Memaparkan catatan dengan label CERPEN. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label CERPEN. Papar semua catatan

Ahad, 19 Julai 2026

SAWAH TERAKHIR: Karya Sahbuddin Dg. Palabbi

 

SAWAH TERAKHIR

Sahbuddin Dg. Palabbi

Sawah itu adalah urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari tangan-tangan yang menghitam menanam harapan di tanah basah. Aku mewarisinya seperti mewarisi napas. Tak pernah kupikir untuk menjualnya. Namun, keadaanlah yang memaksaku memutus urat nadi itu dengan tanganku sendiri. Bukan untuk makan. Bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk membeli sebuah pintu yang katanya akan mengubah hidup anakku: pintu hijau.

***

Beberapa bulan lalu, Fadli, anakku, pulang dari kota dengan mata sembab. Tes masuk tentara yang ia impikan sejak kecil tak membawanya ke barak, melainkan ke sebuah warung kopi, tempat ia duduk diam berjam-jam menelan kekecewaan.

“Nilai fisikku bagus, Bapak. Tapi… mereka bilang ada yang kurang,” ucapnya pelan.

Aku tahu maksudnya. Bukan kurang latihan, bukan kurang disiplin, melainkan kurang uang pelicin.

Fadli sudah lama bercita-cita menjadi prajurit. “Bapak,” katanya, “kalau aku jadi tentara, aku bisa jaga negeri dan jaga Bapak.”

Aah anakku… negeri ini lebih pandai menelan penjaganya ketimbang dijaga olehnya. Namun aku diam. Kadang seorang ayah harus memelihara mimpi anaknya, walau tahu mimpi itu akan dijadikan barang dagangan di pasar gelap.

Orang bilang, sekali pintu itu terbuka, nama keluargamu akan diucap dengan hormat, anakmu akan disapa dengan tegap, dan hidupmu akan diisi oleh kebanggaan. Namun di balik pintu itu, ada harga yang tak tercantum di formulir pendaftaran. Harga yang tak bisa dibayar dengan nilai ujian atau keringat latihan, hanya dengan lembaran uang yang beraroma tanah basah dari sawah yang akan kugadaikan.

***

Siang itu, aku sedang duduk di warung kopi dekat pasar. Sebuah kedai sederhana. Meja-meja tua dengan cat mengelupas, dinding papan pudar, dan rak botol sirup yang lebih banyak berdebu daripada terpakai.

Angin membawa bau bawang merah kering, bercampur aroma kopi tubruk yang baru dituang. Udin, si pemilik kedai yang juga teman SMP, duduk di bangku kayu dekat pintu, mengipasi bara tungku kecil yang mulai meredup. Di sudut lain, istrinya menjemur kerupuk di atas tampah bambu, sambil sesekali menepuk bahunya yang pegal.

“Eh, Run, sudah lama?” sapanya. Suaranya hangat seperti dulu.

“Baru saja. Kebetulan lewat sini, Din,” jawabku, lalu memesan segelas kopi.

“Aku dengar Fadli sudah ikut tes masuk tentara?” tanyanya, menatapku serius.

Aku mengangguk pelan. “Iya… tapi belum lulus. Katanya, ada yang kurang.”

Udin mengerutkan dahi. “Yang kurang? Jangan bilang… jalan pintas?”

Aku menelan ludah, menatap kopi yang mengepul. “Kurang… uang pelicin.”

Udin menghela napas panjang, wajahnya tetap bersih dari amarah. “Percaya saja sama kemampuan anakmu, Run. Kalau rezekinya jadi tentara, ya jadi. Kalau tidak, mungkin Tuhan punya jalan lain yang lebih baik.”

Ia menuang air panas ke gelas pesanan pelanggan lain, lalu menoleh padaku sambil tersenyum tipis. “Kakak sepupuku juga tentara, pangkatnya lumayan. Masuk lewat jalur resmi, murni tes. Waktu itu keluarganya susah. Jangankan sogok, makan saja kadang utang. Tapi dia lulus juga. Sekarang hidupnya sudah makmur, rumah besar, mobil ada, anaknya kuliah di Akmil.”

Aku hanya tersenyum. Aku tahu Udin bicara dari hati yang bersih. Wajahnya juga bersih dari kerut ambisi. Terlalu bersih untuk mengerti lumpur yang menempel di pintu hijau itu.

“Anakmu gimana, Din? Masih di pesantren?” tanyaku sambil meniup kopi panas.

“Masih,” jawabnya sambil mengangguk, “alhamdulillah, dapat beasiswa penuh. Padahal, kemarin ada yang nawarin jalur cepat, sekolah kedinasan, tinggal bayar orang. Pamannya mau bantu, tapi anakku nggak mau. Katanya, kalau rezeki halal pasti ada jalannya.”

Ia tertawa kecil. Entah bangga, entah pasrah. Udin bilang, dagang begini cukup untuk hidup, tetapi tak pernah cukup untuk membeli mimpi yang terlalu mahal.

Aku menghirup kopi pelan-pelan, sambil membatin, mimpi yang terlalu mahal kadang hanya menunggu satu keputusan gila untuk dibeli.

***

Dua hari kemudian. Di beranda rumahku, datang seorang lelaki berwajah teduh bernama Marlan. Ia membawa kabar, katanya ada seseorang di kota yang bisa “membantu” Fadli menjadi tentara.

Matanya menyelidik, suaranya lembut tetapi berat. “Orang ini… jalannya cepat, tapi tidak gratis.”

Aku menatap sawahku. Padi-padi itu mulai menguning. Aku tahu, jika aku menjualnya sekarang, harganya akan jatuh. Tetapi, waktu tak bisa menunggu lama.

“Aku dengar,” kata Marlan lagi, “orang ini pernah menolong banyak anak di desa lain. Kalau mau, aku bisa mengantar besok.”

***

Keesokan harinya, Marlan menjemputku dengan motornya. Angin siang mengibaskan ujung sarung yang kulilitkan di pinggang, sementara jalanan kota semakin ramai menjelang pasar sore.

Rumah itu terletak di ujung jalan kota, agak jauh dari deretan rumah dinas tentara yang sederhana. Begitu sampai, aku langsung sadar, bangunannya terlalu bagus untuk ukuran seorang sersan dua. Dindingnya dicat krem muda, bersih tanpa retakan. Terasnya berubin marmer, mengilap seperti baru dipoles. Pagar besi hitam berkilau, halaman lebar dengan rumput yang dipangkas rapi. Dua pohon palem berdiri di kanan-kiri jalan masuk, seperti penjaga kehormatan.

Seorang lelaki berambut separuh memutih bersandar di kursi rotan, menikmati sore di teras rumah itu. Namanya Pak Surya, begitu kata Marlan, mengenakan kaos putih polos dan celana kain longgar. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Tatapan matanya seperti cermin yang menembus sampai tulangku.

“Kau tahu sendiri, pintu hijau itu berat. Tapi ada caranya agar engselnya lebih mudah dibuka,” ucapnya setelah kusampaikan maksud kedatanganku.

“Kalau mau cepat, harus ada pelicin,” lanjutnya. Jumlahnya… setara seluruh sawahku.

Aku mengangguk pelan, pura-pura tenang meski dadaku seperti diremas. “Beri aku waktu. Uang itu akan kuantarkan sebelum hari tes,” kataku.

Surya menatapku tajam. “Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Sekali saja bocor, urusanmu akan jadi panjang,” ujarnya dingin.

Aku mengangguk lagi, menelan ludah.

Marlan, yang sedari tadi bersandar di kursi, ikut menimpali, “Tenang Pak Sur. Orang ini bisa menjaga rahasia.”

Dalam perjalanan pulang, pikiranku kusut. Malamnya, aku membicarakan hal itu dengan istriku. Kami sepakat. Entah ini keputusan benar atau salah, Fadli harus ikut jalur itu.

Keesokan harinya, aku mulai mencari pembeli.

Berhari-hari aku keliling, menawarkan sawahku ke sana kemari. Sampai akhirnya seorang pedagang beras dari kecamatan sebelah, mau membelinya. Harganya pas. Tidak lebih, tidak kurang, sesuai dengan jumlah yang disebut Surya. Aku menandatangani surat jual beli dengan tangan gemetar, rasanya seperti mengiris bagian dari tubuhku sendiri.

Sesuai kesepakatan, aku kembali menemui Pak Surya.

Tanganku bergetar saat menyerahkan amplop itu, begitu tebal hingga lipatannya nyaris tak tertutup rapat. Ia menerima tanpa banyak bicara, hanya matanya melirik pada secangkir kopi di sebelahnya. Seolah minuman itu menyimpan arti yang hanya ia pahami.

Beberapa minggu kemudian, gelombang penerimaan tentara dibuka lagi. Fadli ikut tes. Dan benar saja, ia lulus keseluruhan rangkaian tes calon bintara tersebut. Padahal sebelumnya, ia gagal ketika mengikuti tes calon tamtama, yang levelnya lebih rendah. Setelah dinyatakan lulus, Fadli ditempatkan di kesatuan kavaleri, markasnya berada di ibu kota provinsi.

Di hari keberangkatannya, warga desa mengucapkan selamat. Udin pun datang, menyalami Fadli dengan senyum tulus, lalu beralih padaku. Genggamannya singkat, namun tetap hangat. Matanya hanya menatapku sekilas, kemudian berpindah ke kerumunan, seakan tak ingin membicarakan apa yang semua orang sudah tahu. Aku tersenyum di tengah keramaian, meski hatiku kosong seperti sawah yang sudah rata tanahnya.

***

Beberapa hari setelah itu, aku lewat di depan rumah Udin.
Ada yang berbeda. Cat temboknya baru, jendela kayunya berganti kaca bening, dan di terasnya berdiri kedai kopi yang ukurannya lebih besar dan lebih modern dari sebelumnya. Aroma kopi sangrai menyebar sampai ke ujung jalan.

“Wah, rezeki besar ini, Din?” tanyaku, setengah bercanda.

Udin tersenyum lebar. “Ah, ini sedikit bantuan dari kakak sepupuku yang tentara itu. Katanya, dia baru dapat rezeki dari urusan kerjaan.”

Ia lalu menunjuk toples-toples kopi di rak. “Kakak sepupuku memang suka kopi, jadi ia menyokong aku membuka kedai yang lebih besar seperti café-café di kota,” lanjutnya sambil tertawa renyah.

Aku terdiam. Dalam kepalaku, secangkir kopi hitam di meja rotan itu muncul lagi. Lalu wajah Pak Surya… senyum miringnya… tangannya yang dulu menerima amplop dari tanganku.

“Din,” kataku perlahan, mencoba terdengar santai, “siapa nama kakak sepupumu di kota itu?”

Udin mengangkat alis, lalu tersenyum. “Surya. Kenapa, Run?”

Aku tersentak. Di dadaku, terasa ada sesuatu yang pecah. Aku memandang kedai kopi itu lama-lama. Kursi kayunya, meja-mejanya, mesin kopi, dan bau kopinya. Semuanya beraroma lumpur sawahku yang sudah tak lagi ada. (*)

 

 

Ahad, 21 Jun 2026

LARA DI BUKIT PALIPPIS : Karya Arniyati

 LARA DI BUKIT PALIPPIS

Arniyati Shaleh

Suara hantaman ombak pada pantai jauh di bawah sana menghentak jantung Lara yang diam memaku di ladang tarreang (ladang jawawut sejenis tumbuhan ilalang) milik Kanneq Puaqnya. Lamat-lamat suara ombak itu menggelora tanpa lelah diiringi angin kencang menderu, langit mulai berhiaskan awan berwarna kelabu, bergumpal dan nampak tertatih menahan beban. Kanneq Puaqnya, ayah mama Lara menoleh ke arah Lara dan memberi isyarat untuk bersegera meninggalkan ladang. Lara patuh meski mulutnya mengatup kukuh. Sendu mengalir sejuk ke dalam hatinya melihat Kanneq Puaqnya meski sudah tua tapi tetap tegap penuh semangat mempertahankan ladang tarreang ini dari roda-roda industri.  

Kanneq Puaq Lara yang populer dipanggil Puaq Kumia oleh Anaq Banua  bernama asli Kacoq Kaiyyang, entah harapan apa yang diimpikan kakek buyut Lara sehingga menamakannya Kacoq Kaiyyang yang dalam bahasa Indonesia berati Anak Lelaki yang Besar, padahal tubuh Kanneq Puaqnya ini seperti lelaki Mandar pada umumnya tidak terlalu besar, tingginya jauh dari semampai, agak gempal dengan rambut ikalnya, wajahnya berahang kuat dan agak lebar. Lara yang tinggi semampai sering merasa senang semasa tumbuh kembangnya berdiri di samping Kanneq Puaqnya sambil berteriak kegirangan karena sudah melampaui tingginya. Lara tersenyum mengingatnya sambil berlari kecil mengejar langkah Kanneq Puaqnya yang lincah menuruni  perbukitan bebatuan karang itu. Mama Lara putri semata wayang Puaq Kumia, Seorang anak perempuan yang besar di ladang tarreang namun berpikir berjuta kilometer dari kampungnya. Terlahir cerdas dan kritis membuatnya berbeda dengan anak perempuan  di bebukitan Palippis sana. Dia bernama Kumia.  

Kumia pemimpi tanpa batas. Lewat bacaan di perpustakaan sekolahnya, Kumia merajut mimpi yang dengan tekad berapi ingin diraihnya, dijadikan pakaian yang kelak meluaskan langkahnya sebagai Anak Bangsa bukan sekedar Anaq Banua. Sekolah Dasar dilampauinya dengan gemilang meski harus menempuh jarak berkilometer, lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah DDI di Campalagian yang secara geografis semakin jauh dari rumahnya. Kumia melanjutkan sekolah ke SMK jurusan komputer, meski terasa aneh baginya mengingat Puaqnya adalah petani tarreang seharusnya dia memilih jurusan pertanian dan semacamnya tapi itulah Kumia, gadis Ladang Tarreang yang tak pernah patah ditebas musim.

Kumia mengepakkan sayapnya, meski di tengah musim angin dan ombak besar, di tengah kesulitan Puaqnya dalam mencoba tetap bertahan menabur benih pada bebukitan batu karang di bukit Palippis sana. Bukan tak pernah mereka diterpa badai yang dahsyat tapi langkah Kumia bergeming, tertatih namun tak lelah.

Puaq Kumia mengenang semua jejak langkah putrinya sambil memandang penuh kasih pada Lara, cucunya yang tiap liburan sekolah setia mengunjunginya meskipun harus menyeberangi samudra, ya Kumia yang menikah dengan Lelaki Mandar berdarah campuran Turki itu, kini menetap di Istanbul, Turki dengan bendera usaha bernama Guzel Turkey Accessories. Anaknya yang lahir dan besar di sisi bukit akhirnya terbang jauh ke negara asing, ada parutan kebanggaan yang terukir pada senyumnya.

Teringat Puaq Kumia ketika badai dahsyat menerpa keluarganya dan keluarga perkampungan di sekitar mereka. Angin kencang menyebabkan panen gagal, sapuannya meliukkan rumpun tarreang yang mulai menampakkan bunga_bunga indah, ladang tarreang tak mampu menahan angin untuk melindungi tetumbuhan di atasnya, jagung, padi-padi di pesawahan pada perbukitan di bawahnya yang memanjang di pinggiran jalan rebah tak berdaya, sementara ombak di lautan mengganas tak mengijinkan kapal pembawa sembako merapat di dermaganya, jangan kata kondisi jalanan yang saban hari disapa hujan deras bermeter kubik itu mengalah mengikuti kemauan alam luruh menimbulkan genangan di sana sini. Saat itu Kumia sudah kelas Tiga SMK, masa anak sekolahan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Perhiasan Kindoq Kumia sudah mulai berlari ke toko perhiasan di Tinambung yang tersisa adalah cincin pemberian Kanneq Kumia. Kumia hanya bisa merenung diam tak tahu harus bagaimana karena dia sangat sayang pada cincin itu, cincin yang diberikan Kindoqnya sehari sebelum menutup mata.

Puaq Kumia, “Tomalolo, ikhlaskanmi ciccinna Kanneqmu, anaq U, apa maumi diapa, bukan cuma kita yang susah tapi hampir seluruh kampung di Banua Mandar ini, kita lebih beruntung karena punya simpanan tarreang dengan bataq, masih bisa makan. Bagaimana yang selama ini mengandalakan sawah? Bagaimana Tuan Gurumu dan keluarganya di Labuang?”

Tanpa disangkanya, Kumia berdiri dan memeluknya,”Oh Puaq, apapun yang terjadi cincin ini tidak akan kujual, selalu ada jalan. Besok aku mau ke Majene, tadi sore sudahka bicara sama Tante Biah, mauka coba jualkangi lipaq sabbe-na. Katanya di Majene ada distributor lipaq sabbe, doakanka Puaq.” Sebenarnya tawaran itu awalnya tidak digubrisnya, Kumia belum berani sendirian ke Majene apalagi di sana dia tidak punya kenalan, ada keluarga tapi jarang ketemu. Keluhan Puaqnyalah yang memompa semangatnya untuk berani ke Majene. Toh Sekolahnya sudah lumayan dekat dari sana, dia bisa menginap di rumah Tuan Gurunya yang selama ini menyayangi dan menganggapnya anak sendiri.

Puaq Kamia tersenyum, ada binar bintang berkelip di kedalaman mata Kumia, Putrinya. “Kindoqna, seandainya Kau masih ada bersama kita mungkin segalanya akan terasa ringan dan kau akan bahagia melihat kuatnya tekad tomalolota.” Puaq Kumia membatin.

Fajar mencoba menembus lipatan awan yang setia memayungi Palippis dan sekitarnya.  Kumia sejak subuh mempersiapkan segalanya sambil berharap cuaca kali ini tersenyum manis padanya. Lipaq sabbe 2 lusin telah terbungkus plastik dan aman dalam tas jinjing, tarreang dan bataq untuk Tuan Guru Supu secukupnya sebagai ole-ole, persediaan mereka cukup banyak meskipun penduduk sekitar ke rumah mereka membeli untuk dijual kembali ataupun dimakan sendiri. Sepagi mungkin Kumia sudah menunggu pete-pete yang akan membawanya ke Labuang.

“Tuhan, lancarkan urusanku demi masa gemilang kelak ...” Batinnya, sambil menunggu angkutan kota lewat. Puaq Kumia yang menemani anaknya tersenyum haru melihat usaha Kumia. Bukan Puaq Kumia tidak punya keahlian lain selain menanam tarreang, memainkan raqapang  atau ani ani, sejenis alat pemotong jika panen telah tiba.dijemari kokohnya tapi Puaq Kumia tak ingin ladang tarreang lenyap dibebukitan Palippis, tarreang adalah icon Palippis, sudah berapa keturunan mereka menanam tarreang ini, Puaq Kumia sendiri tidak pernah tahu. Sudah banyak kawannya meninggalkan ladang beralih professi menjadi pappete-pete, guru bantu di madrasah Campalagian bahkan ada yang merantau ke daerah luar nun jauh di sana.

“Eh, Puaq, adami pete-pete” seru Kumia menyadarkan Puaqnya dari lamunan. Kumia melambaikan tangan sambil menunjuk ke arah jalan menuju Majene. Puaq Kumia mengangguk dan membantu Kumia menaikkan bawaan Kumia. 

Pete-pete yang merupakan sebutan buat mini bus berpintu samping, kursinya lebih tepat disebut bangku didesain memanjang dengan posisi kiri dan kanan mini busnya, Kumia memilih duduk di dekat pintu karena bawaannya disimpan dekat pintu, takutnya jika goncangan kuat karena jalanan rusak parah bawaannya terjatuh. Tas berisi lipaq sabbe dipangkunya. Mata Kumia menyapa beberapa penumpang tanpa membuka perbincangan sesuai pesan Puaqnya juga pesan Tante Biah adik Kindoqnya demi keamanan Kumia sendiri.

Karena kondisi jalan rusak, perjalanan terasa lama bagi Kumia, lelah dan penuh tanya, “Bagaimana kalau sarung ini tidak laku? Dari keuntungannya Kumia bisa membayar uang praktek, membeli disket dan tentunya bisa disimpan sedikit untuk menambah biaya masuk Perguruan Tinggi beberapa bulan lagi. Tante Biah yang melihat semangatnya mengikhlaskan sarung-sarungnya dijual Kumia dengan keuntungan sepenuhnya buat Kumia, hanya modal pembeli benang sutra, pewarna yang harus diberikan Kumia padanya. 

“Tuhan, Kau begitu Maha Baik, padaku. Memberi Puaq dan Tante yang tulus ...Alhamdulillah, Ijinkan aku tak mengecewakan mereka”. Tak henti Kumia mengucap syukur dengan caranya.


Diantar Tuan Guru Supu, Kumia ke Majene. Akhirnya mereka sampai dan Kumia kembali membaca secarik kertas bertuliskan nama juga alamat tujuannya, Hj. Mahdiah Hasyim, Tanjung Batu No.205 belakang mesjid Tanjung Batu. Alamat yang mudah ditemukan. 

“Assalamu’alaikum”, takut-takut Kumia mengetuk pintu. Rumah ini terasa begitu mewah baginya. Bangunan besar ini nampak modern dengan dua pilar terukir di sisi kiri kanan pintu masuknya. Dari sinetron yang kadang ditontonnya jika bermalam di rumah tantenya, Kumia tahu bahwa pemilik rumah mewah adalah orang yang judes, angkuh dan materialistis. Dengan pakaian terbaiknya sekalipun tetap akan menunjukkan status sosial Kumia. Tapi, dugaan buruk itu tidak berlaku. Sesosok tubuh mungil namun dari wajah dan penampilannya nampak betapa matang usianya menyembul dari balik pintu dan menjawab salam penuh keramahan.

“Waalaikumussalam, mari masuk, ayoo jangan malu-malu”. Tiba-tiba mulutnya membentuk lingkaran O ketika matanya menangkap wajah Tuan Guru Supu sambil tertawa renyah. “Hammaaa ... Supu ... Kamu palakaq? Saya kira orang mau jual sarung sutra”.

“Ini, siswiku, Kumia, mau jual sarung sutranya jadi saya antarrii”. Tuan Guru Supu menjawab sambil menghenyakkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu mewah itu. Ternyata mereka teman sepermainan dan satu sekolah sejak SD sampai SMP. Mahdiah putri tentara berpangkat Kapten dengan mulus menyelesaikan sekolah dan kuliahnya sampai S2 dijurusan Bisnis Management. S2 yang diselesaikannya di Universitas Nasional Malaysia mempertemukannya dengan seorang bisnisman asli Turki bernama Enver Yilmas yang merupakan dosen tamu di sana.  Mahdiah menetap di Turki hanya sesekali pulang ke Majene jika stock lipaq sabbe dan kuliner awet khas Mandar habis di beberapa tokonya yang menyebar di mall-mall Istanbul seperti Istinyee Mall, Cehavir Mall, Optimum Mall yang lumayan ramai dikunjungi pelanggannya. Seperti kali ini,  dia pulang kampung hendak memborong lipaq sabbe, bajabu, pipang, dan paissang yang ternyata di gemari di Istanbul. 

Mahdiah langsung jatuh hati pada Kumia, mata anak itu nampak berbinar bagai bintang, memancarkan optimisme dan percaya diri.Dan Mahdiah jatuh cinta pada Kumia, insting keibuannya membuncah, salut dan terharu pada sepak terjang Kumia seperti yang diceritakann Supu, 

Musim penghujan semakin jauh meninggalkan kampung Palippis, awan mulai berarak cerah menyinari Bebukitannya, Kumia akhirnya lulus dengan predikat luar biasa, NEM-nya mendapat nilai tertinggi se Sulawesi Selatan dan Barat. Karenanya Kumia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di ITB bagian Programming Komputer, serasa terbang ke awang-awang Kumia mengabari Puaq dan Tantenya yang disambut gembira bahkan oleh seluruh penduduk Palippis. Kumia dianggap pahlawan Kampung. Tak lupa Tuan Guru Supu mengabarkan berita bahagia ini pada Mahdiah..

Bandung, kota besar pertama yang merangkul Kumia, hari-hari penuh tantangan dilaluinya sampai menyelesaikan kuliahnya dan Kumia memutuskan kembali ke pangkuan Ladang Tarreang, rindunya begitu menggebu pada Puaqnya. Di Kampung, Kumia mengabdi di Kantor Kecamatan Balanipa sebagai tenaga administrasi. Sehingga suatu hari, Mahdiah ke Palippis mengajak Kumia menjadi asistennya di salah satu gerai souvenir miliknya di Istanbul. Dengan berat hati, Puaq Kumia melepas putrinya, yang semakin jauh mengepakkan sayapnya, 

“Puaq, kalau aku sudah mampu, akan kujemput Puaq, Insya Allah”. Janji Kumia. Puaqnya hanya bisa mengangguk dan memeluknya. Pelukan erat yang sangat berat.

Akhirnya, Kumia tinggal di Istanbul dan menekuni desain asesoris via online disela jam kerjanya di Gerai Mandar Art and Accessories, Cevahir Mall. Suasana romantic kota Istanbul memupuk cinta antara Kumia dan Ilgas Enver Yilmas, putra Mahdiah. Mahdiah sekeluarga dan Kumia kembali ke Mandar, mereka menikah dengan meriah dan penuh nuansa adat. Tak lama setelah menikah, Ilgas yang tahu hobby Kumia mengutak atik perhiasan, mendirikan Gerai di Grand Bazaar, pusat shoping souvenir Turki di Istanbul.

“Kanneq Puaq, kita sudah nyampe ...!” teriak Lara sambil bergegas cuci kaki di keran teras rumah. Puaq Kumia terkejut, sadar dari lamunan kenangan. Lara yang sebentar lagi memasuki Universitas itu bergegas masuk sambil membuka-buka Handphone-nya. Tadi karena signal di atas Bukit Palipps tidak ada, Lara cuma memanfaatkan Blackberry-nya untuk merekam suasana lewat video dan beberapa foto. Signal sudah ada.Ada SMS yang masuk, dari Mama Lara. Di situ tertulis Anne.

Anne :”Nasilsin?”

Lara :”Tesekkur ederim, Anne”

Anne:”Dedenis nasil?”

Lara:”Sagol, Anne, beni ne zaman gotureceksin?”

Anne:”Ne  geleceksin?”

Lara:”Bu ayin sonunda, Anne”

Anne:”Oke, Anne dan Baba-mu akan ke Mandar”

Lara:”Bekliyoruz annecim, seni swviyorum annecim, babacim”

Anne:”Anne juga sayang kamu :*, Allene cok selam soyle Mandar”

Sambil membersihkan diri, Lara tersenyum, serasa aneh rasanya bahasa di Palippis ini tapi kata Kanneq Puaqnya, bahasa Turkey yang aneh. Ah sebentar lagi, dia Lara Reyyan  Yilmas, gadis campuran Mandar-Turkey akan meninggalkan Palippis, kampung halaman Mamanya. Kampung yang bertolak belakang dengan Istanbul, tempat kelahirannya. Anne dan Baba akan menjemputnya sekaligus membujuk Kanneq Puaq ikut dengan mereka, hanya lima kali Kanneq Puaq ke Istanbul itupun selalu mengingat Ladang Tarreangnya, akankah Kanneq Puaqnya ikut mereka kali ini? Entahlah.

 


Foot note;

Beberapa chat Lara berbahasa Turkey

Anne ; mama

Baba; papa

Nasilsin; apa kabarmu

Dedenis nasil; apa kabar kakekmu

Tesekkur ederim; kabar baik

Sagol;baik

Ne zaman geleceksin; kapan kamu pulang

Beni ne zamangotureceksin; kapan jemput aku

Bu ayin sonunda; akhir bulan ini

Bekliyorus annecim; aku tunggu yaa maaa

Seni seviyorum annecim; aku sayang mama

Allene cok selam soyle Mandar; salam mama buat keluarga di Mandar

Puaq; bapak

Kanneq; nenek ; kanneq puaq; nenek lelaki

Anaq banua; warga kampong

Adami; sudah ada

Tuan Guru; Pak Guru, guru adalah professi yang sangat dihargai di Mandar .



Bionarasi


Arniyaty Amin ibu rumah tangga yg suka membaca dan menulis, lahir dan berdomisili di Makassar sudah melahirkan beberapa buku antologi puisi dan cerpen juga non fiksi sebagian besar dari hasil lomba. Akun FB Arniyaty Amin, IG @Arniyatiamin therads @Arniyaty Amin


   


Isnin, 29 September 2025

 Jejak Cahaya di Lorong Pengabdian 

Karya: Agustina Rahman


Tahun 1998, langit Makassar kerap dilanda mendung. Jalan-jalan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, namun hatiku dipenuhi keraguan. Gelar sarjana pendidikan baru saja kugenggam, tetapi jalan menuju mimpi masih terasa kabur, masih abu-abu. Aku ingin menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Awalnya aku diterima mengajar di sebuah sekolah menengah pertama sebagai guru honor. Rasanya seperti berdiri di antara jurang harapan dan kenyataan. Gaji yang kuterima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membantu keluarga. Meski begitu, aku tetap berangkat setiap pagi dengan semangat dan penuh rasa syukur. Bagiku, ilmu yang kutanam di dada murid-murid jauh lebih berharga daripada sekadar angka rupiah.

Namun hidup selalu menuntut kesanggupan bertahan. Aku butuh tambahan penghasilan. Tak lama kemudian, seorang kenalan mengajakku ke sekolah yayasan Bhayangkari. Di sana, aku kembali mengajar, membagi ilmu pada wajah-wajah muda yang haus pengetahuan. Aku juga dipercaya menjaga perpustakaan, ruang sunyi dengan rak-rak buku yang seakan bernapas, menunggu disentuh dan dihidupkan kembali oleh para pembaca. Dari balik meja kayu sederhana itu, aku bukan hanya guru, tetapi juga penjaga gerbang pengetahuan.

Selain mengajar, aku juga menjadi tempat bersandar bagi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi. Mereka datang membawa tumpukan kertas dan segunung kebingungan. Aku menyimak, memberi arahan, lalu melihat mata mereka berbinar ketika satu persatu bab tersusun. Dari situlah aku memperoleh rupiah tambahan, sedikit demi sedikit, cukup untuk bertahan hidup.

Hari-hariku padat. Pagi diisi mengajar di satu sekolah, siang berlari ke sekolah lain, malam membantu mahasiswa menulis skripsi. Lelah itu nyata, tetapi aku menjalaninya dengan ikhlas. Setiap lembar kertas yang kusentuh seakan menjadi saksi bahwa aku masih bertahan, masih berjuang.

Di ruang guru, aku sering berbincang dengan sesama guru honor. Wajah-wajah mereka tak jauh berbeda denganku: penuh semangat namun dibalut kegelisahan. Kami tertawa bersama meski isi dompet tipis. Kami saling menguatkan, seperti ranting-ranting kecil yang saling menopang agar tak patah diterpa angin.

Suatu siang, kepala sekolah masuk membawa kabar yang membuat jantungku berdetak kencang.Tahun ini dibuka penerimaan CPNS, termasuk formasi guru, ucapnya. Ruangan hening. Mata para guru honor menatap satu sama lain, seakan sinar baru menembus awan mendung. Itu bukan sekadar pengumuman; itu adalah kesempatan emas yang lama kami tunggu.

Aku pulang dengan langkah ringan, meski hati penuh gelisah. Malam itu, di kamar sederhana, aku berbisik pada diriku sendiri: Inilah saatnya. Jika ingin masa depan yang lebih pasti, aku harus berani mengambil langkah.

Keesokan harinya, kususun berkas-berkas pendaftaran dengan hati-hati. Setiap lembar kertas bagai mozaik harapan: ijazah, transkrip nilai, surat keterangan sehat. Semua kuperiksa berulang-ulang. Sempat ada kegelisahan karena aku belum memiliki KTP padahal itu salah satu syarat utama. Untungnya, panitia masih memberi kelonggaran; keterangan domisili kutambahkan sebagai pengganti. Ketika akhirnya kuantar berkas-berkas itu ke tempat pendaftaran di detik-detik penutupan. Aku merasa lega, seolah satu beban berat telah terangkat.

Di ruang pendaftaran, suasana tampak riuh namun teratur. Kursi-kursi plastik berderet, penuh oleh wajah-wajah yang sama tegangnya denganku. Beberapa sibuk merapikan map, ada pula yang berbisik-bisik mengulang doa. Panitia duduk di balik meja panjang, menumpuk berkas-berkas yang semakin tinggi. Saat giliranku tiba, jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku sedikit bergetar ketika menyerahkan map hijau itu. Petugas menatap sejenak pada keterangan domisili yang kuselipkan, lalu mengangguk pelan. Baik, berkas diterima, katanya singkat. Hanya dua kata itu, tetapi bagiku terasa seperti kunci yang membuka pintu harapan.

Namun, kegelisahan kembali menyeruak ketika kutahu bahwa formasi untuk program studiku hanya menyediakan satu kursi. Bayangkan, satu kursi untuk ribuan pelamar yang sama-sama berjuang keras meraih mimpi. Rasanya seperti harus berlari di lintasan yang panjang, sementara garis finish tampak begitu jauh, nyaris tak terlihat. Aku seolah berpacu dengan waktu, dengan nasib, bahkan dengan diriku sendiri. Di benakku terbayang, betapa tipisnya peluang itu, namun justru di situlah ujian terbesar: apakah aku akan berhenti karena rasa gentar, atau tetap melangkah meski harus menantang ketidakpastian.

Tahap pertama, seleksi administrasi, kulalui dengan lancar. Namun itu hanyalah gerbang awal dari perjalanan panjang yang menanti. Kini tiba saatnya menunggu ujian tertulis, sebuah tahap yang akan menentukan siapa yang masih bisa melangkah dan siapa yang harus berhenti di tengah jalan. 

Pagi itu, aku melangkah masuk ke ruangan ujian dengan hati yang berdebar. Derap langkah para peserta lain, suara kursi bergeser, hingga tatapan penuh harap dari wajah-wajah asing di sekelilingku, semuanya menambah beban yang kian menekan dada. Rasanya udara pun ikut menegang, seolah-olah ruangan itu menyimpan ribuan doa yang saling berdesakan.

Ketika lembar soal akhirnya dibagikan, aku menatapnya lama, seakan kertas putih itu berubah menjadi batu berat yang menghimpit. Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak, lalu berdoa dalam hati agar diberi kekuatan. Saat pena kugerakkan, setiap nomor terasa bukan sekadar soal, melainkan sebuah pertarungan antara keyakinan dan keraguan, antara harapan dan rasa takut. 

Waktu berjalan begitu cepat, namun di kepalaku setiap detik seperti berdetak keras, mengingatkanku bahwa inilah medan ujian sesungguhnya. Dan di tengah ketegangan itu, aku hanya bisa percaya, bahwa setiap goresan jawaban adalah langkah kecil menuju garis finish yang tak pernah berhenti kupandangi dari kejauhan.

Beberapa minggu kemudian, kabar pengumuman hasil ujian mulai terdengar dari mulut ke mulut. Belum ada internet saat itu; tak ada kemudahan membuka layar ponsel dan menemukan kepastian dalam hitungan detik. Satu-satunya cara adalah mendatangi langsung kantor wilayah, tempat semua harapan dan kecemasan para pelamar bertumpuk menjadi satu. 

Perjalanan menuju ke sana terasa begitu panjang, meski jaraknya tak seberapa. Di sepanjang jalan, hatiku dipenuhi doa yang terus berulang, seolah-olah setiap langkah kaki adalah lantunan harapan yang kupanjatkan kepada sang pencipta.

Setibanya di depan papan pengumuman, degup jantungku nyaris pecah. Mataku menyapu ratusan nama dengan cemas, baris demi baris seperti menari di depan pandangan. Dan tiba-tiba, pandanganku terhenti: namaku tercetak jelas di sana. Seketika air mataku mengalir diam-diam. Alhamdulillah, ucapku lirih, penuh haru. Aku berhasil lolos ke tahap berikutnya, sebuah langkah baru dalam perjalanan panjang yang masih menyimpan banyak ujian. Namun di balik itu semua, ada keyakinan yang makin kuat: bahwa doa, usaha, dan kesabaran selalu menemukan jalannya.

Rasa syukur membuncah, tetapi perjalanan belum benar-benar selesai. Di ujung jalan menanti litsus atau penelitian khusus yang konon dihelat aparat TNI. Dalam imajinasiku, seragam hijau menjelma dinding kokoh, tatapan mata tajam bagai pisau yang menelusuri isi dada. Aku merasa kecil, seakan langkahku bisa terhenti kapan saja, namun justru di sanalah nyali diuji.

Hari itu tiba. Di Bakortanasda, antrean panjang menunggu. Para pelamar duduk gelisah, sebagian berbisik lirih. Saat namaku dipanggil, langkahku terasa berat. Aku masuk ke ruangan, duduk di hadapan seorang pewawancara berseragam. Pertanyaan meluncur cepat, menohok, dan kujawab dengan hati-hati. Setiap kata seolah menentukan jalan hidupku. Usai wawancara, aku keluar dengan napas terengah, seakan baru saja melewati ujian terbesar dalam hidup.

Hari-hari berikutnya kuisi dengan doa yang tak pernah putus. Setiap kali salat, aku memohon dengan sepenuh hati agar langkah ini dimudahkan dan diberi jalan terbaik. Dalam sujudku, terbayang wajah kedua orang tuaku yang selalu mendoakan dari jauh, meski tak pernah mereka ucapkan langsung. Doa mereka terasa sampai di sini, harapan mereka adalah semangatku, membuatku tak berani menyerah. Aku tahu, keberhasilanku kelak bukan hanya milikku sendiri, tetapi juga hadiah kecil bagi mereka yang telah berkorban tanpa pamrih.

Akhirnya, hari pengumuman yang kutunggu dengan cemas tiba. Namaku tercetak jelas di Harian Fajar, seolah huruf-huruf itu memantulkan cahaya harapan yang selama ini kujaga. Saat membacanya, tanganku bergetar hebat, tak kuasa menahan rasa haru yang menyeruak dari dada. Air mata pun jatuh tanpa bisa kutahan, menyapu segala lelah, resah, dan doa-doa panjang yang pernah kuucapkan. Aku lulus. Aku resmi diterima sebagai guru PNS, sebuah pencapaian yang dulu terasa begitu jauh, kini nyata dalam genggaman.

Aku sujud, membiarkan lantai dingin menyerap air mata kebahagiaan. Aku segera menulis surat untuk orang tua, mengabarkan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan senyum mereka, doa-doa yang semakin tulus terpanjatkan. Hari itu, kutatap langit dengan hati penuh syukur. Perjuangan panjang, kelelahan, dan kegelisahan akhirnya berbuah manis. Aku tahu, jalan pengabdian ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar.

Aku berjanji pada diriku sendiri: akan kutapaki jalan ini dengan sepenuh hati. Bukan hanya demi diriku, tetapi demi anak-anak bangsa yang menunggu cahaya ilmu. Karena menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ibadah, sebuah jejak panjang yang kelak kuharap tetap harum meski ragaku tak lagi ada.

Aku sadar, aku bukanlah pahlawan dengan senjata di medan perang. Aku hanyalah seorang guru pahlawan tanpa sorak-sorai, tanpa medali, yang berjuang dalam sunyi. Namun justru dalam kesunyian itulah lahir cahaya, cahaya yang kelak menuntun langkah generasi menuju masa depan. Dan selama hayat masih dikandung badan, aku akan terus menjaga cahaya itu, sampai titik pengabdian terakhir.

Makassar, 30 September 2025

BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


Ahad, 11 Mei 2025

SAAT HATI BERCERITA

 SAAT HATI BERCERITA

Oleh: AC Jaffrie


Gerimis di luar jendela sudah berhenti. Harum bunga kesidang membawa aroma wangi sampai ke dalam kamar. Aku bangun lalu berdiri di sisi jendela kamar. Sambil memejam mata aku menghirup aroma wanginya. Sungguh nyaman dan damai terasa. Kesegaran membugar ke seluruh tubuhku. Dalam hati aku mula berbicara. Aku teringat arwah ibu yang tercinta.

Aroma wangi harum bunga Kesidang yang subur di halaman mengingatkan aku pada masa lalu. Hampir lapan tahun ibu sudah pergi meninggalkan alam fana ini. Ingatan semasa kecil kembali menerjah ingatan. Dunia terasa sangat sederhana ketika aku kecil tetapi kasih sayang ibu adalah segala-galanya. Banyak kenangan manis, suka dan duka mengiringi keberadaan aku di dunia ini. Satu persatu kenangan itu kembali berlegar di kotak ingatan.

Satu perkara yang paling aku ingat, ibu sangat suka menanam pokok-pokok bunga. Di halaman pada masa itu penuh dengan segala macam pokok bunga. Halaman rumah nampak meriah dengan pelbagai bunga berwarna-warni mekar berkembang. Malah bau wangi bunga-bungaan bertebaran sekeliling rumah. Kamar aku juga berbau wangi setiap kali jendela dibuka.

“Wanginya bau bunga ini, Ibu!” soal aku kepada ibu yang sedang menyiram serumpun pokok bunga berwarna putih.

“Inilah bunga kesidang. Walaupun kuntumnya kecil tetapi baunya sangat wangi,” beritahu ibu kepada aku.

“Hmm… bau alami yang sungguh menyegarkan,” tutur aku lagi.

Ibu masih sibuk menyiram pokok-pokok bunga kesayangannya. Selain pokok bunga Kesidang, ada juga pokok bunga Melati, bunga Melor dan bunga Kertas yang pelbagai warna. Ada juga tumbuhan berdaun seperti pokok Ati-ati dan pokok Puding yang beraneka warna juga. Satu perkara yang aku perasan, apa sahaja pokok bunga yang ditanam oleh ibu akan tumbuh dengan subur. Aku cuba mengorek rahsia ibu itu.

“Semua pokok bunga yang Ibu tanam tumbuh dengan subur. Apa rahsia Ibu?” Aku bertanya kepada ibu pada satu petang.

“Ibu tanam dengan kasih dan sayang. Itu saja rahsia Ibu,” ucap ibu dengan jawapan yang bernas dan masuk akal.

Aku tersenyum mendengar jawapan daripada ibu. Aku setuju sangat dengan pepatah orang dahulu mengatakan orang yang buat apa sahaja dan menjadi, mempunyai tangan yang sejuk. Apa sahaja yang ditanam akan hidup subur. Apa sahaja yang dibuat akan berhasil. Begitu juga dengan tangan ibu. Apa sahaja pokok bunga yang ditanam akan tumbuh dengan subur dan berbunga lebat. Pokok kesidang yang ibu tanam sentiasa berbunga sepanjang tahun dan berbau wangi.

“Ibu jaga semua pokok bunga ini dengan rasa cinta. Kena siram dan baja selalu biar subur sentiasa. Kalau tak jaga dengan betul mesti pokoknya mati,” tukas ibu lagi.

Kata-kata yang keluar dari mulut ibu semuanya ada hikmah. Ayatnya biasa tetapi membawa maksud yang sangat mendalam. Rasa kasih, sayang dan cinta bukan hanya teruntuk makhluk bernama manusia sahaja. Malah boleh ditujukan kepada tumbuh-tumbuhan dan haiwan. Hidup berkasih sayang dengan sepenuh cinta akan menimbulkan rasa ghairah kedamaian. Akhirnya membawa kepada satu rasa kebersamaan.

“Manusia dan alam perlu bersatu. Kita saling memerlukan,” ucap ibu berfalsafah.

“Apa maksud Ibu?” soal aku kurang memahami sebarisan kata-kata itu.

Senyum merekah di bibir tua ibu. Mulutnya berkata-kata, tetapi tangan dan jemari masih bekerja menggemburkan tanah-tanah di dalam pasu bunga Kertas. Biarpun bunga-bunga Kertas itu tidak mempunyai aroma yang wangi tetapi warna-warninya menceriakan suasana dan mata yang memandang. Kehadiran rama-rama dan kumbang turut menjadikan taman bunga kecil milik ibu sangat indah dan meriah.

“Selain mencantikkan laman rumah, bunga-bunga ini boleh dijadikan perhiasan diri,” bicara ibu bersambung.

Aku menggaru kepala yang tidak gatal. Dalam otak aku berfikir apa maksud ibu. Dalam usia awal remaja, aku memang kurang peka dengan perkara sedemikian. Aku hanya tahu bergembira. Apa yang aku mahu boleh ditunaikan. Aku tahu pokok-pokok bunga di halaman rumah memang menjadi kesayangan ibu. Hari-hari ibu akan menjaga dan membelai pokok-pokok bunganya. Kadang-kadang aku lihat ibu bercakap-cakap dengan pokok-pokok bunga berkenaan. Aku sedikit pelik, tetapi begitulah selalu rutin yang dilakukan oleh ibu.

“Memang pokok-pokok bunga ini tak boleh bercakap, tetapi mereka juga ada perasaan seperti manusia. Mereka hidup secara alami dan bernafas. Kita perlukan makanan, mereka perlukan baja serta air untuk hidup subur membesar,” terang ibu lagi. 

Ibu amat menyayangi semua pokok bunganya. Dalam banyak pokok bunga, pokok bunga Kesidang yang paling dia sayang. Selain baunya yang sangat wangi, ada banyak kegunaannya kepada urusan harian ibu. Menjadi rutin kepada ibu mengutip dan mengumpulkan gugusan bunga Kesidang setiap kali mahu keluar rumah. Ibu akan menyelitkan kuntuman bunga Kesidang yang bergugus itu di balik telinga. Kesannya bukan hanya rambut berbau wangi, malah seluruh badan turut berbau wangi. Zaman dahulu mana ada minyak wangi buatan seperti sekarang.

“Orang dulu-dulu zaman nenek moyang kita memang bijak. Alam dan kehidupan berganding sangat rapat,” tambah ibu memberi penjelasan tambahan.

Aku faham. Kata-kata ibu ada kebenarannya. Aku memang sokong seratus peratus. Begitu juga dengan makanan, semuanya dari sumber alam. Makanan yang tidak tercemar dengan baja-baja kimia seperti zaman sekarang. Beras mereka hasilkan dari tanaman padi di bendang. Begitu juga dengan sumber protin dari ayam-ayam kampung, itik, kerbau dan sebagainya dibela sendiri. Orang kampung hidup dengan bertani. Ramai yang turun ke laut untuk menangkap ikan. Berbeza dengan orang zaman sekarang. Semuanya hendak cepat. Masa untuk berdamai dengan alam terlalu singkat. Penyakit juga macam-macam timbul, tidak seperti orang dahulu kala sihat sampai ke usia senja.     

Sejak ibu tiada, aku bersama keluarga kecil tinggal di rumah pusaka ini. Sebagai adik bongsu dalam keluarga, abang dan kakak bersetuju aku mewarisi rumah pusaka peninggalan keluarga ini. Setiap kali duduk sendirian, aku terkenang kepada arwah ibu. Bukan aku tidak teringat kepada arwah ayah, tetapi kenangan bersama ibu terlalu banyak. Ayah juga seorang yang bertanggungjawab kepada keluarga. Jasa dan pengorbanan ayah juga sangat banyak buat kami adik beradik. Cuma kali ini ingatan kepada ibu begitu mendalam.

    “Nanti bila Ibu sudah tiada, kamu jaga pokok-pokok bunga Ibu ini. Ini bukan harta bernilai tapi keberadaannya cukup buat Ibu bahagia,” ucap ibu bagaikan memberi wasiat.

Bahagia? Satu ungkapan yang cukup bermakna dalam kehidupan. Sayang sungguh ibu kepada pokok-pokok bunga sehingga ianya amat bernilai dalam kehidupannya. Ibu akan susah hati kalau pokok bunganya yang berdaun hijau berubah menjadi kekuningan. Itu tandanya pokok-pokok tersebut menuju hujung kehidupan. Pelbagai cara akan dibuat untuk mengembalikan semula kesegaran pokok-pokok bunga berkenaan. Jika sudah sampai untuk pokok-pokok bunga itu mati maka ibu akan reda. Seperti juga dengan kehidupan manusia, sampai masa akan pergi juga.

        “Ibu jangan cakap macam itu. Ibu mesti kuat dan sihat sampai bila-bila,” jawab aku kurang senang dengan kata-kata ibu tadi. “Mai tak mahu berpisah dengan Ibu. Mai sayang Ibu!” 

        “Kalau nak Ibu sihat dan panjang umur, Mai kena bantu Ibu selalu,” ucap ibu sambil tersenyum manis.

        “Baik Ibu, Mai akan tolong Ibu buat apa-apa kerja di rumah,” ujar aku pantas berjanji kepada ibu.

Ibu tersenyum lagi. Kali ini dia memeluk aku seerat-eratnya. Saat itu aku terasa hilang dalam bayangan. Panas pelukan ibu sangat mengujakan. Kasih dan sayangnya melimpah tertumpah ke dalam diri. Saat itu sungguh membahagiakan. Aku tidak mahu kehilangan ibu. Aku jadi lemah bila ibu tiada di sisi. Ibu adalah segala-galanya bagi aku ketika itu.

        “Ibu jangan pergi. Mai sayang Ibu!” sekali lagi aku mengulang kata-kata itu dalam kehangatan pelukan ibu.

Keadaan menjadi bisu. Aku masih lagi gagah berdiri di sisi jendela. Memejam mata menghirup aroma wangi bunga Kesidang dan tenggelam dalam kenangan lalu. Segala pesan ibu akan simpan kemas di dalam hati. Pesan ibu adalah harta yang tidak ternilai yang ibu tinggalkan. Semuanya baik-baik dan menjadi panduan untuk aku meneruskan kehidupan di dunia yang fana ini. Saat mengenang ibu, air mata mula bergenang di kelopak mata. Air mata yang gugur segera aku seka menggunakan tangan.

        “Kenapa Ibu menangis?” kedengaran satu suara anak kecil menegur.

Aku segera berpaling. Sakinah, anak bongsuku datang merapat ke tepi jendela. Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu barangkali tertanya-tanya mengapa aku menangis. Gelodak perasaan rindu yang ada dalam dada mesti aku luahkan. Aku mahu anak gadis ini tahu apa yang aku rasa sekarang. Apa yang aku alami ini pasti akan berulang dalam kehidupannya suatu hari nanti. Persoalan yang sama turut membelenggui aku masa kecil dahulu. 

        “Ibu sakit?” pendek soalan Sakinah.

Aku mengangguk. Memang aku sedang sakit. Sakit rindu bila teringatkan insan-insan tersayang yang sudah lama meninggalkan kita. Itulah sakit yang teramat kerana mereka tidak akan dapat bersama kita buat selama-lamanya. Aku biarkan Sakinah bermain dengan persoalan itu seketika. Sengaja aku berbuat demikian kerana mahu memberi sedikit pengajaran.

        “Ibu sakit apa? Kinah bagitahu Ayah bawa Ibu pergi klinik!” tingkah Sakinah bersuara pantas.

Aku memeluk Sakinah. Rasa hangat itu sama seperti aku memeluk arwah ibu sejak lama dahulu. Hidup ini seperti roda. Roda kehidupan sentiasa berputar. Aku mahu Sakinah rasa apa perasaan yang aku rasa dahulu. Hargai segala kehidupan ketika masih bersama. Hidup kena sentiasa bersyukur dan reda dengan takdir daripada Allah SWT. 

        “Sabar sayang, Ibu cuma sakit rindu. Rindu dengan arwah nenek Kinah,” ucap aku dengan tenang. 

Sakinah menarik nafas lega. Keraguannya sudah terjawab. Biarpun dia masih kecil, tetapi rasa rindu itu tetap ada. Dia juga rindukan arwah nenek dan datuknya. Mereka antara insan yang rapat dan istimewa dalam hidupnya. Semuanya sudah tinggal kenangan. Dia juga tidak mahu kehilangan ibu dan ayah sebelum menginjak usia dewasa. 

        “Petang nanti tolong Ibu siram pokok-pokok bunga di laman. Sekarang kamu pergi bersihkan diri dulu. Kejap lagi Ayah balik, kita makan sama-sama,” ucap aku mengubah topik persoalan. 

Sakinah menuruti sahaja segala pesanan aku. Sebelum bergerak ke sisi lain di dalam kamar, aku menumpahkan sedalam-dalamnya pandangan ke arah pokok-pokok bunga yang sedang bugar disiram gerimis pagi. Suara hati aku masih lagi berbisik. Masih ada cerita yang mahu aku luahkan. Rasa rindu kepada ibu masih menebal. 

        ‘Ibu, hari ini rindu aku datang lagi…’ suara hati aku berbisik mahu mula bercerita.

Aku berjeda seketika. Aku mahu menenangkan gelora rasa yang melanda kuat di kolam hati. Badai rindu terus memukul dinding kesabaran. Aku seolah tahu apa yang akan ibu jawab sekiranya masih berjasad. Seperti ada suara ibu yang menyahut pertanyaan aku. 

        “Jangan menangis, sayang. Hidup mesti terus berjalan dengan ketentuan takdir-Nya...”

        ‘Tapi bagaimana harus aku berjalan kalau pelita yang menerangi sudah padam buat selama-lamanya?’ 

Persoalan itu mati di situ. Jawapannya ada dalam diri aku sendiri. Saat hati mula bercerita, banyak perkara perlu aku pertimbangkan. Aku percaya kepada aturan takdir-Nya. Selalu bersyukur kepada rezeki dan rahmat-Nya. Hidup dan mati adalah atas ketentuan-Nya juga. Setiap pagi, jendela kamar aku akan terbuka luas. Wangian bunga akan hadir menyusup masuk membawa udara dan kenangan. Dingin angin seperti pelukan ibu yang tidak akan aku lepaskan.   


TAMAT

Isnin, 21 April 2025

LAMBAIAN YANG TERHENTI

 LAMBAIAN YANG TERHENTI

Ruhana @ Venel Natasha Nasir

Di dalam kelas 6 Sastera 1, Wan sentiasa duduk di belakang. Kelihatan tenang, senyap, dan memerhati. Bukan kerana ingin menyendiri, tetapi kerana dia selesa menjadi pemerhati. Dia lebih suka menulis puisi dalam buku latihan Sejarah berbanding menjawab latihan esei. Dalam diamnya itu, dia menyimpan satu rahsiah, dia menyukai Anna.

Anna pula pelajar yang petah, bercita-cita tinggi dan tidak pernah takut menyuarakan pendapat. Dia sering mengetuai aktiviti kelas, menjadi pembaca puisi semasa perhimpunan, dan menjadi juru bicara setiap kali guru mengarahkan kerja berkumpulan. Wan kagum melihat semangat itu. Kagum, tapi tidak pernah mempunyai keberanian untuk meluahkannya.

Di tingkatan enam, mereka semakin rapat. Anna sering membantu Wan dalam subjek Pengajian Am, manakala Wan pula cemerlang dalam Ekonomi. Mereka sering duduk belajar bersama di perpustakaan Bersama dengan rakan-ralan lain iaitu Andy, Fred dan Shierly. Mereka saling melengkapi antara satu dengan yang lain.

Namun, Anna disebalik keterbukaannya, menyembunyikan satu rasa rendah diri. Fizikalnya yang sedikit berisi sering menjadi bahan ejekan rakan-rakan. Walaupun Wan tidak pernah menyentuh isu itu, Anna tidak pernah yakin untuk meluahkan apa yang terbuku di hati.

“Kalau aku cantik sikit…mungkin dia akan suka aku balik,” bisik Anna setiap kali Wan mengukir senyumannya yang tenang.

Selepas STPM iaitu Sijil Tinggi Pelajaran Malaysia, mereka memilih laluan berbeza. Wan menerima tawaran ke Universiti Perguruan Sultan Idris di Perak. Manakala, Anna ke Universiti Malaysia Sarawak dalam jurusan Kewartawanan. Hanya ibu Wan yang tahu isi hati anak lelakinya. Suatu malam, sebelum Wan melanjutkan pelajaran ke Maktab Perguruan, ibunya berkata perlahan, “Kalau kau betul suka Anna, cakaplah, Nak. Jangan simpan semua dalam hati. Kadang-kadang perempuan juga mahu tahu diri mereka dihargai,” ujar ibu Wan sambil menatap wajah anak lelakinya.

“Emm... tiadalah Ibu. Kami hanya kawan sahaja. Anna ada cita-cita mahu dikejar. Begitu juga dengan Wan,” jawab Wan sambil memasukkan baju ke dalam beg pakaian.

“Kalau jodoh tak ke mana, tapi jodoh ini harus juga kita gengam,” sambung ibu Wan.

Wan hanya diam. Dia tidak mahu menganggu impian Anna. Tambahan pula, dia takut kecewa. Takut hanya dia bertepuk sebelah tangan. Wan tahu cita-cita dan impian Anna. Mereka selalu berkongsi cerita matlamat selepas STPM mereka kemana dan apa jurusan yang mereka akan ambil.

Anna sempat menghantar Wan di Airport Sandakan disebabkan jadual pendaftaran Wan lebih dahulu berbanding Anna yang lewat seminggu di universiti. Tiada pengakuan, tiada janji antara mereka. Hanya gurauan antara mereka seperti selalu. “Di sana nanti jangan jadi kasanova, nanti lupa belajar,” kata Anna sambil tersenyum sinis. “Kalau kamu kahwin dahulu bagitahu tahu, saya datang menyanyi di hari bahagia,” balas Wan pula. Hanya lambaian sunyi di lapangan terbang, dan kemudian, senyap.

Masa berjalan tanpa menoleh ke belakang. Mereka tidak lagi saling menghubungi. Masing-masing sibuk dengan kehidupan sendiri. Wan memulakan kerjayanya sebagai seorang guru di kawasan pedalaman di Beluran, Sabah. Anna pula menjadi wartawan lapangan, menyelusuri cerita-cerita masyarakat dan perjuangan. Fizikal Anna juga berubah, lebih langsing. Rambut panjang mengurai tidak lagi seperti dahulu yang pendek paras leher. Malahan banyak pencapaian secara global yang dikecapi oleh Anna dibidang kewartawanan. Namun, di hati, masih terselit memori Wan yang tidak pernah terpadam.

Lima belas tahun berlalu, Wan telah berkahwin dengan rakan sekerjanya iaitu seorang guru juga. Anna pula menemui jodoh dengan seorang jurugambar yang pernah menjadi rakan setugas. Kehidupan berjalan seperti biasa, namun ada ruang kecil dalam hati yang tidak pernah diisi sepenuhnya. Ada waktu Anna tertanya, tanya bagaimana dengan Wan. Hambatan kerjanya yang sentiasa keluar bertugas dari satu tempat ke satu tempat untuk mendapatkan liputan telah menyukarkan untuk berhubung. Namun, Anna mengambil keputusan, mungkin sampai masa untuk melupakan kenangan disebabkan dia pun sudah berkahwin.

Tiada siapa tahu, termasuk Anna, bahawa Wan telah kehilangan penglihatannya dua tahun lalu. Anna tidak pernah diberitahu, dan nama Wan hanya kekal sebagai ingatan samar di masa silamnya, sehinggalah satu hari.

Suatu hari, Anna ditugaskan meliput Majlis Anugerah Guru Inspirasi Daerah di Beluran, Sabah. Dia meneliti senarai penerima dan satu nama membuat tangannya terhenti. Ewandi Robert. Dia membaca profil itu dengan dada yang berdebar.

“Guru SK Pekan Beluran yang meneruskan tugas mengajar walaupun telah hilang penglihatan akibat kompilasi saraf mata. Menjadi inspirasi komuniti luar bandar.”

Hari itu, dewan sekolah sederhana, Anna melihat Wan dipimpin naik ke pentas oleh anak-anak muridnya. Rambutnya sedikit beruban, namun wajahnya masih menyimpan ketenangan sama seperti dahulu. Dalam ucapannya Wan menyebut:

“Saya tidak perlukan mata untuk melihat masa depan anak-anak ini. Saya hanya, perlukan keyakinan bahawa mereka mampu menjadi lebih baik daripada saya,”.

Anna tergamam. Matanya berkaca. Dia tidak tahu. Tidak pernah tahu. Dan saat itu, segala kenangan sekolah menerpa kembali. Segala tawa, segala diam yang tidak pernah difahami maknanya. Selepas majlis, Anna memberanikan dirinya menyapa. “Masih ingat suara ini?” tanya Anna tenang.

Wan terhenti seketika. Senyuman terukir. “Anna Natasha?” tanyanya untuk mendapatkan kepastian.

“Ya, Wan. Saya Anna,” ujar Anna.

“Suara ini, mana mungkin saya lupa. Malahan tidak pernah hilang,” balasnya lagi.

Mereka duduk di bawah pokok Ketapang. Lama berbual, tentang sekolah, tentang kehidupan, tentang perasaan yang dulu tidak pernah diucap.

“Aku pernah suka kau,” kata Wan tiba-tiba.

Anna tersenyum. Matanya berkaca. “Kau bergurau,” balas Anna.

“Aku serius Anna,” sambil tunduk.

“Aku pun pernah rasa yang sama,” luah Anna.

“Tapi waktu terlalu cepat berlari. Dulu aku tidak yakin diri. Aku fikir…aku tidak cukup baik dan cantik untuk kau,” sambung Anna lagi.

Wan menggeleng perlahan. “Kau selalu cukup, Anna. Cuma kita tidak pernah berani saling berkata apa yang perlu.”

Anna mengangguk perlahan. 

“Tahniah, Anna. Aku masih mengikuti perkembangan kerjaya kau. Banyak anugerah yang kau raih dalam dan luar negara,” sambung Wan lagi.

“Terima kasih, Wan. Kamu pun apa kurangnya. Aku bangga ada kawan seperti kamu, rela berkhidmat mendidik anak bangsa walau terpaksa berkorban seperti ini,” luah Anna.

Anna mengangguk perlahan. “Majlis ini… mungkin penutup yang indah untuk kisah lama kita. Noktah yang akhirnya tertulis.”

Mereka berpisah petang itu dengan tenang. Tiada dendam, tiada sesal. Cuma kenangan yang akhirnya mendapat penutup yang sepatutnya.

Seminggu kemudian, Anna menulis artikal khas bertajuk “Cikgu Buta, Jiwa Celik”. Ia disiarkan dihalaman utama akhbar hujung minggu. Di akhir tulisannya, dia menyatakan: “Ada manusia yang hadir bukan untuk dimiliki, tetapi untuk menyedarkan kita tentang erti memberi. Ewandi mungkin telah kehilangan penglihatannya, tetapi tidak pernah kehilangan cahaya. Kisahnya menjadi saksi bahawa cinta yang tidak dimiliki juga boleh menjadi sumber kekuatan.”

*****

Bionarasi

Ruhana @Venel Natasha Nasir from Sabah, Malaysia. She is a teacher and received teaching training from University Malaysia Sabah for degree (2008) and Master of Education Management (2013). She taught at SMK Beluran, Sabah, from 2008 to 2025 (Now). The field of research and publication is mostly focused on the field of Special for Education such as the publication of books, journals, innovations and Poetry Anthologies. Ever won several awards in poetry competitions and writing literary works such as producing an anthology of Malaysian poetry day and Dewan Bahasa and Pustaka.  She became active in writing again in 2020, driven by a renewed passion for publishing her works after attending the Tulis, Terbit dan Self Branding Workshop organized by Teacher Khairy Tajudin from KRT. She also participated in the Mahakarya and Kalimat. Whom has written a numbers of anthologies, among others are: “State Malay Poetry Syair Anthology” (International), “Gurindam Kalbu Anthology” (ASEAN), “Karmina Anthology” (ASEAN), “Cultural Pearl Malay Poetry Pantun Anthology” (ASEAN).

SATU CINTA DUA IMAN

Satu Cinta Dua Iman

Karya: Tiek Saja

 

Rrring ... Rrring....

 

Suara telpon diruang keluarga berbunyi. Aku bergerak malas dari kursi sofa di ruang tamu. Namun mau tidak mau harus mengangkat telepon, takutnya ada hal penting yang ingin disampaikan oleh si penelpon.

 

"Halo, Assalamualaikum, dengan kediaman keluarga Hadimawan." ku sapa orang yang menelpon diseberang sana.

"Halo, ini dengan Dina, yaa? ini kak Bayu, De'." Terdengar suara diseberang sana menyapaku.

 

Aku terlonjak gembira mendengar suara diseberang telepon. Pasalnya aku memang lagi menunggu-nunggu teleponnya

Tak lama aku pun asyik bercakap-cakap dengan kak Bayu. 

Kebetulan hari ini orang rumah lagi pergi semua, jadi aku bisa agak lama berbicara via telepon rumah.

Biasanya mama akan menegurku jika terlalu lama menggunakan telepon rumah, takutnya ada keluarga yang ingin menelpon untuk mengabari hal penting tapi tak bisa menelepon karena jaringannya sibuk dipakai ngobrol hal-hal yang tak penting.

 

Aku Dina Agnia anak kedua sekaligus bungsu dalam keluarga. Saat ini sedang menempuh perkuliahan semester 5 jurusan Farmasi. Sementara Kakakku satu-satunya, Dani Mahesa, lulusan dari salah satu sekolah pelayaran di Jakarta dan kini bekerja di Dinas Kelautan setempat.

 

Orang yang menelpon tadi namanya Bayu Kristianto, sahabat karib kakakku. Sekarang bekerja di salah satu kapal swasta yang bergerak dalam bidang Perikanan.

Sudah hampir setahun ini kami menjalin hubungan cinta diam-diam. Kenapa harus diam-diam? Alasan yang pertama karena kak Dani, tidak pernah setuju jika aku pacaran dengan temannya. Yang kedua karena tembok diantara aku dan kak Bayu sangat tinggi. Kami berbeda keyakinan.

 

Sebenarnya dari awal aku berusaha menghindar, karena aku sadar bahwa hal ini tak akan berjalan mulus. Tapi kak Bayu meyakinkan  untuk menjalani saja dulu . 

Akhirnya disinilah kami menjalani hubungan rahasia.

 

Hari ini rencananya aku mau ketemuan dengan kak Bayu, tapi bingung bagaimana caranya minta izin ke mama, karena pasti mama akan minta kak Dani untuk mengantarkan aku ketempat yang akan ku datangi, sementara kak Dani tidak boleh tahu kalau aku akan bertemu dengan kak Bayu.

 

Disaat aku sedang memikirkanbagaimana cara bisa dapat izin mama untuk keluar tanpa harus melibatkan kak Dani, tiba-tiba telepon di ruang tamu berbunyi. Aku bergegas mengangkatnya.

"Halo. Assalamualaikum. Dengan kediaman keluarga Hadimawan." Sapaku.

"Halo Waalaikumsalam, Dinda yaa, kak Bayu nihh." terdengar suara dari seberang sana.

"Oohh, kak Bayu." Aku menurunkan volume suaraku, takut didengar oleh kak Dani yang sedang berada dikamarnya.

 

"Nanti malam jadi kan ketemuannya?" tanya kak Bayu.

"Aku kayaknya gak bisa, kak." jawabku sambil menghela nafas.

"Kenapa, De'? tanya kak Bayu lagi.

"Kan kak Bayu tahu sendiri aku gak bisa keluar kalau gak diantar sama kak Dani." jawabku dengan suara tercekat.

Kak Bayu terdiam, sejenak hening tercipta di antara kami.

 

"Ohh gini aja, coba panggil kak Dani, kak Bayu mau bicara." Tiba-tiba kak Bayu bersuara.

"Kak Bayu mau bilang apa? jangan aneh-aneh deh, Kak!" tanyaku dengan suara yang berubah panik

"Sudah, panggilin aja dulu, semua aman kok." jawab kak Bayu.

 

"Kak Dani, ini ada telepon dari kak Bayu." teriakku memanggil kakakku.

 

Pintu kamar kak Dani terbuka, dia kemudian menghampiriku, lalu mengambil gagang telepon dari tanganku.

 

" Ya Bay, kenapa? Kamu sehat kan? lagi dimana sekarang?" Kak Dani mencecar pertanyaan kepada kak Bayu.

 

Aku beranjak keluar ke ruang tamu. Penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Pun apa yang akan dikatakan kak Bayu kepada kak Dani untuk bisa bertemu denganku nanti.

Terdengar tawa kak Dani memenuhi ruangan. Tak lama telepon di tutup, Ku dengar langkah kaki kak Dani mendekat ke arahku. Aku pura-pura fokus membaca novel ditanganku.

"Nanti malam ikut kakak yaa?!" Ajak kak Dani kepadaku.

"Kemana kak?" tanyaku, sambil mendongakkan kepala ke sosoknya yang tinggi menjulang.

"Bayu ngajak ketemuan, kapalnya lagi berlabuh. sudah lama juga tidak ketemu anak itu." jawab kak Dani.

 

"Terus kenapa aku juga diajak? bukannya kakak gak suka kalau aku bergaul dengan teman kakak?" tanyaku penasaran.

 

"Kan Bayu beda, dia bukan cuma sekedar teman biasa, dia sudah kayak saudara kakak, jadi ya sudah kayak kakak kamu sendiri" Jawab kak Dani sambil mengelus kepalaku.

Aku kemudian mengangguk, tanda mengiakan ajakannya.

 

Malam pun tiba. Aku mematut diri didepan cermin, Kemeja putih, dengan lengan 3/4, dipadukan rok kain se-betis warna biru laut serta sepatu teplek yang senada dengan warna rok-ku. Sementara rambutku yang agak ikal sebahu hanya kupakaikan asesoris penjepit saja. Ku poles pipiku dengan bedak  dan diakhiri dengan pemerah bibir tipis-tipis. 

Baru saja selesai, seiring pintu kamarku diketok. Terdengar suara kak Dani memanggilku untuk bergegas.

 

Aku membuka pintu dan bersiap untuk pergi. Tiba-tiba tanganku ditarik oleh kak Dani. Dia lalu memandangiku dari atas sampai bawah. "Tumben adik kak Dani dandan cantik begini. Bahaya ini, bisa-bisa Bayu kepincut sama kamu". Ujar kak Dani.

Aku hanya nyengir untuk menutupi rasa salting-ku.

 

Setibanya di Cafe yang telah disepakati, kulihat kak Bayu tengah asyik ngobrol dengan beberapa temannya yang juga hadir malam itu. Ada 3 orang cewek dan 2 orang cowok yang tak ku kenal. Setelah acara perkenalan, aku memisahkan diri dari tamu yang lain. Kupilih meja yang paling pojok dan agak terlindung dari meja lainnya. Aku agak tak suka dengan keramaian. Saat lagi menikmati musik yang mengalun dari speaker Cafe, tiba-tiba bahuku ditepuk oleh seseorang, aku menoleh untuk melihat pelakunya. Ternyata kak Bayu. Senang sekaligus agak cemas, kulayangkan pandanganku ke arah kak Dani berada, yang ternyata lagi serius ngobrol dengan seorang cewek.

"Gak usah khawatir, kak Bayu sudah izin ke kak Dani untuk nemenin Dina disini." Ujar kak Bayu seolah bisa membaca pikiranku.

 

Kamipun berbincang banyak hal, saling bertukar kabar setelah beberapa lama tak bertemu. Hingga akhirnya kak Bayu mengungkapkan niatnya untuk bertemu dengan mama dan papa, katanya dia ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku. Alih-alih senang aku malah panik. Untukku ini terlalu cepat. Ini bukan hal sepele, alih-alih dapat restu, yang ada malah kemungkinan kami bisa dipaksa untuk berpisah. 

Kulihat wajah kak Bayu agak kecewa saat kuutarakan pendapatku. "Kak Bayu pikir Dina mau berjuang untuk hubungan ini, bagaimana kita bisa tahu keputusan mama dan papa Dina, kalau kita tidak pernah mengungkapkannya langsung. Kak Bayu nggak mau terus-terusan main kucing-kucingan seperti ini. kita sudah bukan Abege lagi, Dik."

 

"Kak Bayu pikir Dina mau kayak begini? sembunyi-sembunyi untuk ketemu dengan orang yang Dina sayang? Nggak kak, Dina juga lelah. Tapi Dina tahu bagaimana karakter mama dan papa. Belum lagi dengan kak Dani." Aku menjawab dengan suara tercekat. Mataku mulai berkaca-kaca. Sesak rasanya ada dalam kondisi begini.

 

"Tapi setidaknya kasih kak Bayu kesempatan untuk mencoba bicara dengan mama dan papa Dina. Atau mungkin bicara dengan kak Dani dulu, siapa tahu kak Dani bisa memahami dan bantu untuk menyampaikannya ke mama dan papa." Sahut kak Bayu untuk meyakinkanku.

 

"Mau bicara apa Bay, kok kayaknya serius banget" Tiba-tiba kak Dani muncul dan bertanya. Aku kaget dan langsung melihat ke arah kak Bayu berusaha memberi tanda agar jangan berterusterang tentang hubungan kami. Tapi sepertinya Kak Bayu sudah sangat yakin untuk memberitahu kak Dani. 

 

Setelah hampir 15 menit kak Bayu menjelaskan semuanya, tiba-tiba kak Dani langsung berdiri dan menarik tanganku.

"Ayo pulang Dina, kita bahas ini dirumah. Dan kamu Dani Mahendra, mulai sekarang aku minta untuk jangan dekati adikku lagi. Kali ini aku tak menghajarmu karena masih mengingat persahabatan kita. Tapi entah besok lusa.

Kak Bayu berusaha menghentikan langkah kak Dani yang bergegas keluar dari Cafe sambil menarikku untuk bersamanya. Tak dipedulikannnya pipiku yang basah karena airmata dan suaraku yang memelas untuk dilepaskan.

 

"Dani, tolong dengar aku dulu. Aku serius dengan Dina makanya aku memutuskan untuk cerita, berharap kamu bisa mengerti dan mau membantuku untuk meminta restu mama dan papa. Tolong Dani, lepasin tangan Dina juga, jangan diseret begitu." 

Kak Bayu menahan tangan kak Dani.

 

Kak Dani berhenti dan menatap tajam kearah kak Bayu. 

"Kamu betul-betul bajingan Bayu. Dari awal kamu tahu, tembok antara kamu dengan adikku itu sangat tinggi. Panggilan ibadah kita berbeda, kamu dengan lonceng sementara Dina dengan kumandang Adzan.   Dina rukuk dan sujud, sementara kamu tetap tegak berdiri. Apa yang akan kamu ubah dari itu semua? Yang jelas tak akan kubiarkan adikku mengubah gerakan ibadahnya!" 

 

"Aku yang akan mengubah gerakanku!" Jawab kak Bayu dengan pasti sambil menatap kak Dani.

 

"Mari kita lihat usaha dan kesungguhanmu. Kau tahu dimana rumah kami, silahkan bawa orangtuamu jika kau benar-benar serius, tak akan pernah kau dapat restu dari kami, sebelum kau dapat restu dari orangtua-mu.

Kak Dani menarikku untuk pulang, menjauh dari kak Bayu.

 

Sejak kejadian itu, aku dibatasi untuk menerima telepon dirumah. Kak Dani benar-benar memutuskan aksesku untuk bisa berkomunikasi dengan kak Bayu. Hingga 2 bulan setelah kejadian itu, kak Bayu memboyong kedua orangtuanya ke rumah. Sayangnya kak Bayu hanya bilang akan membawa keduanya untuk bertemu dengan calon istrinya tanpa menjelaskan hal lainnya. 

 

Beruntung kami memiliki orangtua yang mau berbicara dengan kepala dingin. Orangtua kak Bayu cukup terkejut dengan keputusannya untuk berpindah keyakinan. Ayahnya menyerahkan semua keputusan kepada kak Bayu. Sementara Ibunya terlihat kecewa tapi tetap bisa mengeluarkan petuah bijak untuk kami berdua. Beliau berpesan kepada kak Bayu untuk meyakini agama atas dasar iman kepada Tuhan bukan hanya karena cinta kepada insan. Bisa ku lihat raut wajah ibunya yang kecewa dan memendam kesedihan.

Kupandangi wajah mama dan berusaha memahami bagaimana jika mama yang ada di posisi ibu kak Bayu.

 

Tiba saatnya aku yang diberi waktu untuk berbicara, memberi keputusan untuk melanjutkan hubungan ini atau berhenti sampai disini. 

kuhela nafas, kupandangi semua wajah orangtua didalam ruangan itu, setelahnya kualihkan pandanganku ke wajah kak Bayu, lelaki yang hampir setahun belakangan mengisi hari-hariku. Hatiku terpaut pada semua kebaikannya. Tak bisa kusangkal ada harapan lebih yang kutitipkan padanya. Tapi tak sanggup rasanya kupatahkan hati wanita lain yang kasihsayangnya sepanjang hayat untik kak Bayu dengan rasa cintaku yang baru seumur jagung.

 

Dengan tersendat-sendat kuutarakan keputusanku didepan semua keluarga, bahwa aku tak bisa meneruskan hubungan ini dengan banyak pertimbangan.

Kak Bayu menatapku lalu kemudian tertunduk dalam. Aku menatapnya dalam diam. Sungguh begitu besar rasa sayang ini, aku mungkin punya nyali untuk menggenggam tanganmu, tapi aku tak punya hati untuk merenggutmu dari Tuhan-mu. 

Semoga waktu akan mengobati rasa luka ini dan kelak mempertemukan kita dengan jodoh yang setara baik cinta juga ibadahnya.

 

 

Bionarasi :

Subthanti Amda biasa dipanggil dengan Tiek saja. Seorang Istri dengan 2 orang anak laki-laki. Menyukai hujan, buku dan ma

Jumaat, 28 Februari 2025

Cinta Sampai Mati


Cinta Sampai Mati
Oleh: AC Jaffrie





FITRI benar-benar tertekan. Bukan niatnya untuk menyakiti hati Ayunie. Dia sendiri tidak dapat menerima apabila maruah dirinya dipijak melata oleh insan yang dia sayangi. Kata-kata pedas yang dilemparkan oleh Ayunie pada lewat pertemuan mereka, benar-benar membuatkan dia berfikir banyak kali. Dia tetap dengan pendiriannya sendiri. Malah sanggup kehilangan cinta yang sekian lama tumbuh subur antara mereka.  

        “Mengapa diam? Apit memang tak sayangkan Unie?” tempelak Ayunie tanpa dapat bersabar lagi. Perasaan marah dan tidak puas hati terus membuak-buak di rongga dada. Panggilan nama Apit adalah sahutan mesra buat kekasih hatinya itu.

        “Siapa cakap Apit tak sayang Unie? Apit tak cakap pun, itu Unie yang kata!” balas Fitri tidak tahan dengan tuduhan melulu Ayunie. Dia sebenarnya berada dalam satu keadaan sukar. Kompas cintanya seperti hilang arah.

        “Habis tu mengapa Apit tak buat sesuatu untuk selamatkan cinta kita?” tukas Ayunie masih tidak berpuas hati. Dia terus mendesak. Fitri terus tertekan. Bukan hanya perasaan tetapi pemikirannya juga.

        “Cinta? Unie nak Apit selamatkan cinta ini sendirian? Tanggungjawab Unie macam mana pulak?” soal Fitri kembali. Dia mahu Ayunie turut sama bertanggungjawab atas cinta mereka. Jiwanya semakin lemah. Kenyataan hidup seolah-olah tidak menyebelahinya. 

       “Apit lelaki, Apit kena lebih bertanggungjawab!” sela Ayunie masih mahu meletakkan sepenuhnya tanggungjawab ke bahu lelaki itu.

“Unie nak Apit buat apa?” soal Fitri sekali lagi memohon diberikan akal. Dia masih buntu memikirkan soal itu. Gadis itu terlalu mendesak. Kesakitan yang ditanggung biar bersama.

        “Apit sayangkan Unie?” Ayunie menyoal lagi lelaki yang sedang buntu itu. Dia akan terus mendesak. Dia mahu tahu satu jawapan yang mutlak.

Fitri perlukan jawapan, bukan soalan. Dia rasa terperangkap dengan diri sendiri. Apa yang perlu dijawab? Seikhlasnya memang dia mencintai Ayunie. Sejak mengenalinya lebih lima tahun lalu, sehingga kini perasaan itu belum berubah. Tanpa suara, hanya keluhan yang mendesah keluar dari rongga kerongkongnya. Ayunie cepat membuat kesimpulan.

        “Hmm… Unie dah agak. Memang Apit dah berubah, dah tak sayangkan Unie lagi. Patutlah Apit buat tak kesah. Agaknya Apit dah ada perempuan lain!” 

        “Jangan melampau Unie. Jangan menuduh tanpa bukti. Bercakaplah dengan fikiran, bukan ikut perasaan. Sayang dan cinta Apit sikit pun tak berubah. Keadaan yang memaksa kita membina jurang bahagia. Sebagai lelaki, Apit tetap ada pendirian. Bukan lemah bak melukut di tepi gantang. Ego lelaki tak kan benarkan perasaan ini terus berharap pada cinta yang kecundang. Kalau luka, biarlah Apit tanggung sendiri.  Walaupun tanpa derai air mata, dalam hati Apit tetap kecewa!” puas Apit meluahkan apa yang terbuku di dada. 

Di mata Ayunie nampak berkaca. Jawapan lelaki itu sangat jelas. Dia masih disayangi.  Tapi kenapa perasaannya macam tidak percaya? Lelaki itu juga kecewa. Tidak ada kesungguhan meneruskan cinta yang telah lama dibina. Sikap lelaki itu terus berubah. Semuanya bermula dengan satu perkhabaran. 

Ayunie guman sendiri. Haruskah dia yang dipersalahkan kerana membawa perkhabaran itu? Bukan salah dirinya, itu semua kehendak keluarga. Namun itu adalah punca hubungan yang manis bertukar menjadi pahit. Keluarganya masih berkeras mahu menerima lamaran Zariq, pemuda pilihan mereka. Satu janji penyatuan hidup juga sudah dirangka.

        “Unie memang kecewa sangat. Macam inikah sikap seorang lelaki yang Unie mahu harapkan? Unie perlukan seorang lelaki yang bertanggungjawab. Bukan lelaki lemah macam ni!” tukas Ayunie membuatkan Fitri rasa terhina. Kata-kata itu sangat menjengkelkan lelaki sepertinya.

       “Apit tak kesah Unie nak kata apa. Apit pun ada prinsip hidup. Tak guna kita teruskan hubungan ini kalau tanpa restu orang tua. Jangan jadi anak derhaka kerana cinta. Cinta saja tak kan bawa kita ke mana-mana kalau ada hati-hati yang kecewa. Apit tak kan salahkan cinta sebab cinta itu tulus…”

        “Jadi Apit nak nak salah Unie? Tak setia pada cinta!”

Fitri terdiam. Siapakah yang bersalah dalam soal ini? Dia atau Ayunie? Atau keluarga Ayunie? Sakit kepalanya mula berganda. Memikirkan soal itu, segala urat dan nadinya turut menjadi sakit. Inikah penangan cinta? Bahagia di permulaan, kecewa di pengakhirannya. Dia sudah cukup berterus terang tetapi gadis itu yang tidak memahami. Hanya desakan demi desakan mengasak fikirannya supaya terus setia.

        “Jawablah Apit. Berdiam tak kan selesaikan masalah. Unie nak kita selesaikan masalah ini sekarang jugak!”

        “Apa lagi yang boleh Apit buat kalau keadaan dah jadi macam ni? Apit tak nak dituduh sebagai perampas dan pemusnah kebahagiaan hidup orang lain. Unie masih ada keluarga, lainlah Apit yang hidup sebatang kara. Susah senang tak ada orang nak peduli. Merekalah pelindung Unie bila-bila masa. Hmm… Apit buntu nak buat keputusan. Apit terpaksa reda kalau ini memang takdir-NYA untuk kita.”

Ayunie tidak puas hati dengan jawapan Fitri itu. Alasan demi alasan itu sengaja dicipta demi tidak meneruskan hubungan antara mereka. Dia benar-benar tersepit antara perasaan sendiri dengan permintaan keluarga. Dia sebenarnya masih sayangkan Fitri. Biarpun marah, dia masih mengharapkan Fitri terus memilihnya sebagai suri di hati.

        “Unie tahu, Apit masih sayangkan Unie. Unie pun sayangkan Apit. Kita perlu buat sesuatu…” Ayunie terus mengumpan perhatian Fitri supaya bersetuju dengan cadangan yang akan diberikan.

        “Kita nak buat apa?” soal Fitri ingin tahu agenda Ayunie seterusnya.

    “Kita kahwin lari!” pantas Ayunie mengusulkan pendapatnya. Wajahnya penuh harapan. Kata-kata itu membuatkan Fitri melopong mulut. Antara terkejut dan terkesima, dia pantas bersuara.

        “Ini kerja gila. Sanggup Unie buang keluarga demi cinta?”

        “Kalau ini sudah takdir-NYA, memang Unie sanggup. Semuanya demi cinta kita!”

Fitri gumam sendiri. Dia sebenarnya tidak sanggup menyahut cabaran itu. Sekeras-keras hati lelakinya, dia masih boleh berfikir mengikut pertimbangan akal. Kerana cinta, manusia sanggup berbuat apa sahaja. Dia perlukan sedikit masa untuk merungkai segala yang kusut. Dia yakin dengan janji ALLAH SWT, kalau sudah jodoh tidak akan ke mana. Jika tidak, dia akan reda sahaja.

*******

SUDAH sebulan berlalu. Fitri tidak mendengar sebarang perkhabaran tentang Ayunie. Talian telefon yang biasa digunakan langsung tidak berjawab. Setiap kali dihubungi, hanya suara mesin yang menjawab. Semua panggilan menyatakan gadis itu berada di luar kawasan liputan. Fitri rasa gelisah. Dia rasa bersalah. Mungkinkah Ayunie merajuk lalu terus membawa hati? Rajuk perempuan selalunya begitu.

Dia seperti kehilangan. Duduk berdirinya serba tidak kena. Dia sudah macam orang sasau. Setiap detik terus merindui Ayunie, gadis yang sudah sekian  lama bertahta di hatinya. Keluhan demi keluhan bersilih ganti dengan nafasnya yang mendengus. Entah mengapa, bayangan Ayunie terus bertalu-talu mengasak ruang mata. Fikiran Fitri menjadi semakin tidak keruan. Degup jantungnya kembali bergetar. 

Bagi mengurangkan tekanan di fikiran, Fitri mengambil keputusan untuk bersiar-siar ke jeti pendaratan ikan tidak jauh dari tempat dia tinggal. Sesekali menghirup udara segar di kawasan pantai memang mendamaikan. Hilang seketika rasa gundah yang memutik di dada. Fitri terus mengatur langkah menyusur kawasan jeti. Bot-bot nelayan yang bersusun di air turut mengindahkan lanskap alam petang itu. 

Riuh suara nelayan tatkala menaikkan bakul-bakul yang berisi ikan hasil tangkapan memecah hening petang yang damai. Ramai juga yang menunggu ikan segar naik ke jeti. Menjadi rutin juga buat anak-anak nelayan menunggu ayah mereka pulang dari laut. Dalam ramai-ramai itu, sempat mata Fitri melihat kelibat seseorang. Dia tersenyum lalu kakinya pantas mendekati insan yang dimaksudkan.

       “Assalamualaikum…” Fitri memberi salam sebaik sahaja mendekati individu tersebut. Dia menunggu reaksi yang seterusnya. Ada sesuatu yang ingin ditanyakan.

        “Waalaikummussalam. Ehh… Apit. Lama tak nampak, mana menghilang?” soal Azizah dengan perasaan ceria. Senyuman tidak lekang dari bibirnya.

         “Err… tak pergi mana pun. Sesukar mana pun hidup, aku tetap di sini,” jawab Fitri teragak-agak tetapi berusaha menyakinkan Azizah dengan jawapannya itu.

        “Bunyi macam orang kecewa aje. Kau okey ke?” usik Azizah dengan satu persoalan. Persisnya mahu menduga. Fitri sedikit goyah. Jiwanya memang tidak tenteram sejak beberapa hari ini.

        “Ehh… apa maksud kau? Aku okeylah!”

Azizah menyisih sedikit daripada Fitri. Dia sempat merenung ke wajah Fitri. Sekilas pandangannya macam ada sesuatu yang mahu dikhabarkan kepada lelaki itu. Bukan sehari dua dia sudah kenal dengan Fitri. Kisah cinta antara Fitri dan Ayunie bukan juga rahsia yang mahu disembunyikan. Malah orang kampung juga tahu kisah mereka.

        “Kau memang nampak okey tapi perasaan kau? Aku tahu kau masih sayangkan dia bukan?” bertalu-talu Azizah bertanya. Fitri rasa seperti dipukul. Bukan sahaja hatinya sakit malah seluruh anggota badan turut menderita sama.

        “Azie… kau tahu dia di mana sekarang? Dah puas aku hubungi dia tapi hampa. Aku tak boleh hidup tenang tanpa dia…” tiba-tiba Fitri meluahkan rasa. Kecewanya berganda-ganda.

        “Dia dah pergi jauh. Tak perlu kau cari dia lagi…” jawab Azizah dengan wajah yang sebal. Air mukanya menggambarkan satu keadaan yang tidak selesa.

        “Kau pun tahu, aku masih sayangkan dia. Aku tak boleh hidup tanpa dia. Dia segala-galanya bagi aku. Aku benar-benar menyesal lepaskan dia pergi. Aku nak dia kembali semula,” ujar Fitri seperti orang hilang akal. “Orang berkahwin boleh bercerai, inikan pula orang bertunang!”

Azizah tidak dapat menahan sebak. Kata-kata bersemangat daripada Fitri itu sangat mengujakan. Mungkin sudah tiba masanya dia berterus terang. Tidak sanggup dia menceritakan apa yang sudah terjadi. Amanah keluarga Ayunie sangat berat untuk disimpan. Setiap kali Fitri mendesak, dia dihukum rasa bersalah.

        “Kau kena tolong aku. Aku tahu kau rapat dengan dia. Tolong jangan tambah siksa yang ada!” rayu Fitri bersungguh-sungguh. Azizah nampak culas. Berat mulutnya mahu menyampaikan kisah yang sebenarnya. Sebelum memulakan bicara, nafas ditarik perlahan-lahan.

        “Aku tahu kau sayangkan dia. Kita semua sayangkan dia. Tapi ALLAH SWT lebih lagi menyayangi dia…” tutur kata Azizah terhenti di situ. Air mata mula berjuraian di pipi. 

Fitri  macam tidak percaya mendengar kata-kata itu. Adakah dia sedang bermimpi? Keluhan dilepaskan demi menggenggam satu realiti.

        “Apa maksud kau? Jangan main-mainkan perasaan aku boleh tak?” soal Fitri bertubi-tubi. Ombak resah di dadanya terus menggunung. Kalau gunung berapi pasti sudah meletus laharnya.   

        “Kau kena reda. Ini satu ketentuan dari-NYA. Unie seorang gadis yang setia pada cintanya. Dia terus membantah kehendak keluarga dan tak jadi bertunang dengan mana-mana lelaki pun. Cintanya memang untuk kau seorang. Dia memilih untuk menjadi tetamu ALLAH supaya dapat berdoa di Jabbal Rahmah. Tapi sayang, ajal terlebih dulu menjemputnya di sana…” ujar Azizah dengan air mata semakin laju turun ke lurah pipi.

        “Ya ALLAH!”

Hanya itu perkataan itu yang terlontar dari mulut Fitri. Dia terduduk di lantai jeti. Ego lelakinya turut larut bersama air mata yang gugur. Dalam esak tangisnya, Fitri berjanji akan sesetia cinta Ayunie. Dia juga sudah bertekad akan terus mencintai arwah Ayunie hingga ke mati. Mungkin mereka boleh bertemu di syurga abadi. Azizah yang lama berdiri turut menyeka air mata. Dia turut terkesima sama.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular