Ketika Laut Tak Lagi Menjadi Batas
Karya: Nelly Amalia
Aku mencintaimu
di antara dua bendera
yang berkibar pada langit berbeda.
Namamu kusebut
di sela azan subuh yang basah oleh embun,
sementara kau mungkin
menyebut namaku
di bawah matahari yang baru terbit
di tanah seberang.
Kita dipisahkan laut
selat yang biru namun kejam,
yang setiap gelombangnya
seakan bertanya:
“Seberapa kuat cintamu
menantang jarak?”
Aku tidak pernah membenci peta,
tetapi garis-garisnya
terlalu tega menggambar batas
pada sesuatu
yang lahir tanpa izin negara.
Rindu menjadi pasang surut
di dadaku.
Kadang tenang seperti doa ibu,
kadang menghantam keras
seperti badai yang tak menemukan daratan.
Aku ingin berlari kepadamu,
namun jarak menjelma tembok tak kasat mata.
Aku ingin menggenggam tanganmu,
namun angin hanya membawa
hangat bayangmu.
Dan pada malam-malam
yang terlalu sunyi untuk ditawar,
aku menatap bulan
bertanya apakah cahayanya
jatuh juga di wajahmu.
Jika iya,
maka kita tidak sepenuhnya terpisah.
Sebab langit tak pernah memilih
untuk berpihak pada satu negeri saja.
Biarlah laut menjadi saksi
bahwa cinta ini tidak gentar.
Biarlah waktu menguji,
biarlah dunia meragukan
kita akan tetap berdiri
di dua tepi berbeda,
namun dengan satu keyakinan yang sama.
Karena cinta bukan soal
di mana kaki berpijak,
tetapi di mana hati
berani menetap.
Dan aku telah memilih
menetap padamu,
meski dunia menyebutnya
dua dunia.