Jumaat, 19 September 2025

 BUNGA KECIL DARI EPIL

Karya: Eduar

 

Di ujung timur Desa Epil, desa kecil yang dikepung hutan rimba dan persawahan yang tak habis dipandang, hiduplah seorang anak perempuan bernama Salsabila. Usianya baru sembilan tahun, namun sorot matanya lebih tua dari bilangan usianya. Di matanya ada kabut duka yang jarang dimiliki anak-anak lain, kabut yang lahir dari kehilangan dan ujian hidup.

Ayahnya telah lama pergi, ditelan bumi tanpa meninggalkan harta, hanya kenangan wajah dan doa. Ibunya terbaring sakit di ranjang bambu, tubuhnya sering gemetar seperti daun jati diguncang angin malam. Dua adiknya, Rafi dan Nisa, masih kecil, belum tahu bagaimana dunia bisa begitu keras, bagaimana nasi di piring bisa menjadi barang mahal jika tak ada tangan yang bekerja.

Namun, Salsabila tidak pernah menyerah. Ia sadar, ia adalah tulang rusuk yang rapuh tapi harus menjadi tiang rumah.

 

Pagi yang Retak

Setiap pagi, Salsabila berangkat sekolah dengan baju lusuh yang sudah memudar warnanya. Seragam itu sudah dijahit berulang kali, benangnya silang-menyilang seperti peta perjalanan hidupnya sendiri. Rambutnya selalu diikat sederhana, namun ada kilau sinar matahari pagi yang menempel di helainya, seolah Tuhan menitipkan cahaya untuk meneguhkan hatinya.

Di kelas, ia selalu duduk paling depan. Walau perutnya kadang kosong, ia tak pernah absen menulis, tak pernah lalai mendengar. Ia tahu, ilmu adalah perahu yang kelak akan membawanya keluar dari samudra kesusahan.

Tetapi begitu lonceng sekolah berdentang, hidupnya berubah menjadi perjuangan lain.

 

Langkah Kecil, Beban Besar

Sepulang sekolah, Salsabila mengambil keranjang bambu dari rumah tetangganya. Keranjang itu penuh berisi kue cucur, kue lapis, dan onde-onde. Setiap satu kue yang terjual, ia mendapat upah dua ratus rupiah. Hanya dua ratus, tapi baginya, uang itu adalah cahaya kecil di tengah gelapnya malam.

Ia berkeliling kampung, mengetuk pintu rumah orang, menahan malu, menahan letih. Kadang orang membeli dengan senyum, kadang hanya menutup pintu tanpa kata. Salsabila tersenyum walau hatinya retak. Ia tahu, rezeki datang dari Tuhan, bukan dari wajah manusia.

Kakinya yang kecil sering lecet karena sandal yang kebesaran, warisan dari seorang sepupu. Namun ia tetap berjalan, sebab di kepalanya terbayang wajah dua adik yang menunggu di rumah, berharap ada sesuap nasi untuk makan malam.

 

Ujian dan Air Mata

Banyak kali Salsabila jatuh. Pernah suatu sore, hujan deras mengguyur. Kue-kue dalam keranjang basah, hancur, tak lagi laku. Ia pulang dengan mata sembab, keranjang kosong, dan tangan hampa. Di rumah, ibunya hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, tidak mampu bangun untuk memeluknya.

Namun malam itu, Salsabila duduk di samping ibunya. Dengan suara kecil tapi penuh keberanian, ia berbisik:

"Bu, jangan sedih. Besok aku akan berjualan lagi. Selama aku masih bisa berjalan, kita tidak akan kelaparan."

Ucapannya bagai doa, dan doa anak yatim sering lebih cepat mengetuk pintu langit.

 

Pelita Kecil yang Tumbuh

Hari demi hari, penderitaan itu mengasah Salsabila. Ia tumbuh bukan seperti anak-anak kebanyakan, tapi seperti pohon kecil yang tumbuh di tepi jurang, akarnya menghujam kuat demi bertahan. Ia belajar tersenyum walau hatinya menangis, belajar menahan lapar agar adik-adiknya bisa kenyang, belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tapi tentang memberi dengan segenap tenaga.

Tetangga mulai melihat keteguhan gadis kecil itu. Ada yang iba, ada yang memuji, ada pula yang mencibir. Namun Salsabila tetap melangkah. Ia seperti matahari pagi yang selalu terbit, walau awan mencoba menutupinya.

 

Bunga yang Mekar dari Lumpur

Tahun-tahun berlalu. Salsabila tak hanya menjual kue, ia mulai belajar membuat kue sendiri. Dari sisa upah kecilnya, ia membeli gula, tepung, dan kelapa parut. Tangannya yang mungil belajar mengaduk adonan, mencetak kue, menggoreng dengan api kecil. Di dapur bambu yang sempit, lahirlah karya pertama: kue sederhana dengan rasa manis perjuangan.

Ia menjual kue buatan tangannya, dan orang-orang mulai suka. "Kue buatan Salsabila rasanya lain," kata seorang ibu di warung. "Ada manis yang tidak hanya dari gula, tapi dari hatinya."

Kue-kue itu menyebar dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pasar ke pasar lain. Lambat laun, Salsabila mulai dikenal. Dari upah dua ratus rupiah per kue, ia kini bisa menyimpan sedikit demi sedikit.

 

Matahari di Ufuk Baru

Ketika usianya beranjak remaja, Salsabila sudah mampu membiayai sekolah adik-adiknya. Ibunya, meski masih sakit, mulai membaik sedikit demi sedikit. Rumah mereka yang dulu reyot, pelan-pelan diperbaiki dengan papan baru, atap yang tidak lagi bocor ketika hujan datang.

Salsabila tidak berhenti di situ. Ia terus belajar. Ia masuk ke sekolah menengah, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi dengan beasiswa. Ia selalu ingat, buku adalah sayap yang akan membawanya terbang tinggi.

Hari-hari gelap di masa kecilnya menjadi bahan bakar semangat. Ia tidak ingin lagi melihat anak-anak lain menangis karena lapar, atau harus berjualan di jalanan tanpa pilihan.

 

Salsabila, Pahlawan Kecil dari Epil

Tahun-tahun berlalu, dunia mengenal nama Salsabila bukan hanya sebagai pedagang kue, tapi sebagai seorang pengusaha sukses. Usahanya menjalar ke berbagai kota. Namun hatinya tetap sederhana, tetap merunduk seperti padi yang berisi. Ia kembali ke Desa Epil, membangun sekolah gratis untuk anak-anak miskin, membangun klinik kecil untuk ibu-ibu yang sakit seperti ibunya dulu.

Ketika ditanya, rahasia keberhasilannya apa, Salsabila selalu tersenyum dan menjawab:
"Aku hanya berjalan dengan kaki kecilku, tapi aku percaya Tuhan selalu menuntun arah."

Anak-anak desa Epil kini menyebutnya pahlawan kecil. Sebab dari reruntuhan kemiskinan, ia tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi banyak orang.

 

Metafora Kehidupan

Hidup Salsabila adalah cerita bunga kecil yang tumbuh di lumpur. Orang mungkin mengira ia tak akan mekar, tapi ternyata ia menjadi teratai indah yang menyejukkan mata. Hidupnya adalah sungai yang awalnya kecil dan keruh, namun terus mengalir hingga menjadi samudra luas yang memberi kehidupan.

Ia adalah bukti bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan awal dari cahaya. Ia adalah bintang kecil yang bersinar di langit desa terpencil, menunjukkan jalan bagi generasi setelahnya.

Dan di setiap malam, ketika angin menyapu daun-daun pisang di belakang rumah, Salsabila masih teringat masa kecilnya. Gadis sembilan tahun yang berjalan membawa keranjang kue, dengan sandal longgar, dengan air mata yang jatuh diam-diam, tapi dengan hati yang berkata:
"Aku harus bertahan, demi mereka yang kucinta."

Kini, suara kecil itu telah menjadi gema besar yang menggetarkan dunia.

 

Pekanbaru, 16 September 2025

Jumlah kata: ±1.180 kata.

 

Bisikan Laut, Tangisan Langit Palestina

Karya : Agustina Rahman

 

Di ufuk Gaza, laut berdesah lirih

Menyimpan rahasia doa yang tercecer

Di antara buih ombak dan puing sunyi

Seolah samudra ikut merapal zikir

 

Langit pun merintih

Menurunkan hujan sebagai air mata

Membasuh mesiu yang masih berasap

Menghapus jejak darah yang enggan kering

 

Anak-anak menyalakan pelita suaranya

Tawa mereka patah berkeping

Namun tetap bergema seperti nyanyian merpati

Menentang sunyi di ambang maut

 

Palestina adalah nyanyi luka

Jerit yang menjelma doa

Takbir yang menembus dinding baja

Menggetarkan arasy di langit ketujuh

 

Laut pun bersumpah

Langit pun berikrar

Dari retak bumi dan darah yang tumpah

Akan lahir suara kebebasan

Yang tak bisa lagi dibungkam

 

Makassar, 19 September 2025

 

BIONARASI


 

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

 

GUGURNYA SEORANG FRONTLINER

OLEH :  ASMANIZA DIN

 

Unit kecemasan hospital bergema dengan batuk yang bersahut-sahutan, tangisan anak kecil dan derap langkah yang tidak pernah berhenti. Bau antiseptik menusuk kuat, seakan bersatu dengan resah yang berlegar di udara.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Aisyah tetap berdiri teguh. Jururawat senior berusia enam puluh tahun itu jelas dilakar usia pada wajahnya. Namun, tangannya masih pantas bekerja dan matanya tetap tajam menilai setiap pesakit yang datang.

“Kak Aisyah, berehatlah sekejap,” pinta jururawat muda bernama Hana, sambil menyentuh lembut lengan Aisyah.

“Dari tadi tak duduk langsung. Nanti akak pula yang tumbang.”

Aisyah hanya menguntum senyum tipis, biarpun tubuhnya terasa makin berat. Lututnya berdenyut, pinggangnya seakan menjerit minta direhatkan. Namun, dia tetap menggeleng perlahan.

“Selagi ada nyawa yang memerlukan kita, duduk bukan pilihan,” balasnya lembut, tetapi tegas.

Bagi Aisyah, itulah prinsip hidup yang menjadi pegangan dan membakar semangatnya sejak dahulu. Rehat boleh ditangguh, tetapi nyawa yang berpaut pada harapan tidak pernah menunggu.

Di luar, siren ambulans meraung tanpa henti. Kes demi kes akibat wabak yang menular datang bertali arus, seakan tidak memberi ruang untuk lega.

Aisyah tahu, angka yang terpampang di kaca televisyen setiap malam tidak pernah cukup untuk menggambarkan kenyataan sebenar yang terbentang di depan matanya. Wajah-wajah yang tercungap mencari oksigen itu diselimuti keringat, air mata dan bayang kehilangan.

Sudah lebih tiga dekad Aisyah berkhidmat sebagai jururawat. Asalnya, dia bercadang untuk bersara pada tahun itu. Farhan dan Nadia sudah lama mendesaknya.

“Mak dah cukup berkhidmat. Mak berehat sajalah,” rayu mereka berulang kali.

Saat berita tentang wabak mula menular, hatinya terasa digenggam erat. Bagaimana mungkin dia mampu duduk diam di rumah, sedangkan sahabat-sahabat seperjuangannya sedang bertarung dengan gelombang pesakit yang tidak pernah reda?

Ingatannya melayang pada hari pertama dia mengangkat sumpah, lebih tiga puluh lima tahun lalu. Janjinya bukan sekadar melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin, tetapi untuk memikul amanah terhadap setiap nyawa yang dititipkan di tangannya.

“Kalau ini sumbangan terakhir aku pada tanah air, biarlah,” bisiknya sendiri ketika menandatangani borang lanjutan perkhidmatan.

Namun, tidak semua orang melihat pengorbanannya sebagai sebuah perjuangan. Malah, ada di kalangan jiran yang mula menjauh.

Isyarat itu cukup membuatkan Aisyah terasa seperti diusir perlahan-lahan dari ruang yang sepatutnya menjadi tempat untuk dia berteduh.

Pernah juga telinganya menangkap bisik-bisik, ‘Dia tu kerja hospital. Entah-entah bawa balik virus. Kita kena hati-hati, takut berjangkit.’

Kata-kata itu menikam, lebih perit daripada sakit sendi yang ditanggungnya saban hari. Namun, dia tidak menyalahkan sesiapa kerana ketakutan mampu menjadikan manusia asing sesama manusia.

Jauh di sudut hati, Aisyah berharap ada yang mengerti. Perjuangan senyap ini mungkin tidak disambut dengan tabik hormat atau pingat, namun tetap menuntut keberanian sebesar-besarnya.

***

Malam itu, seorang wanita pertengahan umur dibawa masuk dalam keadaan kritikal. Nafasnya tersekat-sekat. Aisyah pantas bertindak bersama pasukan perubatan yang lain.

Saat jarum menembusi kulit dan mesin oksigen dipasang, pandangan mereka sempat bertaut. Renungan itu milik seorang insan yang tidak bersedia untuk 'pergi' sendirian.

Tanpa ragu, Aisyah segera membisikkan kata-kata semangat, meskipun dia sendiri tidak pasti sama ada wanita itu masih mampu mendengar suaranya atau tidak.

Minggu berganti minggu. Gelombang pesakit semakin membanjiri, jumlahnya meningkat saban hari seakan tidak terbendung. Hospital menjadi kubu terakhir, tempat mereka bertahan demi setiap nafas yang masih tersisa.

Bagi Aisyah, siang terasa terlalu panjang, manakala malam hadir dengan kesunyian yang lebih berat. Dia pulang hanya untuk membersihkan diri, menunaikan solat dan melelapkan mata seketika sebelum kembali ke wad. Kehidupan peribadi kian lenyap sama sekali.

Suatu hari, selesai menukar pakaian perlindungan yang sudah lencun dengan peluh, telefon bimbitnya bergetar. Nama Nadia tertera di skrin.

Aisyah menghela nafas perlahan, lalu menekup telinga dengan tangan yang masih berbau ubat-ubatan.

“Mak…” suara Nadia serak, menahan sebak.

“Sampai bila mak nak terus macam ni?”

Aisyah terdiam. Pandangannya jatuh pada sebaris katil pesakit yang penuh sesak. Hanya bunyi mesin dan nafas tercungap yang menemani.

“Mak sendiri pun tak sihat, kan? Kalau apa-apa jadi pada mak…” suara Nadia pecah, bergetar.

“Kami anak-anak mak ni… macam mana?”

Aisyah menutup mata sejenak. Kata-kata itu menikam, namun dia cuba menahan gelora di dada.

“Nadia… orang lain pun ada keluarga. Kalau semua berhenti sebab takut, siapa yang akan merawat pesakit?”

Kedengaran esakan halus di hujung talian, kemudian suara Nadia meninggi sedikit, antara tangis dan marah.

“Mak… mak bukan pahlawan. Mak cuma manusia biasa yang juga boleh jatuh sakit. Tolonglah fikirkan tentang diri mak.”

Aisyah terpaku. Manusia biasa. Ya, itu benar. Tetapi manusia biasa sepertinya jugalah yang sering menjadi perisai antara hidup dan mati orang lain.

“Mak janji akan berhati-hati,” balasnya perlahan.

Dia tahu janji itu rapuh seperti helaian tisu, namun jiwanya terus berperang antara amanah yang digalas dan kasih seorang ibu.

Setelah panggilan tamat, Aisyah duduk lama di bilik rehat jururawat. Tangannya menggigil saat membuka bekal makanan. Nasi di dalam bekas masih hangat, tetapi hatinya terasa dingin dan kosong.

Benaknya dihantui persoalan yang sama. Mengapa masyarakat hanya melihat pahlawan sebagai mereka yang mengangkat senjata di medan perang, sedangkan jiwa kepahlawanan dalam wad ini jarang sekali terlihat?

Ingatan Aisyah kembali pada wajah seorang pesakit minggu lalu. Wanita itu akhirnya pergi jua. Tubuhnya dibalut plastik putih, dibawa keluar tanpa keluarga yang dapat mengiringi. Aisyah sendiri yang membisikkan kalimah syahadah ke telinganya, lalu menutup kedua matanya dengan penuh hiba.

“Kalau bukan pahlawan, apa lagi namanya?” bisik Aisyah sendirian.

***

Suasana hari itu kian huru-hara. Wad penuh sesak hingga katil tambahan terpaksa dibuka di koridor. Bau ubat bercampur dengan peluh, bersatu dengan tangisan ahli keluarga yang hanya mampu menunggu di luar pagar hospital.

Aisyah tetap melangkah dari satu pesakit ke pesakit lain walaupun tubuhnya semakin lelah. Pelitup muka di wajahnya sudah lencun dengan peluh, namun tangannya enggan berhenti bekerja.

Dia sedar, ini bukan lagi sekadar tugas hakiki. Inilah medan pertempuran sebenar mereka, sedangkan kekuatan barisan hadapan semakin rapuh.

Ketika sedang membantu seorang pesakit yang tercungap-cungap, Aisyah dikejutkan oleh bunyi sesuatu jatuh di belakang. Hana rebah di lantai, tubuhnya menggigil hebat akibat dehidrasi. Panik serta-merta menguasai suasana.

“Ya Allah, Hana… cepat, tolong angkat dia!” arah Aisyah lantang, meski dirinya sendiri hampir tidak berdaya. Dia segera berlutut di sisi Hana, menyeka peluh yang membasahi dahi gadis itu.

“Tolong bangun, Hana… perjuangan kita belum selesai.”

Namun di sebalik kata-kata itu, dadanya sendiri berombak kencang. Nafasnya semakin berat. Sejenak, terbit persoalan di benaknya. Mungkinkah kudratnya sendiri juga sudah menghampiri batas terakhir?

Selesai Hana dibawa ke bilik rehat, Aisyah duduk sebentar di kerusi logam yang terletak di satu sudut wad. Tangannya menggigil ketika membuka sedikit pelitup muka, cuba menyedut udara yang terasa semakin menekan dada.

Jantungnya masih berdegup laju, seiring dengan bunyi mesin dan batuk pesakit yang bersahut-sahutan. Dalam kelelahan itu, fikirannya mula dihantui persoalan yang selama ini cuba dia singkirkan.

"Kalaulah aku sendiri yang tumbang, adakah semua pengorbanan ini akan dikenang? Atau aku hanya akan menjadi sebahagian daripada angka yang terpampang di kaca televisyen esok pagi?"

Aisyah terkenang akan ayahnya, seorang pesara tentera yang pergi ketika dia masih remaja. Kisah-kisah ayahnya tentang sahabat seperjuangan yang gugur syahid di sisi masih terngiang di telinganya.

Sejak kecil, Aisyah percaya bahawa pahlawan hanyalah mereka yang mengangkat senjata. Namun, perjuangannya juga tidak kurang mulia.

Jika dahulu ayahnya bersenjatakan senapang, dia kini bersenjatakan jarum suntikan. Jika ayahnya berlindung di sebalik perisai besi, dia pula berlindung di sebalik pelitup muka dan sarung tangan getah.

Senjata mereka mungkin berbeza, tetapi perjuangan mereka tetap sama. Setiap jihadnya yang dibawa pulang akan kekal menjadi saksi sunyi, hanya antara dirinya dengan Allah.

Pintu wad tiba-tiba terbuka, membawa masuk seorang pesakit baharu. Usia remaja lelaki itu sekitar tujuh belas tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat.

“Mak saya mana?” suaranya serak, menahan resah. Matanya liar menyapu sekeliling, mencari kelibat ibunya.

Aisyah menghampiri sambil menahan sebak yang menyesak di dada. Dia tahu, ibu remaja itu sedang dikuarantin di wad lain dan mereka tidak dibenarkan bertemu.

"Mak kamu tak dapat masuk sekarang,” jawabnya lembut, cuba menenangkan.

“Kami semua ada di sini. Jangan risau, ya?” pujuk Aisyah lagi.

Remaja itu tunduk, lalu menekup wajahnya dengan tangan yang lemah. Esakan halus mulai terbit, pecah perlahan seperti gerimis yang mengetuk jiwa Aisyah.

Dada Aisyah terasa perit. Dia hanya mampu menatap dengan pandangan yang berkaca. Dalam diam, dia memanjatkan doa agar remaja itu diberikan kekuatan dan ketenangan.

***

Hari-hari yang dilalui kian menghimpit. Batuknya semakin menjadi-jadi, namun Aisyah tetap memilih untuk bertahan. Setiap kali doktor menyuruhnya berehat, dia hanya mengangguk tanpa memberi sebarang janji.

Hari itu, keadaan semakin tidak terkawal. Pesakit membanjiri hospital dalam jumlah luar biasa, memenuhi setiap ruang yang ada. Bekalan oksigen pula semakin berkurangan. Dalam kekalutan itu, barisan hadapan tetap berdiri teguh mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawa insan lain.

Aisyah memaksa dirinya bergerak dari satu katil ke katil lain. Peluh membasahi pelitup muka, jantungnya berdegup laju. Saat dia cuba membantu seorang pesakit, dunia tiba-tiba berpusing. Hampir sahaja dia rebah, namun sempat disambut oleh Hana.

“Jangan risau, akak okey. Hana pergilah uruskan pesakit lain dulu,” suara Aisyah serak, hampir tenggelam.

Bunyi troli yang ditolak laju bersama derapan langkah kaki yang berlari-lari, semakin menambah cemas suasana. Hana masih ragu-ragu. Kedua tangannya menggenggam lengan Aisyah erat. Aisyah mengangguk, cuba meyakinkan Hana.

Ketika dibawa ke bilik rawatan, telinganya masih jelas menangkap hiruk-pikuk di luar. Dadanya kian sesak, namun hatinya lebih perit kerana tidak mampu berada di sisi mereka.

Keesokan paginya, Aisyah tidak lagi dibenarkan bertugas. Doktor mengesyaki dia telah dijangkiti, lalu menempatkannya di wad kuarantin.

Dari katilnya, dia hanya mampu memandang. Sahabat-sahabatnya berlari ke sana sini, berjuang sebagaimana yang pernah dia lakukan selama ini. Hatinya pedih, kerana buat pertama kali dia berada di posisi sebagai seorang pesakit. Bukan sebagai penyelamat.

Detik-detik yang tinggal terasa semakin perlahan. Setiap helaan nafasnya kini seolah-olah sedang menghitung waktu. Keadaan Aisyah semakin lemah. Namun, sebelum benar-benar tenggelam dalam lena yang panjang, dia sempat menulis sepucuk surat buat Nadia dan Farhan.

Anak-anakku, maafkan mak kerana jarang berada di sisi kalian. Mak bukanlah seorang pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi mak harap kalian faham. Setiap nyawa yang mak pertahankan di sini, mak lindungi dengan cinta yang sama seperti cinta mak terhadap kalian. Andai ini sumbangan terakhir mak untuk tanah air, biarlah ia menjadi tanda bahawa keberanian tidak selalu datang bersama senjata. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk kasih sayang.

Noktah terakhir pada helaian kertas itu ditinggalkan dengan tangan yang bergetar. Pena terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke lantai. Perlahan-lahan matanya terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa.

Dan sepi mula mengambil alih.

***

Beberapa hari kemudian. Di ruang tamu rumah mereka, Nadia membaca surat itu dengan suara bergetar. Farhan hanya mampu menunduk, menahan air mata yang enggan berhenti mengalir.

Meskipun pedih menerima kehilangan, mereka percaya restu seorang ibu akan sentiasa menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah.

Di hati mereka, Aisyah akan sentiasa hidup sebagai seorang pahlawan yang memilih untuk berkorban dengan cara yang paling sunyi, namun tetap bermakna.


Tamat.

 Suara dari Pena Kecilku

Oleh: Nurul Afifah Binti Rahim


Di tanah yang merah oleh darah,

anak-anak tetap menatap langit dengan doa,

meski runtuh rumah, retak jiwa,

namun iman mereka tak pernah binasa.


Jerit dan tangis bersatu jadi nyanyian,

menggema ke seluruh pelusuk bumi,

“Jangan biarkan kami sendiri,

suara kalian adalah pelita kami.”


Maka kuserahkan bait ini sebagai saksi,

pena kecilku menyulam janji,

akan terus menulis, akan terus berdiri,

hingga Palestina kembali merdeka hakiki.


Bait-bait ini hanyalah titipan,

namun semoga jadi titisan harapan,

menyapu luka, menyeka tangisan.


Wahai dunia, bukalah mata dan telinga,

di balik runtuhan masih ada suara,

memanggil nurani, menyeru jiwa.


Selagi denyut nadi masih terasa,


selagi tinta mampu mengalirkan makna,

aku bersumpah: Palestin tidak akan pernah sendirian selamanya.


GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular