Sabtu, 11 April 2026

TAKBIR DAN WANGI KESETIAAN: Karya Yusufachmad Bilintention

 

Takbir dan Wangi Kesetiaan

Takbir merambat dari mushala kampung, pecah sebelum magrib. Pemerintah belum menetapkan Idul Fitri, tetapi sebagian orang sudah mengangkat kemenangan mereka sendiri. Anas duduk di karpet kusam; udara rumah kecilnya berbau harum yang ia kenal lebih dari nama istrinya. Rumah tiga kali lima meter itu seperti botol parfum: sempit, tertutup, menyimpan wangi yang tak pernah benar-benar pergi. Namun karpet tetap dingin, motor tuanya berderak seperti napas yang enggan berhenti, dan suara mesin yang malu-malu menyimpan cerita seorang lelaki yang menggantungkan hidup dari menjual wangi.

Di laci panjang, botol-botol berjajar rapi: Cartier untuk hari-hari berat, Lacoste untuk kenangan manis, dan parfum pasar yang murah namun akrab. Cartier menandai masa ketika ia harus meneguhkan hati; Lacoste mengingatkan pada pertemuan pertama dengan Anisa di pengajian Ramadan, senyum sederhana yang membuatnya berani mendekat meski hanya dengan motor pinjaman. Parfum pasar selalu menjadi pengingat harian bahwa hidup mesti terus berjalan. Anas sering menyentuh tutupnya seperti menyentuh memori—sebuah ritual kecil sebelum membuka pintu untuk orang lain.

Cartier yang mahal hanya ia simpan untuk hari-hari berat; parfum pasar sederhana ditaruh di depan sebagai stok dagangan. Anas menyemprot sekali ke dadanya sebelum menerima pelanggan. Bibirnya bergerak pelan, mata menutup sesaat—seolah itu doa kecil yang tak perlu terdengar. Ketika pelanggan masuk, suaranya tetap datar; di balik itu, ada ketenangan yang baru saja ia semprotkan ke tubuhnya.

Sejak tiga tahun menikah, Anas dan Anisa tidak selalu tinggal serumah. Ibu mertua meminta Anisa menemani di rumah besar keluarga. “Kasihan ibu sendirian,” begitu alasan yang berulang. Rumah kecil ini dianggap terlalu sempit, tetapi bagi Anas justru di sinilah ia menaruh harapan. Setiap semprot punya makna: satu mengingatkan awal perkenalan, dua menyingkirkan sedih, tiga menahan gemetar. Kesunyian kembali menempel di karpet kusam, motor tuanya masih setia menunggu di luar

Setiap semprot Cartier mengingatkannya pada masa kenangan bersama Anisa—hari-hari awal ketika ia berusaha meyakinkan diri bahwa cintanya cukup, meski datang dengan motor pinjaman dan suara serak. Namun wangi itu juga membawa bayangan ayah mertua yang dulu lebih ramah kepada Hanan, insinyur terpandang yang hadir ketika Anisa masih diperebutkan, daripada kepadanya. Bayangan Hanan muncul bukan hanya lewat bisik tetangga, tetapi juga lewat mobil gagah yang kadang berhenti di depan rumah besar. Ketika mobil itu lewat, Anisa menunduk; bibirnya mengecil seperti menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Meski begitu, Anisa memilih Anas—pilihan yang menebalkan jarak antara anak dan ayah, istri dan ibu, rumah besar dan rumah kecil.

Kenangan itu menempel seperti wangi yang tak hilang, dan magrib berikutnya seolah menguji keteguhan. Anisa datang membawa gulai kambing lagi, dari rumah besarnya. Aroma kuahnya memenuhi ruang sempit, berpadu dengan wangi parfum pasar yang baru saja disemprot Anas. Mereka duduk di karpet kusam, menunggu azan. Ketika suara takbir kecil dari mushala kampung merambat, Anas meneguk air putih, Anisa menyuapinya sepotong kurma. Tidak ada meja panjang, tidak ada lampu kristal, hanya panci sederhana di atas karpet lama.

Namun di situlah Anisa berkata dengan nada tegas, “Mas, apa tidak enak tinggal di rumah ibu?” Anas menatap panci, lalu menjawab pelan, “Yang penting kamu menemani ibu. Kasihan kalau sendirian.” Anisa menghela napas panjang, menatap karpet kusam. “Aku juga ingin rumah ini hidup, Mas. Aku lelah jadi tamu di rumah sendiri.” Kalimat itu menusuk lebih tajam daripada semprotan Cartier. Diam Anisa kali ini bukan sekadar patuh; itu tuntutan yang mengiang di kepala Anas.

Beberapa hari kemudian, gema tuntutan Anisa masih berputar di kepala Anas. Pikiran itu belum reda ketika undangan berbuka dari Idrus datang, seolah memberi jeda yang tak terduga. Rumah temannya besar dan terang; aroma masakan menyeruak dari dapur, menegaskan kehangatan keluarga di dalamnya. Idrus menyambut dengan tawa lebar, lalu duduk di ruang tamu yang penuh cahaya. Saat azan magrib berkumandang, keluarga Idrus berkumpul di meja panjang: kurma, kolak, dan teh manis tersaji rapi. Istrinya terlambat membawa teh, Idrus berdeham keras. “Saya tidak mau dilayani oleh pembantu,” katanya lantang. Anas menatap tangan Idrus yang berkilau karena minyak wangi mahal; bau itu menempel di udara seperti klaim. Di jalan pulang, perutnya masih terasa hangat oleh kolak, tetapi dadanya justru dingin oleh pertanyaan: apakah pengabdian berarti kalah, atau kesetiaan berarti buta?

Suatu malam menjelang Lebaran, setelah Anisa pulang terburu-buru karena dipanggil ibunya, setelah dialog dengan ibunya via hp. Anas duduk lama di karpet. Dari mushala kampung,masih terdengar suara takbir merambat pelan, belum resmi ditetapkan pemerintah, tetapi sudah mengisi udara dengan rasa kemenangan yang tertahan. Ia menatap botol Cartier, jari-jarinya menyentuh kaca dingin itu, lalu menggesernya ke depan. “Mungkin aku harus tegas,” gumamnya, tetapi kata itu tenggelam sebelum sempat keluar.

Tak lama setelah pulangnya Anisa, pintu diketuk. Ketukan itu lirih, namun membuat dadanya bergetar. Anas terkejut melihat Ibu mertua berdiri di ambang, wajahnya letih, kerudungnya sedikit miring, matanya basah seperti menahan hujan. “Anisa menangis tadi,” katanya pelan, suaranya serak. “Katanya kamu tidak pernah menuntut apa-apa. Itu membuatnya bingung. Apa kamu tidak ingin menjemputnya pulang?”

Anas menarik napas panjang, aroma parfum bercampur dengan udara Ramadan yang penuh doa. Ia menunduk, merasakan karpet kasar di telapak tangannya, lalu menatap mata tua itu dengan hati bergetar. “Bu,” ucapnya pelan, “saya menikahi Anisa bukan untuk menjadikannya tamu. Rumah kecil ini bukan sekadar tempat, ia adalah janji yang harus ditepati. Kalau ibu merasa sepi, biar saya yang sering datang. Tapi jangan biarkan Anisa terus bolak-balik seperti orang asing.”

Ibu mertua menatapnya lama, lalu duduk di karpet. Serat karpet berderit halus di bawah tubuhnya, seolah ikut menahan beban yang jatuh. Matanya berkaca-kaca, kilau basah bergetar di sudut mata. “Aku hanya takut kehilangan,” ucapnya lirih, jemarinya meremas ujung kerudung. “Rumah besar itu kosong sejak bapakmu meninggal. Sepi sekali, Nak… aku ingin ada suara perempuan dan cucuku di rumah besar itu.”

Anas menunduk, telapak tangannya tetap menyentuh karpet kasar, menjaga unggah-ungguh meski kata-katanya tegas. “Kalau begitu, biarkan suara itu datang bersama saya,” katanya pelan. “Saya tidak punya mobil, tidak punya perusahaan. Tapi saya punya kesetiaan. Dan kesetiaan itu, Bu, adalah bagian dari puasa: menahan diri, sabar, ikhlas.”

Tangis kecil pecah di wajah tua ibu mertuanya itu. Ia meraih tangan Anas, menggenggamnya seperti menahan sesuatu yang rapuh. “Mungkin saya keliru. Rumah besar ternyata lebih sunyi daripada rumah kecilmu,” bisiknya, seolah menyerahkan hatinya pada keputusan yang lebih bijak. Sejak malam itu, keputusan Anas perlahan menemukan bentuknya. “Ya Allah hanya syukur dan mohon ampunku padaMu,”bisik hati anas mengiringi matanya yang basah.

Ketika Lebaran akhirnya ditetapkan pemerintah, kampung seperti terbuat dari wangi: ketupat yang direbus, opor yang mengepul, kue kering di toples, dan silaturahmi yang riuh. Suara bedug berpadu dengan riuh anak-anak berlarian di jalan sempit, lampu bambu berpendar menambah hangat malam kemenangan. Bau masakan dari dapur tetangga membuat udara kampung seperti pesta sederhana namun meriah. Takbir bergema bersahut-sahutan dengan kilatan kembang api yang sesekali memecah langit malam.

Setelah percakapan ibu dan suaminya, Anisa merasa itu adalah hadiah terindah dariNya. “Semoga ini adalah berbukaku, berbuka kami, setelah tiga tahun berpuasa.” Doa Anisa diam-diam menyeruak di hatinya, saat Anisa datang membawa kue, duduk lebih lama, di rumah suaminya. Ia menaruh botol parfum kecil di meja suaminya—wangi sederhana dari pasar, tutupnya sedikit penyok. “Biar rumah ini punya baumu juga,” katanya lirih, senyumnya lebih berani dari biasanya. Anas menaruh botol itu di depan, berdampingan dengan Lacoste. Cartier ia geser ke belakang, bukan karena malu, tetapi karena ingin ruang itu dipenuhi aroma yang sama dengan hari-hari mereka. Baginya, parfum kecil itu bukan sekadar wangi, melainkan janji: rumah kecil ini akhirnya berhak disebut rumah bersama.

Di luar, anak-anak berlarian sambil menggenggam balon warna-warni. Anas menyemprot sekali ke dadanya, lalu menutup mata. Wangi itu merambat pelan, bercampur dengan aroma ketupat dari dapur tetangga. Dalam hati ia berdoa: agar rumah kecil ini selalu menjadi tempat pulang, agar kesetiaan tetap bertahan meski dunia tidak memberi sorak. Ia tahu, cinta yang bekerja diam-diam seperti aroma tidak mengguncang, tidak menuntut, tetapi bertahan lebih lama daripada ketidakpastian.

Anisa menatap suaminya lama, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar menempel di hati Anas. “Mas,” ucapnya pelan, “aku ingin rumah ini punya suara kita. Bukan hanya wangi, bukan hanya doa, tapi juga tawa, percakapan, dan mungkin nanti tangisan anak-anak.” Anas menoleh, matanya berkilat oleh cahaya lampu bambu yang masuk dari jendela kecil. Ia tidak menjawab segera, hanya menggenggam tangan Anisa, merasakan getar halus yang menegaskan bahwa kesetiaan bukan sekadar diam, melainkan keberanian untuk meneguhkan rumah kecil mereka.

Di luar, suara sandal anak-anak beradu dengan tanah basah, riuhnya berpadu dengan dentuman kembang api yang sesekali memecah langit. Bau ketupat yang direbus semakin pekat, bercampur dengan aroma opor ayam dari dapur tetangga. Anas menghela napas panjang, merasakan dada yang hangat oleh wangi sederhana, dan kepala yang penuh oleh harapan. Ia tahu, rumah kecil ini mungkin tidak akan pernah punya lampu kristal atau meja panjang, tetapi ia punya sesuatu yang lebih berharga: kesetiaan yang tidak riuh, namun diam-diam menguatkan. “Di botol minyak wanginya, ada tangis dan tawa anak kecil seperti riuh anak-anak di luar,” ia tergagap saat istrinya memanggilnya.

Anisa tersenyum, kali ini lebih lega. Ia merapatkan duduknya di karpet kusam, seolah ingin menegaskan bahwa rumah kecil ini memang layak dihuni dengan sepenuh hati. “Mas,” katanya lagi, “aku tidak ingin lagi jadi tamu di rumah sendiri. Aku ingin rumah ini hidup, dengan segala sederhana yang kita punya. Dan tangis tawa anak – anak kita” Anas mengangguk, matanya basah, tetapi senyumnya tipis. Ia tahu, keputusan itu bukan hanya tentang ruang, melainkan tentang keberanian meneguhkan cinta di tengah keterbatasan.

Suara takbir semakin lantang, bersahut-sahutan. Lampu bambu berpendar, menambah hangat malam kemenangan. Anas menatap botol parfum kecil di meja, lalu menutup matanya sekali lagi. Dalam doa yang lirih, ia berjanji: rumah kecil ini tidak akan lagi sunyi, karena kesetiaan telah memilih untuk tinggal.

 

  

Biodata Singkat

Nama Pena: Yusufachmad Bilintention 

Asal: Nyamplungan, Surabaya, Indonesia 

Nomor WA: +62 82139915205

Email: yusufachmad2018@gmail.com

IG: @yusufachmad2018

IFTAR YANG SEMPURNA: Karya Asmaniza Din

  TAJUK CERPEN      : IFTAR YANG SEMPURNA OLEH                          : ASMANIZA DIN   Nafas Hani Karmila bagai tersekat di kerongko...

Carian popular