Khamis, 9 Oktober 2025

 SERUAN KEDAMAIAN

Karya: Nus Pariama


Hanya oleh kabar hati kian terpana

Bahkan oleh berita jiwa seakan merana

Mungkinkah luas jeritan disana?

Sungguh kabar tak bisu untuk bersuara

Biar dunia tahu dan besua damai


Bak sebutir tanah yang diinjak-injak

Ladang permai masih terus berujung asap

Kebaikan kian dibalas dengan serpihan kaca

Hingga cuatan darah kian bersarang


Dunia, janganlah kau terus berkicau

Seakan semua baik-baik saja

Padahal banyak airmata yang terurai 

Di tanah palestina yang bagaikan neraka


Tak tahukah engkau bahwa itu celaka

Jika Allah hendak menantang?

Tidak sadarkah engkau bahwa itu salah?

Jika bahagia berujung karma?


Jangan hadirkan angin jika ingin bersenang

Karena jiwa bukan mainan untuk dibajak

Kedamaian adalah akta kebenaran

Dan tidak perlu untuk diperjual-belikan


Jualan tak bersabar niscaya akan kalah

Jika panji kezaliman sudah patah disana

Dan kesalahan akan menuai penghukuman

Jika kesadaran tiada mau bersuara


Pernahkah engkau merasa

Bahwa kecil dan besar sering bertanya?

Apa gerangan engkau menyerang

Sedangkan mereka tiada bersalah?


Kini kusadar sepertinya engkau serakah

Karena manis berlum tentu nyaman

Dan jeritan - tangis belum tentu salah

Bertobatlah sebelum semua bertambah parah

Biarlah palestina menjadi bangsa yang jaya

Di atas kegilaan yang harus dihentikan


TANAH YANG MASIH BERNYAWA

Karya: Pasidah Rahmat


Di tanah itu

Setiap pagi bukan lagi tentang matahari

Tetapi tentang siapa yang masih hidup


Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur

Ada suara

Kecil serak tapi nyata

“Ibu, saya di sini.”


Namun tiada jawapan

Hanya debu

Dan bau besi yang memenuhi udara


Langit Palestine

Bukan sekadar langit

Ia adalah luka yang terbuka

Tempat doa bergaul dengan asap

Dan setiap bintang membawa nama yang hilang


Yusuf duduk di tepi dinding yang retak

Memegang beg sekolah koyak

Menyimpan pensil terakhir

Seolah-olah itu senjata suci


Dia menulis di tanah

‘Aku menjadi doktor’

Dan huruf-huruf itu hilang

Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur


Tetapi di dalam dadanya

Masih ada cahaya kecil

Yang tidak pernah padam


Di seberang jalan

Seorang wanita tua menadah langit

Memanggil nama anaknya

Seperti memanggil matahari

Tiap kali serpihan batu jatuh

Dia berkata perlahan

“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”


Begitulah manusia di tanah ini

Mereka menanam harapan di celah runtuhan

Dan menyiramnya dengan air mata


Mereka tahu

Bumi ini bukan sekadar tanah

Tetapi nadi

Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit


Dan malam

Ah …. Malam di Palestine

Adalah taman doa dan tangisan

Di mana setiap ibu menjadi penyair

Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan


Namun dari jauh

Ketika fajar merangkak di ufuk

Kau boleh dengar sesuatu

Suara kecil yang menyebut nama Tuhan

Dengan yakin yang tidak pernah gugur


“Allah bersama kami.”

Suara itu naik ke langit

Menembusi asap, menembusi ngeri

Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi


Palestine

Bukan kisah tentang perang

Tetapi tentang manusia yang terus hidup

Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas


Dan dari setiap reruntuhan

Akan tumbuh satu bunga kecil

Bukan merah bukan putih

Tetapi warna doa


Kerana di tanah yang masih bernyawa ini

Kemanusiaan tidak pernah mati

Ia hanya menunggu dunia

Untuk kembali membuka mata


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


 DARI JAUH AKU MELIHAT

Karya: Pasidah Rahmat


Dari jauh

Aku melihat Palestine

Bukan dari jendela rumahku

Tetapi dari layar kaca

Yang menyiarkan tangisan dalam warna


Aku melihat anak-anak

Bermain di bawah langit yang retak

Dan aku menonton

Seperti menonton filem

Yang tiada penghujung



Aku meneguk kopi pagi

Sementara mereka meneguk debu

Aku berkata “kasihan,”

Lalu menatal ke bawah

Mencari berita lain


Betapa mudahnya simpati ini

Lahir dan mati dalam detik


Dunia penuh suara

Tapi tiada yang benar-benar mendengar

Kita menulis “Pray for Palestine,”

Di ruang maya yang sunyi

Sedang di bumi mereka

Sedang di bumi mereka

Doa itu dibayar dengan nyawa


Aku tertanya

Apakah ertinya menjadi manusia

Kalau hanya mampu memandang derita

Tanpa berbuat apa-apa?


Mereka kehilangan rumah

Aku kehilangan rumah

Aku kehilangan kata

Mereka menaman zaitun di tanah terbakar

Aku menanam rasa bersalah

Di hati yang semakin beku

Namun setiap kali aku menatap wajah mereka

Anak kecil memeluk roti separuh hangus

Ibu yang mengangkat tubuh tanpa nyawa

Lelaki tua yang masih sujud di bawah langit terbuka

Aku tahu

Aku sedang memandang wajah sebenar ketabahan


Mereka mengajar dunia

Erti berdiri tanpa tanah

Erti berharap tanpa janji

Erti cinta yang tidak meminta balasan



Dan aku

Orang luar yang hanya mampu menulis

Berjanji pada sehelai kertas

Akan ku teruskan kisah mereka

Selagi tinta masih mengalir

Selagi matahari belum letih memandang bumi


Kerana suatu hari nanti

Bila dunia ini benar-benar tenang

Aku mahu berkata pada diriku sendiri

Aku tidak hanya melihat

Aku pernah peduli


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


AKU DATANG KE SEMPADAN

Karya: Pasidah Rahmat


Suatu hari

Aku datang ke sempadan

Langitnya masih sama

Berdebu birunya pudar

Namun udara di sini

Mengandungi sesuatu

Yang tidak wujud di tempat lain

Bau kehilangan yang suci


Aku melihat sendiri

Bagaimana bumi boleh bernafas dalam derita

Bagaimana manusia boleh tersenyum

Walau setiap langkahnya memijak kaca


Di hadapan sebuah khemah lusuh

Seorang kanak-kanak menulis di pasir

Bukan huruf

Tetapi nama-nama yang ingin diingatkan dunia

Namanya Mariam

Dia berkata kepadaku

“Kakak, bila langit tenang

Saya akan jadi guru.”


Aku terdiam

Langit tidak pernah tenang di sini

Tetapi dalam matanya

Aku nampak sebuah sekolah kecil yang masih hidup

Dibina dari harapan

Bukan batu


Di masjid yang tinggal separuh dinding

Iman tua mengangkat tangan

Doanya panjang

Bukan meminta hujan

Tetapi meminta dunia mendengar

Aku berdiri di belakangnya

Terasa kecil di hadapan iman sebesar langit


Ketika malam turun

Aku duduk di tepi khemah

Dikelilingi kanak-kanak yang ketawa

Yanpa memahami perang sepenuhnya

Aku malu pada mereka

Pada ketabahan yang tidak aku miliki


Di luar sempadan

Dunia sibuk dengan urusan sendiri

Di dalam sini

Masa diukur dengan dentuman

Bukan jam


Aku menulis lagi

Kali ini bukan tentang simpati

Tetapi tentang saksi

Kerana setelah melihat

Aku tidak lagi orang luar


Aku telah disentuh oleh tanah ini

Oleh tangan kecil yang memegang jari aku

Oleh wajah ibu yang berkata lembut

“Jangan lupa kami bila pulang.”


Dan aku tahu

Aku tidak akan lupa


Kearan Palestine bukan lagi berita

Bukan lagi peta

Tetapi cermin

Di dalamnya aku melihat

Segala yang masih manusia dalam diriku


Kini bila aku pulang

Aku tidak hanya berkata

Aku melihat

Tetapi aku menyaksikan


Dan dalam setiap degup jantung

Aku dengar gema itu

Suara bumi yang masih bernyawa

Masih menunggu dunia

Untuk menjadi manusia semula


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025

 PALESTINA OH PALESTINA

Karya: MOHAMAD II WAHYUDIN


Pagi ini sarapan kita apa?

Siang ini lunch kita dimana?

Malam ini dinner kita siapa?

Sungguh... Pertanyaan-pertanyaan hedonis 

Pertanyaan-pertanyaan memalukan


Pernahkah kita bertanya

Apa kabar Palestina? Pasca pengumuman kemerdekaan oleh PBB 

Adakah yang membantu recovery sosial di Palestina?

Adakah yang mengobati luka psikologi anak-anak Palestina?

Adakah yang sudi memapah anak-anak Palestina menuju masa depan mereka?

Kitakah..???

Mengapa diam???


Mana ukhuwwah yang dulu pernah ditanamkan oleh nabi Muhammad di dalam jiwa Muhajirin dan Anshar?

Mana metapora indah seperti satu tubuh yang digambarkan nabi dalam haditsnya?

Keberpihakan kita hari ini, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah..

Jika tak memberi solusi apapun, maka janganlah engkau menyakiti mereka

Mereka adalah saudara kita yang tidak akan pernah putus hubungannya bahkan oleh kematian sekalipun...

Apa Kabar Palestina???

Maafkan kami yang sering lupa pada nasib kalian...



Bumi Al-Kautsar 2025






BILA PALESTINA MERDEKA

KOMARIAH UMI AL-KAUTSAR


Bila jerit pilu dan rintihan 

berganti dengan keriangan 

bak anak-anak mengejar layangan

Merdeka Palestina


Bila dering rocket dan lesat meriam 

berganti cahaya kembang api

saat menyambut tahun baru

Merdeka Palestina


Walau suaraku belum sampai di negerimu

Dan langkahku belum menapak di tanahmu

Walau do’a kemerdekaan belum terkabul untukmu

Ada harapan kedaulatan terus bergema 

sampai ke Arsy-Nya

Merdeka Palestina



Bumi Al-Kautsar 2025  

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular