BUNGA KECIL DARI EPIL
Karya: Eduar
Di ujung timur Desa Epil, desa kecil yang dikepung hutan rimba dan persawahan yang tak habis dipandang, hiduplah seorang anak perempuan bernama Salsabila. Usianya baru sembilan tahun, namun sorot matanya lebih tua dari bilangan usianya. Di matanya ada kabut duka yang jarang dimiliki anak-anak lain, kabut yang lahir dari kehilangan dan ujian hidup.
Ayahnya telah lama pergi, ditelan bumi tanpa meninggalkan harta, hanya kenangan wajah dan doa. Ibunya terbaring sakit di ranjang bambu, tubuhnya sering gemetar seperti daun jati diguncang angin malam. Dua adiknya, Rafi dan Nisa, masih kecil, belum tahu bagaimana dunia bisa begitu keras, bagaimana nasi di piring bisa menjadi barang mahal jika tak ada tangan yang bekerja.
Namun, Salsabila tidak pernah menyerah. Ia sadar, ia adalah tulang rusuk yang rapuh tapi harus menjadi tiang rumah.
Pagi yang Retak
Setiap pagi, Salsabila berangkat sekolah dengan baju lusuh yang sudah memudar warnanya. Seragam itu sudah dijahit berulang kali, benangnya silang-menyilang seperti peta perjalanan hidupnya sendiri. Rambutnya selalu diikat sederhana, namun ada kilau sinar matahari pagi yang menempel di helainya, seolah Tuhan menitipkan cahaya untuk meneguhkan hatinya.
Di kelas, ia selalu duduk paling depan. Walau perutnya kadang kosong, ia tak pernah absen menulis, tak pernah lalai mendengar. Ia tahu, ilmu adalah perahu yang kelak akan membawanya keluar dari samudra kesusahan.
Tetapi begitu lonceng sekolah berdentang, hidupnya berubah menjadi perjuangan lain.
Langkah Kecil, Beban Besar
Sepulang sekolah, Salsabila mengambil keranjang bambu dari rumah tetangganya. Keranjang itu penuh berisi kue cucur, kue lapis, dan onde-onde. Setiap satu kue yang terjual, ia mendapat upah dua ratus rupiah. Hanya dua ratus, tapi baginya, uang itu adalah cahaya kecil di tengah gelapnya malam.
Ia berkeliling kampung, mengetuk pintu rumah orang, menahan malu, menahan letih. Kadang orang membeli dengan senyum, kadang hanya menutup pintu tanpa kata. Salsabila tersenyum walau hatinya retak. Ia tahu, rezeki datang dari Tuhan, bukan dari wajah manusia.
Kakinya yang kecil sering lecet karena sandal yang kebesaran, warisan dari seorang sepupu. Namun ia tetap berjalan, sebab di kepalanya terbayang wajah dua adik yang menunggu di rumah, berharap ada sesuap nasi untuk makan malam.
Ujian dan Air Mata
Banyak kali Salsabila jatuh. Pernah suatu sore, hujan deras mengguyur. Kue-kue dalam keranjang basah, hancur, tak lagi laku. Ia pulang dengan mata sembab, keranjang kosong, dan tangan hampa. Di rumah, ibunya hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, tidak mampu bangun untuk memeluknya.
Namun malam itu, Salsabila duduk di samping ibunya. Dengan suara kecil tapi penuh keberanian, ia berbisik:
"Bu, jangan sedih. Besok aku akan berjualan lagi. Selama aku masih bisa berjalan, kita tidak akan kelaparan."
Ucapannya bagai doa, dan doa anak yatim sering lebih cepat mengetuk pintu langit.
Pelita Kecil yang Tumbuh
Hari demi hari, penderitaan itu mengasah Salsabila. Ia tumbuh bukan seperti anak-anak kebanyakan, tapi seperti pohon kecil yang tumbuh di tepi jurang, akarnya menghujam kuat demi bertahan. Ia belajar tersenyum walau hatinya menangis, belajar menahan lapar agar adik-adiknya bisa kenyang, belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tapi tentang memberi dengan segenap tenaga.
Tetangga mulai melihat keteguhan gadis kecil itu. Ada yang iba, ada yang memuji, ada pula yang mencibir. Namun Salsabila tetap melangkah. Ia seperti matahari pagi yang selalu terbit, walau awan mencoba menutupinya.
Bunga yang Mekar dari Lumpur
Tahun-tahun berlalu. Salsabila tak hanya menjual kue, ia mulai belajar membuat kue sendiri. Dari sisa upah kecilnya, ia membeli gula, tepung, dan kelapa parut. Tangannya yang mungil belajar mengaduk adonan, mencetak kue, menggoreng dengan api kecil. Di dapur bambu yang sempit, lahirlah karya pertama: kue sederhana dengan rasa manis perjuangan.
Ia menjual kue buatan tangannya, dan orang-orang mulai suka. "Kue buatan Salsabila rasanya lain," kata seorang ibu di warung. "Ada manis yang tidak hanya dari gula, tapi dari hatinya."
Kue-kue itu menyebar dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pasar ke pasar lain. Lambat laun, Salsabila mulai dikenal. Dari upah dua ratus rupiah per kue, ia kini bisa menyimpan sedikit demi sedikit.
Matahari di Ufuk Baru
Ketika usianya beranjak remaja, Salsabila sudah mampu membiayai sekolah adik-adiknya. Ibunya, meski masih sakit, mulai membaik sedikit demi sedikit. Rumah mereka yang dulu reyot, pelan-pelan diperbaiki dengan papan baru, atap yang tidak lagi bocor ketika hujan datang.
Salsabila tidak berhenti di situ. Ia terus belajar. Ia masuk ke sekolah menengah, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi dengan beasiswa. Ia selalu ingat, buku adalah sayap yang akan membawanya terbang tinggi.
Hari-hari gelap di masa kecilnya menjadi bahan bakar semangat. Ia tidak ingin lagi melihat anak-anak lain menangis karena lapar, atau harus berjualan di jalanan tanpa pilihan.
Salsabila, Pahlawan Kecil dari Epil
Tahun-tahun berlalu, dunia mengenal nama Salsabila bukan hanya sebagai pedagang kue, tapi sebagai seorang pengusaha sukses. Usahanya menjalar ke berbagai kota. Namun hatinya tetap sederhana, tetap merunduk seperti padi yang berisi. Ia kembali ke Desa Epil, membangun sekolah gratis untuk anak-anak miskin, membangun klinik kecil untuk ibu-ibu yang sakit seperti ibunya dulu.
Ketika ditanya, rahasia keberhasilannya apa, Salsabila selalu tersenyum dan menjawab:
"Aku hanya berjalan dengan kaki kecilku, tapi aku percaya Tuhan selalu menuntun arah."
Anak-anak desa Epil kini menyebutnya pahlawan kecil. Sebab dari reruntuhan kemiskinan, ia tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi banyak orang.
Metafora Kehidupan
Hidup Salsabila adalah cerita bunga kecil yang tumbuh di lumpur. Orang mungkin mengira ia tak akan mekar, tapi ternyata ia menjadi teratai indah yang menyejukkan mata. Hidupnya adalah sungai yang awalnya kecil dan keruh, namun terus mengalir hingga menjadi samudra luas yang memberi kehidupan.
Ia adalah bukti bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan awal dari cahaya. Ia adalah bintang kecil yang bersinar di langit desa terpencil, menunjukkan jalan bagi generasi setelahnya.
Dan di setiap malam, ketika angin menyapu daun-daun pisang di belakang rumah, Salsabila masih teringat masa kecilnya. Gadis sembilan tahun yang berjalan membawa keranjang kue, dengan sandal longgar, dengan air mata yang jatuh diam-diam, tapi dengan hati yang berkata:
"Aku harus bertahan, demi mereka yang kucinta."
Kini, suara kecil itu telah menjadi gema besar yang menggetarkan dunia.
Pekanbaru, 16 September 2025
Jumlah kata: ±1.180 kata.

