ROTI GOSONG
Sahbuddin Dg. Palabbi
Jam sudah
menunjukkan pukul tujuh pagi. Waktunya sarapan sebelum berangkat kerja. Aku
menuju ke dapur. Kubuka tutup saji, belum ada satupun hidangan di sana. Kulihat
Bibi tengah menyapu lantai ruang tamu.
“Aargh… mana
pagi ini ada meeting lagi di kantor, aku harus bergegas nih,” ketusku dalam
hati.
“Bibi tolong
buatkan aku roti bakar dong, yang cepat ya.”
“Baik Neng…”
Setelah
menyiapkan panggangan dan rotinya, Bibi kembali melanjutkan pekerjaannya
membereskan rumah. Aku kembali ke kamar menyiapkan perlengkapan ke kantor.
Sepuluh menit
berlalu. Bibi belum kunjung tiba mengantarkan sarapan untukku. Aku kembali
keluar kamar menuju dapur hendak memastikan.
Saat keluar
kamar, tercium aroma gosong menguar memenuhi seluruh ruangan. Naluriku langsung
menuju panggangan roti.
“Bibi….”
“Kenapa Neng?”
“Nih lihat…”
“Ya ampun maaf
ya Neng.”
Dengan perasaan
dongkol, kuambil roti yang hangus itu. Mendengar ribut-ribut di dapur, ibuku
datang menghampiri.
“Ada apa
ribut-ribut?”
Aku tak
menyahut. Wajahku merengut sambil mengunyah roti yang terasa pahit di lidahku.
Aku heran. Bukannya memarahi Bibi, ibu malah tersenyum sambil mengancungkan
jempol ke arah Bibi.
Bibi yang
tadinya ketakutan, ikut tersenyum sambil menutup mulutnya.
Sebelum berbalik
meninggalkanku, ibu menepuk pelan bahuku.
"Lain kali
bangun lebih pagi, ya."
Ibu dan Bibi
lalu melengos pergi, meninggalkanku sendiri bersama roti yang gosong.
*****

Tiada ulasan:
Catat Ulasan