Ahad, 28 Disember 2025

JALAN SUNYI MENUJU PAGI : DILLA, S.Pd

 Jalan Sunyi Menuju Pagi

Oleh Dilla, S.Pd.

Senja di Bukittinggi mulai turun perlahan, meredam debu dan menggantungkannya di antara bukit dan atap rumah gadang. Dari balik tirai kamar, Salma mengintip dunia luar melalui celah jendela. Lampu-lampu kota yang berpendar samar, suara langkah orang lewat, dan bayangan Jam Gadang yang tak lagi tegas, kaku menemani. Semuanya terlihat dekat, tetapi terasa jauh, seolah hidup hanya boleh ia amati tanpa benar-benar disentuh.

Tirai itu sudah lama menjadi batas. Bukan sekadar kain tipis, melainkan pelindung dari beberapa kali kegagalan yang masih ia simpan rapi di dadanya. Salma duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lutut. Di atas meja kecil, tergeletak surat penolakan yang tak pernah ia koyak. Kertas itu tipis, tetapi beratnya seperti batu. Ia pernah begitu yakin pada langkahnya, yakin bahwa mimpinya akan sampai. Namun satu kegagalan membuat semuanya runtuh, dan sejak itu ia memilih diam.

Di kepalanya, sebuah kalimat berulang pelan diputar, sebuah nasihat yang dulu terdengar sederhana, kini terasa terlalu jauh untuk digapai. Gagal bukan tanda untuk berhenti, katanya. Hanya jeda agar hati belajar lebih kuat sebelum melangkah lagi. Salma mengingatnya dengan jelas, tetapi malam ini ia belum sanggup percaya. Kata-kata itu hanya lewat, tak benar-benar ia indahkan, seperti angin yang menyentuh jendela tanpa pernah masuk ke dalam kamar.

“Kalau tidak siap jatuh, jangan terlalu tinggi bermimpi,” bisik suara yang melintas di memorinya saat disampaikan oleh seseorang dulu. Kalimat itu menempel di kepala, berulang-ulang, seperti peringatan yang terus mengintai setiap kali ia ingin melangkah. Salma tak ingat lagi siapa yang pertama kali mengucapkannya, tetapi ia ingat betul bagaimana kalimat itu membuatnya ragu seolah bermimpi adalah kesalahan yang harus dibayar mahal.

Ia anak bungsu dari keluarga sederhana di kota kecil Bukittinggi. Ayahnya, Rajo Alam, pedagang keliling yang menghabiskan hari-harinya bersama anak-anak sekolah dan tempat keramaian menjual telur gulung dengan sepeda motor yang dimodifikasi untuk berjualan. Dari ayahnya, Salma belajar bahwa tangan yang lelah tetap harus bekerja, meski hasilnya tidak selalu terlihat hari itu juga. Amaknya, Amak Ramlah, perempuan Minang yang lembut tutur katanya, tapi teguh pendirian. Perempuan yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan semangat dan kerja keras, bukan dengan keluhan. Beliau juga membantu suminya bekerja di rumah dengan berkedai kecil dan juga menjual bakso bakar.

Sebagai anak bungsu, Salma tumbuh dengan harapan yang pelan-pelan berubah menjadi tekad. Ia ingin mengubah nasib keluarga bukan dengan jalan pintas, tetapi dengan sekolah setinggi yang ia mampu. Ia menamatkan pendidikan di SMP favorit di kotanya lalu melanjutkan ke SMA Negeri juga, lalu merantau ke Padang untuk kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia percaya, ilmu dan kesabaran adalah dua bekal yang tidak akan pernah sia-sia.

Namun hidup tidak selalu sejalan dengan keyakinan. Setelah wisuda, Salma pulang membawa ijazah dan harapan yang besar. Ia mengikuti berbagai tes pekerjaan, mengirim lamaran ke banyak tempat, menunggu dengan sabar di antara hari-hari yang terasa panjang. Namun regulasi dan aturan kini tidak bisa menerima guru honorer menghambat langkah Salma. Panggilan tak kunjung datang. Dari berbagai perusahaan dan instansi lain pun datang penolakan diam-diam, tanpa suara, meninggalkan kecewa yang sulit ia ceritakan pada siapa pun.

Di situlah kesedihannya bermula. Bukan karena ia tak mau berusaha, melainkan karena usahanya seolah tak pernah cukup. Salma merasa telah melangkah sejauh mungkin, namun masih berdiri di tempat yang sama. Dan di balik tirai kamarnya, ia menyimpan semua itu lelah, kecewa, dan harapan yang mulai goyah sendirian.

Kata-kata penyemangat itu terlalu tinggi untuk digapai. Ia tahu ayah dan amaknya tidak pernah takut jatuh, tetapi ia entah sejak kapan lebih memilih berhenti sebelum mencoba. Kalimat tentang jatuh itu kembali bergaung, dan untuk sesaat, Salma membiarkannya tinggal di kepalanya, tanpa berani membantah, tanpa juga berani membenarkannya. Tetapi malam-malam belakangan ini, bertahan terasa lebih sulit daripada menyerah.

Ia pernah bermimpi menjadi guru di kampung sendiri. Mengajar anak-anak membaca dunia, bukan sekadar huruf. Ia sudah melangkah jauh belajar, berusaha, berharap. Hingga kegagalan demi kegagalan membuatnya merasa tak pantas melangkah lagi. Sejak itu, Salma memilih mengintai hidup dari balik tirai.

Pagi datang dengan udara dingin. Amak Ramlah mengetuk pintu kamar.
“Salma, ikut amak ke pasar, yuk!”

Salma ragu. Ia ingin menolak, tapi melihat wajah amak yang menunggu tanpa memaksa, ia akhirnya mengangguk.

Pasar bawah Bukittinggi selalu ramai, apalagi hari ini adalah Rabu, hari pasar di kota itu. Bau rempah, sayur basah, dan kopi hitam bercampur menjadi satu. Suara tawar-menawar saling bersahutan. Hidup berjalan apa adanya, tanpa peduli siapa yang sedang patah hati.

Di sudut pasar, ketika amak membeli bumbu di sebuah kios, seorang nenek duduk di bangku rendah. Ia menenun kain dengan alat sederhana. Tangannya keriput, tetapi gerakannya tenang. Benang demi benang disusun dengan sabar, meski sesekali kusut.

“Kainnyo rancak dan indah, Nek,” ujar Salma pelan.

Nenek itu tersenyum tanpa berhenti menenun.
“Rancak dan indah bukan karena cepat, Nak. Indah karena sabar. Kalau benang putus, disambung. Kalau kusut, diluruskan.” kata nenek tersebut.

Salma terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.

Di perjalanan pulang, Salma tidak lagi menunduk. Ia memikirkan betapa ia mudah sekali menyerah hanya karena satu persatu kegagalan, seolah hidup hanya memberi satu kesempatan. Padahal dia tahu tidak penting seberapa kali kita jatuh, namun berapa kali kita bisa bangkit kembali. Dia baru menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya terus melangkah meski dengan luka yang tidak selalu terlihat.

Malamnya, Salma kembali ke kamar. Ia berdiri di depan jendela, memandangi tirai yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Tangannya terulur, menarik kain itu ke samping. Udara dingin masuk, membawa suara azan dari surau kecil di ujung jalan.

Untuk pertama kalinya, ia tak ingin bersembunyi.

Salma duduk di meja belajar. Ia membuka buku catatan lama halaman-halamannya kosong sejak lama. Jemarinya gemetar saat menulis kata pertama. Tentang takut. Tentang gagal. Tentang mimpi yang hampir ia lepaskan. Setiap kalimat terasa seperti menyambung benang yang sempat putus.

Hari-hari berikutnya, Salma mulai keluar kamar lebih sering. Ia membantu amak di rumah, berbincang dengan ayahnya, dan kembali menulis di malam hari. Tidak semua hari mudah. Ada saat-saat ragu kembali datang, tetapi kini ia tahu: ragu bukan tanda berhenti, melainkan tanda untuk melangkah lebih pelan.

Suatu sore, Amak Ramlah duduk di sampingnya.
“Salma, hidup urang awak itu ibarat menenun,” katanya lembut. “Tidak semua pola langsung jadi. Tapi kalau kita tinggalkan, kainnya tidak akan pernah selesai.”

Salma mengangguk pelan.  Matanya hangat. Beberapa bulan kemudian, Salma kembali mencoba. Kali ini bukan dengan keyakinan yang meledak-ledak, melainkan dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi menunggu hidup sempurna untuk melangkah. Kalimat itu sederhana, tidak menjanjikan kemudahan, hanya mengingatkan bahwa berhenti adalah satu-satunya cara untuk benar-benar gagal.

Salma mulai menulis lagi. Awalnya hanya di buku catatan lama, lalu berani mengetik dan mengirimkan tulisannya ke berbagai media. Ia menunggu dengan sabar, seperti menunggu panggilan kerja dulu. Prinsipnya, tulis, kirim, lupakan dan tunggu kejutan, sampai beberapa kejutan itu singgah di email dan nomor Wa. Tulisannya terbit, membawa kebahagiaan kecil yang lama ia rindukan. Namun, tidak sedikit pula yang kembali dengan penolakan.

Namun itu tidak membuatnya lemah dan mundur, justru menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki tulisannya dan mengirimkan ke berbagai media dan mengikuti kompetisi. Ia belajar memperbaiki diksi, membaca ulang tulisannya dengan lebih jujur, dan terus mengasah kemampuan. Dari satu honor kecil, lalu honor berikutnya, Salma mulai percaya bahwa kata-kata bisa menjadi jalan hidup. Tidak cepat, tidak mudah, tapi nyata ia rasakan manisnya.

Perlahan, tulisannya dikenal. Ia memenangkan beberapa kompetisi menulis tidak selalu juara utama, tapi cukup untuk menguatkan langkah. Uang dari honor dan hadiah lomba tidak ia habiskan. Salma mencicil buku-buku anak, mengumpulkan bacaan yang dulu hanya bisa ia impikan. Buku-buku itu ia susun rapi di sudut rumah, dekat kedai kecil amak yang kini mulai lebih ramai.

Anak-anak di sekitar rumah sering datang. Awalnya hanya membaca, lalu duduk mendengarkan Salma bercerita. Dari sanalah taman baca kecil itu tumbuh sederhana, tanpa nama besar, tetapi hidup. Salma mengajari anak-anak membaca dan menulis, membantu mereka menemukan keberanian untuk bermimpi. Ia melihat dirinya sendiri di mata-mata kecil itu: penuh harap, tetapi sering ragu.

Tidak berhenti di situ, Salma juga mengajak remaja seusianya dan ibu-ibu di lingkungan rumah untuk belajar bersama. Ia memberi pelatihan sederhana mulai latihan menulis, menenun, dan keterampilan harian yang bisa dikerjakan di sela waktu. Amak pun ikut mengajarkan menenun, sementara kedai bakso bakar dan jajanan kecil mulai makin ramai. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk belajar dan berbagi cerita. Rumah itu perlahan berubah. Bukan menjadi rumah besar, tetapi rumah yang hidup.

Nama Salma mulai dikenal. Ia diundang untuk berbagi pengalaman menulis, diminta menjadi narasumber sampai ke sekolah dan komunitas literasi di kotanya. Hingga suatu hari, sebuah panggilan datang dari almamaternya, sekolah tempat ia dulu belajar menulis memintanya kembali. Kali ini bukan sebagai murid, melainkan sebagai guru.

Salma terdiam lama saat membaca pesan itu. Ingatannya kembali pada kamar kecil, tirai yang dulu selalu tertutup, dan surat-surat penolakan yang pernah ia simpan rapat-rapat. Ia kini tersenyum kecil. Akhirnya, Salma benar-benar menjadi guru. Mengajar di sekolah, di lingkungan, dan dalam hidupnya sendiri. Ia tahu, semua itu bukan hasil langkah cepat, melainkan buah dari kesabaran dan keyakinan untuk terus berjalan.

Di Bukittinggi, di antara kabut yang masih sering turun dan pagi yang selalu datang perlahan, Salma memahami satu hal: sukses bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap melangkah meski jalan terasa sunyi. Dan tirai itu yang dulu menjadi batas kini hanya menjadi jendela. Tempat ia melihat kembali perjalanan panjangnya, dengan syukur yang tenang.

Salma berdiri lama di dekat jendela. Ia mengingat hari-hari ketika ia memilih diam, mengintai hidup dari balik tirai, takut melangkah karena khawatir jatuh lagi. Ia juga mengingat bagaimana kata-kata sederhana, kerja keras orang tuanya, dan keberanian kecil untuk mencoba menulis telah membawanya sejauh ini. Tidak cepat, tidak mulus, tapi cukup untuk mengubah caranya memandang hidup.

Ia kini tahu, hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Akan selalu ada kegagalan, penolakan, dan rasa lelah yang datang tanpa aba-aba. Namun selama seseorang mau bertahan, mau belajar, dan mau percaya pada proses, selalu ada ruang untuk bangkit dan menata ulang langkah.

Salma tersenyum kecil. Ia tak lagi menuntut hidup untuk sempurna. Ia hanya ingin jujur pada usahanya sendiri. Karena ia telah belajar satu hal yang tak lagi ingin ia lupakan: apa yang terlihat rapuh di permukaan sering kali justru menjadi alas paling kuat untuk berdiri. Dan dengan kesabaran, keberanian, serta cinta pada proses, jalan yang sunyi pun akan tetap mengantarnya menuju pagi.

 


Biodata Penulis

Dilla, S.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang aktif menulis cerpen, puisi, dan esai, di berbagai media massa cetak dan online. Menulis baginya adalah cara merawat makna dan menumbuhkan harapan. Boleh menghubungi penulis melalui media sosial ig @dillaspd fb Espede Dilla  dan nomor wa: 081363320742 juga email: dillaspd6@gmail.com 

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular