Ahad, 1 Mac 2026

NYALA JIWA PADAM DALAM BALUTAN LARA: Karya Warsono Abi Azzam

 Warsono Abi Azzam

NYALA JIWA PADAM DALAM BALUTAN LARA


kita bermula seperti dua ufuk saling tatap

laut di matamu berkilau menunggu fajar

dan aku perahu dengan layar setengah ragu

semesta merapatkan jarak tanpa sapa sesiapa

angin menyebut namamu laiknya doa pertama

dan waktu membuka kelopak hari dengan gemetar


cinta tumbuh pelan seperti akar mencari sunyi

menembus tanah keraguan dan adat nan purba

tawamu adalah musim semi di dada beku

salju dalam diriku mencair menjadi sungai cahaya

kita percaya dunia hanyalah taman yang ramah

tanpa pagar, tanpa hukum selain degup jantung


namun musim belajar pada takdir untuk berubah

siang dilipat perlahan oleh malam yang tak sabar

langit memisahkan warna, adat memisahkan kita

garis-garis leluhur berdiri lebih tinggi dari hasrat

cinta menjadi burung yang sebelah sayapnya terikat

terbang rendah di atas ladang restu yang tak kunjung turun


daun-daun gugur membawa nama tak terucap

angin mengabarkan keputusan yang tak kita pilih

kita berdiri di dua tebing dengan doa retak

mengukur jarak yang dibangun tangan-tangan lama

hatiku api yang belajar menjadi abu

dan rinduku menjelma senja tanpa jalan pulang


aku melepaskanmu seperti sungai melepas laut

harus mengalir meski tak pernah sampai ke hilir

cinta kadang mencapai puncaknya dalam perpisahan

seperti matahari yang indah saat tenggelam

namamu tinggal gema di ruang batin terdalam

nyala jiwa padam dalam balutan lara



Cilacap, Januari 2026

YANG TIDAK PERNAH DATANG: Karya Nurul Afifah Rahim

   Yang Tidak Pernah Datang Oleh : Nurul Afifah Rahim Asrama itu tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi kesunyian tetap tinggal di dalamnya....

Carian popular