BATU KARANG DI TITIK NADIR
Karya: Eduar
Di jantung pulau yang diukir zamrud khatulistiwa,
Lumbung Langit tumpah, melebihi janji gerimis biasa.
Sungai-sungai, urat nadi peradaban, pecah dalam raungan,
Menggulung mimpi dan menanggalkan segala kepemilikan.
Aceh, Serambi yang kini basah oleh gelombang kedua,
Sumatera Utara, tempat Pusuk Buhit diselimuti duka.
Dan Ranah Minang, di mana lareh menghilang ditelan lumpur sunyi,
Tiga Serangkai Ranah, memanggul beban yang sama di hari ini.
Telah datang air, bukan lagi air kehidupan, tapi air ujian,
Yang merampas atap, memutus jalan, mengoyak kenyamanan.
Kau berdiri di atas puing, mencari peta yang hilang,
Mata menatap kosong pada batas yang kini terbentang.
Namun, wahai jiwa yang diuji di tebing paling curam,
Tidakkah kau tahu, bahwa dalam badai, Akar Iman takkan karam?
Cobaan ini adalah Sketsa Takdir di Arasy yang Abadi,
Sebuah kanvas yang hanya bisa dilukis oleh Tangan Maha Suci.
Di mana letak kemanusiaanmu, jika bukan dalam kepasrahan?
Bukan sekadar kata, tapi hening yang melegakan segala beban.
Ikhlas adalah air bening yang menyucikan sisa-sisa lumpur,
Ia adalah sumur hati, tempat segala kepedihan gugur.
Sabar adalah Gunung Leuser yang diam, tak beranjak,
Ia tak mengeluh pada hujan, tak runtuh pada setiap retak.
Ia memandang dari puncak tertinggi, mengerti bahwa
Semua yang datang adalah utusan, sebuah pelajaran berharga.
Lihatlah lumpur yang kini membalut setiap tapak kakimu,
Ia bukan akhir, tapi janji dari musim yang akan bertamu.
Lumpur itu menyimpan Benih Kecil yang tak terlihat mata,
Benih kebangkitan, ditanam oleh tangan Sang Pencipta.
Bangkitlah, wahai anak-anak Bumi Andalas yang perkasa,
Jadikan air mata penyesalan menjadi embun doa.
Bukan untuk meratapi, tapi untuk mengingat kembali:
Kekuatan sejati tidak pernah berada di harta yang mati.
Jadilah seperti Pucuk Pakis yang baru, luruh tapi tak patah,
Menyerap trauma menjadi nutrisi untuk hidup yang lebih megah.
Sebab setelah murka sungai, akan ada Pelangi Tujuh Sumpah,
Warna-warna baru yang lebih terang, dari Cahaya di atas segala.
Ikhlas dan Sabar, biarlah dua kata itu menjadi denyut nadi,
Penerimaan pada yang hilang, keyakinan pada yang menanti.
Kau adalah Batu Karang yang teruji, dicuci oleh waktu,
Siap menyambut fajar yang tak akan pernah keliru.
Pekanbaru, 28 November 2025
Tiada ulasan:
Catat Ulasan