Takbir dan Wangi Kesetiaan
Takbir
merambat dari mushala kampung, pecah sebelum magrib. Pemerintah belum
menetapkan Idul Fitri, tetapi sebagian orang sudah mengangkat kemenangan mereka
sendiri. Anas duduk di karpet kusam; udara rumah kecilnya berbau harum yang ia
kenal lebih dari nama istrinya. Rumah tiga kali lima meter itu seperti botol
parfum: sempit, tertutup, menyimpan wangi yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun karpet tetap dingin, motor tuanya berderak seperti napas yang enggan
berhenti, dan suara mesin yang malu-malu menyimpan cerita seorang lelaki yang
menggantungkan hidup dari menjual wangi.
Di laci panjang, botol-botol
berjajar rapi: Cartier untuk hari-hari berat, Lacoste untuk kenangan manis, dan
parfum pasar yang murah namun akrab. Cartier menandai masa ketika ia harus
meneguhkan hati; Lacoste mengingatkan pada pertemuan pertama dengan Anisa di
pengajian Ramadan, senyum sederhana yang membuatnya berani mendekat meski hanya
dengan motor pinjaman. Parfum pasar selalu menjadi pengingat harian bahwa hidup
mesti terus berjalan. Anas sering menyentuh tutupnya seperti menyentuh
memori—sebuah ritual kecil sebelum membuka pintu untuk orang lain.
Cartier yang mahal hanya ia
simpan untuk hari-hari berat; parfum pasar sederhana ditaruh di depan sebagai
stok dagangan. Anas menyemprot sekali ke dadanya sebelum menerima pelanggan.
Bibirnya bergerak pelan, mata menutup sesaat—seolah itu doa kecil yang tak
perlu terdengar. Ketika pelanggan masuk, suaranya tetap datar; di balik itu,
ada ketenangan yang baru saja ia semprotkan ke tubuhnya.
Sejak tiga tahun menikah, Anas
dan Anisa tidak selalu tinggal serumah. Ibu mertua meminta Anisa menemani di
rumah besar keluarga. “Kasihan ibu sendirian,” begitu alasan yang berulang.
Rumah kecil ini dianggap terlalu sempit, tetapi bagi Anas justru di sinilah ia
menaruh harapan. Setiap semprot punya makna: satu mengingatkan awal perkenalan,
dua menyingkirkan sedih, tiga menahan gemetar. Kesunyian kembali menempel di
karpet kusam, motor tuanya masih setia menunggu di luar
Setiap semprot Cartier
mengingatkannya pada masa kenangan bersama Anisa—hari-hari awal ketika ia
berusaha meyakinkan diri bahwa cintanya cukup, meski datang dengan motor
pinjaman dan suara serak. Namun wangi itu juga membawa bayangan ayah mertua
yang dulu lebih ramah kepada Hanan, insinyur terpandang yang hadir ketika Anisa
masih diperebutkan, daripada kepadanya. Bayangan Hanan muncul bukan hanya lewat
bisik tetangga, tetapi juga lewat mobil gagah yang kadang berhenti di depan
rumah besar. Ketika mobil itu lewat, Anisa menunduk; bibirnya mengecil seperti
menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Meski begitu, Anisa memilih
Anas—pilihan yang menebalkan jarak antara anak dan ayah, istri dan ibu, rumah
besar dan rumah kecil.
Kenangan itu menempel seperti
wangi yang tak hilang, dan magrib berikutnya seolah menguji keteguhan. Anisa
datang membawa gulai kambing lagi, dari rumah besarnya. Aroma kuahnya memenuhi
ruang sempit, berpadu dengan wangi parfum pasar yang baru saja disemprot Anas.
Mereka duduk di karpet kusam, menunggu azan. Ketika suara takbir kecil dari
mushala kampung merambat, Anas meneguk air putih, Anisa menyuapinya sepotong
kurma. Tidak ada meja panjang, tidak ada lampu kristal, hanya panci sederhana
di atas karpet lama.
Namun di situlah Anisa berkata
dengan nada tegas, “Mas, apa tidak enak tinggal di rumah ibu?” Anas menatap
panci, lalu menjawab pelan, “Yang penting kamu menemani ibu. Kasihan kalau
sendirian.” Anisa menghela napas panjang, menatap karpet kusam. “Aku juga ingin
rumah ini hidup, Mas. Aku lelah jadi tamu di rumah sendiri.” Kalimat itu
menusuk lebih tajam daripada semprotan Cartier. Diam Anisa kali ini bukan
sekadar patuh; itu tuntutan yang mengiang di kepala Anas.
Beberapa hari kemudian, gema
tuntutan Anisa masih berputar di kepala Anas. Pikiran itu belum reda ketika
undangan berbuka dari Idrus datang, seolah memberi jeda yang tak terduga. Rumah
temannya besar dan terang; aroma masakan menyeruak dari dapur, menegaskan
kehangatan keluarga di dalamnya. Idrus menyambut dengan tawa lebar, lalu duduk
di ruang tamu yang penuh cahaya. Saat azan magrib berkumandang, keluarga Idrus
berkumpul di meja panjang: kurma, kolak, dan teh manis tersaji rapi. Istrinya
terlambat membawa teh, Idrus berdeham keras. “Saya tidak mau dilayani oleh
pembantu,” katanya lantang. Anas menatap tangan Idrus yang berkilau karena
minyak wangi mahal; bau itu menempel di udara seperti klaim. Di jalan pulang,
perutnya masih terasa hangat oleh kolak, tetapi dadanya justru dingin oleh
pertanyaan: apakah pengabdian berarti kalah, atau kesetiaan berarti buta?
Suatu malam menjelang Lebaran,
setelah Anisa pulang terburu-buru karena dipanggil ibunya, setelah dialog
dengan ibunya via hp. Anas duduk lama di karpet. Dari mushala kampung,masih
terdengar suara takbir merambat pelan, belum resmi ditetapkan pemerintah,
tetapi sudah mengisi udara dengan rasa kemenangan yang tertahan. Ia menatap
botol Cartier, jari-jarinya menyentuh kaca dingin itu, lalu menggesernya ke
depan. “Mungkin aku harus tegas,” gumamnya, tetapi kata itu tenggelam sebelum
sempat keluar.
Tak lama setelah pulangnya Anisa,
pintu diketuk. Ketukan itu lirih, namun membuat dadanya bergetar. Anas terkejut
melihat Ibu mertua berdiri di ambang, wajahnya letih, kerudungnya sedikit
miring, matanya basah seperti menahan hujan. “Anisa menangis tadi,” katanya
pelan, suaranya serak. “Katanya kamu tidak pernah menuntut apa-apa. Itu
membuatnya bingung. Apa kamu tidak ingin menjemputnya pulang?”
Anas menarik
napas panjang, aroma parfum bercampur dengan udara Ramadan yang penuh doa. Ia
menunduk, merasakan karpet kasar di telapak tangannya, lalu menatap mata tua
itu dengan hati bergetar. “Bu,” ucapnya pelan, “saya menikahi Anisa bukan untuk
menjadikannya tamu. Rumah kecil ini bukan sekadar tempat, ia adalah janji yang
harus ditepati. Kalau ibu merasa sepi, biar saya yang sering datang. Tapi
jangan biarkan Anisa terus bolak-balik seperti orang asing.”
Ibu mertua
menatapnya lama, lalu duduk di karpet. Serat karpet berderit halus di bawah
tubuhnya, seolah ikut menahan beban yang jatuh. Matanya berkaca-kaca, kilau
basah bergetar di sudut mata. “Aku hanya takut kehilangan,” ucapnya lirih,
jemarinya meremas ujung kerudung. “Rumah besar itu kosong sejak bapakmu
meninggal. Sepi sekali, Nak… aku ingin ada suara perempuan dan cucuku di rumah
besar itu.”
Anas menunduk,
telapak tangannya tetap menyentuh karpet kasar, menjaga unggah-ungguh meski
kata-katanya tegas. “Kalau begitu, biarkan suara itu datang bersama saya,”
katanya pelan. “Saya tidak punya mobil, tidak punya perusahaan. Tapi saya punya
kesetiaan. Dan kesetiaan itu, Bu, adalah bagian dari puasa: menahan diri,
sabar, ikhlas.”
Tangis kecil
pecah di wajah tua ibu mertuanya itu. Ia meraih tangan Anas, menggenggamnya
seperti menahan sesuatu yang rapuh. “Mungkin saya keliru. Rumah besar ternyata
lebih sunyi daripada rumah kecilmu,” bisiknya, seolah menyerahkan hatinya pada
keputusan yang lebih bijak. Sejak malam itu, keputusan Anas perlahan menemukan
bentuknya. “Ya Allah hanya syukur dan mohon ampunku padaMu,”bisik hati anas
mengiringi matanya yang basah.
Ketika Lebaran
akhirnya ditetapkan pemerintah, kampung seperti terbuat dari wangi: ketupat
yang direbus, opor yang mengepul, kue kering di toples, dan silaturahmi yang
riuh. Suara bedug berpadu dengan riuh anak-anak berlarian di jalan sempit,
lampu bambu berpendar menambah hangat malam kemenangan. Bau masakan dari dapur
tetangga membuat udara kampung seperti pesta sederhana namun meriah. Takbir
bergema bersahut-sahutan dengan kilatan kembang api yang sesekali memecah
langit malam.
Setelah
percakapan ibu dan suaminya, Anisa merasa itu adalah hadiah terindah dariNya.
“Semoga ini adalah berbukaku, berbuka kami, setelah tiga tahun berpuasa.” Doa
Anisa diam-diam menyeruak di hatinya, saat Anisa datang membawa kue, duduk
lebih lama, di rumah suaminya. Ia menaruh botol parfum kecil di meja
suaminya—wangi sederhana dari pasar, tutupnya sedikit penyok. “Biar rumah ini
punya baumu juga,” katanya lirih, senyumnya lebih berani dari biasanya. Anas
menaruh botol itu di depan, berdampingan dengan Lacoste. Cartier ia geser ke
belakang, bukan karena malu, tetapi karena ingin ruang itu dipenuhi aroma yang
sama dengan hari-hari mereka. Baginya, parfum kecil itu bukan sekadar wangi,
melainkan janji: rumah kecil ini akhirnya berhak disebut rumah bersama.
Di luar,
anak-anak berlarian sambil menggenggam balon warna-warni. Anas menyemprot
sekali ke dadanya, lalu menutup mata. Wangi itu merambat pelan, bercampur
dengan aroma ketupat dari dapur tetangga. Dalam hati ia berdoa: agar rumah
kecil ini selalu menjadi tempat pulang, agar kesetiaan tetap bertahan meski
dunia tidak memberi sorak. Ia tahu, cinta yang bekerja diam-diam seperti aroma
tidak mengguncang, tidak menuntut, tetapi bertahan lebih lama daripada
ketidakpastian.
Anisa menatap suaminya lama,
seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar menempel di hati Anas.
“Mas,” ucapnya pelan, “aku ingin rumah ini punya suara kita. Bukan hanya wangi,
bukan hanya doa, tapi juga tawa, percakapan, dan mungkin nanti tangisan
anak-anak.” Anas menoleh, matanya berkilat oleh cahaya lampu bambu yang masuk
dari jendela kecil. Ia tidak menjawab segera, hanya menggenggam tangan Anisa,
merasakan getar halus yang menegaskan bahwa kesetiaan bukan sekadar diam,
melainkan keberanian untuk meneguhkan rumah kecil mereka.
Di luar, suara sandal anak-anak
beradu dengan tanah basah, riuhnya berpadu dengan dentuman kembang api yang
sesekali memecah langit. Bau ketupat yang direbus semakin pekat, bercampur
dengan aroma opor ayam dari dapur tetangga. Anas menghela napas panjang,
merasakan dada yang hangat oleh wangi sederhana, dan kepala yang penuh oleh
harapan. Ia tahu, rumah kecil ini mungkin tidak akan pernah punya lampu kristal
atau meja panjang, tetapi ia punya sesuatu yang lebih berharga: kesetiaan yang
tidak riuh, namun diam-diam menguatkan. “Di botol minyak wanginya, ada tangis
dan tawa anak kecil seperti riuh anak-anak di luar,” ia tergagap saat istrinya
memanggilnya.
Anisa tersenyum, kali ini lebih
lega. Ia merapatkan duduknya di karpet kusam, seolah ingin menegaskan bahwa
rumah kecil ini memang layak dihuni dengan sepenuh hati. “Mas,” katanya lagi,
“aku tidak ingin lagi jadi tamu di rumah sendiri. Aku ingin rumah ini hidup,
dengan segala sederhana yang kita punya. Dan tangis tawa anak – anak kita” Anas
mengangguk, matanya basah, tetapi senyumnya tipis. Ia tahu, keputusan itu bukan
hanya tentang ruang, melainkan tentang keberanian meneguhkan cinta di tengah
keterbatasan.
Suara takbir semakin lantang,
bersahut-sahutan. Lampu bambu berpendar, menambah hangat malam kemenangan. Anas
menatap botol parfum kecil di meja, lalu menutup matanya sekali lagi. Dalam doa
yang lirih, ia berjanji: rumah kecil ini tidak akan lagi sunyi, karena
kesetiaan telah memilih untuk tinggal.
Nama
Pena: Yusufachmad Bilintention
Asal:
Nyamplungan, Surabaya, Indonesia
Nomor
WA: +62 82139915205
Email:
yusufachmad2018@gmail.com
IG:
@yusufachmad2018