Khamis, 9 Oktober 2025

TANAH YANG MASIH BERNYAWA

Karya: Pasidah Rahmat


Di tanah itu

Setiap pagi bukan lagi tentang matahari

Tetapi tentang siapa yang masih hidup


Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur

Ada suara

Kecil serak tapi nyata

“Ibu, saya di sini.”


Namun tiada jawapan

Hanya debu

Dan bau besi yang memenuhi udara


Langit Palestine

Bukan sekadar langit

Ia adalah luka yang terbuka

Tempat doa bergaul dengan asap

Dan setiap bintang membawa nama yang hilang


Yusuf duduk di tepi dinding yang retak

Memegang beg sekolah koyak

Menyimpan pensil terakhir

Seolah-olah itu senjata suci


Dia menulis di tanah

‘Aku menjadi doktor’

Dan huruf-huruf itu hilang

Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur


Tetapi di dalam dadanya

Masih ada cahaya kecil

Yang tidak pernah padam


Di seberang jalan

Seorang wanita tua menadah langit

Memanggil nama anaknya

Seperti memanggil matahari

Tiap kali serpihan batu jatuh

Dia berkata perlahan

“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”


Begitulah manusia di tanah ini

Mereka menanam harapan di celah runtuhan

Dan menyiramnya dengan air mata


Mereka tahu

Bumi ini bukan sekadar tanah

Tetapi nadi

Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit


Dan malam

Ah …. Malam di Palestine

Adalah taman doa dan tangisan

Di mana setiap ibu menjadi penyair

Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan


Namun dari jauh

Ketika fajar merangkak di ufuk

Kau boleh dengar sesuatu

Suara kecil yang menyebut nama Tuhan

Dengan yakin yang tidak pernah gugur


“Allah bersama kami.”

Suara itu naik ke langit

Menembusi asap, menembusi ngeri

Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi


Palestine

Bukan kisah tentang perang

Tetapi tentang manusia yang terus hidup

Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas


Dan dari setiap reruntuhan

Akan tumbuh satu bunga kecil

Bukan merah bukan putih

Tetapi warna doa


Kerana di tanah yang masih bernyawa ini

Kemanusiaan tidak pernah mati

Ia hanya menunggu dunia

Untuk kembali membuka mata


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular