Isnin, 19 Januari 2026

PERMADANI DARI BENANG RASA: Yayuk Wahyudi

                                                       PERMADANI DARI BENANG RASA                                            

  Oleh: Yayuk Wahyudi


    Di sudut kota yang ramai, di atas lantai tiga sebuah gedung bertingkat, terdapat sebuah studio musik kecil bernama GEBYAR. Sudah dua tahun studio itu berdiri, menjadi rumah bagi lima orang pemuda yang bercita-cita tinggi untuk menjadi musisi terkenal. Mereka bernama Aldo (vokal), Dika (gitar), Eko (bass), Fajar (drum), dan Gita (keyboard). Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi mereka. Hari audisi untuk masuk ke ajang pencarian bakat nasional yang akan menjadi loncatan karir mereka. 

    Jam 06.00 pagi, matahari  mulai menyingsing. Aldo berdiri di tengah studio dengan wajah memerah tanda emosinya naik. Aldo menyodorkan selembar kertas ke arah Dika.

          Ini apa, Dika?! Lirik yang kamu buat kok berbeda dengan  yang kita sepakati?! Kita sudah setuju akan menggunakan lirik tentang perjuangan kita bertahan hidup di kota ini. Tapi kamu malah mengganti semua jadi tentang cinta yang gagal! teriak Aldo dengan suara  keras merobek dinding studio. 

          Dika menoleh ke samping dengan wajah murung. 

          Aku merasa lirik baru itu lebih mendalam, Aldo. Lebih banyak menyentuh hati orang

          Tutup mulutmu ! sergah Aldo, sambil mengambil gitar yang berada di sudut studio dan menggoyangkannya dengan kasar.

           Kita sudah tidak punya waktu lagi untuk merubah apa-apa! Audisi mulai jam 10.00 pagi, dan kamu baru bilang sekarang kalau kamu mengganti lirik?! Kamu benar-benar tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!

        Eko yang sedang mengecek tali bassnya mencoba menenangkan suasana. 

        Tenaaaang  Aldo,  kita masih punya waktu untuk belajar lirik baru

 

       Waktu?! Kita sudah berlatih selama tiga bulan untuk lirik lama itu! Kamu pikir kita bisa hafal yang baru dalam empat jam saja?! jerit Aldo, melemparkan kertas  lirik. Kertas itu terbang dan tersebar seperti daun kering yang diterpa angin.

Gita yang baru saja datang membawa kopi untuk mereka  terkejut,  melihat suasana yang penuh ketegangan. Gita cepat-cepat menaruh cangkir kopi di atas meja dan mendekati Aldo. 

Kak Aldo, tenang dulu ya. Kita bisa bicarakan baik-baik.”

            Jangan bilang kamu juga akan berpihak pada dia, Gita! teriak Aldo, memukul meja dengan keras hingga cangkir kopi bergoyang dan sebagian airnya tumpah ke lantai.

           Kamu tahu kan betapa sulitnya aku mendapatkan kesempatan ini? Ayahku selalu bilang aku hanya akan menjadi pemuda yang tidak berguna kalau tidak bisa sukses dengan musik ini! Dan sekarang Dika malah mengacaukan segalanya!  Fajar yang selama ini diam di belakang drum kit akhirnya berbicara.     

           Kamu terlalu emosional, Aldo. Dika juga punya alasan sendiri kan? Bukankah kita sepakat bahwa setiap orang punya hak untuk mengeluarkan ide?

            Ha! Hak?! teriak Aldo semakin tinggi. 

            Kalau kita tidak lolos audisi hari ini, kamu pikir kita akan punya hak untuk apa-apa lagi?! Kita selamanya  menjadi orang yang tidak dikenal, bekerja paruh waktu di warung-warung untuk bisa membayar sewa studio ini! Bukankah kamu semua lelah dengan hidup seperti itu?!

             Pintu studio tiba-tiba terbuka dengan keras. Seorang wanita berusia sekitar 50 tahun dengan rambut sudah mulai memutih  masuk. Dia adalah Bu Ratri, pemilik gedung tempat studio itu berada. Selama dua tahun, dia selalu melihat kelima pemuda itu berlatih dengan giat setiap hari.

            Apa yang terjadi di sini?! suara Bu Ratri terdengar tegas namun penuh perhatian. Kenapa kalian berteriak-teriak seperti ini? Kalian tidak peduli kalau suara kalian mengganggu orang lain yang sedang bekerja di lantai bawah?!

 

             Kelima anak muda itu langsung terdiam. Aldo menunduk, merasa malu karena ketidak mampuannya  menahan emosi yang baru saja ketahuan oleh Bu Ratri.

            Maafkan kami, Bu Ratri, ujar Dika dengan suara rendah. 

            Kami  sedang punya masalah dengan persiapan audisi hari ini.

              Bu Ratri mendekati mereka dengan langkah pelan. Dia melihat sekeliling studio yang berantakan, kertas lirik yang tersebar di lantai, dan wajah kelima anak muda  yang penuh ketegangan, kesedihan  dan kemarahan.

             Dengar Nak  ujarnya,  dengan suara lembut namun jelas. Saya sudah melihat kalian berlatih dari dulu hingga sekarang. Saya tahu betul bagaimana rasanya punya impian yang besar.  Tetapi merasa  dunia seperti  menghalangi kita. Saya juga pernah merasakan hal yang sama.  Kelima pemuda itu menoleh ke arah Bu Ratri dengan tatapan penasaran. Mereka tidak pernah tahu bahwa Bu Ratri juga punya cerita di balik wajahnya yang selalu terlihat tenang.

              Dua puluh lima tahun yang lalu,  Bu Ratri  duduk di atas kursi dan mulai bicara.  Saya adalah seorang penyanyi muda yang sangat terkenal di kota ini. Saya punya suara yang indah dan banyak orang bilang saya akan menjadi bintang nasional. Tapi kemudian, saya mengalami kecelakaan.  Saya tidak bisa bernyanyi dengan suara merdu seperti dulu. 

                Bu Ratri menghela napas panjang sebelum melanjutkan bicara.

                Saya sangat marah dengan dunia, dengan takdir, dengan semua orang di sekitar saya. Saya merasa seperti semua impian saya hanyalah buih yang akan hilang begitu saja jika disentuh angin. Saya benar-benar berhenti bernyanyi.  Menikah dengan pria yang  tidak saya cintai, dan menghabiskan hidup  dengan rasa penuh dendam. 

    Matanya berkaca-kaca, pedih mengingat masa lalunya. 

               Tapi kemudian, lanjut Bu Sri sambil melihat ke arah jendela studio, suatu hari saya melihat seorang anak kecil yang sedang bermain dengan buih sabun di halaman depan rumah saya. Anak itu tertawa riang dan melihat buih-buih itu seperti sesuatu yang paling indah di dunia. Padahal buih itu hanya sesuatu yang sementara. Kemudian akan hilang dalam hitungan detik. Tapi anak itu bisa melihat keindahannya.

                Dengan suara berat menahan tangis Bu Ratri melanjutkan ceritanya.“Namun, saya kemudian menyadari, tidak semua hal yang indah harus abadi. Kadang-kadang keindahan terbesar ada pada hal-hal yang sementara, yang datang dan pergi seperti buih di permukaan air. Tapi jika kita bisa melihatnya dengan mata yang benar, buih itu bisa menjadi permadani yang paling cantik di dunia.  

               Aldo mendekati Bu Ratri dengan langkah ragu-ragu.

  Jadi apa yang harus kita lakukan, Bu? Kami sudah punya rencana yang jelas, tapi sekarang semua jadi kacau. Bu Ratri  tersenyum lembut.

              Rencana itu penting, tapi terkadang jalan terbaik bukanlah jalan yang kita rencanakan. Lirik lama yang kalian buat tentang perjuangan itu baik, tapi lirik baru yang dibuat Dika tentang cinta yang gagal, juga baik. Karena kedua hal itu adalah bagian dari hidup yang membuat kita menjadi manusia yang utuh. Bu Ratri  menengok ke arah Dika.

             Kenapa kamu mengganti liriknya, Nak?  Dika mengangkat kepalanya dengan wajah penuh kecemasan. 

            Karena kemarin malam aku bertemu dengan teman sekolah saya yang dulu juga punya impian jadi musisi. Dia sudah menyerah dan bekerja sebagai ojol karena harus menanggung keluarga. Dia bilang cinta yang dia miliki untuk musik sudah hilang seperti buih yang hilang di udara. Tapi aku merasa tidak begitu. Meskipun hilang, buih  itu pernah ada dan pernah menjadi sesuatu yang indah. Itulah yang ingin aku ceritakan dalam lirik itu.   

              Aldo dan yang lainnya mendengar itu   merasa sesak dadanya. Dia ingat bagaimana dulu, Rudi teman satu sekolah mereka sering  bersama.  Mereka sering berlatih di garasi rumah Aldo, tertawa riang sambil berbagi impian tentang masa depan yang penuh warna. Dia tidak tahu bahwa ada yang sudah menyerah pada impian mereka bersama.

 

               Aku tidak tahu tentang itu Dika,. Aku hanya berpikir tentang diri sendiri, aku terlalu ego, dan takut  akan mengecewakan ayahku  ucap Aldo dengan suara lirih dan penyesalan, menunduk melihat lantai.

                Dika mendekati Aldo dan menepuk bahunya.

               Kita semua punya ketakutan, Aldo. Aku juga takut kalau lirik baru tidak akan diterima, tapi aku merasa harus memberitahu  semua itu pada kalian. Karena impian kita bukan hanya milik kita sendiri. Tapi juga milik mereka yang tidak punya kesempatan lagi untuk mengejarnya.

                Eko mengangkat salah satu lembar lirik yang tersebar di lantai. 

               Kalau begitu, mengapa kita tidak menggabungkan kedua lirik itu? Cerita tentang perjuangan kita bertahan. Cerita tentang cinta yang gagal namun tetap indah. Keduanya bisa jadi satu kisah yang lebih kuat.

               Bagus sekali ide itu! ucap Gita dengan mata yang bersinar kembali.

               Kita bisa mulai dengan bagian lirik lama tentang perjuangan, lalu berpindah ke bagian baru tentang cinta yang pernah ada. Seperti menggambarkan bagaimana perjuangan hidup terkadang menyentuh sisi emosional kita.

               Fajar yang dari tadi hanya diam dan berdiri di belakang drum kit tersenyum.      

              Mari kita coba latihan saja. Waktu masih ada sekitar tiga jam, kalau kita bekerja sama, yakin, dan berusaha, pasti bisa!

                Bu Ratri  tersenyum melihat kelima anak muda itu yang mulai bersatu kembali. Dia mengambil sapu dari sudut studio dan membantu membersihkan kertas lirik yang berserakan.

               Kalau begitu, saya akan membuatkan kalian makanan untuk sarapan. Tidak bisa berlatih dengan perut kosong kan?

              Dalam tiga jam berikutnya, studio Gebyar kembali diisi dengan suara musik yang merdu dan penuh semangat. Mereka menggabungkan kedua versi lirik dengan cermat, menciptakan sebuah lagu yang tidak hanya bercerita tentang perjuangan hidup di kota besar. Tetapi juga tentang bagaimana cinta, baik untuk orang maupun impian, dapat memberikan makna pada setiap langkah perjuangan itu.

               Jam 09.30 pagi, mereka siap berangkat. Bu Ratri datang membawa tas bekal dan memberikan pada mereka.    

             Semoga kaliaan  sukses, Nak. Ingatlah, apa pun hasilnya, kalian sudah menciptakan sesuatu yang indah. Buih yang sementara, itu sudah menjadi permadani di hati kalian.

               Saat mereka tiba di tempat audisi, antrian sudah panjang. Aldo melihat wajah-wajah para peserta lain yang juga penuh harap dan ketakutan, seperti mereka tadi pagi. Aldo menyatukan tangan dengan teman-temannya. Mereka serempak berdoa dengan penuh keyakinan dan   harapan.

               Saya tidak peduli  kita lolos atau tidak, ucap Aldo. Yang penting kita sudah bermain dengan hati dan menceritakan cerita yang benar-benar kita miliki.

                Ketika nama Gebyar dipanggil, mereka naik ke atas panggung dengan langkah mantap. Lampu sorot menerangi mereka, dan di depan ada tiga juri yang menatap dengan tatapan kritis. Aldo mengambil mikrofon, menutup mata sebentar untuk mengumpulkan semangat dan menenangkan hati,  lalu mulai bernyanyi.

               Suaranya yang penuh emosi menyatu dengan melodi gitar, bass, drum, dan keyboard yang menyatu sempurna. Mereka bermain tidak sekedar  untuk memenangkan ajang, tapi untuk menghormati perjuangan mereka sendiri dan teman mereka yang sudah menyerah.

                Saat lagu berakhir, ada jeda sebentar di ruangan itu. Kemudian salah satu juri berdiri dan memberikan tepuk tangan, diikuti oleh yang lain dan akhirnya seluruh ruangan berdecak kagum. Juri utama mendekati mereka dengan senyum lebar. 

               Lagu itu luar biasa. Ceritanya sangat mendalam dan menyentuh hati. Dari mana inspirasi kalian?

 

               Aldo melihat ke arah teman-temannya, lalu menjawab dengan suara yang jelas. 

               Dari cerita hidup kami sendiri, dan dari mereka yang pernah berbagi impian dengan kami. Kami belajar bahwa tidak semua hal yang indah harus abadi, kadang buih yang sementara,  bisa menjadi permadani yang paling cantik di dunia.

                  Hasil audisi akan diumumkan seminggu kemudian, tapi kelima pemuda itu sudah merasa seperti pemenang. Mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka bisa menerima, kalah ataupun menang. Yang terpenting,  sudah menemukan makna sejati dari musik yang mereka mainkan. Di jalan pulang, mereka berhenti di bawah pohon rindang.  Beristirahat sambil  menikmati  makanan yang diberi  Bu Ratri tadi dan tertawa riang seperti dulu.

       Di studio Gebyar, di atas meja yang sekarang rapi, terdapat sebuah lembar kertas dengan lirik lagu mereka ciptakan. Di sudut kertas itu tertulis kalimat kecil: Buih bukanlah sesuatu yang hilang namun ia menjadi permadani  yang indah.  Keindahan yang singkat namun abadi di dalam hati kita.

 

BIONARASI:

 







Yayuk  Wahyudi  nama pena dari Sri Rahayu Yustina, SIP.,MM. Lahir bulan Desember di Purworejo, Jawa Tengah. Tinggal di Kulon Progo, Yogyakarta. Hobi menulis dan melukis, Purna dari ASN Tahun 2024. No WA: 082328357759



Tiada ulasan:

LAUT YANG TIDAK SEMPAT MENGAKU: Kims Diwa

LAUT YANG TIDAK SEMPAT MENGAKU Karya: Kims Diwa           Arman berdiri di hujung jeti kayu yang reput, memandang laut petang yang sedang me...

Carian popular