TANAH YANG MASIH BERNYAWA
Karya: Pasidah Rahmat
Di tanah itu
Setiap pagi bukan lagi tentang matahari
Tetapi tentang siapa yang masih hidup
Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur
Ada suara
Kecil serak tapi nyata
“Ibu, saya di sini.”
Namun tiada jawapan
Hanya debu
Dan bau besi yang memenuhi udara
Langit Palestine
Bukan sekadar langit
Ia adalah luka yang terbuka
Tempat doa bergaul dengan asap
Dan setiap bintang membawa nama yang hilang
Yusuf duduk di tepi dinding yang retak
Memegang beg sekolah koyak
Menyimpan pensil terakhir
Seolah-olah itu senjata suci
Dia menulis di tanah
‘Aku menjadi doktor’
Dan huruf-huruf itu hilang
Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur
Tetapi di dalam dadanya
Masih ada cahaya kecil
Yang tidak pernah padam
Di seberang jalan
Seorang wanita tua menadah langit
Memanggil nama anaknya
Seperti memanggil matahari
Tiap kali serpihan batu jatuh
Dia berkata perlahan
“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”
Begitulah manusia di tanah ini
Mereka menanam harapan di celah runtuhan
Dan menyiramnya dengan air mata
Mereka tahu
Bumi ini bukan sekadar tanah
Tetapi nadi
Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit
Dan malam
Ah …. Malam di Palestine
Adalah taman doa dan tangisan
Di mana setiap ibu menjadi penyair
Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan
Namun dari jauh
Ketika fajar merangkak di ufuk
Kau boleh dengar sesuatu
Suara kecil yang menyebut nama Tuhan
Dengan yakin yang tidak pernah gugur
“Allah bersama kami.”
Suara itu naik ke langit
Menembusi asap, menembusi ngeri
Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi
Palestine
Bukan kisah tentang perang
Tetapi tentang manusia yang terus hidup
Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas
Dan dari setiap reruntuhan
Akan tumbuh satu bunga kecil
Bukan merah bukan putih
Tetapi warna doa
Kerana di tanah yang masih bernyawa ini
Kemanusiaan tidak pernah mati
Ia hanya menunggu dunia
Untuk kembali membuka mata
Pasidah Rahmat
Fajar, Singapura
8 Okt 2025
Tiada ulasan:
Catat Ulasan