Jumaat, 9 Januari 2026

BUIH YANG BELAJAR MENJADI DARATAN: EDUAR DAUD

BUIH YANG BELAJAR MENJADI DARATAN

Penulis: Eduar Daud


Malam di pesisir Bintan bukanlah sekadar jeda kronologis antara senja dan fajar; ia adalah sebuah upacara duka yang khidmat bagi mereka yang kalah dalam pertarungan nasib. Ketika matahari tenggelam, ia seolah membawa pergi sisa-sisa harga diri para pencari ikan, menyisakan kegelapan yang menelanjangi kemiskinan. Aroma garam yang pekat, bau yang bagi dunia luar adalah tanda liburan, namun bagi Zailani adalah bau kutukan, merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang mulai melapuk dimakan usia dan rayap. Angin Utara bertiup membawa pesan dingin dari laut lepas, menyusup ke pori-pori laksana ribuan jarum es yang menggigit kulit.


Di dalam kamar sempit yang pengap, cahaya lampu pijar kekuningan bergetar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang tampak seperti hantu masa lalu di dinding. Zailani duduk terpaku, seolah-olah jiwanya telah lama meninggalkan raganya. Jemarinya yang kasar, dengan kulit yang menebal akibat hantaman kemudi sekoci dan dihiasi bekas sayatan senar nilon yang telah mengering menjadi jaringan parut, merapat pada kain gorden kusam. Kain itu, yang entah berapa puluh tahun lalu pernah berwarna cerah, kini telah kehilangan identitasnya, menjadi sehelai kain tanpa rupa yang menyimpan debu dan rahasia tangisnya.


Dinginnya angin malam ini menyapa tubuhnya yang hanya dibalut kaos tipis yang telah menipis karena seringnya dicuci di air payau. Dingin itu meresap, menembus lapisan otot, lalu bersarang di sumsum tulang. Namun, sebuah anomali terjadi di dalam dadanya. Di tengah tubuh yang menggigil, terdapat sebuah tungku api yang membakar hebat, sebuah api yang menolak padam meski diguyur badai Utara sekalipun. Api itu disulut oleh rindu yang terlarang, sekaligus dipelihara oleh rasa rendah diri yang akut, sebuah bahan bakar yang pahit namun membuat api itu tetap menyala dengan warna hitam yang pekat.


Zailani menatap ke luar jendela. Hanya beberapa meter di depannya, terbentang jalan aspal hitam yang seolah-olah berfungsi sebagai jurang tak berdasar. Aspal itu bukan sekadar jalan, melainkan garis pembatas takdir yang kejam. Di satu sisi, ada perkampungan nelayan yang berbau amis darah ikan dan keringat asam; di sisi lain, berdiri deretan vila mewah yang memancarkan aroma harum bunga kamboja dan parfum mahal yang terbawa angin.


Matanya terkunci pada sebuah jendela di lantai dua hunian paling megah di sana. Jendela itu besar, dengan kaca tebal yang kedap suara, sebuah perisai yang melindungi penghuninya dari suara tangis kemiskinan di luar sana. Di balik kaca benderang itu, bayangan Sofia bergerak dengan keanggunan yang menyakitkan untuk dilihat.


Bagi Zailani, Sofia bukan sekadar wanita; ia adalah definisi bidadari yang tersesat di atas tanah berbatu. Gerakannya yang halus adalah puisi yang tak mampu ia baca, dan keberadaannya adalah cahaya yang begitu benderang hingga membutakan mata Zailani setiap kali ia mencoba memandang masa depan. Sofia adalah mentari yang mustahil digapai, sementara Zailani hanyalah jelaga, sisa pembakaran yang hitam, kotor, dan terlupakan di dasar tungku. Ia ada karena api rindu itu membakarnya, namun keberadaannya hanya meninggalkan noda hitam pada setiap kain putih yang coba ia sentuh.


Zailani menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia bukan sedang melihat Sofia, ia sedang melihat kebenaran tentang dirinya sendiri. Bahwa sejauh apa pun ia mendayung sekocinya ke tengah laut, ia tidak akan pernah bisa menyeberangi jalan aspal di depan rumahnya itu sebagai seorang lelaki yang setara. Ia tetaplah sang pengintai, penenun buih yang berharap suatu saat ombak akan membawanya ke daratan yang lebih mulia.



Luka yang Tak Berdarah

Matahari baru saja naik sepenggalah di langit Bintan, namun bagi Zailani, hari seolah sudah berakhir di titik paling melelahkan. Ia baru saja menyandarkan sekoci tuanya, Si Camar Patah, yang kayu-kayunya berderit memprotes hantaman gelombang Laut Cina Selatan yang mengganas selama dua belas jam terakhir. Seluruh sendi tubuhnya terasa seperti disekrup paksa. Kaos oblongnya yang sudah tak keruan warnanya melekat basah di kulit, bercampur peluh, garam, dan sisa-sisa sisik ikan tongkol yang berkilau perak di bawah cahaya pagi, seperti zirah bagi seorang ksatria yang baru saja kalah perang.


Bau laut yang tajam, kombinasi antara amis darah ikan dan pembusukan ganggang, menguar dari sekujur tubuhnya. Bagi Zailani, itu adalah bau kehidupan, bau yang memastikan ada beras di periuk ibunya. Namun, bagi dunia di luar garis pantai ini, itu adalah bau kemiskinan.


Saat ia sedang mengikat tali tambat ke dermaga beton, sekelebat warna putih bersih menyentak pandangannya. Di sana, di ujung dermaga yang lebih tinggi, Sofia muncul. Ia tampak seperti sebuah fatamorgana di tengah panas yang mulai menyengat. Gaun putih berbahan sutra yang ia kenakan melambai lembut dipermainkan angin laut, tampak begitu kontras dengan latar belakang perahu-perahu nelayan yang kusam. Sofia berdiri di sana dengan keanggunan yang alami, seolah debu dan kotoran dermaga enggan menyentuh ujung kainnya.


Di sampingnya berdiri seorang pria yang penampilannya sehalus porselen. Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna biru pucat, jam tangan emas yang memantulkan cahaya matahari, dan sepatu kulit yang mengkilap, sepatu yang belum pernah merasakan perihnya air garam.

"Zai, hasil tangkapan hari ini bagaimana?" tanya Sofia.


Suaranya lembut, mengalun seperti melodi sunyi yang selalu berhasil menidurkan kegelisahan di hati Zailani. Sofia melangkah mendekat, matanya menatap tumpukan ikan di palka dengan binar ketulusan yang tidak dibuat-buat.


Zailani baru saja hendak membuka mulut, mungkin untuk sekadar pamer bahwa ia berhasil membawa pulang kerapu merah yang langka, namun kalimat itu tersangkut di tenggorokan. Pria di samping Sofia tiba-tiba mendengus. Dengan gerakan yang penuh dramatisasi, pria itu mengeluarkan sapu tangan sutra berwarna krem dari saku celananya, lalu menutup hidungnya rapat-rapat.


"Ayo cepat, Sofia. Jangan terlalu dekat," ucap pria itu dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Bau amis ini sangat menyengat, bisa merusak selera makan siang kita di restoran nanti. Kulitmu juga bisa kotor hanya karena menghirup udara di sini."


Kalimat itu bukan sekadar penghinaan. Itu adalah sebuah eksekusi terhadap martabat. Pria itu tidak menatap Zailani; ia menatap Zailani seolah pria nelayan itu hanyalah seonggok sampah yang kebetulan bisa bicara. Ia meniadakan keberadaan Zailani sebagai seorang manusia, seorang lelaki, dan seorang pejuang.


Zailani tertegun. Tangannya yang masih memegang tali tambat mendadak kaku. Ia merasakan darahnya berdesir panas, namun ia hanya mampu menunduk dalam-dalam. Ia melihat bayangan dirinya di air laut yang keruh di bawah dermaga, hitam, kusam, dan berbau busuk. Sementara di samping bayangannya, terpantul bayangan Sofia dan pria itu yang tampak begitu serasi, begitu "bersih".


Kelakian Zailani terasa tercabar sehebat-hebatnya. Ada rasa perih yang menjalar, sebuah luka yang tidak mengeluarkan darah namun merobek harga dirinya hingga lumat di bawah sol sepatu mahal pria kota itu. Ia sadar sepenuhnya, di mata peradaban yang diukur dengan angka dan kemilau harta, ia hanyalah noktah kecil yang tak terlihat. Seorang penghuni jelata yang hanya layak dipandang dari kejauhan.


Siapalah aku ini untuk memintal buih yang memutih menjadi permadani seperti mana yang tertulis dalam novel cinta? batinnya pilu.


Dahulu, ia sering membaca novel-novel picisan milik adiknya, tentang pemuda miskin yang memenangkan hati putri bangsawan. Namun saat ini, di bawah tatapan meremehkan pria itu dan diamnya Sofia yang tampak canggung, Zailani sadar bahwa realitas jauh lebih kejam daripada tinta penulis manapun. Di dunia nyata, buih tetaplah buih; ia akan pecah dan hilang begitu menyentuh daratan, mustahil bisa ditenun menjadi permadani indah untuk menghias pelaminan bidadari seanggun Sofia.


Ia membiarkan mereka pergi tanpa kata. Langkah kaki sepatu kulit itu terdengar menjauh, beradu dengan suara sandal jepit Zailani yang tipis. Zailani kembali ke kapalnya, membenamkan wajah di balik telapak tangan yang kasar. Hari itu, Laut Cina Selatan terasa lebih dingin dari biasanya, dan impiannya untuk memiliki Sofia terasa seperti bintang di langit, indah untuk dipandang, namun menghancurkan untuk digapai.


Cermin di Balik Tirai

Malam semakin larut, namun kelopak mata Zailani seolah enggan merapat. Di kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, pengap dan aroma kayu tua yang lembap menjadi teman setianya. Ia berdiri di sudut gelap, tangannya yang masih menyisakan perih akibat garam laut mencengkeram pinggiran tirai kain yang sudah menipis dan kehilangan pola bunganya. Dengan gerakan pelan, seolah takut suaranya akan memecah kesunyian malam, ia menyibak sedikit celah.


Di sana, hanya terpisah oleh jalan aspal sempit yang sering becek jika hujan, berdiri sebuah monumen kemewahan. Vila itu tampak seperti istana yang terapung di atas kegelapan pesisir Bintan. Cahaya lampu kristal dari ruang tengahnya menembus jendela kaca yang tebal dan bening. Di lantai dua, di balik balkon yang dihiasi ukiran besi tempa, Sofia terlihat duduk di sebuah kursi santai. Ia sedang membaca buku, rambutnya yang hitam legam jatuh terurai di bahu, sesekali ia menyeruput sesuatu dari cangkir porselen yang kecil.


Zailani terpaku. Secara geografis, jarak mereka mungkin tak sampai lima puluh meter. Namun secara kasta, Zailani merasa ada jutaan tahun cahaya yang membentang di antara mereka. Ia merasa seperti makhluk dari dimensi yang berbeda, seorang penghuni dasar laut yang sedang menatap matahari dari kegelapan palung terdalam.

"Zai... tutup tiraimu, Nak."


Suara itu lirih, serak, dan penuh kelelahan. Ibunya berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka. Cahaya lampu minyak dari dapur menyinari wajah tua yang sudah dipenuhi guratan nasib itu. Mata ibunya menatap Zailani dengan tatapan yang sulit diartikan, antara iba dan peringatan.


"Tidurlah. Besok kau harus melaut lebih pagi jika ingin dapat solar," sambung ibunya. "Jangan biarkan matamu terus memanjat langit yang tak ada tangganya. Kau hanya akan jatuh, dan saat jatuh nanti, kau akan remuk sendirian. Ibu tak punya obat untuk hati yang hancur karena mimpi yang terlalu tinggi."


Zailani tidak menoleh. Ia tetap menatap bayangan Sofia yang kini tampak menutup bukunya. "Aku tidak sedang bermimpi, Mak. Aku sedang menghukum diriku sendiri," jawab Zailani lirih, suaranya nyaris tertelan suara debur ombak di kejauhan.


"Menghukum untuk apa?"

"Untuk keberanianku yang konyol. Untuk mataku yang lancang menatap bidadari, dan untuk hatiku yang tidak tahu diri karena berani berdegup untuknya," Zailani menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak. "Aku sedang becermin, Mak. Tirai ini adalah cerminku. Di balik sana ada kehidupan yang sewangi bunga, dan di sini... di sini hanya ada aku yang berbau amis dan dinding yang mau roboh."


Ibunya hanya menghela nafas panjang, menyadari bahwa putra sulungnya sedang berada di persimpangan antara cinta dan realitas yang kejam. Beliau menutup pintu kamar dengan pelan, meninggalkan Zailani dalam kesunyian yang mencekam.


Zailani kembali menatap ke arah vila. Ia menyadari sepenuhnya kekeliruannya selama ini. Silap aku juga karena jatuh cinta pada insan seanggun bidadari. Ia merasa egois. Bagaimana mungkin ia, seorang pemuda yang harus berhutang pada tengkulak hanya untuk memperbaiki jaring yang koyak, berani membayangkan Sofia bersanding dengannya?


Sofia layak mendapatkan pria yang bisa menjamin masa depannya dengan emas dan permata, bukan pria yang hanya bisa menjanjikan bau laut dan ketidakpastian cuaca. Di dalam kepalanya, lirik-lirik keputusasaan mulai berputar. Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan "bintang di langit" sebagai hantaran syarat untuk memiliki Sofia?


Bagi orang-orang seperti pria kota yang ia temui di dermaga tadi pagi, "bintang" mungkin hanyalah sebuah perhiasan mahal atau perjalanan ke luar negeri. Namun bagi Zailani, "bintang" itu adalah simbol dari segala sesuatu yang berada di luar jangkauannya. Sebuah kemewahan yang tak terbeli oleh ribuan keranjang ikan sekalipun. Mengharapkan Sofia adalah sebuah kegilaan yang nyata. Ia merasa seperti seorang musafir di padang pasir yang mengejar fatamorgana; semakin ia mendekat, semakin ia menyadari bahwa yang ia kejar hanyalah udara kosong yang membakar.


Ia teringat novel-novel cinta yang sering ia baca secara sembunyi-sembunyi. Di sana, cinta adalah kekuatan magis yang bisa meruntuhkan tembok istana. Namun di pesisir Bintan, tembok itu bukan terbuat dari batu, melainkan dari status sosial dan tumpukan harta yang tak mungkin ia daki hanya dengan sepasang tangan kosong.


Dengan tangan gemetar, Zailani akhirnya melepaskan kain tirai itu. Ia membiarkannya tertutup rapat, menghalangi pandangannya ke arah vila. Malam itu, di bawah temaram lampu pijar, Zailani bersumpah pada sunyi: ia tidak akan lagi mengintai. Jika ia memang ditakdirkan untuk tetap di lumpur, maka ia akan berhenti menatap langit. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, ada sebuah bara kecil yang belum padam, sebuah tekad bahwa jika ia tidak bisa menggapai bintang, ia harus memastikan dirinya sendiri tidak lagi menjadi tanah yang bisa diinjak-injak begitu saja.


Mengubah Arah Angin

Malam itu, di titik nadir kehancurannya, Zailani tidak lantas hancur menjadi abu. Justru di tengah kegelapan kamar yang pengap, ia merasakan sebuah ledakan kesadaran yang luar biasa. Ia melepaskan pegangannya pada tirai kusam itu dengan sentakan kasar, seolah-olah kain itu adalah belenggu yang selama ini mengikat nyalinya. Ia tidak ingin lagi menjadi pengintai yang pengecut, seorang lelaki yang hanya berani mencintai dalam bayang-bayang, meratapi nasib di balik gorden yang berbau debu dan keputusasaan.


Ia berdiri tegak di tengah kegelapan, dadanya naik turun mengatur napas yang memburu. Jika ia memang seorang lelaki, seorang anak pesisir yang dibesarkan oleh asinnya air laut, ia tidak boleh mati karena luka harga diri yang remeh. Ia teringat kembali pada sosok ayahnya, seorang pelaut tua yang kulitnya sudah sekeras kayu jati. Ayahnya pernah berpesan di atas sekoci saat badai mengamuk bertahun-tahun silam: 

“Zai, laut ini tidak butuh ratapanmu. Laut hanya akan tunduk pada mereka yang tidak takut tenggelam. Jika kau takut pada gelombang, kau akan selamanya menjadi budak di daratan.”


Kalimat itu bergema di kepalanya, menghantam dinding-dinding keraguan yang selama ini ia bangun. Zailani berjanji pada dirinya sendiri di hadapan sunyi: ia akan berhenti memintal buih imajinasi. Ia akan berhenti menulis skenario novel cinta yang mustahil di kepalanya. Mulai detik ini, ia akan mulai menenun kenyataan dengan tangannya sendiri, meskipun benangnya harus ia ambil dari duri dan karang.


Keesokan harinya, Zailani bukan lagi orang yang sama. Ketika nelayan lain masih terlelap atau sekadar menyeruput kopi di kedai sambil mengeluhkan harga solar, Zailani sudah berada di perpustakaan kota yang jaraknya dua jam perjalanan dengan motor tua. Ia mulai mempelajari navigasi modern secara otodidak melalui buku-buku usang dan jurnal kelautan. Ia mempelajari tentang arus, tentang siklus hidup kerang mutiara, dan bagaimana teknologi GPS bisa membantu menemukan lokasi penangkapan yang lebih efisien daripada sekadar mengandalkan insting leluhur.


Ia mulai mendekati para pedagang besar di Tanjung Pinang, bukan sebagai pengemis kerja, melainkan sebagai pencari informasi. Ia bertanya tentang standar ekspor, tentang mengapa mutiara dari Bintan sering dihargai murah, dan bagaimana rantai pasok yang sebenarnya bekerja. Ia sadar bahwa selama ini nelayan di kampungnya hanya menjadi "umpan" bagi para tengkulak. Mereka yang bekerja keras, tapi orang lain yang memanen hasilnya.


Zailani mulai bekerja dengan kegilaan yang tak masuk akal. Jika nelayan lain melaut satu kali sehari, ia melaut dua kali. Ia mengambil giliran jaga malam di gudang es, ia membantu memperbaiki mesin kapal orang lain demi beberapa lembar rupiah tambahan, dan ia menabung setiap sen yang ia peroleh dengan sangat ketat. Ia tidak membeli pakaian baru, ia tidak ikut nongkrong di kedai kopi, dan ia tidak menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat. Ia sedang membangun "tangga" menuju langit yang ia tuju. Baginya, setiap rupiah adalah satu anak tangga yang akan membawanya keluar dari lubang kemiskinan.


Perubahan fisik mulai terlihat. Tubuhnya yang dulu kurus kini menjadi lebih tegap dan berisi karena kerja keras yang tanpa henti. Matanya yang dulu layu kini tajam penuh target. Namun, di tengah kesibukan yang membabi buta itu, ada satu ritual yang tidak pernah ia tinggalkan.

Setiap kali rasa lelah datang menghantam, saat punggungnya terasa mau patah dan kepalanya pening karena kurang tidur, Zailani akan kembali ke kamar kecilnya. Ia akan berdiri di depan jendela itu dan menyibak sedikit tirainya. Ia akan menatap lampu benderang di vila Sofia yang masih sama seperti dulu. Namun, kini ada perbedaan besar di hatinya.


Ia tidak lagi menatap ke sana dengan rasa iri yang melumpuhkan atau minder yang menghinakan. Ia menatap ke jendela Sofia untuk mengingatkan diri sendiri bahwa ada sesuatu yang indah dan berharga yang pantas untuk diperjuangkan. Sofia bukan lagi sekadar objek cinta yang mustahil; Sofia telah bertransformasi menjadi mercusuar bagi perjuangannya.


"Tunggu aku, Sofia," bisiknya pada angin malam yang masuk melalui celah jendela. "Aku tidak akan datang padamu sebagai peminta-minta cinta. Aku akan datang sebagai lelaki yang layak berdiri di sampingmu, sebagai seseorang yang telah berhasil menaklukkan ombaknya sendiri."


Zailani kemudian menutup tirainya dengan tenang. Bukan untuk bersembunyi, tapi untuk beristirahat sejenak sebelum besok ia kembali bertarung dengan takdir. Ia tahu, arah angin tidak bisa diubah, tapi ia telah belajar bagaimana cara mengatur layar agar kapalnya sampai ke tujuan.



Permadani yang Nyata

Waktu adalah penempa yang paling jujur. Lima tahun telah berlalu sejak malam di mana Zailani memutuskan untuk berhenti meratapi nasib di balik tirai kusamnya. Pesisir Bintan kini menyaksikan sebuah pemandangan yang tak lazim. Sebuah kapal penampung hasil laut yang modern, dengan teknologi pendingin mutakhir dan desain aerodinamis, bersandar dengan gagah di dermaga beton yang baru saja diperluas. Di lambung kapal yang bercat putih mengkilap itu, tertulis sebuah nama dengan huruf kapital yang tegas: PERMADANI PUTIH.


Di atas geladak, seorang pria berdiri menatap cakrawala. Kulitnya masih legam terbakar matahari, sebuah tanda lahir bagi mereka yang akrab dengan laut, namun postur tubuhnya kini tegak dengan wibawa yang tak bisa dibeli. Matanya tidak lagi menunduk layu menghindari tatapan orang lain; sebaliknya, mata itu kini memancarkan kecerdasan, ketenangan, dan otoritas seorang pemimpin. Pria itu adalah Zailani.


Ia bukan lagi Zailani si nelayan sekoci tua yang membawa bau amis yang tak kunjung hilang meski telah disabun berkali-kali. Melalui riset otodidak yang melelahkan dan kegigihan membangun jaringan, ia kini adalah perintis koperasi mandiri dan pengusaha budidaya kerang mutiara paling disegani di Kepulauan Riau. Ia telah berhasil memintal "buih" dari peluh dan air mata kerja kerasnya menjadi sebuah kejayaan yang nyata, sebuah permadani ekonomi yang kini menaungi ratusan keluarga nelayan di kampungnya.


Sore itu, matahari Bintan turun dengan warna jingga yang tenang, menyepuh permukaan laut dengan cahaya keemasan. Zailani melangkah turun dari dermaga, namun langkah kakinya tidak membawanya ke gudang penyimpanan atau kantor koperasi. Ia berjalan menuju deretan vila mewah yang dulu terasa seperti benteng yang tak tertembus.


Kali ini, Zailani tidak berhenti di seberang jalan. Ia tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang rumah kayunya yang kini sudah ia pugar menjadi hunian yang layak bagi ibunya. Ia melintasi jalan aspal itu dengan langkah pasti dan berhenti tepat di depan gerbang besi tinggi sebuah hunian megah. Vila milik keluarga Sofia.


Pintu utama vila terbuka. Sofia melangkah keluar. Ia masih seanggun dahulu, seperti bidadari yang pernah membuat Zailani merasa kerdil, namun ada yang berbeda dalam tatapannya. Tidak ada lagi kecanggungan atau rasa kasihan yang dulu sering ia pancarkan. Kini, di wajahnya terpahat gurat kekaguman yang jujur dan rasa hormat yang mendalam.


Sofia berjalan mendekati pagar, menatap pria di hadapannya seolah sedang melihat keajaiban yang tercipta dari tanah dan garam.


"Kau benar-benar berhasil, Zai," ucap Sofia lembut, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Seluruh pulau membicarakanmu. Tentang bagaimana kau mengubah nasib para nelayan, tentang mutiara-mutiara itu... Kau benar-benar telah menggapai bintang yang dulu kau tatap dari jauh."


Zailani tersenyum tipis, senyum seorang pemenang yang telah berdamai dengan masa lalunya. Ia tidak merasa jemawa, tidak pula merasa ingin membalas dendam atas penghinaan pria kota di dermaga lima tahun silam. Ia kemudian memutar tubuhnya sedikit, menatap ke arah rumah kayu lamanya yang berada di seberang jalan, tepat ke arah jendela kamarnya di lantai atas.


"Aku tidak pernah benar-benar menggapai bintang itu, Sofia," jawab Zailani dengan nada suara yang dalam dan tenang. "Sebab bintang di langit tetaplah milik langit, terlalu jauh untuk dipetik dan terlalu dingin untuk dipeluk."


Ia kembali menatap Sofia, kali ini dengan tatapan yang setara. "Aku hanya berhenti bersembunyi di balik tirai kamar. Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai belajar bagaimana cara terbang. Bintang-bintang itu tidak turun kepadaku, tapi kerja kerasku yang membangun tangga agar aku bisa berdiri sejajar dengan cahayanya."


Sofia terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Zailani. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukan lagi sekadar seseorang yang mencintainya secara rahasia, melainkan seorang lelaki yang telah menaklukkan dirinya sendiri sebelum mencoba menaklukkan dunia.


"Dulu, aku pikir cinta adalah tentang memiliki seseorang yang anggun sepertimu," lanjut Zailani. "Tapi sekarang aku paham, cinta yang sejati adalah kekuatan yang memaksa kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Terima kasih, Sofia. Karena tanpa 'hinaan' dunia dan tanpa bayanganmu di balik kaca itu, aku mungkin masih akan tetap menjadi nelayan yang takut pada ombak."


Zailani berbalik, berjalan kembali menuju pelabuhan di mana kapalnya bersandar. Ia tidak menoleh lagi. Ia telah membuka tirai kamarnya selamanya. Ia telah membuktikan bahwa hantaran untuk sebuah kebahagiaan bukanlah sekadar materi, melainkan kehormatan dan pembuktian diri. Di bawah langit Bintan yang mulai bertabur bintang, Zailani berjalan dengan hati yang hangat, menenun hari esok yang jauh lebih benderang dari sekadar lampu-lampu vila mewah.



Di Bawah Langit yang Sama

Beberapa bulan setelah pertemuan di gerbang vila itu, hubungan Zailani dan Sofia tidak tumbuh dari sekadar romansa novel cinta yang klise, melainkan dari sebuah kemitraan yang didasari rasa hormat. Sofia, dengan latar belakang pendidikannya di bidang manajemen, akhirnya memutuskan untuk melepaskan diri dari bayang-bayang bisnis ayahnya yang konservatif. Ia memilih untuk bergabung dan menanamkan modal di koperasi yang didirikan Zailani.


Mereka sering terlihat duduk bersama di dermaga saat senja, bukan sebagai bidadari dan pemuja, melainkan sebagai dua rekan seperjuangan yang sedang mendiskusikan masa depan pesisir Bintan. Tidak ada lagi sapu tangan sutra untuk menutup hidung; Sofia kini terbiasa dengan aroma laut, bahkan ia sering ikut Zailani meninjau keramba mutiara di tengah laut.


Suatu malam, Zailani mengundang Sofia ke rumah ibunya yang telah dipugar. Mereka berdiri di jendela kamar lama Zailani, tempat di mana dulu ia sering "mengintai" dengan rasa sakit.

"Sekarang tirainya selalu terbuka," bisik Sofia sambil menyentuh kain gorden baru yang berwarna cerah.


"Ya," jawab Zailani sambil menatap Sofia. "Karena aku tidak lagi butuh sembunyi. Aku tidak lagi melihatmu sebagai bidadari yang tak terjangkau, tapi sebagai wanita yang ingin kubimbing untuk berjalan bersama di atas permadani yang kubangun sendiri."


Zailani tidak pernah memberikan "bintang di langit" sebagai hantaran. Sebagai gantinya, ia memberikan sebuah cincin perak dengan mutiara hitam tercantik hasil budidayanya sendiri, simbol dari sesuatu yang lahir dari kegelapan dasar laut, melewati tekanan yang hebat, namun akhirnya muncul ke permukaan dengan kemilau yang abadi.


Di bawah langit Bintan yang luas, mereka sadar bahwa cinta bukan tentang siapa yang berada di atas atau di bawah, tapi tentang dua orang yang berani menyingkap tirai keraguan untuk menatap masa depan di bawah cahaya yang sama.


Selesai.


BUIH YANG BELAJAR MENJADI DARATAN: EDUAR DAUD

BUIH YANG BELAJAR MENJADI DARATAN Penulis: Eduar Daud Malam di pesisir Bintan bukanlah sekadar jeda kronologis antara senja dan fajar; ia ad...

Carian popular