Memaparkan catatan dengan label CERITA ANAK. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label CERITA ANAK. Papar semua catatan

Rabu, 22 Julai 2026

QURAN YANG TERLUPAKAN Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 QURAN YANG TERLUPAKAN

Sahbuddin Dg. Palabbi


Hari sudah malam. Jarum jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Pena, Buku dan Tablet masih terjaga. Pena sibuk menulis catatan, Buku membaca cerpen, sedangkan Tablet asyik bermain game. Sayup-sayup terdengar suara tangisan. 

“Sssst, kalian dengar sesuatu nggak?” tanya Buku kepada Pena dan Tablet. Keduanya saling bertatapan sambil menggeleng.

“Aku mendengar suara tangisan,” kata Buku, “Sepertinya dari dalam kardus itu.” 

Ketiganya lalu berjalan mendekati sebuah kardus yang diletakkan di atas lantai kamar. Pena membuka kardus itu. 

“Quran, kamu kenapa?” tanya Pena, Buku dan Tablet bersamaan.

Wajah Quran terlihat muram. Air mata membasahi sampulnya yang biru. 

“Adi sudah tidak sayang aku lagi… Ia tak butuh aku lagi” sahut Quran. Kali ini tangisannya semakin keras. Ia menangis tersedu-sedu.

“Sssst… jangan keras-keras nangisnya, nanti Adi terbangun.” Pena, Buku dan Tablet berusaha menenangkan Quran.

“Dulu, Adi sangat sayang kepadaku. Ia rajin membacaku. Empat tahun aku bersamanya sejak ia masih duduk di kelas 1 SD,” ungkap Quran.

“Namun, sejak ada Tablet tiga bulan lalu, Adi sudah tidak peduli lagi denganku. Ia sibuk bermain bersama Tablet dan membawanya ke mana-mana,” lanjut Quran tertunduk lesu.

Tablet mendekat. “Maafkan aku ya Quran. Aku sudah membuat Adi melupakanmu,” ucapnya tulus.

“Nggak apa-apa kok. Ini bukan salahmu. Aku sedih karena akan berpisah dengan kalian, sahabat-sahabatku yang baik,” ucap Quran. 

Besok, Quran dan beberapa barang milik Adi akan disumbangkan ke panti asuhan. Tadi siang, Adi dibantu Ayah mengemasi semuanya. 

 “Ya udah, kamu istirahat ya Quran. Mudah-mudahan nanti kamu bertemu anak panti yang rajin membacamu dan selalu menjagamu,” bujuk Buku. 

“Betul. Yang aku dengar, anak panti juga suka menghafal Al-Quran. Tentu mereka akan senang bisa memilikimu,” timpal Pena.

Quran tersenyum mendengarnya, “Terima kasih ya, kalian sudah menghiburku. Kalian memang sahabat-sahabatku yang baik.”

“Sama-sama Quran. Kamu juga sahabat kami yang terbaik,” sahut Tablet. Keempat sahabat itu berpelukan. Quran lalu merebahkan badannya di atas tumpukan buku-buku usang yang akan dibawa ke panti. 

Pena, Buku dan Tablet kembali ke meja belajar. Sebelum tidur, mereka merundingkan sesuatu. 

***

Pagi-pagi sekali terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamar. Quran yang sedang menghafal ayat-ayat, sontak dibuat kaget. Ia mulai cemas. 

Sementara itu, ketiga sahabatnya belum bangun karena semalam mereka terlambat tidur. 

Benar, apa yang dikhawatirkan oleh Quran. Ayah mulai mengangkat kardus berisi barang-barang Adi yang akan disumbangkan, lalu membawanya ke mobil. Suara-suara berisik dari langkah kaki Ayah membuat Buku terbangun.

“Ya ampun, aku ketiduran. Pena ayo bangun. Tablet banguuun… kita sudah terlambat.” 

Buku bergegas membangunkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas. Kepanikan tampak di wajahnya. Buku terus mengguncang-guncangkan tubuh Pena dan Tablet. Usahanya berhasil, Tablet pun terjaga.

“Astaga, ini sudah pukul berapa?” tanya Tablet sambil menyetel alarm.

“Setengah tujuh kurang semenit lagi. Ayo cepat bunyikan alarmnya!” seru Buku.

Mendengar ribut-ribut kedua sahabatnya itu, Pena pun terbangun. Saat matanya menatap ke lantai, ia menyadari sesuatu.

“Kawan-kawan, kita terlambat. Quran sudah dibawa,” teriak Pena sambil berlari ke luar kamar. 

Tablet segera membunyikan alarmnya. Terdengar alunan surat Al-Fatihah memenuhi seisi kamar. Ia sengaja menyetel suaranya sekencang mungkin. 

Adi yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun. Ia kaget mendengar bunyi alarm dari Tablet-nya itu.  Apalagi saat ia menyapukan pandangannya ke dinding kamar. Ia semakin dibuat terkejut karena seluruh tembok kamarnya kini dipenuhi kertas warna-warni bertuliskan, “Sudahkah saya membaca Al-Quran hari ini?” 

Tiba-tiba Adi teringat dengan Quran. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya. Namun, ia kembali terhenyak ketika mengetahui kardus berisi Quran sudah tidak ada di sana. 

Adi berlari ke luar kamar. Sesampainya di garasi, ia melihat Ayahnya sedang menyalakan mesin mobil. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke panti asuhan. 

“Ayah, tunggu…!” teriak Adi. 

Ibu yang akan naik ke mobil keheranan melihat Adi seperti orang kesurupan. “Kenapa Adi?” tanyanya.

Adi tidak menjawab. Ia bergegas membuka pintu belakang mobil lalu memeriksa satu per satu isi kardus yang sudah ditumpuk rapi.

Setelah membuka kardus-kardus itu, Adi menemukan apa yang dicarinya.

“Nah ketemu,” ucapnya dengan wajah berseri. Ia lalu mengambil barang itu dan membawa kembali ke dalam kamarnya. 

Melihat apa yang diambil Adi, membuat Ayah dan Ibu tersenyum semringah. Begitu pula Pena, Buku dan Tablet. Usaha mereka berhasil. Semuanya senang karena Quran tidak jadi disumbangkan ke panti. 

Sejak saat itu, Adi semakin rajin membaca Quran, bahkan menghafalkannya. Selain Buku dan Pena, ia juga selalu membawa Quran dan Tablet di dalam tasnya ketika ke sekolah atau bepergian.

*****


Sabtu, 8 Mac 2025

Lira dan Tongkat yang Hilang

 LIRA DAN TONGKAT YANG HILANG

Abby Vancel


Lira berlari riang di antara bunga-bunga yang bermekaran. Kiko, kelincinya, melompat-lompat di belakangnya. Matahari bersinar hangat, membuat hari itu terasa menyenangkan. Namun, tiba-tiba angin dingin berembus. Sebuah bayangan hitam melintas cepat. Sebelum Lira menyadarinya, sesuatu merampas tongkat sihir dari tangannya.

"Tongkatku!" serunya kaget.

Kiko melompat panik. Telinganya berdiri tegak penuh kewaspadaan. Dari balik pepohonan, muncul sesosok tinggi dengan mata merah.

"Penyihir Bayangan!" seru Lira.

Penyihir itu tertawa dingin sambil mengangkat tongkat Lira.

"Kau mungkin mengalahkanku dulu, tapi sekarang aku yang menang!"

Ia melambaikan tangannya, menciptakan pusaran kabut gelap di sekelilingnya. Dalam sekejap, ia menghilang bersama tongkat sihir Lira.

"Kita harus mengejarnya!" kata Lira. Hatinya berdebar keras.

"Tapi bagaimana caramu bertarung tanpa tongkat?" tanya Kiko khawatir.

Lira mengepalkan tangannya sambil mencoba berpikir tenang.

"Aku masih punya keberanian dan akal," katanya yakin.

"Tapi Kastil Kabut dijaga sihir gelap. Kita butuh bantuan," kata Kiko.

Lira mengangguk. Ia mengingat legenda Peri Tua di Pegunungan Angin.

"Ia bisa membaca jejak sihir dan membimbing kita ke sana," ujar Lira.

Tanpa ragu, mereka segera meninggalkan Hutan Bunga untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, seekor ular besar menghadang mereka.

"Aku penjaga hutan. Siapa yang berani melewati jalanku?" tanya ular.

"Kami mencari Peri Tua," kata Lira.

Ular itu mengangguk, lalu melingkar membentuk jalan di tanah.

"Ikuti jalur ini, tapi hati-hati dengan kabut yang menyesatkan," katanya.

Lira dan Kiko berterima kasih lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat. Udara semakin dingin. Kabut semakin tebal di sekitar mereka. Tiba-tiba, dari balik batu besar, terdengar suara serak misterius.

"Siapa yang datang mencariku?" suara itu bergema menyeramkan.

Lira menelan ludah sambil tetap melangkah maju.

"Kami butuh bantuan untuk menuju Kastil Kabut," katanya penuh harap.

Dari balik batu, muncullah Peri Tua berjubah biru berkilauan. Matanya bersinar seperti bintang, dan ia memegang tongkat kayu tua.

"Aku bisa membantumu, tapi perjalanan ke sana tidak mudah," katanya.

Ia mengulurkan botol kecil bercahaya yang berpendar lembut.

"Gunakan ini untuk menembus kabut, tetapi jangan sampai kehabisan," pesannya.

Lira menggenggam botol itu erat, lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat. Mereka mendaki jalan berbatu menuju puncak gunung yang gelap. Kabut tebal menyelimuti mereka, membuat segalanya tampak samar. Lira membuka botol itu, cahaya lembut menyebar dan menyingkirkan kabut. Di depan mereka, berdiri kastil hitam besar dengan gerbang tertutup rapat. Dua patung serigala batu menjaga gerbang dengan mata merah menyala. Saat mereka mendekat, patung-patung itu bergerak dan mengaum keras.

"Siapa yang berani datang ke sini?" suara dalam bergema dari serigala.

"Kami datang mengambil kembali tongkat sihirku!" jawab Lira berani.

Serigala batu saling menatap, lalu tertawa dengan suara menyeramkan.

"Kau harus melewati tantangan Penyihir Bayangan!" kata salah satu serigala itu.

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar dan berubah menjadi es. Lira hampir tergelincir, tetapi Kiko menariknya dengan cepat. Dari dalam kastil, suara Penyihir Bayangan terdengar bergema jahat.

"Kau pikir bisa masuk ke sini semudah itu, Lira?" katanya sinis.

Lira mengangkat botol cahaya, membuat es mulai mencair perlahan. Serigala batu melompat ke arah mereka, tetapi terpental mundur. Gerbang besar mulai terbuka, memberi mereka jalan masuk ke dalam. Mereka berlari melewati pintu kastil.

Di dalam kastil, aula besar penuh cermin hitam menyambut mereka. Lira melihat bayangannya di cermin, tetapi bayangan itu bergerak sendiri.

"Awas! Itu bukan bayanganmu yang sebenarnya!" teriak Kiko panik.

Bayangan itu melompat keluar dari cermin, berubah menjadi Lira jahat.

"Aku adalah sisi gelapmu, dan aku akan mengambil tempatmu!" katanya.

Lira menelan ludah, tetapi ia tahu harus tetap tenang. Ia mengangkat botol cahaya tinggi-tinggi, membiarkan sinarnya menyebar. Bayangan itu menjerit, perlahan melebur dan menghilang sepenuhnya. Saat bayangan lenyap, cermin di aula mulai pecah satu per satu.

Di ujung ruangan, Lira melihat Penyihir Bayangan duduk di singgasana. Tongkat sihirnya ada di pangkuannya, berkilauan redup dalam cahaya lilin.

"Kau memang berani, tapi keberanianmu tak akan menyelamatkanmu," katanya.

Lira menggenggam botol cahaya. Keberanian mengalir dalam dirinya.

"Tongkat bukan sumber kekuatanku, hatiku yang membuatku kuat!" serunya.

Cahaya dari botol semakin terang, memenuhi seluruh ruangan. Penyihir Bayangan menjerit saat cahaya itu menyelimuti tubuhnya.

"Tidak! Ini tidak mungkin!" suaranya menggema lalu lenyap dalam kegelapan.

Tongkat sihir Lira melayang, lalu jatuh ke tangannya kembali. Kiko melompat kegirangan.

"Kita berhasil, Lira! Kau tidak butuh tongkat untuk menjadi kuat!"

Lira tersenyum. Ia mengayunkan tongkatnya, membuat kastil mulai runtuh perlahan.

"Ayo keluar sebelum semuanya roboh!" serunya sambil menarik Kiko.

Mereka berlari melewati lorong hingga akhirnya tiba di luar. Tak lama kemudian, kastil itu runtuh dan menghilang sepenuhnya.

"Kastil itu sudah lenyap. Penyihir Bayangan tidak akan kembali," kata Lira. Kiko mengangguk, lalu melompat ke pelukan sahabatnya itu.

Mereka kembali ke Hutan Bunga, membawa kemenangan dan pelajaran berharga. Lira kini tahu, keberanian dan hati yang kuat lebih penting dari sihir.

 

*****

 

 

Khamis, 6 Mac 2025

Lira dan Kutukan Salvera

 LIRA dan KUTUKAN SALVERA

Karya: Abby Vancel


Setelah Lira mengalahkan Penyihir Bayangan, negeri peri kembali cerah. Namun, ancaman baru muncul. Di Istana Awan, Pangeran Eldrin datang membawa kabar buruk.

"Sungai Perak di negeri kami mengering. Tanpa itu, tanah akan gersang."

Ratu Bidadari khawatir. "Siapa yang melakukan ini?"

Eldrin menjawab, "Penyihir Es, Salvera. Ia membekukan sumber air di pegunungan."

Lira dan Kiko siap membantu. "Kami akan pergi ke sana!" kata Lira.

Mereka memulai perjalanan ke Pegunungan Beku. Eldrin ikut membantu. Di tengah perjalanan, mereka tiba di sebuah lembah gelap. Kabut hitam menyelimuti jalan.

"Hati-hati, ada sesuatu di sini," bisik Kiko.

Tiba-tiba, makhluk bayangan bermata merah muncul dari kabut. Makhluk itu melayang di udara. Suaranya berbisik menyeramkan.

"Pergi atau kalian akan terjebak selamanya!"

Lira mencoba sihir cahayanya, tetapi makhluk itu menepisnya dengan bayangan pekat.

"Serangannya terlalu cepat!" kata Lira panik.

Makhluk bayangan mulai mengepung mereka. Eldrin mengayunkan pedang sihirnya. Namun, setiap kali ditebas, makhluk itu kembali menyatu.

"Bagaimana kita melawannya?" tanya Eldrin.

Kiko berpikir cepat. "Mereka takut panas! Kita butuh api!"

Lira mengingat sesuatu. Ia mengayunkan tongkatnya, menciptakan bola api kecil. Cahaya api membuat makhluk-makhluk itu bergerak mundur, tetapi belum pergi.

"Api kecil tak cukup!" seru Eldrin.

Lira menggenggam tongkatnya erat. Ia menutup mata dan berkonsentrasi. Kilatan cahaya menyala terang di ujung tongkatnya.

"Pergilah!" teriak Lira.

Cahaya meledak, menyinari lembah. Makhluk bayangan berteriak kesakitan. Mereka mencoba bersembunyi dalam kabut, tetapi cahaya semakin kuat. Satu per satu makhluk itu menghilang. Kabut pun mulai menipis. Lembah kembali terang. Lira terengah-engah, tetapi tersenyum.

"Kita berhasil!"

"Bagus sekali, Lira!" seru Kiko.

"Ayo cepat!" kata Eldrin. "Salvera masih harus kita hadapi!"

Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di gua es tempat Salvera bersembunyi.

Salvera tertawa. "Hahaha… Kalian datang terlambat! Sungai Perak akan mengering selamanya!"

Lira mengangkat tongkatnya, tetapi Salvera membekukannya dengan es.

"Sihirku tak bisa digunakan!" seru Lira.

Kiko melompat ke arah Salvera, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Eldrin menyerang dengan pedangnya, tetapi Salvera sangat kuat. Ia melemparkan badai salju yang membuat mereka hampir tak bisa bergerak.

Lira berusaha menarik tongkatnya yang terjebak dalam es.

"Aku butuh panas untuk melepaskan sihirku!"

Kiko mengambil batu kecil dan menggigitnya, mengeluarkan percikan api.

"Kiko, lakukan lagi di dekat tongkatku!" seru Lira.

Kiko melompat dan menciptakan percikan api lebih besar. Es di tongkat Lira mulai mencair.

Lira akhirnya bisa menggerakkan tongkatnya lagi. Dengan cepat, ia mengayunkan tongkatnya ke arah dinding es.

Cahaya hangat terpancar, dan es di sekeliling mereka mulai mencair.

Salvera berteriak. "Tidak! Es adalah kekuatanku!"

Tiba-tiba, tanah di bawah Salvera mulai retak. Es mencair semakin cepat, dan ia terseret ke dalam arus air yang deras. Dengan tenaga terakhirnya, Salvera berusaha melarikan diri, tetapi kekuatannya sudah hilang. Ia menghilang dalam kabut dingin.

Lira, Eldrin, dan Kiko berlari ke Sungai Perak. Salju mulai mencair, dan air kembali mengalir. Tak lama, air sungai memenuhi tanah yang kering. Tanaman kembali tumbuh. Mereka kembali ke istana.

"Kalian telah menyelamatkan negeri kami," kata Eldrin.

Ratu Bidadari tersenyum. "Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan."

Lira dan Kiko bahagia. Mereka tahu petualangan belum berakhir.

Eldrin menatap mereka. "Aku yakin Salvera belum benar-benar musnah. Kita harus bersiap."

Lira mengangguk. "Jika ia kembali, kita akan menghadapinya bersama!"

*****

Rabu, 5 Mac 2025

Persahabatan Amani dan Lion

 PERSAHABATAN AMANI dan LION

Oleh: Kims Diwa 

Di sebuah kampung yang aman damai, tinggal seorang budak perempuan bernama Amani. Amani suka bermain di luar rumah, mengumpul bunga dan menggambar di atas kertas. Namun, Amani selalu merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Dia ingin seorang kawan.

 Suatu hari, ketika Amani sedang menggambar di bawah pokok mangga, dia melihat sesuatu bergerak di antara rumput. Dengan penuh rasa ingin tahu, Amani menghampiri dan mendapati seekor kucing Bengal yang cantik dengan bulu berjalur seperti harimau. Kucing itu mempunyai mata hijau yang bersinar.

             "Hallo, kucing! Siapa nama kamu?" tanya Amani dengan suara ceria.

     Kucing itu hanya memandangnya sambil menggerakkan ekornya. Amani merasa kucing itu sangat manja dan ingin mengenalinya lebih dekat. Dia memutuskan untuk memberi kucing itu nama "Lion".

     Setiap hari selepas sekolah, Amani akan datang ke tempat di bawah pokok mangga untuk bermain dengan Lion. Mereka berdua akan berlari, melompat, dan bermain kejar-kejaran. Amani akan membawa makanan kegemaran Lion, dan kucing itu akan menggeselkan badannya pada Amani sebagai tanda kasih sayang.

     Suatu petang, ketika Amani dan Lion sedang bermain, Amani terpijak batu dan terjatuh. Dia merasa sakit di lututnya dan mula menangis. Lion yang melihat Amani menangis segera berlari ke arahnya. Kucing itu duduk di sebelah Amani dan menjilat lututnya dengan lembut, seolah-olah cuba menenangkannya.

             "Jangan risau, Lion. Saya okay," kata Amani sambil tersenyum meskipun air matanya masih ada. Dari situ, Amani tahu bahawa Lion adalah kawan sejatinya yang sentiasa ada untuknya.

     Hari demi hari berlalu, dan persahabatan mereka semakin erat. Amani belajar banyak tentang kasih sayang dan kepercayaan dari Lion. Dia juga belajar bagaimana untuk menjaga dan merawat haiwan dengan baik.

     Pada suatu hari, Amani mendapati bahawa Lion tidak datang seperti biasa. Dia merasa risau dan mencarinya di seluruh kampung. Akhirnya, Amani menemui Lion di dalam semak-semak, terperangkap oleh dahan-dahan pokok.

             "Ayo, Lion! Saya akan bantu kamu!" Amani berkata sambil berusaha membebaskan kucing itu. Dengan hati-hati, Amani menarik dahan-dahan dan akhirnya Lion berjaya bebas. Kucing itu melompat dengan gembira dan berlari ke arah Amani, seolah-olah berterima kasih.

     Sejak hari itu, Amani dan Lion tidak hanya menjadi kawan tetapi juga keluarga. Mereka belajar untuk saling menjaga satu sama lain dan menikmati setiap detik bersama.

     Amani tahu bahawa persahabatan sejati tidak hanya ada dalam suka, tetapi juga dalam duka. Dengan Lion di sisinya, dia merasa tidak ada yang mustahil. Mereka berdua berjanji untuk selalu bersama, tidak kira apa pun yang terjadi.

   Dan begitulah, Amani dan Lion menjalani kehidupan penuh warna, penuh dengan persahabatan dan cinta. Di bawah pokok mangga, mereka mencipta banyak kenangan dan menjadikan persahabatan mereka sebagai harta yang paling berharga.

 

-Tamat-

Biodata:

Kims Diwa atau nama sebenarnya RUKIMAH BINTI PANDAWA lahir di Kota Marudu, Sabah. Bertugas di daerah Tongod Telupid sebagai guru. Karya-karya beliau pernah siar di akhbar -akhbar tempatan seperti Harian Ekspress, Utusan Borneo, e-wadah tetapi cerita kanak-kanak ini kali pertama buat beliau.

Selasa, 4 Mac 2025

Lira dan Bunga Cahaya

 LIRA DAN BUNGA CAHAYA

Karya : Abby Vancel



Di sebuah negeri jauh, hiduplah seorang gadis peri bernama Lira. Ia tinggal di Hutan Bunga bersama sahabatnya, Kiko, si kelinci. Lira terkenal baik hati dan pemberani.

Suatu hari, Ratu Bidadari mengumpulkan semua peri. 

        "Bunga Cahaya di istana menghilang!" katanya. "Tanpa bunga itu, negeri kita akan gelap selamanya."

Lira ingin membantu. "Aku akan mencari bunga itu, Ratu," katanya yakin.

Ratu Bidadari tersenyum. "Hati-hati, Lira. Bunga itu mungkin dicuri Penyihir Bayangan."

Lira dan Kiko berangkat. Mereka berjalan melewati sungai berkilauan dan pohon tinggi. Saat mereka mencapai Hutan Gelap, udara menjadi dingin dan suram. Tiba-tiba, semak-semak berguncang.

Dari balik semak, muncullah sekelompok kelelawar hitam. Mereka menghalangi jalan Lira. 

        "Tak boleh lewat!" kata salah satu kelelawar dengan suara serak.

Lira mengangkat tongkat sihirnya. "Kami tidak ingin bertarung. Tolong biarkan kami lewat."

  "Tidak!" sahut kelelawar. "Penyihir Bayangan memerintahkan kami menjaga hutan ini."

Lira berpikir cepat. Ia melihat bunga-bunga kecil di sekitar. Dengan sihirnya, ia membuat bunga itu bercahaya lembut. Kelelawar terpesona. Mereka mendekat dan menjadi tenang.

         "Kami suka cahaya ini," kata mereka. "Baiklah, kalian boleh lewat."

Lira dan Kiko melanjutkan perjalanan. Setelah melewati hutan, mereka sampai di Kastil Kabut, tempat tinggal Penyihir Bayangan. Gerbang kastil tertutup rapat.

         "Bagaimana kita masuk?" tanya Kiko.

Lira melihat celah kecil di dinding. "Aku bisa menyusup ke dalam, tapi kamu tunggu di sini, Kiko."

Dengan hati-hati, Lira masuk ke kastil. Ia melihat Penyihir Bayangan sedang memegang Bunga Cahaya di tangannya.

      "Hahaha! Dengan bunga ini, aku akan menguasai seluruh negeri!" katanya.

Lira mengambil napas dalam. Ia harus bertindak cepat. Dengan tongkatnya, ia mengirimkan angin lembut ke arah bunga. Bunga itu terlepas dari tangan Penyihir.

Namun, sebelum Lira bisa menangkapnya, Penyihir Bayangan mengayunkan tongkatnya. Kabut gelap muncul dan menelan bunga itu.

           "Kau pikir bisa mencurinya dariku semudah itu?" ejek Penyihir.

Lira mencoba menyerang dengan cahaya, tetapi sihirnya tidak cukup kuat. Penyihir Bayangan tertawa dan meniupkan angin gelap yang membuat Lira terlempar ke dinding.

Kiko yang menunggu di luar mendengar suara keras. Ia mengintip ke dalam kastil dan melihat Lira terjatuh lemah. 

           "Lira! Kamu baik-baik saja?"

Lira mencoba berdiri, tetapi tenaganya habis. Kiko berpikir cepat. Ia ingat bahwa kelelawar tadi menyukai cahaya. Jika mereka bisa membantunya...

***

Kiko berlari ke hutan dan memanggil kelelawar. 

            "Kalian mau melihat cahaya yang lebih indah?" tanyanya.

Kelelawar tertarik. Mereka mengikuti Kiko ke kastil. Begitu masuk, mereka melihat Penyihir Bayangan dan mengepakkan sayap dengan cepat, menciptakan angin yang meniup kabut hitam.

Lira melihat kesempatan itu. Ia menutup mata, lalu memusatkan pikirannya pada kebaikan dan keberanian. Perlahan, tongkatnya mulai bersinar lebih terang dari sebelumnya. Cahaya itu memenuhi ruangan.

       "Tidak! Tidak!" teriak Penyihir Bayangan. Cahaya itu menghancurkan kabut hitamnya dan mengungkapkan tempat bunga itu disembunyikan.

Lira segera mengambil Bunga Cahaya. Penyihir Bayangan berusaha merebutnya kembali, tetapi kekuatannya melemah. Akhirnya, ia menghilang dalam kilatan cahaya.

Lira berlari keluar kastil dengan bunga di tangannya. Kiko melompat kegirangan. "Kamu berhasil, Lira!"

Mereka kembali ke istana. Ratu Bidadari menerima bunga itu dengan penuh syukur. "Kau telah menyelamatkan negeri kita, Lira!" katanya sambil mengelus kepala Kiko. "Dan kau juga, Kiko. Tanpamu, Lira tak akan berhasil."

Saat bunga diletakkan di tempatnya, cahaya terang menyebar ke seluruh negeri. Langit kembali cerah, dan semua peri bersorak gembira. Sejak hari itu, Lira dikenal sebagai Peri Cahaya. Dan Kiko? Ia menjadi pahlawan kecil yang selalu diingat. Mereka belajar bahwa keberanian dan persahabatan lebih kuat dari sihir jahat.


-- SELESAI --

Jumaat, 7 Februari 2025

Oja si Anak Tupai

OJA SI ANAK TUPAI
Oleh:
AC JAFFRIE


Ada seekor anak tupai bernama Oja. Dia tinggal di atas sebatang pokok bersama dengan Opi, seekor anak burung punai. Mereka sudah berkawan lama sejak dari kecil lagi. Keluarga Oja dan Opi sudah lama tinggal bersama di atas pokok itu.

Oja seekor anak tupai yang nakal. Setiap pagi dia akan berlari-lari dan melompat dari dahan ke ranting pokok. Dia sering ditegur oleh ibunya supaya berhati-hati. Kalau salah langkah dia akan jatuh ke tanah.

“Kalau jatuh kamu juga yang sakit,” pesan ibu Oja. “Kamu jangan asyik leka bermain!”

Jaja tidak peduli. Dia akan terus bermain dan melompat riang dari dahan ke dahan pokok. Dia sudah biasa bermain di situ hari-hari. Sejak dari kecil, pokok itu adalah taman untuk dia bermain.

“Hai Oja, selamat pagi,” ucap Opi apabila Oja melompat berdekatan sarang tempat tinggalnya. 

“Selamat pagi, Opi. Marilah ikut saya bermain,” ajak Oja.

“Saya menunggu ibu pulang. Saya mesti minta izin ibu sebelum pergi bermain,” beritahu Opi.

Opi seekor anak burung punai yang baik. Dia akan mendengar kata ibunya sebelum berbuat sesuatu. Ibu Opi sangat mementingkan keselamatan anaknya. Bahaya banyak menanti jika tidak berhati-hati.

“Kita main di sini saja. Bukannya pergi ke tempat lain,” ujar Oja mahu memujuk Opi.

“Tapi saya sudah berjanji menjaga sarang ini sebelum ibu pulang,” jawab Opi dengan jujur.

Setiap pagi, ibu Opi akan pergi mencari makanan. Di dalam sarang pula ada dua biji telor. Setiap kali ibu Opi keluar, dia akan menjaga telor-telor itu. Jika tidak dijaga, telor-telor itu akan dimakan oleh musuh mereka.

“Kasihannya awak tidak bebas macam saya. Saya boleh buat apa yang saya suka,” ucap Oja lagi dengan bangga.

“Kita ada orang tua. Kita mesti dengar nasihat mereka,” balas Opi dengan lembut.

“Saya bukan buat salah. Saya hanya bermain saja,” ujar Oja mahu pertahankan diri.

“Kita boleh bermain tapi mesti ada masanya,” jawab Opi tidak mahu mengalah. Dia seekor anak yang mendengar kata ibunya.

Oja terus leka bermain. Dia akan berlari dan melompat dari dahan ke dahan. Dunianya hanya di atas pokok itu sahaja. Dia terfikir mahu melompat ke pokok yang lain. Tidak jauh dari situ ada pokok rambutan yang sedang masak ranum. Warna buah rambutan yang kemerahan menarik perhatiannya.

Oja terus melompat ke ranting pokok rambutan yang berjuntaian. Dia berjaya meniti ranting pokok rambutan itu. Dia sangat teruja melihat buah-buah rambutan yang masak ranum. Dia akan makan sepuas-puasnya buah rambutan itu. Pak Tam, seekor burung gagak menegur Oja.

“Lepas kamu makan, cepat-cepat pulang,” tegur Pak Tam.

“Kenapa Pak Tam?” soal Oja sambil makan buah rambutan.

“Tentu ibu kamu risau kalau balik lambat,” beritahu Pak Tam lagi. “Lagipun di sini ada bahaya.”  

Tiba-tiba kedengaran bunyi senapang meletup. Pak Tam dan Oja sangat terkejut. Kedengaran suara manusia di bawah pokok. Pak Tam segera terbang ke udara. Oja pula terpaksa melompat ke dahan lain untuk menyelamatkan diri.

Oja bernasib baik kerana tidak menjadi mangsa petani. Perasaan terkejut dan takut tetap ada. Dia terus melompat dan melompat dari ranting ke ranting pokok. Malang tidak berbau, dia terpijak ranting yang reput. Oja terus jatuh ke tanah dan mengelupur kesakitan.

“Anak yang baik mesti dengar cakap ibu dan ini satu pelajaran,” nasihat ibu Oja.

“Saya minta maaf, ibu. Lain kali saya tak buat lagi,” ucap Oja sambil menahan kesakitan.

Opi dan ibunya datang melawat. Mereka membawa sedikit makanan untuk Oja. Opi memberi setangkai buah rambutan merah kepada Oja. Dia kasihan melihat Oja yang kesakitan.

“Nanti kita main sama-sama,” kata Opi mahu menghiburkan hati Oja.

“Terima kasih, Opi. Kamu seorang kawan yang baik,” balas Oja sambil tersenyum.

Opi dan Oja berjanji akan menjadi sabahat baik. Mereka akan mendengar nasihat orang tua sampai bila-bila. Oja dan Opi berpelukan di akhir pertemuan itu. 


BIONARASI PENULIS

AC JAFFRIE nama sebenarnya JAFFRI BIN HJ MD YATIM meminati dunia penulisan sejak di bangku sekolah menengah lagi. Anak kelahiran Kampung Permatang, Kuala Sungai Baru, Melaka. Merupakan pemegang Ijazah Sarjanamuda Pentadbiran Perniagaan dengan Kepujian dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1990. Genre penulisan yang diminati seperti buku kanak-kanak, cerpen, sajak, novel dan pantun. Bertahun-tahun menekuni penulisan dengan berkarya di banyak syarikat penerbitan seperti Dewan Bahasa dan Pustaka, Fajar Bakti, Alaf 21, ITBM, Penerbitan Kintan, Karystos Creative, Pena Padu Press dan lain-lain

Isnin, 3 Februari 2025

Atam Mencari Ibu

 ATAM MENCARI IBU

AC Jaffrie



Hujan masih belum berhenti. Seekor anak kucing bernama Atam sedang kedinginan. Bulu-bulu halusnya berwarna hitam kebasahan. Badannya sedikit menggigil dan nampak dia keliru. 

Atam memandang sekitar. Dicarinya sesuatu. Sejak semalam ibunya tidak ada. Mereka terpisah gara-gara hujan. 

“Meow… meow… meow…” suara Atam berbunyi perlahan. 

Bunyi guruh berdentum. Atam agak terkejut. Dia benar-benar ketakutan. Tubuh kecilnya masih lemah. Di bawah longgokan batu di tepi dinding sebuah kedai, dia menumpang teduh. 

Hujan masih belum reda. Atam masih kedinginan dan duduk diam-diam. Dia berharap hujan akan segera berhenti kerana mahu mencari ibunya.

‘Oh ibu… di manakah ibu?’ hati kecil Atam berbisik.

Atam tertidur kerana menunggu lama. Bila terjaga, hujan sudah berhenti. Dia amat lega dan memulakan langkah untuk mencari ibunya. Dia mesti berhati-hati kerana di sana sini banyak lopak penuh air. Tanah masih basah dan jalan masih licin.

Sang matahari mula muncul. Bulu-bulu halus Atam mula mengering dan rasa selesa. Sudah hampir satu jam Atam berjalan tetapi dia masih tidak berputus asa mencari ibunya. Sesekali dia akan berbunyi memanggil ibunya. 

Walaupun sedih, Atam tetap akan berusaha. Perjalanan mencari ibunya diteruskan. Tiba-tiba kakinya tersandung lalu terjatuh ke dalam lopak air. Atam bernasib baik kerana lopak air itu tidak dalam.

“Hati-hati bila berjalan. Musim hujan tanah jadi licin,” tegur Wawa, seekor ibu itik. “Kamu nak ke mana?” tanya Wawa lagi.

Atam segera membersihkan dirinya. Ada kesan lumpur di badan. Dia menjilat bulu-bulunya supaya kekotoran itu segera hilang. Wawa seronok berenang dan bermain di lopak air di musim hujan.

“Saya mencari ibu. Nampak tak ibu saya?” tanya Atam kepada Wawa. 

Wawa menggeleng. Dia simpati melihat keadaan Atam, anak kecil yang kehilangan ibu. Wawa mendekati Atam. Dia mahu tahu apa sebenarnya yang berlaku.

“Macam mana ibu kamu boleh hilang?” soal Wawa lagi.

Atam mula bercerita. Dia bersama ibunya pergi mencari makan di sebuah warung makan. Atam melihat ada sebiji bola kecil. Dia seronok bermain sehingga terlupa bahawa ibunya sudah tiada di situ lagi. 

Hujan turun semakin lebat. Atam gelisah dan mula mencari ibunya. Dia berlari ke sana sini tetapi ibunya tetap tiada. Sampai sekarang ibunya hilang. 

“Mungkin ibu kamu juga sedang mencari kamu,” kata Wawa. “Kamu jangan leka bermain dan jangan nakal. Selalu dengar kata-kata ibu,” pesan Wawa kepada Atam lagi.

“Saya menyesal kerana leka bermain,” ucap Atam dengan nada sedih.

Wawa memeluk Atam kerana simpati dengan nasib yang menimpanya.

“Makanan ini untuk kamu buat bekal. Harap dapat bertemu dengan ibu kamu semula,” ucap Wawa memberi kata-kata semangat kepada Atam.

Atam meneruskan lagi perjalanan. Sekarang dia berada di sebuah padang permainan. Di hujung padang ada kanak-kanak sedang bermain. Dia kepenatan apabila sudah berjalan agak jauh. Dia mahu berehat sebentar. Belum sempat dia melelapkan mata, terdengar satu suara nyaring menegurnya.

“Berani kamu masuk dalam kawasan ini!” teriak Bobo, seekor anak anjing.

“Errr… maafkan saya. Nama saya Atam. Saya ke sini mencari ibu…” jawab Atam terketar-ketar. Dia ketakutan melihat muka Bobo yang garang.

“Kamu kehilangan ibu?” soal Bobo kembali.

Atam mengangguk kesedihan. Bobo kasihan melihat Atam kerana dia juga pernah kehilangan ibu. Ibunya ditangkap oleh pihak berkuasa kerana berkeliaran di jalanan. Nasibnya baik kerana dapat melarikan diri. 

Sampai sekarang Bobo hidup sendiri. Dia kurang kasih sayang seorang ibu. Hidupnya banyak bercampur dengan anjing-anjing liar yang lain. Mungkin itu menjadi sebab mengapa perangainya kurang sopan dan agak garang.

“Nama saya Bobo. Nasib kita sama tapi kamu masih ada peluang berjumpa dengan ibu kamu. Ibu saya pula ditangkap oleh pihak berkuasa,” cerita Bobo kepada Atam.

“Saya harap boleh bertemu dengan ibu semula,” ujar Atam masih kesedihan.

“Hidup mesti diteruskan. Kita mesti kuat dan tetap semangat!” ucap Bobo memberi kata-kata semangat kepada Atam. 

Atam dan Bobo mula bersahabat. Mereka bermain bersama-sama dan berkejaran di padang permainan. Buat seketika segala masalah dilupakan. Dunia menjadi indah apabila bertemu sahabat yang baik. Tiada pergaduhan dan saling membantu. 

“Terima kasih sudah menjadi sahabat saya. Saya doakan kamu akan berjaya berjumpa dengan ibu kamu semula,” ucap Bobo saat mereka mahu berpisah.

Atam meneruskan pejalanan. Dia bersyukur dapat bertemu dengan mereka yang baik hati. Wawa memberi sedikit makanan buat bekal dalam perjalanan. Bobo pula memberi kata-kata semangat supaya teruskan hidup tanpa insan tersayang.

Siang akan bertukar menjadi malam. Atam mencari tempat untuk berehat di sebalik timbunan papan tersusun rapi. Dia terkejut apabila melihat ada seekor ibu kucing sedang tidur di situ. 

Atam sangat gembira. Itulah ibunya yang dicari selama ini. Ibu kucing terjaga dari tidur lalu memeluk dan membelai anaknya. Akhirnya Atam dan ibunya bersatu semula.     


Rumah Bonda, Melaka

15 Januari 2025



BIODATA PENULIS

AC JAFFRIE sudah lama menulis, anak kelahiran Negeri Melaka Bandaraya Bersejarah. Pemegang Ijazah Sarjanamuda Pentadbiran Perniagaan (Kepujian) dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1986-1990). Genre penulisan diminati seperti cerita kanak-kanak, cerpen, sajak, novel dan pantun. Penerima Anugerah Kalam Sastera dari PENAMA (November 2024) dan Anugerah Tinta Inspirasi dari IPM (Disember 2024).

Selasa, 28 Januari 2025

Dua Ekor Anak Monyet

 DUA EKOR ANAK MONYET



AC Jaffrie

 

Di pinggir sebuah kampung, ada sekawan monyet. Mereka tinggal di atas pokok-pokok di kawasan hutan berhampiran. Pada waktu pagi mereka akan bergayut riang dari dahan ke dahan. Nyet dan Nyot juga tidak terkecuali.

“Pegang kuat-kuat. Hati-hati, nanti kamu terjatuh,” pesan ibu Nyet dan Nyot.

Nyet dan Nyot terus melompat riang. Dari dahan ke dahan terus berkejaran. Dahan dan ranting pokok tempat mereka bermain. Setiap pagi itulah tempat mereka berdua menghabiskan masa.

“Kami tahu jaga diri, ibu,” ucap Nyot sambil terkinja-kinja di atas dahan.

“Kami sudah biasa bermain di sini,” ujar Nyet pula.

“Kamu berdua mesti berhati-hati. Kalau jatuh kamu juga yang sakit,” beritahu ibu monyet lagi.

Nyet dan Nyot terus bermain. Pesan ibu, mereka tidak ambil peduli. Perasaan mereka hanya mahu bergembira sahaja. Bermain dan terus bermain.

“Ibu mahu pergi cari makan. Kamu berdua jangan ke mana-mana,” pesan ibu monyet.

“Kami nak ikut ibu,” kata Nyet.

“Bosan juga duduk di sini,” sahut Nyot pula.

“Jangan ikut ibu. Kamu masih kecil. Di luar sana banyak bahaya,” jawab ibu monyet.

“Tapi…,” ucap Nyet masih tidak puas hati.

“Dengar cakap ibu. Di sini kamu berdua selamat,” pesan ibu monyet lagi.

Nyet dan Nyot sedikit kecewa. Setiap kali mahu ikut ibu keluar, itu sahaja alasan ibunya. Dunia mereka hanya di atas pokok. Hari-hari bermain dan bergayut di ranting pokok. Mereka teringin menikmati dunia luar. Nyet dan Nyot sudah ada satu rancangan.

“Bosanlah hari-hari main di atas pokok,” kata Nyet kepada Nyot.

“Ya, kita mesti cari tempat lain,” sokong Nyot pula.

“Kita nak pergi mana?” soal Nyet tidak sabar.

“Dengar cerita, tepi hutan ini ada kebun pisang. Kalau nasib baik, dapat makan pisang yang masak ranum,” jawab Nyot memberi cadangan.

Nyet dan Nyot sudah sepakat. Mereka berdua mahu pergi ke kebun pisang yang dimaksudkan. Mereka sangat seronok dan gembira. Selepas penat bermain, mereka boleh menikmati pisang yang masak ranum.

Sudah agak lama ibu monyet keluar mencari makan. Inilah masanya Nyet dan Nyot mulakan rancangan mereka. Nyet dan Nyot lupa pesan ibu mereka. Mereka membayangkan keseronokan bermain di tempat baru.

“Kamu berdua mahu ke mana?” tegur Upai, tupai tanah yang sama menghuni di atas pokok tempat Nyet dan Nyot tinggal.

“Kami mahu pergi bermain. Kami sudah bosan bermain di sini,” ucap Nyet kepada Upai.

“Kami mahu ke kebun pisang di hujung sana,” kata Nyot pula.

“Di situ banyak bahaya. Salah langkah kamu akan masuk perangkap,” beritahu Upai lagi.

“Kami sudah besar. Pandailah kami jaga diri,” ujar Nyet terus meninggalkan Upai.

Cuaca semakin panas. Nyet dan Nyot seronok bermain di dalam kebun pisang. Mereka melompat dari pelepah daun ke pokok yang lain. Sampai satu ketika, mereka berdua kelaparan.

“Perut sudah lapar, mari kita cari makanan,” kata Nyet bersuara.

“Mari kita cari pisang yang masak ranum,” ujar Nyot memberi cadangan.

Nyet dan Nyot berjalan di dalam kebun pisang. Akhirnya mereka bertemu dengan pokok pisang yang berbuah. Dalam setandan pisang itu ada sesisir pisang yang sudah masak ranum. Mereka sungguh gembira.

Nyet dengan pantas melompat dan mendapatkan pisang yang ranum itu. Manakala Nyot menunggu di bawah pokok. Pisang yang diambil dicampak ke tanah. Nyot makan dengan gelojoh kerana sudah lapar.

Kini masa untuk mereka pulang ke hutan. Tiba-tiba kaki Nyet tersangkut pada seutas tali. Dengan pantas tali itu menyentap kaki Nyet. Nyet sudah terkena perangkap yang dibuat oleh petani. Dia meraung meminta tolong.

“Tolong! Tolong lepaskan saya!” jerit Nyet ketakutan.

Nyot cukup terkejut. Dia berlari meninggalkan Nyet. Dia mahu menyelamatkan diri. Sampai di pokok, dia bertemu Upai. Upai hairan melihat keadaan Nyot.

“Tolong Upai! Nyet sudah kena perangkap!” ucap Nyot tercungap-cungap.

Upai turut terkejut. Nyawa Nyet dalam bahaya. Dia mahu membantu melepaskan Nyet sebelum petani datang ke kebun waktu petang. Upai dan Nyet segera ke kebun pisang.

Sampai di kebun pisang, Upai segera menggigit tali yang mengikat kaki Nyet. Giginya yang tajam segera memutuskan tali itu. Akhirnya Nyet dapat diselamatkan. Mereka bertiga segera meninggalkan kebun pisang.

“Terima kasih, Upai. Kamu sudah selamatkan saya,” ucap Nyet sedih.

“Tempat itu bahaya. Perangkap ada di mana-mana. Sebab itu ibu kamu larang turun ke tanah,” nasihat Upai kepada Nyet dan Nyot.

“Kami berdua menyesal. Lain kali kami akan dengar cakap ibu,” jawab Nyot.

“Kami tidak akan nakal lagi,” janji Nyet pula.

Nyet dan Nyot kembali bermain di atas pokok. Tempat itu lebih selamat. Mereka bebas melompat dan bergayut dari dahan ke dahan. Semua pesan ibu akan disemat di dalam hati.   

      

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular