Rabu, 22 Julai 2026

QURAN YANG TERLUPAKAN Karya: Sahbuddin Dg. Palabbi

 QURAN YANG TERLUPAKAN

Sahbuddin Dg. Palabbi


Hari sudah malam. Jarum jam menunjukkan pukul Sembilan malam. Pena, Buku dan Tablet masih terjaga. Pena sibuk menulis catatan, Buku membaca cerpen, sedangkan Tablet asyik bermain game. Sayup-sayup terdengar suara tangisan. 

“Sssst, kalian dengar sesuatu nggak?” tanya Buku kepada Pena dan Tablet. Keduanya saling bertatapan sambil menggeleng.

“Aku mendengar suara tangisan,” kata Buku, “Sepertinya dari dalam kardus itu.” 

Ketiganya lalu berjalan mendekati sebuah kardus yang diletakkan di atas lantai kamar. Pena membuka kardus itu. 

“Quran, kamu kenapa?” tanya Pena, Buku dan Tablet bersamaan.

Wajah Quran terlihat muram. Air mata membasahi sampulnya yang biru. 

“Adi sudah tidak sayang aku lagi… Ia tak butuh aku lagi” sahut Quran. Kali ini tangisannya semakin keras. Ia menangis tersedu-sedu.

“Sssst… jangan keras-keras nangisnya, nanti Adi terbangun.” Pena, Buku dan Tablet berusaha menenangkan Quran.

“Dulu, Adi sangat sayang kepadaku. Ia rajin membacaku. Empat tahun aku bersamanya sejak ia masih duduk di kelas 1 SD,” ungkap Quran.

“Namun, sejak ada Tablet tiga bulan lalu, Adi sudah tidak peduli lagi denganku. Ia sibuk bermain bersama Tablet dan membawanya ke mana-mana,” lanjut Quran tertunduk lesu.

Tablet mendekat. “Maafkan aku ya Quran. Aku sudah membuat Adi melupakanmu,” ucapnya tulus.

“Nggak apa-apa kok. Ini bukan salahmu. Aku sedih karena akan berpisah dengan kalian, sahabat-sahabatku yang baik,” ucap Quran. 

Besok, Quran dan beberapa barang milik Adi akan disumbangkan ke panti asuhan. Tadi siang, Adi dibantu Ayah mengemasi semuanya. 

 “Ya udah, kamu istirahat ya Quran. Mudah-mudahan nanti kamu bertemu anak panti yang rajin membacamu dan selalu menjagamu,” bujuk Buku. 

“Betul. Yang aku dengar, anak panti juga suka menghafal Al-Quran. Tentu mereka akan senang bisa memilikimu,” timpal Pena.

Quran tersenyum mendengarnya, “Terima kasih ya, kalian sudah menghiburku. Kalian memang sahabat-sahabatku yang baik.”

“Sama-sama Quran. Kamu juga sahabat kami yang terbaik,” sahut Tablet. Keempat sahabat itu berpelukan. Quran lalu merebahkan badannya di atas tumpukan buku-buku usang yang akan dibawa ke panti. 

Pena, Buku dan Tablet kembali ke meja belajar. Sebelum tidur, mereka merundingkan sesuatu. 

***

Pagi-pagi sekali terdengar langkah kaki masuk ke dalam kamar. Quran yang sedang menghafal ayat-ayat, sontak dibuat kaget. Ia mulai cemas. 

Sementara itu, ketiga sahabatnya belum bangun karena semalam mereka terlambat tidur. 

Benar, apa yang dikhawatirkan oleh Quran. Ayah mulai mengangkat kardus berisi barang-barang Adi yang akan disumbangkan, lalu membawanya ke mobil. Suara-suara berisik dari langkah kaki Ayah membuat Buku terbangun.

“Ya ampun, aku ketiduran. Pena ayo bangun. Tablet banguuun… kita sudah terlambat.” 

Buku bergegas membangunkan kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas. Kepanikan tampak di wajahnya. Buku terus mengguncang-guncangkan tubuh Pena dan Tablet. Usahanya berhasil, Tablet pun terjaga.

“Astaga, ini sudah pukul berapa?” tanya Tablet sambil menyetel alarm.

“Setengah tujuh kurang semenit lagi. Ayo cepat bunyikan alarmnya!” seru Buku.

Mendengar ribut-ribut kedua sahabatnya itu, Pena pun terbangun. Saat matanya menatap ke lantai, ia menyadari sesuatu.

“Kawan-kawan, kita terlambat. Quran sudah dibawa,” teriak Pena sambil berlari ke luar kamar. 

Tablet segera membunyikan alarmnya. Terdengar alunan surat Al-Fatihah memenuhi seisi kamar. Ia sengaja menyetel suaranya sekencang mungkin. 

Adi yang sedang tertidur pulas akhirnya terbangun. Ia kaget mendengar bunyi alarm dari Tablet-nya itu.  Apalagi saat ia menyapukan pandangannya ke dinding kamar. Ia semakin dibuat terkejut karena seluruh tembok kamarnya kini dipenuhi kertas warna-warni bertuliskan, “Sudahkah saya membaca Al-Quran hari ini?” 

Tiba-tiba Adi teringat dengan Quran. Ia lalu bangkit dari tempat tidurnya. Namun, ia kembali terhenyak ketika mengetahui kardus berisi Quran sudah tidak ada di sana. 

Adi berlari ke luar kamar. Sesampainya di garasi, ia melihat Ayahnya sedang menyalakan mesin mobil. Sebentar lagi mereka akan berangkat ke panti asuhan. 

“Ayah, tunggu…!” teriak Adi. 

Ibu yang akan naik ke mobil keheranan melihat Adi seperti orang kesurupan. “Kenapa Adi?” tanyanya.

Adi tidak menjawab. Ia bergegas membuka pintu belakang mobil lalu memeriksa satu per satu isi kardus yang sudah ditumpuk rapi.

Setelah membuka kardus-kardus itu, Adi menemukan apa yang dicarinya.

“Nah ketemu,” ucapnya dengan wajah berseri. Ia lalu mengambil barang itu dan membawa kembali ke dalam kamarnya. 

Melihat apa yang diambil Adi, membuat Ayah dan Ibu tersenyum semringah. Begitu pula Pena, Buku dan Tablet. Usaha mereka berhasil. Semuanya senang karena Quran tidak jadi disumbangkan ke panti. 

Sejak saat itu, Adi semakin rajin membaca Quran, bahkan menghafalkannya. Selain Buku dan Pena, ia juga selalu membawa Quran dan Tablet di dalam tasnya ketika ke sekolah atau bepergian.

*****


Tiada ulasan:

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular