LELAKI SENJA DAN SEBUTIR KURMA
A.Rahim Eltara
Lelaki senja berwajah gerhana, berjalan ke arah
matahari tenggelam, mencari teduh kiblat,
menjumpai Tuhannya dalam linang air mata sunyi.
Pulang ke bawah jembatan menjelang petang,
rumahnya tak berperabot mewah, hanya meja kayu
dari kotak bekas, sebuah piring dan gelas plastik,
warnanya pun tak seterang lentera hatinya
yang setabah karang. Diletakkan sebutir kurma,
dan segelas air mineral, yang baru saja dipungut
di depan rumah gedongan dengan linang air mata,
Ia bayangkan nikmatnya, saat berbuka puasa nanti.
Sketsa letih dan pilu di wajahnya tersingkir oleh gema azan,
yang nyaring dari toa masjid.
Diteguknya air seteguk, menyejukkan kegersanagan jiwa,
yang seharian mengorek belas kasih kaum bertahta.
Dikunyah sebutir kurma. Manisnya mengiris
kisah kelam yang papa.
Hari ini, ia hanya memiliki sebutir kurma dan
segelas air, selain matahari dan air mata.
Sumbawa, 12 Maret 2026
AYAT-AYAT RAMADAN
Ramadan mengetuk pintu langit,
bumi menyaring pikir dalam zikir,
para malaikat tak henti bersalawat,
dan di rusuk sunyi,
yang papa memeluk lapar,
menyalami tangan-tangan derma.
Lapar bukan aksara pertama,
yang ditulis di buku harian,
tapi perih telah lama mengajarinya,
meniti titian kesabaran.
Dahaga adalah larik panjang,
tentang rasa syukur yang terkubur,
lebih nikmat dari seteguk air,
dan sebutir kurma.
Rakaat-rakaat luruh dalam sujud,
ayat-ayat ramadan berbisik,
mengalirkan ikhlas,
melangitkan doa,
dan air mata menetes,
membasuh debu kalbu,
mencari muara fitrah.
Ramadan mengetuk pintu surga,
anak-anak riang berebutan memasukinya,
syahdu tadarus mengalun di mana-mana,
arakan sahur bergembira ria,
menyanyikan lagu Bayu Lowie:
"Sahur-Sahur."
Puasa menjadi jamuan istimewa,
dalam pertemuan suci,
dan jalan pulang menuju ampunan-Nya.
Sumbawa, 16 Maret 2026
TANGIS DI UJUNG RAMADAN
Bulan Ramadan,
bulan agung dari seribu bulan.
Sucinya,
tidak ternoda oleh khilaf.
Keutamaannya,
tidak hilang oleh keangkuhan.
Keberkahannya,
tidak pudar oleh takabur.
Tiga puluh hari,
siang dan malam,
insan ihsan mencari rida Ilahi.
Malam ini, Ramadan pamit,
pintu dan jendela berderit,
detik-detik menjerit,
menguak musibah batin.
Langit menangis,
bumi meratap,
malaikat berduka.
Malam terakhir,
malam musibah paling besar
dari segala musibah.
Tidak ada lagi,
kepastian doa-doa diijabah.
Tidak ada lagi,
kepastian sedekah diterima.
Tidak ada lagi,
kepastian pahala dilipatgandakan.
Dan tidak ada lagi,
kepastian azab dibendung.
Langit, bumi, dan malaikat,
melata dalam air mata.
Sumbawa,18 Maret 2026
MENJEMPUT LAILATUL QADAR
Di pucuk kuba,
bulan melengkung setipis alis.
Ayat-ayat suci merdu,
menuju khatam.
Lentera menyala di teras ikhlas,
kalbu terang benderang.
Ramadan,
bulan rindang ampunan.
Malam sepuluh terakhir
bibir tertatih-tatih,
melebur dalam doa,
melipatgandakan sujud,
sepenuh khusuk.
Selesai tadarus,
anak-anak duduk tenang,
khidmat beritikaf,
di bawah teduh ramadan,
hatinya sebening mata balita,
menjemput lailatul qadar.
Sumbawa, 20 Maret 2026
BIODATA
A.Rahim Eltara, lahir di Sumbawa 16 Oktober 1962. Penerima Anugrah Bahasa dan Sastra Tahun 2018. Telah menerbitkan antologi tunggal: Kepak Sayap Rasa (2011), Ladang Kekasih (2018), Air Mata Zikir Sebening Mata Air Cinta (2023), Ibu Doa dan Cinta ( 2024),dan 93 antologi bersama. Beberapa kali memenangkan lomba menulis puisi baik Nasional maupun tingkat Asean, antara lain:
Pemenang Puisi Pilihan Gerakan Akbar 1000 Guru Menulis se Asean Tahun 2018, Juara 3 Lomba Menulis Puisi Hyang Pustaka Tahun 2024, Peringkat 10 Lomba Menulis Puisi 3 Negara Serumpun Tahun 2024, Juara 2 Lomba Menulis Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Tahun 2025.
Kontak 0853 3720 0200.