Isnin, 6 April 2026

PUASA DAN PERBAHAN ARYA: Karya Warsono Abi Azzam

 

PUASA DAN PERBAHAN ARYA

Warsono Abi Azzam

 

Namanya Arya Pratama. Usianya mendekati empat puluh, bekerja sebagai konsultan logistik di sebuah perusahaan distribusi nasional di Semarang. Hidupnya teratur, nyaris terlalu teratur: bangun pagi tanpa doa, kopi hitam tanpa gula, sarapan cepat, lalu tenggelam dalam angka-angka, rute distribusi, dan efisiensi biaya. Ia menyukai hal-hal yang bisa dihitung dan diukur. Baginya, dunia adalah tabel besar yang harus dirapikan.

Ada satu hal yang tak pernah masuk dalam logika tabelnya: puasa.

“Puasa itu cuma ngirit versi Timur Tengah,” katanya suatu siang di kantor, saat bulan Ramadhan mulai mendekat. Ia duduk berselonjor di kursi, menatap rekan-rekannya yang sedang berdiskusi tentang jadwal buka bersama. “Diet ala Arab. Bungkusnya religius, tapi intinya ya sama: nahan makan.”

Beberapa rekan tertawa kecil, sebagian lain hanya saling pandang. Mereka sudah terbiasa dengan komentar Arya. Ia tidak pernah secara frontal menyerang, tapi selalu menyelipkan sinisme dalam kalimat yang terdengar santai.

“Ya nggak sesederhana itu, Ya,” ujar Dimas, salah satu staf yang cukup dekat dengannya. “Puasa bukan cuma soal makan.”

Arya mengangkat bahu. “Semua orang bilang begitu. Tapi ujung-ujungnya? Lapar, haus, nunggu adzan. Setelah itu makan, balas dendam. Secara biologis aja nggak efisien.”

“Bukan efisiensi yang dicari,” Dimas mencoba menjelaskan, tapi Arya sudah berdiri, mengambil jaketnya.

“Yang jelas, gue nggak tertarik. Kalau Tuhan butuh kita lapar dulu baru dianggap baik, menurut gue itu konsep yang aneh.”

Ia meninggalkan ruangan dengan langkah ringan, seolah baru saja menyimpulkan sebuah argumen yang tak terbantahkan.

***

Ramadhan datang seperti biasa: suara azan lebih ramai, warung-warung siang hari tertutup tirai, dan kantor sedikit lebih lengang menjelang sore. Arya tetap menjalani rutinitasnya. Ia tidak puasa, dan tidak merasa perlu menyembunyikannya.

Ia makan siang di ruangannya, dengan pintu setengah tertutup. Bukan karena malu, tapi lebih karena tidak ingin repot menjelaskan.

“Gue nggak hipokrit,” katanya suatu kali saat Dimas masuk tanpa mengetuk. “Kalau nggak puasa ya makan. Ngapain pura-pura?”

Dimas hanya mengangguk, meski dalam hatinya ada sesuatu yang mengganjal.

Di luar urusan puasa, hidup Arya berjalan mulus. Ia dikenal cerdas, cepat mengambil keputusan, dan berani. Tapi ada satu sisi yang jarang terlihat: ia mudah lelah, sulit tidur, dan sering mengalami nyeri perut yang datang tiba-tiba.

Awalnya ia mengabaikan. “Asam lambung,” katanya ringan. Ia membeli obat di apotek, minum sesekali, lalu kembali bekerja.

Namun suatu malam, rasa nyeri itu datang lebih kuat dari biasanya. Ia sedang sendirian di apartemennya, lantai tiga, di kawasan Banyumanik. Hujan turun deras, menampar kaca jendela dengan ritme yang tidak beraturan.

Arya terbangun dari tidurnya, menggenggam perutnya. Rasa perih menjalar dari ulu hati ke dada, seperti ada sesuatu yang mengikis dari dalam.

Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Nafasnya pendek-pendek.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa takut.

Dengan susah payah, ia meraih ponselnya dan menghubungi Dimas.

“Mas... bisa... ke sini?” suaranya parau.

Tak sampai tiga puluh menit, Dimas sudah tiba, bersama seorang tetangga Arya. Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

Diagnosis datang keesokan harinya: tukak lambung yang cukup parah, dengan indikasi harus dilakukan tindakan operasi kecil untuk mencegah komplikasi.

“Pak Arya harus menjalani puasa sebelum operasi,” kata dokter dengan nada profesional. “Minimal delapan jam tanpa makan dan minum.”

Arya mengernyit. “Puasa?”

“Dalam konteks medis, iya. Ini prosedur standar.”

Ia tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan. “Ironis ya, dok. Saya yang paling nggak suka puasa, malah disuruh puasa.”

Dokter hanya tersenyum tipis. “Anggap saja ini bagian dari terapi.”

Malam sebelum operasi, Arya duduk di ranjang rumah sakit, menatap infus yang menetes perlahan. Ia tidak makan sejak sore. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan operasi dijadwalkan pukul enam pagi.

Perutnya terasa kosong, tapi bukan sekadar lapar. Ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.

Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton televisi, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal: ia sedang berpuasa.

Untuk pertama kalinya.

Tanpa niat religius, tanpa keyakinan, hanya karena kebutuhan medis.

“Delapan jam doang,” gumamnya. “Nggak ada apa-apanya.”

Namun waktu berjalan lambat. Setiap menit terasa panjang. Ia mulai menyadari betapa seringnya ia mengunyah sesuatu, sekadar untuk mengisi waktu. Sekarang, tidak ada itu.

Ia hanya duduk, menunggu.

Dan dalam penantian itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi: ia mulai memperhatikan dirinya sendiri.

Detak jantungnya. Nafasnya. Rasa lapar yang naik turun seperti gelombang. Pikiran-pikiran yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, kini beralih ke hal-hal yang lebih sederhana.

Ia teringat ibunya.

Sudah lama sekali ia tidak pulang kampung. Ibunya di desa, hidup sederhana, rajin beribadah. Dulu, setiap Ramadhan, ibunya selalu membangunkannya untuk sahur.

“Ya, Arya, bangun. Makan dulu,” suara itu seperti bergema dari masa lalu.

Arya kecil sering mengeluh, malas bangun, malas makan. Tapi ibunya selalu sabar.

“Puasa itu bukan cuma nahan lapar,” kata ibunya suatu kali. “Tapi belajar sabar.”

Arya dewasa tersenyum miris. “Sabar buat apa?” ia pernah menjawab waktu itu.

Kini, di ranjang rumah sakit, ia mulai merasakan jawaban yang tak pernah ia cari.

***

Operasi berjalan lancar. Arya harus menjalani masa pemulihan beberapa hari di rumah sakit. Selama itu, dokter menyarankan pola makan teratur, porsi kecil, dan—yang membuat Arya terdiam—“puasa ringan” secara bertahap.

“Bukan puasa penuh seperti yang Anda bayangkan,” jelas dokter. “Tapi memberi jeda waktu bagi lambung untuk istirahat.”

Arya mengangguk, tapi dalam pikirannya, kata “puasa” mulai kehilangan nada sinisnya.

Hari pertama setelah operasi, ia hanya boleh minum cairan tertentu. Hari kedua, makanan lunak dalam jumlah kecil. Ia belajar menahan keinginan untuk makan lebih banyak.

Dan anehnya, ia tidak merasa tersiksa seperti yang ia bayangkan.

Sebaliknya, ada rasa ringan yang perlahan muncul. Tubuhnya terasa lebih stabil. Tidurnya lebih nyenyak.

“Gimana rasanya?” tanya Dimas saat menjenguk.

Arya berpikir sejenak. “Aneh,” katanya jujur. “Tapi… nggak buruk.”

“Masih mikir puasa itu diet ala Arab?” Dimas tersenyum.

Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap keluar jendela, melihat langit sore yang mulai berubah warna.

“Mungkin gue terlalu menyederhanakan sesuatu yang nggak sederhana,” katanya pelan.

***

Setelah keluar dari rumah sakit, Arya mulai menerapkan pola makan baru. Ia mengurangi frekuensi makan, memberi jeda lebih panjang di antara waktu makan. Tanpa ia sadari, itu menyerupai pola puasa.

Ia mulai membaca, sesuatu yang jarang ia lakukan di luar pekerjaan. Artikel kesehatan, jurnal ringan, bahkan tulisan tentang manfaat puasa dari berbagai sudut pandang: medis, psikologis, hingga spiritual.

Ia tidak langsung berubah menjadi religius. Tapi ia mulai membuka ruang untuk kemungkinan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan angka.

Beberapa bulan berlalu. Tubuhnya terasa lebih sehat. Berat badannya turun sedikit, tapi lebih dari itu, pikirannya terasa lebih jernih.

Ia masih bekerja seperti biasa, tapi tidak lagi sekeras dulu. Ia mulai pulang lebih awal, sesekali mengunjungi ibunya di desa.

Suatu sore, ibunya berkata, “Kamu kelihatan beda, Ya.”

“Lebih tua?” Arya bercanda.

Ibunya tertawa kecil. “Lebih tenang.”

Arya tidak menyangkal.

***

Ketika Ramadhan berikutnya datang, Arya menghadapi sebuah keputusan.

Ia duduk di ruangannya, menatap kalender. Tanggal pertama Ramadhan ditandai dengan tinta merah.

Ia teringat semua yang pernah ia katakan: olokan, sinisme, argumen yang ia bangun dengan percaya diri.

Kini, semuanya terasa jauh.

Pagi itu, ia bangun lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul empat. Ia tidak langsung berdiri. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit. “Coba aja,” gumamnya.

Ia bangkit, pergi ke dapur, dan menyiapkan makanan sederhana. Tidak banyak, hanya cukup.

Ia makan perlahan, tanpa tergesa. Tidak ada ibunya yang membangunkan, tidak ada suasana ramai. Hanya dirinya sendiri, dan keputusan yang ia ambil.

Hari pertama puasa terasa panjang. Kantor tetap berjalan seperti biasa, tapi Arya merasakan setiap detik dengan cara yang berbeda. Ia lapar, tentu saja. Haus juga. Tapi kali ini, ia tidak melihatnya sebagai gangguan.

Ia mengamati.

Rasa lapar datang, lalu mereda. Rasa haus muncul, lalu bisa ditahan. Ia mulai memahami bahwa tubuhnya tidak serapuh yang ia kira.

Sore hari, menjelang berbuka, ia duduk diam di kursinya. Tidak ada pekerjaan mendesak. Ia hanya menunggu. Dan dalam penantian itu, ia merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan: semacam ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan euforia, bukan kebahagiaan yang meledak-ledak. Tapi stabil. Dalam. Seperti air yang tenang.

Saat azan maghrib terdengar, ia meneguk air pertama.

Air itu terasa… berbeda! Lebih segar, lebih berarti.

Arya tersenyum kecil. “Mungkin ini yang mereka maksud,” pikirnya.

***

Hari demi hari berlalu. Arya terus berpuasa.

Tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika ia hampir menyerah. Ada saat-saat ketika ia merasa lelah, kesal, bahkan mempertanyakan keputusannya.

Tapi setiap kali ia bertahan, ada sesuatu yang ia dapatkan kembali: kendali atas dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar. Tapi menunda. Mengelola. Menyadari.

Ia menjadi lebih sabar dalam bekerja. Lebih mendengar saat orang lain berbicara. Lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dimas memperhatikan perubahan itu.

Gue nggak nyangka lo bisa sebulan penuh,” katanya suatu sore di minggu terakhir Ramadhan.

Arya tersenyum. “Gue juga.”

“Masih mikir ini cuma diet?”

Arya menggeleng pelan. “Kalau diet, gue pasti udah berhenti dari dulu. Ini… beda.”

“Bedanya apa?”

Arya berpikir sejenak, mencari kata yang tepat.

“Diet itu soal tubuh,” katanya akhirnya. “Ini… kayaknya juga soal yang lain. Pikiran, mungkin. Atau… sesuatu yang lebih dalam.”

Dimas mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

***

Hari terakhir Ramadhan tiba.

Arya duduk di balkon apartemennya, menatap langit malam. Angin berhembus pelan, membawa aroma yang sulit ia kenali.

Ia teringat dirinya setahun lalu: penuh sinisme, yakin dengan argumennya, menertawakan sesuatu yang tidak ia pahami.

Kini, ia tidak merasa lebih pintar. Justru sebaliknya. Ia merasa… lebih rendah hati.

Gue salah,” katanya pelan, bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.

Bukan salah karena tidak berpuasa, tapi karena merasa sudah mengerti sesuatu tanpa pernah mencobanya.

Ia menutup matanya sejenak. Dalam gelap itu, ia menemukan sesuatu yang sederhana: keinginan untuk terus menjalani apa yang baru ia pelajari.

Bukan karena kewajiban semata, tapi karena ia merasakan manfaatnya.

Ketika bulan berganti, dan hari kembali seperti biasa, Arya tidak berhenti.

Ia tidak selalu berpuasa penuh, tapi ia tetap memberi ruang jeda dalam hidupnya. Ia menjaga ritme yang ia temukan selama Ramadhan.

Dan setiap kali ia merasakan lapar yang datang perlahan, ia tidak lagi mengeluh.

Ia tersenyum. Karena kini ia tahu: di balik rasa itu, ada sesuatu yang dulu tak pernah ia lihat: sebuah jalan kecil menuju dirinya sendiri.

 

Cilacap, 30 Ramadhan 1477 H / 20 Maret 2026

Tiada ulasan:

TAKBIR BELANGGUR NYAMPLUNGAN: Karya Yusufachmad Bilintention

  Takbir Belanggur Nyamplungan   Menara Masjid Ampel menjulang, membelah langit Surabaya indah menawan. Di pelataran, jamaah berjeja...

Carian popular