Rabu, 22 Julai 2026

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

 

SEBUAH PESAN

Sahbuddin Dg. Palabbi


Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbannya adalah seorang profesor matematika yang ditemukan tewas di kantornya. Di tangannya ditemukan selembar kertas bertuliskan angka-angka yang tersusun secara acak. Diduga itu merupakan sebuah sandi rahasia.

Untuk memecahkan sandi tersebut, Rina meminta bantuan temannya yang seorang ahli kriptografi. Namanya, Rudi. Ia menghubungkan angka-angka yang tertera di sana dengan tanggal-tanggal penting dalam hidup profesor.

Setelah mencoba berbagai kemungkinan, Rudi akhirnya berhasil memecahkan sandi rahasia itu. Ia lalu memasukkan sandi itu ke suatu program yang dapat menerjemahkan angka-angka menjadi sebuah pesan tersembunyi. Pesan itu berbunyi:

"Saya tahu siapa yang membunuh saya. Namanya adalah ... "

Rudi terkejut membaca nama yang tertulis di akhir pesan. Ia tidak percaya bahwa orang itu adalah pembunuhnya. Ia segera menelepon Rina untuk memberitahukan hasil temuannya. Namun, sebelum ia bisa mengucapkan apa-apa, terdengar suara letusan di ujung telepon. Ia berteriak memanggil Rina, tetapi tidak ada jawaban.

Rudi menyadari bahwa ia telah terlibat dalam sebuah konspirasi besar yang melibatkan orang-orang berpengaruh. Ia harus melarikan diri sebelum pembunuh menemukannya. Tanpa menunda-nunda, Rudi langsung mengambil laptop, kertas sandi dan sebuah pistol dari dalam laci. Kemudian, ia bergegas meninggalkan rumahnya.

Di luar, ia melihat sebuah mobil hitam sedang menunggunya di depan rumah. Seseorang berpakaian setelan jas hitam keluar dari mobil itu.

Dorr….

Rudi berusaha menghindar, namun terlambat. Sebutir peluru berhasil menembus dadanya. Badannya limbung ke tanah.

Samar-samar, Rudi masih melihat si penembak membuka topengnya. Wajahnya tersenyum menyeringai melihat Rudi meregang nyawa. Ia adalah orang yang sama dengan nama yang tertulis di pesan sandi.

Orang itu adalah… kamu. Ya kamu, yang sedang membaca tulisan ini.

QURAN YANG TERLUPAKAN Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 QURAN YANG TERLUPAKAN

Sahbuddin Dg. Palabbi


Hari sudah malam. Jarum jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Pena, Buku dan Tablet masih terjaga. Pena sibuk menulis catatan, Buku membaca cerpen, sedangkan Tablet asyik bermain game. Sayup-sayup terdengar suara tangisan. 

“Sssst, kalian dengar sesuatu nggak?” tanya Buku kepada Pena dan Tablet. Keduanya saling bertatapan sambil menggeleng.

“Aku mendengar suara tangisan,” kata Buku, “Sepertinya dari dalam kardus itu.” 

Ketiganya lalu berjalan mendekati sebuah kardus yang diletakkan di atas lantai kamar. Pena membuka kardus itu. 

“Quran, kamu kenapa?” tanya Pena, Buku dan Tablet bersamaan.

Wajah Quran terlihat muram. Air mata membasahi sampulnya yang biru. 

“Adi sudah tidak sayang aku lagi… Ia tak butuh aku lagi” sahut Quran. Kali ini tangisannya semakin keras. Ia menangis tersedu-sedu.

“Sssst… jangan keras-keras nangisnya, nanti Adi terbangun.” Pena, Buku dan Tablet berusaha menenangkan Quran.

“Dulu, Adi sangat sayang kepadaku. Ia rajin membacaku. Empat tahun aku bersamanya sejak ia masih duduk di kelas 1 SD,” ungkap Quran.

“Namun, sejak ada Tablet tiga bulan lalu, Adi sudah tidak peduli lagi denganku. Ia sibuk bermain bersama Tablet dan membawanya ke mana-mana,” lanjut Quran tertunduk lesu.

Tablet mendekat. “Maafkan aku ya Quran. Aku sudah membuat Adi melupakanmu,” ucapnya tulus.

“Nggak apa-apa kok. Ini bukan salahmu. Aku sedih karena akan berpisah dengan kalian, sahabat-sahabatku yang baik,” ucap Quran. 

Besok, Quran dan beberapa barang milik Adi akan disumbangkan ke panti asuhan. Tadi siang, Adi dibantu Ayah mengemasi semuanya. 

 “Ya udah, kamu istirahat ya Quran. Mudah-mudahan nanti kamu bertemu anak panti yang rajin membacamu dan selalu menjagamu,” bujuk Buku. 

“Betul. Yang aku dengar, anak panti juga suka menghafal Al-Quran. Tentu mereka akan senang bisa memilikimu,” timpal Pena.

Quran tersenyum mendengarnya, “Terima kasih ya, kalian sudah menghiburku. Kalian memang sahabat-sahabatku yang baik.”

“Sama-sama Quran. Kamu juga sahabat kami yang terbaik,” sahut Tablet. Keempat sahabat itu berpelukan. Quran lalu merebahkan badannya di atas tumpukan buku-buku usang yang akan dibawa ke panti. 

Pena, Buku dan Tablet kembali ke meja belajar. Sebelum tidur, mereka merundingkan sesuatu. 

***

Pagi-pagi sekali terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamar. Quran yang sedang menghafal ayat-ayat, sontak dibuat kaget. Ia mulai cemas. 

Sementara itu, ketiga sahabatnya belum bangun karena semalam mereka terlambat tidur. 

Benar, apa yang dikhawatirkan oleh Quran. Ayah mulai mengangkat kardus berisi barang-barang Adi yang akan disumbangkan, lalu membawanya ke mobil. Suara-suara berisik dari langkah kaki Ayah membuat Buku terbangun.

“Ya ampun, aku ketiduran. Pena ayo bangun. Tablet banguuun… kita sudah terlambat.” 

Buku bergegas membangunkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas. Kepanikan tampak di wajahnya. Buku terus mengguncang-guncangkan tubuh Pena dan Tablet. Usahanya berhasil, Tablet pun terjaga.

“Astaga, ini sudah pukul berapa?” tanya Tablet sambil menyetel alarm.

“Setengah tujuh kurang semenit lagi. Ayo cepat bunyikan alarmnya!” seru Buku.

Mendengar ribut-ribut kedua sahabatnya itu, Pena pun terbangun. Saat matanya menatap ke lantai, ia menyadari sesuatu.

“Kawan-kawan, kita terlambat. Quran sudah dibawa,” teriak Pena sambil berlari ke luar kamar. 

Tablet segera membunyikan alarmnya. Terdengar alunan surat Al-Fatihah memenuhi seisi kamar. Ia sengaja menyetel suaranya sekencang mungkin. 

Adi yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun. Ia kaget mendengar bunyi alarm dari Tablet-nya itu.  Apalagi saat ia menyapukan pandangannya ke dinding kamar. Ia semakin dibuat terkejut karena seluruh tembok kamarnya kini dipenuhi kertas warna-warni bertuliskan, “Sudahkah saya membaca Al-Quran hari ini?” 

Tiba-tiba Adi teringat dengan Quran. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya. Namun, ia kembali terhenyak ketika mengetahui kardus berisi Quran sudah tidak ada di sana. 

Adi berlari ke luar kamar. Sesampainya di garasi, ia melihat Ayahnya sedang menyalakan mesin mobil. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke panti asuhan. 

“Ayah, tunggu…!” teriak Adi. 

Ibu yang akan naik ke mobil keheranan melihat Adi seperti orang kesurupan. “Kenapa Adi?” tanyanya.

Adi tidak menjawab. Ia bergegas membuka pintu belakang mobil lalu memeriksa satu per satu isi kardus yang sudah ditumpuk rapi.

Setelah membuka kardus-kardus itu, Adi menemukan apa yang dicarinya.

“Nah ketemu,” ucapnya dengan wajah berseri. Ia lalu mengambil barang itu dan membawa kembali ke dalam kamarnya. 

Melihat apa yang diambil Adi, membuat Ayah dan Ibu tersenyum semringah. Begitu pula Pena, Buku dan Tablet. Usaha mereka berhasil. Semuanya senang karena Quran tidak jadi disumbangkan ke panti. 

Sejak saat itu, Adi semakin rajin membaca Quran, bahkan menghafalkannya. Selain Buku dan Pena, ia juga selalu membawa Quran dan Tablet di dalam tasnya ketika ke sekolah atau bepergian.

*****


Isnin, 20 Julai 2026

TIGA KETUKAN

 

Tiga Ketukan

-Kims Diwa-

Hujan turun sejak senja, halus tetapi tidak pernah benar-benar selesai. Atap zink rumah pusaka itu menerima setiap titisannya seperti hujung-hujung jari berlumpur yang sabar mengetuk sesuatu yang enggan dibuka. Dua puluh tahun meninggalkan kampung menjadikan rumah itu kelihatan lebih kecil daripada ingatan Nizam. Namun apabila malam mula melabuhkan tirainya, lorong sempit yang menuju ke bilik belakang terasa semakin memanjang secara perlahan, seolah-olah tiada penghujung.

Rumah itu sudah lama dibiarkan sepi. Selepas datuk meninggal dunia, ayah menjual kebun kelapa sawit di hujung kampung, ibu memilih untuk terus menetap di bandar, dan tiada seorang pun daripada ahli keluarga yang sanggup menjejakkan kaki ke sini lagi. Hanya sepohon rambutan tua di halaman yang masih tegak berdiri, dahan-dahannya yang patah bergesel pada dinding papan setiap kali angin bertiup kencang, menghasilkan bunyi seperti cakaran yang berulang. Nizam pulang bukan kerana rindu yang membuak-buak. Dia pulang kerana sekeping geran tanah yang kini bertukar nama kepadanya.

Petang tadi, ketika menyelongkar almari baju milik datuk yang dipenuhi ubat gegat, dia menemukan sebuah jam poket berwarna perak. Logamnya sudah kusam, diselaputi tompok hitam. Jarum panjang dan pendeknya melekat statik pada angka 2.43 pagi. Nizam memutar tombol kecil di bahagian atas beberapa kali, namun spring di dalamnya terasa mati. Anehnya, sebaik sahaja jam itu diletakkan di atas tapak tangannya, besi yang sepatutnya sejuk membeku itu terasa suam-suam kuku, memancarkan sedikit kehangatan yang tidak masuk akal.

"Masih ada rupanya benda tu," satu suara garau memecah sunyi dari arah halaman bawah.

Nizam tersentak, hampir menjatuhkan jam poket itu. Pak Lamis berdiri di bawah rembesan air hujan sambil memegang payung lusuh. Pandangannya tidak lepas daripada menatap jam di tangan Nizam. Matanya mengecil, seakan-akan melihat seulas memori yang buruk.

"Datuk kau tak pernah berpisah dengan jam itu. Malah masa... ya, masa malam itu pun," kata Pak Lamis, suaranya tenggelam timbul dicelah deru angin malam.

Nizam membetulkan letak pelita di bendul pintu. "Rosak sudah, Pak Lamis. Saya putar banyak kali pun tidak mahu jalan."

Orang tua itu menggeleng perlahan, kakinya berundur setapak ke belakang, menjauhi kawasan tangga.

"Yang rosak bukan jam itu, Nizam. Ingatan yang rosak." Belum sempat Nizam membalas atau bertanya lanjut, Pak Lamis sudah berpaling. Langkahnya laju membelah kegelapan malam. Sebelum bayangnya hilang sepenuhnya di sebalik pokok rambutan, satu pesanan terakhir dilemparkan, "Kalau malam nanti ada tiga ketukan... jangan sekali-kali kau buka pintu. Biarkan saja."

Bekalan elektrik di kampung itu terputus sepenuhnya sebaik sahaja jam melepasi angka sebelas malam. Lorong rumah pusaka itu menjadi gelap-gelita. Nizam menyalakan pelita minyak tanah lama yang ditemuinya di dapur. Cahaya kekuningan yang meliuk-liuk menari di dinding papan, menyuluh sebiji bingkai gambar keluarga yang sudah diselaputi debu tebal. Dalam gambar itu, datuk tersenyum tawar sambil merangkul bahu Nizam yang masih kecil. Wajah mereka berdua kelihatan pucat di bawah biasan cahaya minyak tanah.

Apabila Nizam mengangkat bingkai tersebut untuk mengelap habuknya, sehelai kertas kecil yang sudah kekuningan terjatuh dari bahagian belakang bingkai. Dengan tulisan tangan yang cakar ayam tetapi dikenali sebagai tulisan datuk, terdapat satu baris ayat: Jangan buka pintu selepas tiga ketukan. Sesiapa pun yang memanggil. Nizam mengerutkan dahi. Di luar, hujan semakin menggila. Dinding rumah bergegar perlahan menerima tamparan angin. Jam dinding di ruang tamu terus berdetik.

Tik. 

Tik. 

Tik.

Tiba-tiba, bunyi berdetik itu mati. Seluruh rumah menjadi sunyi seolah-olah dilitupi kain tebal. Nizam melihat jam tangannya. Mati. Dia melihat jam dinding. Jarumnya berhenti. Dia mencapai jam poket datuk di atas meja. Ketiga-tiga alat penunjuk waktu itu kini memaparkan kedudukan yang sama: 2.43 pagi.

        Tok.

        Tok.

        Tok.

Tiga ketukan perlahan kedengaran dari arah pintu hadapan. Bunyinya tidak kuat, bukan seperti hentakan orang yang kecemasan meminta bantuan. Ia adalah ketukan yang beritma, tenang, dan penuh keyakinan bahawa pintu itu lambat-laun akan terbuka dari dalam. Nizam membeku di tengah ruang tamu. Bulu romanya meremang tegak. Langkah kakinya seperti digam pada lantai papan. Matanya tertancap pada tombol pintu hadapan yang mula bergerak perlahan ke bawah, kemudian naik semula. Seseorang di luar sedang mencuba tombol tersebut tanpa bersuara. Pesanan Pak Lamis dan nota datuk bergema serentak dalam kepalanya. Dia menarik nafas dalam-dalam, menahan diri daripada melangkah setapak lagi ke hadapan. Setelah beberapa minit yang menyiksa jiwa, bunyi geseran tapak kaki di atas lepa simen beranda luar kedengaran menjauh, hilang bersama deru hujan.

Keesokan paginya, cahaya matahari yang menembusi celah-celah bumbung bocor mengejutkan Nizam. Dia segera meluru ke pintu hadapan dan menyelak selak kayu. Tanah di halaman rumah masih becak. Tiada sebarang kesan tapak kaki kasut atau selipar di atas tanah lumpur itu. Namun, matanya terbeliak apabila memandang anak tangga simen paling bawah. Terdapat tiga tompokan lumpur hitam yang jelas berbentuk tapak tangan kecil seorang kanak-kanak. Jari-jarinya menghala tepat ke arah pintu rumah, seolah-olah ada sesuatu yang merangkak naik menggunakan kedua-dua belah tangannya.

Nizam menelan air liur yang terasa kesat. Rasa seram mula diganti dengan rasa gelisah yang amat sangat. Ketika dia menutup semula pintu, barulah dia menyedari sesuatu yang terlepas daripada pandangannya malam tadi. Di bahagian dalam daun pintu kayu itu, terdapat garis-garis halus yang dalam. Kesan garutan kuku. Bersilang-silang dan bertindih antara satu sama lain, seakan-akan seseorang telah menggaru pintu itu dari arah dalam rumah dengan penuh histeria.

Langkah kakinya diatur longlai menuju ke bilik datuk yang terletak di hujung lorong. Pintu bilik yang selama ini disangkanya berkunci rapat rupanya hanya tersandar. Daun pintu berkeriut panjang saat ditolak. Bau bilik itu aneh—bukan bau bilik kosong yang lama ditinggalkan, tetapi bau air sungai yang hanyut, bau daun-daun reput, dan lumpur pekat. Di atas meja sisi katil, selain daripada lampu minyak yang sudah kering sumbunya, terdapat sebuah buku nota kecil yang kulitnya sudah terkoyak. Nizam membuka halaman pertama dengan tangan yang menggigil.

Tulisan tangan datuk di dalam buku itu kelihatan tergesa-gesa: "Kalau suatu hari nanti Nizam pulang dan dia masih tidak ingat, jangan sesekali paksa dia mengingat. Biarkan memori itu mati bersamaku."

Nizam menyelak halaman seterusnya. Jantungnya berdegup kencang seperti mahu pecah. "Manusia boleh hidup dengan melupakan banyak perkara menakutkan. Tetapi ada satu jenis ingatan yang tidak akan pernah berhenti mencari tuannya semula. Rasa bersalah."

Pada halaman terakhir, hanya ada sebaris ayat pendek yang ditulis dengan dakwat merah yang sudah pudar: "Aku sudah memaafkan kamu, Nizam."

"Maafkan... apa?" Nizam berbisik sendiri. Kepalanya tiba-tiba berdenyut dengan impak yang sangat kuat, seolah-olah ada sesuatu yang pecah di dalam otaknya. Imej demi imej mula menyambar fikirannya seperti kilat.

Malam banjir besar dua puluh tahun lalu. Air sungai melimpah masuk ke dalam rumah dengan begitu deras. Suasana gelap gulita. Datuk Nizam menolak pintu dari luar, menjerit meminta Nizam yang berada di dalam untuk membuka selak pintu. Tetapi Nizam yang ketika itu baru berusia tujuh tahun, menangis ketakutan mendengar deruan air yang mengganas. Dalam keadaan panik dan terkejut, dia bukan sahaja tidak membuka pintu, malah dia menolak almari kayu yang berat ke hadapan pintu, menguncinya dari dalam agar air atau apa sahaja yang menakutkan di luar tidak dapat masuk.

Datuknya terperangkap di luar dalam arus deras demi memastikan pintu itu tidak pecah dihentam kayu hanyut. Apabila orang kampung menemui mayat datuk Nizam pada keesokan paginya di bawah jambatan, tangan kanannya masih menggenggam jam poket perak yang berhenti tepat pada pukul 2.43 pagi. Keluarga Nizam sengaja mencipta cerita bahawa datuk Nizam dihanyutkan semasa menyelamatkan barang di kebun untuk melindungi emosi seorang kanak-kanak daripada menjadi gila akibat rasa bersalah.

Nizam terduduk di atas lantai bilik datuknya. Air matanya mengalir lebat, membasahi helaian buku nota lama itu. Kenangan yang dipadam oleh mindanya sendiri selama dua puluh tahun kini bangkit sepenuhnya, mencengkam setiap sudut jiwanya. Ketakutan yang dialaminya sejak malam semalam bukan datang daripada hantu atau makhluk halus, tetapi daripada penyesalan yang dikubur hidup-hidup di dalam jiwanya sendiri.

Dia bangun perlahan-lahan, berjalan menuju ke ruang tamu. Dia tidak lagi merasa takut. Dengan tangan yang tenang, Nizam membuka pintu hadapan seluas-luasnya, membiarkan angin pagi yang segar masuk membersihkan bau lumpur yang meloyakan di dalam rumah. Dia memandang jam poket datuknya di atas meja. Sekali lagi, dia memutar tombolnya.

Tik.

Jarum jam itu bergerak sekali, lalu berhenti semula. Tetapi kali ini dada Nizam terasa lapang. Beban berat yang tidak diketahuinya selama ini akhirnya terangkat. Dia melipat buku nota datuk, memasukkannya ke dalam poket, dan melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Penebusan itu telah selesai.

Rumah pusaka itu kembali diselimuti kesunyian pagi. Cahaya matahari mula memancar terik, mengeringkan tompokan lumpur tapak tangan di anak tangga. Di dalam rumah, bingkai gambar keluarga masih terletak di atas meja. Namun, tulisan pesanan datuk di belakang bingkai gambar yang dilihat oleh Nizam malam tadi sudah tiada. Permukaan kertas di belakang bingkai itu kosong dan licin, seolah-olah tulisan itu tidak pernah wujud semenjak dua puluh tahun yang lalu. Tiba-tiba, dari arah bilik belakang yang pintu dasarnya masih tertutup rapat dan tidak pernah dijejaki oleh sesiapa pun sejak kematian datuk...

        Tok.

Satu jeda yang panjang.

            Tok.

Dan ketukan ketiga yang paling perlahan.

                Tok.

Kali ini, ketukan itu tidak lagi meminta untuk masuk dari luar. Ia datang dari dalam ruang yang paling gelap, seolah-olah mengingatkan bahawa ada pintu yang telah dibuka, tetapi ada sesuatu yang lain pula yang telah terlepas keluar.

 

Ahad, 19 Julai 2026

ROTI GOSONG : Sahbuddin Dg. Palabbi

 

ROTI GOSONG

Sahbuddin Dg. Palabbi

 


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Waktunya sarapan sebelum berangkat kerja. Aku menuju ke dapur. Kubuka tutup saji, belum ada satupun hidangan di sana. Kulihat Bibi tengah menyapu lantai ruang tamu.

“Aargh… mana pagi ini ada meeting lagi di kantor, aku harus bergegas nih,” ketusku dalam hati.

“Bibi tolong buatkan aku roti bakar dong, yang cepat ya.”

“Baik Neng…”

Setelah menyiapkan panggangan dan rotinya, Bibi kembali melanjutkan pekerjaannya membereskan rumah. Aku kembali ke kamar menyiapkan perlengkapan ke kantor.

Sepuluh menit berlalu. Bibi belum kunjung tiba mengantarkan sarapan untukku. Aku kembali keluar kamar menuju dapur hendak memastikan.

Saat keluar kamar, tercium aroma gosong menguar memenuhi seluruh ruangan. Naluriku langsung menuju panggangan roti.

“Bibi….”

“Kenapa Neng?”

“Nih lihat…”

“Ya ampun maaf ya Neng.”

Dengan perasaan dongkol, kuambil roti yang hangus itu. Mendengar ribut-ribut di dapur, ibuku datang menghampiri.

“Ada apa ribut-ribut?”

Aku tak menyahut. Wajahku merengut sambil mengunyah roti yang terasa pahit di lidahku. Aku heran. Bukannya memarahi Bibi, ibu malah tersenyum sambil mengancungkan jempol ke arah Bibi.

Bibi yang tadinya ketakutan, ikut tersenyum sambil menutup mulutnya.

Sebelum berbalik meninggalkanku, ibu menepuk pelan bahuku.

"Lain kali bangun lebih pagi, ya."

Ibu dan Bibi lalu melengos pergi, meninggalkanku sendiri bersama roti yang gosong.

*****

 

SAWAH TERAKHIR: Karya Sahbuddin Dg. Palabbi

 

SAWAH TERAKHIR

Sahbuddin Dg. Palabbi

Sawah itu adalah urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari tangan-tangan yang menghitam menanam harapan di tanah basah. Aku mewarisinya seperti mewarisi napas. Tak pernah kupikir untuk menjualnya. Namun, keadaanlah yang memaksaku memutus urat nadi itu dengan tanganku sendiri. Bukan untuk makan. Bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk membeli sebuah pintu yang katanya akan mengubah hidup anakku: pintu hijau.

***

Beberapa bulan lalu, Fadli, anakku, pulang dari kota dengan mata sembab. Tes masuk tentara yang ia impikan sejak kecil tak membawanya ke barak, melainkan ke sebuah warung kopi, tempat ia duduk diam berjam-jam menelan kekecewaan.

“Nilai fisikku bagus, Bapak. Tapi… mereka bilang ada yang kurang,” ucapnya pelan.

Aku tahu maksudnya. Bukan kurang latihan, bukan kurang disiplin, melainkan kurang uang pelicin.

Fadli sudah lama bercita-cita menjadi prajurit. “Bapak,” katanya, “kalau aku jadi tentara, aku bisa jaga negeri dan jaga Bapak.”

Aah anakku… negeri ini lebih pandai menelan penjaganya ketimbang dijaga olehnya. Namun aku diam. Kadang seorang ayah harus memelihara mimpi anaknya, walau tahu mimpi itu akan dijadikan barang dagangan di pasar gelap.

Orang bilang, sekali pintu itu terbuka, nama keluargamu akan diucap dengan hormat, anakmu akan disapa dengan tegap, dan hidupmu akan diisi oleh kebanggaan. Namun di balik pintu itu, ada harga yang tak tercantum di formulir pendaftaran. Harga yang tak bisa dibayar dengan nilai ujian atau keringat latihan, hanya dengan lembaran uang yang beraroma tanah basah dari sawah yang akan kugadaikan.

***

Siang itu, aku sedang duduk di warung kopi dekat pasar. Sebuah kedai sederhana. Meja-meja tua dengan cat mengelupas, dinding papan pudar, dan rak botol sirup yang lebih banyak berdebu daripada terpakai.

Angin membawa bau bawang merah kering, bercampur aroma kopi tubruk yang baru dituang. Udin, si pemilik kedai yang juga teman SMP, duduk di bangku kayu dekat pintu, mengipasi bara tungku kecil yang mulai meredup. Di sudut lain, istrinya menjemur kerupuk di atas tampah bambu, sambil sesekali menepuk bahunya yang pegal.

“Eh, Run, sudah lama?” sapanya. Suaranya hangat seperti dulu.

“Baru saja. Kebetulan lewat sini, Din,” jawabku, lalu memesan segelas kopi.

“Aku dengar Fadli sudah ikut tes masuk tentara?” tanyanya, menatapku serius.

Aku mengangguk pelan. “Iya… tapi belum lulus. Katanya, ada yang kurang.”

Udin mengerutkan dahi. “Yang kurang? Jangan bilang… jalan pintas?”

Aku menelan ludah, menatap kopi yang mengepul. “Kurang… uang pelicin.”

Udin menghela napas panjang, wajahnya tetap bersih dari amarah. “Percaya saja sama kemampuan anakmu, Run. Kalau rezekinya jadi tentara, ya jadi. Kalau tidak, mungkin Tuhan punya jalan lain yang lebih baik.”

Ia menuang air panas ke gelas pesanan pelanggan lain, lalu menoleh padaku sambil tersenyum tipis. “Kakak sepupuku juga tentara, pangkatnya lumayan. Masuk lewat jalur resmi, murni tes. Waktu itu keluarganya susah. Jangankan sogok, makan saja kadang utang. Tapi dia lulus juga. Sekarang hidupnya sudah makmur, rumah besar, mobil ada, anaknya kuliah di Akmil.”

Aku hanya tersenyum. Aku tahu Udin bicara dari hati yang bersih. Wajahnya juga bersih dari kerut ambisi. Terlalu bersih untuk mengerti lumpur yang menempel di pintu hijau itu.

“Anakmu gimana, Din? Masih di pesantren?” tanyaku sambil meniup kopi panas.

“Masih,” jawabnya sambil mengangguk, “alhamdulillah, dapat beasiswa penuh. Padahal, kemarin ada yang nawarin jalur cepat, sekolah kedinasan, tinggal bayar orang. Pamannya mau bantu, tapi anakku nggak mau. Katanya, kalau rezeki halal pasti ada jalannya.”

Ia tertawa kecil. Entah bangga, entah pasrah. Udin bilang, dagang begini cukup untuk hidup, tetapi tak pernah cukup untuk membeli mimpi yang terlalu mahal.

Aku menghirup kopi pelan-pelan, sambil membatin, mimpi yang terlalu mahal kadang hanya menunggu satu keputusan gila untuk dibeli.

***

Dua hari kemudian. Di beranda rumahku, datang seorang lelaki berwajah teduh bernama Marlan. Ia membawa kabar, katanya ada seseorang di kota yang bisa “membantu” Fadli menjadi tentara.

Matanya menyelidik, suaranya lembut tetapi berat. “Orang ini… jalannya cepat, tapi tidak gratis.”

Aku menatap sawahku. Padi-padi itu mulai menguning. Aku tahu, jika aku menjualnya sekarang, harganya akan jatuh. Tetapi, waktu tak bisa menunggu lama.

“Aku dengar,” kata Marlan lagi, “orang ini pernah menolong banyak anak di desa lain. Kalau mau, aku bisa mengantar besok.”

***

Keesokan harinya, Marlan menjemputku dengan motornya. Angin siang mengibaskan ujung sarung yang kulilitkan di pinggang, sementara jalanan kota semakin ramai menjelang pasar sore.

Rumah itu terletak di ujung jalan kota, agak jauh dari deretan rumah dinas tentara yang sederhana. Begitu sampai, aku langsung sadar, bangunannya terlalu bagus untuk ukuran seorang sersan dua. Dindingnya dicat krem muda, bersih tanpa retakan. Terasnya berubin marmer, mengilap seperti baru dipoles. Pagar besi hitam berkilau, halaman lebar dengan rumput yang dipangkas rapi. Dua pohon palem berdiri di kanan-kiri jalan masuk, seperti penjaga kehormatan.

Seorang lelaki berambut separuh memutih bersandar di kursi rotan, menikmati sore di teras rumah itu. Namanya Pak Surya, begitu kata Marlan, mengenakan kaos putih polos dan celana kain longgar. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Tatapan matanya seperti cermin yang menembus sampai tulangku.

“Kau tahu sendiri, pintu hijau itu berat. Tapi ada caranya agar engselnya lebih mudah dibuka,” ucapnya setelah kusampaikan maksud kedatanganku.

“Kalau mau cepat, harus ada pelicin,” lanjutnya. Jumlahnya… setara seluruh sawahku.

Aku mengangguk pelan, pura-pura tenang meski dadaku seperti diremas. “Beri aku waktu. Uang itu akan kuantarkan sebelum hari tes,” kataku.

Surya menatapku tajam. “Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Sekali saja bocor, urusanmu akan jadi panjang,” ujarnya dingin.

Aku mengangguk lagi, menelan ludah.

Marlan, yang sedari tadi bersandar di kursi, ikut menimpali, “Tenang Pak Sur. Orang ini bisa menjaga rahasia.”

Dalam perjalanan pulang, pikiranku kusut. Malamnya, aku membicarakan hal itu dengan istriku. Kami sepakat. Entah ini keputusan benar atau salah, Fadli harus ikut jalur itu.

Keesokan harinya, aku mulai mencari pembeli.

Berhari-hari aku keliling, menawarkan sawahku ke sana kemari. Sampai akhirnya seorang pedagang beras dari kecamatan sebelah, mau membelinya. Harganya pas. Tidak lebih, tidak kurang, sesuai dengan jumlah yang disebut Surya. Aku menandatangani surat jual beli dengan tangan gemetar, rasanya seperti mengiris bagian dari tubuhku sendiri.

Sesuai kesepakatan, aku kembali menemui Pak Surya.

Tanganku bergetar saat menyerahkan amplop itu, begitu tebal hingga lipatannya nyaris tak tertutup rapat. Ia menerima tanpa banyak bicara, hanya matanya melirik pada secangkir kopi di sebelahnya. Seolah minuman itu menyimpan arti yang hanya ia pahami.

Beberapa minggu kemudian, gelombang penerimaan tentara dibuka lagi. Fadli ikut tes. Dan benar saja, ia lulus keseluruhan rangkaian tes calon bintara tersebut. Padahal sebelumnya, ia gagal ketika mengikuti tes calon tamtama, yang levelnya lebih rendah. Setelah dinyatakan lulus, Fadli ditempatkan di kesatuan kavaleri, markasnya berada di ibu kota provinsi.

Di hari keberangkatannya, warga desa mengucapkan selamat. Udin pun datang, menyalami Fadli dengan senyum tulus, lalu beralih padaku. Genggamannya singkat, namun tetap hangat. Matanya hanya menatapku sekilas, kemudian berpindah ke kerumunan, seakan tak ingin membicarakan apa yang semua orang sudah tahu. Aku tersenyum di tengah keramaian, meski hatiku kosong seperti sawah yang sudah rata tanahnya.

***

Beberapa hari setelah itu, aku lewat di depan rumah Udin.
Ada yang berbeda. Cat temboknya baru, jendela kayunya berganti kaca bening, dan di terasnya berdiri kedai kopi yang ukurannya lebih besar dan lebih modern dari sebelumnya. Aroma kopi sangrai menyebar sampai ke ujung jalan.

“Wah, rezeki besar ini, Din?” tanyaku, setengah bercanda.

Udin tersenyum lebar. “Ah, ini sedikit bantuan dari kakak sepupuku yang tentara itu. Katanya, dia baru dapat rezeki dari urusan kerjaan.”

Ia lalu menunjuk toples-toples kopi di rak. “Kakak sepupuku memang suka kopi, jadi ia menyokong aku membuka kedai yang lebih besar seperti café-café di kota,” lanjutnya sambil tertawa renyah.

Aku terdiam. Dalam kepalaku, secangkir kopi hitam di meja rotan itu muncul lagi. Lalu wajah Pak Surya… senyum miringnya… tangannya yang dulu menerima amplop dari tanganku.

“Din,” kataku perlahan, mencoba terdengar santai, “siapa nama kakak sepupumu di kota itu?”

Udin mengangkat alis, lalu tersenyum. “Surya. Kenapa, Run?”

Aku tersentak. Di dadaku, terasa ada sesuatu yang pecah. Aku memandang kedai kopi itu lama-lama. Kursi kayunya, meja-mejanya, mesin kopi, dan bau kopinya. Semuanya beraroma lumpur sawahku yang sudah tak lagi ada. (*)

 

 

LANGIT TAK PUNYA SISI: Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 

Langit Tak Punya Sisi

Sahbuddin Dg. Palabbi

Di Gaza, langit selalu menghitam sebelum malam.
Bukan karena senja,
tetapi karena asap yang menjulur dari rumah yang roboh.
Yusuf, anak laki-laki dua belas tahun,
duduk di reruntuhan sekolahnya yang kini jadi puing sejarah.
Ia memegang selembar surat,
dari Eli, anak Yahudi yang tinggal di Yerusalem.
Mereka tak pernah bertemu,
tapi mereka bersahabat.

Semua bermula dari jembatan kata,
yang dibangun diam-diam oleh mereka yang percaya:
bahwa anak-anak pun berhak bersuara sebelum peluru bicara.
Eli menulis tentang langit. Tentang burung. Tentang hujan yang turun pelan.
Yusuf membalas dengan cerita tentang bola,
tentang ibunya yang membuat roti bundar setiap pagi,
tentang ayahnya yang menghilang setelah perang terakhir.

“Aku ingin melihat langit yang sama denganmu,” tulis Eli.
“Karena aku percaya, langit tak berpihak.”
Yusuf tersenyum membaca itu,
belum pernah ia mendengar seorang Yahudi
menulis kalimat seindah itu.
Ia membacanya berkali-kali,
seolah di tiap kata tersimpan semacam penghiburan
yang tak bisa diberi oleh dunia yang sedang hancur.

Namun hari itu datang.
Sirine meraung,
dan langit jatuh berkeping-keping.
Rumah Yusuf hancur.
Ibunya ditemukan di bawah puing,
tersenyum dengan mata tertutup.
Adiknya tak ditemukan sama sekali.
Yusuf masih hidup,
tapi sebagian dari dirinya terkubur bersama ibu dan adiknya.
Ia menulis satu kalimat
pada potongan kardus dari toko yang terbakar:
Eli, masihkah kamu melihat langit yang sama denganku?

Suara ledakan kini menggantikan suara doa.
Di Gaza, bahkan sunyi pun retak.

Di Yerusalem, Eli tak lagi menulis.
Ayahnya melarang:
“Kita sedang perang,” katanya.
“Tidak ada sahabat di pihak musuh.”
Namun Eli masih menyimpan surat Yusuf,
masih membacanya di malam hari,
ketika ibunya tertidur dan dunia diam.
Ia menangis dalam senyap.
Di luar jendela, bintang tetap bersinar.
Tapi ia merasa, salah satu dari mereka telah padam.
Kadang, ia bermimpi menjawab surat itu.
Tapi pagi datang, dan kenyataan membungkamnya lagi.

Tahun-tahun berganti.
Gaza tetap terkepung.
Yerusalem tetap dijaga senjata.
Namun surat-surat itu,
masih disimpan oleh Yusuf di dalam kaleng susu tua,
dan oleh Eli di bawah tempat tidurnya.

“Jika aku besar nanti,” tulis Yusuf dalam surat terakhir,
“aku ingin menjadi jurnalis.
Agar dunia tahu bahwa aku pernah punya sahabat
yang lahir di sisi yang salah,
tapi punya hati yang paling benar.”
Kalimat itu tak sampai,
tapi maknanya terus mengendap di antara peluru dan pagar besi.

Eli tak pernah membalas surat itu.
Namun saat dewasa, ia datang ke perbatasan,
membawa satu kertas bertuliskan:
“Langit tak punya sisi.”
Ia tidak tahu apakah Yusuf masih hidup,
tapi ia percaya:
satu sahabat yang pernah berkata jujur
cukup untuk mengalahkan seribu kebencian.

Ia berdiri lama di sana,
memandang langit yang sama
yang dulu mereka percayai sebagai tempat pertemuan.

Beberapa tahun kemudian,
Yusuf tumbuh menjadi wartawan.
Ia mewawancarai reruntuhan,
mencatat nama-nama yang tak masuk berita.
Sementara Eli,
menjadi guru sastra di kota yang aman,
mengajarkan puisi yang tak pernah selesai ditulis Yusuf.

Setiap tahun,
Eli mengulang kisah yang sama kepada murid-muridnya:
tentang dua anak yang tak pernah bertemu,
tapi saling percaya pada satu hal—
bahwa cinta tak mengenal batas.
Bahwa yang ditulis dengan hati,
tak pernah benar-benar hilang dari dunia.

Suatu hari, di festival sastra kecil di Eropa,
dua puisi dipamerkan berdampingan.
Satu ditulis Yusuf,
satu lagi oleh Eli.
Berjudul sama:
"Langit Tak Punya Sisi."

Tak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya,
tapi para pengunjung menangis.
Sebab kadang, satu bait yang jujur
lebih kuat dari seribu peluru.
Dan langit pun, untuk sesaat,
terasa benar-benar tanpa sisi.

Jakarta, Medio Juli 2026

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular