Rabu, 17 September 2025

BUMI MENANGIS DI PALESTINA

 BUMI MENANGIS DI PALESTINA

Karya : Eduar



Bumi di kakimu, Palestina,

bukan lagi tanah, 

ia menjelma luka yang tak sembuh,

retakan menganga seperti mulut haus

menelan tubuh anak-anak

sebelum sempat dewasa.


Langit berdebu,

bumi merintih dengan suara retak,

tulang-tulangnya dipaksa patah

oleh tank dan peluru.

Darah lebih deras dari hujan,

doa lebih sering tercekik

daripada sampai ke langit.


O, bumi zaitun yang suci,

kini menumbuhkan nisan.

Akar pohon menjulur

seperti tangan mencari syahid,

rumput hijau menyerap

air mata ibu yang bisu.


Aku mendengar ratapan bumi,

azan yang tertahan,

tasbih yang butirnya tercerai

dipukul badai mesiu.

Aku melihat bumi bergetar,

ingin menelan tirani,

namun sabar menahannya

dengan darah syuhada.


Setiap anak yang gugur

adalah biji zaitun menunggu musim,

setiap rumah yang runtuh

gunung yang mengasah kesabaran,

setiap ayah yang roboh

matahari yang kembali esok,

lebih garang,

membakar tirani dengan sinarnya.


Palestina…

bumimu kitab sakral

ditulis ulang dengan darah syuhada.

Engkau sajadah yang direntang

untuk sujud para syuhada,

rahim kesabaran

yang melahirkan fajar

meski dipaksa gelap.


O, bumi Palestina,

engkau berdarah, engkau merintih,

namun tak menyerah.

Setiap retakanmu doa,

setiap tangisanmu janji,

setiap deritamu jalan

menuju kebebasan

yang dunia pura-pura buta.


Pekanbaru, 12 September 2025

 Tanah Air, Luka, dan Doa

Nelly Amalia


Angin malam itu menderu seperti lolongan serigala lapar. Bulan bersembunyi di balik mendung, seolah enggan menyaksikan darah yang sebentar lagi akan membasuh tanah. Di sebuah dusun kecil yang tersembunyi di kaki perbukitan, seorang pemuda berjongkok di tepi sungai, mencuci tangannya yang ternodai lumpur dan darah ayam sembelihan. Napasnya terengah, matanya merah, tetapi bukan karena lelah melainkan karena tekad yang berapi.

Namanya Sastra. Tak banyak yang mengenalnya selain sebagai anak yatim piatu yang hidup dari belas kasihan warga desa. Namun, malam itu ia bukan lagi sekadar anak sebatang kara. Malam itu, ia adalah bara kecil yang siap menjelma api, menyala untuk tanah airnya.

“Aku hanya memiliki tubuh ini,” bisiknya pada arus sungai yang deras, “tapi tubuh inilah yang akan kupersembahkan.”

Sejak kabar penjajah merangsek masuk kampung demi kampung, merampas hasil bumi, mempermalukan perempuan, dan membakar rumah, ia tahu tidak ada lagi ruang untuk diam. Diam adalah kematian yang lebih lambat daripada peluru. Maka, ia memilih jalan yang getir menjadi pahlawan yang takkan pernah disebut namanya dalam buku sejarah.

Api yang Menyala di Langit Desa

Di kejauhan, desa tetangga sudah dilalap api. Asap mengepul, pekat dan hitam, berbau daging terbakar, bercampur jeritan yang merobek telinga malam. Angin membawa aroma kematian hingga ke sudut-sudut sawah, membuat pohon bambu berderit seakan meratap. Langit berpendar merah, seperti neraka yang menetes ke bumi.

Sastra menatapnya tanpa berkedip. Matanya membeku, tetapi dadanya bergemuruh. Ada ketakutan yang menjalari nadi, dingin seperti ular yang merayap di tulang. Namun di balik itu, ada bara kecil yang perlahan tumbuh, keberanian yang merekah seperti bunga liar di tanah gersang. Ia tahu, malam itu adalah garis pemisah: antara hidup sebagai manusia merdeka atau bangkai yang diinjak tanpa nama.

Tangannya gemetar saat menggenggam sebilah golok peninggalan ayahnya. Golok itu berkarat, gagangnya retak, tetapi dalam genggamannya terasa seolah berdenyut, hidup. Golok itu bukan sekadar besi, melainkan doa yang membatu. Doa ayahnya yang dulu gugur di medan tempur, tubuhnya tak pernah ditemukan, hanya kabar samar yang sampai pada ibunya.

Setiap kali golok itu digenggam, Sastra seakan mendengar gema suara ayahnya, “Tanah ini bukan sekadar bumi, Nak. Ia adalah ibu. Ia yang memberimu makan, minum, dan hidup. Maka, jangan biarkan ia diinjak dengan sepatu asing.”

Kalimat itu kini menghantui telinganya, lebih nyaring daripada suara jerit di kejauhan. Sastra menutup mata sejenak, membiarkan kata-kata itu menancap, lalu bangkit, menelan air liur yang getir.

Malam itu, ia berjalan dengan langkah berat menuju posko para pemuda desa. Di sana, sekitar dua puluh orang duduk mengelilingi api unggun. Api itu kecil, tetapi seakan menjadi satu-satunya cahaya yang tersisa di dunia. Wajah-wajah pucat diterangi cahaya merah yang goyah, mata mereka sembab oleh lelah dan takut. Namun di balik tatapan itu, ada sesuatu yang sama: percikan keberanian.

Tak ada tawa, tak ada percakapan ringan seperti biasanya. Yang terdengar hanyalah desah napas, suara kayu terbakar, dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Besok kita serang,” kata salah satu pemuda, suaranya serak, patah-patah seperti batu yang tergores besi. “Lebih baik mati melawan daripada hidup sebagai budak.”

Kalimat itu jatuh ke tanah seperti petir. Sejenak semua terdiam. Lalu, dari dada-dada yang tadi tertunduk, perlahan timbul anggukan.

Sastra merasakan dadanya bergetar. Kata-kata itu menancap, lebih tajam dari ujung golok di tangannya. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi merasa sendirian. Ia bukan lagi seorang bocah yang kehilangan ayah, melainkan bagian dari arus besar: arus pemuda yang siap menukar hidup dengan kemerdekaan.

Angin malam bertiup, membawa suara sayup dari kejauhan. Ratap wanita, tangis bayi, dentum senapan. Suara itu menusuk telinga mereka, tetapi justru membuat api unggun keberanian semakin menyala.

Salah satu pemuda, bernama Wira, berdiri. Tubuhnya kurus, namun sorot matanya tajam. “Kita semua tahu, mereka punya senapan. Kita hanya punya golok, bambu runcing, dan keberanian. Tapi ingatlah, senapan bisa kosong. Sedang keberanian, bila sudah menyala, tak ada peluru yang bisa memadamkan.”

Sastra merasakan hawa panas menjalar di kulitnya. Ia menatap wajah-wajah di sekeliling api unggun itu: wajah teman masa kecilnya, wajah tetangga yang dulu menolong ibunya, wajah pemuda yang sering bersama-sama turun ke sawah. Kini wajah-wajah itu berubah, dari remaja biasa menjadi prajurit tanpa seragam.

“Kalau besok aku mati,” kata seorang pemuda lain, “kuburkan aku di bawah pohon randu, agar anak-anak desa bisa bermain di atas kuburku. Biarlah mereka belajar, bahwa kemerdekaan selalu ditanam dari tubuh yang dikorbankan.”

Air mata hampir jatuh di pipi Sastra. Ia menunduk, menggenggam golok erat-erat hingga telapak tangannya terasa perih. Dalam hatinya ia berbisik: Ayah, lihatlah. Anakmu kini akan berjalan di jalan yang sama denganmu.

Api unggun berderak, memercik, seperti ikut bersumpah. Malam itu, di bawah langit yang merah karena desa-desa terbakar, para pemuda mengikrarkan satu janji: esok, darah mereka akan menjadi tinta untuk menulis kata “merdeka”.

Luka yang Menjadi Nyala

Pagi menjelang. Embun masih bergelayut di dedaunan ketika langkah kaki para penjajah terdengar memasuki hutan. Mereka membawa senapan, berbaris rapi, tertawa seperti serigala yang menemukan mangsa.

Sastra bersembunyi di balik semak, menunggu aba-aba. Tubuhnya gemetar, tetapi genggamannya pada golok semakin kuat.

“Sekarang!” teriak salah seorang pemimpin pemuda.

Seperti kawanan harimau yang dilepaskan dari kandang, mereka menyerbu. Batu, bambu runcing, dan golok berkilat di bawah cahaya pagi. Teriakan menggema, menggetarkan tanah.

Peluru mulai menghujani, menembus tubuh sahabat-sahabatnya. Jerit kesakitan bercampur pekik keberanian. Sastra berlari, menebas, menikam, berlumuran darah, entah darah musuh atau darah kawan. Ia hanya tahu satu hal: jangan biarkan tanah ini kembali diinjak.

Tiba-tiba, peluru menghantam pundaknya. Rasa perih membakar, darah hangat mengalir deras. Ia jatuh, tetapi tidak roboh. Dengan sisa tenaga, ia menancapkan golok ke dada musuh yang hendak menembaknya.

Di tengah rasa sakit, ia teringat wajah ibunya—yang dulu wafat karena wabah. Terbayang ayahnya yang mati digantung karena menolak tunduk pada penjajah. Luka di pundaknya menjadi nyala yang tak bisa dipadamkan.

“Aku tak boleh mati sia-sia,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Doa yang Menembus Langit

Pertempuran itu berlangsung hingga siang. Desa porak-poranda. Tubuh-tubuh berserakan. Sebagian sudah dingin, sebagian masih merintih menunggu ajal.

Sastra terkapar di bawah pohon beringin. Pandangannya kabur, dunia seperti berputar. Namun di tengah kepayahan itu, bibirnya bergetar, melantunkan doa:

“Ya Tuhan, jika darahku harus jadi tinta, maka tulislah kata merdeka di tanah ini. Jika tubuhku harus jadi batu, maka jadikan aku pondasi bagi generasi berikutnya. Jangan biarkan tanah ini menangis selamanya.”

Langit mendung, tetapi seolah ikut mendengarkan. Hujan turun perlahan, membasuh luka, mencuci darah, menenangkan bumi yang meraung.

Tanah yang Menyimpan Nama

Sastra tak pernah kembali dari pertempuran itu. Tidak ada yang tahu di mana jasadnya dimakamkan. Mungkin di tepi sungai, mungkin di hutan, mungkin menyatu dengan tanah yang dibelanya. Namanya tak tertulis di buku sejarah, tak diabadikan di monumen mana pun.

Namun, setiap kali angin bertiup di desa itu, orang-orang seakan mendengar bisikan: “Aku ada di sini. Aku adalah tanah, aku adalah doa. Selama kalian masih mencintai negeri ini, aku tak akan pernah mati.”

Anak-anak tumbuh, belajar dari cerita. Orang tua berbisik lirih pada generasi berikutnya: “Jangan pernah lupa, merdeka bukan hadiah. Ia adalah darah dan doa yang ditumpahkan oleh mereka yang tak sempat menulis namanya sendiri.”

Api yang Tak Pernah Padam

Puluhan tahun berlalu. Negeri ini memang tak lagi dijajah dengan senjata, tetapi dengan waktu, dengan kelalaian, dengan lupa. Namun, cerita tentang Sastra tetap bergaung. Ia menjadi mitos, legenda, tetapi sejatinya lebih nyata daripada banyak nama yang terukir di prasasti.

Karena pahlawan sejati adalah mereka yang ikhlas hilang dari catatan, namun hidup dalam jiwa bangsanya.

Dan setiap kali bendera merah putih berkibar, setiap kali lagu kebangsaan dinyanyikan dengan dada bergetar, sesungguhnya di sanalah Sastra hadir kembali—dalam tanah, dalam luka, dalam doa.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular