Langit Tak Punya Sisi
Sahbuddin Dg. Palabbi
Di Gaza, langit selalu menghitam sebelum
malam.
Bukan karena senja,
tetapi karena asap yang menjulur dari rumah yang roboh.
Yusuf, anak laki-laki dua belas tahun,
duduk di reruntuhan sekolahnya yang kini jadi puing sejarah.
Ia memegang selembar surat,
dari Eli, anak Yahudi yang tinggal di Yerusalem.
Mereka tak pernah bertemu,
tapi mereka bersahabat.
Semua bermula dari jembatan kata,
yang dibangun diam-diam oleh mereka yang percaya:
bahwa anak-anak pun berhak bersuara sebelum peluru bicara.
Eli menulis tentang langit. Tentang burung. Tentang hujan yang turun pelan.
Yusuf membalas dengan cerita tentang bola,
tentang ibunya yang membuat roti bundar setiap pagi,
tentang ayahnya yang menghilang setelah perang terakhir.
“Aku ingin melihat langit yang sama
denganmu,” tulis Eli.
“Karena aku percaya, langit tak berpihak.”
Yusuf tersenyum membaca itu,
belum pernah ia mendengar seorang Yahudi
menulis kalimat seindah itu.
Ia membacanya berkali-kali,
seolah di tiap kata tersimpan semacam penghiburan
yang tak bisa diberi oleh dunia yang sedang hancur.
Namun hari itu datang.
Sirine meraung,
dan langit jatuh berkeping-keping.
Rumah Yusuf hancur.
Ibunya ditemukan di bawah puing,
tersenyum dengan mata tertutup.
Adiknya tak ditemukan sama sekali.
Yusuf masih hidup,
tapi sebagian dari dirinya terkubur bersama ibu dan adiknya.
Ia menulis satu kalimat
pada potongan kardus dari toko yang terbakar:
Eli, masihkah kamu melihat langit yang sama denganku?
Suara ledakan kini menggantikan suara doa.
Di Gaza, bahkan sunyi pun retak.
Di Yerusalem, Eli tak lagi menulis.
Ayahnya melarang:
“Kita sedang perang,” katanya.
“Tidak ada sahabat di pihak musuh.”
Namun Eli masih menyimpan surat Yusuf,
masih membacanya di malam hari,
ketika ibunya tertidur dan dunia diam.
Ia menangis dalam senyap.
Di luar jendela, bintang tetap bersinar.
Tapi ia merasa, salah satu dari mereka telah padam.
Kadang, ia bermimpi menjawab surat itu.
Tapi pagi datang, dan kenyataan membungkamnya lagi.
Tahun-tahun berganti.
Gaza tetap terkepung.
Yerusalem tetap dijaga senjata.
Namun surat-surat itu,
masih disimpan oleh Yusuf di dalam kaleng susu tua,
dan oleh Eli di bawah tempat tidurnya.
“Jika aku besar nanti,” tulis Yusuf dalam
surat terakhir,
“aku ingin menjadi jurnalis.
Agar dunia tahu bahwa aku pernah punya sahabat
yang lahir di sisi yang salah,
tapi punya hati yang paling benar.”
Kalimat itu tak sampai,
tapi maknanya terus mengendap di antara peluru dan pagar besi.
Eli tak pernah membalas surat itu.
Namun saat dewasa, ia datang ke perbatasan,
membawa satu kertas bertuliskan:
“Langit tak punya sisi.”
Ia tidak tahu apakah Yusuf masih hidup,
tapi ia percaya:
satu sahabat yang pernah berkata jujur
cukup untuk mengalahkan seribu kebencian.
Ia berdiri lama di sana,
memandang langit yang sama
yang dulu mereka percayai sebagai tempat pertemuan.
Beberapa tahun kemudian,
Yusuf tumbuh menjadi wartawan.
Ia mewawancarai reruntuhan,
mencatat nama-nama yang tak masuk berita.
Sementara Eli,
menjadi guru sastra di kota yang aman,
mengajarkan puisi yang tak pernah selesai ditulis Yusuf.
Setiap tahun,
Eli mengulang kisah yang sama kepada murid-muridnya:
tentang dua anak yang tak pernah bertemu,
tapi saling percaya pada satu hal—
bahwa cinta tak mengenal batas.
Bahwa yang ditulis dengan hati,
tak pernah benar-benar hilang dari dunia.
Suatu hari, di festival sastra kecil di
Eropa,
dua puisi dipamerkan berdampingan.
Satu ditulis Yusuf,
satu lagi oleh Eli.
Berjudul sama:
"Langit Tak Punya Sisi."
Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya,
tapi para pengunjung menangis.
Sebab kadang, satu bait yang jujur
lebih kuat dari seribu peluru.
Dan langit pun, untuk sesaat,
terasa benar-benar tanpa sisi.
Jakarta, Medio Juli 2026
Tiada ulasan:
Catat Ulasan