Karya; Riyan Rana
PERJALANAN SEBUTIR PELURU
Aku lahir dari logam dingin yang dipaksa menyala.
Api melemparkanku, dan udara berlari mendahului, aku berteriak kepadanya: “Apakah engkau rela menjadi jalan bagi makhluk kecil ini?” Udara tidak menjawab, ia hanya menangis dalam desau yang menyayat daun-daun zaitun dan menaburkan pasir ke mata langit.
Aku melesat, di bawahku, Gaza masih bernafas. Seorang ibu sedang menyalakan tungku, roti pipih menunggu untuk dipanggang. Suara anak-anak berkejaran di lorong sempit antara dinding rumah yang setengah roboh.
Seorang kakek duduk di kursi reyot, membaca Al-Qur’an dengan suara bergetar, sementara pengeras masjid yang retak, memanggil orang-orang untuk menegakkan subuh.
Aku melewati puing-puing besi yang pernah menjadi atap sebuah rumah. Besi itu retak, menggeram, lalu berkata: “Jangan singgah, wahai tamu yang dipaksa, karena tubuhmu hanyalah titah mesin haus darah.”
Aku bergetar, namun perjalanan tetap mendorongku. Debu berhamburan di wajah, mereka berseru lirih: “Bila engkau menembus daging, kami akan menutupinya. Namun siapa yang akan menutup doa anak-anak yang menusuk langit?”
Aku menggigil, tapi api yang dulu memuntahkanku masih membakar punggung. Aku tak kuasa berhenti.
Tiba pada punggung kecil itu. Sebuah kanvas rapuh yang mestinya hanya dikenali oleh pelukan. Aku mengetuk tulangnya, tulang itu memekik, “Kenapa engkau memilihku, sedang aku masih sibuk menegakkan tubuh mungil agar ia bisa berlari mengejar impiannya?”
Aku tidak menjawab, karena jantung segera menyambutku. Detaknya terguncang, ia berteriak penuh getir: “Engkau hanyalah tamu asing, mengapa pintuku yang kau dobrak? Aku sedang sibuk menjaga irama riang anak kecil yang masih suka tertawa di sela runtuhan?”
Lalu darah keluar menyambut, setetes demi setetes, seakan ingin berkata: “Kami bukan cat merah untuk membubuhkan tanda di tanah. Kami adalah sejarah kecil yang ingin tumbuh menjadi dewasa.”
Aku menjerit dalam diam, namun tetap melaju. Sumsum berdesis, mengadu padaku, “Engkau hanya musafir yang tersesat. tapi mengapa kesesatanmu harus menyulitkan kami?”
Aku keluar dari dada mungil, meninggalkan lubang merah yang tak pernah bisa disulam doa.
Aku jatuh, menyusur reruntuhan, terkapar di bawah dinding yang separuh roboh. Namun sebelum kesadaranku di kubur waktu, aku sempat menolehnya.
Wajah anak itu tersenyum. Senyum yang seakan berbisik lirih, “Terima kasih, engkau telah mengantarkanku ke pangkuan surga.”
Tubuh mungilnya ambruk, aku menelan air mata. Air mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menelusuri luka-luka Gaza, hingga ke dalam nadi sejarah.
Madura, 16 Oktober 2025