Ahad, 29 Mac 2026

TUBUH YANG TERLAMBAT PULANG: Karya Nelly Amalia

 “Tubuh yang Terlambat Pulang”

Karya : Nelly Amalia

Pada malam ke-27 Ramadan, seseorang mengetuk pintu rumah Arka.

Padahal, rumah itu sudah lama tidak memiliki tamu.

Bahkan, bagi sebagian orang rumah itu dianggap tidak lagi berpenghuni.

Ketukannya begitu pelan.

Namun cukup untuk membuat dinding-dinding tua bergetar, Arka seperti mengenali siapa yang datang.

Ia lalu terbangun.

Ia tidak kaget. Tidak takut. Tidak juga bertanya-tanya.

Seolah ia sudah menunggu. Ia seolah tahu, apa yang akan datang di malam ini. 

Seolah seluruh hidupnya diam-diam mengarah pada malam ini.

Ia duduk di ranjang. Nafasnya berat, seperti baru saja keluar dari mimpi yang tidak ingin ia ingat.

Ketukan itu terdengar lagi.

Tiga kali.

Selalu tiga. Kembali ketukan pelan yang menggetarkan dinding. 

Arka berdiri. Kakinya menyentuh lantai dingin, dan entah kenapa ia merasa tubuhnya lebih ringan dari biasanya.

Bahkan ia merasa terlalu ringan.

Seperti ada sesuatu yang tertinggal… atau terlepas dari dirinya. 

Ia berjalan menuju pintu.

Tangannya menyentuh gagang.

Gagang pintu terasa dingin.

Bukan dingin biasa melainkan dingin yang mengingatkan pada sesuatu yang pernah hilang, namun tak pernah benar-benar ditemukan kembali.

Ia membuka pintu perlahan.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya lorong panjang, gelap, dan sunyi.

Tapi ada sesuatu di lantai.

Sebuah bayangan.

Bukan bayangan miliknya.

Bayangan itu berdiri tegak, meski tidak ada tubuh yang memproyeksikannya.

Arka menatapnya lama.

“Sudah lama aku menunggumu,” kata bayangan itu.

Suara itu tidak berasal dari udara.

Ia muncul… dari dalam kepala Arka sendiri.

“Atau mungkin,” lanjutnya, “kaulah yang terlambat datang.”

Arka tidak menjawab, ia diam mematung.

Ia hanya melihat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan,

bayangan itu… memiliki bentuk yang lebih utuh daripada dirinya sendiri yang tertegun memaku dengan tatapan beku. 

“Apa kau tahu,” kata bayangan itu, “berapa kali kau menunda pulang?”

Arka mengerutkan kening.

“Pulang ke mana?”

Bayangan itu tertawa pelan, seolah mengejek ingatannya.

“Lucu. Kau hidup begitu lama… tapi bahkan tidak tahu ke mana seharusnya kau kembali.”

Lorong itu tiba-tiba memanjang seolah tak bertepi, gelap dan tak ada pangkal ujungnya. 

Dinding-dindingnya berubah menjadi cermin, yang memperlihatkan dirinya yang mematung tak tahu arah. 

Arka melihat dirinya di setiap sisi.

Namun ada yang salah.

Dalam setiap cermin, ia terlihat berbeda.

Ada Arka yang tersenyum palsu.

Ada Arka yang menatap kosong.

Ada Arka yang menangis… tapi tanpa air mata.

Dan ada satu Arka yang tidak bergerak sama sekali.

Mati, yaaa dia mati, terbujur kaku di cermin. 

Arka mundur.

“Apa ini…”

“Ini dirimu,” jawab bayangan itu.

“Bukan yang kau kira… tapi yang kau bentuk setiap hari.”

Arka memejamkan mata.

Ia ingin menolak.

Ingin lari.

Namun kakinya tidak bergerak, seolah berat dan penuh beban. 

“Kenapa aku melihat ini?”

“Karena malam ini,” suara itu berubah lebih dalam, “kau tidak bisa lagi bersembunyi dari dirimu sendiri.”

Tiba-tiba, salah satu cermin retak.

Lalu pecah.

Dari dalamnya, keluar seorang anak kecil.

Ia berjalan pelan ke arah Arka.

Wajahnya… familiar.

Sangat familiar.

“Kenal aku?” tanya anak itu.

Arka terdiam.

Itu adalah dirinya, dirinya di masa lalu, dirinya yang masih kecil. 

Arka versi kecilnya.

Versi yang dulu sering bangun malam, menangis dalam doa, meminta hal-hal sederhana dengan hati yang jujur.

Versi yang percaya… tanpa ragu.

“Apa yang kau lakukan padaku?” tanya anak itu.

Suara kecilnya gemetar.

Arka mundur.

“Aku… aku tumbuh…”

“Tidak,” potong anak itu.

“Kau tidak tumbuh. Kau hanya… meninggalkanku.”

Kalimat itu jatuh seperti batu di dada Arka.

Berat dan menghantam ulu hatinya. Hingga sesak dadanya, terasa penuh dengan segala yang ia ingat. 

Ia ingin menyangkal.

Tapi tidak ada satu pun kata yang mau membelanya.

Anak itu menatapnya lama.

Lalu perlahan… tubuhnya mulai pudar.

“Aku lelah menunggumu kembali,” katanya lirih.

Dan sebelum benar-benar hilang, ia berbisik,

“Jangan terlalu lama… karena tidak semua yang hilang… bisa kau temukan lagi.”

Arka jatuh berlutut.

Tangannya gemetar, dadanya berdebar kencang, butir air di sudut matanya terasa mengambang. 

Kini dadanya lebih sesak. 

Untuk pertama kalinya… ia merasa benar-benar kosong.

Bukan kosong yang tenang.

Tapi kosong yang menjerit.

Bayangan itu mendekat.

“Sekarang kau mengerti?”

Arka menggeleng pelan.

Air matanya jatuh… tapi terasa aneh.

Seperti bukan miliknya.

“Ini belum selesai,” kata bayangan itu.

Lorong itu berubah lagi.

Kini, Arka berdiri di sebuah tempat yang lebih gelap.

Tidak ada langit.

Tidak ada tanah.

Hanya ruang… yang tidak memiliki batas, semua luas seolah kembali tak bertepi. 

Dan di tengah ia berdiri, terbaring sesosok tubuh.

Arka menatapnya.

Tubuh itu… adalah dirinya.

Diam seribu basa.

Pucat pasi seolah kehabisan darah, tulang seakan melepuh. 

Tak bernyawa.

Arka mundur dengan nafas terputus.

“Tidak… ini tidak mungkin…”

“Kenapa tidak?” tanya bayangan itu tenang.

“Bukankah selama ini… kau memang hidup seperti ini?”

Arka terdiam.

Ia melihat tubuh itu lagi.

Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, ia tidak merasa kehilangan apa pun.

Tidak ada panik.

Tidak ada rasa ingin kembali.

Tidak ada… keterikatan.

Dan itulah yang membuatnya gemetar.

“Aku… sudah mati?” bisiknya.

Bayangan itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya mendekat, lalu berbisik, 

“Tubuhmu… masih berjalan.”

“Tapi jiwamu… sudah lama berhenti pulang.”

Sunyi begitu senyap.

Sunyi yang menelan segala hal.

Arka menangis.

Bukan karena takut mati.

Tapi karena sadar, ia tidak benar-benar pernah hidup.

Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah rutinitas yang seolah tak ada batas.

Semua yang ia kejar hanya bayangan, bayangan yang semu, semua hanya ilusi. 

Semua yang ia abaikan, justru yang paling nyata.

“Tolong…” suaranya pecah.

“Aku ingin kembali…”

Bayangan itu menatapnya.

Untuk pertama kalinya, suaranya melembut.

“Ke mana?”

Arka menutup wajahnya.

“Aku tidak tahu…”

Dan itulah jawaban paling jujur yang pernah ia ucapkan.

Bayangan itu tersenyum tipis.

“Bagus.”

“Karena hanya orang yang tersesat… yang akhirnya benar-benar mencari.”

Tiba-tiba semua terasa bagai runtuh, semua terasa bagai hilang tak berjejak. 

Semua tak ada yang utuh, hanya serpihan.

Gelap.

Hening.

Lalu cahaya kecil muncul.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Di kejauhan.

Arka mengangkat wajahnya.

“Itu… apa?”

Bayangan itu menjawab,

“Itu jalan pulang.”

“Tapi ingat… tidak semua orang sanggup mencapainya.”

Arka berdiri.

Kakinya lemah, semua terasa tak berdaya, tak ada kekuatan untuk melangkah lagi. 

Namun kali ini, ia terus berusaha, terus meraih kelip cahaya kecil itu.  

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Dan setiap langkah, terasa seperti menembus sesuatu yang selama ini menahannya.

Rasa bersalah.

Kesombongan.

Lupa.

Sehingga semua terasa hampa. 

Kosong yang tak ada tempat. 

Semua terasa… pecah.

Saat ia semakin dekat, cahaya itu semakin terang.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang asing namun terasa begitu hangat.

Air matanya jatuh.

Tapi kali ini… benar-benar miliknya.

Ia berbisik,

“Jika aku terlambat… jangan tutup pintu itu…”

Dan saat ia hampir menyentuh cahaya yang mulai nampak jelas itu, semuanya menghilang.

Arka terbangun.

Di kamarnya.

Jam menunjukkan 03.12.

Sepertiga malam.

Dadanya naik turun.

Matanya basah.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa takut.

Bukan takut pada dunia.

Tapi takut… kehilangan kesempatan untuk kembali.

Ia bangkit.

Langkahnya goyah.

Namun pasti.

Ia mengambil wudhu.

Airnya dingin.

Tapi tidak lagi asing.

Ia berdiri di atas sajadah.

Lama.

Sangat lama.

Seolah menunggu sesuatu.

Atau seseorang.

Lalu, 

“Allahu Akbar…”

Suara itu pecah.

Dan bersama itu, sesuatu dalam dirinya… hidup kembali.

Malam itu, tidak ada keajaiban besar.

Tidak ada suara.

Tidak ada bayangan.

Hanya seorang manusia, yang akhirnya menyadari bahwa pulang sebelum terlambat.

Bahwa mengisi jiwa bukan sekadar mengisi hidup, dan tinggal di ruang bukan tentang tempat, tapi tentang keberanian untuk kembali kepada yang selama ini ia tinggalkan.

Dan sejak malam itu, Arka tidak lagi hidup seperti biasa.

Ia hidup… dengan sadar bahwa suatu hari nanti, pintu itu akan diketuk lagi.

Dan saat itu, tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.

Ia mulai belajar diam bukan karena kehabisan kata, melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan, sebagian cukup dirasakan dan diakui. Di antara jeda napasnya, ia menemukan sesuatu yang dulu sering ia abaikan: suara hatinya sendiri. Suara yang tidak pernah benar-benar pergi, hanya tertimbun oleh kesibukan yang ia anggap penting.

Setiap langkah yang ia ambil kini terasa berbeda. Bukan lagi terburu-buru seperti seseorang yang dikejar waktu, melainkan seperti seseorang yang sedang mengejar makna. Ia memperlambat segalanya. Cara ia berjalan, cara ia berbicara, bahkan cara ia memandang langit. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hidup bukan tentang seberapa jauh ia pergi, tetapi seberapa dalam ia mengerti ke mana ia kembali.

Ada hari-hari di mana ia kembali goyah. Saat bayangan masa lalunya datang tanpa permisi, membawa semua alasan yang dulu membuatnya menjauh. Pada saat-saat seperti itu, Arka tidak lagi lari. Ia duduk bersama rasa itu, menatapnya, dan membiarkannya berbicara. Dan anehnya, justru di situlah ia merasa lebih kuat karena ia tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.

Malam tetap menjadi waktu yang paling jujur baginya. Di saat dunia terlelap, ia kembali berdiri di atas sajadah, bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang sadar akan retaknya. Dan dari retak itulah, ia belajar bahwa cahaya tidak selalu datang dari luar kadang ia lahir dari bagian diri yang pernah hancur.

Ia tidak tahu apakah ia akan selalu kuat. Ia tidak yakin apakah ia akan selalu setia pada jalan yang baru ia temukan. Tapi satu hal yang kini ia pegang erat bahwa setiap kesempatan untuk kembali adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Dan jika suatu hari nanti pintu itu kembali diketuk, Arka berharap ia tidak lagi ragu untuk membukanya. Bukan karena ia sudah sempurna, melainkan karena ia sudah berani menjadi manusia yang terus belajar pulang meski dengan langkah yang tertatih, meski dengan hati yang belum sepenuhnya utuh.

PUASA TERAKHIR SEORANG IBU: Karya Nurzusilawati Nadzri

Puasa Terakhir Seorang Ibu


Ramadan tahun itu datang bersama sunyi yang berbeza.


Di dapur kecil rumah papan yang dimamah usia, seorang wanita tua berdiri di sisi dapur gas. Tangannya sedikit menggigil ketika menuang sup ayam panas ke dalam mangkuk. Wap nipis naik perlahan, mengaburi pandangannya yang semakin kabur. 


Batuk kecil terlepas dari bibirnya, namun dia tetap tersenyum—seolah tubuh yang lemah itu tidak pernah menjadi alasan.


“Mak… tak payah la puasa hari ni.”


Suara itu datang dari pintu dapur. Anak lelakinya bersandar, wajahnya kusut antara risau dan jengkel.


“Doktor dah pesan. Mak tak kuat.”


Wanita itu memandangnya lama, kemudian tersenyum.


“Selagi nyawa masih pinjam… puasa tetap kita jaga.”


“Mak ni degil!”


Tiada balasan. Hanya senyuman yang sama—tenang, tetapi penuh sesuatu yang tidak terungkap.


Dia duduk di kerusi kayu, memegang mangkuk itu dengan kedua-dua tangan. Pandangannya singgah pada wajah anaknya… lama. Seolah-olah ingin menghafal setiap garis wajah itu sebelum waktu memadamkannya.


Pagi itu dingin.


Pagi itu terasa lebih panjang daripada biasa.


Wanita tua itu tidak terus duduk selepas menyediakan makanan sahur. Dia berdiri seketika di tepi meja, memandang pinggan anaknya yang masih penuh. Jari tuanya menyentuh perlahan tepi pinggan itu—seolah-olah menyentuh sesuatu yang lebih daripada sekadar makanan.


Dia teringat…


Suatu masa dahulu, anak itu kecil. Setiap kali sahur, dialah yang paling susah dikejutkan. Dia akan mengangkat tubuh kecil itu, mendukungnya ke dapur, menyuap sedikit demi sedikit.


“Bangun… nanti besar jadi kuat,” bisiknya dahulu.


Kini, tubuh itu sudah besar.


Namun entah kenapa… hatinya terasa semakin jauh.


Wanita itu menarik nafas perlahan.


“Ya Allah… jangan Kau biarkan dia hilang arah,” doanya dalam hati.


Bunyi azan dari surau hujung lorong bergema lembut, menyelinap ke setiap ruang rumah yang sederhana itu. Di luar, lampu-lampu kecil di halaman surau masih menyala, menjadi saksi kepada langkah-langkah jemaah yang setia.


Anaknya keluar tanpa banyak bicara.


Dan seperti hari-hari sebelumnya, dia memilih jalan yang sama—jalan yang menjauh dari rumah.


Di sebuah pusat snuker di hujung bandar, bunyi bola berlaga memecah suasana. Lampu pendarfluor yang malap menggantung di siling, memantulkan bayang-bayang yang tidak jelas. 


Bau asap rokok dan vape serta suara ketawa bercampur menjadi satu dunia yang asing daripada suasana Ramadan di luar sana.


“Bro, puasa ke hari ni?” tanya seorang rakan, sinis.


Dia tersenyum nipis.


“Puasa la…”


Namun beberapa minit kemudian, dia bangun ke kaunter.


“Bang… mee segera satu. Teh O Ais satu.”


Tangannya teragak seketika ketika menerima mangkuk panas itu.


Dia duduk di penjuru. Dia memandang mangkuk mee segera di hadapannya.


Wap mee segera panas naik perlahan, tetapi hatinya terasa dingin.


“Relak lah… bukan ada orang nampak pun,” kata rakannya sambil ketawa.


Dia tersenyum hambar.


Betul.


Tiada siapa nampak.


Namun entah kenapa, dia terasa seperti sedang diperhatikan—bukan oleh manusia, tetapi oleh sesuatu yang lebih dekat daripada itu.


Tangannya mencapai garfu.


Berhenti.


Sejenak.


“Cepatlah makan, sejuk nanti,” desak seorang lagi.


Dia menarik nafas panjang.


Dan akhirnya… dia makan.


Namun setiap suapan terasa berat—seolah-olah dia sedang menelan sesuatu yang bukan sekadar makanan.


Suapan pertama masuk ke mulut.


Panas.


Namun lebih panas daripada itu… adalah rasa yang tiba-tiba muncul di dada.


“Puasa ni bukan sekadar tahan lapar…” Suara ibunya datang tanpa diundang.


Tangannya terhenti.


Sejenak.


Namun dia mengetap bibir.


“Ah… lantaklah.”


Dan dia menyambung makan—seolah-olah melawan sesuatu yang tidak dapat dilihat.


Petang di rumah itu berbeza.


Bau masakan sederhana memenuhi ruang dapur. Sup bening, ikan goreng, dan sedikit sambal belacan—tidak mewah, tetapi cukup menghidupkan suasana berbuka.


Wanita tua itu bergerak perlahan. Sesekali dia berhenti, memegang dinding, menarik nafas panjang sebelum menyambung langkah.


Ketika azan Maghrib berkumandang, dia duduk sendirian di meja makan.


Menunggu.


Namun kerusi di hadapannya kosong.


Malam itu, anaknya pulang lewat.


Lampu rumah masih menyala. Dari dalam, kedengaran suara ibunya membaca al-Quran perlahan—suara yang bergetar, namun penuh ketenangan.


“Dah balik?” tanya wanita itu lembut.


“Hmm.”


Tiada soalan. Tiada marah.


Hanya senyuman yang sama.


Hari kedua Ramadan.


Wanita itu masih bangun untuk sahur. Walaupun langkahnya semakin perlahan, dia tetap menyediakan makanan seadanya.


Sebelum anaknya keluar, dia berkata—


“Puasa ni bukan sekadar tahan lapar…”


Dia berhenti seketika.


“Tapi tahan diri… dari jadi manusia yang lupa.”


Anaknya tidak membalas.


Namun kata-kata itu melekat—seperti sesuatu yang enggan pergi.


Hari-hari berlalu dalam ritma yang sama.


Namun sesuatu mula berubah—perlahan.


Di surau hujung lorong, suara tadarus bergema setiap malam. Lampu-lampu menyala terang, menarik hati-hati yang mencari ketenangan.


Suatu malam, entah mengapa, anak itu melangkah ke sana.


Dia duduk di bahagian belakang.


Diam.


Mendengar.


Seorang ustaz tua sedang menyampaikan tazkirah ringkas sebelum terawih.


“Ramadan bukan sekadar menukar waktu makan…”


Suara itu tenang, tetapi dalam.


“Ia madrasah untuk menyucikan jiwa. Kita berpuasa bukan kerana orang melihat… bukan juga kerana kebiasaan.”


Dia berhenti seketika.


“Seringkali kita lupa—puasa itu bukan untuk sesiapa. Tapi untuk diri sendiri. Untuk kita jujur… dengan hati kita sendiri.”


Anak itu menunduk.


Kata-kata itu… terasa dekat.


Terlalu dekat


Malam itu, dia tidak terus pulang.


Dia duduk lama di luar surau, memandang lampu-lampu kecil yang bergoyang ditiup angin. Suara jemaah yang masih berbual perlahan kedengaran di belakangnya.


Kata-kata ustaz itu masih berputar di kepalanya.


Jujurkah pada diri sendiri…


Dia tersenyum sinis sendirian.


“Jujur?” bisiknya perlahan.


Kalau jujur… dia tahu jawapannya.


Dia bukan tidak tahu.


Dia cuma… memilih untuk tidak peduli.


Namun malam itu, buat pertama kali, dia rasa penat dengan dirinya sendiri.



Hari ke-24


Dia masih ke pusat snuker.


Namun tidak lagi seperti dulu.


Setiap kali dia ingin makan, tangannya terhenti lebih lama.


Setiap kali gelak tawa bergema, hatinya terasa kosong.


Dan setiap kali suara ibunya terlintas—dia tidak mampu menolaknya sepenuhnya.


Suatu petang, dia pulang lebih awal.


Ibunya duduk di beranda, memandang langit yang mula berubah warna.


“Mak okay?”


Wanita itu tersenyum.


“Okay.”


Namun kali ini, dia tidak terus berlalu.


Dia duduk di sebelah.


Sunyi.


Angin petang menyentuh wajah mereka.


“Mak… kenapa nak sangat puasa?”


Soalan itu keluar perlahan.


Wanita itu memandang jauh.


“Ramadan ni tak selalu datang…”


Dia menoleh.


“Dan kita pun… belum tentu sempat sampai ke Ramadan seterusnya.”


Kata-kata itu jatuh perlahan.


Namun beratnya terasa hingga ke dalam dada.


Hari ke-25


Wanita itu hampir tidak mampu berdiri lama. Namun puasanya tidak pernah tinggal.


Anaknya mula pulang awal. Tidak lagi betah di luar.


Bukan kerana dia sudah berubah sepenuhnya—


tetapi kerana hatinya mula diliputi sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelum ini.


Takut.



Malam ke-26


Rumah itu sunyi 


Wanita itu bersiap untuk solat malam. Perlahan. Setiap pergerakan seolah-olah mengambil sisa tenaga yang masih ada.


Anaknya memerhati dari jauh.


Untuk pertama kali—


dia tidak keluar malam itu.



Malam ke-27


Langit gelap, bertabur bintang.


Angin malam membawa ketenangan yang sukar dijelaskan.

Dia pulang dengan langkah yang tidak lagi tergesa.


Lampu rumah masih menyala.


Namun suasana… berbeza.


Sunyi.

Terlalu sunyi.


“Mak?”


Tiada jawapan.


Dia melangkah ke ruang solat kecil.

Dan di situ—


ibunya sedang sujud.

Diam.

Lama.

Terlalu lama.


Dia terduduk di sisi ibunya.


Kepalanya tunduk, tangannya menggenggam kain telekung yang masih hangat di tubuh wanita itu.


“Mak… bangun la mak…”


“Mak…”


Suaranya pecah.


Air mata jatuh tanpa ditahan.


Namun suara itu tidak lagi sampai ke mana-mana.


Rumah itu sunyi—terlalu sunyi sehingga bunyi tangisannya sendiri terasa asing.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia sedar—

ada perkara yang bila hilang… tidak akan kembali.


Dan penyesalan—


selalu datang terlalu lewat.


Wanita itu pergi—dalam sujud.


Dalam malam yang paling mulia.


Dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhan.


Hari-hari selepas itu berlalu tanpa arah.


Rumah itu terasa kosong.


Seolah-olah kehilangan sesuatu yang tidak boleh diganti.

Ketika mengemas barang arwah ibunya, dia menemukan sebuah buku kecil.


Di dalamnya, hanya beberapa baris tulisan—


“Kalau suatu hari nanti anak mak rasa sunyi… ingatlah, Tuhan tak pernah tinggalkan kita.”


“Puasa bukan sekadar lapar… tapi jalan untuk kita kembali.”


Air matanya jatuh ke atas helaian itu.


Petang itu, dia berjalan ke pusat snuker.


Langkahnya perlahan.


Tempat itu masih sama.


Lampu malap.


Bunyi bola snuker berlaga.


Gelak tawa yang tidak pernah berubah.


Dia berdiri di luar.


Memandang.


Seolah melihat dirinya yang lama.


Azan Maghrib berkumandang.


Lembut.


Tenang.


Menusuk ke dalam dada.


Dia tidak masuk.


Sebaliknya, dia duduk di bangku luar.


Mengeluarkan sebotol air.


Tangannya sedikit menggigil.


“Puasa ni bukan sekadar tahan lapar…”


Suara itu datang lagi.


Namun kali ini—


dia tidak melawan.


Dia menunggu. Sehingga azan selesai.


Dan untuk pertama kalinya—


dia minum… bukan kerana lapar di siang hari.


Tetapi sebagai seorang yang akhirnya faham—

erti menahan diri.


Ramadan tahun itu—

mengambil seorang ibu.


Namun memulangkan seorang anak… yang baru belajar menjadi manusia.


Dia duduk lama di tepi pusara itu.


Air di tangan masih belum dijirus


Angin petang menyentuh wajahnya—membawa bersama kenangan yang tidak pernah dia hargai dahulu.


Dia teringat—


suara ibunya


senyumannya


dan setiap kata yang pernah dia abaikan


“Puasa bukan sekadar lapar…”


Air matanya jatuh perlahan.


Kali ini, dia tidak cuba menahannya.


Di pusara itu, tanah masih merah.


Dia menggenggam segenggam tanah, jari-jarinya bergetar sebelum perlahan-lahan melepaskannya ke atas liang yang menutup segala yang pernah menjadi tempat dia pulang.


Buat pertama kali, dia benar-benar mengerti—

rumah itu bukan dinding kayu yang usang,

bukan juga meja makan yang sering kosong.


Tetapi seorang ibu

yang tidak pernah jemu menunggu.


Dia teringat setiap kali dia pulang lewat—

lampu yang masih menyala,

suara yang masih lembut bertanya,

dan senyuman yang tidak pernah berubah.


Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.


Dan untuk pertama kalinya, dia berjanji dalam diam—

jika Ramadan masih dipinjamkan umur untuknya nanti,


dia tidak akan lagi menjadi manusia yang lupa.


Dan dalam sunyi itu, dia akhirnya belajar—

kehilangan bukan sekadar luka,

tetapi panggilan paling jujur untuk kembali menjadi manusia.


“Di luar sana, mungkin ramai yang masih menganggap Ramadan sekadar rutin tahunan—sedangkan bagi sesetengah jiwa, ia adalah peluang terakhir yang tidak akan berulang.”


----


Nurzusilawati Nadzri (+601131378792) aktif dalam genre cerpen, puisi kontemporari dan penulisan rencana, dengan kecenderungan terhadap tema keteguhan jiwa, adat dan budaya Malaysia, hubungan kemanusiaan serta unsur mistik alam Melayu. Gaya penulisan menekankan penggunaan bahasa yang bersih, imejan simbolik dan ritma naratif yang teratur.


Penulis merupakan pemenang Tempat Ketiga (Open Group) daripada lebih 800 penyertaan dalam 2025 International Youth Literary Awards, Hong Kong, serta tersenarai dalam Top 10 2nd Annual Waterford Competition 2025, Ireland. Karya beliau juga pernah mendapat tempat di portal Media Selangor menerusi cerpen ‘Gamelan di Gigi Air’ (Mac 2026).



Penulis turut menghasilkan rencana dan karya kreatif merentas bidang bahasa, sastera, ekonomi dan sains. Karyanya telah diterbitkan dalam majalah-majalah terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka, termasuk Dewan Bahasa, Dewan Budaya, Dewan Sastera, Dewan Ekonomi, Dewan Tamadun Islam, Dewan Masyarakat dan Tunas Cipta

SENJA MELODI FANA: Karya Siti Hasnah Zainal Abidin

  SENJA MELODI FANA Bayu Ramadan menyapa lembut, menyusup masuk melalui celah-celah jendela kayu yang separuh terbuka di bilik usang itu. Sa...

Carian popular