LARA DI BUKIT PALIPPIS
Arniyati Shaleh
Suara hantaman ombak pada pantai jauh di bawah sana menghentak jantung Lara yang diam memaku di ladang tarreang (ladang jawawut sejenis tumbuhan ilalang) milik Kanneq Puaqnya. Lamat-lamat suara ombak itu menggelora tanpa lelah diiringi angin kencang menderu, langit mulai berhiaskan awan berwarna kelabu, bergumpal dan nampak tertatih menahan beban. Kanneq Puaqnya, ayah mama Lara menoleh ke arah Lara dan memberi isyarat untuk bersegera meninggalkan ladang. Lara patuh meski mulutnya mengatup kukuh. Sendu mengalir sejuk ke dalam hatinya melihat Kanneq Puaqnya meski sudah tua tapi tetap tegap penuh semangat mempertahankan ladang tarreang ini dari roda-roda industri.
Kanneq Puaq Lara yang populer dipanggil Puaq Kumia oleh Anaq Banua bernama asli Kacoq Kaiyyang, entah harapan apa yang diimpikan kakek buyut Lara sehingga menamakannya Kacoq Kaiyyang yang dalam bahasa Indonesia berati Anak Lelaki yang Besar, padahal tubuh Kanneq Puaqnya ini seperti lelaki Mandar pada umumnya tidak terlalu besar, tingginya jauh dari semampai, agak gempal dengan rambut ikalnya, wajahnya berahang kuat dan agak lebar. Lara yang tinggi semampai sering merasa senang semasa tumbuh kembangnya berdiri di samping Kanneq Puaqnya sambil berteriak kegirangan karena sudah melampaui tingginya. Lara tersenyum mengingatnya sambil berlari kecil mengejar langkah Kanneq Puaqnya yang lincah menuruni perbukitan bebatuan karang itu. Mama Lara putri semata wayang Puaq Kumia, Seorang anak perempuan yang besar di ladang tarreang namun berpikir berjuta kilometer dari kampungnya. Terlahir cerdas dan kritis membuatnya berbeda dengan anak perempuan di bebukitan Palippis sana. Dia bernama Kumia.
Kumia pemimpi tanpa batas. Lewat bacaan di perpustakaan sekolahnya, Kumia merajut mimpi yang dengan tekad berapi ingin diraihnya, dijadikan pakaian yang kelak meluaskan langkahnya sebagai Anak Bangsa bukan sekedar Anaq Banua. Sekolah Dasar dilampauinya dengan gemilang meski harus menempuh jarak berkilometer, lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah DDI di Campalagian yang secara geografis semakin jauh dari rumahnya. Kumia melanjutkan sekolah ke SMK jurusan komputer, meski terasa aneh baginya mengingat Puaqnya adalah petani tarreang seharusnya dia memilih jurusan pertanian dan semacamnya tapi itulah Kumia, gadis Ladang Tarreang yang tak pernah patah ditebas musim.
Kumia mengepakkan sayapnya, meski di tengah musim angin dan ombak besar, di tengah kesulitan Puaqnya dalam mencoba tetap bertahan menabur benih pada bebukitan batu karang di bukit Palippis sana. Bukan tak pernah mereka diterpa badai yang dahsyat tapi langkah Kumia bergeming, tertatih namun tak lelah.
Puaq Kumia mengenang semua jejak langkah putrinya sambil memandang penuh kasih pada Lara, cucunya yang tiap liburan sekolah setia mengunjunginya meskipun harus menyeberangi samudra, ya Kumia yang menikah dengan Lelaki Mandar berdarah campuran Turki itu, kini menetap di Istanbul, Turki dengan bendera usaha bernama Guzel Turkey Accessories. Anaknya yang lahir dan besar di sisi bukit akhirnya terbang jauh ke negara asing, ada parutan kebanggaan yang terukir pada senyumnya.
Teringat Puaq Kumia ketika badai dahsyat menerpa keluarganya dan keluarga perkampungan di sekitar mereka. Angin kencang menyebabkan panen gagal, sapuannya meliukkan rumpun tarreang yang mulai menampakkan bunga_bunga indah, ladang tarreang tak mampu menahan angin untuk melindungi tetumbuhan di atasnya, jagung, padi-padi di pesawahan pada perbukitan di bawahnya yang memanjang di pinggiran jalan rebah tak berdaya, sementara ombak di lautan mengganas tak mengijinkan kapal pembawa sembako merapat di dermaganya, jangan kata kondisi jalanan yang saban hari disapa hujan deras bermeter kubik itu mengalah mengikuti kemauan alam luruh menimbulkan genangan di sana sini. Saat itu Kumia sudah kelas Tiga SMK, masa anak sekolahan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Perhiasan Kindoq Kumia sudah mulai berlari ke toko perhiasan di Tinambung yang tersisa adalah cincin pemberian Kanneq Kumia. Kumia hanya bisa merenung diam tak tahu harus bagaimana karena dia sangat sayang pada cincin itu, cincin yang diberikan Kindoqnya sehari sebelum menutup mata.
Puaq Kumia, “Tomalolo, ikhlaskanmi ciccinna Kanneqmu, anaq U, apa maumi diapa, bukan cuma kita yang susah tapi hampir seluruh kampung di Banua Mandar ini, kita lebih beruntung karena punya simpanan tarreang dengan bataq, masih bisa makan. Bagaimana yang selama ini mengandalakan sawah? Bagaimana Tuan Gurumu dan keluarganya di Labuang?”
Tanpa disangkanya, Kumia berdiri dan memeluknya,”Oh Puaq, apapun yang terjadi cincin ini tidak akan kujual, selalu ada jalan. Besok aku mau ke Majene, tadi sore sudahka bicara sama Tante Biah, mauka coba jualkangi lipaq sabbe-na. Katanya di Majene ada distributor lipaq sabbe, doakanka Puaq.” Sebenarnya tawaran itu awalnya tidak digubrisnya, Kumia belum berani sendirian ke Majene apalagi di sana dia tidak punya kenalan, ada keluarga tapi jarang ketemu. Keluhan Puaqnyalah yang memompa semangatnya untuk berani ke Majene. Toh Sekolahnya sudah lumayan dekat dari sana, dia bisa menginap di rumah Tuan Gurunya yang selama ini menyayangi dan menganggapnya anak sendiri.
Puaq Kamia tersenyum, ada binar bintang berkelip di kedalaman mata Kumia, Putrinya. “Kindoqna, seandainya Kau masih ada bersama kita mungkin segalanya akan terasa ringan dan kau akan bahagia melihat kuatnya tekad tomalolota.” Puaq Kumia membatin.
Fajar mencoba menembus lipatan awan yang setia memayungi Palippis dan sekitarnya. Kumia sejak subuh mempersiapkan segalanya sambil berharap cuaca kali ini tersenyum manis padanya. Lipaq sabbe 2 lusin telah terbungkus plastik dan aman dalam tas jinjing, tarreang dan bataq untuk Tuan Guru Supu secukupnya sebagai ole-ole, persediaan mereka cukup banyak meskipun penduduk sekitar ke rumah mereka membeli untuk dijual kembali ataupun dimakan sendiri. Sepagi mungkin Kumia sudah menunggu pete-pete yang akan membawanya ke Labuang.
“Tuhan, lancarkan urusanku demi masa gemilang kelak ...” Batinnya, sambil menunggu angkutan kota lewat. Puaq Kumia yang menemani anaknya tersenyum haru melihat usaha Kumia. Bukan Puaq Kumia tidak punya keahlian lain selain menanam tarreang, memainkan raqapang atau ani ani, sejenis alat pemotong jika panen telah tiba.dijemari kokohnya tapi Puaq Kumia tak ingin ladang tarreang lenyap dibebukitan Palippis, tarreang adalah icon Palippis, sudah berapa keturunan mereka menanam tarreang ini, Puaq Kumia sendiri tidak pernah tahu. Sudah banyak kawannya meninggalkan ladang beralih professi menjadi pappete-pete, guru bantu di madrasah Campalagian bahkan ada yang merantau ke daerah luar nun jauh di sana.
“Eh, Puaq, adami pete-pete” seru Kumia menyadarkan Puaqnya dari lamunan. Kumia melambaikan tangan sambil menunjuk ke arah jalan menuju Majene. Puaq Kumia mengangguk dan membantu Kumia menaikkan bawaan Kumia.
Pete-pete yang merupakan sebutan buat mini bus berpintu samping, kursinya lebih tepat disebut bangku didesain memanjang dengan posisi kiri dan kanan mini busnya, Kumia memilih duduk di dekat pintu karena bawaannya disimpan dekat pintu, takutnya jika goncangan kuat karena jalanan rusak parah bawaannya terjatuh. Tas berisi lipaq sabbe dipangkunya. Mata Kumia menyapa beberapa penumpang tanpa membuka perbincangan sesuai pesan Puaqnya juga pesan Tante Biah adik Kindoqnya demi keamanan Kumia sendiri.
Karena kondisi jalan rusak, perjalanan terasa lama bagi Kumia, lelah dan penuh tanya, “Bagaimana kalau sarung ini tidak laku? Dari keuntungannya Kumia bisa membayar uang praktek, membeli disket dan tentunya bisa disimpan sedikit untuk menambah biaya masuk Perguruan Tinggi beberapa bulan lagi. Tante Biah yang melihat semangatnya mengikhlaskan sarung-sarungnya dijual Kumia dengan keuntungan sepenuhnya buat Kumia, hanya modal pembeli benang sutra, pewarna yang harus diberikan Kumia padanya.
“Tuhan, Kau begitu Maha Baik, padaku. Memberi Puaq dan Tante yang tulus ...Alhamdulillah, Ijinkan aku tak mengecewakan mereka”. Tak henti Kumia mengucap syukur dengan caranya.
Diantar Tuan Guru Supu, Kumia ke Majene. Akhirnya mereka sampai dan Kumia kembali membaca secarik kertas bertuliskan nama juga alamat tujuannya, Hj. Mahdiah Hasyim, Tanjung Batu No.205 belakang mesjid Tanjung Batu. Alamat yang mudah ditemukan.
“Assalamu’alaikum”, takut-takut Kumia mengetuk pintu. Rumah ini terasa begitu mewah baginya. Bangunan besar ini nampak modern dengan dua pilar terukir di sisi kiri kanan pintu masuknya. Dari sinetron yang kadang ditontonnya jika bermalam di rumah tantenya, Kumia tahu bahwa pemilik rumah mewah adalah orang yang judes, angkuh dan materialistis. Dengan pakaian terbaiknya sekalipun tetap akan menunjukkan status sosial Kumia. Tapi, dugaan buruk itu tidak berlaku. Sesosok tubuh mungil namun dari wajah dan penampilannya nampak betapa matang usianya menyembul dari balik pintu dan menjawab salam penuh keramahan.
“Waalaikumussalam, mari masuk, ayoo jangan malu-malu”. Tiba-tiba mulutnya membentuk lingkaran O ketika matanya menangkap wajah Tuan Guru Supu sambil tertawa renyah. “Hammaaa ... Supu ... Kamu palakaq? Saya kira orang mau jual sarung sutra”.
“Ini, siswiku, Kumia, mau jual sarung sutranya jadi saya antarrii”. Tuan Guru Supu menjawab sambil menghenyakkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu mewah itu. Ternyata mereka teman sepermainan dan satu sekolah sejak SD sampai SMP. Mahdiah putri tentara berpangkat Kapten dengan mulus menyelesaikan sekolah dan kuliahnya sampai S2 dijurusan Bisnis Management. S2 yang diselesaikannya di Universitas Nasional Malaysia mempertemukannya dengan seorang bisnisman asli Turki bernama Enver Yilmas yang merupakan dosen tamu di sana. Mahdiah menetap di Turki hanya sesekali pulang ke Majene jika stock lipaq sabbe dan kuliner awet khas Mandar habis di beberapa tokonya yang menyebar di mall-mall Istanbul seperti Istinyee Mall, Cehavir Mall, Optimum Mall yang lumayan ramai dikunjungi pelanggannya. Seperti kali ini, dia pulang kampung hendak memborong lipaq sabbe, bajabu, pipang, dan paissang yang ternyata di gemari di Istanbul.
Mahdiah langsung jatuh hati pada Kumia, mata anak itu nampak berbinar bagai bintang, memancarkan optimisme dan percaya diri.Dan Mahdiah jatuh cinta pada Kumia, insting keibuannya membuncah, salut dan terharu pada sepak terjang Kumia seperti yang diceritakann Supu,
Musim penghujan semakin jauh meninggalkan kampung Palippis, awan mulai berarak cerah menyinari Bebukitannya, Kumia akhirnya lulus dengan predikat luar biasa, NEM-nya mendapat nilai tertinggi se Sulawesi Selatan dan Barat. Karenanya Kumia mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di ITB bagian Programming Komputer, serasa terbang ke awang-awang Kumia mengabari Puaq dan Tantenya yang disambut gembira bahkan oleh seluruh penduduk Palippis. Kumia dianggap pahlawan Kampung. Tak lupa Tuan Guru Supu mengabarkan berita bahagia ini pada Mahdiah..
Bandung, kota besar pertama yang merangkul Kumia, hari-hari penuh tantangan dilaluinya sampai menyelesaikan kuliahnya dan Kumia memutuskan kembali ke pangkuan Ladang Tarreang, rindunya begitu menggebu pada Puaqnya. Di Kampung, Kumia mengabdi di Kantor Kecamatan Balanipa sebagai tenaga administrasi. Sehingga suatu hari, Mahdiah ke Palippis mengajak Kumia menjadi asistennya di salah satu gerai souvenir miliknya di Istanbul. Dengan berat hati, Puaq Kumia melepas putrinya, yang semakin jauh mengepakkan sayapnya,
“Puaq, kalau aku sudah mampu, akan kujemput Puaq, Insya Allah”. Janji Kumia. Puaqnya hanya bisa mengangguk dan memeluknya. Pelukan erat yang sangat berat.
Akhirnya, Kumia tinggal di Istanbul dan menekuni desain asesoris via online disela jam kerjanya di Gerai Mandar Art and Accessories, Cevahir Mall. Suasana romantic kota Istanbul memupuk cinta antara Kumia dan Ilgas Enver Yilmas, putra Mahdiah. Mahdiah sekeluarga dan Kumia kembali ke Mandar, mereka menikah dengan meriah dan penuh nuansa adat. Tak lama setelah menikah, Ilgas yang tahu hobby Kumia mengutak atik perhiasan, mendirikan Gerai di Grand Bazaar, pusat shoping souvenir Turki di Istanbul.
“Kanneq Puaq, kita sudah nyampe ...!” teriak Lara sambil bergegas cuci kaki di keran teras rumah. Puaq Kumia terkejut, sadar dari lamunan kenangan. Lara yang sebentar lagi memasuki Universitas itu bergegas masuk sambil membuka-buka Handphone-nya. Tadi karena signal di atas Bukit Palipps tidak ada, Lara cuma memanfaatkan Blackberry-nya untuk merekam suasana lewat video dan beberapa foto. Signal sudah ada.Ada SMS yang masuk, dari Mama Lara. Di situ tertulis Anne.
Anne :”Nasilsin?”
Lara :”Tesekkur ederim, Anne”
Anne:”Dedenis nasil?”
Lara:”Sagol, Anne, beni ne zaman gotureceksin?”
Anne:”Ne geleceksin?”
Lara:”Bu ayin sonunda, Anne”
Anne:”Oke, Anne dan Baba-mu akan ke Mandar”
Lara:”Bekliyoruz annecim, seni swviyorum annecim, babacim”
Anne:”Anne juga sayang kamu :*, Allene cok selam soyle Mandar”
Sambil membersihkan diri, Lara tersenyum, serasa aneh rasanya bahasa di Palippis ini tapi kata Kanneq Puaqnya, bahasa Turkey yang aneh. Ah sebentar lagi, dia Lara Reyyan Yilmas, gadis campuran Mandar-Turkey akan meninggalkan Palippis, kampung halaman Mamanya. Kampung yang bertolak belakang dengan Istanbul, tempat kelahirannya. Anne dan Baba akan menjemputnya sekaligus membujuk Kanneq Puaq ikut dengan mereka, hanya lima kali Kanneq Puaq ke Istanbul itupun selalu mengingat Ladang Tarreangnya, akankah Kanneq Puaqnya ikut mereka kali ini? Entahlah.
Foot note;
Beberapa chat Lara berbahasa Turkey
Anne ; mama
Baba; papa
Nasilsin; apa kabarmu
Dedenis nasil; apa kabar kakekmu
Tesekkur ederim; kabar baik
Sagol;baik
Ne zaman geleceksin; kapan kamu pulang
Beni ne zamangotureceksin; kapan jemput aku
Bu ayin sonunda; akhir bulan ini
Bekliyorus annecim; aku tunggu yaa maaa
Seni seviyorum annecim; aku sayang mama
Allene cok selam soyle Mandar; salam mama buat keluarga di Mandar
Puaq; bapak
Kanneq; nenek ; kanneq puaq; nenek lelaki
Anaq banua; warga kampong
Adami; sudah ada
Tuan Guru; Pak Guru, guru adalah professi yang sangat dihargai di Mandar .
Bionarasi
Arniyaty Amin ibu rumah tangga yg suka membaca dan menulis, lahir dan berdomisili di Makassar sudah melahirkan beberapa buku antologi puisi dan cerpen juga non fiksi sebagian besar dari hasil lomba. Akun FB Arniyaty Amin, IG @Arniyatiamin therads @Arniyaty Amin
