Takbir Belanggur
Nyamplungan
Menara Masjid
Ampel menjulang,
membelah langit
Surabaya indah menawan.
Di pelataran,
jamaah berjejal tanpa aturan,
sajadahku menutup
rumput dingin,
takbir
berkumandang iringi Lebaran.
Namun sebelum itu,
riuh Nyamplungan bergetar.
Telinga kampung
menanti denting bambu,
belanggur yang
meletus tujuh kali,
membatalkan lapar,
menggetarkan dada
yang sabar.
Suara itu bukan
sekadar tanda,
ia adalah gong
bambu yang memukul jiwa,
menyulut tawa
anak-anak berlari,
menyulam riuh
remaja menanti,
menyentuh senyum
orang tua yang pasrah.
Belanggur
Nyamplungan adalah irama:
merdu, sederhana,
ramai tanpa pesta,
tulus tanpa
gemerlap,
jujur membahana.
Belanggur yang
jujur membahana,
kini mulai jarang
terdengar,
diganti jam
digital,
diganti pengeras
suara azan.
Namun di serambi
ingatan,
belanggur masih
hidup.
Ia menjadi gema
yang tak tergantikan,
menjadi cahaya
yang menancap di jiwa.
Mengawal Ramadan
di Nyamplungan sederhana:
tanpa sorak pesta,
tanpa lampu kristal,
hanya denting
bambu,
hanya kebersamaan.
Meski bambu kini
diam,
dentumnya tetap
memadamkan dahaga,
menyinari doa,
menjadi wangi kesetiaan
yang tak pernah
hilang dari kampungku.
Belanggur mungkin
diam,
tapi takbir di
Nyamplungan
tetap hidup di
dada kami.
Biodata Singkat
Nama Pena: Yusufachmad Bilintention
Asal: Nyamplungan, Surabaya, Indonesia
Aktivitas: Penyair dan penulis cerpen,
aktif di komunitas sastra digital dan lokal.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan