TASBIH KAYU DI UJUNG JEMARI
Penulis: Eduar Daud
Di kota yang tak pernah tidur ini, suara azan Maghrib seringkali hanyalah frekuensi yang lewat, kalah bersaing dengan raung mesin knalpot di kemacetan jalan protokol dan denting notifikasi ponsel yang menuntut perhatian tanpa henti. Bagi Aris, seorang arsitek muda yang namanya mulai naik daun di firma-firma besar, langit Jakarta di bulan Ramadhan tak lebih dari sekadar perubahan warna dari biru pucat menjadi abu-abu polusi.
Baginya, Ramadhan tahun ini terasa seperti beban administratif belaka. Ibadah tak lagi menjadi oase, melainkan daftar centang yang melelahkan. Lapar yang tertunda adalah gangguan pada fokus desainnya, haus yang tertahan adalah penghambat presentasi klien, dan kantuk yang menggantung di pelupuk mata saat rapat pagi adalah musuh yang harus ia perangi dengan kafein, yang ironisnya hanya boleh ia teguk saat fajar atau setelah senja.
Di balik dinding kaca kantornya yang dingin, Aris menatap kemacetan di bawah sana. Ia merasa jiwanya kering kerontang, retak-retak seperti tanah yang lupa rasa hujan, meski angka di rekening banknya terus membengkak. Aris merasa sedang berlari kencang di atas treadmill kehidupan; kakinya bergerak gila-gilaan, napasnya tersengal, namun secara spiritual, ia tetap terpaku di titik nol. Tak ada kemajuan, tak ada kedamaian. Ia membangun gedung-gedung pencakar langit yang megah untuk orang lain, namun gagal membangun satu pun ruang tenang di dalam dadanya sendiri.
Puncaknya terjadi pada suatu sore yang menyesakkan, ketika sebuah cetak biru rancangannya robek karena tangannya gemetar menahan lelah dan hampa. Tiba-tiba, aroma kayu jati dan wangi tanah basah di desa terlintas begitu saja di ingatannya. Tanpa rencana panjang, seminggu sebelum Lebaran, ia mengepak koper kecilnya. Ia memutuskan untuk melarikan diri dari hutan beton menuju pelukan desa yang tenang, menemui satu-satunya "arsitek jiwa" yang ia kenal: kakeknya, Kyai Usman.
****
"Kau terlihat lelah, Aris. Bukan lelah fisik yang bisa sembuh dengan tidur semalam, tapi lelah batin yang sudah menumpuk berbulan-bulan," ucap Kyai Usman tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya. Beliau duduk bersila di teras rumah kayu yang berderit halus setiap kali ada angin lewat, membawa serta harum melati yang mekar di sudut halaman.
Di tangan rentanya yang penuh urat menonjol, sebilah bambu hijau sedang diserut hingga menjadi helaian tipis yang halus. Kyai Usman bukan sekadar pembuat keranjang; beliau adalah maestro anyaman yang dikenal mampu mengubah sebatang bambu kaku menjadi karya seni yang bernapas. Di mata anak-anak kampung yang mengaji padanya, beliau adalah penyambung lidah antara syariat dan hakikat.
"Dunia ini berjalan terlalu cepat, Kek. Persaingan di kota itu seperti arus deras; kalau aku berhenti mendayung sejenak saja untuk menarik napas, aku merasa tertinggal jauh di belakang," jawab Aris lirih. Ia menyandarkan kepalanya di tiang jati teras yang kokoh, membiarkan matanya terpejam menikmati belaian semilir angin desa yang tidak pernah ia temukan di balik jendela kaca kantornya.
Kyai Usman berhenti menyerut sejenak. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ketenangan samudera. Matanya yang mulai kabur oleh usia, namun tetap memancarkan cahaya teduh, menatap bilah-bilah bambu yang berserakan di depannya.
"Ramadhan itu sejatinya adalah seni menganyam, Aris," ucap beliau dengan suara yang berat namun menenangkan.
"Hidupmu di kota mungkin seperti mesin yang menderu, tapi di sini, hidup adalah jemari yang bergerak di antara sela-sela bambu. Jika kau terburu-buru menarik bilahnya hanya karena ingin cepat melihat hasilnya, jemarimu akan luka teriris sembilu yang tajam. Polanya pun akan berantakan, goyah, dan tak punya jiwa."
Kyai Usman mengambil satu helai bambu tipis, lalu menyelipkannya di antara sela-sela yang sudah terbentuk.
"Menganyam kisah kerohanian itu butuh ritme yang pas. Ada saatnya kau harus menarik, ada saatnya kau harus menahan. Butuh jeda antara satu helai dengan helai lainnya. Dan ketahuilah, Nak, jeda itu adalah zikirmu. Tanpa zikir, anyaman hidupmu hanya akan menjadi tumpukan benda mati tanpa berkah."
Malam pun jatuh memeluk desa. Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang pelan ditiup angin malam, Aris duduk terdiam memperhatikan kakeknya bekerja. Pemandangan itu seolah berubah menjadi sebuah ritual suci. Setiap helai bambu yang diselipkan, Kyai Usman membisikkan zikir yang nyaris tak terdengar namun terasa getarannya.
Subhanallah... saat bilah itu masuk. Alhamdulillah... saat anyaman itu mengunci. Allahu Akbar... saat pola itu mulai terlihat nyata.
Ritme gerakan tangan kakeknya selaras sempurna dengan gerak bibir dan detak jantungnya. Aris menyadari sesuatu yang menohok telak ke dalam relung jiwanya: kakeknya tidak sedang sekadar membuat keranjang untuk wadah nasi atau buah. Beliau sedang menyulam hikmah di setiap rongga bambu tersebut. Beliau sedang mengikat makna ibadah, kesabaran, dan kepasrahan ke dalam wujud fisik, menjadikannya sebuah pengingat bahwa sekecil apa pun pekerjaan manusia, jika dibalut dengan asma Allah, ia akan menjadi jembatan menuju langit.
****
Memasuki malam ke-23, suasana desa seolah tenggelam dalam keheningan yang purba. Tak ada lagi suara jangkrik, seakan alam semesta pun sedang menahan napas menanti turunnya para malaikat. Aris terbangun bukan karena alarm ponsel yang memekakkan telinga, melainkan karena suara gemercik air wudu yang jatuh satu-satu di samping rumah, sebuah simfoni kecil yang membelah sunyi.
Melalui celah pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat siluet kakeknya. Kyai Usman sudah berdiri tegak di atas sajadah usang yang bulunya mulai menipis dimakan waktu. Di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar kekuningan, sosok kakeknya tampak begitu kokoh, lebih kokoh dari beton-beton pencakar langit yang pernah Aris rancang.
Aris, yang selama di kota hanya menyentuh sajadah di sela-sela waktu sempit atau sekadar menggugurkan kewajiban, tiba-tiba merasakan tarikan magnetis di dadanya. Ada rasa rindu yang asing, namun terasa sangat akrab. Dengan langkah ragu, ia berwudu, membiarkan air dingin desa membasuh debu-debu kepalsuan dari wajahnya, lalu melangkah pelan untuk bergabung di belakang kakeknya.
Dalam sujud yang luar biasa panjang dan sunyi itu, Aris merasa dunianya runtuh. Di atas lantai kayu yang dingin, egonya luruh satu per satu seperti butiran pasir. Selama ini ia menyangka bahwa kesuksesan adalah tentang seberapa tinggi gedung yang ia bangun, seberapa rumit struktur baja yang ia hitung, atau seberapa megah fasad yang ia pamerkan di portofolio. Namun di sini, di hadapan Sang Arsitek Semesta, ia tersadar dengan perih: ia telah lupa membangun fondasi dan struktur di dalam hatinya sendiri. Ia membangun istana untuk orang lain, namun membiarkan batinnya menjadi gubuk yang reyot dan gelap
Setelah salam terakhir bergema, Kyai Usman tidak langsung berzikir dengan suara keras. Beliau perlahan menoleh, menatap cucunya dengan pandangan yang sulit diartikan, perpaduan antara kasih sayang yang dalam dan ketegasan seorang guru.
"Aris, tahukah kau mengapa bulan ini disebut bulan penuh berkah?" suara Kyai Usman rendah, namun bergetar memenuhi ruangan.
"Bukan sekadar karena pahala yang dilipatgandakan. Tapi karena di bulan ini, Allah memberi kita kesempatan untuk 'membongkar' kembali anyaman hidup kita yang salah. Anyaman yang rapuh karena benangnya terbuat dari ambisi duniawi yang melapuk. Allah ingin kita menyusunnya kembali dengan benang-benang ketaatan yang lebih kuat, yang warnanya tidak akan pudar oleh waktu."
Aris merenung, air mata kini benar-benar mengambang di sudut matanya, lalu jatuh membasahi sajadahnya. Ia teringat kehidupannya di kota, sebuah anyaman yang semrawut dan kusut. Ia seringkali mencampuradukkan ambisi dengan ketamakan, serta menjalankan kewajiban dengan rasa keterpaksaan yang menyesakkan.
"Bagaimana cara mulainya lagi, Kek? Anyamanku sudah terlalu berantakan. Benang-benangnya sudah saling melilit dan sulit diurai," bisik Aris di antara isak yang tertahan.
Kyai Usman menggeser duduknya, lalu memegang pundak Aris dengan tangan yang hangat.
“Mulailah dengan menyulam syukur, Aris. Ramadhan bukan soal apa yang hilang dari perutmu, soal lapar dan haus yang fana. Tapi soal apa yang masuk dan menetap di dalam jiwamu. Setiap detik kau menahan diri dari amarah, itu adalah satu sulaman hikmah. Setiap butir sedekah yang kau beri tanpa ingin dilihat, itu adalah penguat anyamanmu agar tidak rapuh saat kelak badai ujian menghantam. Kau adalah seorang perancang, bukan? Maka sekarang, kau harus menjadi arsitek bagi jiwamu sendiri. Rancanglah struktur yang puncaknya menyentuh langit, namun akarnya tertanam kuat di bumi syukur.”
****
Esok harinya, ujian itu datang. Seorang klien lama dari kota menelepon Aris dengan nada tinggi, memaki-maki karena perubahan kecil pada desain bangunan yang dianggapnya memperlambat proyek. Biasanya, Aris akan membalas dengan argumen yang tak kalah tajam dan sinis. Namun, di tengah terik matahari Ramadhan desa dan aroma tanah basah, Aris teringat tangan kakeknya yang tenang, zikir yang tak putus saat menghadapi bambu yang keras.
Ia menarik napas dalam, menahan gejolak amarah di dadanya. "Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Saya mengerti kekhawatiran Bapak. Mari kita cari solusinya sekarang, tanpa harus emosi. Saya akan revisi bagian itu segera."
Keajaiban kecil terjadi. Di seberang telepon, klien tersebut terdiam lama, lalu nada bicaranya melunak secara drastis. Aris menyadari bahwa ketika ia mampu mengendalikan "anyaman" emosinya sendiri, lingkungan di sekitarnya pun ikut melunak. Inilah kerohanian yang nyata, bukan sekadar khusyuk di atas sajadah, tapi memancar dalam interaksi manusiawi.
****
Hari-hari terakhir Ramadhan dihabiskan Aris dengan membantu kakeknya di bengkel kerja. Ia belajar banyak hal praktis yang ternyata filosofis. Ia belajar bahwa untuk membuat keranjang yang indah dan kuat, bambu harus diserut tipis-tipis, seperti ego manusia yang harus dikikis habis. Bambu harus ditekuk perlahan tanpa patah, seperti kesabaran yang harus lentur menghadapi cobaan.
Pada malam takbiran, saat gema takbir bersahut-sahutan dari masjid ke masjid, Kyai Usman memberikan sebuah bungkusan kain beludru hijau tua kepada Aris.
"Gunakan ini, Aris. Ini adalah anyaman terindah yang pernah Kakek buat. Bukan untuk sekadar dihitung angkanya saat berzikir, tapi untuk mengikat hatimu pada Yang Maha Kekal. Ingatlah, Ramadhan akan pergi besok pagi, tapi hikmah yang kau sulam di desa ini jangan sampai lepas kembali saat kau kembali ke kota."
Aris menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar dan mata berkaca-kaca. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah tasbih kayu yang sangat indah. Setiap butirnya halus, dibuat dari kayu gaharu yang wangi, dan dianyam dengan tali sutra kecil berwarna emas di bagian pangkalnya. Tasbih itu terasa hangat di genggamannya. Aris menyadari bahwa ia pulang ke kota nanti bukan sebagai Aris yang lama. Ia membawa "keranjang spiritual" yang baru. Sebuah anyaman jiwa yang dikerjakan dengan penuh kesadaran, disulam dengan kesabaran, dan diwarnai dengan keikhlasan.
Aris memeluk kakeknya erat. "Terima kasih, Kek. Terima kasih telah mengajarkanku menganyam kembali hidupku."
****
Pagi Idul Fitri tiba dengan gema takbir yang puncaknya membawa kedamaian. Aris bangun dengan semangat baru. Ia bersiap mengenakan baju koko putih terbaiknya. Ia ingin memberikan kejutan pada kakeknya dengan mengenakan tasbih baru itu di lehernya saat berangkat salat Id.
Aris mengetuk pintu kamar Kyai Usman. Tidak ada jawaban. Perasaannya mulai tidak enak. Pintu kamar tidak dikunci. Aris mendorongnya pelan.
Kyai Usman sedang duduk di atas sajadahnya, menghadap kiblat. Pakaian salatnya sudah rapi, serban putih melingkar di bahunya. Posisinya seperti sedang bertafakur setelah salat Subuh.
"Kek, ayo kita berangkat. Nanti telat," sapa Aris lembut sambil mendekat.
Kyai Usman diam tak bergeming.
Aris menyentuh bahu kakeknya. Dingin.
Kyai Usman telah berpulang. Ia wafat dalam keadaan tenang, bersujud di atas sajadah di pagi kemenangan. Wajahnya tersenyum lurus menatap kiblat, memancarkan kedamaian yang sempurna.
Di sela jari-jari Kyai Usman yang sudah kaku, Aris melihat sesuatu yang membuatnya tersentak hebat, hingga jantungnya serasa berhenti berdetak.
Kakeknya tidak memegang tasbih kayu gaharu wangi seperti yang diberikan padanya semalam.
Di tangan Kyai Usman, tergenggam erat tasbih buatan Aris sendiri, tasbih yang dibuat Aris dari sisa-sisa bilah bambu yang gagal ia anyam pada hari pertama belajar, tasbih yang bentuknya mencong-mencong, talinya kasar, dan penuh cacat. Tasbih yang menurut Aris adalah produk sampah dan memalukan.
Aris jatuh terduduk di samping jasad kakeknya, tangisnya pecah tanpa suara. Ia baru menyadari hikmah terakhir yang disulam kakeknya: Allah tidak melihat kesempurnaan bentuk lahiriah dari amal kita di dunia (seperti tasbih wangi yang mahal), melainkan Allah melihat kesungguhan hati dan proses perjuangan kita dalam menganyam ketaatan, meskipun hasilnya masih penuh cacat dan ketidaksempurnaan.
Tasbih bambu kasar itu dibawa Aris kembali ke Jakarta, bertransformasi menjadi "kompas moral" yang ajaib. Setiap kali ambisi atau amarah mulai meracuni pikirannya di kantor, tasbih itu mengeluarkan aroma tanah basah dan hutan gambut yang kuat, sebuah alarm spiritual yang seketika mengubah suasana ruang kerjanya yang dingin menjadi seteduh teras rumah kakeknya.
Kini, di tengah kebisingan kota, Aris tak lagi sekadar membangun menara. Baginya, setiap garis desain adalah zikir, dan setiap ruang yang ia rancang adalah tempat bagi jiwa-jiwa lelah untuk pulang ke rumah syukur.
TAMAT
BIONARASI:
Penulis dilahirkan 18 Agustus 1963. Ayah dan Ibu memberi nama Eduar Daud namun sejak kecil dipanggil Anang Way. Mulai aktif menulis setelah pension dari Pegawai Negeri Sipil. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA), Komunitas Galeri Sastra (KGS) dan anggota SIP Publishing. Saat ini masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Beberapa karya sudah diterbitkan antara lain: beberepa buku Antologi Puisi, Antologi Cerpen dan Novel.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan