Khamis, 16 Oktober 2025

Takbir di Tengah Reruntuhan

Syahrul Ramadhan



Takbir menggema

bukan untuk perang,  

tapi untuk meredam dentuman.


Di antara langit dan reruntuhan,  

ada suara yang tak bisa dibungkam:  

“Allahu Akbar”  

bukan seruan kematian,  

tapi doa agar nyawa diselamatkan.


Di mata anak-anak yang kehilangan atap,  

takbir jadi pelindung,  

bukan pemicu retak tanah.


Gencatan senjata,  

bukan kelemahan,  

tapi kekuatan jiwa  

yang tahu kapan berhenti,  

agar damai sempat tumbuh  

di ladang penuh luka.


Kami tak menyerah,  

kami memilih jeda,  

agar bumi bisa menarik napas  

tanpa aroma mesiu.


Dan ketika takbir naik ke langit,  

ia membawa air mata,  

bukan amarah

ia mengetuk langit,  

agar cinta lebih nyaring  

dari ledakan.

  ANAKKU AZIZAH

  Oleh : Nur Asrianti


Di suatu sudut ruang yang remang remang cahaya

Dalam rona dunia

Anakku Azizah bersuara dalam lantunan ayat ayat suci yang terekam

Tak hanya di kepala

Tetapi juga dalam relung relung hati dan jiwa


Ia berkaca pada hangatnya harapan

Tentang kehidupan yang abadi penuh makna

Suatu hari di sana

Di langit yang tak fana


Anakku Azizah memeluk mushaf 

Dalam dekapan cinta dan lingkaran kekuatan

Yang Maha Kuat

Yaa Aziiz Ya Jabbar Yaa Muttakabbir


Keyakinannya penuh akan pertolongan 

Yang tak akan pernah runtuh


Anakku Azizah

Di tanah para nabi

Perkasa memandu dunia dengan binar mata bercahaya

Setiap nafasnya adalah doa dan harapan yang tak pernah sirna


Bandung, 15 Oktober 2025  


Nur Asrianti. 

Seorang penyuka puisi dari Bandung Jawa Barat Indonesia. Bersilaturahmi lebih jauh di instagram @nur_asrianti &facebook : Nur Asrianti Jakaria.

 Langit Yang Belum Damai

Naora MN


dengar...

ini bukan hanya bisik

ini gong yang berdentang

mereka bangun dari lembah debu

dari simpanan air yang dicuri

dani nama-nama yang enggan dilenyap


mereka tidak menunggu izin untuk bernafas

malah memahat azimat 

dengan kaki di tanah kita


mereka adalah batu yang menolak runtuhan

menanam zaitun di atas bekas luka

daunnya berbicara bahasa abadi

bahawa keteguhan itu takkan mati


mereka tidak menunggu simpati

hanya menuntut hak yang dirampas

anak-anak mereka menulis masa hadapan

dengan kapur dan darah keberanian


berdirilah… 

bukan untuk mereka semata

tetapi untuk semua manusia 

yang dirampas maruahnya


merdeka bukan hadiah

ia adalah perjuangan yang bernyala saban hari


mereka tidak tunduk, mereka tidak padam

suarai ini - batu, daun dan laut

selagi langit belum aman

kami terus menyalakan fajar di dalam


Naora MN

#peacepalastin

2025

 Di Dataran Perjuangan

Naora MN


mereka menerima gelombang

mengusung harapan dan langit yang luka

kapal mereka berlayar di laut doa

membelah sunyi dengan tekad dan kasih


aku di sini

tidak berdiri di dek kapal

tidak menatap ombak yang menggila

namun aku tetap berjuang

di dataran yang tidak berombak

dengan senjata yang bernama pena


pena ini

layarku yang tenang

mengibarkan harapan di samudera kata

setiap noktah, setiap ayat

adalah degup perjuangan 

yang tak terlihat oleh mata

namun menyala di hati manusia


kerana perjuangan itu seribu wajah

ada yang berdarah di laut

ada yang berdiri di dataran

dan ada yang berlutut di depan kerta

mendoakan dalam senyap yang tegas


aku menulis tentang luka

tentang tanah yang dijajah

tentang ibu yang kehilangan anak

tentang dunia yang memaling muka


mereka membawa roti dan ubat

aku membawa kesedaran dan doa

mereka menentagn sekatan dan senjata

aku menentang bisu dan lupa


kerana tidak semua pejuang berparang di tangan

ada yang berperang dalam diri

agar dunia tidak terus lena


dan di dataran sunyi ini

aku bersaksi

pena juga mampu belayar 

menuju kebenaran


Naora MN

Melaka 2025

 Perjuangan Yang Tidak Terlihat

(Sempena misi Global Sumud Flotilla ke Gaza)


mereka menongkah samudera

mengharung ombak dan badai besi

membawa harapan ke tanah yang berdarah

menyulam doa di setiap nadi laut biru


aku tidak turut di dalam misi

tidak merenung bintang dari gelombang

namun tanganku juga tetap berjuang

di dataran sunyi kata dan makna


aku tidak memikul kotak bantuan

tetapi memikul pena

menulis luka, menulis harapan

menyulam keberanian dalam huruf-huruf kecil

yang ingin menjadi doa


kerana perjuangan

tidak selalu diwarnai debu perang

kadang hanya setitis tinta

yang jatuh dari hati yang pedih

namun terus hidup

menyala di antara diam manusia


Naoa MN

September 2025

 Karya; Riyan Rana

PERJALANAN SEBUTIR PELURU


Aku lahir dari logam dingin yang dipaksa menyala.

Api melemparkanku, dan udara berlari mendahului, aku berteriak kepadanya: “Apakah engkau rela menjadi jalan bagi makhluk kecil ini?” Udara tidak menjawab, ia hanya menangis dalam desau yang menyayat daun-daun zaitun dan menaburkan pasir ke mata langit.

Aku melesat, di bawahku, Gaza masih bernafas. Seorang ibu sedang menyalakan tungku, roti pipih menunggu untuk dipanggang. Suara anak-anak berkejaran di lorong sempit antara dinding rumah yang setengah roboh.

Seorang kakek duduk di kursi reyot, membaca Al-Qur’an dengan suara bergetar, sementara pengeras masjid yang retak, memanggil orang-orang untuk menegakkan subuh.

Aku melewati puing-puing besi yang pernah menjadi atap sebuah rumah. Besi itu retak, menggeram, lalu berkata: “Jangan singgah, wahai tamu yang dipaksa, karena tubuhmu hanyalah titah mesin haus darah.”

Aku bergetar, namun perjalanan tetap mendorongku. Debu berhamburan di wajah, mereka berseru lirih: “Bila engkau menembus daging, kami akan menutupinya. Namun siapa yang akan menutup doa anak-anak yang menusuk langit?”

Aku menggigil, tapi api yang dulu memuntahkanku masih membakar punggung. Aku tak kuasa berhenti.

Tiba pada punggung kecil itu. Sebuah kanvas rapuh yang mestinya hanya dikenali oleh pelukan. Aku mengetuk tulangnya, tulang itu memekik, “Kenapa engkau memilihku, sedang aku masih sibuk menegakkan tubuh mungil agar ia bisa berlari mengejar impiannya?”

Aku tidak menjawab, karena jantung segera menyambutku. Detaknya terguncang, ia berteriak penuh getir: “Engkau hanyalah tamu asing, mengapa pintuku yang kau dobrak? Aku sedang sibuk menjaga irama riang anak kecil yang masih suka tertawa di sela runtuhan?”

Lalu darah keluar menyambut, setetes demi setetes, seakan ingin berkata: “Kami bukan cat merah untuk membubuhkan tanda di tanah. Kami adalah sejarah kecil yang ingin tumbuh menjadi dewasa.”

Aku menjerit dalam diam, namun  tetap melaju. Sumsum berdesis, mengadu padaku, “Engkau hanya musafir yang tersesat. tapi mengapa kesesatanmu harus menyulitkan kami?”

Aku keluar dari dada mungil, meninggalkan lubang merah yang tak pernah bisa disulam doa.

Aku jatuh, menyusur reruntuhan, terkapar di bawah dinding yang separuh roboh. Namun sebelum kesadaranku di kubur waktu, aku sempat menolehnya.

Wajah anak itu tersenyum. Senyum yang seakan berbisik lirih, “Terima kasih, engkau telah mengantarkanku ke pangkuan surga.”

Tubuh mungilnya ambruk, aku menelan air mata. Air mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menelusuri luka-luka Gaza, hingga ke dalam nadi sejarah.



Madura, 16 Oktober 2025

 Monolog Untuk Gaza 

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Engkau adalah cermin yang pecah,

Menyimpan bayangan-bayangan 

duka yang tidak terperi.


Harapanmu adalah sungai 

yang mengalir deras di bawah reruntuhan yang berabad,

Mencari jalannya menuju lautan kebebasan yang tidak pernah pudar.


Dari nafas yang bergetar saat sujud,

Dari takafur yang merenungi luka,

Tercipta sebuah jembatan dari getaran jiwa ke jiwa.

Tidak perlu kata-kata, tidak perlu janji,


Cukuplah bisikan doa yang mengalun dalam keheningan malam,

Menjadi kekuatan bagi langkah-langkahmu yang tegar.


Luka-lukamu adalah lukisan di kanvas semesta,

Yang mengajar tentang arti ketabahan yang tidak terhingga.


Engkau adalah pohon zaitun yang akarnya menembus batu,

Tidak akan goyah oleh badai dan terik,

Kerana doa-doa kami adalah air yang membasahi akarmu.


Setiap harapanmu,

Adalah burung-burung yang menetas dari cangkang penderitaan,

Terbang tinggi menembus awan kelabu.


Dan setiap doaku,

Adalah angin yang menghembuskan sayap-sayapnya,

Membawa mereka terbang menuju hari esok yang cerah.


Maka, dalam nafas dan takafurku,

Terukir janji, bahwa engkau tidak akan pernah sendiri.

Harapanmu adalah harapan kami,

Dan doamu adalah doa yang menggetarkan semesta.

Hingga fajar kemenangan menyingsing,

Dan tanah yang berlumur darah akan kembali menjadi taman yang subur.



Bandar Seri Begawan

15.10.2025 : 05.15am

 Dalam Nafas Dan Tafakurku

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Di setiap harapanmu,

Mengalir doa dalam tafakurku,

Merangkul keteguhanmu,

Saat dunia memalingkan wajah.

Setiap desahan nafasmu,

Adalah getaran di nafas kalbuku,

Membawa kisah pilu,

Yang tak akan pernah pudar dalam ingatanku.

Di bawah reruntuhan yang hancur,

Harapan tetap menyala bagai lilin,

Tanda perjuanganmu tidak akan terkubur,

Keyakinanmu adalah sumber kekuatan.

Dalam setiap takbir yang kau panjatkan,

Di setiap tetes air mata yang engkau alirkan,


Aku tidak hanya berdoa,

Namun juga berjanji untuk terus bertafakur, 

Selagi nadi berdenyut.

Karena di setiap doa dan harapanmu,

Di nafas dan tafakurku,

Kamu tidak pernah sendiri.


Bandar Seri Begawan

14.10.2025 : 03.57am

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular