
Ia kembali untuk membebaskannya.
Air mata Nara jatuh tanpa suara.
Pesan terakhir sebelum pesawat lepas landas berbunyi:
“Cinta bukan tentang memiliki. Tetapi tentang memastikan kamu bebas.” Dan “Aku tidak ingin kamu suatu hari mengetahui bahwa namamu masih terikat pada seseorang yang sudah memilih pergi.”
Namun plot twist sebenarnya datang seminggu kemudian.
Raka menghubunginya.
“Nara… pertunangan itu batal.”
“Kenapa?”
“Jessy tahu tentang kontrak yang melibatkan namamu. Ia merasa tidak nyaman. Ia bilang sejak awal kamu tidak pernah benar-benar dilepaskan.”
Nara terdiam.
“Anto yang mengurus semuanya, kan?” suara Raka melemah.
Nara tak menjawab.
Raka tertawa pahit. “Aku pikir aku yang paling rasional. Ternyata ada orang yang diam-diam lebih berani dariku.”
Setelah panggilan itu berakhir, Nara menyadari sesuatu.
Selama ini ia mengira cinta dua dunia adalah tentang agama dan budaya.
Ternyata bukan.
Cinta dua dunia adalah antara rasa dan logika. Antara ketakutan dan keberanian.
Raka mencintainya, mungkin. Tapi tidak cukup berani.
Anto mencintainya dalam diam, namun cukup berani untuk membebaskannya.
Dan saat itu, Nara benar-benar mengerti.
Dua bulan kemudian, Nara memutuskan mengunjungi Anto di Australia bersama keluarganya.
Bandara menyambutnya dengan udara dingin yang asing, namun terasa segar. Anto dan keluarganya sudah menunggu. Senyum mereka hangat, seperti rumah yang telah lama ia rindukan.
Di tengah gedung-gedung putih Sydney, Nara berdiri memandangi langit yang berbeda. Anto mengambil syal dari mobil dan melingkarkannya di leher Nara.
Udara dingin menyentuh kulit, tetapi hatinya hangat.
Hari itu, salju pertama turun.
Butiran putih lembut menyentuh rambutnya. Anto menggenggam tangannya.
“Nara,” suaranya tenang, “maukah kamu menikah denganku?”
Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan.
“Iya.”
Jawaban itu keluar bukan karena ia takut kehilangan.
Tetapi karena ia yakin.
Di rumah, kedua orang tua mereka telah menyiapkan makan malam hangat. Tawa memenuhi ruang. Orang tua Anto menyajikan makanan kesukaan Nara. Orang tuanya sendiri terlihat lebih tenang seakan luka lama perlahan sembuh.
Kehangatan yang dulu hilang kini kembali.
Sebulan berlalu dengan cepat. Nara diperlakukan seperti anak sendiri. Ia kembali melukis. Ia kembali tertawa tanpa beban. Ia menemukan dirinya lagi.
Suatu malam makan keluarga, Anto berdiri di hadapan semua orang dan kembali melamarnya, kali ini dengan cincin.
Untuk kedua kalinya, Nara berkata iya.
Namun kali ini, ia tahu makna dari jawabannya.
Mereka mengurus pernikahan sederhana di sebuah gereja kecil di Sydney. Tidak mewah. Tidak megah. Tetapi penuh makna.
Saat berjalan menuju altar, Nara tidak lagi merasa takut.
Ia tidak menikah untuk menyelamatkan diri dari kesepian.
Ia tidak menikah karena ingin membuktikan apa pun pada masa lalu.
Ia menikah karena ia telah utuh.
Langit di atas Sydney tak sama dengan langit di kampung halamannya. Tetapi cahaya tetaplah cahaya.
Dan di bawah langit yang tak sama itu, Nara akhirnya mengerti. Cinta yang tepat tidak membuatmu kehilangan diri. Tidak memaksamu menutup mata dari luka.
Tidak mengikatmu dalam ketakutan. Cinta yang tepat membebaskan. Menguatkan. Mengajarkanmu terbang tanpa melupakan tanah tempatmu berpijak.
Beberapa waktu kemudian, sebuah pesan masuk dari Raka. Permintaan maaf. Penyesalan.
Nara membacanya dengan tenang.
Ia tidak lagi bergetar.
Karena yang ia lepaskan bukan hanya seseorang.
Ia telah melepaskan ketakutannya sendiri.
Dan kini, di bawah langit yang berbeda, dengan tangan yang menggenggamnya tanpa paksaan, Nara tahu. Ia tidak lagi berjalan untuk diselamatkan.
Ia berjalan karena ia telah menemukan dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, malam tak lagi terasa seperti gema.
Malam adalah tenang. Dan cinta akhirnya adalah cahaya.
Bionarasi
Hey aku Angel…Berawal dari trauma dan tragedi yang terjadi, kutulis segalanya dalam selembar kertas dan tinta yang menyatukan kisah menjadi inspirasi bagi seseorang untuk bangkit dan sembuh kembali dari luka. Ini bukan tentang siapa aku, tapi tentang bagaimana kamu dapat kembali ceria, menjadi cahaya dan pelangi bagi sekelilingmu. Karena kamu berharga dan jauh lebih indah dari permata mana pun. Bangkitlah, dan kepakkan sayapmu.