Ahad, 11 Januari 2026

Musim Dingin yang Membekukan Kita: Sri Hidayati

 Nama : Sri Hidayati

Judul: Musim Dingin yang Membekukan Kita

Praha di bulan Januari adalah sebuah kulkas raksasa yang lupa dimatikan. Angin dari Sungai Vltava tidak sekadar berhembus, ia menusuk, mencari celah di balik lapisan jaket polyester bekas yang kubeli di pasar loak seharga lima euro.

Aku mengayuh sepeda butut milik layanan pesan-antar makanan itu dengan napas memburu. Uap putih mengepul dari mulutku setiap kali aku mengumpat pelan. Aplikasi di ponselku berbunyi, menandakan pesanan ke-sepuluh malam ini telah selesai.

Namaku Bayu. Di atas kertas formulir imigrasi, aku adalah mahasiswa pascasarjana jurusan Ekonomi Internasional dengan beasiswa penuh dari pemerintah. Sebuah status yang terdengar mentereng di kampung halamanku di Jawa. Namun, di jalanan berbatu cobblestone kota tua ini, aku hanyalah satu dari ribuan imigran yang bertahan hidup dengan menghitung sen demi sen Czech Koruna.

Bagi turis, salju adalah romantisme. Bagi mahasiswa sepertiku yang harus membagi uang beasiswa untuk biaya hidup dan kiriman ke orang tua di desa, salju adalah musuh. Ia membuat ban sepeda licin, membuat jari tangan beku, dan membuat perut lebih cepat lapar.

Saat itulah aku bertemu dengannya. Bukan di jalanan becek ini, tapi di perpustakaan universitas yang hangat, tempat di mana bau buku tua dan pemanas ruangan menyelamatkan kewarasanku.

Namanya Valeria.

Pertemuan kami bagaikan sebuah klise, layaknya adegan film yang sering diputar di bioskop, namun tanpa latar musik orkestra. Saat itu, aku sedang berjuang dengan data statistik untuk tesisku di sudut perpustakaan. Di meja sebelah, seorang gadis Asia terlihat frustrasi, menumpahkan isi tasnya mencari sesuatu.

"Cari pengisi daya?" tanyaku dalam Bahasa Inggris, melihat kabel kusut di tangannya yang tidak cocok dengan stopkontak Eropa.

Dia menoleh. Matanya bulat, wajahnya bersih tanpa jejak minyak sedikitpun tanda perawatan kulit mahal yang rutin. "Ah, iya. Adapter-ku tertinggal di apartemen. Kamu... orang Indonesia?"

Aku mengangguk, menyodorkan universal adapter milikku. "Pakai saja dulu."

Itulah awalnya. Valeria adalah mahasiswi jurusan Seni dan Manajemen Mode. Kami sama-sama berasal dari Indonesia, sama-sama menuntut ilmu di Praha, namun berasal dari dua planet yang berbeda.

Planetku adalah planet kalkulasi. Aku tahu harga termurah roti di supermarket Albert, aku tahu jam berapa pasar memberikan diskon sayuran layu, dan aku tahu rute trem mana yang tidak diperiksa tiketnya saat malam larut.

Planet Valeria adalah planet kemudahan. Ia tinggal di sebuah apartemen penthouse di kawasan Praha 1, pusat kota yang harga sewanya setara dengan beasiswaku selama enam bulan. Ia tidak pernah melihat harga menu saat memesan makanan. Ia berbicara tentang liburan akhir pekan ke Paris atau Milan seolah-olah itu hanyalah perjalanan ke minimarket.

Anehnya, kami menjadi dekat.

Mungkin karena Valeria bosan dengan lingkaran teman-teman sosialitanya yang palsu. Ia sering berkata bahwa aku "autentik". Ia suka mendengarkanku bicara tentang teori ekonomi, tentang ketimpangan pasar, tentang mimpi-mimpiku membangun desa. Ia memandangku dengan tatapan kagum yang polos tatapan yang perlahan-lahan membuat pertahananku runtuh.

"Kamu pintar banget sih, Bay," katanya suatu sore, sambil menyeruput hot chocolate di sebuah kafe mahal di dekat Jembatan Charles. Aku hanya memesan air mineral.

"Pintar saja tidak cukup untuk bertahan hidup di sini, Val," jawabku datar.

"Makanya, kamu jangan terlalu kaku. Sekali-kali nikmati hidup. Weekend ini kita ke Vienna yuk? Ada opera bagus. Aku yang traktir tiketnya."

Aku tersenyum kecut. "Aku harus kerja paruh waktu, Val. Shift akhir pekan bayarannya dobel."

Valeria cemberut. Wajahnya cantik sekali saat sedang kecewa begitu. "Kerja terus. Kapan kamu punya waktu buat aku?"

Pertanyaan itu terdengar manja di telinganya, tapi terdengar seperti lonceng peringatan di telingaku. Ia tidak mengerti. Ia tidak akan pernah mengerti bahwa bagi orang sepertiku, waktu adalah uang, dan uang adalah nyawa.

Namun, cinta memang seringkali tidak tahu diri. Meskipun logikaku berteriak untuk menjauh, hatiku justru merayap mendekat. Aku jatuh cinta pada kehangatan tawanya yang mampu mencairkan dinginnya Praha. Aku jatuh cinta pada caranya memanggil namaku.

Selama tiga bulan, aku membiarkan diriku bermimpi. Aku menjadi "kekasih" Valeria, meski dalam diam aku terus berperang dengan rasa minder yang mencekik.

Konflik itu datang bukan dalam bentuk pertengkaran hebat, melainkan dalam bentuk kebaikan yang merendahkan.

Malam itu adalah perayaan ulang tahun Valeria. Ia mengadakan pesta privat di sebuah restoran fine dining di atas bukit Petřín, dengan pemandangan seluruh kota Praha yang berkelap-kelip di bawah.

"Bayu, kamu datang kan?" tanyanya lewat telepon.

"Val, tempat itu... dresscode-nya formal. Aku nggak punya jas." Itu alasan jujur. Satu-satunya jas yang kupunya adalah jas almamater kampus yang kedodoran.

"Jangan khawatir!" suaranya riang. "Nanti sore supirku, Pak Karel, bakal jemput kamu. Aku sudah siapkan setelan Armani buat kamu. Ukurannya pasti pas, aku sudah kira-kira."

Hening.

Di ujung telepon, Valeria mungkin merasa sedang menjadi peri penolong. Tapi di kamar asramaku yang sempit dan lembap, aku merasa ditampar.

"Val," suaraku bergetar menahan emosi. "Aku bukan boneka mannequin yang bisa kamu dandani sesuka hati."

"Lho? Maksudnya gimana? Aku kan cuma mau bantu biar kita serasi nanti malam. Teman-teman Papa banyak yang datang, Bay. Ada Duta Besar juga. Aku mau kenalin kamu."

Kata-kata itu. Supaya kita serasi.

Aku sadar saat itu juga. Di matanya, aku yang asli Bayu dengan jaket bekas dan sepatu kets yang solnya mulai lepas tidaklah pantas bersanding dengannya. Agar bisa "serasi", aku harus dibungkus dengan kain mahal pemberiannya. Aku harus disulap.

"Aku nggak bisa datang, Val," kataku dingin.

"Bayu! Kamu kenapa sih? Ego kamu itu lho, tinggi banget! Apa salahnya menerima bantuan pacar sendiri?"

"Masalahnya bukan pada bantuannya, Val. Masalahnya adalah kamu tidak sadar bahwa caramu itu menegaskan siapa aku sebenarnya. Aku cuma buih, Val. Dan kamu maksa aku jadi permadani buat dipamerin ke teman-teman Papamu."

"Kamu ngomong apa sih? Drama banget."

Aku mematikan telepon. Malam itu, aku tidak datang. Aku menghabiskan malam dengan mengayuh sepedaku menembus badai salju, mengantar pizza ke apartemen-apartemen mewah, sambil membayangkan Valeria sedang tertawa di atas bukit sana, dikelilingi pria-pria yang dasinya seharga gaji bulananku.

Terasa terhempas kelakianku ini. Lirik lagu lama itu terngiang di kepalaku, mengejek nasibku yang lancang mencintai anak raja.

Hubungan kami memburuk setelah malam itu, tapi belum benar-benar berakhir. Valeria, dengan kenaifannya, mencoba memperbaiki keadaan. Ia datang ke asramaku seminggu kemudian. Itu pertama kalinya ia melihat tempat tinggal asliku.

Ia berdiri di ambang pintu, hidungnya berkerut mencium bau lembap karpet tua dan aroma masakan tetangga kamar sebelah yang menyengat. Ia melihat tumpukan mie instan di sudut kamar makanan pokokku.

"Bay," katanya pelan. "Maafin aku soal kemarin. Aku nggak bermaksud nyinggung kamu."

Aku duduk di tepi kasur, menatapnya. Ia memakai mantel bulu tebal berwarna krem. Di ruangan suram ini, ia terlihat sangat bercahaya, sekaligus sangat asing.

"Duduklah," kataku.

Valeria duduk dengan ragu, takut mengotori mantelnya.

"Papa bilang," Valeria memulai pembicaraan, matanya berbinar antusias, "kalau kita lulus nanti, kamu bisa kerja di holding perusahaan Papa di Jakarta. Posisi staf ahli direksi. Gajinya besar, Bay. Atau kalau kita mau stay di Eropa, Papa bisa belikan apartemen di distrik 2. Kita bisa nikah dan hidup nyaman."

Dadaku sesak. Tawaran itu terdengar seperti surga bagi kebanyakan orang. Jalan pintas menuju kemapanan. Tapi bagiku, itu adalah lonceng kematian bagi harga diriku.

"Jadi syaratnya itu?" tanyaku tajam.

"Syarat apa?"

"Syarat supaya aku bisa sama kamu. Aku harus jadi parasit di ketiak orang tuamu? Aku harus berhutang budi seumur hidupku pada Papamu?"

"Bayu! Kok kamu mikirnya gitu? Itu namanya realistis! Kamu mau kita hidup susah? Kamu mau aku tinggal di tempat kayak gini?" Valeria menunjuk sekeliling kamarku dengan tatapan ngeri.

Kalimat itu adalah paku terakhir.

Benar. Dia tidak salah. Seorang putri raja tidak pantas tinggal di gubuk. Dan seorang kuli tidak pantas bermimpi membawa putri raja keluar dari istana.

"Kamu benar, Val," bisikku. Suaraku parau. "Aku tidak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan. Aku tidak bisa mengubah buih ini menjadi permadani, sekeras apapun aku mencoba. Duniamu di sana, duniaku di sini. Tembok di antara kita bukan cuma perasaan, tapi nasib."

"Maksud kamu?" Valeria mulai menangis.

"Kita selesai. Pulanglah, Val. Tempatmu bukan di sini."

Hari itu, Valeria pergi membanting pintu. Aku mendengar suara hak sepatunya menjauh di lorong asrama, semakin lama semakin pelan, lalu hilang. Aku tidak mengejarnya. Aku hanya diam, membiarkan keheningan kembali memelukku seperti kawan lama.

Waktu berlalu seperti roda sepeda yang berputar lambat di tanjakan.

Setahun kemudian, aku lulus. Aku mendapatkan gelarku, tapi aku kehilangan hatiku. Aku bekerja di sebuah perusahaan logistik di pinggiran Praha, cukup untuk hidup layak, tapi jauh dari kata mewah.

Aku tidak pernah menghubungi Valeria lagi. Namun, kabar tentang orang-orang "langit" selalu punya cara untuk sampai ke telinga orang-orang "bumi".

 

Undangan itu tidak mampir ke kotak posku, tapi beritanya terpampang di media sosial teman-teman Indonesia di Eropa.

The Royal Wedding: Valeria & Adrian.

Adrian. Aku tahu siapa dia. Anak salah satu konglomerat tambang batu bara. Pria yang setara. Pria yang tidak perlu "disulap" pakai jas Armani karena dia sudah terlahir dengan kulit sutra. Pria yang sekufu.

Lokasi pernikahannya di Wina, Austria. Tapi resepsi kedua diadakan di Praha, di sebuah hotel istana bersejarah, Lobkowicz Palace, tempat di mana para bangsawan Eropa dulu berpesta.

Hari ini adalah harinya.

Entah dorongan masokis dari mana, aku memutuskan untuk datang. Bukan sebagai tamu tentu saja aku tidak diundang tapi sebagai penonton di barisan paling belakang. Sebagai pengintai.

Sore itu salju turun lebat sekali. Aku berdiri di seberang jalan, berlindung di balik bayang-bayang patung tua. Dari kejauhan, kemewahan itu menyilaukan mata.

Deretan mobil Rolls-Royce dan Bentley hitam mengkilap mengantre di depan gerbang istana. Lampu-lampu kristal chandelier dari dalam gedung memancar keluar menembus jendela-jendela kaca yang tinggi.

Lalu aku melihatnya.

Valeria turun dari mobil pengantin. Ia mengenakan gaun putih berekor panjang, bertabur kristal yang memantulkan cahaya lampu kota. Di kepalanya tersemat tiara kecil. Ia tersenyum, menggandeng lengan Adrian yang tampak gagah dan percaya diri.

Mereka terlihat sempurna. Seperti sepasang boneka porselen di etalase toko termahal yang tak boleh disentuh tangan kotor.

Tiba-tiba, Valeria berhenti sejenak sebelum menaiki tangga. Ia menoleh ke arah jalanan, ke arah kegelapan tempatku berdiri. Tatapannya menyapu kerumunan orang-orang biasa yang menonton dari balik pagar betis keamanan.

 

Jantungku berhenti berdetak. Apakah dia mencariku? Apakah di sudut hati kecilnya, ia masih mengingat mahasiswa miskin yang pernah meminjamkan adapter listrik padanya?

Tapi tatapan itu kosong. Ia tidak melihatku. Atau mungkin, ia melihatku tapi matanya tidak lagi mengenali sosok yang terlalu kecil ini. Baginya, aku mungkin hanyalah bagian dari latar belakang kota, sama seperti tiang lampu atau tong sampah di trotoar.

Adrian membisikkan sesuatu, dan Valeria tertawa. Tawa yang dulu pernah menjadi milikku, kini terdengar begitu jauh, milik dunia yang tak tersentuh.

Mereka masuk ke dalam istana. Pintu besar tertutup perlahan. Tirai beludru merah di jendela-jendela raksasa itu satu per satu diturunkan, memblokir pandangan dari luar.

Lirik itu benar. Aku hanya pungguk yang merindukan bulan. Dan bulan tidak pernah turun ke bumi untuk menemui pungguk. Bulan tetap di sana, di langit, bersanding dengan bintang-bintang yang sepadan.

Aku merogoh saku mantel tebalku. Jariku menyentuh sebuah kotak kecil lusuh. Di dalamnya ada sebuah kalung perak sederhana dengan liontin inisial 'V'. Benda yang kubeli dengan menyisihkan uang makan siangku selama berbulan-bulan dulu, namun tak pernah sempat kuberikan.

Aku mengeluarkan kalung itu. Perak itu tampak kusam dan menyedihkan di bawah cahaya lampu jalan, tak sebanding dengan kilauan berlian yang melingkar di lehernya tadi.

"Selamat tinggal, Permadani," bisikku pelan. Uap dingin keluar dari mulutku, membawa serta sisa-sisa harapan yang masih tertinggal.

Aku berjalan menuju tepi jembatan. Di bawah sana, Sungai Vltava mengalir hitam dan dingin, membawa pecahan-pecahan es menuju utara.

Kulemparkan kalung perak itu.

Plung.

Tidak ada suara yang berarti. Benda itu hilang ditelan air, tenggelam ke dasar sungai, bergabung dengan lumpur dan sampah. Seperti itulah cintaku. Seperti buih yang pecah, hilang tak berbekas, sementara kehidupan di dalam istana sana terus berpesta dengan megahnya.

 

Aku membalikkan kerah jaketku, menahan terpaan angin yang semakin kencang. Kakiku melangkah menjauh, menyeret tubuh yang terasa kosong ini kembali ke stasiun trem, kembali ke duniaku yang sunyi.

Aku menyerah. Kali ini, aku benar-benar menyerah.

 

Bio narasi.

 


Sri Hidayati, mahasiswi semester 3 Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat yang sedang belajar mencintai aksara. Terus berjuang menempa diri lewat literasi, sembari berharap tulisannya mampu menjadi teman bagi siapa saja yang membacanya.

 

Tiada ulasan:

Musim Dingin yang Membekukan Kita: Sri Hidayati

  Nama : Sri Hidayati Judul: Musim Dingin yang Membekukan Kita Praha di bulan Januari adalah sebuah kulkas raksasa yang lupa dimatikan. Angi...

Carian popular