Isnin, 6 April 2026

TAKBIR BELANGGUR NYAMPLUNGAN: Karya Yusufachmad Bilintention

 

Takbir Belanggur Nyamplungan

 

Menara Masjid Ampel menjulang,

membelah langit Surabaya indah menawan.

Di pelataran, jamaah berjejal tanpa aturan,

sajadahku menutup rumput dingin,

takbir berkumandang iringi Lebaran.

 

Namun sebelum itu, riuh Nyamplungan bergetar.

Telinga kampung menanti denting bambu,

belanggur yang meletus tujuh kali,

membatalkan lapar,

menggetarkan dada yang sabar.

 

Suara itu bukan sekadar tanda,

ia adalah gong bambu yang memukul jiwa,

menyulut tawa anak-anak berlari,

menyulam riuh remaja menanti,

menyentuh senyum orang tua yang pasrah.

 

Belanggur Nyamplungan adalah irama:

merdu, sederhana,

ramai tanpa pesta,

tulus tanpa gemerlap,

jujur membahana.

 

Belanggur yang jujur membahana,

kini mulai jarang terdengar,

diganti jam digital,

diganti pengeras suara azan.

Namun di serambi ingatan,

belanggur masih hidup.

 

Ia menjadi gema yang tak tergantikan,

menjadi cahaya yang menancap di jiwa.

Mengawal Ramadan di Nyamplungan sederhana:

tanpa sorak pesta, tanpa lampu kristal,

 

hanya denting bambu,

hanya kebersamaan.

Meski bambu kini diam,

dentumnya tetap memadamkan dahaga,

menyinari doa, menjadi wangi kesetiaan

yang tak pernah hilang dari kampungku.

  

Belanggur mungkin diam,

tapi takbir di Nyamplungan

tetap hidup di dada kami.

 

  

 

Biodata Singkat

Nama Pena: Yusufachmad Bilintention

Asal: Nyamplungan, Surabaya, Indonesia

Aktivitas: Penyair dan penulis cerpen, aktif di komunitas sastra digital dan lokal.

Tiada ulasan:

TAKBIR BELANGGUR NYAMPLUNGAN: Karya Yusufachmad Bilintention

  Takbir Belanggur Nyamplungan   Menara Masjid Ampel menjulang, membelah langit Surabaya indah menawan. Di pelataran, jamaah berjeja...

Carian popular