Sabtu, 18 Oktober 2025

Doa untuk Ibu Palestina : Yayuk Wahyudi

Doa untuk Ibu Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di balik air mata yang membasahi pipi,

tersembunyi kekuatan hati yang tak terperi.

Kehilangan anak dan suami tercinta,

luka yang menganga, takkan pernah sirna.

 

Namun jangan biarkan duka meruntuhkan jiwa.

Palestina membutuhkanmu, ibu yang perkasa.

Setiap doa adalah senjata ampuh.

Kirimkan kekuatan, dari jauh.

 

Meski raga tak bisa berada di sana.

Hati dan jiwa selalu bersama.

Dalam setiap sujud, namamu kusebut.

Semoga Sang Pengasih selalu melindungimu


Bangkitlah, ibu, tegakkan kepala,

Palestina akan bangga padamu selamanya.

Kemerdekaan sejati pasti kan tiba.

Dengan doa dan semangatmu, ibu perkasa.

 

 

Semoga Sang Pengasih memberikan kekuatan dan kesabaran untukmu. Ibu-ibu Palestina. Kami di sini, meski jauh, selalu mendukung dan mendoakanmu


Kulon Progo, 2025

Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur: Ihwana As'ad

 Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur

Oleh: Ihwana As’ad


Ada tanah yang selalu disebut dalam doa,

Tanah yang harum oleh zaitun dan luka,

Di sana, angin berhembus membawa nama-nama

Yang gugur tanpa nisan,

Namun hidup dalam dada umat manusia.


Di pagi hari, matahari enggan tersenyum,

Ia tahu — sinarnya menyingkap reruntuhan,

Di mana anak-anak bermain di antara puing,

Menggambar langit baru di atas pasir dan darah,

Mereka tidak punya mainan,

Hanya harapan yang mereka peluk setiap malam.


Jerusalem, engkau berdiri di tengah badai,

Menjadi saksi antara doa dan peluru,

Setiap azanmu menggema seperti seruan abadi,

Bahwa iman tak bisa dibungkam,

Bahkan oleh dinding, bahkan oleh perang.


Wahai Palestina,

Engkau bukan hanya tanah 

Engkau denyut di dada setiap orang yang masih punya nurani,

Engkau cerita yang tak bisa dilupakan dunia,

Engkau sajak yang ditulis dengan air mata

Dan disalin oleh darah para syuhada.


Di setiap rumah yang runtuh,

Ada ibu yang tetap menyiapkan roti,

Dengan tepung harapan dan bara ketabahan.

Ia tahu, mungkin tak ada yang akan makan hari itu,

Namun ia tetap menyalakan api,

Sebab api itu bukan hanya untuk dapur 

Tapi untuk hidup yang tak mau padam.


Dan ayah-ayah yang berjalan di jalan sunyi,

Mereka tak membawa senjata,

Hanya doa yang diucap dalam diam,

“Ya Allah, jadikan langkah ini saksi,

Bahwa kami tak pernah menyerah.”

Anak-anakmu, Palestina,

Belajar mengeja kata merdeka

Lebih cepat dari mereka belajar menulis nama sendiri.


Di mata mereka,

Tak ada ketakutan — hanya keyakinan

Bahwa Tuhan pasti menepati janji.

Dunia mungkin bungkam,

Tetapi bumi mendengar,

Langit menulis ulang sejarah,

Dan malaikat bersujud di setiap rumah yang roboh.

Sebab kemerdekaanmu bukan sekadar mimpi,

Ia janji yang hidup dalam setiap helaan napas,

Dalam setiap darah yang jatuh ke tanahmu,

Dalam setiap bayi yang lahir di bawah dentuman bom —

Yang menangis bukan karena takut,

Tapi karena ingin hidup.


Dan kelak,

Saat fajar keadilan benar-benar tiba,

Kau akan bangkit dari puing dan debu,

Dengan wajah yang bersih oleh cahaya suci,

Dan dunia akan tahu —

Bahwa Palestina tidak pernah kalah,

Ia hanya menunggu waktunya untuk pulang.

Makassar, 19 Oktober 2025




Aku Masih Menyulam Langit Palestina

Oleh: Ihwana As’ad

Malam turun perlahan di Gaza,

membawa sepi yang tak sempat beristirahat.

Langit memantulkan cahaya redup,

dan bintang-bintang menatap

seperti saksi yang kelelahan menangis.


Di antara reruntuhan,

angin berbisik menyebut nama-nama

yang kini hidup dalam doa-doa panjang.

Aku mendengarnya —

suara lembut yang tak lagi butuh kata.

Aku adalah perempuan dari tanah yang terluka,

menyulam harapan dari serpihan hari.


Tanganku berdebu,

namun di sela jari masih ada benang keyakinan

yang belum putus.

Setiap pagi, aku menanak rindu

di dapur tanpa api,

mengaduk kenangan dalam periuk kosong,

sementara bom di luar

berbunyi seperti lonceng ketabahan.

Anak-anakku belajar menulis kata merdeka

di dinding yang nyaris roboh.


Aku tersenyum pada mereka 

karena di mata kecil itu

aku melihat masa depan yang tak bisa dibunuh perang.

Suamiku sudah lama pergi,

meninggalkan pesan sederhana:

“Jika aku tak pulang,

ajarkan anak-anak mencintai tanah ini

bukan dengan amarah,

tapi dengan doa yang tak pernah padam.”


Jerusalem, wahai kota suci,

betapa banyak doa yang tertahan di langitmu,

menunggu saat Tuhan berkata,

“Sudah cukup, kini tiba waktunya damai.”

Dan dunia…

masih bicara tentang perdamaian

sambil menutup mata dari luka yang nyata.


Tapi aku tahu 

Palestina bukan hanya cerita perang,

ia adalah kisah cinta yang tetap tumbuh

di antara puing dan doa.

Jika suatu hari aku tiada,

biarlah anak-anakku tahu,

bahwa aku pernah hidup di tanah ini

bukan sebagai korban,

melainkan sebagai ibu

yang percaya:

Tuhan tidak pernah tidur,

dan langit yang kusulam dengan doa

akan biru kembali.


Makassar, 19 Oktober 2025

Peluk Kasih untukmu Bayi Palestina: Yayuk Wahyudi

Peluk Kasih untukmu, Bayi Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Duhai bayi kecil, mata yang polos,

Di mana senyum ibumu, yang dulu berbalas?

Di mana peluk ayahmu, yang dulu hangat?

Kini kau sendiri, di tengah dunia yang kejam.

 

Namun jangan takut, sayang.

Meski raga ini tak bisa menggantikan mereka.

Kasih ibu akan selalu ada,

Menyelimuti hatimu. Menghangatkan jiwamu.

 

Dalam setiap doa, namamu kusebut,

Semoga Sang Pengasih selalu menjagamu.

Meski air mata membasahi pipi.

Jangan pernah kehilangan harapan, bayiku sayang.

 

Kau adalah harapan Palestina.

Generasi penerus yang akan bangkit.

Tumbuhlah dengan kuat, dengan cinta.

Dan jadilah pelita bagi negeri ini.

 

Peluk kasih untukmu, bayi Palestina.

Semoga kedamaian segera tiba.

Kami di sini, selalu bersamamu.

Menyayangimu, seperti bayiku  sendiri.

       

Kulon Progo, 2025

Senandung Kedamaian untuk Palestina: Yayuk Wahyudi

 Senandung Kedamaian untuk  Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di tengah malam yang sunyi.

Di bawah langit yang berduka.

Kurasakan getar hatimu.

Was-was yang menghantui kalbu.

 

Siang dan malam berlalu.

Dalam cemas yang tak bertepi.

Namun jangan biarkan gundah merenggut jiwa.

Palestina, engkau tak sendiri.

 

Lihatlah bintang-bintang di langit.

Mereka bersinar, memberi harapan.

Dengarkan desiran angin malam.

Membawa bisikan kedamaian.

 

Meski derita terus menghimpit.

Jangan biarkan semangatmu redup.

Ingatlah tanah airmu tercinta.

Yang selalu menantimu bangkit.

 

Biarlah doa menjadi perisai.

Melindungi dari segala bahaya.

Palestina, engkau kuat, engkau tabah.

Kedamaian pasti kan tiba.

 

Usirlah gundah dari jiwa.

Tegakkan kepala, tatap masa depan.

Dengan keyakinan dan harapan.

Palestina percayalah akhirnya akan  jaya.


Kulon Progo, 2025

Doa untuk Palestina: Sri Rejeki, S.Pd.

DOA UNTUK PALESTINA

Karya: Sri Rejeki,S.Pd. 


Sembur doa ,tuturkata,uwur gizi ….tugas  orangtua                                     

Semua tiada ,anak tanpa dosa hilang tak bernyawa

Muncul egois ,murka durjana  di  tanah Gaza

Di bom lewat udara lanjut bombardir ,gelap gulita hati merana

Melalap persada tanpa dosa ,mata hati mereka merajalela

Membabi buta, tidak ada bela rasa cinta ,hatinya mati mengikis yang ada

Rakyat Palestina sirna ,darah membanjiri persada lautan Gaza

Teriring doa dan sabda  para  ahli surga menanti pintu-pintu terbuka leluasa

Menembus langit ketujuh,mati syahid sabda  para Tuan berkuasa.

Doa  untuk Palestina merebak kemana-mana                

Doa untuk Palestina  merekah mahkota hamba-hamba  terluka

Doa untuk Palestina  porak poranda zeonis israel tumbang tak bernyawa

         


DOA  NUSANTARA  UNTUK PALESTINA      


Nusantara berdoa  untuk Palestina 

Hijau subur nan makmur,kini laut muncrat,gunung batuk,muntah bara api neraka

Memandang Rakyat Palestina di Jalur Gaza

Doa -doa berkumandang dari persada Nusantara

Karena Sang Mentari hambur, hinggap sejuk tidak berdamai Palestina merana

Dedaunan tidak lagi melambai,hinggap manusia tanpa dosa berjatuhan di Palestina

Doa dan Dzikir berkumandang untuk Palestina di Jalur Gaza

Hanya Tuhan menyapa Hamba-Nya.

Tanda akhir zaman mendera

    

Palestina terjaga dari doa dan Dzikir para pecinta di Nusantara 

Palestina terbina oleh tangan para pecinta Surga di Nuusantara

Palestina kelak tertawa penuh canda  para kuasa di Nusantara         




BIONARASI 

Tentang Penulis :

Sri Rejeki,S.Pd. adalah seorang guru bahasa Indonesia SMPN.6 Kota Magelang. Kegemarannya membaca dan menulis

Dengan motto hidup : selalu perduli dengan sesama dan hiduplah bermanfaat untuk orang  lain serta isilah kehidupan ini dengan  keseimbangan amal kebaikan dunia  dan akherat ,Insya Alloh  hidup akan membawa keberkahan. 



Hasil Karya yang telah terbit antara lain :

1. Menulis PTK, terbit di Jurnal Artikel  PGRI dan Dinas Pendidikan Kota Magelang

     Tahun   2012.

2. Menulis Kumpukan Puisi dan Prosa  bersama Magelang Membaca di fasilitasi 

    PerpustakaanKotaMagelang 2014,Terbit 2015 Percetakan Harmoni Magelang.

3. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VII ( Kur. 2013 )

4. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII (Kur. 2013 )

5. Kumpulan cerpen Guru * ( Seikat Senja Seikat Cerita ) dari MGMP Bahasa

    Indonesia Kota Magelang,Terbit tahun Oktober  2015 Ber ISBN 

6. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII ( Kur. 2013 )

    Revisi 2016

7. Menulis Buku Seputar sejarah dan legenda asal mula Kota Magelang

    Terbit di MediaGuru April 2018 ISBN :978-602-478-563-5

8. Menulis Buku RITME KEHIDUPAN ( Antologi Puisi) Terbit Media Edukasi 

    Februari 2020 ISBN :978-623-215-779-8

9.Menulis Antologi cerpen ( GURATAN PENA ) penulis eks Sagusabu 2

   Terbit di SIP Publising Oktober 2020   ISBN :978-623-6793-24-4.

10.Secondary ( Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah)Vol 1No:2 ( 2021

     ISSN ( Print ) :2774-8022.ISSN ( Online):2774-5791 dari LP3I 

     Universitas Mandalika ,Lombok ,NTB,Indonesia.


 


Syuhada Palestina : Sudarjo Abd Hamid

Syuhada Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Debuh suci darah bercucur 

Gagah para laskar berjubah tegak membuncah 

Jubel berdiri menghalau lenyap 

Dibawah langit sahutan darah 


Tertatih ukiran langkah juang 

Diatas bara pasir yang mendengung 

Menggema Gita terus semangat 

Berkaca netra penuh harap 

Walau luka menanti 

Untuk tanah air 

Terlahir para rasul 


Syuhada di tengah gulita 

Ibarat dian penebar terang 

Mengantar asa dari nafas yang tersengal 

Mereka tak gentar 

Tak pernah menunduk 

Membawa keadilan 

Penuh semangat mahabba 

Darah mereka jadi tameng hidup 

Menjadi daya juang tak sia sia 


Dalam hening malam mendaras 

Para syuhada, 

Pahlawan sejati patriot bangsa 

Di sanubari terdalam 

Mereka kekal menggema tak pernah mati.

Bayi Menangis Di Bawah Langit: Sudarjo Abd Hamid

Bayi Menangis di bawah Langit

        Sudarjo Abd Hamid


Dibawah hamparan birunya langit 

Diatas tanah berserak debu

Bayi mungil nyaris terluka 

Terpejam mata tidur dalam damai 

Walau bumi bersimbah darah mereka bangkit tak bawah mati 


Tangan mungil merangkul hayat 

Memantul sinar sahut kehidupan 

Ditengah bidikan bom molotov

Ia adalah pelita untuk bumi yang fana


Bisikan angin nyanyian takbir 

melindungi asa kecil dalam bayang 

Mungil masa depan bunga mendatang 

Di padang juang dibawah langit

Kau pejuang ajaib 


Meski badai menghadang 

Hadir mendesir mengoyak ketenangan 

Cinta tertanam doa tenang dalam langkah 

Di alam penuh sejarah 

Bayi mungil hadir 

Menenteng dunia Baru

Luka Palestina: Sudarjo Abd Hamid

Luka Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Tanah kudus langit membara 

Tersayat luka tangisan berdarah 

Serakan debuh berbekas luka 

Bersama bayu pilu merangkak  


Hunian jatuh berkalang tanah 

Histeris anak hanyut dalam tangis 

Negeri tercoreng oleh api berlapis darah teriakan melangit tak pernah pudar 


Dibalik sisa nyawa berserak 

Ada jiwa memeluk bara 

Mengelak maut penuh duri

Asa pupus rasa terbelah

Mendekap harap di relung retak 


Tiap doa terpanjat dalam 

Ditengah temaram yang tak bertepi

Zona terkabung duka dan cinta 

Tak lekang oleh desah kebencian 


Luka berdarah milik semesta 

Menggemah sahut hadir keadilan 

Lirih tilawah terus menggema 

Mengasa Damai tunda terwujud

Senjata Genosida: Komariah Umi Al-- Kautsar

 SENJATA GENOSIDA

Komariah Umi Al-Kautsar 


Perkenalkan aku Negev

Senapan mesin dengan diameter 7,62 milimeter yang mampu menembus bangunan

Tapi tidak bisa menahan dahsyatnya doa


Kami Holit dan Yated

Roket kembar siam yang digunakan untuk menghantam kendaraan lapis baja 

Namun tak kuasa  menghancurkan kekuatan iman mereka


Namaku Iron Sting

Peluru mortir yang dapat menghancurkan target dalam satu tembakan

Lagi dan lagi tak bisa menghentikan semangat para mujahid 


Aku Ido 

Visibilitas dari waktu ke waktu yang membantu navigasi walau di tempat yang gelap

Namun sayang tak kuasa menandingi cahaya para penghafal Al-Qur'an 


Kami pasukan Genosida di Palestina

Siap menerima Azab dan laknat ketika suara Azan kembali berkumandang di reruntuhan masjid Gaza


Bumi Al-Kautsar 2025

Puisi 3 Tajuk : Era Nurza

 Langit Gaza Masih Luka

Oleh : Era Nurza


Langit Gaza masih luka

warnanya bukan biru

tapi kelabu bercampur doa yang tersesat

Anak-anak berlari tanpa bayangan

karena matahari pun ragu menyinari reruntuhan yang tak lagi punya nama


Suara azan menembus debu

mengabarkan iman yang masih tegak meski dindingnya runtuh


Di antara batu dan nyala api

seorang ibu menimang udara

mencari bayinya yang tinggal kenangan

Dunia menonton dari balik layar

menghitung korban seperti angka tanpa wajah


Sedang Gaza menulis puisi dengan darahnya sendiri

di kertas langit yang penuh lubang peluru

Ada doa yang tak sempat selesai

ada ayat yang terpotong di tengah serangan

Tapi di hati yang hancur

masih tumbuh bunga kecil bernama harapan


Mereka tidak mati 

mereka berpindah ke bait lain dari kehidupan

ke tempat di mana suara tak lagi bergema oleh sirene

dan anak-anak bisa tertawa tanpa takut besi dan api


Langit Gaza masih luka

tapi luka itu bukan tanda akhir 

ia adalah nadi yang terus berdenyut


menyebut satu nama

Kemanusiaan.


Padang Indonesia, Oktober 2025



Suara Azan di Reruntuhan

Oleh : Era Nurza


Suara azan di reruntuhan

mengalun pelan di antara debu dan abu

seperti bisikan langit yang menolak menyerah

meski bumi telah kehilangan bentuknya


Di bawah dinding yang retak

seorang lelaki berdiri dengan tubuh penuh doa

menengadahkan tangan yang gemetar 

bukan karena takut

tapi karena cinta yang terlalu dalam pada 


Tuhannya


Anak kecil memeluk batu bata

mengira itu tempat tidurnya semalam

Sementara ibunya memeluk udara

berharap ada nama yang kembali dari puing

Suara azan itu terus naik

menembus sisa-sisa malam dan bau mesiu

menyentuh langit yang masih gelap

menggetarkan hati malaikat yang turut menangis diam-diam


Dunia mendengar tapi banyak yang menutup telinga

Hanya angin yang berani menjawab

“Allahu Akbar…”

seraya membawa gema itu melintasi lautan

agar sampai pada hati yang masih hidup di belahan bumi lain


Di reruntuhan itu

iman bukan lagi sekadar kata 

ia menjelma nafas

menjelma cahaya yang tak padam bahkan saat listrik dunia mati


Suara azan di reruntuhan

menjadi saksi bahwa manusia bisa dihancurkan

tapi tidak pernah benar-benar hilang

Selama masih ada satu jiwa yang bersujud

Gaza akan tetap hidup 

dalam takbir dalam air mata

dalam setiap denyut kemanusiaan yang menolak diam


Padang, Indonesia, Oktober 2025




Palestina Masih Luka

Oleh : Era Nurza


Palestina masih luka

Darahnya belum kering di halaman sejarah

sementara dunia terus menulis bab baru

tanpa menatap matanya yang letih

Anak-anak tumbuh tanpa langit biru

menggambar rumah di udara

karena di tanahnya

setiap dinding bisa hilang dalam sekejap suara


Ada doa melayang di antara asap

menyebut nama Tuhan dengan suara serak

mungkin agar malaikat tahu

bahwa iman masih bernafas di bawah reruntuhan


Palestina masih luka

tapi luka itu bukan tanda menyerah 

Kukirim rindu di sayap bayu : Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

 Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

              Kukirim rindu di sayap bayu


usai kuliah terakhir 

sahabatku bergegas ke bandara

mahu segera pulang ke pangkuan keluarga

yang lama dirindu tanpa sebarang khabar

begitulah anak rantau yang berjauhan

kesekian lama di bumi orang

kasih kekal tumpah di negara sendiri

kami pun berpelukan lalu mengucap selamat semuanya

lambaiannya longlai namun semangatnya kental

jika boleh mahu dia tiba seawal mungkin

rindunya tidak mampu lagi di bendung

begitu ketara di tubir mata

usai beberapa hari, aku menerima panggilan jarak jauh

aduhai, sahabatku menangis pilu

suaranya terketar-ketar menahan sebak

memberi khabar ahli keluarganya

syahid terkena peluru yang disasar

sengaja disasar ke situ

kejiranan yang didiami alim ulama

para cendekiawan dan ilmuan

dan dalam sekelip mata semua berselerakan

sukar mengecam anggota badan

kerana ada yang tanpa kepala

aduhai, kejamnya kaum ini menceroboh dan memusnah 

apa yang ada di hadapan mata

aku bersoal-jawab di benak kepala

sejujurnya, apakah yang mereka mahu

memushi orang Islam dari dahulu kala

apakah mereka tidak gentar akan kuasa Yang Maha Esa?

aku yakin, satu hari nanti, bala bakal menimpa

dan tentera Allah membinasa kaum yang dilaknati ini

kepada temanku yang tidak mungkin aku bersua lagi

kukirim rindu di sayap bayu agak kau baik-baik adanya di sana


Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia

18 Oktober 2025  

Merpati yang Kehilangan: Dr. Dil Froz Jan Binti Sayed

    Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

               MERPATI YANG KEHILANGAN



sekumpulan merpati berbulu kelabu terbang riang

seekor hinggap di tiang papan sedikit terlindung

tiangnya tinggi lalu dibina sarang

ia yakin tiang itu selamat kerana ia bakal bertelur 

dan akan menetas anak-anak merpati baru

kesekian hari ia enggan terbang mencari makan

mungkin terlalu lapar, hari itu ia terbang jauh

meninggalkan lima biji telurnya

sedihnya tiang tinggi itu terkena bedilan peluru

patah lalu rebah ke bumi

sarang dan telurnya pecah 

merpati yang terbang mencari makan

kini pulang mencari sarang

seketika ia bumkam meski bergenang airmata  

segala impian melihat anak-anaknya membesar berkecai

aduhai rakyat di bumi anbiyaa ini

kesekian lama menanggung derita

seperti ibu merpati yang meratapi

begitu juga ibu-ibu yang kehilangan anak

apalah yang ada, zuriat mewarisi nama keluarga

syahid pada usia muda

tangis ibu menjadi-jadi

siulan syahdu si merpati tiada bedza

oh tuhan, Kau tabahkan semangat mereka melewati hidup ini

penuh bersyukur dan tawadduk serta lebih menyerah kepada-Mu

kerana hanya Kau Yang Maha Mengetahui akan kejadian yang terjadi



Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia.

18 Oktober 2025  

Doa Di Bawah Reruntuhan: Angela



Tanah Kelahiranku, Palestina: Angela


 

Puisi 3 Judul : Supardi Is Hael

Supardi Is Hael


Judul 1 : Suara dari Tanah yang Tak Pernah Mati


 Suara itu tak datang dari senjata,

 tapi dari dada anak-anak yang kehilangan ayahnya,

 dari mata ibu yang tak lagi punya air mata,

 dari tanah yang setiap hari melahirkan luka 

 dan masih juga disebut tanah suci oleh dunia.


 Di bawah langit yang seharusnya biru,

 awan berubah jadi abu,

 dan doa yang naik pun terbakar di udara.

 Namun, dengarlah…

 Masih ada suara yang tak bisa dibungkam 

 suara kehidupan.


 Itu suara bayi yang lahir di bawah reruntuhan,

 suara muadzin yang memanggil dalam kepulan debu,

 suara bumi yang bergetar menahan duka,

 dan suara cinta yang berkata:

“Kami masih di sini, kami belum menyerah.”


 Dunia boleh berpaling,

 telinga boleh disumbat oleh propaganda,

 namun kebenaran tak bisa dibungkam 

 ia berdenyut di nadi setiap yang masih punya hati.

 Wahai Palestina,

 namaMu adalah doa yang menembus dinding kebisuan,

 engkau bukan sekadar tempat di peta,

 engkau adalah cermin nurani dunia.


 Dan jika dunia diam 

 biarlah kami menjadi suaramu,

 menjerit dari jauh,

 membawa gema:

“Keadilan tidak boleh mati!”

Karena kami tahu 

 di balik puing dan darah,

 ada bunga yang masih ingin mekar,

 ada anak yang masih ingin tertawa,

 ada cahaya yang menolak padam.


Maka dengarlah dunia,

 jika suara Palestina tak lagi terdengar,

 biarlah bumi ini bergetar oleh suara kami.

 Sebab diam adalah pengkhianatan,

 dan berbicara adalah kehidupan.

                                              Buol 18 oktober 2025


 Judul 2 : Ketika Dunia Menutup Telinga, Kami Tetap Berseru: Palestina!

 Di antara reruntuhan dan debu mimpi,

 ada tangis bayi yang tak sempat mengenal kata damai.

 Langit meledak oleh suara besi,

 sementara dunia menunduk,

 seolah sunyi adalah pilihan yang bijak.


 Namun kami di sini,

 menyulam luka menjadi doa,

 menyuarakan namamu, Palestina,

 dengan nada yang lahir dari hati yang terbakar cinta.


 Bukan sekadar simpati

 ini adalah jeritan nurani,

 yang menolak tunduk pada diamnya peradaban,

 ketika darahmu mengalir menjadi tinta kebenaran.


 Wahai tanah para nabi,

 kau bukan sekadar berita yang berlalu di layar kaca,

 kau adalah wajah kemanusiaan

 yang diguncang tapi tak pernah padam.

 Setiap batu yang dilempar anak kecilmu

 adalah huruf dari kitab keberanian,

 setiap doa yang terucap di bawah langit yang terbakar

 adalah nyanyian kehidupan yang menolak punah.


 Kami tidak punya senjata,

 tapi kami punya suara

 dan suara ini akan bergema,

 menembus tembok kebisuan,

 mengetuk hati para penguasa yang lupa rasa.


 Dunia boleh menutup mata,

 tapi suara kami akan terus menyala,

 seperti cahaya di reruntuhan Gaza,

 seperti nadi yang menolak berhenti

 di tubuh-tubuh kecil yang tak lagi takut pada maut.


 Palestina,

 namamu adalah puisi yang takkan mati,

 adalah nyala yang takkan padam,

 adalah suara seluruh dunia yang masih punya hati.

                                               Buol 18 Oktober 2025


Judul 3 : Dari Sunyi yang Tertembak, Kami Berseru: Palestina!

 Dari reruntuhan doa yang patah,

 Kami mendengar jerit anak-anak langit Gaza,

 Tangis mereka bukan hanya air mata,

 melainkan gema bumi yang menagih keadilan.


 Langit hitam terbakar oleh peluru,

 namun di mata seorang ibu,

 masih tersisa secercah cahaya sujud

 menyebut nama Tuhan di antara dentum bom dan debu roti.


 Wahai dunia...

 Di mana telingamu saat jeritan itu memanggil?

 Di mana hatimu saat rumah-rumah menjadi liang kematian?

 Apakah nurani telah dijual di pasar ketakutan?


 Lihatlah,

 di setiap batu yang berserak,

 ada nama yang pernah bermimpi tentang sekolah,

 tentang layang-layang biru di langit tanpa drone,

 tentang pagi tanpa darah.

 Namun mereka masih berdiri,

 meski dunia membisu.


 Mereka masih mencintai,

 meski langit menolak damai.

 Karena di dada setiap anak Palestina,

 ada azan yang tak pernah padam,

 ada bendera yang berkibar dari luka,

 ada doa yang menembus dinding kebisuan kita.


 Maka dengarlah

 ini bukan sekadar suara,

 ini adalah jerit bumi yang haus keadilan,

 ini adalah nyanyian darah yang menulis sejarah.


 Kami berseru:

 Palestina bukan sekadar tanah,

 tapi jiwa kemanusiaan yang menolak tunduk.

 Dan kami tidak akan diam

 karena diam berarti mengubur nurani sendiri.

                                               Buol, 18 Oktober 2025



BIONARASI  

Supardi adalah alumnus Universitas Tadulako, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, suami dari satu istri yang setia, dan ayah dari dua putri yang menjadi sumber semangat hidupnya. Saat ini, Supardi mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri 6 Bunobogu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Indonesia. 

Selain dunia pendidikan, saat ini Supardi juga menekuni hobi menulis sebagai bentuk ekspresi dan kontribusi dalam dunia literasi. Karya pertamanya adalah buku antologi Menyembuhkan Luka di Tanah Pogoogul. Selanjutnya, ia menulis buku inspiratif 161 Keistimewaan IGI, lalu melahirkan karya fiksi mini berjudul Black Maill, dan buku cerita anak Dwibahasa berjudul Sate Kerang dari Buol, yang merupakan karya tunggalnya. Buku Antologi Puisi berjudul Sketsa Negeriku, buku Fiksi mini “Kawin Perak.” serta buku “Akar Serumpun Anyaman Rasa Jilid 23”.

Dengan semangat pantang menyerah dan cinta pada pendidikan serta budaya lokal, Supardi terus berkarya dan menginspirasi banyak orang melalui tulisan.

Motto hidup: "Jadilah cahaya di tempat yang paling gelap."



Debu Gaza Hingga Indonesia: Ahmad Aziz Rifai

 Debu Gaza Hingga Indonesia


Indahnya langit di malam-malamku

Secangkir kopi hitam hangat bersama sepotong rotiku menambah tenang riang

Bintang dan rembulan seolah menyapa "selamat menikmati malam wahai manusia"


Namun hembusan angin dan bau tak sedap merubah keriangan menjadi kegelisahan

Aroma kebiadaban dari barat terasa pekat

Debu Gaza menyiram rasa duka mendalam

Hingga kampung Indonesia Nusantara 


Bukan gemuruh ombak pantai selatan

Tapi gemuruh peluru zionis yang mencabik dada anak Gaza tak bersalah tak berdosa

Gemuruh rudal zionis melebur pemukiman sipil bahkan rumah ibadah dan rumah sakit dihancurkan berkeping-keping


Debu Gaza seolah memberi pesan

"Wahai muslim, tolong aku, bantu aku, lindungi aku beri aku keamanan" 

Dan aku pun seolah menjawab "Wahai Palestina wahai Gaza kami bersama mu

Do'a-do'a muslim Indonesia tak akan pudar tak akan pernah sirna sedikitpun.


Debu Gaza menjadi saksi mana yang berbuat zalim mana yang terzalimi

Allah segera melindungi dan meridhoi kebangkitan Gaza kemerdekaan Palestina 



_________

Bionarasi:

Penulis bernama Ahmad Aziz Rifai dengan nama pena AZRIF. Asal Tegal Jawa Tengah Indonesia, penggiat literasi dan pendiri taman bacaan masyarakat @tbm.bintangnusantara sejak Oktober 2021.

Wa: 085640642364

Jerit Pekik di Tembok Tuli : Nera Sekuma

Nera Sekuma

JERIT PEKIK DI TEMBOK TULI



Kuketuk dinding bisu tak bernurani

Di atas tanah merah yang terbuat dari luka dan darah

Basah, parah, merampas airmata

Luka menganga dari jiwa-jiwa yang karimah


Engkau tuli dari rintih bayi yang kini beratap langit

Tuli dari jerit tangis anak-anak yang kau lontar genosida

Tuli dari teriakan dunia, tuli dari doa reruntuhan masjid

Congkakmu, yang tak peduli kedamaian dunia


Seperti bicara pada gunung yang tak ingin retak

Bermufakat denganmu bagai bermusyawarah dengan batu

Nalar, logika, dan empati semua koyak

Hitam menjalari kesombongan hati yang beku


Israel bagai binatang jalang,

Palestina bukan bayang-bayang, yang bisa kau hapus dengan cahaya

Palestina bagai akar, yang meski ditindas kan terus menggenggam tanahnya

Dunia beserta langit kan selalu bersamamu Palestina


Kelak sejarah tak akan tuli seperti batinmu,

Ia akan menuliskan siapa pelaknat, dan apapun yang disikat

Dari bumi Allah yang tlah kau hancurkan

Dari mujahid-mujahid yang kau luluhlantakkan


Ya Ilahi Robbi, lindungi rakyat Palestina

Temani setiap tangan-tangan yang sedang berjuang

Kuatkan, selamatkan…

Merdekakan, dan makmurkan…



Pondok Gede, 18 Oktober 2025



Bionarasi

Nera Sekuma, adalah alumni STIE Perbanas Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai PNS di bidang pendidikan, ia juga berkecimpung sebagai relawan pendidikan di Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar. Kegemaran menulisnya mulai digeluti secara aktif dan produktif sejak tahun 2019 dengan berkarya di buku tunggal dan antologi. Karya tunggal pertamanya adalah buku kumpulan puisi dan sajak yang berjudul “Tuliskan saja, jangan dikenang!” (2019). Baginya, menulis adalah cara bersedekah pengetahuan dan pengalaman dalam senyap. Motto hidupnya: gigih berkarya, bercanda secukupnya. (IG:@sekataq; @ak.sarabintang)

Puisi 3 Tajuk : MIMS

Puisi I: Zaitun Luka Di Bumi Syahid

Karya MIMS 


Bukan sembarang gugur, daun-daun zaitun itu,

Ia luruh, seribu kalinya lebih sayu,

Dari janji hujan yang tak pernah kunjung temu.

Akarnya, menjulang rindu sejak ribuan lalu,

Menyimpan denai sejarah, di bumi yang selalu berdebu,

Kini dipatahkan cengkaman besi yang menderu.

Burung-burung pipit di jendela Gaza,

Tidak lagi menyanyi melodi pagi yang mesra,

Paruh mereka terkunci, suara tercekik sengketa.

Kepaknya, sayap harapan yang kian retak,

Terbang melayang, mencari mercu kebebasan yang serentak,

Dari jeriji kezaliman yang tak kenal gelak.

Namun, di celah rekah batu dan ranapnya bina,

Sebiji benih kurma, degil untuk meniada,

Menyimpan intipati kedaulatan yang tiada tara.

Ia menjanjikan pelepah, walau di lidah api,

Mengisi denyut iman yang tak pernah mati,

Palestin, tegaklah ia, dengan doa sejati.


Puisi II: Nyanyian Kumbang Yang Merah

Karya MIMS 


Kumbang Merah, sayapmu koyak dibasahi darah,

Bukan madu yang kau cari di sarang yang musnah,

Tetapi sisa degup nyawa, di bawah timbunan payah.

Kau saksi bisu, ratapan ibu yang terpisah,

Dari buaian anak yang dipeluk tanah,

Di kota yang dijahit luka dan rebah.

Bunga-bunga anemon Palestin,

Merah menyala, bukan kerana mekar murni,

Tetapi mewarnai syahid yang terpilih dini.

Kelopaknya bergetar, merangkul jasad yang hancur,

Membawa pesan kemerdekaan yang subur,

Dari rahim perjuangan yang takkan luntur.

Kini, kiblat doa kami merentasi semesta,

Agar kawah-kawah ledak itu menjadi kolam mesra,

Tempat camar pulang, membawa sauh sejahtera.

Bangunlah, Gaza, dari abu dan cemar yang ngeri,

Biar gagak hitam pergi, membawa dendam sendiri,

Dan Palestin berdiri, syahdu dan abadi.


Puisi III: Kaktus Sabra Dan Keteguhan Watan

Karya MIMS 


Kaktus Sabra, berduri tegar di padang gersang,

Simbol ketahanan yang tak mungkin goyang,

Walau dipanah peluru, ia tetap menjulang.

Dagingnya menyimpan air, rahsia kesabaran,

Di tengah gurun penindasan dan pengorbanan,

Menjadi benteng maruah, menangkis kehinaan.

Serigala-serigala malam, menyalak angkuh dan liar,

Mengoyak sunyi Palestin dengan api yang menjalar,

Mencuba mencabut akar yang ditanam para pejuang wajar.

Mereka lupa, tanah ini diwarisi dari ruh para Anbiya,

Setiap kerikilnya berbisik nama-nama mulia,

Menanti subuh keadilan yang bakal tiba.

Ya Tuhan, Yang Menggenggam Takdir dan Masa,

Kami tadahkan tangan, memohon setulusnya doa,

Agar bendera Palestin, berkibar di puncak Gaza.

Semoga ranting-ranting yang patah, bercambah semula,

Menjadi hutan kebebasan, hijau dan merdeka,

Dan anak-anak Palestin, pulang ke pangkuan bahagia.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular