Suara dari Kubur yang Hidup
Karya: Nelly Amalia
Malam di tanahmu, Palestina,
bukanlah malam
ia adalah kuburan terbuka,
dipenuhi tubuh kecil yang belum sempat dewasa,
ibu-ibu yang tak sempat menutup mata anaknya,
ayah-ayah yang terhenti di antara doa dan peluru.
Jeritanmu bukan lagi suara,
ia berubah menjadi sungai darah yang mengalir menembus batu, menyeret doa-doa ke dalam kegelapan,
dan membuat langit menangis dengan air mata yang berbau mesiu.
Aku melihat bayi yang terlelap,
bukan di buaian,
tetapi di pelukan maut.
Aku mendengar takbir bergema,
bukan dari masjid,
tetapi dari tenggorokan yang dipaksa bisu oleh debu.
O, Palestina… betapa tragis engkau dijadikan panggung,
di mana kemanusiaan disalib,
dan dunia menonton tanpa gemetar.
Setiap rumahmu runtuh seperti doa yang patah,
setiap tubuhmu rebah seperti ayat yang dicabut paksa,
dan setiap tangisanmu menjadi gema yang mengoyak dada, menorehkan rasa cemas yang tak mampu diusir oleh waktu.
Apakah dunia menutup matanya?
Atau nurani telah mati sebelum ditembakkan?
Karena deritamu begitu nyata,
namun terasa bagai mimpi buruk yang tak ingin diakui siapa pun.
Suara untukmu,
Palestina,
adalah ratapan yang tak sanggup padam,
adalah darah yang menulis sejarah di pasir,
adalah kengerian yang membuat manusia merinding setiap kali mengingat betapa keadilan bisa sehening kubur.
2025