SAWAH TERAKHIR
Sahbuddin Dg. Palabbi
Sawah itu adalah
urat nadi keluarga kami. Setiap bulir padinya tumbuh dari keringat ayahku, dari
tangan-tangan yang menghitam menanam harapan di tanah basah. Aku mewarisinya
seperti mewarisi napas. Tak pernah kupikir untuk menjualnya. Namun,
keadaanlah yang memaksaku memutus urat nadi itu dengan tanganku sendiri. Bukan
untuk makan. Bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk membeli sebuah pintu
yang katanya akan mengubah hidup anakku: pintu hijau.
***
Beberapa bulan
lalu, Fadli, anakku, pulang dari kota dengan mata sembab. Tes masuk tentara
yang ia impikan sejak kecil tak membawanya ke barak, melainkan ke sebuah warung
kopi, tempat ia duduk diam berjam-jam menelan kekecewaan.
“Nilai fisikku
bagus, Bapak. Tapi… mereka bilang ada yang kurang,” ucapnya pelan.
Aku tahu
maksudnya. Bukan kurang latihan, bukan kurang disiplin, melainkan kurang uang
pelicin.
Fadli sudah lama
bercita-cita menjadi prajurit. “Bapak,” katanya, “kalau aku jadi tentara, aku
bisa jaga negeri dan jaga Bapak.”
Aah anakku… negeri ini lebih
pandai menelan penjaganya ketimbang dijaga olehnya. Namun aku diam. Kadang
seorang ayah harus memelihara mimpi anaknya, walau tahu mimpi itu akan
dijadikan barang dagangan di pasar gelap.
Orang bilang,
sekali pintu itu terbuka, nama keluargamu akan diucap dengan hormat, anakmu
akan disapa dengan tegap, dan hidupmu akan diisi oleh kebanggaan. Namun di
balik pintu itu, ada harga yang tak tercantum di formulir pendaftaran. Harga
yang tak bisa dibayar dengan nilai ujian atau keringat latihan, hanya dengan lembaran uang yang beraroma
tanah basah dari sawah yang akan kugadaikan.
***
Siang itu, aku
sedang duduk di warung kopi dekat pasar. Sebuah kedai sederhana. Meja-meja tua
dengan cat mengelupas, dinding papan pudar, dan rak botol sirup yang lebih
banyak berdebu daripada terpakai.
Angin membawa bau
bawang merah kering, bercampur aroma kopi tubruk yang baru dituang. Udin, si
pemilik kedai yang juga teman SMP, duduk di bangku kayu dekat pintu, mengipasi
bara tungku kecil yang mulai meredup. Di sudut lain, istrinya menjemur kerupuk
di atas tampah bambu, sambil sesekali menepuk bahunya yang pegal.
“Eh, Run, sudah
lama?” sapanya. Suaranya hangat seperti dulu.
“Baru saja.
Kebetulan lewat sini, Din,” jawabku, lalu memesan segelas kopi.
“Aku dengar Fadli
sudah ikut tes masuk tentara?” tanyanya, menatapku serius.
Aku mengangguk
pelan. “Iya… tapi belum lulus. Katanya, ada yang kurang.”
Udin mengerutkan
dahi. “Yang kurang? Jangan bilang… jalan pintas?”
Aku menelan
ludah, menatap kopi yang mengepul. “Kurang… uang pelicin.”
Udin menghela
napas panjang, wajahnya tetap bersih dari amarah. “Percaya saja sama kemampuan
anakmu, Run. Kalau rezekinya jadi tentara, ya jadi. Kalau tidak, mungkin Tuhan
punya jalan lain yang lebih baik.”
Ia menuang air
panas ke gelas pesanan pelanggan lain, lalu menoleh padaku sambil tersenyum
tipis. “Kakak sepupuku juga tentara, pangkatnya lumayan. Masuk lewat jalur
resmi, murni tes. Waktu itu keluarganya susah. Jangankan sogok, makan saja
kadang utang. Tapi dia lulus juga. Sekarang hidupnya sudah makmur, rumah besar,
mobil ada, anaknya kuliah di Akmil.”
Aku hanya
tersenyum. Aku tahu Udin bicara dari hati yang bersih. Wajahnya juga bersih
dari kerut ambisi. Terlalu bersih untuk mengerti lumpur yang menempel di pintu
hijau itu.
“Anakmu gimana,
Din? Masih di pesantren?” tanyaku sambil meniup kopi panas.
“Masih,” jawabnya
sambil mengangguk, “alhamdulillah, dapat beasiswa penuh. Padahal, kemarin ada
yang nawarin jalur cepat, sekolah kedinasan, tinggal bayar orang. Pamannya mau
bantu, tapi anakku nggak mau. Katanya, kalau rezeki halal pasti ada jalannya.”
Ia tertawa kecil.
Entah bangga, entah pasrah. Udin bilang, dagang begini cukup untuk hidup, tetapi
tak pernah cukup untuk membeli mimpi yang terlalu mahal.
Aku menghirup
kopi pelan-pelan, sambil membatin, mimpi yang terlalu mahal kadang hanya
menunggu satu keputusan gila untuk dibeli.
***
Dua hari
kemudian. Di beranda rumahku, datang seorang lelaki berwajah teduh bernama Marlan.
Ia membawa kabar, katanya ada seseorang di kota yang bisa “membantu” Fadli menjadi
tentara.
Matanya
menyelidik, suaranya lembut tetapi berat. “Orang ini… jalannya cepat, tapi
tidak gratis.”
Aku menatap
sawahku. Padi-padi itu mulai menguning. Aku tahu, jika aku menjualnya sekarang,
harganya akan jatuh. Tetapi, waktu tak bisa menunggu lama.
“Aku dengar,”
kata Marlan lagi, “orang ini pernah menolong banyak anak di desa lain. Kalau
mau, aku bisa mengantar besok.”
***
Keesokan harinya,
Marlan menjemputku dengan motornya. Angin siang mengibaskan ujung sarung yang
kulilitkan di pinggang, sementara jalanan kota semakin ramai menjelang pasar
sore.
Rumah itu
terletak di ujung jalan kota, agak jauh dari deretan rumah dinas tentara yang
sederhana. Begitu sampai, aku langsung sadar, bangunannya terlalu bagus untuk
ukuran seorang sersan dua. Dindingnya dicat krem muda, bersih tanpa retakan. Terasnya
berubin marmer, mengilap seperti baru dipoles. Pagar besi hitam berkilau,
halaman lebar dengan rumput yang dipangkas rapi. Dua pohon palem berdiri di
kanan-kiri jalan masuk, seperti penjaga kehormatan.
Seorang lelaki
berambut separuh memutih bersandar di kursi rotan, menikmati sore di teras
rumah itu. Namanya Pak Surya, begitu kata Marlan, mengenakan kaos putih polos
dan celana kain longgar. Wajahnya ramah, senyumnya tipis. Tatapan matanya
seperti cermin yang menembus sampai tulangku.
“Kau tahu
sendiri, pintu hijau itu berat. Tapi ada caranya agar engselnya lebih mudah
dibuka,” ucapnya setelah kusampaikan maksud kedatanganku.
“Kalau mau cepat,
harus ada pelicin,” lanjutnya. Jumlahnya… setara seluruh sawahku.
Aku mengangguk
pelan, pura-pura tenang meski dadaku seperti diremas. “Beri aku waktu. Uang itu
akan kuantarkan sebelum hari tes,” kataku.
Surya menatapku
tajam. “Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini. Sekali saja
bocor, urusanmu akan jadi panjang,” ujarnya dingin.
Aku mengangguk
lagi, menelan ludah.
Marlan, yang
sedari tadi bersandar di kursi, ikut menimpali, “Tenang Pak Sur. Orang ini bisa
menjaga rahasia.”
Dalam perjalanan
pulang, pikiranku kusut. Malamnya, aku membicarakan hal itu dengan istriku.
Kami sepakat. Entah ini keputusan benar atau salah, Fadli harus ikut jalur itu.
Keesokan harinya,
aku mulai mencari pembeli.
Berhari-hari aku
keliling, menawarkan sawahku ke sana kemari. Sampai akhirnya seorang pedagang
beras dari kecamatan sebelah, mau membelinya. Harganya pas. Tidak lebih, tidak
kurang, sesuai dengan jumlah yang disebut Surya. Aku menandatangani surat jual
beli dengan tangan gemetar, rasanya seperti mengiris bagian dari tubuhku
sendiri.
Sesuai
kesepakatan, aku kembali menemui Pak Surya.
Tanganku bergetar
saat menyerahkan amplop itu, begitu tebal hingga lipatannya nyaris
tak tertutup rapat. Ia menerima tanpa banyak bicara, hanya matanya melirik pada
secangkir kopi di sebelahnya. Seolah minuman itu menyimpan arti yang hanya ia
pahami.
Beberapa minggu
kemudian, gelombang penerimaan tentara dibuka lagi. Fadli ikut tes. Dan benar
saja, ia lulus keseluruhan rangkaian tes calon bintara tersebut. Padahal
sebelumnya, ia gagal ketika mengikuti tes calon tamtama, yang levelnya lebih
rendah. Setelah dinyatakan lulus, Fadli ditempatkan di kesatuan kavaleri,
markasnya berada di ibu kota provinsi.
Di
hari keberangkatannya, warga desa mengucapkan selamat. Udin pun datang,
menyalami Fadli dengan senyum tulus, lalu beralih padaku. Genggamannya singkat,
namun tetap hangat. Matanya hanya menatapku sekilas, kemudian berpindah ke
kerumunan, seakan tak ingin membicarakan apa yang semua orang sudah tahu. Aku tersenyum
di tengah keramaian, meski hatiku kosong seperti sawah yang sudah rata
tanahnya.
***
Beberapa hari
setelah itu, aku lewat di depan rumah Udin.
Ada yang berbeda. Cat temboknya baru, jendela kayunya berganti kaca bening, dan
di terasnya berdiri kedai kopi yang ukurannya lebih besar dan lebih modern dari
sebelumnya. Aroma kopi sangrai menyebar sampai ke ujung jalan.
“Wah, rezeki
besar ini, Din?” tanyaku, setengah bercanda.
Udin tersenyum
lebar. “Ah, ini sedikit bantuan dari kakak sepupuku yang tentara itu. Katanya,
dia baru dapat rezeki dari urusan kerjaan.”
Ia lalu menunjuk
toples-toples kopi di rak. “Kakak sepupuku memang suka kopi, jadi ia menyokong
aku membuka kedai yang lebih besar seperti café-café di kota,” lanjutnya sambil
tertawa renyah.
Aku terdiam.
Dalam kepalaku, secangkir kopi hitam di meja rotan itu muncul lagi. Lalu wajah Pak
Surya… senyum miringnya… tangannya yang dulu menerima amplop dari tanganku.
“Din,” kataku
perlahan, mencoba terdengar santai, “siapa nama kakak sepupumu di kota itu?”
Udin mengangkat
alis, lalu tersenyum. “Surya. Kenapa, Run?”
Aku tersentak. Di
dadaku, terasa ada sesuatu yang pecah. Aku memandang kedai kopi itu lama-lama.
Kursi kayunya, meja-mejanya, mesin kopi, dan bau kopinya. Semuanya beraroma lumpur
sawahku yang sudah tak lagi ada. (*)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan