Ahad, 19 Julai 2026

SAWAH TERAKHIR: Karya Sahbuddin Dg. Palabbi

 

SAWAH TERAKHIR

Sahbuddin Dg. Palabbi

Sawah itu adalah urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari tangan-tangan yang menghitam menanam harapan di tanah basah. Aku mewarisinya seperti mewarisi napas. Tak pernah kupikir untuk menjualnya. Namun, keadaanlah yang memaksaku memutus urat nadi itu dengan tanganku sendiri. Bukan untuk makan. Bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk membeli sebuah pintu yang katanya akan mengubah hidup anakku: pintu hijau.

***

Beberapa bulan lalu, Fadli, anakku, pulang dari kota dengan mata sembab. Tes masuk tentara yang ia impikan sejak kecil tak membawanya ke barak, melainkan ke sebuah warung kopi, tempat ia duduk diam berjam-jam menelan kekecewaan.

“Nilai fisikku bagus, Bapak. Tapi… mereka bilang ada yang kurang,” ucapnya pelan.

Aku tahu maksudnya. Bukan kurang latihan, bukan kurang disiplin, melainkan kurang uang pelicin.

Fadli sudah lama bercita-cita menjadi prajurit. “Bapak,” katanya, “kalau aku jadi tentara, aku bisa jaga negeri dan jaga Bapak.”

Aah anakku… negeri ini lebih pandai menelan penjaganya ketimbang dijaga olehnya. Namun aku diam. Kadang seorang ayah harus memelihara mimpi anaknya, walau tahu mimpi itu akan dijadikan barang dagangan di pasar gelap.

Orang bilang, sekali pintu itu terbuka, nama keluargamu akan diucap dengan hormat, anakmu akan disapa dengan tegap, dan hidupmu akan diisi oleh kebanggaan. Namun di balik pintu itu, ada harga yang tak tercantum di formulir pendaftaran. Harga yang tak bisa dibayar dengan nilai ujian atau keringat latihan, hanya dengan lembaran uang yang beraroma tanah basah dari sawah yang akan kugadaikan.

***

Siang itu, aku sedang duduk di warung kopi dekat pasar. Sebuah kedai sederhana. Meja-meja tua dengan cat mengelupas, dinding papan pudar, dan rak botol sirup yang lebih banyak berdebu daripada terpakai.

Angin membawa bau bawang merah kering, bercampur aroma kopi tubruk yang baru dituang. Udin, si pemilik kedai yang juga teman SMP, duduk di bangku kayu dekat pintu, mengipasi bara tungku kecil yang mulai meredup. Di sudut lain, istrinya menjemur kerupuk di atas tampah bambu, sambil sesekali menepuk bahunya yang pegal.

“Eh, Run, sudah lama?” sapanya. Suaranya hangat seperti dulu.

“Baru saja. Kebetulan lewat sini, Din,” jawabku, lalu memesan segelas kopi.

“Aku dengar Fadli sudah ikut tes masuk tentara?” tanyanya, menatapku serius.

Aku mengangguk pelan. “Iya… tapi belum lulus. Katanya, ada yang kurang.”

Udin mengerutkan dahi. “Yang kurang? Jangan bilang… jalan pintas?”

Aku menelan ludah, menatap kopi yang mengepul. “Kurang… uang pelicin.”

Udin menghela napas panjang, wajahnya tetap bersih dari amarah. “Percaya saja sama kemampuan anakmu, Run. Kalau rezekinya jadi tentara, ya jadi. Kalau tidak, mungkin Tuhan punya jalan lain yang lebih baik.”

Ia menuang air panas ke gelas pesanan pelanggan lain, lalu menoleh padaku sambil tersenyum tipis. “Kakak sepupuku juga tentara, pangkatnya lumayan. Masuk lewat jalur resmi, murni tes. Waktu itu keluarganya susah. Jangankan sogok, makan saja kadang utang. Tapi dia lulus juga. Sekarang hidupnya sudah makmur, rumah besar, mobil ada, anaknya kuliah di Akmil.”

Aku hanya tersenyum. Aku tahu Udin bicara dari hati yang bersih. Wajahnya juga bersih dari kerut ambisi. Terlalu bersih untuk mengerti lumpur yang menempel di pintu hijau itu.

“Anakmu gimana, Din? Masih di pesantren?” tanyaku sambil meniup kopi panas.

“Masih,” jawabnya sambil mengangguk, “alhamdulillah, dapat beasiswa penuh. Padahal, kemarin ada yang nawarin jalur cepat, sekolah kedinasan, tinggal bayar orang. Pamannya mau bantu, tapi anakku nggak mau. Katanya, kalau rezeki halal pasti ada jalannya.”

Ia tertawa kecil. Entah bangga, entah pasrah. Udin bilang, dagang begini cukup untuk hidup, tetapi tak pernah cukup untuk membeli mimpi yang terlalu mahal.

Aku menghirup kopi pelan-pelan, sambil membatin, mimpi yang terlalu mahal kadang hanya menunggu satu keputusan gila untuk dibeli.

***

Dua hari kemudian. Di beranda rumahku, datang seorang lelaki berwajah teduh bernama Marlan. Ia membawa kabar, katanya ada seseorang di kota yang bisa “membantu” Fadli menjadi tentara.

Matanya menyelidik, suaranya lembut tetapi berat. “Orang ini… jalannya cepat, tapi tidak gratis.”

Aku menatap sawahku. Padi-padi itu mulai menguning. Aku tahu, jika aku menjualnya sekarang, harganya akan jatuh. Tetapi, waktu tak bisa menunggu lama.

“Aku dengar,” kata Marlan lagi, “orang ini pernah menolong banyak anak di desa lain. Kalau mau, aku bisa mengantar besok.”

***

Keesokan harinya, Marlan menjemputku dengan motornya. Angin siang mengibaskan ujung sarung yang kulilitkan di pinggang, sementara jalanan kota semakin ramai menjelang pasar sore.

Rumah itu terletak di ujung jalan kota, agak jauh dari deretan rumah dinas tentara yang sederhana. Begitu sampai, aku langsung sadar, bangunannya terlalu bagus untuk ukuran seorang sersan dua. Dindingnya dicat krem muda, bersih tanpa retakan. Terasnya berubin marmer, mengilap seperti baru dipoles. Pagar besi hitam berkilau, halaman lebar dengan rumput yang dipangkas rapi. Dua pohon palem berdiri di kanan-kiri jalan masuk, seperti penjaga kehormatan.

Seorang lelaki berambut separuh memutih bersandar di kursi rotan, menikmati sore di teras rumah itu. Namanya Pak Surya, begitu kata Marlan, mengenakan kaos putih polos dan celana kain longgar. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Tatapan matanya seperti cermin yang menembus sampai tulangku.

“Kau tahu sendiri, pintu hijau itu berat. Tapi ada caranya agar engselnya lebih mudah dibuka,” ucapnya setelah kusampaikan maksud kedatanganku.

“Kalau mau cepat, harus ada pelicin,” lanjutnya. Jumlahnya… setara seluruh sawahku.

Aku mengangguk pelan, pura-pura tenang meski dadaku seperti diremas. “Beri aku waktu. Uang itu akan kuantarkan sebelum hari tes,” kataku.

Surya menatapku tajam. “Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Sekali saja bocor, urusanmu akan jadi panjang,” ujarnya dingin.

Aku mengangguk lagi, menelan ludah.

Marlan, yang sedari tadi bersandar di kursi, ikut menimpali, “Tenang Pak Sur. Orang ini bisa menjaga rahasia.”

Dalam perjalanan pulang, pikiranku kusut. Malamnya, aku membicarakan hal itu dengan istriku. Kami sepakat. Entah ini keputusan benar atau salah, Fadli harus ikut jalur itu.

Keesokan harinya, aku mulai mencari pembeli.

Berhari-hari aku keliling, menawarkan sawahku ke sana kemari. Sampai akhirnya seorang pedagang beras dari kecamatan sebelah, mau membelinya. Harganya pas. Tidak lebih, tidak kurang, sesuai dengan jumlah yang disebut Surya. Aku menandatangani surat jual beli dengan tangan gemetar, rasanya seperti mengiris bagian dari tubuhku sendiri.

Sesuai kesepakatan, aku kembali menemui Pak Surya.

Tanganku bergetar saat menyerahkan amplop itu, begitu tebal hingga lipatannya nyaris tak tertutup rapat. Ia menerima tanpa banyak bicara, hanya matanya melirik pada secangkir kopi di sebelahnya. Seolah minuman itu menyimpan arti yang hanya ia pahami.

Beberapa minggu kemudian, gelombang penerimaan tentara dibuka lagi. Fadli ikut tes. Dan benar saja, ia lulus keseluruhan rangkaian tes calon bintara tersebut. Padahal sebelumnya, ia gagal ketika mengikuti tes calon tamtama, yang levelnya lebih rendah. Setelah dinyatakan lulus, Fadli ditempatkan di kesatuan kavaleri, markasnya berada di ibu kota provinsi.

Di hari keberangkatannya, warga desa mengucapkan selamat. Udin pun datang, menyalami Fadli dengan senyum tulus, lalu beralih padaku. Genggamannya singkat, namun tetap hangat. Matanya hanya menatapku sekilas, kemudian berpindah ke kerumunan, seakan tak ingin membicarakan apa yang semua orang sudah tahu. Aku tersenyum di tengah keramaian, meski hatiku kosong seperti sawah yang sudah rata tanahnya.

***

Beberapa hari setelah itu, aku lewat di depan rumah Udin.
Ada yang berbeda. Cat temboknya baru, jendela kayunya berganti kaca bening, dan di terasnya berdiri kedai kopi yang ukurannya lebih besar dan lebih modern dari sebelumnya. Aroma kopi sangrai menyebar sampai ke ujung jalan.

“Wah, rezeki besar ini, Din?” tanyaku, setengah bercanda.

Udin tersenyum lebar. “Ah, ini sedikit bantuan dari kakak sepupuku yang tentara itu. Katanya, dia baru dapat rezeki dari urusan kerjaan.”

Ia lalu menunjuk toples-toples kopi di rak. “Kakak sepupuku memang suka kopi, jadi ia menyokong aku membuka kedai yang lebih besar seperti café-café di kota,” lanjutnya sambil tertawa renyah.

Aku terdiam. Dalam kepalaku, secangkir kopi hitam di meja rotan itu muncul lagi. Lalu wajah Pak Surya… senyum miringnya… tangannya yang dulu menerima amplop dari tanganku.

“Din,” kataku perlahan, mencoba terdengar santai, “siapa nama kakak sepupumu di kota itu?”

Udin mengangkat alis, lalu tersenyum. “Surya. Kenapa, Run?”

Aku tersentak. Di dadaku, terasa ada sesuatu yang pecah. Aku memandang kedai kopi itu lama-lama. Kursi kayunya, meja-mejanya, mesin kopi, dan bau kopinya. Semuanya beraroma lumpur sawahku yang sudah tak lagi ada. (*)

 

 

LANGIT TAK PUNYA SISI: Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 

Langit Tak Punya Sisi

Sahbuddin Dg. Palabbi

Di Gaza, langit selalu menghitam sebelum malam.
Bukan karena senja,
tetapi karena asap yang menjulur dari rumah yang roboh.
Yusuf, anak laki-laki dua belas tahun,
duduk di reruntuhan sekolahnya yang kini jadi puing sejarah.
Ia memegang selembar surat,
dari Eli, anak Yahudi yang tinggal di Yerusalem.
Mereka tak pernah bertemu,
tapi mereka bersahabat.

Semua bermula dari jembatan kata,
yang dibangun diam-diam oleh mereka yang percaya:
bahwa anak-anak pun berhak bersuara sebelum peluru bicara.
Eli menulis tentang langit. Tentang burung. Tentang hujan yang turun pelan.
Yusuf membalas dengan cerita tentang bola,
tentang ibunya yang membuat roti bundar setiap pagi,
tentang ayahnya yang menghilang setelah perang terakhir.

“Aku ingin melihat langit yang sama denganmu,” tulis Eli.
“Karena aku percaya, langit tak berpihak.”
Yusuf tersenyum membaca itu,
belum pernah ia mendengar seorang Yahudi
menulis kalimat seindah itu.
Ia membacanya berkali-kali,
seolah di tiap kata tersimpan semacam penghiburan
yang tak bisa diberi oleh dunia yang sedang hancur.

Namun hari itu datang.
Sirine meraung,
dan langit jatuh berkeping-keping.
Rumah Yusuf hancur.
Ibunya ditemukan di bawah puing,
tersenyum dengan mata tertutup.
Adiknya tak ditemukan sama sekali.
Yusuf masih hidup,
tapi sebagian dari dirinya terkubur bersama ibu dan adiknya.
Ia menulis satu kalimat
pada potongan kardus dari toko yang terbakar:
Eli, masihkah kamu melihat langit yang sama denganku?

Suara ledakan kini menggantikan suara doa.
Di Gaza, bahkan sunyi pun retak.

Di Yerusalem, Eli tak lagi menulis.
Ayahnya melarang:
“Kita sedang perang,” katanya.
“Tidak ada sahabat di pihak musuh.”
Namun Eli masih menyimpan surat Yusuf,
masih membacanya di malam hari,
ketika ibunya tertidur dan dunia diam.
Ia menangis dalam senyap.
Di luar jendela, bintang tetap bersinar.
Tapi ia merasa, salah satu dari mereka telah padam.
Kadang, ia bermimpi menjawab surat itu.
Tapi pagi datang, dan kenyataan membungkamnya lagi.

Tahun-tahun berganti.
Gaza tetap terkepung.
Yerusalem tetap dijaga senjata.
Namun surat-surat itu,
masih disimpan oleh Yusuf di dalam kaleng susu tua,
dan oleh Eli di bawah tempat tidurnya.

“Jika aku besar nanti,” tulis Yusuf dalam surat terakhir,
“aku ingin menjadi jurnalis.
Agar dunia tahu bahwa aku pernah punya sahabat
yang lahir di sisi yang salah,
tapi punya hati yang paling benar.”
Kalimat itu tak sampai,
tapi maknanya terus mengendap di antara peluru dan pagar besi.

Eli tak pernah membalas surat itu.
Namun saat dewasa, ia datang ke perbatasan,
membawa satu kertas bertuliskan:
“Langit tak punya sisi.”
Ia tidak tahu apakah Yusuf masih hidup,
tapi ia percaya:
satu sahabat yang pernah berkata jujur
cukup untuk mengalahkan seribu kebencian.

Ia berdiri lama di sana,
memandang langit yang sama
yang dulu mereka percayai sebagai tempat pertemuan.

Beberapa tahun kemudian,
Yusuf tumbuh menjadi wartawan.
Ia mewawancarai reruntuhan,
mencatat nama-nama yang tak masuk berita.
Sementara Eli,
menjadi guru sastra di kota yang aman,
mengajarkan puisi yang tak pernah selesai ditulis Yusuf.

Setiap tahun,
Eli mengulang kisah yang sama kepada murid-muridnya:
tentang dua anak yang tak pernah bertemu,
tapi saling percaya pada satu hal—
bahwa cinta tak mengenal batas.
Bahwa yang ditulis dengan hati,
tak pernah benar-benar hilang dari dunia.

Suatu hari, di festival sastra kecil di Eropa,
dua puisi dipamerkan berdampingan.
Satu ditulis Yusuf,
satu lagi oleh Eli.
Berjudul sama:
"Langit Tak Punya Sisi."

Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya,
tapi para pengunjung menangis.
Sebab kadang, satu bait yang jujur
lebih kuat dari seribu peluru.
Dan langit pun, untuk sesaat,
terasa benar-benar tanpa sisi.

Jakarta, Medio Juli 2026

SAWAH TERAKHIR: Karya Sahbuddin Dg. Palabbi

  SAWAH TERAKHIR Sahbuddin Dg. Palabbi Sawah itu adalah urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari ...

Carian popular