Takbir di Tengah Reruntuhan
Syahrul Ramadhan
Takbir menggema
bukan untuk perang,
tapi untuk meredam dentuman.
Di antara langit dan reruntuhan,
ada suara yang tak bisa dibungkam:
“Allahu Akbar”
bukan seruan kematian,
tapi doa agar nyawa diselamatkan.
Di mata anak-anak yang kehilangan atap,
takbir jadi pelindung,
bukan pemicu retak tanah.
Gencatan senjata,
bukan kelemahan,
tapi kekuatan jiwa
yang tahu kapan berhenti,
agar damai sempat tumbuh
di ladang penuh luka.
Kami tak menyerah,
kami memilih jeda,
agar bumi bisa menarik napas
tanpa aroma mesiu.
Dan ketika takbir naik ke langit,
ia membawa air mata,
bukan amarah
ia mengetuk langit,
agar cinta lebih nyaring
dari ledakan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan