Selasa, 24 Mac 2026

RATIB DI HUJUNG RANTING: Karya Siti Hasnah Zainal Abidin

 Ratib di Hujung Ranting


Bayu Ramadan memeluk fana,

Gugur puasa di layu raga.

Bisa meratah sendi senja,

Rebah pasrah di tikar sajadah,

Tarawih luruh ke dasar jiwa.


Embun sahur menitik, lena diragut,

Sakit mendenyut di sanubari.

Suapan berbuka seakan menghiris,

Tersedak perit, nafas menipis.

Di sisa suapan, kantuk merangkul raga,

Kunyahan terhenti, diulit lena.


Akar menumpang dahan zuriat,

Walau budi kian bersyarat.

Syukurku mekar di bulan mulia,

Buat permata di hujung buana,

Doa maghfirah menaut sukma.


Huluran duit raya sarat di riba,

Buat si uzur menghitung hari,

Hambar nilainya di jasad tua.

Namun terubat duka di hati,

Sedekah Ramadan bekalan ukhrawi.


Biar dedaun luruh mengering,

Zikir di bibir teguh diiring.

Melodi jiwa meratib hiba,

Mencari Lailatulqadar di alam fana.

Hanya pada-Mu tempat meminta,

Syurga abadi yang daku damba.



Biodata penulis:

Siti Hasnah Zainal Abidin ialah guru bahasa Melayu USM yang gemar terlibat dalam inovasi pedagogi. Selain akademik, beliau aktif berkarya seni melalui penulisan cerpen seperti 'Pokok Lada Tua', serta pernah menjuarai pertandingan deklamasi puisi dan video pendek kreatif di program kesejahteraan mental SEJIWA USM.

Meraih Keberkahan dari Melodi Jiwa - Karya: Nelly Amalia

Meraih Keberkahan dari Melodi Jiwa

Karya: Nelly Amalia


Aku tidak lagi menyebut ini suara,

ia adalah napas yang disusupkan langit

ke dalam rongga paling sunyi,

dari diriku yang pernah retak.


Pada dini hari yang nyaris tak bernama,

ketika embun menggigil di ujung waktu,

ada nada yang jatuh perlahan 

bukan dari dunia,

melainkan dari sesuatu yang lebih tua dari doa.


Ia mengetuk,

bukan telinga,

melainkan ingatan yang bahkan belum sempat lahir.


Dan aku bergetar.


Seperti tanah yang pertama kali disentuh hujan,

seperti luka yang diam-diam dipeluk cahaya,

melodi itu mengalir

menyusuri nadi,

mengendap di tulang,

lalu berpendar menjadi rahasia yang tak mampu kubahasakan.


Aku bertanya,

ini rindu, atau panggilan pulang?


Sebab setiap nadanya

membuka pintu-pintu yang selama ini kupaku sendiri,

menggugurkan gelap yang kupelihara

seolah ia rumah.


Dan kini,

aku berdiri di antara gema yang tak terlihat,

namun terasa lebih nyata

dari tubuhku sendiri.


Melodi itu tidak meminta apa pun,

tidak menjanjikan apa pun,

namun setiap getarnya

menjadi keberkahan yang turun tanpa suara.


Ia menjadikan air mataku suci,

menjadikan diamku penuh,

menjadikan aku…

lebih dekat dari jarak yang pernah kupahami.


Jika ini mimpi,

biarkan aku terjaga di dalamnya.


Jika ini cahaya,

biarkan aku hancur agar mampu memantulkannya.


Sebab pada akhirnya aku tahu

yang kucari bukan dunia yang bising,

melainkan satu nada kecil

yang diam-diam menuntunku 

pulang

kepada yang tak pernah benar-benar jauh.

MEMOIR SANG PERINDU: Karya Zamri H. Jamaluddin BWN

  MEMOIR SANG PERINDU Oleh : Zamri H.Jamaluddin BWN Di bawah lembayung senja yang kian melabuh di ufuk Sungai Brunei, sebuah kisah tentang k...

Carian popular