Merah Putih di Dada
Karya: Agustina Rahman
Kami tak lahir di tengah dentum senapan
Tak menggenggam bedil
Tak mendengar deru pesawat tempur
Tapi di dada kami masih bergema pelan
Luka-luka sunyi para pejuang yang tak pernah pulang
Kami tak lagi mengangkat bambu runcing
Tapi menggenggam pena, layar, dan mimpi
Dengan tangan yang sama
Tangan yang menolak tunduk
Pada gelapnya dusta dan tajamnya ketidakadilan
Merdeka bukan sekadar angka merah
Bukan arak-arakan bendera yang melambai
Di sepanjang jalan-jalan protokol
Tapi sunyi yang dipilih setiap waktu
Untuk jujur di tengah kebohongan
Untuk bekerja saat dunia memilih diam
Kami tanam bendera di relung dada
Bukan untuk dipuja dan dipamer
Tapi tumbuh jadi pohon keberanian
Yang menaungi lelah dan harapan
Meski langit tak selalu menjanjikan cerah
Kami melangkah di jejak darah yang membuka jalan
Bukan untuk diam, apalagi sekadar berjalan
Kami datang menulis babak baru negeri ini
Merdeka berpikir, mencipta, bersuara tanpa henti
Meski badai datang, kami tegak di bumi pertiwi
Bionarasi
Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd. Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.