Memaparkan catatan dengan label KEGIATAN BULANAN. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label KEGIATAN BULANAN. Papar semua catatan

Khamis, 16 April 2026

TASBIH KAYU DI UJUNG JEMARI " Karya Eduar Daud

TASBIH KAYU DI UJUNG JEMARI

Penulis: Eduar Daud

    Di kota yang tak pernah tidur ini, suara azan Maghrib seringkali hanyalah frekuensi yang lewat, kalah bersaing dengan raung mesin knalpot di kemacetan jalan protokol dan denting notifikasi ponsel yang menuntut perhatian tanpa henti. Bagi Aris, seorang arsitek muda yang namanya mulai naik daun di firma-firma besar, langit Jakarta di bulan Ramadhan tak lebih dari sekadar perubahan warna dari biru pucat menjadi abu-abu polusi.

    Baginya, Ramadhan tahun ini terasa seperti beban administratif belaka. Ibadah tak lagi menjadi oase, melainkan daftar centang yang melelahkan. Lapar yang tertunda adalah gangguan pada fokus desainnya, haus yang tertahan adalah penghambat presentasi klien, dan kantuk yang menggantung di pelupuk mata saat rapat pagi adalah musuh yang harus ia perangi dengan kafein, yang ironisnya hanya boleh ia teguk saat fajar atau setelah senja.

    Di balik dinding kaca kantornya yang dingin, Aris menatap kemacetan di bawah sana. Ia merasa jiwanya kering kerontang, retak-retak seperti tanah yang lupa rasa hujan, meski angka di rekening banknya terus membengkak. Aris merasa sedang berlari kencang di atas treadmill kehidupan; kakinya bergerak gila-gilaan, napasnya tersengal, namun secara spiritual, ia tetap terpaku di titik nol. Tak ada kemajuan, tak ada kedamaian. Ia membangun gedung-gedung pencakar langit yang megah untuk orang lain, namun gagal membangun satu pun ruang tenang di dalam dadanya sendiri.

    Puncaknya terjadi pada suatu sore yang menyesakkan, ketika sebuah cetak biru rancangannya robek karena tangannya gemetar menahan lelah dan hampa. Tiba-tiba, aroma kayu jati dan wangi tanah basah di desa terlintas begitu saja di ingatannya. Tanpa rencana panjang, seminggu sebelum Lebaran, ia mengepak koper kecilnya. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari hutan beton menuju pelukan desa yang tenang, menemui satu-satunya "arsitek jiwa" yang ia kenal: kakeknya, Kyai Usman.

****

    "Kau terlihat lelah, Aris. Bukan lelah fisik yang bisa sembuh dengan tidur semalam, tapi lelah batin yang sudah menumpuk berbulan-bulan," ucap Kyai Usman tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. Beliau duduk bersila di teras rumah kayu yang berderit halus setiap kali ada angin lewat, membawa serta harum melati yang mekar di sudut halaman.

    Di tangan rentanya yang penuh urat menonjol, sebilah bambu hijau sedang diserut hingga menjadi helaian tipis yang halus. Kyai Usman bukan sekadar pembuat keranjang; beliau adalah maestro anyaman yang dikenal mampu mengubah sebatang bambu kaku menjadi karya seni yang bernapas. Di mata anak-anak kampung yang mengaji padanya, beliau adalah penyambung lidah antara syariat dan hakikat.

    "Dunia ini berjalan terlalu cepat, Kek. Persaingan di kota itu seperti arus deras; kalau aku berhenti mendayung sejenak saja untuk menarik napas, aku merasa tertinggal jauh di belakang," jawab Aris lirih. Ia menyandarkan kepalanya di tiang jati teras yang kokoh, membiarkan matanya terpejam menikmati belaian semilir angin desa yang tidak pernah ia temukan di balik jendela kaca kantornya.

    Kyai Usman berhenti menyerut sejenak. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ketenangan samudera. Matanya yang mulai kabur oleh usia, namun tetap memancarkan cahaya teduh, menatap bilah-bilah bambu yang berserakan di depannya.

    "Ramadhan itu sejatinya adalah seni menganyam, Aris," ucap beliau dengan suara yang berat namun menenangkan. 

    "Hidupmu di kota mungkin seperti mesin yang menderu, tapi di sini, hidup adalah jemari yang bergerak di antara sela-sela bambu. Jika kau terburu-buru menarik bilahnya hanya karena ingin cepat melihat hasilnya, jemarimu akan luka teriris sembilu yang tajam. Polanya pun akan berantakan, goyah, dan tak punya jiwa."

    Kyai Usman mengambil satu helai bambu tipis, lalu menyelipkannya di antara sela-sela yang sudah terbentuk. 

    "Menganyam kisah kerohanian itu butuh ritme yang pas. Ada saatnya kau harus menarik, ada saatnya kau harus menahan. Butuh jeda antara satu helai dengan helai lainnya. Dan ketahuilah, Nak, jeda itu adalah zikirmu. Tanpa zikir, anyaman hidupmu hanya akan menjadi tumpukan benda mati tanpa berkah."

    Malam pun jatuh memeluk desa. Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang pelan ditiup angin malam, Aris duduk terdiam memperhatikan kakeknya bekerja. Pemandangan itu seolah berubah menjadi sebuah ritual suci. Setiap helai bambu yang diselipkan, Kyai Usman membisikkan zikir yang nyaris tak terdengar namun terasa getarannya.

    Subhanallah... saat bilah itu masuk. Alhamdulillah... saat anyaman itu mengunci. Allahu Akbar... saat pola itu mulai terlihat nyata.

    Ritme gerakan tangan kakeknya selaras sempurna dengan gerak bibir dan detak jantungnya. Aris menyadari sesuatu yang menohok telak ke dalam relung jiwanya: kakeknya tidak sedang sekadar membuat keranjang untuk wadah nasi atau buah. Beliau sedang menyulam hikmah di setiap rongga bambu tersebut. Beliau sedang mengikat makna ibadah, kesabaran, dan kepasrahan ke dalam wujud fisik, menjadikannya sebuah pengingat bahwa sekecil apa pun pekerjaan manusia, jika dibalut dengan asma Allah, ia akan menjadi jembatan menuju langit.

****

    Memasuki malam ke-23, suasana desa seolah tenggelam dalam keheningan yang purba. Tak ada lagi suara jangkrik, seakan alam semesta pun sedang menahan napas menanti turunnya para malaikat. Aris terbangun bukan karena alarm ponsel yang memekakkan telinga, melainkan karena suara gemercik air wudu yang jatuh satu-satu di samping rumah, sebuah simfoni kecil yang membelah sunyi.

    Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat siluet kakeknya. Kyai Usman sudah berdiri tegak di atas sajadah usang yang bulunya mulai menipis dimakan waktu. Di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar kekuningan, sosok kakeknya tampak begitu kokoh, lebih kokoh dari beton-beton pencakar langit yang pernah Aris rancang.

    Aris, yang selama di kota hanya menyentuh sajadah di sela-sela waktu sempit atau sekadar menggugurkan kewajiban, tiba-tiba merasakan tarikan magnetis di dadanya. Ada rasa rindu yang asing, namun terasa sangat akrab. Dengan langkah ragu, ia berwudu, membiarkan air dingin desa membasuh debu-debu kepalsuan dari wajahnya, lalu melangkah pelan untuk bergabung di belakang kakeknya.

    Dalam sujud yang luar biasa panjang dan sunyi itu, Aris merasa dunianya runtuh. Di atas lantai kayu yang dingin, egonya luruh satu per satu seperti butiran pasir. Selama ini ia menyangka bahwa kesuksesan adalah tentang seberapa tinggi gedung yang ia bangun, seberapa rumit struktur baja yang ia hitung, atau seberapa megah fasad yang ia pamerkan di portofolio. Namun di sini, di hadapan Sang Arsitek Semesta, ia tersadar dengan perih: ia telah lupa membangun fondasi dan struktur di dalam hatinya sendiri. Ia membangun istana untuk orang lain, namun membiarkan batinnya menjadi gubuk yang reyot dan gelap

    Setelah salam terakhir bergema, Kyai Usman tidak langsung berzikir dengan suara keras. Beliau perlahan menoleh, menatap cucunya dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara kasih sayang yang dalam dan ketegasan seorang guru.

    "Aris, tahukah kau mengapa bulan ini disebut bulan penuh berkah?" suara Kyai Usman rendah, namun bergetar memenuhi ruangan. 

    "Bukan sekadar karena pahala yang dilipatgandakan. Tapi karena di bulan ini, Allah memberi kita kesempatan untuk 'membongkar' kembali anyaman hidup kita yang salah. Anyaman yang rapuh karena benangnya terbuat dari ambisi duniawi yang melapuk. Allah ingin kita menyusunnya kembali dengan benang-benang ketaatan yang lebih kuat, yang warnanya tidak akan pudar oleh waktu."

    Aris merenung, air mata kini benar-benar mengambang di sudut matanya, lalu jatuh membasahi sajadahnya. Ia teringat kehidupannya di kota, sebuah anyaman yang semrawut dan kusut. Ia seringkali mencampuradukkan ambisi dengan ketamakan, serta menjalankan kewajiban dengan rasa keterpaksaan yang menyesakkan.

    "Bagaimana cara mulainya lagi, Kek? Anyamanku sudah terlalu berantakan. Benang-benangnya sudah saling melilit dan sulit diurai," bisik Aris di antara isak yang tertahan.

    Kyai Usman menggeser duduknya, lalu memegang pundak Aris dengan tangan yang hangat.

    “Mulailah dengan menyulam syukur, Aris. Ramadhan bukan soal apa yang hilang dari perutmu, soal lapar dan haus yang fana. Tapi soal apa yang masuk dan menetap di dalam jiwamu. Setiap detik kau menahan diri dari amarah, itu adalah satu sulaman hikmah. Setiap butir sedekah yang kau beri tanpa ingin dilihat, itu adalah penguat anyamanmu agar tidak rapuh saat kelak badai ujian menghantam. Kau adalah seorang perancang, bukan? Maka sekarang, kau harus menjadi arsitek bagi jiwamu sendiri. Rancanglah struktur yang puncaknya menyentuh langit, namun akarnya tertanam kuat di bumi syukur.”

****

    Esok harinya, ujian itu datang. Seorang klien lama dari kota menelepon Aris dengan nada tinggi, memaki-maki karena perubahan kecil pada desain bangunan yang dianggapnya memperlambat proyek. Biasanya, Aris akan membalas dengan argumen yang tak kalah tajam dan sinis. Namun, di tengah terik matahari Ramadhan desa dan aroma tanah basah, Aris teringat tangan kakeknya yang tenang, zikir yang tak putus saat menghadapi bambu yang keras.

    Ia menarik napas dalam, menahan gejolak amarah di dadanya. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Mari kita cari solusinya sekarang, tanpa harus emosi. Saya akan revisi bagian itu segera."

    Keajaiban kecil terjadi. Di seberang telepon, klien tersebut terdiam lama, lalu nada bicaranya melunak secara drastis. Aris menyadari bahwa ketika ia mampu mengendalikan "anyaman" emosinya sendiri, lingkungan di sekitarnya pun ikut melunak. Inilah kerohanian yang nyata, bukan sekadar khusyuk di atas sajadah, tapi memancar dalam interaksi manusiawi.

****

    Hari-hari terakhir Ramadhan dihabiskan Aris dengan membantu kakeknya di bengkel kerja. Ia belajar banyak hal praktis yang ternyata filosofis. Ia belajar bahwa untuk membuat keranjang yang indah dan kuat, bambu harus diserut tipis-tipis, seperti ego manusia yang harus dikikis habis. Bambu harus ditekuk perlahan tanpa patah, seperti kesabaran yang harus lentur menghadapi cobaan.

    Pada malam takbiran, saat gema takbir bersahut-sahutan dari masjid ke masjid, Kyai Usman memberikan sebuah bungkusan kain beludru hijau tua kepada Aris.

    "Gunakan ini, Aris. Ini adalah anyaman terindah yang pernah Kakek buat. Bukan untuk sekadar dihitung angkanya saat berzikir, tapi untuk mengikat hatimu pada Yang Maha Kekal. Ingatlah, Ramadhan akan pergi besok pagi, tapi hikmah yang kau sulam di desa ini jangan sampai lepas kembali saat kau kembali ke kota."

    Aris menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah tasbih kayu yang sangat indah. Setiap butirnya halus, dibuat dari kayu gaharu yang wangi, dan dianyam dengan tali sutra kecil berwarna emas di bagian pangkalnya. Tasbih itu terasa hangat di genggamannya. Aris menyadari bahwa ia pulang ke kota nanti bukan sebagai Aris yang lama. Ia membawa "keranjang spiritual" yang baru. Sebuah anyaman jiwa yang dikerjakan dengan penuh kesadaran, disulam dengan kesabaran, dan diwarnai dengan keikhlasan.

    Aris memeluk kakeknya erat. "Terima kasih, Kek. Terima kasih telah mengajarkanku menganyam kembali hidupku."

****

    Pagi Idul Fitri tiba dengan gema takbir yang puncaknya membawa kedamaian. Aris bangun dengan semangat baru. Ia bersiap mengenakan baju koko putih terbaiknya. Ia ingin memberikan kejutan pada kakeknya dengan mengenakan tasbih baru itu di lehernya saat berangkat salat Id.

    Aris mengetuk pintu kamar Kyai Usman. Tidak ada jawaban. Perasaannya mulai tidak enak. Pintu kamar tidak dikunci. Aris mendorongnya pelan.

    Kyai Usman sedang duduk di atas sajadahnya, menghadap kiblat. Pakaian salatnya sudah rapi, serban putih melingkar di bahunya. Posisinya seperti sedang bertafakur setelah salat Subuh.

    "Kek, ayo kita berangkat. Nanti telat," sapa Aris lembut sambil mendekat.

    Kyai Usman diam tak bergeming. Aris menyentuh bahu kakeknya. Dingin. Kyai Usman telah berpulang. Ia wafat dalam keadaan tenang, bersujud di atas sajadah di pagi kemenangan. Wajahnya tersenyum lurus menatap kiblat, memancarkan kedamaian yang sempurna. 

    Di sela jari-jari Kyai Usman yang sudah kaku, Aris melihat sesuatu yang membuatnya tersentak hebat, hingga jantungnya serasa berhenti berdetak. 

    Kakeknya tidak memegang tasbih kayu gaharu wangi seperti yang diberikan padanya semalam.

    Di tangan Kyai Usman, tergenggam erat tasbih buatan Aris sendiri, tasbih yang dibuat Aris dari sisa-sisa bilah bambu yang gagal ia anyam pada hari pertama belajar, tasbih yang bentuknya mencong-mencong, talinya kasar, dan penuh cacat. Tasbih yang menurut Aris adalah produk sampah dan memalukan.

    Aris jatuh terduduk di samping jasad kakeknya, tangisnya pecah tanpa suara. Ia baru menyadari hikmah terakhir yang disulam kakeknya: Allah tidak melihat kesempurnaan bentuk lahiriah dari amal kita di dunia (seperti tasbih wangi yang mahal), melainkan Allah melihat kesungguhan hati dan proses perjuangan kita dalam menganyam ketaatan, meskipun hasilnya masih penuh cacat dan ketidaksempurnaan.

    Tasbih bambu kasar itu dibawa Aris kembali ke Jakarta, bertransformasi menjadi "kompas moral" yang ajaib. Setiap kali ambisi atau amarah mulai meracuni pikirannya di kantor, tasbih itu mengeluarkan aroma tanah basah dan hutan gambut yang kuat, sebuah alarm spiritual yang seketika mengubah suasana ruang kerjanya yang dingin menjadi seteduh teras rumah kakeknya.

    Kini, di tengah kebisingan kota, Aris tak lagi sekadar membangun menara. Baginya, setiap garis desain adalah zikir, dan setiap ruang yang ia rancang adalah tempat bagi jiwa-jiwa lelah untuk pulang ke rumah syukur.


TAMAT



BIONARASI:

Penulis dilahirkan 18 Agustus 1963. Ayah dan Ibu memberi nama Eduar Daud namun sejak kecil dipanggil Anang Way. Mulai aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA), Komunitas Galeri Sastra (KGS) dan anggota SIP Publishing. Saat ini masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Beberapa karya sudah diterbitkan antara lain: beberepa buku Antologi Puisi, Antologi Cerpen dan Novel.


Selasa, 14 April 2026

CATATAN HARIAN DI BULAN RAMADAN: Karya Agustina Rahman

Catatan Harian di Bulan Ramadan

Agustina Rahman


Namaku Rafi. Dua belas tahun. Kelas enam SD di sebuah desa yang tersembunyi di balik lipatan bukit dan kebun-kebun hijau. Desa kami kecil, namanya Lempangan, seperti titik koma dalam kalimat panjang bernama Indonesia—tidak terlalu mencolok, tetapi memberi jeda yang berarti. 

Ramadan selalu datang seperti embun yang jatuh tanpa suara, tetapi meninggalkan jejak basah di hati. Hari-hariku di bulan suci ini terasa lebih panjang, sekaligus lebih cepat. Setiap subuh, ayam-ayam berkokok sebelum azan berkumandang. Udara dingin menggigit kulit, tetapi Ibu selalu berkata, “Dingin begini penuh berkah.” Aku memercayainya seperti memercayai matahari yang pasti terbit.

Sepulang sekolah, aku dan sahabat-sahabatku tak pernah langsung beristirahat. Tas kami letakkan begitu saja di rumah, lalu bergegas ke kebun mencari kayu bakar. Ranting-ranting kering kami kumpulkan satu per satu, seolah sedang memungut sisa-sisa hari yang jatuh di tanah. Tanganku sering tergores duri kecil. Kadang perih, tapi anehnya aku justru merasa bangga. Kayu-kayu itu bukan sekadar bahan bakar; ia seperti tanda bahwa aku bisa membantu Ibu menyalakan api untuk sahur dan berbuka.

Namun hari itu, langkahku sempat tertahan di depan pintu.

Langit menggantung kelabu. Awan-awan gelap bergerombol seperti membawa kabar yang tak baik. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya, membuat dedaunan di halaman berdesir gelisah.

“Rafi, jangan ke kebun dulu,” suara Ibu memanggil dari dapur. “Lihat langitnya. Nanti hujan.”

Aku menoleh. Ibu berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Tapi, Bu… kayu di dapur hampir habis,” jawabku pelan.

Ibu menggeleng. “Tidak apa-apa. Kita bisa pakai yang ada dulu. Kamu istirahat saja.”

Aku terdiam. Ada dua suara dalam diriku—yang satu ingin menurut, yang lain merasa bertanggung jawab. Aku tahu Ibu lelah. Aku ingin membantu, meski hanya dengan seikat kayu.

Di luar, suara langkah kaki Damar dan Seno terdengar memanggil.

“Raf! Cepat! Kita ke kebun!” teriak mereka.

Aku kembali menatap Ibu. Sejenak, kami saling diam.

“Jangan lama-lama,” kata Ibu akhirnya, suaranya melunak, meski masih menyimpan cemas.

Aku mengangguk cepat, lalu berlari keluar, mengejar sahabat-sahabatku. Namun, di sepanjang jalan menuju kebun, langkahku terasa berbeda. Bukan hanya karena terburu-buru, tetapi karena ada rasa bersalah yang ikut berjalan bersamaku.

Sesampainya di kebun, kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Namun angin semakin kencang, dan langit semakin gelap. Tanganku tetap bekerja, tetapi pikiranku sesekali kembali pada wajah Ibu di ambang pintu—penuh kekhawatiran yang tadi kuabaikan.

“Raf, jangan ambil yang belum kering!” teriak Damar dari balik semak.

Aku mengangguk. Kami tertawa di antara pohon-pohon yang berdiri seperti penjaga setia desa. Di kebun itu, suara kami memantul dan menyatu dengan desir angin.

Di tengah lelah dan peluh yang menetes, waktu sering kali membawa kami pada jeda yang menenangkan. Ketika azan terdengar sayup dari kejauhan, kami saling berpandangan, lalu berhenti dari kesibukan. Di antara pohon-pohon yang berdiri teduh, kami membentangkan apa saja yang bisa dijadikan alas—kadang jaket, kadang daun pisang yang lebar. Di situlah kami melaksanakan salat, sederhana, tanpa banyak bicara, namun terasa begitu dekat dan khusyuk.

Angin kebun berhembus pelan, seakan ikut menjadi saksi sujud-sujud kecil kami. Tanah yang kami pijak terasa lebih hangat, dan langit di atas kepala tampak lebih luas dari biasanya. Dalam sunyi yang hanya diisi oleh bisikan doa, aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan—seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kami untuk kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.

Hari-hari berikutnya, kami bergantian membantu keluarga masing-masing mengangkat air dari sumur tua. Sumur itu seperti mulut bumi yang sabar. Airnya jernih dan dingin, seolah menyimpan kesejukan dari dasar yang paling dalam.

Aku menarik timba perlahan. Tali kasar menggesek telapak tanganku. Ember berisi air terangkat setapak demi setapak, seperti doa yang perlahan naik ke langit. Kadang aku terengah, tetapi ketika melihat Ibu tersenyum menerima air itu, lelahku luruh berganti dengan rasa bahagia.

Beberapa kali dalam sepekan, kami mencuci pakaian di sungai. Airnya mengalir bening, memantulkan langit biru yang luas. Kami memukul-mukul pakaian di atas batu besar, mengeluarkan suara plak-plak yang mengiringi Ramadan. Setelahnya, kami menyusuri tepi sungai mencari sayur pakis. Daun-daunnya menggulung seolah menyimpan rahasia kecil yang belum dibuka. Kami memetiknya hati-hati, seakan takut melukai alam yang telah memberi nikmat.

Namun yang paling kusukai adalah sore hari setelah salat Asar. Masjid kecil di desa kami menjadi tempat yang paling hidup saat itu. Cat temboknya mulai pudar, lantainya dingin, dan jendelanya terbuka lebar agar angin bebas keluar masuk. Setiap selesai salat Asar, kami tak langsung pulang. Kami duduk bersila, membuka mushaf Al-Qur’an yang sampulnya sudah mulai lusuh dimakan usia.

Suara kami membaca ayat-ayat suci terdengar belum sempurna. Ada yang terbata, ada yang salah panjang pendeknya. Tetapi di antara ketidaksempurnaan itu, ada kesungguhan yang tulus. Pak Imam membetulkan bacaan kami satu per satu. “Pelan-pelan, jangan terburu-buru. Al-Qur’an itu bukan untuk dikejar, tapi untuk dipeluk,” katanya lembut.

Aku selalu merinding saat membaca ayat demi ayat. Huruf-huruf hijaiyah itu seperti cahaya kecil yang masuk ke dadaku. Di sela lantunan suara kami, aku merasa Ramadan benar-benar hidup—bukan hanya di perut yang menahan lapar, tetapi di hati yang sedang belajar terang.

Menjelang magrib, aku dan teman-teman membantu mengantar takjil ke masjid. Di desa kami, kurma adalah barang langka. Jadi, takjil kami sederhana: kue cucur yang manis, onde-onde berbalut wijen, pisang goreng hangat, dan kolak singkong yang dimasak di rumah-rumah warga.

Aroma gula merah dan santan memenuhi teras masjid. Kami menyusunnya rapi di atas meja panjang. Sambil menunggu azan, aku memandangi langit yang berubah warna menjadi jingga. Senja di desaku seperti lukisan Tuhan yang dibuat perlahan.

Ketika azan magrib berkumandang, suaranya menggema melintasi kebun dan sawah. Kami berbuka dengan kue tradisional itu. Manisnya sederhana, tetapi terasa sampai ke relung jiwa. Air putih yang kami minum ibarat sungai kecil yang menghidupkan kembali tubuh yang seharian kering.

Setelah makan bersama, aku dan teman-teman tak langsung pulang. Kami mencuci piring dan gelas di belakang masjid. Tangan kami basah oleh air sabun, tapi hati kami terasa hangat. 

“Kalau kita rajin begini, Ramadan kita tambah indah ya?” bisik Seno.

Aku tersenyum. “Ramadan jadi milik kita.”

Malam hari, kami kembali ke masjid untuk tarawih. Saf-saf terisi penuh oleh warga desa. Anak-anak kecil, orang tua, semuanya berdiri dalam barisan yang rapi. Suara imam melantunkan ayat-ayat panjang dengan irama khas pedesaan. Kadang kakiku pegal, tetapi aku menahan. Aku ingin Ramadan mencatat namaku sebagai anak yang bertahan.

Sepulang tarawih, aku membuka buku harianku. Lalu kutulis dengan sepenuh hati.

Hari ini aku mengaji setelah Asar. Masjid kecil itu terasa lebih teduh dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kayu membentuk garis-garis keemasan di lantai, seolah sedang menghamparkan sajadah cahaya untuk kami. Aku duduk bersila, mushaf terbuka di pangkuanku. Huruf-huruf hijaiyah itu tampak sederhana, tetapi setiap lekuknya seperti menyimpan samudra makna.

Ketika sampai pada Surah Ar-Rahman, suaraku mendadak pelan. Ayat demi ayat mengalir seperti sungai yang jernih, namun menghantam dadaku seperti ombak. “Fabiayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban…” Kalimat itu berulang-ulang, seperti pertanyaan lembut yang tak henti mengetuk pintu hatiku. Nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau dustakan?

Aku terdiam sesaat. Angin sore menyusup dari celah jendela, menyentuh wajahku yang mulai basah oleh air mata. Aku tak tahu mengapa ingin menangis. Rasanya seperti ada yang berbicara langsung ke dalam diriku—bukan melalui suara keras, tetapi melalui getaran yang pelan dan dalam. Seolah Tuhan sedang mengingatkanku tentang udara yang kuhirup gratis setiap hari, tentang ibu yang selalu menungguku pulang, tentang sahabat-sahabat yang tertawa bersamaku di kebun.

Aku membaca lagi ayat itu, kali ini dengan suara yang lebih bergetar. Dadaku terasa sempit sekaligus lapang. Sempit karena malu pada diriku yang sering mengeluh, lapang karena merasa begitu diperhatikan. Di antara lantunan ayat dan bisikan angin sore, aku merasa kecil—kecil seperti butir pasir di tepi Sungai tetapi justru di situlah aku merasa dekat.

Dan malam ini, sebelum tidur, aku tahu satu hal: jika Surah Ar-Rahman kembali bertanya tentang nikmat Tuhan yang mana lagi yang kudustakan, mungkin aku akan menjawab dalam diam—tidak ada. Karena bahkan lelah yang kurasakan hari ini pun terasa seperti nikmat yang tak ternilai.

Hari-hari Ramadan terus bergulir. Setiap pagi, setiap sore, setiap malam seperti butiran tasbih yang dirangkai satu per satu. Aku takut butiran itu segera habis. Pada malam kedua puluh lima, setelah tarawih, aku duduk sendiri di serambi masjid. Angin malam menyentuh wajahku. Aku memandangi bintang-bintang yang bertaburan.

Aku sadar, mungkin suatu hari aku akan meninggalkan desa ini. Mungkin aku akan merantau, melihat kota yang lampunya lebih terang. Tapi aku tahu, tak ada cahaya yang bisa menggantikan kenangan Ramadan di sini.

Ramadan di desaku adalah tentang kayu bakar di pundak kecilku, tentang air sumur tua yang kutarik dengan sabar, tentang mushaf lusuh yang kubaca setiap Asar, tentang kue cucur manis yang kami santap bersama. Ia bukan hanya bulan suci. Ia adalah guru yang mengajariku arti kebersamaan dan pengabdian. 

Dan di setiap halaman buku harianku, Ramadan telah menuliskan satu pelajaran penting: Bahwa menjadi dewasa bukan tentang seberapa jauh aku melangkah, tetapi tentang seberapa dalam aku menanamkan syukur di tanah tempat aku tumbuh.



BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi tahun 2023, 2024, dan 2025 dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar. 

Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Puisi Suara untuk Palestina “Secangkir Kopi Tuan Rodney” (2025), Kumpulan Cerita Anak Nusantara  “Lentera dari Timur ke Barat” (2025), Kumpulan Cerita Pendek “Sahabat Sepanjang Cerita 16” (2025), Kumpulan Pantun “Pantun Serumpun Hati Berpaut 10” (2026), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

Ahad, 12 April 2026

IFTAR YANG SEMPURNA: Karya Asmaniza Din

 

TAJUK CERPEN     : IFTAR YANG SEMPURNA

OLEH                         : ASMANIZA DIN

 

Nafas Hani Karmila bagai tersekat di kerongkong saat kasut kulit berkilat milik Naufal Idlan berhenti tepat di hadapan meja utama.

​Lelaki itu tunduk sedikit. Sepasang matanya yang tajam di sebalik bingkai cermin mata mengecil, tekun meneliti gubahan bunga lili di tengah meja.

"Hani." Suara garau Naufal memecah kesunyian dewan makan Rumah Anak Yatim Darul Izzah.

Hani pantas membetulkan awning tudung bawalnya yang mula terkelepet. Dia melangkah laju mendekati lelaki itu dengan senyuman profesional yang sudah dilatih ratusan kali di hadapan cermin. Dalam hati, tidak putus-putus dia beristighfar.

​"Sabar, Hani. Bulan puasa ni," gumamnya perlahan.

​"Ya, Encik Naufal? Ada apa-apa yang tak kena dengan gubahan bunga lili tu?" soal Hani. Dia cuba mengekalkan nada ceria walaupun tekaknya terasa perit setelah seharian berpuasa meredah bahang Kuala Lumpur.

​"Bunga ni cantik, tapi letaknya menghalang pandangan." Naufal selamba mengalihkan pasu kaca itu dua inci ke kanan.

​"Ini majlis iftar bersama anak-anak yatim. Saya nak bila Pengarah Urusan berucap nanti, dia boleh nampak muka setiap budak dekat meja ni. Bukan meninjau dari celah bunga."

Hani mengangguk perlahan, mencatat sesuatu pada skrin tablet di tangannya. Walaupun Naufal memang terkenal dengan sikap cerewet tahap dewa di pejabat, Hani harus akui tegurannya sentiasa berasas dan masuk akal. Lelaki itu bukan sekadar bos yang sengaja mahu mencari salah.

​"Baik, saya akan suruh budak-budak saya alihkan gubahan di semua meja VIP sekarang," balas Hani pantas.

​"Bagus. Macam mana dengan katering? Dah nak pukul lima. Bayang lori katering pun saya tak nampak lagi." Naufal menyingsing lengan kemejanya hingga ke siku, menampakkan seutas jam tangan mewah yang kemas melingkar di pergelangan tangan.

Hani menelan liur. Matanya meliar ke arah pintu utama dewan. Benar, dewan itu masih sunyi tanpa sebarang aroma juadah berbuka.

Baru sahaja tangannya menyeluk poket seluar untuk menghubungi pihak katering, telefon pintarnya bergetar panjang. Nama 'Abang Man Katering' tertera pada skrin.

​"Sekejap ya, Encik Naufal. Panjang umur bos katering." Hani meminta diri. Dia menapak menjauh sedikit daripada Naufal sebelum menjawab panggilan tersebut.

​"Helo, Abang Man. Dah sampai mana? Dewan dah siap pasang sistem PA ni."

​"Hani! Abang minta maaf banyak-banyak." Suara cemas Abang Man tenggelam timbul dalam hingar-bingar bunyi hon kenderaan di hujung talian.

​"Lori abang kena langgar dari belakang dekat Federal Highway! Enjin berasap terus, silap haribulan kena overhaul ni. Lauk-pauk kat belakang pula dah separuh berterabur. Jalan jammed teruk, langsung tak bergerak!"

Wajah Hani serta-merta berubah pucat lesi. Darah seakan-akan kering dari mukanya. Lututnya terasa goyah. Majlis akan bermula tidak lama lagi. Hampir lima puluh orang tetamu yang terdiri daripada anak-anak yatim, para penjaga dan rombongan VIP korporat akan berbuka puasa di dewan ini!

​"Biar betul, Abang Man? Habis tu macam mana ni? Tak boleh hantar lauk back-up dari kedai ke?" Suara Hani mula menggeletar. Dia menekan dada, cuba meredakan debaran jantung yang berdegup bagai nak rak.

​"Sumpah tak sempat, Hani. Dapur abang dekat Shah Alam. Nak siapkan lauk baru satu hal, nak redah trafik KL waktu puncak macam ni lagi. Abang betul-betul minta maaf. Malam ni abang transfer balik duit deposit."

Panggilan dimatikan. Hani meraup wajahnya seketika. Dugaan apakah di petang-petang Ramadan ini?

Perlahan-lahan, dia menoleh memandang Naufal. Lelaki itu sedang merenungnya dengan dahi berkerut tajam, seakan-akan sudah dapat menghidu malapetaka yang melanda hanya melalui riak wajah Hani yang pucat lesi.

​Hani menarik nafas panjang. Dia menapak kembali ke arah Naufal, bersiap sedia di dalam hati untuk menadah telinga menerima apa sahaja hamunan daripada bos perfectionist itu.

​"Encik Naufal..." Hani memulakan bicara. Suaranya dikawal sehabis baik agar tidak kedengaran terketar-ketar.

​"Kita ada masalah besar. Lori katering accident tadi. Lauk berbuka... takkan sampai."

Naufal terdiam. Matanya membulat seketika sebelum tangan kasarnya meraup rambut ke belakang. Kesunyian antara mereka berdua tiba-tiba terasa membingitkan. Hani memejamkan mata rapat, menanti letusan amarah lelaki itu memecah suasana dewan.

​Tiga saat berlalu. Naufal masih tak bersuara. Urat di pelipisnya kelihatan menegang, jelas menahan sesuatu yang Hani pasti adalah lahar kemarahan.

​"Pukul berapa masuk waktu hari ni?" Suara Naufal kedengaran mendatar. Terlalu tenang sehinggakan meremangkan bulu tengkuk Hani.

​Hani cepat-cepat mengerling jam di pergelangan tangan, kemudian membelek skrin telefon bimbitnya sekejap.

​"Tujuh dua puluh sembilan minit. Kita ada masa lebih kurang dua jam setengah, Encik Naufal."

​​"Tunjukkan saya jalan ke dapur asrama ni, sekarang."

​Hani terkebil-kebil. Dia sudah bersedia untuk ditengking, bukannya diarahkan ke dapur.

​"Dapur? Tapi... kita nak buat apa kat sana?"

​"Masak." Sepatah jawapan Naufal, pendek dan tegas. Dia memusingkan tubuh, menanti Hani memimpin jalan.

​"Melainkan kalau awak ada magik nak turunkan makanan dari langit dalam masa dua jam ni. Kita kena gerak sekarang, Hani. Budak-budak tu dah lapar, dah puasa seharian."

Tanpa banyak soal, Hani melangkah laju memimpin jalan ke blok belakang dewan. Setibanya mereka di ruang dapur yang agak usang namun bersih itu, kelihatan Mak Som, penyelia dapur asrama sedang menyental periuk besar di singki.

​"Mak Som, lori katering kami tak dapat sampai. Accident," Hani pantas menerangkan situasi dengan nafas termengah-mengah.

​"Ada bahan mentah apa-apa tak yang kami boleh guna untuk masak sekarang? Nak pakai untuk lima puluh orang makan."

​Mak Som lekas-lekas mengelap tangannya yang basah pada apron. Wajah tua itu berkerut risau.

​"Ya Allah, kesiannya budak-budak ni. Mak Som baru je lepas tanak nasi putih. Kebetulan ada lebihan beras orang derma tadi. Tapi lauk basah memang dah licin, nak. Yang tinggal cuma telur sepapan dua, bawang, dengan sardin tin besar. Banyak lagi kat stor tu, ada la dalam dua tiga kotak sumbangan NGO minggu lepas."

Lutut Hani terasa lembik, hampir sahaja dia terduduk di situ. Nasi putih, telur dadar, dan sardin untuk tetamu VIP korporat? Lingkuplah kerjayanya sebagai perancang majlis. Reputasi syarikat pasti musnah!

​Tiba-tiba, Naufal melangkah ke hadapan. Lengan kemejanya yang sedia terlipat ditarik lagi ke atas hingga melepasi siku.

​"Kuantiti tu dah cukup. Mak Som, tolong panaskan kuali besar sekarang. Hani, awak pergi basuh tangan dan mula kupas bawang. Kita buat sardin tumis dengan telur dadar potong."

​"Encik Naufal..." Hani tergamam. Bulat matanya merenung lelaki korporat yang tadinya sibuk mengukur jarak gubahan bunga, kini selamba menyusun tin-tin sardin itu untuk dibuka.

"Biar betul? VIP nak makan lauk sardin ni ke?"

Naufal berhenti seketika. Renungannya memanah tepat ke dalam anak mata Hani. Tiada lagi riak bos cerewet, yang ada hanyalah seorang lelaki yang nekad.

​"Tetamu VIP yang paling penting malam ni anak-anak yatim tu. Mereka tak peduli lauk kayangan ke tidak. Mereka cuma nak rasa nikmat berbuka. VIP yang lain tu, pandai-pandailah hidup. Ini bulan puasa, bukan majlis anugerah."

​Kata-kata itu bagai menampar lembut keegoan profesional Hani. Benar. Hikmah Ramadan mengajar erti kesederhanaan, bukan berlumba menunjuk kemewahan. Kerana terlalu asyik mengejar kesempurnaan majlis, Hani hampir terlupa niat asal acara ini diadakan.

​Tanpa membuang masa lagi, Hani menyinsing lengan bajunya. Tudung bawal disemat lebih kemas ke bahu agar tidak mengganggu pergerakan. Dia mencapai pisau dan mula mengupas bawang merah dengan pantas. Di sebelahnya, bunyi penutup tin sardin ditarik Naufal kedengaran bersahut-sahutan.

Suhu di ruang dapur itu mula meningkat. Peluh merenik membasahi dahi Naufal, menjejaskan sedikit gaya rambutnya yang selama ini disikat rapi. Sesekali, lelaki itu mengesat matanya yang pedih akibat wap meruap daripada tumisan bawang merah menggunakan belakang lengan.

​Hani curi-curi pandang. Sisi lelaki ini sungguh berbeza. Dia sangkakan Naufal hanya tahu mengarah dan mengkritik. Rupanya, di sebalik imej korporat dan kemeja mahal itu, tersembunyi rasa empati yang sangat menebal.

​"Awak tenung saya buat apa? Tumis bawang tu cepat, dah nak hangit," sergah Naufal mengejut, namun tangannya kekal lincah memukul bancuhan puluhan biji telur di dalam mangkuk keluli bersaiz raksasa.

​Hani tersentak. Pipinya serta-merta merona merah menahan malu, lalu tangannya dilajukan mengacau bawang di dalam kuali yang galak berdesir. Aroma wangi tumisan mula memenuhi segenap ruang dapur, perlahan-lahan meredakan sisa panik di dadanya.

​Hani mengerling jam dinding. Ada empat puluh lima minit lagi. Mereka sedang bergelut dengan masa.

Lima belas minit sebelum azan Maghrib berkumandang, kuali terakhir diangkat dari atas tungku. Hani melepaskan keluhan lega yang panjang. Bajunya sudah lencun dengan peluh. Malah, haruman minyak wanginya telah berganti sepenuhnya dengan aroma bawang goreng dan kuah sardin.

​Di ruang dewan utama, suasananya berbeza sama sekali. Tetamu VIP korporat yang hadir mula berbisik sesama sendiri apabila melihat lauk yang dihidangkan. Tiada kambing golek, tiada ayam percik, tiada kuih talam bersusun. Yang ada hanyalah nasi putih berasap nipis, potongan telur dadar tebal dan kuah sardin merah menyala.

​Hani berdiri kaku di sudut dewan berhampiran meja utama. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dalam kepalanya, dia sudah menyusun pelbagai alasan untuk menjawab emel aduan rasmi esok pagi.

"Sedapnya bau!" Suara nyaring seorang kanak-kanak lelaki tiba-tiba memecah ketegangan di dewan itu. Budak yang mungkin dalam lingkungan lapan tahun tersebut tersenyum lebar memandang hidangan di depannya.

​"Macam lauk arwah mak selalu masak bulan puasa," luahnya lagi dengan sepasang mata yang bersinar-sinar.

​Kenyataan polos itu ibarat satu magis yang meruntun tangkai hati sesiapa sahaja yang mendengarnya. Bisik-bisik sinis beberapa orang VIP tadi terhenti serta-merta. Masing-masing terdiam, seakan-akan ditampar dengan rasa segan.

Naufal baru melangkah keluar dari arah dapur. Dengan lengan kemeja yang masih bersinsing dan wajah yang lembap dengan kesan wuduk, dia tersenyum nipis memandang kanak-kanak itu.

​"Makan banyak-banyak, Ammar. Hari ni abang masak special untuk awak semua," balas Naufal. Nada suaranya kedengaran begitu lembut, jauh berbeza daripada nada tegas seorang bos korporat.

Tepat jam 7:29 malam, laungan azan Maghrib bergema dari surau berdekatan. Semua tetamu menadah tangan mengaminkan doa berbuka.

​Hani mencapai sebiji kurma di atas meja dan meneguk air kosong. Matanya tidak lepas memerhati Naufal yang kini sedang duduk bersila di atas permaidani bersama kanak-kanak asrama, langsung tidak menghiraukan kerusi empuk di meja VIP.

​Lelaki itu dengan cermat mencubit sedikit telur dadar dan menyuapkannya ke mulut Ammar. Tiada lagi riak wajah bos korporat yang beku dan menakutkan. Yang ada di hadapannya kini hanyalah seorang pemuda yang ikhlas menyantuni anak-anak yatim.

​"Ya Allah, ampunkan aku," bisik Hani perlahan.

​Rasa sebak tiba-tiba menyesak di dadanya. Sepanjang hari dia merungut di dalam hati, melabel Naufal sebagai manusia cerewet tanpa sedikit pun ruang untuk bersikap husnuzon. Rupanya di sebalik arahan tegas lelaki itu, tersimpan sekeping hati yang sangat mengasihi golongan asnaf ini.

​Hikmah Ramadan benar-benar menampar ego Hani pada hari ini. Kesempurnaan majlis rupanya bukanlah pada dekorasi mewah atau makanan lazat yang berharga ribuan ringgit, tetapi pada keikhlasan niat dan senyuman tulus mereka yang diraikan.

​Menjelang jam sepuluh malam, keadaan dewan mula lengang seusai solat Tarawih berjemaah. Beberapa orang pekerja asrama sedang membersihkan sisa makanan. Hani menyemak senarai tugasan di skrin tablet buat kali terakhir sebelum mematikan peranti tersebut.

​"Awak buat kerja yang bagus hari ni, Hani."

​Hani tersentak. Naufal sedang berdiri kira-kira satu meter daripadanya sambil menyarung semula kot hitamnya. Wajah lelaki itu kembali tenang. Kemejanya kelihatan renyuk dan ada sedikit kesan percikan minyak di bahagian lengan, tetapi aura karismanya langsung tidak pudar.

​"Saya yang sepatutnya minta maaf, Encik Naufal." Hani menunduk sedikit, rasa bersalah kembali menebal.

​"Gara-gara lori katering tak sampai, majlis encik jadi kelam-kabut. Terpaksa VIP macam encik turun padang masak sardin."

​Naufal ketawa kecil. Tawa yang kedengaran cukup ikhlas itu membuatkan Hani terpaku seketika.

​"Ini majlis iftar paling bermakna untuk syarikat kami, Hani. Budak-budak tu makan bertambah. Rakan kongsi VIP saya pun makan sampai licin pinggan. Realitinya, kadang-kadang perancangan Allah tu datang dalam bentuk kecemasan supaya kita beringat untuk merendah diri." Naufal menyeluk saku kotnya.

"Dan saya juga nak minta maaf sebab terlalu mendesak awak dari pagi tadi. Saya terlalu risaukan kelancaran majlis ni sampai lupa menjaga adab menegur." Naufal menghulurkan sesuatu, sekuntum bunga lili putih yang diambil daripada gubahan pasu di meja VIP.

​"Ambil ni. Anggaplah sebagai tanda penghargaan syarikat saya atas kecekapan awak menyelamatkan perut lima puluh orang pada malam ni." Naufal meletakkan bunga itu perlahan-lahan di atas meja berhampiran tablet Hani. Dia kekal menjaga batas tanpa sebarang sentuhan fizikal.

​Hani memandang bunga itu, kemudian beralih pada wajah Naufal yang sedang tersenyum. Perasaan hangat mula menjalar di relung hatinya. Segala penat lelah, sakit kaki, dan rasa marah siang tadi hilang lenyap ditiup hembusan angin malam.

​"Terima kasih, Encik Naufal," ucap Hani perlahan, bibirnya mengukir senyuman paling ikhlas pada hari itu.

​Bunga lili putih itu dicapai dengan cermat. Nampaknya bulan Ramadan tahun ini bukan sahaja mengajar Hani erti sabar dan bersangka baik, tetapi juga menumbuhkan satu permulaan kisah yang cukup manis.

Tamat.

 

Sabtu, 11 April 2026

TAKBIR DAN WANGI KESETIAAN: Karya Yusufachmad Bilintention

 

Takbir dan Wangi Kesetiaan

Takbir merambat dari mushala kampung, pecah sebelum magrib. Pemerintah belum menetapkan Idul Fitri, tetapi sebagian orang sudah mengangkat kemenangan mereka sendiri. Anas duduk di karpet kusam; udara rumah kecilnya berbau harum yang ia kenal lebih dari nama istrinya. Rumah tiga kali lima meter itu seperti botol parfum: sempit, tertutup, menyimpan wangi yang tak pernah benar-benar pergi. Namun karpet tetap dingin, motor tuanya berderak seperti napas yang enggan berhenti, dan suara mesin yang malu-malu menyimpan cerita seorang lelaki yang menggantungkan hidup dari menjual wangi.

Di laci panjang, botol-botol berjajar rapi: Cartier untuk hari-hari berat, Lacoste untuk kenangan manis, dan parfum pasar yang murah namun akrab. Cartier menandai masa ketika ia harus meneguhkan hati; Lacoste mengingatkan pada pertemuan pertama dengan Anisa di pengajian Ramadan, senyum sederhana yang membuatnya berani mendekat meski hanya dengan motor pinjaman. Parfum pasar selalu menjadi pengingat harian bahwa hidup mesti terus berjalan. Anas sering menyentuh tutupnya seperti menyentuh memori—sebuah ritual kecil sebelum membuka pintu untuk orang lain.

Cartier yang mahal hanya ia simpan untuk hari-hari berat; parfum pasar sederhana ditaruh di depan sebagai stok dagangan. Anas menyemprot sekali ke dadanya sebelum menerima pelanggan. Bibirnya bergerak pelan, mata menutup sesaat—seolah itu doa kecil yang tak perlu terdengar. Ketika pelanggan masuk, suaranya tetap datar; di balik itu, ada ketenangan yang baru saja ia semprotkan ke tubuhnya.

Sejak tiga tahun menikah, Anas dan Anisa tidak selalu tinggal serumah. Ibu mertua meminta Anisa menemani di rumah besar keluarga. “Kasihan ibu sendirian,” begitu alasan yang berulang. Rumah kecil ini dianggap terlalu sempit, tetapi bagi Anas justru di sinilah ia menaruh harapan. Setiap semprot punya makna: satu mengingatkan awal perkenalan, dua menyingkirkan sedih, tiga menahan gemetar. Kesunyian kembali menempel di karpet kusam, motor tuanya masih setia menunggu di luar

Setiap semprot Cartier mengingatkannya pada masa kenangan bersama Anisa—hari-hari awal ketika ia berusaha meyakinkan diri bahwa cintanya cukup, meski datang dengan motor pinjaman dan suara serak. Namun wangi itu juga membawa bayangan ayah mertua yang dulu lebih ramah kepada Hanan, insinyur terpandang yang hadir ketika Anisa masih diperebutkan, daripada kepadanya. Bayangan Hanan muncul bukan hanya lewat bisik tetangga, tetapi juga lewat mobil gagah yang kadang berhenti di depan rumah besar. Ketika mobil itu lewat, Anisa menunduk; bibirnya mengecil seperti menahan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Meski begitu, Anisa memilih Anas—pilihan yang menebalkan jarak antara anak dan ayah, istri dan ibu, rumah besar dan rumah kecil.

Kenangan itu menempel seperti wangi yang tak hilang, dan magrib berikutnya seolah menguji keteguhan. Anisa datang membawa gulai kambing lagi, dari rumah besarnya. Aroma kuahnya memenuhi ruang sempit, berpadu dengan wangi parfum pasar yang baru saja disemprot Anas. Mereka duduk di karpet kusam, menunggu azan. Ketika suara takbir kecil dari mushala kampung merambat, Anas meneguk air putih, Anisa menyuapinya sepotong kurma. Tidak ada meja panjang, tidak ada lampu kristal, hanya panci sederhana di atas karpet lama.

Namun di situlah Anisa berkata dengan nada tegas, “Mas, apa tidak enak tinggal di rumah ibu?” Anas menatap panci, lalu menjawab pelan, “Yang penting kamu menemani ibu. Kasihan kalau sendirian.” Anisa menghela napas panjang, menatap karpet kusam. “Aku juga ingin rumah ini hidup, Mas. Aku lelah jadi tamu di rumah sendiri.” Kalimat itu menusuk lebih tajam daripada semprotan Cartier. Diam Anisa kali ini bukan sekadar patuh; itu tuntutan yang mengiang di kepala Anas.

Beberapa hari kemudian, gema tuntutan Anisa masih berputar di kepala Anas. Pikiran itu belum reda ketika undangan berbuka dari Idrus datang, seolah memberi jeda yang tak terduga. Rumah temannya besar dan terang; aroma masakan menyeruak dari dapur, menegaskan kehangatan keluarga di dalamnya. Idrus menyambut dengan tawa lebar, lalu duduk di ruang tamu yang penuh cahaya. Saat azan magrib berkumandang, keluarga Idrus berkumpul di meja panjang: kurma, kolak, dan teh manis tersaji rapi. Istrinya terlambat membawa teh, Idrus berdeham keras. “Saya tidak mau dilayani oleh pembantu,” katanya lantang. Anas menatap tangan Idrus yang berkilau karena minyak wangi mahal; bau itu menempel di udara seperti klaim. Di jalan pulang, perutnya masih terasa hangat oleh kolak, tetapi dadanya justru dingin oleh pertanyaan: apakah pengabdian berarti kalah, atau kesetiaan berarti buta?

Suatu malam menjelang Lebaran, setelah Anisa pulang terburu-buru karena dipanggil ibunya, setelah dialog dengan ibunya via hp. Anas duduk lama di karpet. Dari mushala kampung,masih terdengar suara takbir merambat pelan, belum resmi ditetapkan pemerintah, tetapi sudah mengisi udara dengan rasa kemenangan yang tertahan. Ia menatap botol Cartier, jari-jarinya menyentuh kaca dingin itu, lalu menggesernya ke depan. “Mungkin aku harus tegas,” gumamnya, tetapi kata itu tenggelam sebelum sempat keluar.

Tak lama setelah pulangnya Anisa, pintu diketuk. Ketukan itu lirih, namun membuat dadanya bergetar. Anas terkejut melihat Ibu mertua berdiri di ambang, wajahnya letih, kerudungnya sedikit miring, matanya basah seperti menahan hujan. “Anisa menangis tadi,” katanya pelan, suaranya serak. “Katanya kamu tidak pernah menuntut apa-apa. Itu membuatnya bingung. Apa kamu tidak ingin menjemputnya pulang?”

Anas menarik napas panjang, aroma parfum bercampur dengan udara Ramadan yang penuh doa. Ia menunduk, merasakan karpet kasar di telapak tangannya, lalu menatap mata tua itu dengan hati bergetar. “Bu,” ucapnya pelan, “saya menikahi Anisa bukan untuk menjadikannya tamu. Rumah kecil ini bukan sekadar tempat, ia adalah janji yang harus ditepati. Kalau ibu merasa sepi, biar saya yang sering datang. Tapi jangan biarkan Anisa terus bolak-balik seperti orang asing.”

Ibu mertua menatapnya lama, lalu duduk di karpet. Serat karpet berderit halus di bawah tubuhnya, seolah ikut menahan beban yang jatuh. Matanya berkaca-kaca, kilau basah bergetar di sudut mata. “Aku hanya takut kehilangan,” ucapnya lirih, jemarinya meremas ujung kerudung. “Rumah besar itu kosong sejak bapakmu meninggal. Sepi sekali, Nak… aku ingin ada suara perempuan dan cucuku di rumah besar itu.”

Anas menunduk, telapak tangannya tetap menyentuh karpet kasar, menjaga unggah-ungguh meski kata-katanya tegas. “Kalau begitu, biarkan suara itu datang bersama saya,” katanya pelan. “Saya tidak punya mobil, tidak punya perusahaan. Tapi saya punya kesetiaan. Dan kesetiaan itu, Bu, adalah bagian dari puasa: menahan diri, sabar, ikhlas.”

Tangis kecil pecah di wajah tua ibu mertuanya itu. Ia meraih tangan Anas, menggenggamnya seperti menahan sesuatu yang rapuh. “Mungkin saya keliru. Rumah besar ternyata lebih sunyi daripada rumah kecilmu,” bisiknya, seolah menyerahkan hatinya pada keputusan yang lebih bijak. Sejak malam itu, keputusan Anas perlahan menemukan bentuknya. “Ya Allah hanya syukur dan mohon ampunku padaMu,”bisik hati anas mengiringi matanya yang basah.

Ketika Lebaran akhirnya ditetapkan pemerintah, kampung seperti terbuat dari wangi: ketupat yang direbus, opor yang mengepul, kue kering di toples, dan silaturahmi yang riuh. Suara bedug berpadu dengan riuh anak-anak berlarian di jalan sempit, lampu bambu berpendar menambah hangat malam kemenangan. Bau masakan dari dapur tetangga membuat udara kampung seperti pesta sederhana namun meriah. Takbir bergema bersahut-sahutan dengan kilatan kembang api yang sesekali memecah langit malam.

Setelah percakapan ibu dan suaminya, Anisa merasa itu adalah hadiah terindah dariNya. “Semoga ini adalah berbukaku, berbuka kami, setelah tiga tahun berpuasa.” Doa Anisa diam-diam menyeruak di hatinya, saat Anisa datang membawa kue, duduk lebih lama, di rumah suaminya. Ia menaruh botol parfum kecil di meja suaminya—wangi sederhana dari pasar, tutupnya sedikit penyok. “Biar rumah ini punya baumu juga,” katanya lirih, senyumnya lebih berani dari biasanya. Anas menaruh botol itu di depan, berdampingan dengan Lacoste. Cartier ia geser ke belakang, bukan karena malu, tetapi karena ingin ruang itu dipenuhi aroma yang sama dengan hari-hari mereka. Baginya, parfum kecil itu bukan sekadar wangi, melainkan janji: rumah kecil ini akhirnya berhak disebut rumah bersama.

Di luar, anak-anak berlarian sambil menggenggam balon warna-warni. Anas menyemprot sekali ke dadanya, lalu menutup mata. Wangi itu merambat pelan, bercampur dengan aroma ketupat dari dapur tetangga. Dalam hati ia berdoa: agar rumah kecil ini selalu menjadi tempat pulang, agar kesetiaan tetap bertahan meski dunia tidak memberi sorak. Ia tahu, cinta yang bekerja diam-diam seperti aroma tidak mengguncang, tidak menuntut, tetapi bertahan lebih lama daripada ketidakpastian.

Anisa menatap suaminya lama, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar menempel di hati Anas. “Mas,” ucapnya pelan, “aku ingin rumah ini punya suara kita. Bukan hanya wangi, bukan hanya doa, tapi juga tawa, percakapan, dan mungkin nanti tangisan anak-anak.” Anas menoleh, matanya berkilat oleh cahaya lampu bambu yang masuk dari jendela kecil. Ia tidak menjawab segera, hanya menggenggam tangan Anisa, merasakan getar halus yang menegaskan bahwa kesetiaan bukan sekadar diam, melainkan keberanian untuk meneguhkan rumah kecil mereka.

Di luar, suara sandal anak-anak beradu dengan tanah basah, riuhnya berpadu dengan dentuman kembang api yang sesekali memecah langit. Bau ketupat yang direbus semakin pekat, bercampur dengan aroma opor ayam dari dapur tetangga. Anas menghela napas panjang, merasakan dada yang hangat oleh wangi sederhana, dan kepala yang penuh oleh harapan. Ia tahu, rumah kecil ini mungkin tidak akan pernah punya lampu kristal atau meja panjang, tetapi ia punya sesuatu yang lebih berharga: kesetiaan yang tidak riuh, namun diam-diam menguatkan. “Di botol minyak wanginya, ada tangis dan tawa anak kecil seperti riuh anak-anak di luar,” ia tergagap saat istrinya memanggilnya.

Anisa tersenyum, kali ini lebih lega. Ia merapatkan duduknya di karpet kusam, seolah ingin menegaskan bahwa rumah kecil ini memang layak dihuni dengan sepenuh hati. “Mas,” katanya lagi, “aku tidak ingin lagi jadi tamu di rumah sendiri. Aku ingin rumah ini hidup, dengan segala sederhana yang kita punya. Dan tangis tawa anak – anak kita” Anas mengangguk, matanya basah, tetapi senyumnya tipis. Ia tahu, keputusan itu bukan hanya tentang ruang, melainkan tentang keberanian meneguhkan cinta di tengah keterbatasan.

Suara takbir semakin lantang, bersahut-sahutan. Lampu bambu berpendar, menambah hangat malam kemenangan. Anas menatap botol parfum kecil di meja, lalu menutup matanya sekali lagi. Dalam doa yang lirih, ia berjanji: rumah kecil ini tidak akan lagi sunyi, karena kesetiaan telah memilih untuk tinggal.

 

  

Biodata Singkat

Nama Pena: Yusufachmad Bilintention 

Asal: Nyamplungan, Surabaya, Indonesia 

Nomor WA: +62 82139915205

Email: yusufachmad2018@gmail.com

IG: @yusufachmad2018

Isnin, 6 April 2026

PUASA DAN PERBAHAN ARYA: Karya Warsono Abi Azzam

 

PUASA DAN PERBAHAN ARYA

Warsono Abi Azzam

 

Namanya Arya Pratama. Usianya mendekati empat puluh, bekerja sebagai konsultan logistik di sebuah perusahaan distribusi nasional di Semarang. Hidupnya teratur, nyaris terlalu teratur: bangun pagi tanpa doa, kopi hitam tanpa gula, sarapan cepat, lalu tenggelam dalam angka-angka, rute distribusi, dan efisiensi biaya. Ia menyukai hal-hal yang bisa dihitung dan diukur. Baginya, dunia adalah tabel besar yang harus dirapikan.

Ada satu hal yang tak pernah masuk dalam logika tabelnya: puasa.

“Puasa itu cuma ngirit versi Timur Tengah,” katanya suatu siang di kantor, saat bulan Ramadhan mulai mendekat. Ia duduk berselonjor di kursi, menatap rekan-rekannya yang sedang berdiskusi tentang jadwal buka bersama. “Diet ala Arab. Bungkusnya religius, tapi intinya ya sama: nahan makan.”

Beberapa rekan tertawa kecil, sebagian lain hanya saling pandang. Mereka sudah terbiasa dengan komentar Arya. Ia tidak pernah secara frontal menyerang, tapi selalu menyelipkan sinisme dalam kalimat yang terdengar santai.

“Ya nggak sesederhana itu, Ya,” ujar Dimas, salah satu staf yang cukup dekat dengannya. “Puasa bukan cuma soal makan.”

Arya mengangkat bahu. “Semua orang bilang begitu. Tapi ujung-ujungnya? Lapar, haus, nunggu adzan. Setelah itu makan, balas dendam. Secara biologis aja nggak efisien.”

“Bukan efisiensi yang dicari,” Dimas mencoba menjelaskan, tapi Arya sudah berdiri, mengambil jaketnya.

“Yang jelas, gue nggak tertarik. Kalau Tuhan butuh kita lapar dulu baru dianggap baik, menurut gue itu konsep yang aneh.”

Ia meninggalkan ruangan dengan langkah ringan, seolah baru saja menyimpulkan sebuah argumen yang tak terbantahkan.

***

Ramadhan datang seperti biasa: suara azan lebih ramai, warung-warung siang hari tertutup tirai, dan kantor sedikit lebih lengang menjelang sore. Arya tetap menjalani rutinitasnya. Ia tidak puasa, dan tidak merasa perlu menyembunyikannya.

Ia makan siang di ruangannya, dengan pintu setengah tertutup. Bukan karena malu, tapi lebih karena tidak ingin repot menjelaskan.

“Gue nggak hipokrit,” katanya suatu kali saat Dimas masuk tanpa mengetuk. “Kalau nggak puasa ya makan. Ngapain pura-pura?”

Dimas hanya mengangguk, meski dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal.

Di luar urusan puasa, hidup Arya berjalan mulus. Ia dikenal cerdas, cepat mengambil keputusan, dan berani. Tapi ada satu sisi yang jarang terlihat: ia mudah lelah, sulit tidur, dan sering mengalami nyeri perut yang datang tiba-tiba.

Awalnya ia mengabaikan. “Asam lambung,” katanya ringan. Ia membeli obat di apotek, minum sesekali, lalu kembali bekerja.

Namun suatu malam, rasa nyeri itu datang lebih kuat dari biasanya. Ia sedang sendirian di apartemennya, lantai tiga, di kawasan Banyumanik. Hujan turun deras, menampar kaca jendela dengan ritme yang tidak beraturan.

Arya terbangun dari tidurnya, menggenggam perutnya. Rasa perih menjalar dari ulu hati ke dada, seperti ada sesuatu yang mengikis dari dalam.

Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Nafasnya pendek-pendek.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa takut.

Dengan susah payah, ia meraih ponselnya dan menghubungi Dimas.

“Mas... bisa... ke sini?” suaranya parau.

Tak sampai tiga puluh menit, Dimas sudah tiba, bersama seorang tetangga Arya. Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

Diagnosis datang keesokan harinya: tukak lambung yang cukup parah, dengan indikasi harus dilakukan tindakan operasi kecil untuk mencegah komplikasi.

“Pak Arya harus menjalani puasa sebelum operasi,” kata dokter dengan nada profesional. “Minimal delapan jam tanpa makan dan minum.”

Arya mengernyit. “Puasa?”

“Dalam konteks medis, iya. Ini prosedur standar.”

Ia tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan. “Ironis ya, dok. Saya yang paling nggak suka puasa, malah disuruh puasa.”

Dokter hanya tersenyum tipis. “Anggap saja ini bagian dari terapi.”

Malam sebelum operasi, Arya duduk di ranjang rumah sakit, menatap infus yang menetes perlahan. Ia tidak makan sejak sore. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan operasi dijadwalkan pukul enam pagi.

Perutnya terasa kosong, tapi bukan sekadar lapar. Ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton televisi, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal: ia sedang berpuasa.

Untuk pertama kalinya.

Tanpa niat religius, tanpa keyakinan, hanya karena kebutuhan medis.

“Delapan jam doang,” gumamnya. “Nggak ada apa-apanya.”

Namun waktu berjalan lambat. Setiap menit terasa panjang. Ia mulai menyadari betapa seringnya ia mengunyah sesuatu, sekadar untuk mengisi waktu. Sekarang, tidak ada itu.

Ia hanya duduk, menunggu.

Dan dalam penantian itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi: ia mulai memperhatikan dirinya sendiri.

Detak jantungnya. Nafasnya. Rasa lapar yang naik turun seperti gelombang. Pikiran-pikiran yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, kini beralih ke hal-hal yang lebih sederhana.

Ia teringat ibunya.

Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Ibunya di desa, hidup sederhana, rajin beribadah. Dulu, setiap Ramadhan, ibunya selalu membangunkannya untuk sahur.

“Ya, Arya, bangun. Makan dulu,” suara itu seperti bergema dari masa lalu.

Arya kecil sering mengeluh, malas bangun, malas makan. Tapi ibunya selalu sabar.

“Puasa itu bukan cuma nahan lapar,” kata ibunya suatu kali. “Tapi belajar sabar.”

Arya dewasa tersenyum miris. “Sabar buat apa?” ia pernah menjawab waktu itu.

Kini, di ranjang rumah sakit, ia mulai merasakan jawaban yang tak pernah ia cari.

***

Operasi berjalan lancar. Arya harus menjalani masa pemulihan beberapa hari di rumah sakit. Selama itu, dokter menyarankan pola makan teratur, porsi kecil, dan—yang membuat Arya terdiam—“puasa ringan” secara bertahap.

“Bukan puasa penuh seperti yang Anda bayangkan,” jelas dokter. “Tapi memberi jeda waktu bagi lambung untuk istirahat.”

Arya mengangguk, tapi dalam pikirannya, kata “puasa” mulai kehilangan nada sinisnya.

Hari pertama setelah operasi, ia hanya boleh minum cairan tertentu. Hari kedua, makanan lunak dalam jumlah kecil. Ia belajar menahan keinginan untuk makan lebih banyak.

Dan anehnya, ia tidak merasa tersiksa seperti yang ia bayangkan.

Sebaliknya, ada rasa ringan yang perlahan muncul. Tubuhnya terasa lebih stabil. Tidurnya lebih nyenyak.

“Gimana rasanya?” tanya Dimas saat menjenguk.

Arya berpikir sejenak. “Aneh,” katanya jujur. “Tapi… nggak buruk.”

“Masih mikir puasa itu diet ala Arab?” Dimas tersenyum.

Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat langit sore yang mulai berubah warna.

“Mungkin gue terlalu menyederhanakan sesuatu yang nggak sederhana,” katanya pelan.

***

Setelah keluar dari rumah sakit, Arya mulai menerapkan pola makan baru. Ia mengurangi frekuensi makan, memberi jeda lebih panjang di antara waktu makan. Tanpa ia sadari, itu menyerupai pola puasa.

Ia mulai membaca, sesuatu yang jarang ia lakukan di luar pekerjaan. Artikel kesehatan, jurnal ringan, bahkan tulisan tentang manfaat puasa dari berbagai sudut pandang: medis, psikologis, hingga spiritual.

Ia tidak langsung berubah menjadi religius. Tapi ia mulai membuka ruang untuk kemungkinan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka.

Beberapa bulan berlalu. Tubuhnya terasa lebih sehat. Berat badannya turun sedikit, tapi lebih dari itu, pikirannya terasa lebih jernih.

Ia masih bekerja seperti biasa, tapi tidak lagi sekeras dulu. Ia mulai pulang lebih awal, sesekali mengunjungi ibunya di desa.

Suatu sore, ibunya berkata, “Kamu kelihatan beda, Ya.”

“Lebih tua?” Arya bercanda.

Ibunya tertawa kecil. “Lebih tenang.”

Arya tidak menyangkal.

***

Ketika Ramadhan berikutnya datang, Arya menghadapi sebuah keputusan.

Ia duduk di ruangannya, menatap kalender. Tanggal pertama Ramadhan ditandai dengan tinta merah.

Ia teringat semua yang pernah ia katakan: olokan, sinisme, argumen yang ia bangun dengan percaya diri.

Kini, semuanya terasa jauh.

Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul empat. Ia tidak langsung berdiri. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit. “Coba aja,” gumamnya.

Ia bangkit, pergi ke dapur, dan menyiapkan makanan sederhana. Tidak banyak, hanya cukup.

Ia makan perlahan, tanpa tergesa. Tidak ada ibunya yang membangunkan, tidak ada suasana ramai. Hanya dirinya sendiri, dan keputusan yang ia ambil.

Hari pertama puasa terasa panjang. Kantor tetap berjalan seperti biasa, tapi Arya merasakan setiap detik dengan cara yang berbeda. Ia lapar, tentu saja. Haus juga. Tapi kali ini, ia tidak melihatnya sebagai gangguan.

Ia mengamati.

Rasa lapar datang, lalu mereda. Rasa haus muncul, lalu bisa ditahan. Ia mulai memahami bahwa tubuhnya tidak serapuh yang ia kira.

Sore hari, menjelang berbuka, ia duduk diam di kursinya. Tidak ada pekerjaan mendesak. Ia hanya menunggu. Dan dalam penantian itu, ia merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan: semacam ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan euforia, bukan kebahagiaan yang meledak-ledak. Tapi stabil. Dalam. Seperti air yang tenang.

Saat azan maghrib terdengar, ia meneguk air pertama.

Air itu terasa… berbeda! Lebih segar, lebih berarti.

Arya tersenyum kecil. “Mungkin ini yang mereka maksud,” pikirnya.

***

Hari demi hari berlalu. Arya terus berpuasa.

Tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika ia hampir menyerah. Ada saat-saat ketika ia merasa lelah, kesal, bahkan mempertanyakan keputusannya.

Tapi setiap kali ia bertahan, ada sesuatu yang ia dapatkan kembali: kendali atas dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar. Tapi menunda. Mengelola. Menyadari.

Ia menjadi lebih sabar dalam bekerja. Lebih mendengar saat orang lain berbicara. Lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dimas memperhatikan perubahan itu.

“Gue nggak nyangka lo bisa sebulan penuh,” katanya suatu sore di minggu terakhir Ramadhan.

Arya tersenyum. “Gue juga.”

“Masih mikir ini cuma diet?”

Arya menggeleng pelan. “Kalau diet, gue pasti udah berhenti dari dulu. Ini… beda.”

“Bedanya apa?”

Arya berpikir sejenak, mencari kata yang tepat.

“Diet itu soal tubuh,” katanya akhirnya. “Ini… kayaknya juga soal yang lain. Pikiran, mungkin. Atau… sesuatu yang lebih dalam.”

Dimas mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

***

Hari terakhir Ramadhan tiba.

Arya duduk di balkon apartemennya, menatap langit malam. Angin berhembus pelan, membawa aroma yang sulit ia kenali.

Ia teringat dirinya setahun lalu: penuh sinisme, yakin dengan argumennya, menertawakan sesuatu yang tidak ia pahami.

Kini, ia tidak merasa lebih pintar. Justru sebaliknya. Ia merasa… lebih rendah hati.

“Gue salah,” katanya pelan, bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.

Bukan salah karena tidak berpuasa, tapi karena merasa sudah mengerti sesuatu tanpa pernah mencobanya.

Ia menutup matanya sejenak. Dalam gelap itu, ia menemukan sesuatu yang sederhana: keinginan untuk terus menjalani apa yang baru ia pelajari.

Bukan karena kewajiban semata, tapi karena ia merasakan manfaatnya.

Ketika bulan berganti, dan hari kembali seperti biasa, Arya tidak berhenti.

Ia tidak selalu berpuasa penuh, tapi ia tetap memberi ruang jeda dalam hidupnya. Ia menjaga ritme yang ia temukan selama Ramadhan.

Dan setiap kali ia merasakan lapar yang datang perlahan, ia tidak lagi mengeluh.

Ia tersenyum. Karena kini ia tahu: di balik rasa itu, ada sesuatu yang dulu tak pernah ia lihat: sebuah jalan kecil menuju dirinya sendiri.

 

Cilacap, 30 Ramadhan 1477 H / 20 Maret 2026

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular