Memaparkan catatan dengan label PUISI. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label PUISI. Papar semua catatan

Ahad, 19 Julai 2026

LANGIT TAK PUNYA SISI: Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 

Langit Tak Punya Sisi

Sahbuddin Dg. Palabbi

Di Gaza, langit selalu menghitam sebelum malam.
Bukan karena senja,
tetapi karena asap yang menjulur dari rumah yang roboh.
Yusuf, anak laki-laki dua belas tahun,
duduk di reruntuhan sekolahnya yang kini jadi puing sejarah.
Ia memegang selembar surat,
dari Eli, anak Yahudi yang tinggal di Yerusalem.
Mereka tak pernah bertemu,
tapi mereka bersahabat.

Semua bermula dari jembatan kata,
yang dibangun diam-diam oleh mereka yang percaya:
bahwa anak-anak pun berhak bersuara sebelum peluru bicara.
Eli menulis tentang langit. Tentang burung. Tentang hujan yang turun pelan.
Yusuf membalas dengan cerita tentang bola,
tentang ibunya yang membuat roti bundar setiap pagi,
tentang ayahnya yang menghilang setelah perang terakhir.

“Aku ingin melihat langit yang sama denganmu,” tulis Eli.
“Karena aku percaya, langit tak berpihak.”
Yusuf tersenyum membaca itu,
belum pernah ia mendengar seorang Yahudi
menulis kalimat seindah itu.
Ia membacanya berkali-kali,
seolah di tiap kata tersimpan semacam penghiburan
yang tak bisa diberi oleh dunia yang sedang hancur.

Namun hari itu datang.
Sirine meraung,
dan langit jatuh berkeping-keping.
Rumah Yusuf hancur.
Ibunya ditemukan di bawah puing,
tersenyum dengan mata tertutup.
Adiknya tak ditemukan sama sekali.
Yusuf masih hidup,
tapi sebagian dari dirinya terkubur bersama ibu dan adiknya.
Ia menulis satu kalimat
pada potongan kardus dari toko yang terbakar:
Eli, masihkah kamu melihat langit yang sama denganku?

Suara ledakan kini menggantikan suara doa.
Di Gaza, bahkan sunyi pun retak.

Di Yerusalem, Eli tak lagi menulis.
Ayahnya melarang:
“Kita sedang perang,” katanya.
“Tidak ada sahabat di pihak musuh.”
Namun Eli masih menyimpan surat Yusuf,
masih membacanya di malam hari,
ketika ibunya tertidur dan dunia diam.
Ia menangis dalam senyap.
Di luar jendela, bintang tetap bersinar.
Tapi ia merasa, salah satu dari mereka telah padam.
Kadang, ia bermimpi menjawab surat itu.
Tapi pagi datang, dan kenyataan membungkamnya lagi.

Tahun-tahun berganti.
Gaza tetap terkepung.
Yerusalem tetap dijaga senjata.
Namun surat-surat itu,
masih disimpan oleh Yusuf di dalam kaleng susu tua,
dan oleh Eli di bawah tempat tidurnya.

“Jika aku besar nanti,” tulis Yusuf dalam surat terakhir,
“aku ingin menjadi jurnalis.
Agar dunia tahu bahwa aku pernah punya sahabat
yang lahir di sisi yang salah,
tapi punya hati yang paling benar.”
Kalimat itu tak sampai,
tapi maknanya terus mengendap di antara peluru dan pagar besi.

Eli tak pernah membalas surat itu.
Namun saat dewasa, ia datang ke perbatasan,
membawa satu kertas bertuliskan:
“Langit tak punya sisi.”
Ia tidak tahu apakah Yusuf masih hidup,
tapi ia percaya:
satu sahabat yang pernah berkata jujur
cukup untuk mengalahkan seribu kebencian.

Ia berdiri lama di sana,
memandang langit yang sama
yang dulu mereka percayai sebagai tempat pertemuan.

Beberapa tahun kemudian,
Yusuf tumbuh menjadi wartawan.
Ia mewawancarai reruntuhan,
mencatat nama-nama yang tak masuk berita.
Sementara Eli,
menjadi guru sastra di kota yang aman,
mengajarkan puisi yang tak pernah selesai ditulis Yusuf.

Setiap tahun,
Eli mengulang kisah yang sama kepada murid-muridnya:
tentang dua anak yang tak pernah bertemu,
tapi saling percaya pada satu hal—
bahwa cinta tak mengenal batas.
Bahwa yang ditulis dengan hati,
tak pernah benar-benar hilang dari dunia.

Suatu hari, di festival sastra kecil di Eropa,
dua puisi dipamerkan berdampingan.
Satu ditulis Yusuf,
satu lagi oleh Eli.
Berjudul sama:
"Langit Tak Punya Sisi."

Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya,
tapi para pengunjung menangis.
Sebab kadang, satu bait yang jujur
lebih kuat dari seribu peluru.
Dan langit pun, untuk sesaat,
terasa benar-benar tanpa sisi.

Jakarta, Medio Juli 2026

Isnin, 1 Jun 2026

SEPASANG SAYAP: Karya Wewaler @Priyopati

SEPASANG SAYAP

Gagah burung elang tinggi terbang
Seberangi hutan dan lautan
‘tuk menggapai damai tujuan

Sayap kiri dan sayap kanan
Beriringan bergantian, 
dalam harmoni

Waktu dan usia
Seharusnya juga berjalan beriringan
Wataknya sang waktu terus melesat 
Tak ada istilah jalan mundur 
atau mengulang

Sesiapa yang hidup terlena 
sia-siakan waktu dan usia
bernilai emas permata
sayangnya terlewat 
hanya terbuang percuma

Retak patah
Hancur berkeping
Gagal mencapai tujuan


31 Mei 2026. wewaler@Priyopati

Isnin, 1 Disember 2025

BATU KARANG DI TITIK NADIR

BATU KARANG DI TITIK NADIR

Karya: Eduar


Di jantung pulau yang diukir zamrud khatulistiwa, 

Lumbung Langit tumpah, melebihi janji gerimis biasa. 

Sungai-sungai, urat nadi peradaban, pecah dalam raungan, 

Menggulung mimpi dan menanggalkan segala kepemilikan.


Aceh, Serambi yang kini basah oleh gelombang kedua, 

Sumatera Utara, tempat Pusuk Buhit diselimuti duka. 

Dan Ranah Minang, di mana lareh menghilang ditelan lumpur sunyi, 

Tiga Serangkai Ranah, memanggul beban yang sama di hari ini.


Telah datang air, bukan lagi air kehidupan, tapi air ujian, 

Yang merampas atap, memutus jalan, mengoyak kenyamanan. 

Kau berdiri di atas puing, mencari peta yang hilang, 

Mata menatap kosong pada batas yang kini terbentang.


Namun, wahai jiwa yang diuji di tebing paling curam, 

Tidakkah kau tahu, bahwa dalam badai, Akar Iman takkan karam? 

Cobaan ini adalah Sketsa Takdir di Arasy yang Abadi, 

Sebuah kanvas yang hanya bisa dilukis oleh Tangan Maha Suci.


Di mana letak kemanusiaanmu, jika bukan dalam kepasrahan? 

Bukan sekadar kata, tapi hening yang melegakan segala beban. 

Ikhlas adalah air bening yang menyucikan sisa-sisa lumpur, 

Ia adalah sumur hati, tempat segala kepedihan gugur.


Sabar adalah Gunung Leuser yang diam, tak beranjak, 

Ia tak mengeluh pada hujan, tak runtuh pada setiap retak. 

Ia memandang dari puncak tertinggi, mengerti bahwa 

Semua yang datang adalah utusan, sebuah pelajaran berharga.


Lihatlah lumpur yang kini membalut setiap tapak kakimu, 

Ia bukan akhir, tapi janji dari musim yang akan bertamu. 

Lumpur itu menyimpan Benih Kecil yang tak terlihat mata, 

Benih kebangkitan, ditanam oleh tangan Sang Pencipta.


Bangkitlah, wahai anak-anak Bumi Andalas yang perkasa, 

Jadikan air mata penyesalan menjadi embun doa. 

Bukan untuk meratapi, tapi untuk mengingat kembali: 

Kekuatan sejati tidak pernah berada di harta yang mati.


Jadilah seperti Pucuk Pakis yang baru, luruh tapi tak patah, 

Menyerap trauma menjadi nutrisi untuk hidup yang lebih megah. 

Sebab setelah murka sungai, akan ada Pelangi Tujuh Sumpah, 

Warna-warna baru yang lebih terang, dari Cahaya di atas segala.


Ikhlas dan Sabar, biarlah dua kata itu menjadi denyut nadi, 

Penerimaan pada yang hilang, keyakinan pada yang menanti. 

Kau adalah Batu Karang yang teruji, dicuci oleh waktu, 

Siap menyambut fajar yang tak akan pernah keliru.


Pekanbaru, 28 November 2025

Isnin, 15 September 2025

 Harumnya Udara Musim Semi 

By Widia Putri Darmila


Bunga-bunga bermekaran

Menghiasi bumi dengan warna

Sinar matahari yang hangat

Menghangatkan jiwa yang dingin


Di musim semi, aku merasa 

Hidup yang baru dan penuh harapan

Kehangatan yang menyebar 

Membuat jiwa merasa damai


Angin yang berhembus lembut

Membawa aroma tanah yang lembab 

Musim gugur, musim perubahan

Membuatku merasa reflektif


Di musim gugur, aku merasa

Hidup yang singkat dan berharga

Setiap momen dinikmati

Sebelum waktu berlalu pergi 


Indonesia, 13 September 2025


Hai, hallooooo. 

Salam kenal saya Widia Putri Darmila, lebih akrab nya di panggil uwid, Tidak ada yang spesial di diri sang penulis ini, Hanya saja yang perlu di ketahui bawa penulis sangat menyukai tantangan. Sesekali dia berkerja menjadi admin event, penanggung jawab event, owner penerbi dan leader olshop. Temui dia di instagram @wiaputt.

Thank you

 Hangatnya Cinta Kita

By Widia Putri Darmila


Di dalam pelukanmu, aku merasa

Hangatnya cinta yang tak terhingga

Suhu hatimu yang hangat

Membuatku merasa aman dan nyaman


Api kecil di tengah musim dingin

Menyinari wajah lelahmu

Menyambut jiwa yang dingin

Menghangatkan hati yang gundah


Sinar matahari di pagi yang cerah

Membuat dunia terasa lebih cerah 

Kehangatan yang datang dini

Membuat hidupku terasa bermakna


Kita berbagi kehangatan

Di setiap momen yang kita lalui

Hangatnya cinta kita

Membuat hidup terasa lebih indah


 Indonesia, 13 September 2025


Hai, hallooooo. 

Salam kenal saya Widia Putri Darmila, lebih akrab nya di panggil uwid, Tidak ada yang spesial di diri sang penulis ini, Hanya saja yang perlu di ketahui bawa penulis sangat menyukai tantangan. Sesekali dia berkerja menjadi admin event, penanggung jawab event, owner penerbi dan leader olshop. Temui dia di instagram @wiaputt.

Thank you

 Hati Yang Terhubung 

By Widia Putri Darmila 


Dua hati yang terhubung

Saling mengerti, saling mendukung

Dalam suka dan duka

Kita jalani hidup bersama


Kenangan manis terukir indah

Tawa dan air mata menjadi cerita

Sahabat sepertimu, tak lekang waktu

Selalu ada di sampingku


Engkau teman dalam suka dan duka

Menjadi sandaran dan tempat berbagai

Kita menjalani hidup bersama

Dengan tawa, air mata, dan kenangan


Kenangan manis terukir

Tawa dan air mata menjadi cerita

Sahabat sejati, tak lekang waktu

Selalu ada di sampingku.


Indonesia, 12 September 2025


Hai, hallooooo. 

Salam kenal saya Widia Putri Darmila, lebih akrab nya di panggil uwid, Tidak ada yang spesial di diri sang penulis ini, Hanya saja yang perlu di ketahui bawa penulis sangat menyukai tantangan. Sesekali dia berkerja menjadi admin event, penanggung jawab event, owner penerbi dan leader olshop. Temui dia di instagram @wiaputt.

Thank you

 Hati Yang Menyatuh

By Widia Putri Darmila 


Kita tidak terikat dengan darah 

Tapi kita terikat dengan batin yang kuat 

Saling mengerti, dan saling menyayangi satu sama lain, 


Menjadi sahabat yang seperti

Saudara kandung,Dalam suka dan duka, 

kita berdiri bersama Saling mendukung, 

Sering memberikan semangat


Kita adalah sahabat, yang sehati 

Dan sejiwa yang indah dan abadi, kita akan menjadi sahabat, yang tak pernah terpisahkan, 


Aku senang memiliki sahabat

Seperti kamu yang selalu ada, 

Dalam setiap langkahku dan

Selalu mendampingiku. 


Indonesia, 13 September 2025


Salam kenal saya Widia Putri Darmila, lebih akrab nya di panggil uwid, Tidak ada yang spesial di diri sang penulis ini, Hanya saja yang perlu di ketahui bawa penulis sangat menyukai tantangan. Sesekali dia berkerja menjadi admin event, penanggung jawab event, owner penerbi dan leader olshop. Temui dia di instagram @wiaputt.

Thank you

Dua Hati Satu Jiwa

By Widia Putri Darmila 


Di Sampingku, Engakau selalu

Menjadi Sandaranku berkeluh kesah, 

Saat suka maupun duka, saat ku 

Terjatuh terurai tawa dan air mata. 


Kita bagaikan kembaran 

Dalam ikatan satu batin, berjalan 

Seiring waktu, dalam setiap 

langkah canda dan tawa. 


Tangis menjadi saksi bisu, 

Dalam  Pedih nya perpisahan ini, 

Kau pergi tak kan kembali, persahabatan kita akan abadi. 


Kita bertemu di dunia lain

Dan akan tetap menjadi sahabat sejati, dalam perjalanan waktu terus berputar, Kita bercerita pada pengalaman hidup


Sahabat seperti kamu, 

Dalam setiap langkah kita akan bersama, 

Bersama dalam kehidupan menjadi sahabat sejati yang tak akan terpisahkan.


Indonesia, 13 September 2025


Salam kenal saya Widia Putri Darmila, lebih akrab nya di panggil uwid, Tidak ada yang spesial di diri sang penulis ini, Hanya saja yang perlu di ketahui bawa penulis sangat menyukai tantangan. Sesekali dia berkerja menjadi admin event, penanggung jawab event, owner penerbi dan leader olshop. Temui dia di instagram @wiaputt.

Thank you

Ahad, 17 Ogos 2025

JEJAK TAK TERLIHAT

Jejak Tak Terlihat 

Karya: Severinus bin Intang



Dua puluh tahun waktu yang menekan sunyi
dalam hening malam aku bertanya pada diri
apa yang telah aku ukir
di langit yang tak pernah lelah menunggu?

Sudahkah aku memberi sedikit terang
pada mereka yang terjebak dalam gelapnya malam?
atau justru aku adalah bayang-bayang
mengisi ruang tanpa suara tanpa jejak?

Aku berjalan langkah-langkah kecil  sepi
mencari erti di antara debu dan air mata
kadang aku lupa bahwa di dunia yang luas ini
aku hanyalah titik yang sering terlupakan.

Sumbanganku mungkin tak tampak terang
tak berkilau seperti bintang di langit malam
namun aku mencoba memberi pelukan di hati
pada mereka yang terluka meski aku tak bisa menyembuhkan.

Dua puluh tahun lebih dan aku masih terjebak dalam tanya
apakah aku telah memberi bakti yang sejati?
atau apakah aku hanya menjadi bayangan  berlalu
tanpa meninggalkan apapun selain lamunan  dalam?

Tapi di setiap titis hujan yang jatuh
di setiap senja yang menyelimuti dunia
aku berharap meski sumbanganku tak seberapa
aku bisa menjadi sedikit erti bagi dunia penuh tanda tanya ini.

Severinus bin Intang
Kg Penangah
16/8/2025


AKAR YANG SUNYI

 Akar yang Sunyi

Karya: Kims Diwa



Aku mengangkat hari dengan bahu yang letih

keringat gugur bagai hujan di bumbung seng

namun di menara kaca

namaku tetap hilang ditelan angka.


Mesin berputar dengan nadiku sendiri

aku menulis hidup pada besi yang berderu

tetapi dalam mata manusia

aku hanya bayang yang dilupakan waktu.


Setiap malam aku pulang membawa diam

detak jam seperti palu mengejek

sedang aku berbisik dalam doa,

“Engkaulah saksi setiap tetes yang jatuh.”


Biarlah sejarah bukan milik pena manusia

kerana di hadapan-Mu Tuhan Yang Maha Adil

akar yang sunyi pun dikenal

sebagai nadi yang membuat roda tetap berputar.


Kims Diwa 

Kg. Simpang Entilibon 

16/8/2025

Khamis, 24 Julai 2025

PUISI KEHIDUPAN DAN PENGHARAPAN

 Puisi kehidupan dan pengharapan

karya: Ju-Ann

Pada usia  kian matang,

kita terkadang menoleh pada jalan lalu  ketika masih mentah,

mengingat  kembali pada  diri yang sering takut berkata "tidak",

 rela menerima sisa pilihan,

kerana terlalu biasa mendahulukan mereka yang merasa lebih layak.


Ada hati pernah memendam jeritan,

dipandang rendah, diperlekeh dengan kata dan pandang.

Namun semua ditelan meski pahit,

kerana diam dilihat sebagai selamat,

kerana takut menyuarakan kehendak sendiri.


Cita-cita dikunci dalam senyap,

impian dilipat dalam redha yang senget.

Kerana hidup sering mengajar,

bahawa meminta lebih itu satu beban.


Namun di balik diam itu,

rupanya ada tangan Tuhan  bekerja senyap.


Dihantarnya pelindung yang memahami,

Anak-anak  penawar yang tak disangka,

dan pondok cinta yang menjadi pendamai jiwa.


Kerjaya yang terasa lambat memekar,

akhirnya menjejak ke tangga tertinggi,

bukan kerana kejaran tanpa henti,

tetapi kerana rahmat yang melampaui jangka.


Lalu timbul satu pertanyaan:

Apakah kebaikan yang pernah dilakukan?

hingga rezeki datang sebegini indah?


Mungkin…

kerana tetap bertahan saat mudah  rebah,

kerana memilih diam daripada membalas luka,

kerana tetap berjalan walau dunia mempersoalkan langkah.


Kini kita mengerti,

nilai diri bukan pada pujian manusia,

tetapi pada pandangan Tuhan

yang tahu segalanya,

meski tiada satu pun yang kita ucapkan.


Syukur hari ini,

bukan kerana memiliki segalanya,

tetapi kerana akhirnya

menemui makna diri yang sebenar.



Ju-Ann

Keningau

13/7/2025.

Selasa, 17 Jun 2025

GALAU

 GALAU 

Karya: Ju-Ann



Hari berlalu tanpa makna

seperti angin melintasi jendela

dingin sepi tak diundang

Aku berdiri di hiruk pikuk

namun sepi bersarang di dada

Pagi menyapa tanpa mesra

kopi tak lagi terasa pahit atau manis


Ada rasa terlalu dalam

untuk diubah jadi suara

hanya mampu diam

mengendap di ruang jiwa

menunggu ditumpahkan

pada selembar kertas kosong

atau bait puisi penuh makna


Diam bukan lemah

tapi cara jiwa bertahan

tenang walau rapuh

Kata-kata ingin keluar

teman dalam sunyi

hanya hati yang mengerti


Manusia datang silih berganti

dengan topeng kata

senyum kepuraan

Ada yang menuntut

ada yang melukai

jarang yang mengerti

Aku penat menjadi pelindung

menadah emosi bukan milikku

mengisi harapan tak kupinta

sedang hati sendiri

retak tanpa suara


Malam bukan tempat istirahat

ia cuma tirai gelap

menyembunyikan tangis

resah di balik kelopak mata tertutup


Aku ingin diam sejenak

melarikan diri dari segala nama

menjadi siapa siapa pun tidak

asal masih dapat merasa

aku ini manusia


Namun esok tetap menjelang

dan aku harus berpura lagi


Kadangkala kugerakkan jemari

menulis untuk diriku sendiri

sebab di situlah penyembuhan bermula


Nukilan 

Ju-Ann

Keningau,Sabah

13/6/2025.


Ahad, 4 Mei 2025

BAYANG DI HUJUNG LANGIT

Bayang di Hujung Langit

Karya: TK. Kelly Gincho


Aku simpan wajahmu di lipatan angin

di sela dedaun yang mengaji sunyi 

kerana rinduku bukan sekadar ingatan

tapi gema yang berdengung di rongga hati


Langit pun sudah lama tidak bertanya namamu

kerana bintang-bintang letih menunggu kau kembali

dan malamku 

adalah terowong kosong yang pernah kau suluh

dengan tawa dan cerita tak berpenghujung


Adakah kau masih memanggilku

dalam bahasa kenangan?

Adakah kopi masih hangat di jarimu

seperti ketika kita berkongsi senja

di atas bangku tua berwarna warisan?


Aku telah menulis seribu surat

di atas awan 

dan tiap satu gugur menjadi hujan

yang turun tanpa sempat kelihatan

kerana jarak itu kini bukan hanya langkah

tetapi waktu yang terlalu angkuh untuk kita kejar


Andai esok engkau terlupa namaku

biarlah angin menyebutnya perlahan

kerana yang hilang bukan hanya wajah

tapi serpihan diriku 

yang tak akan pernah kembali pulang


Tk. Kelly Gincho

Kota Kinabalu Sabah

20/04/2025

Jumaat, 25 April 2025

MASIH ADA FAJAR

 Masih Ada Fajar

Karya: Ohaini Lamiting



Takdir bukan noktah akhir,

jatuh bukan makna gagal,

rebah hanya ruang rehat,

untuk bangkit lebih teguh,

fajar menunggu di hadapan.


Langit kelam bukan selamanya,

awan hitam pasti berlalu,

mentari tak lupa menyinar,

bunga pun mekar semula,

di tanah yang pernah gersang.


Engkau bukan angka semata,

jiwamu lebih luas makna,

harapan masih bernyawa utuh,

teruskan langkah, jangan gentar,

Tuhan menyulam jalan baharu.


Ohaini Lamiting

SMK Penangah 

24 April 2025

Rabu, 23 April 2025

Kamu dan Perihal yang Tak Terbaca

Kamu dan Perihal Yang Tak Terbaca

Karya: Tiek Saja



Kamu adalah buku yang terbuka

Yang ingin kubaca lembar demi lembar.

Seringkali kudapati kejutan kecil di beberapa paragraph


Hari ini memasuki bab ketiga

Kamu masih buku yang sama yang ingin kubaca.

Dan semakin lama kusadari, kamu adalah Kumpulan kata-kata

Yang tak menenukan akhirannya.


Kamu kemudian menjadi aksara yang tak terbaca.

Ketika rindu jatuh berantakan dan sepi saling menertawakan.

Kamu adalah rindu yang tak pernah selesai kubaca.

Sedangkan aku adalah halaman yang enggan untuk kau buka.


Ahad, 20 April 2025

Aku, Anak Waktu

 Aku, Anak Waktu



Di tanah retak berdebu ini

Aku tumbuh tanpa teduh bayang

Dedaun harapan sering gugur

Namun akar jiwaku enggan goyang


Sendiri, bukan erti lemah

Tapi cermin kekuatan yang teruji

Dalam sunyi aku belajar gagah

Jati diriku tak mudah luntur begitu saja


Tiada tangan memimpin Langkah

Hanya gema hati jati penunjuk

Ilmu dan maruah jadi pedoman

Walau sepi, aku tak tunduk


Tanah ini bukan sekadar tempat berpijak

Ia pusaka jiwa dan maruah bangsa

Aku dijahit dari benang adat

Berpaut pada akar, bukan angin gelisah


Aku bukan bayang sesiapa

Aku adalah gema Sejarah sendiri

Terpahat dalam nadi bernama jati diri

Tak goyah meski dunia menduga


Perjuangan ini bukan sia-sia

Setiap titik peluh jadi doa

Hingga satu hari dunia percaya

Yang sendirian pun bisa berjaya.


Ruhana @ Venel Natasha Nasir, Beluran, Sabah

Sabtu, 29 Mac 2025

Ku Merindu Suasana di Hari Itu

 Ku Merindu Suasana di Hari Itu

Karya: Mohd Ezani 


Angin berbisik dalam kenangan,

Membawa bayang hari yang silam,

Di bawah langit berwarna terang,

Tersimpan rindu tak pernah padam.


Tawa bergema, riang berlari,

Di halaman rumah penuh harmoni,

Wajah-wajah yang dulu berseri,

Kini tinggal dalam memori.


Mentari pagi menyambut mesra,

Bersama harapan dan doa suci,

Namun kini tinggal rasa hampa,

Mengenang masa yang telah pergi.


Oh, andai bisa kuputar waktu,

Kan kupeluk erat saat itu,

Namun biarlah kenangan membisu,

Menghangatkan jiwa di kalbu.


MOHD EZANI

KG PINANGAH TOGOD,TELUPID

29/3/2025

Sabtu, 15 Mac 2025

SECEBIS KERINDUAN PADA-NYA

SECEBIS KERINDUAN PADA-NYA

Karya: Jcka Daily


Mendongak ke langit cerah menyinari

hidup dipenuhi belenggu dosa dicari

menambat hati lupa ajaran suci

membibit buas lubuk kalbu terkunci


Dosa pasti menari di pentas dunia

seperti duri mencucuk diri sia-sia

ikut rentak lagu gromofon sumbang

hanyut dalam lautan kian gersang


Seperti mata buta kehilangan pelita

secebis kerinduan pada-Nya dipinta

pengampunan mengetuk jiwa seksa

perlahan meruntuhkan tembok dosa


Bersujudlah mohon keampunan-Nya

kembali setia memancarkan cahaya

belas kasihan-Nya tak pernah pudar

tumbuh subur seperti bunga mekar


Jcka Daily

Penampang, Sabah, Malaysia

7 Maret 2025

Rabu, 12 Mac 2025

KEMBALI PADA-MU

Kembali pada-Mu

Oleh: Umi Hanin 



Di sudut malam yang hening

kususun doa dari sisa-sisa kelam

luka-luka yang kutoreh sendiri

menjadi jejak panjang di peta penyesalan


Langkahku berat

bebanku pekat

dosa-dosa menggelayut di dada

seperti bayang yang tak mau lepas

menghantui setiap helaan nafas


Namun Kau

seperti fajar yang tak pernah lelah datang

seperti laut yang tak bosan memeluk ombak

menungguku pulang

menantiku sadar


Tuhan,

adakah ruang tersisa di langit ampunan-Mu?

Jika air mata ini tak cukup mencuci noda

ajarkan aku caranya kembali...


Tangerang, 11 Maret 2025

Jumaat, 28 Februari 2025

Resah Kesendirian

RESAH KESENDIRIAN

Karya: Atarlinkga


Ratap rona nuansa malam

Secangkir kopi disudut kelam

Bias indah sinaran sang rembulan

Bulir berkaca dalam renungan


Rintihan hasrat bertamu

Dalam nyanyian nada sendu

gusar merambah segenap kalbu

Tirai malam sudut temu


Mengubur resah kesendirian

Berperang logika dan perasaan

Entah kemana membuang risau

kalut meronta karena sakau


Jerit rintih dinding keheningan

Deburan pantai isak tangisan

Muntahan hasrat segenap perasaan

Bernostalgia akan kebimbangan


Atarlinkga

Mentuda, 26 febuari 2025

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular