“Tubuh yang Terlambat Pulang”
Karya : Nelly Amalia
Pada malam ke-27 Ramadan, seseorang mengetuk pintu rumah Arka.
Padahal, rumah itu sudah lama tidak memiliki tamu.
Bahkan, bagi sebagian orang rumah itu dianggap tidak lagi berpenghuni.
Ketukannya begitu pelan.
Namun cukup untuk membuat dinding-dinding tua bergetar, Arka seperti mengenali siapa yang datang.
Ia lalu terbangun.
Ia tidak kaget. Tidak takut. Tidak juga bertanya-tanya.
Seolah ia sudah menunggu. Ia seolah tahu, apa yang akan datang di malam ini.
Seolah seluruh hidupnya diam-diam mengarah pada malam ini.
Ia duduk di ranjang. Nafasnya berat, seperti baru saja keluar dari mimpi yang tidak ingin ia ingat.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tiga kali.
Selalu tiga. Kembali ketukan pelan yang menggetarkan dinding.
Arka berdiri. Kakinya menyentuh lantai dingin, dan entah kenapa ia merasa tubuhnya lebih ringan dari biasanya.
Bahkan ia merasa terlalu ringan.
Seperti ada sesuatu yang tertinggal… atau terlepas dari dirinya.
Ia berjalan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang.
Gagang pintu terasa dingin.
Bukan dingin biasa melainkan dingin yang mengingatkan pada sesuatu yang pernah hilang, namun tak pernah benar-benar ditemukan kembali.
Ia membuka pintu perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya lorong panjang, gelap, dan sunyi.
Tapi ada sesuatu di lantai.
Sebuah bayangan.
Bukan bayangan miliknya.
Bayangan itu berdiri tegak, meski tidak ada tubuh yang memproyeksikannya.
Arka menatapnya lama.
“Sudah lama aku menunggumu,” kata bayangan itu.
Suara itu tidak berasal dari udara.
Ia muncul… dari dalam kepala Arka sendiri.
“Atau mungkin,” lanjutnya, “kaulah yang terlambat datang.”
Arka tidak menjawab, ia diam mematung.
Ia hanya melihat.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan,
bayangan itu… memiliki bentuk yang lebih utuh daripada dirinya sendiri yang tertegun memaku dengan tatapan beku.
“Apa kau tahu,” kata bayangan itu, “berapa kali kau menunda pulang?”
Arka mengerutkan kening.
“Pulang ke mana?”
Bayangan itu tertawa pelan, seolah mengejek ingatannya.
“Lucu. Kau hidup begitu lama… tapi bahkan tidak tahu ke mana seharusnya kau kembali.”
Lorong itu tiba-tiba memanjang seolah tak bertepi, gelap dan tak ada pangkal ujungnya.
Dinding-dindingnya berubah menjadi cermin, yang memperlihatkan dirinya yang mematung tak tahu arah.
Arka melihat dirinya di setiap sisi.
Namun ada yang salah.
Dalam setiap cermin, ia terlihat berbeda.
Ada Arka yang tersenyum palsu.
Ada Arka yang menatap kosong.
Ada Arka yang menangis… tapi tanpa air mata.
Dan ada satu Arka yang tidak bergerak sama sekali.
Mati, yaaa dia mati, terbujur kaku di cermin.
Arka mundur.
“Apa ini…”
“Ini dirimu,” jawab bayangan itu.
“Bukan yang kau kira… tapi yang kau bentuk setiap hari.”
Arka memejamkan mata.
Ia ingin menolak.
Ingin lari.
Namun kakinya tidak bergerak, seolah berat dan penuh beban.
“Kenapa aku melihat ini?”
“Karena malam ini,” suara itu berubah lebih dalam, “kau tidak bisa lagi bersembunyi dari dirimu sendiri.”
Tiba-tiba, salah satu cermin retak.
Lalu pecah.
Dari dalamnya, keluar seorang anak kecil.
Ia berjalan pelan ke arah Arka.
Wajahnya… familiar.
Sangat familiar.
“Kenal aku?” tanya anak itu.
Arka terdiam.
Itu adalah dirinya, dirinya di masa lalu, dirinya yang masih kecil.
Arka versi kecilnya.
Versi yang dulu sering bangun malam, menangis dalam doa, meminta hal-hal sederhana dengan hati yang jujur.
Versi yang percaya… tanpa ragu.
“Apa yang kau lakukan padaku?” tanya anak itu.
Suara kecilnya gemetar.
Arka mundur.
“Aku… aku tumbuh…”
“Tidak,” potong anak itu.
“Kau tidak tumbuh. Kau hanya… meninggalkanku.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di dada Arka.
Berat dan menghantam ulu hatinya. Hingga sesak dadanya, terasa penuh dengan segala yang ia ingat.
Ia ingin menyangkal.
Tapi tidak ada satu pun kata yang mau membelanya.
Anak itu menatapnya lama.
Lalu perlahan… tubuhnya mulai pudar.
“Aku lelah menunggumu kembali,” katanya lirih.
Dan sebelum benar-benar hilang, ia berbisik,
“Jangan terlalu lama… karena tidak semua yang hilang… bisa kau temukan lagi.”
Arka jatuh berlutut.
Tangannya gemetar, dadanya berdebar kencang, butir air di sudut matanya terasa mengambang.
Kini dadanya lebih sesak.
Untuk pertama kalinya… ia merasa benar-benar kosong.
Bukan kosong yang tenang.
Tapi kosong yang menjerit.
Bayangan itu mendekat.
“Sekarang kau mengerti?”
Arka menggeleng pelan.
Air matanya jatuh… tapi terasa aneh.
Seperti bukan miliknya.
“Ini belum selesai,” kata bayangan itu.
Lorong itu berubah lagi.
Kini, Arka berdiri di sebuah tempat yang lebih gelap.
Tidak ada langit.
Tidak ada tanah.
Hanya ruang… yang tidak memiliki batas, semua luas seolah kembali tak bertepi.
Dan di tengah ia berdiri, terbaring sesosok tubuh.
Arka menatapnya.
Tubuh itu… adalah dirinya.
Diam seribu basa.
Pucat pasi seolah kehabisan darah, tulang seakan melepuh.
Tak bernyawa.
Arka mundur dengan nafas terputus.
“Tidak… ini tidak mungkin…”
“Kenapa tidak?” tanya bayangan itu tenang.
“Bukankah selama ini… kau memang hidup seperti ini?”
Arka terdiam.
Ia melihat tubuh itu lagi.
Dan tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Tidak ada panik.
Tidak ada rasa ingin kembali.
Tidak ada… keterikatan.
Dan itulah yang membuatnya gemetar.
“Aku… sudah mati?” bisiknya.
Bayangan itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya mendekat, lalu berbisik,
“Tubuhmu… masih berjalan.”
“Tapi jiwamu… sudah lama berhenti pulang.”
Sunyi begitu senyap.
Sunyi yang menelan segala hal.
Arka menangis.
Bukan karena takut mati.
Tapi karena sadar, ia tidak benar-benar pernah hidup.
Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah rutinitas yang seolah tak ada batas.
Semua yang ia kejar hanya bayangan, bayangan yang semu, semua hanya ilusi.
Semua yang ia abaikan, justru yang paling nyata.
“Tolong…” suaranya pecah.
“Aku ingin kembali…”
Bayangan itu menatapnya.
Untuk pertama kalinya, suaranya melembut.
“Ke mana?”
Arka menutup wajahnya.
“Aku tidak tahu…”
Dan itulah jawaban paling jujur yang pernah ia ucapkan.
Bayangan itu tersenyum tipis.
“Bagus.”
“Karena hanya orang yang tersesat… yang akhirnya benar-benar mencari.”
Tiba-tiba semua terasa bagai runtuh, semua terasa bagai hilang tak berjejak.
Semua tak ada yang utuh, hanya serpihan.
Gelap.
Hening.
Lalu cahaya kecil muncul.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Di kejauhan.
Arka mengangkat wajahnya.
“Itu… apa?”
Bayangan itu menjawab,
“Itu jalan pulang.”
“Tapi ingat… tidak semua orang sanggup mencapainya.”
Arka berdiri.
Kakinya lemah, semua terasa tak berdaya, tak ada kekuatan untuk melangkah lagi.
Namun kali ini, ia terus berusaha, terus meraih kelip cahaya kecil itu.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Dan setiap langkah, terasa seperti menembus sesuatu yang selama ini menahannya.
Rasa bersalah.
Kesombongan.
Lupa.
Sehingga semua terasa hampa.
Kosong yang tak ada tempat.
Semua terasa… pecah.
Saat ia semakin dekat, cahaya itu semakin terang.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang asing namun terasa begitu hangat.
Air matanya jatuh.
Tapi kali ini… benar-benar miliknya.
Ia berbisik,
“Jika aku terlambat… jangan tutup pintu itu…”
Dan saat ia hampir menyentuh cahaya yang mulai nampak jelas itu, semuanya menghilang.
Arka terbangun.
Di kamarnya.
Jam menunjukkan 03.12.
Sepertiga malam.
Dadanya naik turun.
Matanya basah.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa takut.
Bukan takut pada dunia.
Tapi takut… kehilangan kesempatan untuk kembali.
Ia bangkit.
Langkahnya goyah.
Namun pasti.
Ia mengambil wudhu.
Airnya dingin.
Tapi tidak lagi asing.
Ia berdiri di atas sajadah.
Lama.
Sangat lama.
Seolah menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Lalu,
“Allahu Akbar…”
Suara itu pecah.
Dan bersama itu, sesuatu dalam dirinya… hidup kembali.
Malam itu, tidak ada keajaiban besar.
Tidak ada suara.
Tidak ada bayangan.
Hanya seorang manusia, yang akhirnya menyadari bahwa pulang sebelum terlambat.
Bahwa mengisi jiwa bukan sekadar mengisi hidup, dan tinggal di ruang bukan tentang tempat, tapi tentang keberanian untuk kembali kepada yang selama ini ia tinggalkan.
Dan sejak malam itu, Arka tidak lagi hidup seperti biasa.
Ia hidup… dengan sadar bahwa suatu hari nanti, pintu itu akan diketuk lagi.
Dan saat itu, tidak ada yang bisa menjawab selain dirinya sendiri.
Ia mulai belajar diam bukan karena kehabisan kata, melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa tidak semua hal perlu dijelaskan, sebagian cukup dirasakan dan diakui. Di antara jeda napasnya, ia menemukan sesuatu yang dulu sering ia abaikan: suara hatinya sendiri. Suara yang tidak pernah benar-benar pergi, hanya tertimbun oleh kesibukan yang ia anggap penting.
Setiap langkah yang ia ambil kini terasa berbeda. Bukan lagi terburu-buru seperti seseorang yang dikejar waktu, melainkan seperti seseorang yang sedang mengejar makna. Ia memperlambat segalanya. Cara ia berjalan, cara ia berbicara, bahkan cara ia memandang langit. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hidup bukan tentang seberapa jauh ia pergi, tetapi seberapa dalam ia mengerti ke mana ia kembali.
Ada hari-hari di mana ia kembali goyah. Saat bayangan masa lalunya datang tanpa permisi, membawa semua alasan yang dulu membuatnya menjauh. Pada saat-saat seperti itu, Arka tidak lagi lari. Ia duduk bersama rasa itu, menatapnya, dan membiarkannya berbicara. Dan anehnya, justru di situlah ia merasa lebih kuat karena ia tidak lagi berperang dengan dirinya sendiri.
Malam tetap menjadi waktu yang paling jujur baginya. Di saat dunia terlelap, ia kembali berdiri di atas sajadah, bukan sebagai seseorang yang sempurna, tetapi sebagai seseorang yang sadar akan retaknya. Dan dari retak itulah, ia belajar bahwa cahaya tidak selalu datang dari luar kadang ia lahir dari bagian diri yang pernah hancur.
Ia tidak tahu apakah ia akan selalu kuat. Ia tidak yakin apakah ia akan selalu setia pada jalan yang baru ia temukan. Tapi satu hal yang kini ia pegang erat bahwa setiap kesempatan untuk kembali adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
Dan jika suatu hari nanti pintu itu kembali diketuk, Arka berharap ia tidak lagi ragu untuk membukanya. Bukan karena ia sudah sempurna, melainkan karena ia sudah berani menjadi manusia yang terus belajar pulang meski dengan langkah yang tertatih, meski dengan hati yang belum sepenuhnya utuh.