Catatan Harian di Bulan Ramadan
Agustina Rahman
Namaku Rafi. Dua belas tahun. Kelas enam SD di sebuah desa yang tersembunyi di balik lipatan bukit dan kebun-kebun hijau. Desa kami kecil, namanya Lempangan, seperti titik koma dalam kalimat panjang bernama Indonesia—tidak terlalu mencolok, tetapi memberi jeda yang berarti.
Ramadan selalu datang seperti embun yang jatuh tanpa suara, tetapi meninggalkan jejak basah di hati. Hari-hariku di bulan suci ini terasa lebih panjang, sekaligus lebih cepat. Setiap subuh, ayam-ayam berkokok sebelum azan berkumandang. Udara dingin menggigit kulit, tetapi Ibu selalu berkata, “Dingin begini penuh berkah.” Aku memercayainya seperti memercayai matahari yang pasti terbit.
Sepulang sekolah, aku dan sahabat-sahabatku tak pernah langsung beristirahat. Tas kami letakkan begitu saja di rumah, lalu bergegas ke kebun mencari kayu bakar. Ranting-ranting kering kami kumpulkan satu per satu, seolah sedang memungut sisa-sisa hari yang jatuh di tanah. Tanganku sering tergores duri kecil. Kadang perih, tapi anehnya aku justru merasa bangga. Kayu-kayu itu bukan sekadar bahan bakar; ia seperti tanda bahwa aku bisa membantu Ibu menyalakan api untuk sahur dan berbuka.
Namun hari itu, langkahku sempat tertahan di depan pintu.
Langit menggantung kelabu. Awan-awan gelap bergerombol seperti membawa kabar yang tak baik. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya, membuat dedaunan di halaman berdesir gelisah.
“Rafi, jangan ke kebun dulu,” suara Ibu memanggil dari dapur. “Lihat langitnya. Nanti hujan.”
Aku menoleh. Ibu berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran.
“Tapi, Bu… kayu di dapur hampir habis,” jawabku pelan.
Ibu menggeleng. “Tidak apa-apa. Kita bisa pakai yang ada dulu. Kamu istirahat saja.”
Aku terdiam. Ada dua suara dalam diriku—yang satu ingin menurut, yang lain merasa bertanggung jawab. Aku tahu Ibu lelah. Aku ingin membantu, meski hanya dengan seikat kayu.
Di luar, suara langkah kaki Damar dan Seno terdengar memanggil.
“Raf! Cepat! Kita ke kebun!” teriak mereka.
Aku kembali menatap Ibu. Sejenak, kami saling diam.
“Jangan lama-lama,” kata Ibu akhirnya, suaranya melunak, meski masih menyimpan cemas.
Aku mengangguk cepat, lalu berlari keluar, mengejar sahabat-sahabatku. Namun, di sepanjang jalan menuju kebun, langkahku terasa berbeda. Bukan hanya karena terburu-buru, tetapi karena ada rasa bersalah yang ikut berjalan bersamaku.
Sesampainya di kebun, kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Namun angin semakin kencang, dan langit semakin gelap. Tanganku tetap bekerja, tetapi pikiranku sesekali kembali pada wajah Ibu di ambang pintu—penuh kekhawatiran yang tadi kuabaikan.
“Raf, jangan ambil yang belum kering!” teriak Damar dari balik semak.
Aku mengangguk. Kami tertawa di antara pohon-pohon yang berdiri seperti penjaga setia desa. Di kebun itu, suara kami memantul dan menyatu dengan desir angin.
Di tengah lelah dan peluh yang menetes, waktu sering kali membawa kami pada jeda yang menenangkan. Ketika azan terdengar sayup dari kejauhan, kami saling berpandangan, lalu berhenti dari kesibukan. Di antara pohon-pohon yang berdiri teduh, kami membentangkan apa saja yang bisa dijadikan alas—kadang jaket, kadang daun pisang yang lebar. Di situlah kami melaksanakan salat, sederhana, tanpa banyak bicara, namun terasa begitu dekat dan khusyuk.
Angin kebun berhembus pelan, seakan ikut menjadi saksi sujud-sujud kecil kami. Tanah yang kami pijak terasa lebih hangat, dan langit di atas kepala tampak lebih luas dari biasanya. Dalam sunyi yang hanya diisi oleh bisikan doa, aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan—seolah dunia berhenti sejenak, memberi ruang bagi kami untuk kembali mengingat tujuan hidup yang sesungguhnya.
Hari-hari berikutnya, kami bergantian membantu keluarga masing-masing mengangkat air dari sumur tua. Sumur itu seperti mulut bumi yang sabar. Airnya jernih dan dingin, seolah menyimpan kesejukan dari dasar yang paling dalam.
Aku menarik timba perlahan. Tali kasar menggesek telapak tanganku. Ember berisi air terangkat setapak demi setapak, seperti doa yang perlahan naik ke langit. Kadang aku terengah, tetapi ketika melihat Ibu tersenyum menerima air itu, lelahku luruh berganti dengan rasa bahagia.
Beberapa kali dalam sepekan, kami mencuci pakaian di sungai. Airnya mengalir bening, memantulkan langit biru yang luas. Kami memukul-mukul pakaian di atas batu besar, mengeluarkan suara plak-plak yang mengiringi Ramadan. Setelahnya, kami menyusuri tepi sungai mencari sayur pakis. Daun-daunnya menggulung seolah menyimpan rahasia kecil yang belum dibuka. Kami memetiknya hati-hati, seakan takut melukai alam yang telah memberi nikmat.
Namun yang paling kusukai adalah sore hari setelah salat Asar. Masjid kecil di desa kami menjadi tempat yang paling hidup saat itu. Cat temboknya mulai pudar, lantainya dingin, dan jendelanya terbuka lebar agar angin bebas keluar masuk. Setiap selesai salat Asar, kami tak langsung pulang. Kami duduk bersila, membuka mushaf Al-Qur’an yang sampulnya sudah mulai lusuh dimakan usia.
Suara kami membaca ayat-ayat suci terdengar belum sempurna. Ada yang terbata, ada yang salah panjang pendeknya. Tetapi di antara ketidaksempurnaan itu, ada kesungguhan yang tulus. Pak Imam membetulkan bacaan kami satu per satu. “Pelan-pelan, jangan terburu-buru. Al-Qur’an itu bukan untuk dikejar, tapi untuk dipeluk,” katanya lembut.
Aku selalu merinding saat membaca ayat demi ayat. Huruf-huruf hijaiyah itu seperti cahaya kecil yang masuk ke dadaku. Di sela lantunan suara kami, aku merasa Ramadan benar-benar hidup—bukan hanya di perut yang menahan lapar, tetapi di hati yang sedang belajar terang.
Menjelang magrib, aku dan teman-teman membantu mengantar takjil ke masjid. Di desa kami, kurma adalah barang langka. Jadi, takjil kami sederhana: kue cucur yang manis, onde-onde berbalut wijen, pisang goreng hangat, dan kolak singkong yang dimasak di rumah-rumah warga.
Aroma gula merah dan santan memenuhi teras masjid. Kami menyusunnya rapi di atas meja panjang. Sambil menunggu azan, aku memandangi langit yang berubah warna menjadi jingga. Senja di desaku seperti lukisan Tuhan yang dibuat perlahan.
Ketika azan magrib berkumandang, suaranya menggema melintasi kebun dan sawah. Kami berbuka dengan kue tradisional itu. Manisnya sederhana, tetapi terasa sampai ke relung jiwa. Air putih yang kami minum ibarat sungai kecil yang menghidupkan kembali tubuh yang seharian kering.
Setelah makan bersama, aku dan teman-teman tak langsung pulang. Kami mencuci piring dan gelas di belakang masjid. Tangan kami basah oleh air sabun, tapi hati kami terasa hangat.
“Kalau kita rajin begini, Ramadan kita tambah indah ya?” bisik Seno.
Aku tersenyum. “Ramadan jadi milik kita.”
Malam hari, kami kembali ke masjid untuk tarawih. Saf-saf terisi penuh oleh warga desa. Anak-anak kecil, orang tua, semuanya berdiri dalam barisan yang rapi. Suara imam melantunkan ayat-ayat panjang dengan irama khas pedesaan. Kadang kakiku pegal, tetapi aku menahan. Aku ingin Ramadan mencatat namaku sebagai anak yang bertahan.
Sepulang tarawih, aku membuka buku harianku. Lalu kutulis dengan sepenuh hati.
Hari ini aku mengaji setelah Asar. Masjid kecil itu terasa lebih teduh dari biasanya. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kayu membentuk garis-garis keemasan di lantai, seolah sedang menghamparkan sajadah cahaya untuk kami. Aku duduk bersila, mushaf terbuka di pangkuanku. Huruf-huruf hijaiyah itu tampak sederhana, tetapi setiap lekuknya seperti menyimpan samudra makna.
Ketika sampai pada Surah Ar-Rahman, suaraku mendadak pelan. Ayat demi ayat mengalir seperti sungai yang jernih, namun menghantam dadaku seperti ombak. “Fabiayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban…” Kalimat itu berulang-ulang, seperti pertanyaan lembut yang tak henti mengetuk pintu hatiku. Nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kau dustakan?
Aku terdiam sesaat. Angin sore menyusup dari celah jendela, menyentuh wajahku yang mulai basah oleh air mata. Aku tak tahu mengapa ingin menangis. Rasanya seperti ada yang berbicara langsung ke dalam diriku—bukan melalui suara keras, tetapi melalui getaran yang pelan dan dalam. Seolah Tuhan sedang mengingatkanku tentang udara yang kuhirup gratis setiap hari, tentang ibu yang selalu menungguku pulang, tentang sahabat-sahabat yang tertawa bersamaku di kebun.
Aku membaca lagi ayat itu, kali ini dengan suara yang lebih bergetar. Dadaku terasa sempit sekaligus lapang. Sempit karena malu pada diriku yang sering mengeluh, lapang karena merasa begitu diperhatikan. Di antara lantunan ayat dan bisikan angin sore, aku merasa kecil—kecil seperti butir pasir di tepi Sungai tetapi justru di situlah aku merasa dekat.
Dan malam ini, sebelum tidur, aku tahu satu hal: jika Surah Ar-Rahman kembali bertanya tentang nikmat Tuhan yang mana lagi yang kudustakan, mungkin aku akan menjawab dalam diam—tidak ada. Karena bahkan lelah yang kurasakan hari ini pun terasa seperti nikmat yang tak ternilai.
Hari-hari Ramadan terus bergulir. Setiap pagi, setiap sore, setiap malam seperti butiran tasbih yang dirangkai satu per satu. Aku takut butiran itu segera habis. Pada malam kedua puluh lima, setelah tarawih, aku duduk sendiri di serambi masjid. Angin malam menyentuh wajahku. Aku memandangi bintang-bintang yang bertaburan.
Aku sadar, mungkin suatu hari aku akan meninggalkan desa ini. Mungkin aku akan merantau, melihat kota yang lampunya lebih terang. Tapi aku tahu, tak ada cahaya yang bisa menggantikan kenangan Ramadan di sini.
Ramadan di desaku adalah tentang kayu bakar di pundak kecilku, tentang air sumur tua yang kutarik dengan sabar, tentang mushaf lusuh yang kubaca setiap Asar, tentang kue cucur manis yang kami santap bersama. Ia bukan hanya bulan suci. Ia adalah guru yang mengajariku arti kebersamaan dan pengabdian.
Dan di setiap halaman buku harianku, Ramadan telah menuliskan satu pelajaran penting: Bahwa menjadi dewasa bukan tentang seberapa jauh aku melangkah, tetapi tentang seberapa dalam aku menanamkan syukur di tanah tempat aku tumbuh.
BIONARASI
Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd. Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi tahun 2023, 2024, dan 2025 dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar.
Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Puisi Suara untuk Palestina “Secangkir Kopi Tuan Rodney” (2025), Kumpulan Cerita Anak Nusantara “Lentera dari Timur ke Barat” (2025), Kumpulan Cerita Pendek “Sahabat Sepanjang Cerita 16” (2025), Kumpulan Pantun “Pantun Serumpun Hati Berpaut 10” (2026), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.