TANGISNYA
Karya: Riyan Rana
Tangis itu tak keluar dari mata ia merembes dari reruntuhan Gaza, menyelinap lewat kawat berduri, mengikuti jejak tank di jalan sekolah, menyeret boneka yang tak lagi punya pemilik.
Tangis itu tak bersuara hanya bergema dari rumah yang runtuh, dari ambulans yang menembus tumpukan tulang, dari toa masjid yang retak, dari mushaf yang terbakar bersama malam.
Satu luka menyalakan seribu perih. Satu duka menyalakan semesta derita. Di tenda pengungsian, ada ayah yang menelan doanya sendiri, ada anak yang menatap roti seperti menatap mimpi, ada setetes air yang lebih berharga dari emas.
Wahai engkau, penjaga cinta di langit yang pecah oleh bom, percayalah meski dunia menutup mata, meski bumi ini jadi penjara tanpa kunci, tangismu adalah taman rahasia tempat surga disemai dari tubuhmu yang berserakan.
Tak ada tangis yang sia-sia. Setiap tetes suara adalah saksi, bahwa bumi pernah disirami darah sabar, bahwa langit pernah menggendong ruh-ruh syahid.
Di tanah itu, jeritan adalah jantung berdenyut di balik kabut mesiu, tak pernah hilang, bahkan ketika dunia kehilangan kata-kata.
Pantura Madura, 13/09/2025

Tiada ulasan:
Catat Ulasan