Cinta Orang-orang Susah
Nova Zamri
Pertama kali melihatnya, hatiku senang sekali. Aku merasa ada teman yang nampaknya senasib denganku, yaitu sama-sama orang susah. Kalau aku pindah ke Kota Situ ini karena menjadi orang susah di kota kecilku. Sedangkan dia, beberapa waktu kemudian, ku ketahui pindah ke kota ini juga karena menjadi orang susah di kampungnya.
Gadis itu bernama lengkap Hamidah. Panggilannya Mida. Umurnya 17, seumuran denganku. Wajahnya cukup manis, ada lesung pipi di sebelah kanan. Kulitnya sawo hampir matang. Tingginya, rata-rata tinggi perempuan Indonesia. Rambut sebahu, bergelombang. Betisnya agak besar dan kekar. Bagus! Ini tandanya dia ulet bekerja.
Mida pernah menceritakan bahwa dia diantarkan orang tuanya dari kampung Salingka, salah satu desa di kabupaten sebelah Barat Kota Situ, untuk menjadi pembantu di keluarga ini. Dia anak sulung dan bekerja di sini setahun lebih dahulu dariku. Dengan bekerja, dia diharapkan dapat meringankan beban perekonomian keluarganya yang hidup susah. Adiknya ada dua orang. Satu di SD, perempuan, satu lagi umur tiga tahun, laki-laki. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh tani karena tidak punya lahan sendiri.
ooOoo
Aku ke Situ sekitar tahun 1989. Aku akan melanjutkan sekolah ke kelas dua SMA karena Mak dan Bapak ternyata hanya mampu membiayai sampai kelas satu saja di kotaku. Mereka mengeluhkan aku yang terancam putus sekolah ke saudara Mak. Beberapa waktu kemudian, rupanya ada anak saudara Mak yang bersedia menyekolahkanku.
“Ova!”
“Ya, Bang,” jawabku.
“Nanti, setelah menerima rapor kenaikan kelas, cepatlah Kau urus surat pindah, ya!” kata Bang In, calon majikanku yang memiliki toko onderdil mobil, motor, bengkel, cat mobil, motor, dan skuter di Kota Situ. Kadang-kadang beliau “rangkap jabatan” menjadi makelar mobil, motor, dan sejenisnya. “Sekolahmu yang baru di Situ sudah ada dan bersedia menerima Kau karena abang punya kenalan dekat di sana,” kata Bang In. “Jangan cemas Kau, segala biaya sekolah di sana, abang yang tanggung sampai tamat asalkan Kau mau bantu-bantu abang di toko.”
“Baik, Bang”
Sat, set! Walaupun nilai pas-pasan, aku naik kelas. Aku dan Mak segera mengurus kepindahanku. Di hari penerimaan rapor itu juga, surat keterangan pindah berhasil diperoleh.
Aku sendiri datang dari Pekum, kota kecil yang berjarak sekitar 95 kilometer arah Selatan dari Kota Situ ini. Aku berani sendirian karena sebelumnya sudah pernah dibawa libur ke sini sekali, waktu kelas dua SMP dulu.
Tiba di Situ, Bang In dengan istrinya, Kak Lina, serta anak-anaknya tampaknya cukup ramah dan senang dengan kehadiranku. Maklum, mungkin mereka menganggap aku sebagai tenaga tambahan murah. Hanya dengan membayarkan SPP-ku tiap bulan, aku akan bekerja setiap hari di toko, termasuk hari Minggu. Malah, kalau hari Minggu, kerjaku full. Di hari sekolah, kalau sekolah masuk siang, aku bekerja di toko pada pagi hari. Begitu juga sebaliknya.
Ternyata dugaanku meleset! Sikap ramah tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Waktu itu, SPP Rp2.500 sebulan. Kalau hanya pembayaran SPP segitu, tidak masalah bagi mereka. Namun, semenjak aku menagih uang pembangunan sejumlah Rp70.000 yang diwajibkan oleh sekolah, sikap mereka berubah. Seperti lampu pijar 45w yang awalnya terang benderang tiba-tiba menjadi padam karena terpencet saklarnya. Sejak saat itu, banyak perlakuan mereka yang membuatku merasa “agak kurang nyaman” dan ingin kabur saja dari sana. Terutama sekali, Kak Lina, dia benci sekali denganku. Mungkin dia menganggap aku sebagai lintah darat yang menghisap uang suaminya. Namun, semua kutahan saja, yang penting sekolahku tetap jalan. Aku bertekad, apa pun yang terjadi, aku harus bisa meraih ijazah SMA-ku.
Awalnya, aku menempati satu kamar kecil di ujung rumah lengkap dengan kasurnya. Namun, dengan alasan kamar akan ditempati anak-anak, Kak Lina menyuruh aku tidur di gudang bengkel di samping depan. Di sana sebetulnya sudah sempit dengan peralatan bengkel, motor, dan skuter rusak. Belum lagi baut, mur, busi, gasket, pelek, seher, ring, piston, dan tumpahan oli bekas yang berserakan di mana-mana. Untung di sana ada tempat tidur lipat bekas beroda yang masih ada kasur busanya tersandar di sudut gudang itu. Lumayan, walaupun rodanya hilang satu dan busa kasurnya sudah sangat tipis, kasur lipat antik itu tetap kupakai sampai bertahun-tahun.
Kasur itu, kata Mida, punya mantan montir yang dulu bekerja di bengkel ini. Dulu, waktu pemilik sebelumnya yang mengelola bengkel ini, terkenal sangat profesional, dermawan, dan ramah. Banyak langganannya. Dengan demikian, tentu banyak juga montirnya bekerja di sini. Ada juga montir yang nyaman tinggal di sini, di gudang ini. Namun, setelah pemilik bengkel berganti dengan yang sekarang, Bang In dan Kak Lina, para langganan berkurang secara drastis dan montir satu per satu pergi entah ke mana. Termasuk pemilik kasur lipat ini. Dia pergi tergesa-gesa dan merelakan kasurnya tinggal di sini. Kabarnya, mereka tidak betah dengan pemilik bengkel sekarang yang tidak profesional dan serakah. Upah mereka sering telat dibayar, itu pun sering “disunat” secara sepihak dengan alasan bermacam-macam. Untuk pemotongan uang gulalah, tehlah, pemakaian airlah, dan sebagainya. Keluarga itu juga terkenal pelit dan rakus.
Pernah suatu kali aku ditegur guru di sekolah karena memakai sepatu robek. Sepatu yang kubawa dari kota asalku ini, sebenarnya sudah kupakai sejak SMP kelas dua. Sewajarnya memang harus diganti. Lalu, kuadukan masalah ini ke Bang In.
“Robek?”
“Iya, Bang,” jawabku, “Beli yang baru, ya, Bang?” sambil membujuknya, siapa tahu berhasil.
“Sebelah mana robeknya?”
“Nih, Bang, sebelah kanan,” kataku sambil memajukan kakiku yang sebelah kanan, yang masih pakai sepatu. Terlihat jari kelingking kakiku mengintip di balik sepatu yang robek itu.
“Bah, ini masih bisa dipakai, tau? Caranya, coba Kau robek pula sepatumu di sebelah kiri ini!” katanya sambil menginjakkan kaki kanannya yang memakai sepatu pantofel kulit ke sepatu kiriku.
“Aduh!” kakiku jadi sakit diinjaknya, “Iya, Bang,”
“Nah, seimbang jadinya itu. Paham Kau? Pokoknya ndak ada cerita membeli sepatu baru!”
“Baik, Bang.”
Pernah juga di kali yang lain, sehabis lebaran, pulang dari kampung, Bang In sekeluarga membeli durian banyak sekali. Waktu mobilnya lewat di depan gudang, aku lihat sekilas dan diperkirakan lebih dari delapan buah, besar dan menengah. Padahal, mereka hanya berlima. Mida masih di kampung. Aku saja pekerja yang tinggal lagi. Tampaknya, mereka makan durian di ruang belakang. Pintu dan jendela mereka tutup.
Kok, aku tidak diajak? Padahal aku sendiri tinggal lagi. Kalau ada kawan-kawanku di sini, okelah, ndak usah aku diajak. Wah, sebenarnya aku ingin juga makan durian bersama mereka! Sudah lama sekali aku tidak mencicipi durian. Mungkin sudah empat tahun.
Sudah agak lama mereka berkurung di ruang belakang itu, belum juga ada suara memanggilku. Aku jadi bimbang. Kalau terang-terangan aku minta diajak, itu sangat memalukan! Itu sama dengan pengemis! Aku lalu menghibur hatiku, “Barangkali sebentar lagi mereka akan memanggilku, biarlah mereka makan yang besar-besar dulu, untukku yang kecil-kecil saja, tidak apa-apa. Yang penting, aku bisa mencicipi durian!” Lalu kupertajam lagi pendengaranku.
“Ova!”
“Ya, Kak!” hatiku bersorak-sorak gembira karena akhirnya namaku dipanggil oleh Kak Lina. Aku secepat kilat masuk ke ruangan itu.
“Tolong buang kulit-kulit durian ini ke belakang!” kata Kak Lina datar lalu pergi menyusul suami dan anak-anaknya ke ruang keluarga, menonton TV.
Aku tertegun. Kulihat tumpukan kulit durian yang menggunung. Bijinya yang kering kerontang berserakan di mana-mana. Tampaknya, isinya sudah mereka habiskan semua. Kucoba membolak-balikkan kulit durian yang agak tertutup, barangkali ada satu atau dua biji yang luput dari mereka. Nihil. Bahkan, secuil pun tidak bersisa daging durian yang biasa lengket di tengah kulitnya yang menjadi harapan terakhir untuk kucicipi. Aku sangat kecewa. Terlebih lagi, mengapa mereka menyuruhku yang membuang kulit durian sialan ini? Mengapa tidak mereka saja yang membuangnya? Kan bisa setelah dimakan, langsung lempar ke belakang karena di situ tempat sampahnya! Mendapati keadaan itu, jiwa ragaku seakan-akan rontok seketika. “Siaaaaaaaaaaaaaaal!” jerit hatiku.
ooOoo
Walaupun Mida hanya lulusan SD, tetapi sikapnya jauh lebih dewasa daripada diriku. Dia seakan-akan memiliki wibawa yang tinggi. Tak sekali pun majikan kami marah, apalagi membentaknya. Anak-anak majikan kami sebanyak tiga orang yang kecil-kecil itu sangat hormat dan sayang kepadanya. Bahkan, anak-anak itu, lebih hormat lagi ke Mida daripada ke mama dan papa mereka, apalagi kepadaku.
Bagaimana tidak? Mida lebih memiliki sifat keibuan dan lebih pandai mengurus anak-anak. Nada bicaranya lembut. Sekali-sekali tegas juga, terutama ke anak sulung yang laki-laki. Kalau sudah kena tegur Mida karena nakal, anak itu langsung mengkeret.
Selain itu, Mida sangat hebat dan cekatan. Subuh-subuh dia sudah bangun, memasak, dan menyiapkan sarapan untuk semua, memandikan dan memasang pakaian untuk anak-anak. Setelah itu, mencuci piring, pakaian, membereskan rumah, menyiapkan makan siang, sampai makan malam nanti. Menyetrika, dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu. Semua dikerjakan selalu tepat waktu. Tidak ada istilah terlambat atau lelet. Semua itu dijalani dengan aman dan lancar selama bertahun-tahun tanpa cela.
Mida sering mengajari dan menolongku. Dia yang mengajari aku cara menyuci dan menyetrika pakaian. Ya, di kota ini aku harus mencuci dan menyetrika pakaianku sendiri. Namun, karena dilarang menyetrika, pakaianku hanya dicuci saja, termasuk pakaian sekolah. Mida juga yang menolongku menyisihkan sedikit minyak goreng baru untuk minyak rambutku. Karena sering memakai minyak tersebut, kawan-kawanku menertawakanku sebagai penggemar minyak rambut Tancho Dap ‘minyak rambut merek Tancho dari dapur.’
Semakin lama, aku semakin kagum dengan semua yang ada pada diri Mida. Menurutku, walaupun hanya seorang pembantu, dia lebih istimewa dibandingkan dengan gadis-gadis yang lain. Dia jauh lebih memesona dibandingkan Donna sang primadona di sekolahku yang suka bergaya manja berlebihan. Desi yang memiliki wajah cantik dan tubuh tinggi semampai, selalu bergaya keartis-artisan tetapi kalah jauh dengan kesederhanaan wajah manis alami Mida.
Aku naksir sama Mida. Aku mencintainya. Aku jadi berkhayal, alangkah bahagia dan indahnya hidupku kalau dia suka juga denganku. Kalau aku dan dia jadian, nanti, setelah aku tamat SMA, kami akan menikah, dan menjadi sepasang suami istri pembantu yang romantis. “He, he, he,” Aku tertawa sendiri. Ah, tak sabar rasanya aku ingin menyampaikan isi hatiku ini.
Akan tetapi, aku tidak langsung mengungkapkannya. Bagaimana nanti kalau dia menolakku? Malu aku. Aku juga menduga-duga apakah dia juga mencintaiku? Jangan-jangan dia sudah punya pacar. Namun, kalau kulihat selama dua tahun ini kami bekerja di sini, tidak pernah dia akrab dengan laki-laki lain. Setahuku, laki-laki yang dekat dengannya cuma diriku. Selain itu, dia hanya akrab dengan kawan-kawannya sesama pembantu, dua atau tiga orang. Sering dia bawa kawan-kawannya itu menginap di sini ketika majikan kami pergi ke kampung atau berlibur beberapa hari.
Ada suatu momen ketika aku ngobrol santai dengan Mida pada sore hari. Majikan kami sedang keluar. Setelah kami mengobrol ke sana kemari, “Inilah saatnya,” batinku.
“Ngomong-ngomong, Mida sudah punya pacar?” tanyaku.
“Kok, Ova tanya itu?” Dia balik tanya.
“Ingin tahu saja.”
“Kan, pacar Mida selama ini Ova,” kata Mida sambil tersenyum.
Dek! jawaban diiringi senyuman beserta lesung pipinya itu semakin memesonaku sekaligus membuat jantungku hampir copot. Hatiku langsung bahagia tidak terkira. Ingin rasanya aku bersorak dan melonjak-lonjak saat itu juga tetapi sekuat tenaga aku tahan. Aku ingin memastikan lagi jawaban yang luar biasa tersebut.
“Mida serius?”
Mida hanya tersenyum.
“Serius?”
Mida hanya tersenyum lagi.
Hatiku jadi lemas. Inilah yang kutakutkan. Tampaknya, jawaban yang sempat “mengguncang iman” tadi hanya bercanda.
Besoknya, aku masih penasaran. Aku ingin memastikan lagi efek kejadian sore kemarin dengan melihat sikap dan tindakan Mida kepadaku hari ini.
Ternyata, biasa saja!
Tidak ada tindakan yang menunjukkan seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya. Tidak ada lirikan manja. Tidak ada kata-kata atau senyuman mesra. Pokoknya, tidak ada perlakuan yang istimewa dari Mida kepadaku hari itu maupun hari-hari berikutnya.
Hal itu semakin jelas ketika akhirnya beberapa bulan kemudian, Mida menyatakan berhenti bekerja dan mohon pamit karena akan menikah. Dia dilamar oleh pemuda sekampung yang selama ini merantau di Jakarta. Aku dengar pemuda tersebut berdagang pakaian kaki lima. Mida akan diboyongnya ke sana. Kenapa Mida mau? Aku tidak tahu. Midalah yang tahu karena dia lebih dewasa pemikirannya daripada diriku.
Waktu bersalaman, aku paksakan bersikap biasa saja. Tidak mau aku kelihatan sedih atau pun frustasi. Tentu aku akan ditertawakan orang. Dua kali rugi aku nanti kalau kuumbar rasa sedihku waktu itu. Sudah orangnya tidak dapat, aku dapat malu pula.
Untung aku belum menyatakan perasaan cintaku dan mengungkapkan keinginan menjadi “pasangan suami istri pembantu yang romantis” kepada Mida di sore itu. Kupikir-pikir kalau pernyataan cinta, bolehlah. Ditolak atau pun diterima dalam dunia percintaan, itu biasa, kan? Akan tetapi, kalau mengajak orang seperti Mida untuk menjadi “pasangan suami istri pembantu yang romantis,” kusadari sebagai keinginan terbodoh sedunia. Mana mungkin orang yang sudah susah mau diajak menjadi “orang susah permanen?”
ooOoo
Bukittinggi, 30 November 2025
Bionarasi
Nova Zamri, M.Pd., M.Hum. Lahir di Payakumbuh, 16 Juni 1972, adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTsN 1 Bukittinggi sejak 1998. Pendidikan terakhir, S2 di Universitas Indonesia. Meraih berbagai prestasi, termasuk juara lomba karya tulis dan inovasi pembelajaran. Kontak: 081364726032, email: novazamri.72@gmail.com.