Warsono Abi Azzam
NYALA JIWA PADAM DALAM BALUTAN LARA
kita bermula seperti dua ufuk saling tatap
laut di matamu berkilau menunggu fajar
dan aku perahu dengan layar setengah ragu
semesta merapatkan jarak tanpa sapa sesiapa
angin menyebut namamu laiknya doa pertama
dan waktu membuka kelopak hari dengan gemetar
cinta tumbuh pelan seperti akar mencari sunyi
menembus tanah keraguan dan adat nan purba
tawamu adalah musim semi di dada beku
salju dalam diriku mencair menjadi sungai cahaya
kita percaya dunia hanyalah taman yang ramah
tanpa pagar, tanpa hukum selain degup jantung
namun musim belajar pada takdir untuk berubah
siang dilipat perlahan oleh malam yang tak sabar
langit memisahkan warna, adat memisahkan kita
garis-garis leluhur berdiri lebih tinggi dari hasrat
cinta menjadi burung yang sebelah sayapnya terikat
terbang rendah di atas ladang restu yang tak kunjung turun
daun-daun gugur membawa nama tak terucap
angin mengabarkan keputusan yang tak kita pilih
kita berdiri di dua tebing dengan doa retak
mengukur jarak yang dibangun tangan-tangan lama
hatiku api yang belajar menjadi abu
dan rinduku menjelma senja tanpa jalan pulang
aku melepaskanmu seperti sungai melepas laut
harus mengalir meski tak pernah sampai ke hilir
cinta kadang mencapai puncaknya dalam perpisahan
seperti matahari yang indah saat tenggelam
namamu tinggal gema di ruang batin terdalam
nyala jiwa padam dalam balutan lara
Cilacap, Januari 2026