PUASA DAN PERBAHAN ARYA
Warsono Abi Azzam
Namanya Arya Pratama. Usianya
mendekati empat puluh, bekerja sebagai konsultan logistik di sebuah perusahaan
distribusi nasional di Semarang. Hidupnya teratur, nyaris terlalu teratur:
bangun pagi tanpa doa, kopi hitam tanpa gula, sarapan cepat, lalu tenggelam
dalam angka-angka, rute distribusi, dan efisiensi biaya. Ia menyukai hal-hal
yang bisa dihitung dan diukur. Baginya, dunia adalah tabel besar yang harus
dirapikan.
Ada satu hal yang tak pernah masuk
dalam logika tabelnya: puasa.
“Puasa itu cuma ngirit versi Timur Tengah,”
katanya suatu siang di kantor, saat bulan Ramadhan mulai mendekat. Ia duduk
berselonjor di kursi, menatap rekan-rekannya yang sedang berdiskusi tentang
jadwal buka bersama. “Diet ala Arab. Bungkusnya religius, tapi intinya ya sama:
nahan makan.”
Beberapa rekan tertawa kecil,
sebagian lain hanya saling pandang. Mereka sudah terbiasa dengan komentar Arya.
Ia tidak pernah secara frontal menyerang, tapi selalu menyelipkan sinisme dalam
kalimat yang terdengar santai.
“Ya nggak sesederhana itu, Ya,” ujar
Dimas, salah satu staf yang cukup dekat dengannya. “Puasa bukan cuma soal
makan.”
Arya mengangkat bahu. “Semua orang
bilang begitu. Tapi ujung-ujungnya? Lapar, haus, nunggu adzan. Setelah itu
makan, balas dendam. Secara biologis aja nggak efisien.”
“Bukan efisiensi yang dicari,” Dimas
mencoba menjelaskan, tapi Arya sudah berdiri, mengambil jaketnya.
“Yang jelas, gue nggak tertarik.
Kalau Tuhan butuh kita lapar dulu baru dianggap baik, menurut gue itu konsep
yang aneh.”
Ia meninggalkan ruangan dengan langkah
ringan, seolah baru saja menyimpulkan sebuah argumen yang tak terbantahkan.
***
Ramadhan datang seperti biasa: suara
azan lebih ramai, warung-warung siang hari tertutup tirai, dan kantor sedikit
lebih lengang menjelang sore. Arya tetap menjalani rutinitasnya. Ia tidak
puasa, dan tidak merasa perlu menyembunyikannya.
Ia makan siang di ruangannya, dengan
pintu setengah tertutup. Bukan karena malu, tapi lebih karena tidak ingin repot
menjelaskan.
“Gue nggak hipokrit,” katanya suatu
kali saat Dimas masuk tanpa mengetuk. “Kalau nggak puasa ya makan. Ngapain
pura-pura?”
Dimas hanya mengangguk, meski dalam
hatinya ada sesuatu yang mengganjal.
Di luar urusan puasa, hidup Arya
berjalan mulus. Ia dikenal cerdas, cepat mengambil keputusan, dan berani. Tapi
ada satu sisi yang jarang terlihat: ia mudah lelah, sulit tidur, dan sering
mengalami nyeri perut yang datang tiba-tiba.
Awalnya ia mengabaikan. “Asam
lambung,” katanya ringan. Ia membeli obat di apotek, minum sesekali, lalu
kembali bekerja.
Namun suatu malam, rasa nyeri itu
datang lebih kuat dari biasanya. Ia sedang sendirian di apartemennya, lantai
tiga, di kawasan Banyumanik. Hujan turun deras, menampar kaca jendela dengan
ritme yang tidak beraturan.
Arya terbangun dari tidurnya,
menggenggam perutnya. Rasa perih menjalar dari ulu hati ke dada, seperti ada
sesuatu yang mengikis dari dalam.
Ia mencoba berdiri, tapi kakinya
lemas. Nafasnya pendek-pendek.
Untuk pertama kalinya dalam waktu
lama, ia merasa takut.
Dengan susah payah, ia meraih
ponselnya dan menghubungi Dimas.
“Mas... bisa... ke sini?” suaranya
parau.
Tak sampai tiga puluh menit, Dimas
sudah tiba, bersama seorang tetangga Arya. Mereka membawanya ke rumah sakit
terdekat.
***
Diagnosis datang keesokan harinya:
tukak lambung yang cukup parah, dengan indikasi harus dilakukan tindakan
operasi kecil untuk mencegah komplikasi.
“Pak Arya harus menjalani puasa
sebelum operasi,” kata dokter dengan nada profesional. “Minimal delapan jam
tanpa makan dan minum.”
Arya mengernyit. “Puasa?”
“Dalam konteks medis, iya. Ini
prosedur standar.”
Ia tertawa kecil, meski terdengar
dipaksakan. “Ironis ya, dok. Saya yang paling nggak suka puasa, malah disuruh
puasa.”
Dokter hanya tersenyum tipis. “Anggap
saja ini bagian dari terapi.”
Malam sebelum operasi, Arya duduk di ranjang
rumah sakit, menatap infus yang menetes perlahan. Ia tidak makan sejak sore.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan operasi dijadwalkan pukul enam pagi.
Perutnya terasa kosong, tapi bukan
sekadar lapar. Ada rasa hampa yang sulit dijelaskan.
Ia mencoba mengalihkan perhatian
dengan menonton televisi, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal: ia
sedang berpuasa.
Untuk pertama kalinya.
Tanpa niat religius, tanpa keyakinan,
hanya karena kebutuhan medis.
“Delapan jam doang,” gumamnya. “Nggak
ada apa-apanya.”
Namun waktu berjalan lambat. Setiap
menit terasa panjang. Ia mulai menyadari betapa seringnya ia mengunyah sesuatu,
sekadar untuk mengisi waktu. Sekarang, tidak ada itu.
Ia hanya duduk, menunggu.
Dan dalam penantian itu, sesuatu yang
aneh mulai terjadi: ia mulai memperhatikan dirinya sendiri.
Detak jantungnya. Nafasnya. Rasa
lapar yang naik turun seperti gelombang. Pikiran-pikiran yang biasanya sibuk
dengan pekerjaan, kini beralih ke hal-hal yang lebih sederhana.
Ia teringat ibunya.
Sudah lama sekali ia tidak pulang
kampung. Ibunya di desa, hidup sederhana, rajin beribadah. Dulu, setiap
Ramadhan, ibunya selalu membangunkannya untuk sahur.
“Ya, Arya, bangun. Makan dulu,” suara
itu seperti bergema dari masa lalu.
Arya kecil sering mengeluh, malas
bangun, malas makan. Tapi ibunya selalu sabar.
“Puasa itu bukan cuma nahan lapar,”
kata ibunya suatu kali. “Tapi belajar sabar.”
Arya dewasa tersenyum miris. “Sabar
buat apa?” ia pernah menjawab waktu itu.
Kini, di ranjang rumah sakit, ia
mulai merasakan jawaban yang tak pernah ia cari.
***
Operasi berjalan lancar. Arya harus
menjalani masa pemulihan beberapa hari di rumah sakit. Selama itu, dokter
menyarankan pola makan teratur, porsi kecil, dan—yang membuat Arya
terdiam—“puasa ringan” secara bertahap.
“Bukan puasa penuh seperti yang Anda
bayangkan,” jelas dokter. “Tapi memberi jeda waktu bagi lambung untuk
istirahat.”
Arya mengangguk, tapi dalam
pikirannya, kata “puasa” mulai kehilangan nada sinisnya.
Hari pertama setelah operasi, ia
hanya boleh minum cairan tertentu. Hari kedua, makanan lunak dalam jumlah
kecil. Ia belajar menahan keinginan untuk makan lebih banyak.
Dan anehnya, ia tidak merasa tersiksa
seperti yang ia bayangkan.
Sebaliknya, ada rasa ringan yang
perlahan muncul. Tubuhnya terasa lebih stabil. Tidurnya lebih nyenyak.
“Gimana rasanya?” tanya Dimas saat
menjenguk.
Arya berpikir sejenak. “Aneh,”
katanya jujur. “Tapi… nggak buruk.”
“Masih mikir puasa itu diet ala
Arab?” Dimas tersenyum.
Arya tidak langsung menjawab. Ia
menatap keluar jendela, melihat langit sore yang mulai berubah warna.
“Mungkin gue terlalu menyederhanakan
sesuatu yang nggak sederhana,” katanya pelan.
***
Setelah keluar dari rumah sakit, Arya
mulai menerapkan pola makan baru. Ia mengurangi frekuensi makan, memberi jeda
lebih panjang di antara waktu makan. Tanpa ia sadari, itu menyerupai pola puasa.
Ia mulai membaca, sesuatu yang jarang
ia lakukan di luar pekerjaan. Artikel kesehatan, jurnal ringan, bahkan tulisan
tentang manfaat puasa dari berbagai sudut pandang: medis, psikologis, hingga
spiritual.
Ia tidak langsung berubah menjadi
religius. Tapi ia mulai membuka ruang untuk kemungkinan bahwa ada hal-hal yang
tidak bisa diukur dengan angka.
Beberapa bulan berlalu. Tubuhnya
terasa lebih sehat. Berat badannya turun sedikit, tapi lebih dari itu,
pikirannya terasa lebih jernih.
Ia masih bekerja seperti biasa, tapi
tidak lagi sekeras dulu. Ia mulai pulang lebih awal, sesekali mengunjungi
ibunya di desa.
Suatu sore, ibunya berkata, “Kamu
kelihatan beda, Ya.”
“Lebih tua?” Arya bercanda.
Ibunya tertawa kecil. “Lebih tenang.”
Arya tidak menyangkal.
***
Ketika Ramadhan berikutnya datang, Arya
menghadapi sebuah keputusan.
Ia duduk di ruangannya, menatap
kalender. Tanggal pertama Ramadhan ditandai dengan tinta merah.
Ia teringat semua yang pernah ia
katakan: olokan, sinisme, argumen yang ia bangun dengan percaya diri.
Kini, semuanya terasa jauh.
Pagi itu, ia bangun lebih awal dari
biasanya. Jam menunjukkan pukul empat. Ia tidak langsung berdiri. Ia hanya
berbaring, menatap langit-langit. “Coba aja,” gumamnya.
Ia bangkit, pergi ke dapur, dan menyiapkan
makanan sederhana. Tidak banyak, hanya cukup.
Ia makan perlahan, tanpa tergesa.
Tidak ada ibunya yang membangunkan, tidak ada suasana ramai. Hanya dirinya
sendiri, dan keputusan yang ia ambil.
Hari pertama puasa terasa panjang.
Kantor tetap berjalan seperti biasa, tapi Arya merasakan setiap detik dengan
cara yang berbeda. Ia lapar, tentu saja. Haus juga. Tapi kali ini, ia tidak
melihatnya sebagai gangguan.
Ia mengamati.
Rasa lapar datang, lalu mereda. Rasa
haus muncul, lalu bisa ditahan. Ia mulai memahami bahwa tubuhnya tidak serapuh
yang ia kira.
Sore hari, menjelang berbuka, ia
duduk diam di kursinya. Tidak ada pekerjaan mendesak. Ia hanya menunggu. Dan
dalam penantian itu, ia merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan: semacam
ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan euforia, bukan
kebahagiaan yang meledak-ledak. Tapi stabil. Dalam. Seperti air yang tenang.
Saat azan maghrib terdengar, ia
meneguk air pertama.
Air itu terasa… berbeda! Lebih segar,
lebih berarti.
Arya tersenyum kecil. “Mungkin ini
yang mereka maksud,” pikirnya.
***
Hari demi hari berlalu. Arya terus
berpuasa.
Tidak selalu mudah. Ada hari-hari
ketika ia hampir menyerah. Ada saat-saat ketika ia merasa lelah, kesal, bahkan
mempertanyakan keputusannya.
Tapi setiap kali ia bertahan, ada
sesuatu yang ia dapatkan kembali: kendali atas dirinya sendiri. Ia mulai
memahami bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar. Tapi menunda. Mengelola.
Menyadari.
Ia menjadi lebih sabar dalam bekerja.
Lebih mendengar saat orang lain berbicara. Lebih berhati-hati dalam mengambil
keputusan.
Dimas memperhatikan perubahan itu.
“Gue nggak nyangka lo
bisa sebulan penuh,” katanya suatu sore di minggu terakhir Ramadhan.
Arya tersenyum. “Gue juga.”
“Masih mikir ini cuma diet?”
Arya menggeleng pelan. “Kalau diet,
gue pasti udah berhenti dari dulu. Ini… beda.”
“Bedanya apa?”
Arya berpikir sejenak, mencari kata
yang tepat.
“Diet itu soal tubuh,” katanya
akhirnya. “Ini… kayaknya juga soal yang lain. Pikiran, mungkin. Atau… sesuatu
yang lebih dalam.”
Dimas mengangguk, tanpa perlu
penjelasan lebih lanjut.
***
Hari terakhir Ramadhan tiba.
Arya duduk di balkon apartemennya,
menatap langit malam. Angin berhembus pelan, membawa aroma yang sulit ia
kenali.
Ia teringat dirinya setahun lalu:
penuh sinisme, yakin dengan argumennya, menertawakan sesuatu yang tidak ia
pahami.
Kini, ia tidak merasa lebih pintar.
Justru sebaliknya. Ia merasa… lebih rendah hati.
“Gue salah,” katanya pelan,
bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.
Bukan salah karena tidak berpuasa,
tapi karena merasa sudah mengerti sesuatu tanpa pernah mencobanya.
Ia menutup matanya sejenak. Dalam
gelap itu, ia menemukan sesuatu yang sederhana: keinginan untuk terus menjalani
apa yang baru ia pelajari.
Bukan karena kewajiban semata, tapi
karena ia merasakan manfaatnya.
Ketika bulan berganti, dan hari
kembali seperti biasa, Arya tidak berhenti.
Ia tidak selalu berpuasa penuh, tapi
ia tetap memberi ruang jeda dalam hidupnya. Ia menjaga ritme yang ia temukan
selama Ramadhan.
Dan setiap kali ia merasakan lapar
yang datang perlahan, ia tidak lagi mengeluh.
Ia tersenyum. Karena kini ia tahu: di
balik rasa itu, ada sesuatu yang dulu tak pernah ia lihat: sebuah jalan kecil
menuju dirinya sendiri.
Cilacap, 30 Ramadhan 1477 H / 20 Maret
2026
Tiada ulasan:
Catat Ulasan