SEBUAH BUKU, SEBUAH SENJA, DAN KAMU
Karya: Angela Merici Wintari Ayu Kusuma Wardani
Cinta adalah sebuah kata yang selalu membuatku tersenyum dalam setiap langkah kakiku. Ia datang seperti cahaya senja yang jatuh perlahan ke permukaan bumi. Hangat, lembut, dan penuh makna. Kau tahu? Cinta membuat aku bahagia melakukan apa pun. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa lelah, tidak ada beban. Cinta mengisi ruang hatiku seperti angin sore yang menyapu dedaunan, tenang dan pasti.
Namun pertanyaanku selalu sama: bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah mengalami cinta?
Bagaimana dengan mereka yang tidak paham arti dicintai dan mencintai?
Apakah mereka akan menjadi budak cinta?
Apakah mereka akan bekerja bagai robot, melakukan segalanya hanya karena takut ditinggalkan?
Banyak yang berkata, “Jika seseorang sangat mencinta, ia bisa melakukan hal bodoh.” Tetapi aku percaya, tidak begitu. Cinta, bagiku, bukanlah kebodohan. Cinta adalah kebijaksanaan yang datang bersama keberanian untuk membuka hati, menerima risiko, dan tetap memilih untuk bersinar.
Cinta ibarat langit senja — indah, sejuk, dan memeluk dari jauh. Ia memberikan udara untuk bernapas, ruang untuk berekspresi, dan tempat untuk berinovasi di tengah riuh kehidupan. Ia datang sebagai hadiah bagi mereka yang bersedia melihat sesuatu bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati.
Aku pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Dengan sangat tulus. Dengan segala yang aku punya. Tetapi… semuanya tidak berjalan seperti yang aku inginkan. Kami sampai pada titik jenuh, titik di mana dua hati yang awalnya saling mendekat malah perlahan menjadi dua dunia yang saling menjauh. Pada akhirnya, kami memilih perpisahan.
Saat itu, aku yakin cinta tidak akan pernah datang kembali.
Aku pikir bunga yang telah hancur tidak akan pernah tumbuh lagi, apalagi bersemi.
Tetapi nyatanya… aku salah. Bunga itu tidak hanya tumbuh kembali. Ia tumbuh lebih subur, lebih harum, dan bersemi pada waktu yang jauh lebih tepat.
Seperti orang-orang yang datang ke Jepang untuk melihat bunga Sakura, atau ke Belanda untuk melihat bunga Tulip, aku datang kepada seseorang yang membuatku jatuh cinta pada hidup, sekali lagi. Seseorang yang menyembuhkan lukaku, yang menunjukkan arti cinta sesungguhnya tanpa meminta apa pun sebagai balasan.
Dia adalah Antonio.
Pria yang hadir bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai rumah.
Pria yang konsisten, yang keras kepala dengan egonya, yang selalu menjaga dan melindungiku lebih dari sekadar seorang sahabat. Kehadirannya menenangkan, meski kadang ia berbicara dengan nada datar seolah dunia tidak mampu menggoyahkan langkahnya.
Dan yang paling ajaib, semuanya bermula dari sebuah sudut perpustakaan di Shanghai.
Hari itu, Shanghai sedang berada dalam musim semi. Angin membawa aroma bunga plum dari taman depan universitas. Aku berjalan sendirian menyusuri lorong perpustakaan terbesar di kota itu, tempat favoritku sejak pertama kali menginjakkan kaki di negara yang penuh filosofi dan sejarah ini.
Aku mencintai Shanghai — jalanannya, langkah-langkah cepat masyarakatnya, bangunannya yang membawa kisah dari masa lalu, dan terutama… perpustakaannya. Di sana, aku bisa bernapas. Di sana, aku merasa waktu berjalan lebih lambat, seakan memberi kesempatan untuk menata ulang isi hati.
Aku tengah mencari sebuah buku sejarah tentang Konfusius, tokoh yang telah lama membuatku penasaran. Ada banyak hal dari filsafatnya yang terasa menyentuh, mengajarkan keseimbangan, kebijaksanaan, dan ketenangan. Sudah berbulan-bulan aku ingin membacanya.
Saat aku tiba di rak tempat buku itu disimpan, aku terhenti, karena buku satu-satunya yang tersisa… telah diambil seseorang.
Pria itu berdiri membelakangiku. Tinggi, dengan jaket hitam, rambut hitam pekat yang sedikit berantakan, dan aura yang terasa… dewasa. Entahlah, sulit dijelaskan. Namun sesuatu padanya terasa berbeda.
Dengan spontan aku berkata,“Eh! Tunggu… Itu buku saya!”
Pria itu menoleh cepat, seakan dikejutkan oleh suaraku.
Matanya tajam, namun lembut pada saat yang sama.
“Maaf,” katanya sambil mengangkat buku itu sedikit.
“Kamu mau baca buku ini?”
“Iya,” jawabku sambil tersenyum kikuk. “Bukunya tinggal satu.”
Dia menatapku sebentar, lalu berkata pelan, “Kalau begitu… bagaimana kalau kita baca bersama?”
Aku mengangguk. “Boleh. Kamu suka Konfusius?”
Dia tersenyum tipis. “Tidak juga. Aku mengagumi filosofi China, sejarahnya, dan banyak hal tentang negara ini. Tapi aku tidak merasa menjadi pengagum khusus.”
Aku tertawa kecil. “Kamu tidak terlihat seperti orang yang tertarik dengan filsafat.”
“Dan kamu terlihat seperti seseorang yang sudah lama mencarinya,” balasnya.
Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Ada sesuatu pada suaranya — tenang, datar, tetapi menghangatkan.
Kami akhirnya duduk berdampingan di meja kayu dekat jendela besar, membaca buku itu bersama. Aku lupa kapan terakhir kali merasakan keheningan yang begitu nyaman dengan seseorang.
Setelah beberapa halaman, dia berkata, “Besok kamu ada waktu? Aku ingin menunjukkan sebuah museum sejarah. Dan beberapa bangunan kuno lain di Jiang. Kamu tertarik pada sejarah, ‘kan?”
Aku menatapnya heran .“Kamu dari Jiang? Kota itu indah, aku pernah lihat fotonya. Ada banyak kastil kuno di sana.”
Dia mengangguk. “Benar. Kalau kamu mau, aku bisa mengajakmu.”
Pertemuan kami dimulai dari sebuah buku. Tetapi justru dari buku itulah seluruh jalan hidupku berubah.
Perjalanan kami ke Jiang adalah awal dari semuanya.
Kami berjalan melewati jembatan batu berusia ratusan tahun. Kami duduk di bawah pohon Willow yang menari diterpa angin. Kami mengunjungi museum yang menceritakan perjalanan dinasti-dinasti tua di China. Dan di setiap tempat kami berhenti, ada saja percakapan yang membuatku merasa… mengalir.
Ada bagian yang lucu juga. Saat aku bertanya, “Kenapa kamu mau mengantar aku? Kita baru bertemu.”
Dia menjawab dengan datar, “Karena kamu tampak seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu, tapi kamu tidak tahu apa yang kamu cari.”
Aku tidak tahu apakah dia membaca pikiranku, atau hanya berkata acak. Tetapi entah bagaimana, kalimat itu menghantamku dalam. Karena ia benar.
Aku sedang mencari sesuatu. Mungkin kedamaian, mungkin arah, atau mungkin… cinta yang sederhana.
Antonio tidak pernah mencoba membuatku jatuh cinta. Dia tidak menggoda, tidak mencoba terlihat menarik, tidak memaksakan percakapan. Dia hanya… hadir. Dengan caranya sendiri.
Dan itu cukup untuk membuatku merasa aman.
Dari hari ke hari, pertemuan kami menjadi semakin rutin. Kadang kami membaca buku bersama. Kadang kami berjalan menyusuri sungai. Kadang kami hanya duduk tanpa bicara. Tetapi justru dalam keheningan itulah, aku menemukan bagian dari diriku yang selama ini hilang.
Aku mulai menyadari sesuatu. Bahwa mungkin, cinta tidak datang dengan gemuruh. Tidak selalu dengan jantung berdebar atau perasaan kacau. Kadang cinta datang pelan, sopan, dan sabar seperti Antonio.
Suatu sore, di perpustakaan yang sama tempat kami pertama bertemu, Antonio tiba-tiba berkata, “Aku rasa… aku mengerti apa itu cinta.”
Aku menatapnya, penasaran. Dia jarang berbicara tentang perasaan.
“Apa itu?” tanyaku perlahan.
Dia menutup buku kami. “Cinta adalah ketika kamu ingin seseorang melihat dunia dengan cara yang lebih indah. Dan kamu ingin ada di setiap hal indah yang dia lihat.”
Aku terdiam. Kalimat itu… sederhana, tetapi menembus.
Dia melanjutkan, “Dan ketika kamu ada di dekat orang itu… kamu tidak merasa harus menjadi siapa pun.”
Aku bisa merasakan jantungku bergetar, pelan tetapi pasti.
Lalu ia menatapku, tidak buru-buru, tidak memaksa.
“Angel… kamu membuat aku merasa seperti itu.”
Aku menunduk. Tanganku menggenggam sisi meja.
“Antonio… aku takut.”
“Akan apa?”
“Takut merasakan lagi. Takut jatuh cinta lagi. Takut kecewa lagi.”
Dia tersenyum lembut, untuk pertama kalinya.
“Kalau begitu, biar aku yang jatuh dulu. Kamu menyusul kapan-kapan.”
Aku tertawa pelan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… siap untuk membuka hati lagi.
Hubungan kami tidak pernah diberi nama. Tidak ada kata jadian, tidak ada janji manis, tidak ada momen mengikat yang dramatis. Tetapi ada ketulusan. Ada konsistensi. Ada perasaan yang tumbuh dan menyelimuti tanpa suara.
Suatu hari, saat kami berjalan menyusuri tepi sungai Huangpu menjelang senja, langit berubah jingga keemasan. Sekelebat angin membawa dedaunan jatuh ke air, dan di momen itu, aku merasakannya.
Cinta…..
Yang datang setelah luka. Yang tumbuh setelah patah.
Yang mekar tanpa aku sadari.
Aku menatap Antonio dari samping. Pria yang tidak pernah mencoba mengubahku, tetapi justru mengajariku menerima diriku sendiri.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa terlalu kecil untuk menampung apa yang aku rasakan.
Mungkin itu sebabnya aku hanya berkata, “Terima kasih… sudah datang di waktu yang tepat.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tanganku pelan, ragu, tetapi hangat.
Dan dalam diam itu, aku tahu: cinta telah menemukan jalannya. Sekali lagi.
Tetapi hidup… selalu menyimpan misteri.
Sebulan kemudian, Antonio menerima tawaran pekerjaan di kota lain. Jauh. Ia datang ke perpustakaan tempat kami pertama bertemu, duduk di sudut yang sama, dan memberiku berita itu.
Aku hanya menatapnya.
“Kamu akan pergi?” tanyaku.
“Untuk sementara,” jawabnya, “aku harus mengambil kesempatan ini.”
Aku mengangguk, meski ada kekosongan yang perlahan tumbuh di dadaku.
Antonio menatapku lama, lalu berkata, “Angel… hubungan kita tidak pernah punya definisi. Tapi perasaan itu nyata. Kalau kamu bertanya apakah ini akhir… aku juga tidak tahu.”
Dia mengembuskan napas pelan. “Tapi aku berharap, apa pun yang terjadi, kita akan bertemu lagi di bab berikutnya.”
Bab berikutnya. Kata-kata itu menggema di kepalaku.
Aku tersenyum kecil. “Mungkin… takdir akan menuliskan halaman baru untuk kita.”
Dan di antara rak-rak buku, di bawah cahaya perpustakaan yang temaram, kami saling menatap tanpa kepastian, tanpa janji, tetapi dengan rasa yang belum selesai.
Dia pergi sore itu. Tidak ada drama. Tidak ada air mata yang tumpah. Hanya dua hati yang mengerti bahwa cinta… kadang harus memberi ruang.
Aku berdiri di dekat jendela besar perpustakaan, memandang senja yang turun perlahan.
Sebuah buku. Sebuah senja. Dan seseorang yang datang tanpa rencana.
Begitulah cinta kadang bekerja ia muncul ketika halaman hidupmu belum selesai, dan menghilang ketika kau mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Namun aku tahu satu hal:
Cinta yang datang dari ketulusan… tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk, menunggu waktu untuk bersemi lagi.
Dan mungkin suatu hari nanti di perpustakaan, di museum, atau di kota mana pun…
Aku akan bertemu lagi dengan Antonio. Atau mungkin, bab itu akan ditulis dengan cara lain.
Sampai saat itu tiba, aku menyimpan cerita ini dalam hatiku:
Sebuah buku, sebuah senja, dan kamu.
Nomor WhatsApp: 087740076346
Bionarasi: Hey aku Angel. Aku seorang gadis yang menyukai sastra dan sejara. Bagiku, tulisan bukan hanya tentang aku, kamu, tetapi tentang kita. Penulis yang mencintai senja, sejarah, dan kisah yang menyembuhkan. Percaya bahwa cinta datang pada waktu yang tepat. Menuliskan kisah dari hati, untuk hati.