Rabu, 25 Februari 2026

KETIKA LAUT TAK LAGI MENJADI BATAS: Karya Nelly Amalia

Ketika Laut Tak Lagi Menjadi Batas

Karya: Nelly Amalia


Aku mencintaimu

di antara dua bendera

yang berkibar pada langit berbeda.


Namamu kusebut

di sela azan subuh yang basah oleh embun,

sementara kau mungkin

menyebut namaku

di bawah matahari yang baru terbit

di tanah seberang.


Kita dipisahkan laut

selat yang biru namun kejam,

yang setiap gelombangnya

seakan bertanya:

“Seberapa kuat cintamu

menantang jarak?”


Aku tidak pernah membenci peta,

tetapi garis-garisnya

terlalu tega menggambar batas

pada sesuatu

yang lahir tanpa izin negara.


Rindu menjadi pasang surut

di dadaku.

Kadang tenang seperti doa ibu,

kadang menghantam keras

seperti badai yang tak menemukan daratan.


Aku ingin berlari kepadamu,

namun jarak menjelma tembok tak kasat mata.

Aku ingin menggenggam tanganmu,

namun angin hanya membawa

hangat bayangmu.


Dan pada malam-malam

yang terlalu sunyi untuk ditawar,

aku menatap bulan

bertanya apakah cahayanya

jatuh juga di wajahmu.


Jika iya,

maka kita tidak sepenuhnya terpisah.

Sebab langit tak pernah memilih

untuk berpihak pada satu negeri saja.


Biarlah laut menjadi saksi

bahwa cinta ini tidak gentar.

Biarlah waktu menguji,

biarlah dunia meragukan

kita akan tetap berdiri

di dua tepi berbeda,

namun dengan satu keyakinan yang sama.


Karena cinta bukan soal

di mana kaki berpijak,

tetapi di mana hati

berani menetap.


Dan aku telah memilih

menetap padamu,

meski dunia menyebutnya

dua dunia.

PEREMPUAN YANG MEMILIH PERGI: Karya Nurul Afifah

 Perempuan Yang Memilih Pergi

KaryaNurul Afifah Rahim


Aku bukan ditinggalkan 

aku yang berjalan keluar

dari sebuah pintu

yang tidak pernah benar-benar terbuka.


Aku yang mengetuk dahulu,

menghulur salam dahulu,

memasak rindu di dapur kecil

bersama bau biskut batik kegemaranmu.


Kau makan,

kau senyum,

kau diam.


Aku menunggu

seperti petang menunggu maghrib

pasti datang

tetapi tidak pernah dipercepatkan.


Kerana bila lelaki tahu dia dipilih,

dia belajar untuk tidak bersungguh.


Kau selesa

di atas kasih yang aku bentang

seperti tikar hari raya,

sedang aku duduk bersila

meminta sedikit dihargai.


Aku tahu kau sayang,

tapi sayangmu tidak pernah berjalan,

ia hanya duduk.


Dan di hujung senyap itu

aku dengar satu suara lain 

bukan dari mulutmu

tetapi dari doa ibumu.


Dia tidak pernah menerima

nama negeri di hujung namaku.


Lalu aku faham,

aku bukan sedang melawan jarak,

aku sedang melawan akar.


Apa guna bertahan

jika pintu syurga seorang anak

tidak pernah membuka ruang untukku?


Maka aku pergi.

Bukan kerana kurang cinta,

tetapi kerana cinta tidak seharusnya

meminta aku mengecilkan diri.


Hari itu

aku pulang sebagai perempuan yang kalah pada hati,

tetapi menang pada maruah.


Dan sejak itu aku belajar 

yang paling menyakitkan bukan berpisah,

tetapi tinggal

di tempat kita tidak dipilih.


Nurul Afifah Rahim

18.2.2026

Rantau Panjang,Kelantan

KETIKA LAUT TAK LAGI MENJADI BATAS: Karya Nelly Amalia

Ketika Laut Tak Lagi Menjadi Batas Karya: Nelly Amalia Aku mencintaimu di antara dua bendera yang berkibar pada langit berbeda. Namamu kuseb...

Carian popular