NAFAS YANG TERAKHIR
Karya: Nicol Leylee James
Dalam gelita pekat sejarah yang berdarah
aku dengar tangis tanah dirobek rakus
jeritnya menjadi lagu sunyi dalam dada bumi
peluru bersahut bagai bisikan maut
namun seorang tua masih bersiri kaku.
Tangannya mengenggam tanah basah
mata putihnya melihat langitnya yang suram
dia bukan wira bepakaian besi
tapi doanya lebih tajam dari senjata
setiap lafaznya menusuk penjajah.
Inilah nafas terakhir katanya perlahan
aku tidak takut mati demi anak cucu
jika darahku jadi dakwat sejarah
maka tulislah kisah ini tanpa dusta
dan tanpa luka palsu dibersih penjajah.
Bulan mentaksikan tubunnya rebah
tapi roh pejuang tak pernah mati
ia meresap ke dalam akar pokok merdeka
berkembang menjadi semangat tak terpadam
yang mengalir dalam nadi anak bangsa.
Kini kami berdiri atas tulang - benulang itu
di atas mimbar yang dulunya medan perang
kami mengucapkan janji kepada tanah air
bahawa nafas terakhir mereka tidak sia - sia
dan kemerdekaan ini akan terus dikekalkan.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan