Eduar Daud
DI ANTARA DUA GARIS TAKDIR
Bab I
Simfoni di Bawah Kubah Emas
Bandar Seri Begawan di bulan Oktober bukan sekadar sebuah koordinat di peta; ia adalah sebuah lukisan yang merayu sukma dengan cara yang angkuh sekaligus anggun. Matahari senja jatuh di atas kubah emas Masjid Omar Ali Saifuddien seperti madu yang tumpah dari langit, menyepuh cakrawala dengan warna keagungan yang menyilaukan mata. Di tepi Sungai Brunei, angin berbisik di sela-sela rumbia dan tiang-tiang kayu Kampong Ayer, membawa aroma air payau yang berkelindan dengan wangi melati yang sedang mekar di halaman istana.
Aku berdiri di sana, di sudut dermaga kayu yang mulai menua dan ditumbuhi lumut tipis. Di bahuku, bersandar sebuah biola tua dengan pelitur yang telah luruh dimakan waktu, satu-satunya pusaka dari mendiang ayahku, seorang pemusik keroncong asal pinggiran Yogyakarta yang membawa mimpinya hingga terdampar di tanah Brunei. Di pundakku, bersandar beban yang lebih berat dari sekadar instrumen musik; sebuah nama keluarga yang dianggap debu di tengah kemilau kota yang kaku akan kasta.
Tanganku yang kasar karena kerja serabutan mulai menarik busur biola. Melodi yang lahir bukanlah lagu pesta yang riang, melainkan sebuah elegi tentang kerinduan yang tak kunjung menemui muara. Di rumah petak yang sesak di pinggiran Gadong, Ibu sedang bertarung melawan sesak di dadanya. Setiap gesekan biolaku adalah untaian doa yang kualirkan ke langit, berharap koin-koin Ringgit yang jatuh di dalam kotak kayu di depanku cukup untuk membasuh perih yang diderita Ibu malam ini.
Kota ini terbagi secara kejam oleh garis-garis tak kasat mata. Di seberang sana, distrik-distrik elite berdiri dengan angkuh, tempat para bangsawan dan pemilik tanah tinggal di balik gerbang besi yang menjulang. Sedangkan di belakangku adalah pemukiman kumuh, tempat debu dan kemiskinan menjadi kawan sehari-hari. Aku adalah bagian dari debu itu.
Tiba-tiba, suara mesin perahu tambang yang halus membelah kesunyian melodiku. Sebuah perahu pribadi yang mewah, dengan ukiran kayu jati dengan aksen kuningan mengkilap, menepi dengan tenang tepat di depanku. Kehadirannya begitu kontras; perahu itu tampak terlalu bersih untuk udara dermaga yang penuh jelaga. Dari sana, sesosok gadis muncul bagaikan cahaya yang menembus kabut pagi. Ia mengenakan Baju Kurung dari sutra murni berwarna biru safir, dengan tudung yang melingkar halus seperti awan putih membingkai wajahnya yang pucat namun berseri.
Ia adalah Nurul Isabella. Di kota ini, namanya adalah mawar yang dijaga ketat di dalam benteng martabat. Ia tidak melewatiku begitu saja seperti yang dilakukan para bangsawan lainnya. Ia berhenti. Matanya yang cokelat madu menatapku dengan intensitas yang aneh, bukan tatapan kasihan yang merendahkan, melainkan sebuah keingintahuan yang jujur, seolah ia mampu melihat melodi yang bersembunyi di balik kemejaku yang bertambal.
"Kenapa melodi itu terdengar seperti hujan yang jatuh di atas tanah kering? Begitu haus, namun begitu tabah," tanyanya lembut. Suaranya bening, seperti gemericik air pegunungan yang menyejukkan.
Aku menunduk, tak berani menatap langsung ke matanya yang bercahaya. "Karena melodi ini adalah sebuah pencarian, Tuan Putri. Ia mencari sesuatu yang tak mungkin ia genggam, sebuah rumah yang tak pernah mengizinkannya masuk," jawabku dengan suara serak.
Isabella terdiam sejenak, membiarkan angin menerbangkan aroma melati di antara kami. "Musik tidak mengenal pangkat, Adrian," bisiknya, menyebut namaku yang tertera di kotak biola. "Ia hanya mengenal rasa. Dan apa yang kau mainkan tadi... itu adalah rasa rindu yang paling dalam yang pernah kudengar."
Bab 2
Benturan Dua Dunia
Kebahagiaan yang kami rajut secara sembunyi-sembunyi selama beberapa bulan berikutnya terasa seperti siang yang cerah di musim panas, begitu menyilaukan hingga kami menutup mata terhadap bayang-bayang yang mulai memanjang. Namun, hukum alam selalu berlaku: siang yang paling benderang sekalipun akan hilang ditelan kegelapan malam. Bagi kami, kegelapan itu bernama kasta dan gelar.
Di Brunei, namaku dan nama Isabella tidak seharusnya berada dalam satu kalimat yang sama. Aku adalah putra dari tanah yang retak, seorang perantau dari Jawa yang mencari suaka di balik nada-nada biola. Sedangkan Isabella adalah putri tunggal Pengiran Sulaiman, seorang tokoh yang memegang teguh filosofi Melayu Islam Beraja. Beliau adalah seorang penguasa tanah yang menganggap martabat keluarga jauh lebih suci daripada nyawa manusia itu sendiri.
Malam itu, takdir akhirnya menarik paksa tirai persembunyian kami. Mentari telah menyepi di balik cakrawala, meninggalkan semburat jingga yang perlahan memudar menjadi biru kelam di atas Sungai Brunei. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu, bersinar dingin di atas taman belakang kediaman Isabella yang luasnya menyerupai hutan kecil. Aku telah memanjat pagar batu yang tinggi, didorong oleh kerinduan yang membakar, hanya untuk memberikan sebuah pembatas buku Batik Tulis motif Sido Mukti yang kubawa dari Jawa.
"Adrian, Kita (kamu) tidak seharusnya di sini," bisik Isabella, tangannya gemetar saat menerima kain kecil itu. "Ayahku sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Pertemuan adat tadi siang membuatnya sangat murka."
"Aku hanya ingin melihat matamu, Isabella. Itu cukup untuk membuatku bertahan hidup di antara hiruk-pikuk pasar besok," jawabku lirih.
Namun, api cinta yang tadinya menghangatkan jiwa kami tiba-tiba membakar segalanya. Sebuah lampu minyak yang terang benderang tiba-tiba menyorot ke arah kami. Langkah-langkah sepatu bot yang berat menghantam jalan setapak marmer.
"Isabella!"
Suara itu tidak datang seperti guntur yang merobek keheningan malam. Pengiran Sulaiman berdiri di sana, dikelilingi oleh tiga orang pengawal bertubuh besar. Beliau mengenakan Cara Melayu lengkap dengan sinjang dari kain tenun emas yang kaku. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak merah padam karena amarah yang meluap.
Aku melangkah maju, mencoba melindungi Isabella di belakang punggungku, namun seorang pengawal dengan kasar menyentak lenganku dan menjatuhkanku ke tanah. Biola tua yang kusampirkan di bahu terlempar, mendarat dengan bunyi kayu retak yang menyakitkan di telingaku, seperti suara jantung yang pecah.
"Kau pikir siapa dirimu, pemusik jalanan?" suara Pengiran Sulaiman menggelegar, bergetar karena rasa marah yang mendalam. Beliau berjalan mendekat, menatapku seolah-olah aku adalah serangga yang baru saja ia injak. "Isabella adalah permata yang dipahat oleh tradisi ratusan tahun, dan kau... kau hanyalah debu yang tertiup angin dari jalanan paling kumuh di seberang lautan!"
"Ayah, kumohon! Dia tidak melakukan kesalahan apa pun! Cinta tidak mengenal pangkat!" Isabella menjerit, mencoba berlari ke arahku, namun ayahnya mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Kesalahannya adalah dia berani bernapas di udara yang sama denganmu!" teriak Pengiran Sulaiman. "Adat kita tidak mengizinkan persilangan semacam ini! Kau telah mengotori nama baik keluarga kita hanya dengan berbicara padanya!"
Isabella menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi baju kurung sutranya. Ia bersimpuh di kaki ayahnya, memohon agar logika cinta didengar di atas kekakuan tradisi. Namun, di sini, tradisi lebih kuat daripada logika apa pun.
"Bawa dia keluar!" perintah Pengiran Sulaiman kepada pengawalnya tanpa sedikit pun rasa iba. "Dan untukmu, pengamen... jika kau menampakkan wajahmu lagi di tanah ini, aku akan memastikan bukan hanya biolamu yang patah, tapi juga seluruh masa depanmu."
Bab 3
Perpisahan di Dermaga
Waktu tak lagi berjalan dengan detak jam, melainkan dengan denyut luka yang kian menganga. Hari-hari setelah pengusiran itu berlalu dengan rasa pahit yang tak kunjung hilang dari pangkal lidahku. Bandar Seri Begawan, yang dulunya terasa magis, kini berubah menjadi penjara terbuka yang sunyi.
Aku dipaksa menjauh. Perintah Pengiran Sulaiman bukan sekadar gertakan; setiap kali aku melangkah mendekati kawasan tempat tinggal kaum bangsawan, sepasang mata pengawal selalu mengawasi dari balik bayang-bayang. Aku dilarang mendekat, dilarang berkirim pesan, bahkan dilarang untuk sekadar menyebut nama Isabella di depan publik.
Satu-satunya caraku untuk bertahan hidup adalah dengan berdiri di tepi dermaga Kampong Ayer saat fajar menyingsing. Dari sana, aku bisa melihat jendela tinggi di kediaman Isabella. Kadang, jika keberuntungan sedang berpihak, jendela itu akan terbuka. Isabella akan berdiri di sana, sosok biru yang tampak rapuh dari kejauhan. Ia akan mengangkat tangannya, melambaikan tangan dengan lemah, sebuah gerakan kecil yang sarat dengan keputusasaan. Itu adalah salam perpisahan yang tak terucapkan.
Lalu, musim pun berganti. Hujan tropis yang dingin mulai turun terus-menerus, membawa aroma tanah basah dan pembusukan. Cintaku seolah mulai gugur bersama harapan yang mengering. Kabar buruk menyebar lebih cepat daripada wabah di pasar kota. Isabella tidak hanya dikurung; ia sedang dipersiapkan sebagai kurban bagi "kemurnian" adat. Pengiran Sulaiman telah mengatur pertunangan kilat dengan seorang putra pejabat tinggi yang memiliki silsilah murni.
Aku terduduk di dalam gubuk tuaku yang bocor. Di depanku, biola yang retak itu tergeletak bisu di atas meja kayu yang rapuh. Aku mencoba mengangkatnya, ingin memainkan satu lagu terakhir untuknya, namun instrumen itu kini terasa sangat berat. Seolah-olah setiap kesedihan yang kualami telah mengendap di dalam kayu biola itu.
"Apakah aku harus menyerah pada garis yang mereka buat?" bisikku pada dinding-dinding kayu yang bisu.
Pikiran itu terus berputar seperti pusaran air yang gelap di Sungai Brunei. Ibuku terbatuk di kamar sebelah, suaranya makin lemah seiring dengan menipisnya cadangan obat kami. Di luar, air hujan kembali mengguyur, menumpuk di depan pintu seperti nisan bagi masa laluku.
Melihat biola yang patah dan mendengar penderitaan ibuku, sebuah amarah dingin mulai tumbuh di sela-sela rasa sakitku. Jika dunia ini menolak memberiku tempat karena aku tidak memiliki apa-apa, maka aku harus menjadi "sesuatu" yang tidak bisa mereka abaikan. Jika adat adalah dindingnya, maka aku harus menjadi air yang perlahan-lahan meretakkannya.
Aku memutuskan untuk meninggalkan Brunei. Aku akan pergi ke Jakarta, pusat industri musik yang kejam namun menjanjikan.
Bab 4
Haluan Hidup yang Berubah
Tiga tahun di Jakarta menempa aku dengan cara yang tidak pernah kubayangkan. Kota itu adalah rimba beton yang tidak memiliki ruang bagi air mata. Awalnya, aku hanyalah bayangan yang tersisih di sudut-sudut remang kafe Jakarta Selatan. Di antara kepulan asap rokok dan hiruk-pikuk orang-orang kota yang haus hiburan, aku menggesek biola dengan jemari yang terkadang masih gemetar karena rindu. Namun, di dalam setiap nada yang kulepaskan, ada aroma hujan Brunei yang tersimpan.
Hingga suatu malam, bakat mentahku menarik perhatian seorang produser besar. Beliau melihat sesuatu dalam gesekan biolaku, sebuah luka yang dalam yang telah berubah menjadi harmoni yang jujur. Aku diterima masuk ke dalam orkestra nasional, namun itu hanyalah awal.
Aku bekerja siang dan malam. Saat musisi lain beristirahat, aku tetap berada di ruang latihan yang dingin, mengasah teknikku hingga jari-jariku kapalan dan berdarah. Aku mulai menulis. Aku mengubah setiap rasa sakit, setiap kerinduan pada lambaian tangan Isabella di jendela, dan setiap penghinaan yang pernah kuterima menjadi komposisi musik yang megah.
Aku memadukan sayatan Keroncong, jiwa dari tanah leluhurku, dengan kemegahan klasik orkestra dunia. Dalam proses itu, aku belajar sebuah pelajaran hidup yang paling berharga: Martabat tidak pernah datang dari darah atau gelar yang tertulis di kertas usang. Martabat lahir dari karya, kejujuran, dan integritas seseorang.
Tiga tahun berlalu, dan anak laki-laki yang terusir itu telah menjelma menjadi pria yang tegar. Namaku, Adrian Valerius, mulai dikenal luas. Simfoni yang kubuat, yang kuberi judul "Garis Takdir", menjadi buah bibir internasional karena emosinya yang begitu menyayat hati. Namun, di tengah kemewahan dan tepuk tangan meriah di Jakarta, hatiku tetap tertinggal di dermaga kayu di Bandar Seri Begawan.
Aku memutuskan untuk kembali ke Brunei. Aku kembali bukan dengan kemarahan, melainkan dengan harapan besar agar pintu hati Pengiran Sulaiman, dan masyarakatnya yang kaku, bisa terbuka. Aku ingin membuktikan bahwa cinta dua dunia tidak harus berakhir dengan kehancuran. Aku ingin menunjukkan bahwa seseorang dari kasta "debu" pun bisa mengharumkan nama kota mereka di mata dunia.
Bab 5
Pintu Hati dan Jalan yang Terbentang
Brunei menyambutku dengan aroma yang masih sama: campuran harum tanah basah dan sisa-sisa melati. Namun, hatiku bergetar saat mendengar kabar tentang Isabella. Tiga tahun kepergianku bukanlah waktu yang singkat bagi seorang wanita yang dikurung dalam adat. Ternyata, Isabella telah menjadi legenda kesetiaan yang tragis di kota itu. Ia tidak pernah menikah. Ia menolak setiap pinangan, menepis setiap emas dan permata, dan memilih untuk mengasingkan diri dalam kesunyian kamar tingginya.
Sebagai langkah pertamaku, aku tidak mengetuk pintu gerbang Pengiran Sulaiman. Aku memilih kembali ke tempat semuanya bermula. Aku mengadakan sebuah konser besar di pusat seni nasional, mengundang seluruh penduduk, dari para buruh pelabuhan hingga keluarga bangsawan.
Malam itu, aula dipenuhi oleh orang-orang penting yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Pengiran Sulaiman hadir, duduk di barisan depan dengan wajah kaku seperti patung granit. Di sampingnya, duduk Isabella. Saat matanya bertemu denganku, aku bisa melihat semesta yang penuh rindu meledak di balik tatapannya.
Aku naik ke panggung. Aku mengangkat biolaku, sebuah mahakarya baru yang suaranya melengking jernih. Saat busurku menyentuh dawai, aku memainkan simfoni "Garis Takdir". Melodi itu menceritakan tentang perahu tambang yang terombang-ambing, tentang kain batik yang menjadi saksi bisu, dan tentang seorang pria yang harus menyeberangi lautan untuk menemukan harga dirinya.
Suasana aula menjadi hening yang mencekam. Hanya ada suaraku yang bercerita melalui nada. Musik itu memaksa mereka yang hadir untuk merasakan bahwa manusia tidak dinilai dari asal-usulnya, melainkan dari kedalaman hatinya.
Saat nada terakhir memudar, aku meletakkan biola dan berjalan perlahan menuju tempat Pengiran Sulaiman duduk. Para pengawal yang dulu menyeretku kini hanya terdiam, tunduk pada karisma yang kupancarkan.
"Tuan," kataku dengan suara tenang namun tegas. "Saya datang kembali bukan untuk menantang adat Anda. Saya datang untuk menunjukkan bahwa cinta sejati tidak pernah melahirkan kehinaan. Ia melahirkan kemuliaan. Saya telah membuktikan bahwa saya layak bersanding dengan putri Anda, bukan karena harta yang kini saya miliki, tapi karena kesetiaan yang saya jaga dan martabat yang saya bangun dari nol."
Pengiran Sulaiman tidak langsung menjawab. Beliau melihat Isabella yang matanya sudah dibanjiri air mata, lalu menoleh ke arah masyarakatnya yang terharu oleh musikku. Beliau menyadari bahwa memisahkan dua jiwa yang ditakdirkan bersama hanya akan menyisakan lara yang abadi.
"Kesetiaan," gumam beliau pelan. "Adat dibuat untuk menjaga kemuliaan manusia. Jika cinta bisa membawa seseorang dari debu menjadi emas seperti ini, maka adatlah yang harus belajar darinya."
Beliau perlahan melepaskan genggaman tangannya pada lengan Isabella. Itu adalah isyarat simbolis bahwa beliau telah membuka pintu hatinya. Isabella berlari kecil ke arahku, dan di bawah siraman cahaya bulan Bandar Seri Begawan, jalan yang dulu tertutup kini terbentang luas di depan kami. Garis takdir yang dulu terpisah kini menyatu dalam satu melodi yang abadi.
TAMAT
BIONARASI:
Dilahirkan 18 Agustus 1963, dengan nama Eduar Daud. Aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS).
